Wednesday, January 16, 2008

Menginjakkan Kaki di Tanah Suci (Bagian 3)

Nah, ini mungkin akan menjadi bagian terakhir dari kisah perjalanan saya, kan ceritanya kayak trilogy gitu loh hehehehe.... Tapi masih ada kemungkinan dilanjutkan ke bagian selanjutnya kalau ada yang ketinggalan... (jangan bingung kalo sampai ada 6 bagian kayak Star Wars).

Pyramid di Tengah Kota. Pagi itu perjalanan akan dibuka dengan mengunjungi Pyramid di Giza. Wah, saya sudah membayangkan serunya perjalanan di tengah gurun pasir untuk mencapai Pyramid dan Sphynx yang terkenal itu. Sebagai penggemar serial cerita Asterix, saya masih ingat saat Asterix dan Obelix bertemu dengan Cleopatra di Mesir, dan konon kalau menurut komik itu, hidung Sphynx yang copot adalah akibat diduduki oleh si gendut Obelix yang dengan bandelnya memanjat ke atas Sphynx. Pastilah perjalanannya akan panjang karena saya percaya Pyramid itu pasti jauh dari kota. Tetapi, baru saya masuk ke dalam bus, tiba-tiba beberapa menit kemudian, nampaklah puncak-puncak pyramid itu dalam jarak dekat. Ya, saudara-saudari, ternyata pyramid itu letaknya hanya di balik gedung-gedung! Padahal saya sudah membayangkan, kalau saya akan bertualang naik onta untuk mengelilingi Pyramid. Dan ternyata, Pyramid Giza itu terdiri dari 3 Pyramid, dengan 1 Sphynx sebagai penjaga kuburan. Satu pyramid itu terdiri dari jutaan batu yang bongkahannya minta ampun gedenya. Gimana cara ngangkut ke atasnya ya? Tapi fact yang menyenangkan adalah, Sphynx itu hidungnya betul-betul hilang hehehe (walaupun kata guidenya hal itu terjadi akibat kelakuan Napolen Bonaparte, bukannya si Obelix).

Bertemu Joe Richard di Sungai Nil. Saking banyaknya penduduk Indonesia, sampai ke Mesir pun tetep aja ketemu sama yang namanya orang Indonesia. Tentunya yang di Indonesia sini lumayan tau dong yang namanya Joe Richard, si pembawa acara KISS di Indosiar, dan pembawa acara Playboy Kabel di SCTV. Malam itu saya dan rombongan ikutan Dinner Cruise di Sungai Nil. Tadinya saya nggak gitu yakin kalau dia itu benar-benar Joe Richard. Ya namanya mirip artis kan bisa aja gitu loh. Tetapi setelah saya melihat ada satu orang lagi membawa kamera televisi, yakinlah saya kalau orang ini memang Joe Richard. Namanya ketemu artis, ya biasa-biasa aja lah, gitu-gitu aja. Tapi yang ternyata ngebet untuk mendekati adalah Mama saya. Setelah makan malam, saya dan mama iseng jalan-jalan ke atas deck, eh ternyata si Joe itu ada di situ lagi haha hihi kedinginan sama rombongan anak muda. Pas mama saya mendekati untuk ngajak foto bareng, eh dia langsung bersedia. Jadilah saya fotoin Mama dan si Joe itu. Eh abis gitu, malah si Joenya nawarin diri: “Kamu mo foto bareng juga ngga ? Sekalian aja...kan jarang- jarang.” Dalam hati saya, “Nah loh...kok ini artis malah nawar-nawarin diri.” Tapi nggak apa-apa lah, lumayan buat koleksi heheheh, jadi saya foto juga deh sama dia. Ternyata dia emang ramah banget ya, dan di sana posisinya sama aja kayak kita-kita. Kan orang Mesir kagak kenal sama Playboy Kabel, jadi si Joe nyantai-nyantai aja bejingkrakan di deck kapal. Dan ternyata, nggak cuma di situ aja kita ketemu. Ternyata kita satu hotel pas di St. Catherine, dinner bareng juga di situ, dan sama-sama ngedaki Gunung Sinai walaupun beda rombongan. Sehabis itu perjalanan dilanjutkan menuju Israel dan kita tidak bertemu lagi, kira-kira bisa nggak ya kita ketemu lagi?

