Friday, March 28, 2008

Uhuk - Uhuk Part 2

Setelah saya menulis soal uhuk-uhuk minggu lalu itu (hari Selasa), hari Rabunya ternyata saya sudah mencapai titik di mana saya sudah tidak kuat lagi. Pagi itu badan saya lemas luar biasa, tidak bisa bangun lebih tepatnya. Namun karena banyak kerjaan, akhirnya saya memutuskan untuk berangkat juga dan sekitar pukul 11 siang, sampai juga di kantor. Sorenya saya memutuskan untuk ke dokter, dan akhirnya dikasih resep yang terdiri dari 4 macam obat warna warni. Malam itu seharusnya saya latihan koor terakhir untuk Jumat Agung, tetapi dengan segala kekuatan yang tersisa, saya meminta mama menelepon sang konduktor dan melaporkan kalau saya tidak kuat lagi untuk datang latihan. Benar saja, sejak kembali dari dokter dan mengkonsumsi obat batch pertama, saya langsung tidur. Sekitar jam 10 malam, saya dibangunkan mama untuk makan sedikit dan meminum obat batch kedua, lalu dengan suksesnya saya tidur lagi, sampai pagi! Jadilah saya skip latihan terakhir yang katanya sih sampai dikunjungi oleh pastor kepala demi melihat kesiapan koor kita. Hiks hiks...

Untunglah kita menghadapi long weekend yang dimulai dengan libur di hari kamis. Jadinya pagi-pagi saya bangun dengan keadaan sedikit lebih segar. Pagi setelah sarapan roti, saya minum obat lagi. Tetapi mama curiga, kenapa dari antara 4 macam obat itu, ada 1 macam obat yang isinya hanya 6 butir saja, sementara yang lain ada 15 butir. Dengan keadaan setengah panik, mama kembali menelepon dokter, ternyata obat yang 6 butir itu adalah obat tidur. Ya ampun, pantesan saya langsung tidur semalam dengan sukses, dan paginya saya mulai ngantuk lagi. Jadilah sekitar jam 10 pagi saya ketiduran lagi, dan kemudian bangun untuk mengikuti misa Kamis Putih. Setelah misa, kebetulan ada janji ketemuan dengan teman di Bakoel Koffie, Cikini. Jadi sore itu ngobrol-ngobrol dikit, lalu balik lagi ke rumah untuk jemput mama yang habis misa juga di gereja deket rumah. (saya nggak minum kopi kok, tau diri heheheh..Cuma minum 1 cangkir Hot Chocolate sama 1 botol Air Mineral Equil). Karena tenggorokan sepertinya makin parah, saya jadi pinginnnn banget makan yang sup-sup, dan akhirnya berangkatlah kita ke Pho 2000, Senayan City untuk makan malam. Karena besoknya alias Jumat Agung saya tugas menyanyi, jadi mama menyarankan untuk tidak minum obat tidurnya, tetapi tetap minum sisanya, supaya besok tidak ngantuk dan teler saat menyanyi di gereja.

Akibatnya: Saya tidak bisa tidur sama sekali! Mungkin saya hanya tidur total selama 2 jam saja. Setelah di teliti, ternyata sisa obat yang saya minum sepertinya ada suatu zat yang membuat kita menjadi tidak bisa tidur dan membuat jantung deg-degan seperti caffeinne. Selain itu, karena kurang istirahat, suara juga masih tidak pulih, dan setelah tugas Jumat Agung itu, suara saya malah betul-betul hilang, padahal saya sudah membawa perlengkapan perang berupa 1 termos berisi air hangat untuk diminum selama misa (maaf ya, harusnya saya puasa alias ngga boleh minum, tetapi situasi dan kondisi tidak memungkinkan). Berita baiknya adalah, selama misa berlangsung, saya tetap bisa bernyanyi dengan cukup baik. Jumat malam itu, saya serba salah, apakah memakan obat tidurnya lagi atau tidak. Akhirnya saya putuskan memakan obat tidurnya lagi, tetapi sepertinya tidak terlalu berpengaruh karena tetap saja rasanya deg-degan nggak karuan, sampai besok paginya alias hari Sabtu Suci.

Seperti diketahui, sudah dua hari saya tidak mendapatkan pasokan tidur yang cukup. Tetapi anehnya saya segar-segar saja, walaupun tenggorokan kacau balau dan hampir nggak keluar suara. Sabtu siang itu saya tugas nyanyi lagi di gereja. Tetep bawa senjata termos isi air anget dong! Eh malah ada yang minta loh, mungkin ngiler juga ngelihatin saya nyeruputin air suam-suam kuku. Pas Sabtu itu, saya menyanyi dengan terbatuk-batuk, tetapi yang namanya usaha diberkati sama yang di Atas, jadilah saya tetap bisa menyanyi dan menggapai nada-nada tinggi *buat yang tau lagu For the Beauty of The Earth, sopranonya setinggi apa, nah bisa dibayangin deh*. Seneng banget karena koor kita banyak dapat review yang bagus alias positive, malah ada yang langsung menghampiri untuk order acara kawinan dan krisma.

