Friday, May 30, 2008

Sleep Deprivation

Dari dulu, saya memang rentan sekali sama yang namanya kafein. Mungkin itu juga alasannya kenapa saya tidak terlalu menyukai minuman bersoda karena pada umumnya, minuman bersoda itu mengandung kafein yang lumayan tinggi, kecuali yang namanya Sprite (karena jelas-jelas di kalengnya bertuliskan ”No Cafeinne”). Kalau memesan kopi, pasti saya meminta yang decaf, alias tanpa kandungan kafein. Dari sejak saya menjadi auditor di jaman rekiplik dulu, semua teman kerja saya dibuat heran, karena mungkin sayalah satu-satunya auditor yang tidak meminum kopi dan bisa bertahan di dalam bekerja dari pagi sampai petang (dan kadang sampai malam).

Hari Selasa lalu, saya melakukan reuni kecil dengan teman saya si R yang sejak SMP tidak pernah saya temui. Kami sempat berpapasan tahun lalu, tetapi tidak sempat berbicara banyak karena saya saat itu sedang menjadi MC di pernikahan kawan baik saya. Ketika minggu lalu saya mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya via ruang ngobrol maya, tiba-tiba terlintaslah di pikiran untuk temu kangen, kopi darat lah istilahnya. Dengan semangat yang menggebu-gebu, jadilah, dua manusia, satu menyetir dari Semanggi, dan satu menyetir dari Cengkareng, bertemu di Plaza Senayan.

Malam itu, kami memilih bersantap di Canton Bay yang terletak di depan Supermarket di Lantai Basement. Saya memilih meminum Oolong Cha atau Teh Cina jenis Oolong yang rasanya pahit, tetapi pas sekali untuk menemani masakan Chinese yang berminyak. Teman saya memilih teh es biasa. Biasanya kalau saya memesan Oolong Cha, pasti saya berbagi dengan mama dan adik, sehingga pada akhirnya tehnya tidak terlalu kental lagi. Tetapi kali ini saya sendirian saja yang meminum tehnya. Selama dua setengah jam pertemuan kita, tak terasa satu teko teh kental berhasil saya habiskan sendiri. Saat menyetir menuju ke rumah, saya mulai mengantuk, membayangkan ranjang empuk. Apalagi hari itu saya cukup lelah, karena banyak kerjaan dan rapat sampai lumayan malam.

Tetapi apa yang terjadi ? Saat sampai di rumah sih, semangat lumayan tinggi untuk segera tidur. Badan ini sudah tergeletak di ranjang, tetapi, kok otak rasanya tidak dapat istirahat. Hadap kanan, hadap kiri, bolak balik ke kamar mandi untuk buang air kecil, tetapi kok nggak beres-beres juga, tetap saja nggak bisa bobo. Saya coba memikirkan yang indah-indah supaya pikiran bisa relax, tetapi yang ada, tetap saja, mata terpejam tetapi badan malah terasa segar. Bahkan jam 4 pagi, rasanya betul-betul segar, sehingga saya memutuskan, bagaimana kalau saya browsing-browsing saja, supaya saya jadi lelah dan paling tidak bisa menyelamatkan tidur barang 2 jam. Setelah browsing, tetap saja saya tidak bisa tidur, dan akhirnya, matahari mulai menampakkan sinarnya di balik jendela.

Gila ! Pagi itu juga, saya kembali bersiap-siap dan menyetir ke kantor, dan kembali bekerja tanpa tidur sedikitpun! Di nickname YM, saya tambahkan tulisan: “Sleep deprivation, might not function normally today”. Hari itu, saya menguap tak karuan. Melihat wajah saya yang lemas, teman-teman bilang, gimana kalau minum kopi saja. WHAT ?? Gara-gara teh berkafein, saya sudah menderita seharian. Untunglah hari itu saya bisa selamat, dan akhirnya bisa pulang kembali ke rumah dengan menyetir tanpa gangguan yang berarti.

Pelajaran buat saya: Jangan sekali-sekali meminum Teh Cina atau apapun yang mengandung kafein di malam hari, terutama di saat makan malam. Anehnya, sampai hari ini, ngantuknya masih terus terasa. Hoaaaaeeemmmmm *nguap dulu aaahhhh*

Friday, May 23, 2008

Untuk Pertama Kali

Untuk Pertama Kali....

