Monday, April 28, 2008

Pengalaman Pertama

Posting hari ini singkat saja ah. Percaya atau tidak, di tengah booming film Indonesia saat ini (di mana bioskop 21 banyak di dominasi film Indonesia), setelah satu tahun empat bulan saya kembali ke tanah air, saya belum pernah menonton film Indonesia di bioskop! Tidak ada satupun film Indonesia yang menggoda saya untuk melangkahkan kaki ini ke bioskop dan mengeluarkan beberapa puluh ribu rupiah untuk duduk selama 1.5 – 2 jam, termasuk film “Ayat-Ayat Cinta” yang sangat fenomenal itu.

Sampai pada akhirnya, ada satu film yang menggoda saya, sehingga sore kemarin, saya bertolak ke bioskop, dan sempat sebal menunggu karena kepagian selama 1 jam, tapi kemudian pada akhirnya bersyukur karena kalau telat sedikit lagi saja saat membeli tiket, ruangan bioskopnya langsung full house. Mungkin banyak yang penasaran film apakah yang memberikan godaan dahsyat itu. Jawabannya adalah...

eng ing engggg......

“The Tarix Jabrix”

Surprise-surprise! Kenapa saya sampai tertarik menonton film tersebut? Tentu saja bukan karena pemainnya yang ganteng (tokoh utama yang ganteng di film itu cuma motornya aja).... tetapi karena saya kangen melihat komedi pintar ala Dono Kasino Indro di jaman keemasan dulu (sebelum mereka akhirnya mengubah haluan jadi memajang cewek-cewek cantik berbikini). Yak, saya memang suka kangen atas hal-hal yang norak...ibaratnya benci tapi rindu.

Todong Long!!

PS: Watch the movie and you’ll know what I mean... hehe

Monday, April 21, 2008

No Talk During The Show, Please!

Entry saya kali ini sebetulnya hanya berpusat pada satu cerita mengenai pengalaman nonton bioskop kemarin ini. Tetapi gara-gara kejadian di bioskop itu, saya jadi teringat hal-hal menjengkelkan lainnya yang saya hadapi di Jakarta ini.

Sabtu kemarin, karena bingung mau ngapain di malam panjang, setelah dinner akhirnya saya memutuskan untuk nonton film yang sudah cukup lama tapi nggak sempat melulu untuk ditonton yaitu “Shoot ‘em Up” berduaan sama mama di Blitz Megaplex, Grand Indonesia. Berhubung film itu ibaratnya sudah hampir basi, jadilah kita kedapatan nonton di auditorium yang terkecil dengan penonton yang kira-kira hanya 20 orangan saja. Jarak antar penontonpun bisa dikatakan lengang. Dengan pasangan di sebelah saya saja, jaraknya ada dua kursi di sebelah kanan.

Begitu film dimulai, dimulai juga pembicaraan seru dari pasangan di samping saya itu. Pertama-tama sih saya tidak acuhkan, karena saya pikir, palingan mereka diskusi di depan-depannya saja mengenai cerita film tersebut. Tetapi tambah lama, bicaranya makin keras. Bukan hanya yang wanitanya saja yang bawel minta ampun, tetapi yang lelakinya juga seru menanggapi sehingga acara nonton saya itu betul-betul terganggu. Apalagi saat banyak adegan tembak-tembakan, di mana sang wanita mulai teriak-teriak sendiri dan ngoceh kalau dia nggak suka adegan tembak-tembakan dan nggak tahan melihat darah. Dalam hati saya, sudah tau judul filmnya “Shoot ‘em Up” ya sudah pasti lah banyak adegan tembak-tembakannya.