Setelah misa selesai, bersama teman-teman choir kita makan bareng di restaurant Randevouz dengan menu yang buanyak banget, kemudian beberapa dari kita alias enam orang lanjut ke Pacific Place untuk alasan yang tidak jelas alias menghabiskan waktu saja. Ujung-ujungnya, kita makan dessert ala Jepang di Aji Tei sambil ketawa-ketawa terus sampai perut dan leher pada sakit. Eh, masih lanjut lagi pula dengan nonton Vantage Point di Blitz Megaplex. Buat yang belum nonton Vantage Point, very recommended dah! One of the best movies so far this year. Ada tiga hal penting yang bisa kita petik dari film tersebut: 1. Kalau mau beli handycam tahan banting, belilah merek Sony; 2. Kalau mau beli mobil tangguh, belilah merek Opel; 3. Kalau mau beli handphone keren, belilah Sony Ericsscon. Heheheh...bingung kan? Makanya nonton dulu deh filmnya. Malam itu saya sampai ke rumah pukul 12 kurang, dan karena capek kurang tidur selama 2 hari, akhirnya saya bisa bobo dengan sukses. Horeeee...!!

Minggu pagi, Happy Easter semua! Semoga kebangkitan Kristus juga membangkitkan rasa kebersamaan kita sehingga kita sebagai ciptaan Tuhan bisa bersahabat dan hidup dengan damai. Pagi ini bangun lebih segar, tetapi bingung mau ngapain. Akhirnya setelah bingung-bingung, paksa mama untuk dandan dikit, dan kita yamcha di Samudra BRI II. Makan berdua mungkin habis 9 porsi icip-icip. Udah gitu yang parah adalah, kita makan ngebut banget, kayak udah dua hari nggak makan. Habis makan, lanjut lagi ke Grand Indonesia dan liat liat jadual di Blitz, ternyata pas banget ada Spiderwick Chronicles main pukul 14.30, jadilah saya dan mama langsung nyambung nonton. Setelah nonton, bingung lagi mau ngapain, pulang deh. Sampe rumah nggak berapa lama, kok udah nggak betah lagi, lagian perut rasanya sudah manggil untuk dinner. Jadi the long weekend itu kita tutup dengan makan di Gado-Gado Boplo Wahid Hasyim dengan menu gado-gado lontong, tahu telor, dan cincau hijau. Hari Minggu malam, saya minum obat lagi..akibatnya: Lagi-lagi nggak bisa tidur! Sampe pagi!

Hari Senin pagi, kepala saya sudah mulai kliyengan. Batuk juga nggak sembuh-sembuh. Pagi-pagi masuk kantor, lalu meeting seharian. Selama meeting, mulai terdengar uhuk-uhuk berkepanjangan yang tidak dapat dikontrol. Sampai saya betul-betul tidak enak hati sama para peserta rapat. Beberapa kali saya bolak balik ke kamar kecil dan berharap setelah dahaknya keluar, saya tidak batuk lagi, tetapi rupanya tidak mempan. Obat dari dokter juga sudah habis tuntas, tetapi kok batuknya tidak sembuh-sembuh. Sekitar pukul 3.30 sore, pak bos menawarkan saya untuk pulang, tetapi saya tidak enak hati kalau pulang lebih awal, akhirnya jam 5.30 sore barulah saya menuju ke rumah. Malam itu saya betul-betul lemas dan tidak kuat lagi. Mulai sekitar jam 7 malam, saya sudah terkapar dengan sukses di atas ranjang, dalam keadaan keluar keringat dan kepanasan padahal AC di kamar dingin bukan main.

Hari Selasa, karena kondisi yang betul-betul drop, saya memilih untuk istirahat di rumah. Saya ini lumayan tipe ngeyel dan susah banget istirahat, tetapi hari itu ngalah deh. Pagi itu saya minta mama untuk telepon pak bos karena saya nggak kuat, dan kata mama, nggak usah dibilang apa-apa, pak bos sudah komen sendiri kalau saya pasti sakit hehehe. Kerjaan saya seharian itu tidur melulu, tapi rasanya sudah tidur segitu banyakpun, ngantuk terus. Sorenya saya masak comfort food, baked pasta with tomato sauce and looootttssss of cheese. Habis makan itu rasanya damaaaiii... dan ngantuk lagi...