Indiana Jones beraksi di Petra. Petra adalah salah satu tujuan terakhir perjalanan kita. Petra itu letaknya di negara Jordan (atau orang Indonesia menyebutnya Yordania).Setelah dari Mesir, kemudian menuju Israel, dilanjutkan ke Yordania. Mungkin kalau saya sebut kata Petra, beberapa orang di Jakarta taunya itu adalah nama toko mainan anak-anak yang lokasinya di Mal Kelapa Gading. Saya sendiri saja nggak tau loh Petra itu apa sebelum saya membaca itinerary. Petra ini juga termasuk 7 keajaiban dunia yang diakui UNESCO. (Borobudur katanya udah ngga masuk lagi). Pagi itu saya memakai sepatu boots selutut dengan sedikit hak, karena saya pikir medan tempurnya tidak terlalu parah. Tetapi siang itu, dalam perjalanan menuju Petra, tourguide saya bilang:”Menik (itu panggilan khusus dari dia buat saya), yakin mau pake sepatu itu ? Nanti jalanannya berpasir loh.” Tapi namanya kita di tengah perjalanan, dan koper-koper ada di dalam bagasi bus, saya cuma bisa bilang, “Waduh, berpasir ya, tapi kan udah ngga bisa diganti lagi, ya sudah lah.” Sampai di sana, ternyata memang benar, jalanannya agak jauh ke dalam, dan isinya pasir, batu, plus yang paling parah adalah, banyak ranjau darat dimana-mana alias kotoran kuda, keledai, dan unta. Tapi, namanya kita sudah bertekad penuh dan kapan lagi coba, bisa menjelajah sampai ke sana? Jadilah, saya berangkat menuju lokasi gerbang yang dipahat di batu karang yang katanya legendaris, dengan berjalan melalui rintangan sepanjang kira-kira 1.5 – 2 kilometer. Sepanjang perjalanan itu, kita melewati tebing yang terbelah dua, sehingga terciptalah lorong untuk kita menuju ke gerbang. Ternyata memang benar, medannya berat, tetapi rupanya saya masih bisa sampai dengan selamat, malah cenderung cepat sampai. (Mungkin saya harus berterimakasih kepada profesi saya sebelumnya yang agak membuat saya ahli berjalan dengan sepatu hak tinggi). Setelah melihat gerbang Petra itu, teringatlah saya, pada satu film yang sangat terkenal yaitu: “Indiana Jones and the Last Crusade”. Yak, yak, inilah lokasi yang sama persis dimana film itu dibuat. Dan saya yang hari itu datang dengan sepatu boot untuk menaklukan jalanan berpasir (sampai boot saya warnanya berubah jadi coklat semua), merasa seperti Indiana Jones yang baru saja berhasil menemukan the Holy Grail.

Extra: Dalam perjalanan kembali dari gerbang Petra menuju ke bus, saya bertemu lagi dengan seorang anak muda Indonesia yang sedang berlari-larian menuju ke arah dalam sambil tertawa-tawa lantaran langit sudan mau gelap, sementara orang tersebut sepertinya sedang mengejar untuk berfoto di gerbang Petra...siapa lagi kalau bukan: Joe Richard...

Yak, demikianlah catatan perjalanan saya. Kalau diteruskan, bisa-bisa saya nggak nulis hal-hal baru yang terjadi taun 2008 ini. Akhirnya, pas pergantian tahun baru tahun ini, saya beneran bisa ada di Sudirman pas jam 12 malam. (Norak ya... tapi emang sih, udah lama banget ngga ngerasain yang namanya seseruan di jalanan). Moga-moga tahun ini lebih baik dari tahun kemarin, dan tempe tahu bisa balik lagi jadi makanan rakyat.

Wednesday, January 09, 2008

Menginjakan Kaki di Tanah Suci (Bagian 2)

Nah, saya lanjutkan lagi ya cerita perjalanannya. Ngomong-ngomong, ingin kasih tau aja nih, kalau cerita-cerita yang saya tulis itu nggak urutan. Jadi kebetulan yang melintas di kepala aja langsung saya tulis hehehe.