Film berlangsung terus, dan mereka berdua mengobrol dengan tambah seru saja. Konsentrasi saya dalam menonton film mulai buyar. Saat itu saya sudah tidak tahan dan akhirnya saya bilang ke Mama, kalau sepertinya kedua orang ini harus saya tegur. Tapi Mama melarang saya, dengan alasan, tidak mau cari ribut (dan takut anaknya ditonjok oleh yang laki-laki, karena umumnya di Indonesia, laki-laki itu selalu membela diri apalagi dihadapan ceweknya, dan maunya main kasar). Padahal saya tidak ingin mencari ribut karena hanya ingin menegur saja. Terang-terangan sebelum film sudah diberitahukan, “No Talk During The Show, No Cellphone During The Show”. Jadi seandainya saya menegur dan orang tersebut sampai marah, saya mempunyai alasan yang sangat kuat mengapa peneguran saya itu masuk di akal dan sangat manusiawi.

Karena larangan Mama itu, akhirnya saya mengurungkan niat saya untuk menegur mereka. Tetapi asli, saya kecewa berat. Acara nonton saya kemarin rasanya sama sekali tidak nikmat. Duh, saya kesalnya minta ampun. Dan ciri-ciri kalau saya kesal itu adalah, saya akan ngomong secara cepat sekali dalam bahasa Inggris. Jadi mulai dari keluar auditorium sampai turun di elevator, keluarlah semua pembicaraan dalam bahasa Inggris secara ngebrebet hehehe. Sepanjang perjalanan pulang, saya berdiskusi dengan Mama, betapa perlunya orang-orang seperti itu memperoleh teguran karena telah mengganggu kenyamanan bersama. Sebagai penonton yang telah membayar, saya merasa berhak untuk memperoleh suasana yang nyaman selama pertujukan berlangsung. Tetapi alasan apapun yang saya kemukakan dihadapan Mama, Mama tetap bersikeras kalau di Indonesia ini sebaiknya saya yang perempuan ini diam saja, karena umumnya orang-orang menganggap perempuan yang terlalu berani mengemukakan, apalagi di muka umum, adalah sesuatu yang tidak lazim dan tidak terlalu disukai di sini. Kalau sampai ribut-ribut, pasti yang malu itu adalah perempuan. Duh, memangnya benar ya seperti itu ? Sedih banget sih.

Ada tiga hal lagi yang akhir-akhir ini membuat saya suka kesal jika bertandang ke mal-mal di Jakarta (ini baru yang kepikiran saja). Pertama, masih menyangkut situasi di bioskop. Walaupun sudah diberitahu kalau cellphone sebaiknya di silent selama pertujukan berlangsung, tetap saja ada orang yang masih menyalakan deringnya. Yang lebih parah lagi adalah, ada yang menerima telepon dan mengobrol dengan santainya sambil tertawa-tawa di dalam bioskop yang sedang berlangsung pertunjukkan, seakan-akan sedang nongkrong di warteg atau di rumahnya sendiri.

Kedua, situasi di dalam elevator (atau orang sini bilangnya lift). Banyak sekali kejadian, penumpang yang akan masuk lift menyeruduk saja ke dalam, padahal penumpang yang akan keluar belum sempat keluar. Berapa susahnya sih menunggu sampai penumpang yang di dalam keluar, lalu kemudian baru masuk? Sepertinya semua orang di sini takut ketinggalan kereta. Belum lagi, terkadang ada orang yang berusaha keluar dari dalam lift di lantai tertentu, tetapi orang yang berdiri di depan pintu belum mau keluar di lantai tersebut. Seharusnya sebagai sesama pengguna lift yang baik, cobalah yang di depan pintu keluar dulu, mempersilakan yang di belakangnya untuk keluar, dan akhirnya balik lagi masuk. Tetapi di sini, susahnya minta ampun. Malah orang-orang memiring-miringkan diri, seakan-akan takut kehilangan spotnya di dalam lift, sampai akhirnya orang yang mau keluar dari lift seperti sedang main game ”Survivor” untuk menyelamatkan diri keluar. Yang menjengkelkan lagi adalah, susahnya orang untuk meminta tolong memencetkan tombol lift. Kemarin itu sepulang nonton, mama saya kebetulan posisi berdirinya ada di depan tombol lift. Kebetulan ada laki-laki di belakang Mama saya berdiri, butuh untuk memencet salah satu tombol lantai. Sebetulnya mudah sekali bagi dia untuk berkata, ”Bu, bisa minta tolong pencet lantai 1?”. Tetapi yang terjadi adalah, dia memaksa untuk memencet tombolnya sendiri, sehingga posisi mama saya sangat tergencet dan laki-laki itu posisinya seperti merangkul secara tidak hormat. Duh, rasanya pingin marah (sebagai akumulasi dari pengalaman di bioskop ditambah lagi dengan di lift), tetapi ditahan saja.