Hari Rabu sebenarnya kondisi masih belum pulih, tetapi karena tuntutan pekerjaan (lebih tepatnya karena hari Kamis ada meeting dengan Big Boss), saya masuk juga untuk memastikan kalau data-data sudah siap dan bisa di review. Rabu sore itu sebetulnya saya ingin ke dokter lain lagi untuk mencari opini tambahan, tetapi begitu pulang kantor dan lewat di depan rumah dokternya, saya langsung mengurungkan niat. Bukannya saya nggak mau ke dokter, tetapi orang Jakarta kayaknya sedang sakit semua, sampai antrian dokter begitu panjangnya. Malam itu saya juga harus datang ke latihan koor karena kita akan tugas lagi hari Minggu ini. Hari itu saya sudah niat lagi, pokoknya ngga boleh nyanyi. Tapi namanya panggilan alam, tetep aja nyanyi-nyanyi dikit, apalagi begitu ngeliat soprano, kok hanya 2 orang, jadi nggak tega. Malam itu kata mama sih di dalam tidur saya uhuk-uhuk terus. Tetapi saya sudah ngga sempat mikir, karena berasanya saya lebih pulas. Mungkin kecapekan kali ya.

Kamis kemarin, dengan semangat 45 berangkat ke kantor dan berharap rapat segera di mulai dan hari segera berlalu (supaya Jumat bisa tenang, nggak perlu mikirin apa-apa lagi). Pagi-pagi dapat berita, rapatnya diundur jadi Pukul 1 siang. Wah, alamat sampai malam nih. Pukul 1 siang, kita semua sudah menunggu di boardroom, eh ternyata Pak Chairman baru masuk sekitar pukul 1.45. Rapatpun di mulai, tetapi karena Pak Chairman sibuk keluar masuk, rapatnya jadi putus sambung. Pukul 5.10 beliau mengatakan kalau rapatnya disudahi dulu dan dilanjutkan besok pagi, padahal baru seperempat agenda saja yang selesai. Hiks hiks hiks.... itu berarti, hari ini masih teteupppp... meeting lagi. Leher ini juga teteupppp...batuk lagi... nggak sembuh-sembuh! Padahal sejak obat dokter habis, sudah mengganti haluan dengan minum obat batuk formula yang katanya bagus itu.

Doakan saya yah, semoga lekas sembuh nih... Sudah nggak tahannnnn.... HIKSSSS...

Wednesday, March 19, 2008

Uhuk Uhuk

Sudah beberapa hari ini, saya terserang batuk. Kronologis kemungkinan terjadinya batuk adalah sebagai berikut. Awal bulan lalu, kebetulan saya berada di luar kota alias di pedalaman Lampung dan Sumatra Selatan untuk urusan pekerjaan. Kira-kira di tengah minggu, badan saya lemas sekali, padahal mestinya saya hadir di rapat bersama dengan bos saya. Tapi untung bos saya baik hati, saya dipersilakan untuk istirahat di mess. Dan apakah yang terjadi ? Saya tidurrrr.... selama berjam-jam, meringkuk di atas sofa, sampai makan siangpun terlewati. Bangun-bangun, tau tau sudah jam 5 sore. Akhirnya sudah keburu tiba waktu makan malam, dan setelah makan malam, saya pikir saya akan terjaga karena dari siang sampai sore tidur kelamaan, tetapi anehnya, saya tidur lagi sampai pagi besoknya! Rupanya aktifitas yang lumayan tinggi, membuat badan saya drop. Saat kembali ke Jakarta, pinginnya juga istirahat dan santai. Tetapi yang namanya tugas, pasti ada saja yang membuat kita tidak bisa betul-betul relax.

Tenggorokan saya mulai terasa tidak enak pada saat menyanyi di Misa Perkawinan tanggal 9 Maret lalu alias dua hari setelah kembali dari perjalanan dinas. Tapi namanya saya bandel, ya masih santai-santai aja. Serak-serak dikit saya diamkan (soalnya keren juga kan kayak Rod Stewart gitu heheheh...). Rabu minggu lalu, suara sudah mulai hilang, tapi dasar nekad, saya masih tetap saja latihan menyanyi. Habis gimana dong, kebetulan ada tugas menyanyi di St. Theresia untuk misa expatriate hari Jumat Agung dan Sabtu Suci. Akibatnya adalah, weekend kemarin, batuk-batuknya semakin menggila, dan akhirnya saya memutuskan untuk mengkonsumsi expectorant bermerek B yang slogannya: ”pengencer dahak, pereda batuk”. Setelah minum itu, rasanya lumayan juga, tapi kok lama-lama, pusing banget yah. Kepala mulai kliyengan, lalu akhirnya saya Cuma bisa meringkuk lagi di ranjang dan nggak bisa ngapa-ngapain termasuk nggak bisa tidur (padahal sudah jam 2 pagi). Mama saya yang terbengong-bengong melihat yang terjadi, kemudian dia baca kertas keterangan yang ada di box expectorant tersebut. Ternyata efek sampingnya adalah: Vertigo (noted, ini bukan nama klub di bilangan Semanggi ya!, tetapi sakit kepala). Ya ampun, pantes aja saya sampai nggak bisa ngapa-ngapain. Jadilah saya menyerah dan tidak mengkonsumsi obat itu lagi, dan berharap batuknya segera sembuh.