Simon Cowell mengucapkan maaf atas prediksinya mengenai David Archuletta akan memenangkan American Idol. Menurutnya, ternyata David Cook tidak jelek-jelek amat. Hal itu dia katakan, tepat sebelum Ryan Seacrest mengumumkan siapa pemenang American Idol tahun ini.

Untuk Pertama Kali....

Prediksi Simon Cowell di American Idol salah total.

Dan pemenang American Idol tahun ini:

David Cook !

Go Cookie !!!

Saturday, May 17, 2008

Reuni Dadakan

Senin pagi di awal minggu ini, ketika membuka email kantor, saya dikejutkan dengan sebuah email dari teman kuliah saya yang judulnya: "Let's meet up!", ditujukan kepada teman-teman alumni University of Wisconsin-Madison yang berada di seputar Jakarta. Dan ternyata, hal tersebut isinya adalah uneg-uneg yang menyatakan kalau selama ini, rencana kumpul-kumpul alumni UW-Madison di Jakarta tidak pernah terlaksana. Apalagi selama ini rencananya juga aneh-aneh sekali. Mulai dari kepingin ke luar kota bareng, ke Pulau Macan segala lah, tapi ujung-ujungnya cuma jadi isapan jempol. Jadilah teman saya ini, yang mantan ketua Permias (Persatuan Mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat), mengusulkan, kalau Jumat ini kita sebaiknya kumpul-kumpul saja. Cukup makan malam bersama, cari restaurant yang diskon, dan yang penting, bisa ngobrol-ngobrol melepas kangen.

Karena saya juga kangen untuk ketemuan, langsung saja saya reply dengan kata SETUJU! Tetapi beberapa lama kemudian, ada juga reply yang jumlahnya lebih banyak yang menyatakan NGGAK BISA. Alasannya macam-macam, mulai dari ada yang mau ke Amerika untuk liburan dan ada yang ke Bali untuk long weekend. Kemudian salah satu teman saya nyeletuk, kalau beberapa dari kita ada yang mau ketemuan hari Selasa malam. Sekitar 5 orang saja yang mau ketemuan Selasa malam. Akhirnya saya bilang kepada si pencetus reuni, kenapa nggak Selasa malam saja, karena kan sudah mulai dari 5 orang. Akhirnya di reply lagi email itu dengan mengatakan kalau saya dan si pencetus reuni setuju kalau hari Selasa. Eh, anehnya, dimulai lagi reply-reply kalau ternyata banyak juga yang bisa. Lalu mulai gencarlah kita menelepon teman-teman yang tidak masuk di dalam listing email, dan mendapatkan berbagai jawaban, mulai dari yes sampai no karena kan cuma punya waktu satu hari saja untuk mengumpulkan pasukan.

Akhirnya, hari Selasa tiba. Demi menghindari pulang sendirian naik taksi, untuk kali pertama juga, hari itu saya membawa mobil ke kantor, mencoba untuk mempelajari jalan menghindari 3 in 1, dan BERHASIL !! Malamnya, saya datang ke Pacific Place bersama salah satu teman saya yang kebetulan bekerjanya satu gedung. Baru di escalator saja, saya sudah menemukan teman saya yang datang bersama istri dan iparnya. Terakhir saya bertemu dengan dia, statusnya masih jomblo dan single. Tetapi tiba-tiba sekarang sudah punya cincin di jarinya dan gandengan di tangannya. Kemudian, mulailah bertemu lagi dengan kelompok perdana di A Presto Coffee, dan berkumpulah sudah kami menjadi ber-11. Saat itu kami belum menentukan mau makan di mana, dan akhirnya karena pertimbangan jumlah kami yang banyak, akhirnya jadilah kami makan di Kiyadon (dan menyalahi kesepakatan untuk mencari restaurant yang diskon hahahaha...).