Ketiga, pengalaman di toilet. Kali ini saya tidak mau membahas mengenai wanita Indonesia yang lebih suka berjongkok di toilet padahal toiletnya itu adalah toilet duduk, sehingga menyebabkan dudukan toilet (alias toilet seat) menjadi kotor bukan main oleh cetakan sepatu dan akhirnya jadi cepat rusak karena sering diinjak-injak. Saya sudah anggap itu sebagai kebiasaan karena memang toilet di sini suka agak tidak higienis. Yang saya ingin bahas adalah cara mengantri di toilet. Cara mengantri yang terbaik itu sebetulnya adalah dengan berdiri di dalam satu garis. Kemudian jika ada toilet yang kosong, orang pertama di dalam antrian adalah yang berhak untuk memakai toilet itu terlebih dahulu. Tetapi di Jakarta ini lain lagi. Setiap pintu wece mempunyai satu antrian tersendiri! Waktu itu saya sudah dengan manisnya menunggu di bagian depan (bukan di depan pintu). Tiba-tiba saja serombongan gadis-gadis (yang lagaknya lebih heboh daripada artis), menyeruak masuk melewati saya dan nongkrong di depan masing-masing pintu toilet. Saat itu saking kesalnya, saya nyeletuk (tanpa memandang langsung), ”Wah, parah ya, orang-orang di sini pada nggak bisa antre.” Saat itu saya ingat kalau tangan saya dicubit oleh Mama (lantaran dia juga ngeri anaknya dikeroyok oleh serombongan remaja). Tetapi ternyata ada juga diantara mereka yang sadar, dan akhirnya malu hati, dan akhirnya mempersilakan saya untuk maju duluan. Nah, lumayan kan heheheh...

Selama ini, dalam pemantauan saya, setiap kali orang yang tidak disiplin itu ditegur, yang ada mereka malah nyolot dan menatap balik si penegur secara tajam. Jarang sekali yang mau menerima kalau mereka memang salah, dan meminta maaf atas kesalahan yang telah dibuatnya. Jika begini terus adanya, sampai kapan kita mau dilanda ketidaksiplinan itu? (Aduh, gaya ngomong udah kayak panitia P4... cape deh...)

Tuesday, April 15, 2008

Catatan Singkat Mengenai Kenaikan Berat Badan

Gara-gara kemarin sakit itu, nafsu makan saya jadi agak tidak terkontrol. Apalagi ada alasan untuk makan banyak alias: lagi sakit, jadi harus komplit gizinya. Pertama-tama yang paling saya tidak bisa kontrol adalah makan karbohidrat. Tiba-tiba saja, saya jadi suka banget sama roti-roti, nasi, dan bakmi. Minggu lalu, sore sekitar jam 5 sore, perut ini mulai lapar. Saya dan Mama yang sedang berada di Pasaraya Grande langsung ke foodcourt dan rencananya sih mau icip-icip saja dan share-share makanan. Endupnya, saya makan 2/3 porsi Beef Gyros, 1/2 mangkok Bibimbap, dan 1 Rotiboy! Pulang ke rumah, badan rasanya kok masih kurang enak, jadi sekitar pukul 6-an, saya tidur ! (Abis makan langsung tidur, perfect banget kan untuk nambah berat badan). Malamnya sekitar pukul 9 saya bangun. Perut lapar lagi dan tiba-tiba ngidam Mie Pangsit. Jadilah si mama menelepon ke restoran bakmi di dekat rumah untuk pesan 1 Mie Pangsit. Dan di pukul 10 malam, dengan nikmatnya sambil nonton tivi, saya dengan sukses menghabiskan 1 porsi Mie Pangsit...nyam nyam!