Senin alias kemarin, saya kembali lagi ke kantor, suara jadi seksi sekali alias hampir hilang beneran. Mulai deh, berbagai nasihat bermunculan dari teman-teman. Dari yang menyuruh saya meminum obat merek A, B, C, meminum madu dan jeruk nipis, meminum pereda panas dalam, meminum rebusan belimbing wuluh, sampai berkumur dengan air garam. Aduh, sampai jadi pusing sendiri dengernya. Sore itu, karena suara saya sudah tinggal sisa-sisa, saya sms konduktor choir saya supaya bisa off dari latihan. Tetapi dia bilang, tetap harus datang, dan coba bernyanyi dari dalam hati. Waduh, gimana caranya yah, mana bisa bernyanyi hanya di dalam hati saja. Sepulang kantor, saya sempat mengambil power nap selama 1 jam, daripada nanti tewas pas latihan nyanyi. Sampai di tempat latihan, saya sebetulnya sudah tidak niat bernyanyi. Tetapi kenapa ya, namanya orang senang menyanyi, tetep saja saya nggak tahan melihat serunya orang-orang menyanyi, dan akhirnya saya nyanyi lagi. What a big mistake! Sampai rumah, mama sudah siapkan 2 botol OBH, dan saya langsung minum 3 sendok makan. Kemudian atas petunjuk dari ayahnya teman koor saya, saya menempelkan 1 lembar koyo di leher. Malamnya saat mencoba untuk tidur, tetap saja uhuk-uhuk, dan akhirnya baru bisa tidur di atas jam 12 malam.

Pagi ini sampai ke kantor, mood untuk kerja sudah tidak ada. Satu botol OBH sudah siap di atas meja. Pagi ini sudah minum 3 sendok, siang sehabis makan minum lagi 3 sendok. Duh, padahal tinggal 3 hari lagi menuju Jumat Agung. Doakan ya, supaya suara saya pulih kembali. Lebih baik saya punya suara yang seperti sebelumnya saja tapi bisa berfungsi dengan baik, daripada punya suara seksi kayak begini, tapi leher gatal dan uhuk-uhuk melulu.

Tuesday, March 11, 2008

Perkawinan dan Lagu

Saya yakin kita semua pasti setuju kalau acara perkawinan baik ibadat maupun resepsi perkawinan itu selalu identik dengan hiburan, dan dalam hal ini sudah pasti musik merupakan bagian penting dari acara. Musik bisa membawa suasana pernikahan menjadi lebih ceria dengan lagu-lagu yang didominasi oleh kisah cinta bahagia antara dua manusia, ataupun oleh bagaimana sang mempelai saling mengagumi satu sama lain dan tak dapat terpisahkan. Musik juga bisa membawa rasa haru apalagi disaat pemberkatan ada acara sungkeman yang biasanya diiringi oleh lagu yang bertutur mengenai rasa terima kasih kita atas perjuangan kedua orangtua dalam membesarkan kita. Saya masih ingat dua tahun lalu saat saya masih bekerja di negeri seberang, ketika teman kantor saya akan menikah, dia sangat hati-hati sekali memilih lagu yang akan digunakan untuk momen bersejarahnya. Dia mengumpulkan lagu, mulai dari lagu yang romantis untuk first dance, sampai lagu yang berirama cepat untuk pesta dansanya. Dan yang penting, jangan sampai ada kata-kata yang membuat mood jadi turun atau kata-kata yang kurang baik di dalam lagu-lagunya.

Lain di negeri seberang, lain pula di Indonesia tercinta ini. Memang, untuk pasangan-pasangan yang sangat peduli dengan makna lagu, pasti mereka akan memilih dan menyusun lagu yang akan dimainkan atau dinyanyikan dengan sebaik-baiknya. Tetapi kadangkala ada juga yang tidak peduli dan menyerahkan semuanya kepada panitia, atau menganggap musik hanyalah pelengkap hura-hura saja sehingga tidak perlu dipilih lagu-lagu yang sesuai. Beberapa pengalaman lucu dan aneh mengenai musik ini akan saya bagikan di beberapa alinea di bawah.

1. Waktu itu saya masih SMU dan diminta bertugas main organ untuk misa perkawinan. Saat sungkeman, lagu yang dipilih adalah lagu oldies yang judulnya “Restumu Kunantikan”. Mungkin maksudnya baik karena menantikan restu dari orang tua. Tapi coba perhatikan lirik di refrennya yang berbunyi: “ Terkatung, gelisah, gelombang menderai, belai kasihmu tak kunjung kurasakan....” Nahloh... katanya mau minta restu dari orang tua, tapi kok jadi berat banget ya mintanya...sampai pakai gelombang menderai segala. Cuma gara-gara judulnya ”Restumu Kunantikan”, bukan berarti restu orang tua kan? Suka ngasal deh emang. Tapi namanya saya masih anak kecil yang dimintai tolong, ya sudah lah, tetep aja main organ tanpa protes. Mungkin kalau sekarang diminta main lagu itu lagi, saya mengacungkan tangan nomor satu untuk protes.