Malam Natal di Padang Gembala. Merayakan malam Natal di Bethlehem adalah impian kecil dari saya dan Mama. Tadinya kami berpikir kalau kami akan merayakan Misa besar di Gereja Nativity, yaitu gereja titik kelahiran Yesus. Tetapi guide kita rupanya mempunyai rencana berbeda, karena ternyata Gereja Nativity akan dipadati oleh 15-20 ribu orang, dan misa akan dilaksanakan dalam bahasa Arab. Sebagai alternatif, dipilihlah misa pribadi berlokasi di Shepherds’ Field Church atau Gereja Padang Gembala, yaitu lokasi di mana para gembala menerima kabar gembira dari malaikat mengenai kelahiran sang Juru Selamat. Saat kita tiba di sana, ternyata sudah ada ribuan orang dari berbagai bangsa menunggu giliran untuk melakukan misa. Misa dilakukan sendiri-sendiri per rombongan di beberapa spots yang disediakan. Tadinya dijanjikan misa kita akan mulai pukul 8 malam, tetapi ternyata rombongan lain sudah menyodok rombongan kita, sehingga kita harus menunggu lagi di tengah cuaca yang dingin menusuk tulang. Sampai akhirnya sekitar jam 10 malam, guide kita mengatakan kalau kita mendapat tempat misa di gua yang hangat dan diterangi cahaya lampu. Tetapi saat kita menuju ke gua, terjadilah masalah, karena ternyata ada rombongan lain yang pastornya kenal dengan pastor setempat, sehingga tempat ternyaman yaitu gua yang hangat terpaksa harus diserahkan ke beliau. Akhirnya setelah menunggu sekian lama, hampir pukul 11 malam, kita memulai misa, di bagian paling terbuka di padang, tanpa atap, tanpa lampu, diterangi oleh lilin (yang mati-mati cahayanya karena tertiup angin dingin) dan cahaya bintang. Sang Pastor sampai menggunakan sarung tangan dan kupluk karena dingin luar biasa. Namun pada saat liturgi ekaristi, semuanya harus dia tanggalkan untuk memegang tubuh dan darah Kristus. Saat itu, saya merasa inilah misa terindah yang pernah saya jalani. Di mana kita bisa merasakan, rasa dingin yang juga dirasakan oleh Yusuf dan Maria pada saat mereka melakukan perjalanan, ditolak oleh rumah-rumah penginapan, dan harus melahirkan Yesus di kandang domba. Saat selesai misa, kita merasakan kehangatan yang luar biasa, semua orang berpelukan dan mengucapkan Merry Christmas. Hidung berair, kuping yang beku, sudah tidak terasa lagi. What an experience!

Merah Putih Berkibar di Danau Galilea. Danau Galilea atau orang sana menyebutnya Sea of Galilee (padahal danau loh, bukan laut), adalah tempat dimana Yesus pernah menjinakkan angin topan dan berjalan di atas air. Beberapa menit setelah rombongan masuk ke dalam perahu kayu dan perahu mulai berlayar, tiba-tiba kami melihat asisten nahkodanya mendekati tiang yang mempunyai 2 tali. Di salah satu tali sudah berkibar bendera Israel, dan ternyata nahkodanya memegang bendera Indonesia dan mulai memasang bendera tersebut. Jadilah kita yang orang Indonesia ini, melihat ada merah putih, langsung ambil posisi dan siap-siap menyanyikan lagu Indonesia Raya. Baru kita menyanyi sedikit, ternyata di speaker kapal tedengarlah instrumental lagu kebangsaan kita tercinta, dan semua berdiri memandang sang saka merah putih berkibar di Danau Galilea sambil menyanyikan Indonesia Raya dengan penuh semangat. Dan saat itu saya mempunyai secercah harapan, supaya hubungan politik antara Indonesia dan Israel bisa berlanjut kembali, sama seperti dua bendera yang berkibar berdampingan di tiang kapal pagi itu.

Sound System Alami di Gereja St. Anna. Gereja St. Anna adalah gereja tempat kelahiran dari Bunda Maria. Saat tiba di sana, tour guide saya bilang, kalau sebaiknya saya siapkan satu lagu untuk dinyanyikan di dalam gereja, dan dia mintanya saya menyanyi solo. Ada apakah gerangan? Saat saya maju ke depan, saya memilih menyanyikan lagu You Raise Me Up. Sang guide mengiringi dengan petikan gitarnya. Begitu saya membuka mulut, tanpa power yang terlalu besar, ternyata suara saya sudah bisa memenuhi ruangan. Nggak usah pakai sound system lengkap tetapi efeknya mirip dengan speaker dolby surround sound. Sehabus nyanyi di situ, rasanya seperti habis konser tunggal loh! Walaupun hanya untuk menghibur serombongan aja, tetep brasanya keren oi.