Jumat kemarin sepulang kerja, nonton bareng di Blitz GI sama teman-teman kantor. Sepulang nonton, kita makan di foodcourtnya GI, dan mereka pada bengong melihat pesanan saya. 1 porsi Spaghetti Bolognaise, 1 porsi Melting Chocolate Cake, dan 1 gelas Orange Juice. Si Leony yang biasanya lumayan menjaga asupan makanan, hari ini agak menggila sedikit. Sabtu siang makan di rumah aja sih, tetapi Sabtu malamnya pas makan di Aji Tei, saya pesan 1 porsi Beef Tonpeyaki, 1 California Maki, dan masih menghabiskan 1/3 porsi Unagi Don punya Mama. Plus penutupnya, masih pesan Mango Parfait! Minggu siang, karena saya bangun kesiangan dan sorenya harus tugas main organ di gereja, kita nggak kemana-mana. Sepulang gereja, pergi bertiga dengan Mama dan sepupu saya ke Penang Place. Saya pesan 1 porsi Nasi Lemak Komplit (Kari Ayam, Rendang Sapi, Otak-Otak, Sambel Udang, Telur Dadar, Ikan Bilis Kering), plus menu yang di share adalah Roti Canai, Ayam Mangga, dan minumnya 1 gelas Teh Tarik panas. Sudah makan segitu, masih ditambah lagi dengan penutup Bubur Cha-cha (Malaysian Style yang isinya komplit dengan ubi dan talas).

Yah, demikianlah, kenaikan berat badan ini makin terasa, terutama di daerah perut yang semakin membuncit. Dan siang ini, saya akan berangkat lagi ke Lampung tercinta. Dan seperti biasa, di Lampung, we cannot really control what we eat, as everything is being provided in front of our face in the massive amount. DARN !

Friday, April 04, 2008

Uhuk - Uhuk Part 3 (The Completion of the Trilogy)

Benar juga prediksi beberapa orang pembaca blog ini, kalau akan ada kemungkinan trilogy dari kisah uhuk-uhuk saya ini. Dan mudah-mudahan dengan dilengkapinya trilogy kisah ini, sakit yang diderita ini juga tidak akan kembali lagi. Marilah kita kembali ke seminggu yang lalu, di mana saat itu saya berkeluh kesah sedikit karena rapat dengan Big Boss tidak kunjung berakhir.

Hari Jumat sekitar pukul 6 sore, selesai juga kira-kira 4/5 bagian dari rapat yang seharusnya dijadualkan hanya satu hari itu. Sisanya akan dilanjutkan senin pagi. (Bayangkan, rapatnya berubah dari satu menjadi tiga hari). Sepanjang rapat di hari Jumat itu, saya masih tetap berasa tidak enak. Beberapa saat sekali, saya ke wece untuk batuk-batuk dan buang air kecil lantaran demi menahan batuk-batuk ini saya jadi minum banyak sekali. Rapat seharian penuh memang cukup menyiksa untuk orang yang lehernya lagi gatal-gatal seperti saya ini. Apalagi, begitu sore tiba, menu snacknya ada mpek-mpek 123 langsung didatangkan dari Lampung (yang kuahnya sedapnya minta ampun itu)! Duh, saya udah ngiler-ngiler, tetapi berusaha menahan diri. Dan berhasil! Begitu rapat selesai, rasanya lega, bisa pulang dengan selamat.

Jumat malam, keadaan badan masih lumayan ok, walaupun masih uhuk-uhuk juga. Sabtu pagi kebetulan jadual potong rambut barengan mama (saya adalah tipe yang lumayan hemat kalau potong rambut, cukup 3 bulan sekali saja). Kebetulan juga, hari itu adik saya bisa ambil rehat dari kerjaannya di Bandung, jadi bisa pulang sebentar ke Jakarta untuk sekedar numpang tidur (gara-gara begitu singkatnya). Di salon, saya mulai berasa tidak enak badan dan kedinginan. Saya sempat mengemukakan ke mama kalau saya kedinginan. Saya pikir karena saya telat makan. Mana sepertinya hairstylist saya lagi agak-agak stress sehingga hasil potongan rambut saya dan mama hari itu berantakan total. Hasil potongan poni saya lebih parah daripada ”Dora the Explorer”, dan potongan rambut mama saya berubah menjadi potongan “Dora the Explorer” yang sesungguhnya. Setelah bertahun-tahun, kok kayaknya harus ganti hairstylist ya... (lihat nanti deh, soalnya hairstylist yang satunya yang kita incar ada di salon yang sama).