2. Tentu kita semua tau lagu ”I Will Always Love You” yang dipopulerkan kembali oleh Whitney Houston. Pasti tidak ada yang menyangkal juga kalau lagu ini lumayan sering didendangkan di pesta perkawinan, dengan penyanyinya yang bersuara besar dan bernyanyi penuh penghayatan lantaran berpikir kalau arti lagu ini adalah aku akan selalu mencintaimu. Lagi-lagi mirip dengan kisah “Restumu Kunantikan” yang hanya mematok pada judulnya saja, kalau diperhatikan lagu “I Will Always Love You” ini sebetulnya adalah lagu patah hati! Liriknya saja berbunyi “Bittersweet memories, that is all I'm taking with me. So, goodbye. Please, don't cry. We both know I'm not what you, you need.” Sebenernya ini adalah lagu cinta yang sangat-sangat menyedihkan alias si wanitanya terpaksa harus meninggalkan laki-lakinya walaupun si wanita ini cinta berat, tapi kok malah dipakai di perkawinan ya?

3. Kalau ke perkawinan orang keturunan Tionghoa yang masih agak totok, pasti tidak pernah lepas dari yang namanya lagu-lagu Teresa Teng yang sangat ngetop. Terkadang malah biasanya anggota keluarga turut menyumbang salah satu lagu Teresa Teng untuk meramaikan acara. Saya berani jamin pasti ada lagu “Ni Zhe Me Suo”. Wuah, kalau ada lagu ini, terkadang yang ibu-ibu ikutan koor bersama karena lagu ini begitu terkenalnya. Kalau ditelaah, lagu “Ni Zhe Me Suo” itu menceritakan seseorang yang meninggalkan pasangannya dan berjanji untuk kembali, tetapi tidak kembali-kembali setelah ditunggu selama 365 hari…. Kacian banget kannnn…Padahal di dalam perkawinan, kita inginnya pasangan tuh setia dan mendampingi, bukannya kabur dan nggak balik-balik.

4. Hari Sabtu kemarin, dari jam 11 pagi daerah di depan rumah saya sudah penuh dengan mobil-mobil. Kebetulan Pak RT yang lokasi rumahnya di gang di samping rumah saya lagi mengadakan hajatan besar perkawinan anak lelakinya. Jalanan di depan rumahnya ditutup, lalu ada banyak kursi-kursi dan tenda, dan tentunya juga ada panggung gembira dengan organ tunggal dan penyanyi. Pertamanya sih saya nyaman-nyaman saja karena dimulai dengan lagu dangdut yang asik-asik seperti “Rindu”, “Memandangmu”, “Pandangan Pertama”… tapi sehabis gitu..tibalah saat-saat horor non-stop sampai jam 8.30 Malam! Lagunya mulai bergeser menjadi “Bang Toyib”, “Kucing Garong”, “SMS”, “Jablai” dan berbagai lagu-lagu baik dangdut maupun pop yang nggak ada hubungannya sama perkawinan sama sekali. Saya yang kelelahan setelah balik dari tugas kantor ke luar kota, sama sekali nggak bisa bobo siang. Dan saat saya mampir untuk memberi selamat kepada kedua mempelai, nampak banyak sekali pasangan bapak-bapak dan ibu-ibu yang kalau dilihat dari umurnya sih sudah bisa dikategorikan sebagai kakek nenek, tapi tetap saja berjoget dengan asyik seperti habis menenggak minuman berenergy. Yah, nampaknya di acara ini, yang penting ada hiburannya, tanpa peduli apakah mempelai sebetulnya berkenan atau tidak, yang penting hampir semua tamunya enjoy-enjoy aja coy!