Waktu berjalan... nambah lagi, nambah lagi...dan akhirnya, terciptalah meja yang terdiri dari 20 orang !!!! Sampai akhirnya Kiyadon kehabisan kursi!!! Sebagian dari kita bahkan terpaksa memepetkan diri. Untungnya yang memepetkan diri itu sudah selesai makan karena sudah datang lebih awal. Update-update terbarunya lumayan banyak, mulai dari teman kita yang tadi sudah menikah, lalu si pencetus reuni yang sudah punya bayi yang montok lucu, teman kita yang dulu gondrong sekarang sudah jadi kelimis dan berkacamata (from rocker to worker hahahaha), teman kita yang jomblo sekarang sudah berpasangan, teman kita yang mendadak jadi juragan plastik dan juragan money changer, lalu beberapa teman yang sudah wira wiri pindah kerja dari tempat satu ke tempat yang lain. Yang pasti, reuni kemarin bisa dikategorikan: SANGAT BERHASIL !!

Kesimpulan dan tips penting: Jika anda ingin membuat reuni di Jakarta, lakukanlah secara dadakan, cukup dipersiapkan 1 hari sebelumnya saja. Sudah lihat buktinya kan ? Hehe...

Tuesday, May 06, 2008

25 is Almost Gone

Baru menyadari, sekitar 3 bulan lagi dari sekarang, saya tidak akan bisa menyebut diri saya berumur 25. Angka tersebut rasanya luar biasa krusial, karena biasanya setelah umur tersebut, orang-orang akan makin gentar bertanya, apa langkah selanjutnya di dalam hidup saya ini. Buat perempuan, selain tentunya dikaitkan dengan pilihan profesi, pastilah pertanyaan yang tidak akan menjauh adalah soal pasangan hidup.

Kemarin, saya menerima sebuah undangan yang ternyata ditujukan kepada adik saya. Teman SMUnya, laki-laki, (tentu saja, karena dia bersekolah di sekolah khusus kaum Adam), umurnya adalah sekitar 24 tahun, akan segera mengakhiri masa lajangnya. Wow, merupakan suatu pilihan yang lumayan cepat, terutama untuk laki-laki. Pestanya sendiri akan diadakan di sebuah hotel sangat prestisius bintang lima di bilangan Kuningan. Pasangannya sendiri berumur sama dengan dia, dan bahkan untuk kaum perempuan, lumayan cepat juga keputusan untuk mengakhiri masa lajangnya di umur tersebut. Di sisi lain, beberapa hari lalu, saya bertemu dengan teman perempuan yang usianya di atas saya beberapa tahun. Dia bercerita, kalau dia menemukan satu laki-laki yang sampai saat ini sifatnya selalu ingin membahagiakan dia baik material maupun moral. Orang tuanya juga sudah memberikan tanda-tanda setuju dengan kehadiran laki-laki ini. Tetapi teman saya ini memilih untuk kabur dan menghindari laki-laki tersebut, karena dia masih belum ingin menikah. Ya, menikah adalah sebuah pilihan besar.

Time flies... hari ini sudah bulan May 2008. Sepertiga bagian dari tahun 2008 sudah berlalu. Saya sedang menghitung, apa saja pencapaian saya di tahun ini. Duh, rasanya kok tidak ada ya. Pekerjaan, masih sama seperti yang dulu. Soal pasangan, juga belum menemukan yang “klik” kayak lagunya Ussy Susilowaty. Makin ke depan, saya merasa orientasi saya soal kehidupan mulai berubah. Dulu saya berpikiran, kalau saya ini adalah tipe orang yang akan mengejar karier dulu sampai level tertentu, lalu akan menikah di usia tertentu. Tetapi sekarang, nggak tau kenapa, keinginan untuk settle dan memiliki sebuah keluarga lumayan berkembang di dalam hati dan pikiran. Banyak juga teman yang bilang, umur saya sekarang ini adalah masa-masa seorang wanita itu seperti bunga. Justru kalau settle di usia yang terlalu muda, yang ada akan menyesal kemudian karena masa-masa single yang seru itu akan segera berlalu. Justru ini adalah saatnya untuk mencari-cari, karena wanita umur segini itu mulai matang dan sedang mekar-mekarnya. Tetapi kadang ngelihat pasangan muda dengan anak-anak, kok ada keinginan untuk jadi seorang ibu juga. Apalagi kalau anaknya lucu-lucu dan montok-montok. Wah... memang membingungkan ya jadi perempuan.

Till then, saya masih punya 3 bulan lagi untuk mengatakan, saya masih berumur 25. I’m still young ! Hahahaha (laughing in a cynical way).