Pulang dari salon, dengan wajah-wajah kecewa, saya menjemput adik di rumah untuk lanjut makan siang. Saat itu sudah pukul 1.30-an. Setelah berbingung-bingung ria mau nentuin makan di mana, akhirnya kita menuju ke Q-Smokehouse di Panglima Polim. Jalanan macetnya nggak kira-kira, akhirnya pukul 2.20-an sampai juga kita. Pas lihat menu, baru ngeh kalau semua harganya melonjak drastis. Bahkan harga minumannya naik dua kali lipat. Ckckckck...Saya sih tidak bagaimana keberatan dengan kenaikannya, karena kan harga bahan-bahan juga sudah pada naik. Tetapi ada hal lain yang membuat saya agak-agak kesal. Setelah menunggu sekian lama karena kita maunya tempat yang non smoking, kitapun melakukan pemesanan. Nah, di sinilah proses naik darah dimulai. Yang namanya Q-Smokehouse, menu utamanya itu adalah smoked ribs. Eh, ternyata ribsnya SOLD OUT! Dan parahnya si waitress tidak memberi tahu dari awal kalau ribsnya habis. Padahal mustinya sebelum kita masuk, sebagai restaurant penjual ribs, si waitress sudah harus siaga kalau menu utamanya sudah tidak ada. Jadilah kita mengalihkan pesanan menjadi steak, kemudian kita juga pesan appetizer sampler. Setelah nunggu beberapa lama, si waitress itu balik lagi dan bilang kalau Chicken Quessadillanya juga SOLD OUT dan dia menganjurkan diganti dengan Fried Mushroom ! Grrrr... bener-bener deh susah sampai limit kesabaran. Saking kesalnya, kita bertiga langsung membatalkan seluruh pesanan dan berjalan keluar. Bayangkan, dalam keadaan lapar berat, setelah menunggu lama, waitress yang tidak siap siaga dengan keadaan dapur, dan makanan yang main diganti saja tanpa ada sinkronisasi antara Quessadilla dan Fried Mushroom (jauh banget kan), nggak salah lagi kalau kita angkat kaki! Sudah berkali-kali saya ke resto ini, baru kali ini saya kecewa berat. Mungkin saya masih mau balik lagi ke restaurant ini karena smoked ribsnya yang enak, tetapi lain kali saya harus memastikan kalau menu utamanya ada sebelum saya menggerutu untuk yang kedua kalinya.

Karena kesal dan ngga tau mau kemana, akhirnya mobil saya bawa putar-putar dan akhirnya sampai di Pasaraya Grande. Daripada nggak makan, mendingan ke foodcourt Pasaraya saja. Kebetulan saya butuh membeli bedak yang hanya dijual di Pasaraya Grande (lagi-lagi pingin protes sama importirnya, masak kosmetiknya hanya di jual di Pasaraya sementara parfumnya menyebar di mall-mall besar). Di Foodcourt itu akhirnya saya pesan Beef Gyros di Piccolinno’s, dan ngga tau apakah karena saya lapar ataukah karena Gyrosnya betul-betul enak, begitu makanan datang, langsung habis dengan sukses. Adik saya yang tadinya hanya pesan Tahu Pong Satay House Senayan pun dibuat ngiler-ngiler, dan akhirnya dia pesan juga. Setelah itu kita memutuskan, kalau enaknya bukan karena lapar, tetapi memang Gyrosnya beneran enak. Tetapi sepanjang makan itu, badan saya merinding tidak karuan. Keringat dingin mulai keluar bercucuran dan mama saya merasa melihat kejanggalan pada badan saya yang mulai hangat. Langsung setelah makan kita mampir ke Guardian dan membeli Panadol. Bahkan sebelum sempat dibayar, Panadolnya sudah saya makan dulu. Tapi dasar lapar mata, sehabis makan Panadol masih sempat minta mama beli Roti Boy, plus masih ke atas alias ke Department Store untuk memenuhi misi membeli bedak.