5. Yang terakhir ini seharusnya tidak terjadi mengingat kedua mempelai seharusnya bisa lebih jeli dalam memilih pemusik dan lagu-lagu yang akan dibawakan. Setelah dihinggapi musik organ tunggal Sabtu kemarin, hari Minggunya saya berkesempatan untuk hadir di resepsi perkawinan putra dari tetangga saya yang dilaksanakan di sebuah hotel sangat prestisius di bilangan Jakarta Selatan. Pas masuk ke ballroom, saya melihat iringan musiknya lumayan seru dengan grand piano, biola, dan cello. Saat pembukaan alias pengantin memasuki ruangan juga oke, yaitu lagu “Come What May” yang merupakan soundtrack film Moulin Rouge. Musiknya juga grand banget deh pokoknya. Tapi setelah acara potong kue, acara musik dibuka dengan lagu yang aneh yaitu: “New York! New York!” Bukannya saya nggak suka lagu itu (suka banget malah), tetapi kok sangat tidak nyambung dengan suasana perkawinan. Kemudian dilanjutkan lagi dengan ketidakselarasan selanjutnya yaitu si penyanyi wanita dengan pedenya membuka dengan sepatah dua patah kata sebelum menyanyi “Ini adalah lagu favorit saya, dan saya persembahkan untuk kedua mempelai, Dance With My Father”. Ya ampunnn… “Dance With My Father” is such a great song, but it was so inappropriate alias tidak tepat sekali, karena lagu itu menceritakan betapa seorang anak perempuan merindukan untuk berdansa dengan ayahnya, tetapi ayahnya sudah dipanggil Tuhan. Sementara kedua mempelai orang tuanya masih lengkap dan sehat wal afiat! Bahkan di lagu itu liriknya menceritakan ibunya yang menangis di hadapan yang kuasa untuk mengembalikan ayahnya. Yang lebih tidak mengenakan untuk saya adalah betapa percaya dirinya si penyanyi perempuan, kesannya dia memberikan persembahan spesial untuk kedua mempelai dengan lagu yang ngaco total! Saya sih paham, mungkin karena video klip lagu itu adalah seorang mempelai wanita yang berdansa dengan ayahnya, si penyanyi menganggapnya itu adalah lagu perkawinan yang indah. Please lah…

6. Sebenernya yang poin ini sih bukannya cerita mengenai ketidaknyambungan lagu dengan acara, melainkan betapa pentingnya untuk memilih team yang friendly dan professional untuk sebuah acara. Di perkawinan yang sama, orangtua mempelai pria sudah berpesan jauh-jauh hari (bahkan dari tahun lalu), kalau saya harus menyumbangkan lagu untuk kedua mempelai. Saat saya menghampiri MC-nya untuk menyatakan kalau saya minta waktu untuk menyumbangkan lagu, dengan pongahnya si MC yang sok artis itu bilang kalau mau sumbang lagu harus menghubungi ketua panitia. Lalu saya tanya ketua panitianya yang mana, dan dia hanya menunjuk dengan jarinya saja “Tuh yang di sana…yang pakai baju merah”, sementara si ketua panitia itu jaraknya ujung ke ujung ruangan dengan posisi panggung. Terus terang agak tidak sopan karena saya adalah tamu, sementara si MC adalah bagian dari panitia, tetapi menyuruh-nyuruh tamu. Tapi demi menghormati permintaan orang tua mempelai, saya jalan juga ke si ketua, dan si ketua mengiyakan. Lalu saya balik lagi ke si MC, dan si MC bilang, tapi nyanyinya entar ya, setelah programnya selesai. Dalam hati saya, program apaan sih? Kok pake program segala. Lalu saya bilang kalau ini permintaan khusus dari orangtua mempelai pria, tetapi tetap kata si MC-nya tunggu saja. Satu lagu telah lewat, dua lagu telah lewat, loh kok saya nggak dipanggil-panggil juga. Tamu-tamu kan kalau terlalu malam juga bisa pada pulang. Kebetulan saat itu ada acara mingle alias orang tua dan mempelai turun dari pelaminan. Nah, si maminya mempelai pria nanya, kenapa saya belum nyanyi. Ya saya bilang, kalau si MC bilang tunggu program selesai. Lalu si papanya langsung bingung dan nggak enak hati, dan dia langsung menghampiri si MC untuk memberi giliran kepada saya. Akhirnya saya dipanggil juga dengan wajah si MC yang rada berat hati (asli, baru kali ini saya mau nyumbang lagu, apalagi atas permintaan keluarga, tapi susah banget). Akhirnya saat saya naik panggung, saya menghampiri si pianisnya dan saya minta lagu ”The Power of Love”-nya Celine Dion. Dan parahnya, si pianis ternyata nggak tau itu lagu apa !! (Darn, that’s like the most popular Celine’s song). Akhirnya saya nyerah dan memilih menyanyikan lagu ”When You Tell Me That You Love Me” yang puji Tuhan berjalan dengan lancar walaupun hanya dengan iringan piano. Loh, kok hanya iringan piano? Bukannya tadi ada full band yang megah? Setelah diteliti, ternyata selain menggunakan instrument piano dan musik gesek seperti di atas, mereka menggunakan musik digital sehingga kesannya jauh lebih keren dari permainan aslinya. Malah, alat musik gesek yang di panggung itu kesannya hanya pajangan saja karena ternyata nggak gimana keluar suaranya. Pantas saja, mau nyumbang susahnya setengah mati, seperti dihalang-halangi pakai kata tunggu programnya selesai, karena kalau di luar “program” mereka ngga punya lagunya. Kenapa sih nggak bilang aja dari tadi... apa karena memang nggak ada waktu atau takut ketahuan pakai musik digital? Saya diiringi piano juga sudah senang banget. Saya justru malah ngga enak kalau tidak bisa memenuhi permintaan dari orang tua mempelai untuk nyanyi.

Yak, kok jadi curhat sih. Panjang bener ya. Tapi kan sekarang-sekarang ini saya makin jarang mengisi blog saya, jadi ngga ada salahnya yah nulis agak panjang-panjang hehehe (maksa). Mungkin sehabis baca poin-poin di atas, jadi agak sadar ya mengenai fenomena musik perkawinan di Indonesia ini. Dan buat yang masih single dan masih merencanakan perkawinan, atau punya teman yang akan nikah, mungkin bisa membantu untuk tidak terjebak pada situasi di atas. Sekali lagi, musik itu bukan sekedar hiburan, musik adalah pembawa suasana, musik adalah ungkapan hati. Jadi jangan sampai kejadian, hanya gara-gara lagu terdengar enak, lantas dimainkan begitu saja di acara pernikahan. Kayak lagunya Yovie Nuno yang ”Menjaga Hati” kan asyik banget tuh... tapi sebaiknya jangan dinyanyiin pas kawinan yah... Please dong ah...

Tuesday, March 04, 2008

Indonesian Dodol

Setelah tahun 2005 lalu saya iseng-iseng mengikuti American Idol walaupun tidak eligible (silakan lihat cerita saya di bulan September 2005), kali ini, atas bujukan teman sekantor yang manas-manasin saya (bahkan sampai berani-beraninya minta ijin langsung ke bos saya untuk memberikan saya cuti), jadilah pada hari Sabtu kemarin (supaya nggak perlu cuti), pagi-pagi buta di saat langit masih gelap (demi menghindari antrean), saya berangkat tanpa persiapan apapun ke kompleks Mega Glodok Kemayoran. Berhubung saya capek kalau nulis gimana ceritanya, saya langsung copy paste aja pembicaraan saya dan teman kantor tadi pagi di jendela computer. Selamat menikmati.

PS:( nama-nama disamarkan demi keamanan, kenyamanan, dan ketentraman bersama).