Saat menuju tempat parkir, badan ini mulai merasa tidak karuan. Akhirnya kunci mobil saya serahkan ke adik saya dan saya memilih untuk duduk saja di kursi belakang sambil kasih tau dia arah jalan. Diputuskanlah kalau tujuan kita selanjutnya bukan pulang, melainkan ke dokter. Yak, akhirnya pukul 16.45 sampailah saya di dokter, dan dokter baru praktek jam 5. Beruntunglah saya tiba lumayan on-time sehingga dapat giliran ke 3. Tapi ternyata dokternya baru keluar pukul 5.15, dan pasien kedua alias sebelum saya luamanya minta ampun...(entah apa yang diderita oleh sang kakek tersebut). Sekitar pukul 6 kurang sedikit, sampailah kepada giliran saya. Setelah diperiksa sana sini oleh sang dokter (dan juga anaknya yang kebetulan baru lulus kedokteran), disuruh menganga berkali-kali, diputuskanlah kalau saya menderita ISPA alias Infeksi Saluran Pernafasan Akut. Hua hua hua....denger namanya aja udah seram, belum lagi pantangannya. Nggak boleh ngomong terlalu banyak, nggak boleh nyanyi, musti makan bubur aja dan makan yang adem-adem, ditambah lagi musti makan obat yang dokternya saja nggak punya obatnya dan harus beli di apotek (biasa dokter ini kalau penyakitnya bisa dihandle, pasti langsung kasih obat dari kamar praktek). Dokterpun berpesan, kalau bisa saya istirahat dulu tidak bekerja selama beberapa hari. Sabtu malam itu, tidak ada jalan-jalan ke mall atau nonton di bioskop, tetapi tidur... dan makan bubur...dan makan obat...hiks hiks hiks...

Minggu pagi, berhubung sudah komitmen dengan choir, pagi itu dengan semangat berangkat ke gereja untuk misa jam 11 pagi. Tapi di sana saya sudah berjanji, nggak akan menyanyi, dan saya patuhi hari itu. Minggu siang, saya kembali makan bubur di rumah. Sorenya karena harus mengantar adik ke perusahaan travel ke Bandung di depan Hotel Kartika Chandra, sekalian kita keluar untuk dinner dan ke supermarket. Bingung-bingung akhirnya kita ke Plasa Semanggi, dan pilihan yang hangat dan berkuah adalah Ajisen Ramen (rasanya lebih menarik daripada Shabu Tei yang terletak di sebelahnya dan lebih ramai). Namanya sudah beberapa kali makan bubur melulu, begitu ketemu ramen panas dengan potongan-potongan daging sapi, nikmatnya minta ampun deh. Habis dari situ lanjut ke Hypermart JaCC (berhubung si mama punya voucher belanja gratis). Saat itu rasanya segar-segar saja, walaupun suara masih yah, serak-serak basah. Tapi hari itu saya lagi baik hati banget, sama sekali nggak membeli snack-snack asin yang menggiurkan, melainkan hanya membeli roti gandum saja.