Leony: bangun tidur jam 4.30 pagi... trus 5.40 jalan...nyampe jam 6.20
Leony: antrean udah ada kayak 300 org-an kali
Leony: mungkin lebih
A: disuruh ngapain aja
Leony: ya abis ngantri di tempat parkir, pindah ke tempat parkir paling atas
Leony: trs antri buat dptin nomor
A: dimana itu?
Leony: trus dikumpulin di aula, disuruh isi story form gitu
Leony: di kemayoran
Leony: di convention hall gitu
Leony: lupa gue namanya
A: PRJ
Leony: bukan
Leony: mega glodok
Leony: abis gitu nunggu di aula itu sampe dipanggil
Leony: pas dipanggil itu kita dikelompokin dalam 1 group isi 10
Leony: abis gitu dipindahin ke ruangan laen lagi sambil nunggu giliran
Leony: abis gitu dipindahin lagi ke ruangan laen lagi nunggu lagi
Leony: abis gitu ada kayak 1 ruangan yang isinya ada banyak booth gitu
Leony: A-J kalo ngga salah
A: trus
Leony: nah tiap 1 klompok diarahin ke 1 booth
Leony: trus nunggu giliran maju satu satu
Leony: terus di booth itu ada juri 2
Leony: aneh jurinya kayak karyawan gitu... 1 pake kacamata item yg bener2 gelap..
A: ???
Leony: abis gitu disuruh nyanyi...paling kayak 20 dtk gitu
A: buta
Leony: kagak sih
Leony: abis gitu, yg pake kcmata itu bilang: yak Leony, bagus..
A: trus?
Leony: abis gitu keluar...nunggu sampe seluruh anggota kelompok gue selesai
Leony: abis gitu pindah ke ruang lain lagi
A: ???
A: banyak amat
Leony: dijadiin satu sama group2 laen.... kayak 40-50 org gitu deh..dr 5 kelompok kayaknya
Leony: abis gitu diumumin siapa yg masuk
Leony: ada 3 org yg masuk dr 50 org
A: itu jurinya pake kacamata mungkin supaya gak bisa liat kali
A: 3 orang dari 50?
Leony: tp ga jelas gitu kenapa mereka masuk
Leony: semuanya ABG
A: jadi bisa aja 1 kelompok bisa gak masuk
Leony: 1 kribo, 1 cewek dandannya mayan menor, 1 lagi kayaknya bingung kenapa dia masuk...
Leony: iya, dr kelompok gue, 1 pun ngga ada yg masuk
Leony: dr kelompok lain ada 2 yg masuk
Leony: ngga jelas pisaaaannn
A: heheheehehe
A: jadi kalo jurinya beda2 kan ga tau kriterianya sama ato nga
A: u nyanyi sambil berdiri ato ape?
Leony: ada juri yg mungkin royal atau pelit
A: ape duduk
Leony: berdiri lah
Leony: cuma kayak beberapa detik aja kok
A: kan di booth
A: booth gede gitu?
Leony: depan gue ada yg bagus banget, sampe disuruh nyanyi 2 lagu, tp kagak masup
Leony: kayak 2*2 meter kali ya
A: disuruh nyanyi 2 lagu tp gak masup
A: hehehhe
Leony: iyah
Leony: makanya kagak jelas
Leony: malah sebelah gue yg parah, nyanyi lagu J rocks
Leony: tp malah lama di dalem...ditanya2 segala2
A: gw rasa random kali
Leony: iya...either bagus banget, unik banget, ancur banget
A: gw rasa sih
A: 3 orang dari 10 kelompok sengaja di pilih yg kayak gitu
A: 1 buat bener2 diajukan
A: 1 buat iseng2an
Leony: si G aja udah 2 taon berturut2...ngga masup
A: siapa???
Leony: G (*red: ini temen kantor yang suaranya bagus banget!)
Leony: udah coba 2 kali
Leony: taon lalu dan taon ini
Leony: eh iya, by the time gue finish, sekitar jam 10.20-an... ternyata di luar, antriannya PARAH !!
Leony: untung gue bela2in dtg pagi2 bener
Leony: kl gue sampe dtg siang, bisa bisa gue tewas kali nungguin
Leony: yg ikut banyakan mbak2 sama mas2 gitu...
A: heheheh
A: ganteng2 n cantik2?
Leony: wah...yg bener aja
Leony: ngga ada tuh yang ganteng...
Leony: cantik yg nggak...
A: usaha boleh lah
A: hehehhe
Leony: nyokap gue aja bilang, gue tuh termasuk yg keren dan rapih...
Leony: pada ancur2 banget pakeannya sembarangan
Leony: maksudnya sih gaya kali..
A: u pake baju apa?
Leony: gue biasa sih
Leony: pake jeans sama cardigan, pake anting
Leony: rapih lah
A: gimana perasaaan u ketika u gak lulus?
Leony: biasa aje
Leony: nggak kecewa sih...dan ngga kepengen nyoba lagi juga
Leony: gue jg kmaren ditantangin E kok peginya (*red: E itu temen yg kmaren nantangin audisi)
Leony: mungkin gue termasuk org yg santai banget kali kagak masuk
Leony: org org laen pada nanya2, hari senin pada penasaran mau coba lagi
Leony: gile..gue sih ogah dah
A: hehehehe
Leony: lagian gue tau kok, kalo gue masuk, nyokap jg ngga gimana setuju
A: iya
A: tar u cape2in aj
Leony: nyokap ngerasa karir gue jauh lebih bagus drpd gue ikut idol2an ngga jelas itu
Leony: dan di idol itu, semuanya musti ada storynya
Leony: yang menang biasanya yg ada kisah2 sedih di belakangnya
A: maksudnya?
A: masa sih??
A: emang u ditanyain?
Leony: iya
A: asal usul?
Leony: disuruh isi story form
Leony: hal paling menyedihkan
Leony: hal paling menarik
Leony: bla bla bla
Leony: pusing gue
A: lo napa gak isi aja
A: bilang dulu ikut perang di irak
Leony: makanya, bisa aja nyanyi elu biasa2 aja, tp storynya menarik dan mengundang simpati
A: hweheheheheh
A: hmm
A: bener sih
A: kalo idol2 itu
Leony: makanya, gue bilang agak2 ngga fair sih
A: emang semuanya orang sedih2?
Leony: ngga tau jg sih org org pada isi apa
A: btw
A: yg menang indo dol itu
A: punya kisah sedih2?
Leony: dulu sih D itu bilangnya kalo menang buat ngobatin penyakit jantung ibunya
Leony: trus si M, udah ngga punya ayah dr umur belasan taon
Leony: trus si S *yg dulu masuk 5 besar*, ditinggalin suami
Leony: pokoknya yg cerita2nya gitu gitu lah
Leony: trus si I, bapaknya tukang becak
Leony: si I tuh bisa jadi juara...nyanyi aja fals--> bingung
Leony: udah ah.... mo ke wece dulu...

Selamat untuk seluruh peserta yang masuk ke babak selanjutnya. Moga-moga Idol-idol di masa datang mempunyai kualitas yang baik sehingga karirnya panjang di dunia hiburan Indonesia. Kalau saya, saya mau bobo aja deh... masih ngantuk sisa sisa kurang tidur kemarin. Wah, jadi penasaran nih, kayak apa kualitas peserta-peserta yang lolos taun ini. Meanwhile, nonton American Idol aja ah...