Senin pagi, walaupun sudah diperingati dokter untuk beristirahat, saya masih tetap datang ke kantor. Toh rasanya kemarin baik-baik saja sampai malam, jadi apa salahnya ke kantor, apalagi masih ada sisa rapat dengan Big Boss dari minggu lalu yang belum terselesaikan. Sayapun membawa ransum dari rumah, bubur dan bihun ayam. Ceritanya saya nggak mau belanja-belanja di kantin belakang kantor demi kesehatan. Siang itu teman ngajak ke kantin belakang, saya tetap setia dengan bawaan saya walaupun itu berarti saya membawa lunch bento box berbentuk tabung ala Jepang lengkap dengan termos stainless steel yang membuat saya dilihatin orang-orang satu kantin yang lagi pada asoy menyantap nasi rames. Sepulang makan siang, kondisi badan mulai berasa aneh lagi. Saya batuk-batuk tidak berhenti. Saya minum terus air hangat, dan tetap batuknya nggak berhenti, sampai air mata ini mengalir. Beberapa kali saya bolak balik wece, mirip seperti ibu-ibu yang sedang ngidam, menghadap mangkuk toilet dan hoek-hoekan sambil berkeringat dingin. Sesak nafasnya juga tidak terkontrol, sampai mau mengambil nafas normal saja rasanya susah. Akhirnya begitu saya kembali ke meja kerja dengan keadaan muka memerah, dengan berurai air mata buaya (soalnya bukan karena sedih sih), saya menelepon kedua bos saya dan meminta ijin untuk pulang. Bos saya yang satu malah sampai sudah tidak kenalin lagi suara saya karena hilang. Jadilah siang itu, dengan menumpang si Burung Biru, saya pulang ke rumah, dan sampai rumah langsung terkapar dengan sukses.

Selasa dan Rabu, saya leyeh-leyeh di rumah selama dua hari. Kerjaannya hanya tidur, makan, batuk, tidur lagi, makan lagi, batuk lagi, tidur lagi, dan seterusnya. Menu makanannya kuah-kuahan terus (tapi ditengah-tengah saya mohon untuk dibelikan martabak manis, dan dikabulkan, mungkin si mama kasihan juga kali liat anaknya yang manis ini). Asli, bosan juga di rumah. Karena efek obat, pagi bangun Pukul 10-11an. Kemudian lihat acara tivi yang isinya infotainment lagi, infotainment lagi. Lanjut berita siang yang biasa dibelakangnya ada info kuliner. Lalu lanjut ada Ceriwis yang diisi dua orang yang centilnya ngga beda jauh alias si Indy Barends dan Indra Bekti (baru nyadar kalau nama mereka inisialnya sama yaitu IB, ati ati punya anak yang inisial ini, kemungkinan bawelnya dobel). Pukul 2 lanjut lagi acaranya pak Bondan Winarno yang lagi-lagi menggugah selera orang yang lagi pantang. Dengan santainya Pak Bondan ngeganyem nasi liwet dengan sambel goreng ati, ditambah lagi menyeruput soda susu. Huaaa...lengkaplah sudah beban derita visual. Pukul 3-an mata sudah capek lagi, dan bobo lagi, pukul 6-an ngelihat acaranya lomba nyanyi super-superan yang intinya cuma buat mantengin si Ivan Gunawan dan Ruben Onsu yang kadang garing tapi dinanti. Kadang dengan rasa penasaran juga tuker-tukeran nonton Dangdut Mania yang kata mama saya lebih menghibur (ngga jelas sejak kapan beliau jadi suka acara ini). Tengah malam sudah ngantuk lagi...begitulah... Life oh life...

Kamis ini, dengan semangat baru, kembalilah saya ke kantor tercinta. Suara ini masih tetap seksi sekali, walaupun mungkin sudah pulih sekitar 50%. Ternyata selama dua hari saya tinggal, di kantor ini saya melewatkan satu potong kue coklat Harvest yang dibagikan oleh teman saya yang ulang tahun. Tetapi saya senang, semua orang menanyakan kabar saya, bahkan Pak Bos malah bilang, kalau butuh istirahat lagi, silakan saja, karena kalau bolong-bolong, kerja juga nggak bisa konsen. Beliau juga berpesan, kalau nggak sembuh juga, harus pergi ke internist (memang itu sih rencana saya). Hari ini obat saya habis, tadi pagi makan dosis terakhir. Moga-moga penyakitnya nggak kembali lagi. Walaupun suara masih belum 100%, dan leher juga masih mengganjal, dengan doa restu dan usaha, marilah kita tekadkan, kalau saya harus SEMBUH BUH BUH !!!