Menyanyi di Gereja Kana. Kana adalah kota tempat Yesus melakukan mukjijat pertamanya mengubah enam tempayan air menjadi anggur terbaik. Yesus melakukan itu pada saat acara perkawinan, dan karena itulah, maka diadakan misa pembaharuan janji perkawinan bagi para pasangan. Kali ini pembaharuan janji dilakukan oleh empat pasangan dari rombongan kita. Mulai dari yang paling senior dan sudah menikah 40 tahunan, sampai pengantin baru yang menikah 10 bulan lalu. Saya diminta mempersiapkan lagu-lagu untuk misa perkawinan itu, dan karena tidak ada anggota koor, umumnya saya menyanyikan semua lagu-lagunya sendirian mulai dari lagu pembukaan sampai penutup: The Wedding, Kasih, Berkatilah, Tulang Rusuk, Devoted To You, dan You Raise Me Up. Perasaan bahagia bercampur haru meliputi hati saya saat mengiringi prosesi misa tersebut, karena teringat seandainya Papa masih hidup, tentu saja Papa dan Mama akan melakukan pembaharuan itu juga. Tetapi saya teringat lagi kalau janji itu tidak perlu diulang karena Papa dan Mama sudah betul-betul melakukan janji perkawinan itu, yaitu mereka setia satu sama lain, dalam untung dan malang, sampai maut memisahkan.

Masih ada cerita-cerita lainnya yang menarik juga, tapi dilanjutin di posting berikutnya yah....

Thursday, January 03, 2008

Menginjakkan Kaki di Tanah Suci

Liburan Natal kali ini, saya mendapatkan kesempatan yang luar biasa untuk memiliki dua hal penting yaitu waktu dan kesehatan, untuk melakukan perjalanan ziarah wisata ke Tanah Suci. Buat orang Kristiani, perjalanan ke Tanah Suci ibarat melakukan naik haji bagi Muslim. Bedanya adalah tentu saja lokasinya dan kadar kewajibannya. Jika di agama Islam naik haji masuk ke dalam rukun islam ke lima, bagi umat Kristiani tidak ada kewajiban bagi kita untuk ke sana. Tetapi, tetap saja, yang namanya perjalanan napak tilas, pasti bisa ada penghalangnya kalau Tuhan tidak mengijinkan kita untuk melakukannya. Sebetulnya sudah lama tercetus ide untuk melakukan perjalanan ini, lebih tepatnya dari sejak saya masih bekerja di Amerika. Saat itu saya memang punya keinginan untuk mengajak Mama melakukan perjalanan ini di tahun 2007. Saya pikir perjalanan ini tidak akan terlaksana, karena di awal tahun 2007 lalu saya sudah pindah kerja di Jakarta, dan situasi berubah. Tetapi kesempatan itu memang ada kalau kita mencarinya. Dengan modal hutang cuti, jadilah pada tanggal 20 Desember 2007, saya dan mama memulai petualangan iman ini dengan berangkat dari Bandara Soekarno Hatta menuju Cairo.

Saya tidak akan menceritakan terlalu detail seperti apa perjalanan saya di sana, tetapi ada beberapa momen-momen menarik yang akan saya tuliskan di sini.

Kerusakan kamera. Saat transit di Dubai International Airport, saya masih sempat mengambil foto mama dengan patung Santa Claus. Setelah tiba di Cairo, kita juga masih sempat foto-foto di airportnya. Tapi begitu sampai di tujuan ziarah pertama yaitu Gereja Gantung, kamera saya mati total. Saya panik karena itulah satu-satunya kamera saku saya, dan tidak mungkin bisa mencari mall untuk membeli kamera digital baru. Tempat paling pas untuk membeli elektronik itu ada di Dubai Airport, tetapi tadi pas di Dubai, segalanya baik-baik saja. Saat di sana, saya jadi tidak bisa konsentrasi, karena terus mengutak atik kamera. Akibatnya sama saja, tetap rusak, layarnya tidak bisa menyala. Saya kesal luar biasa, dan mamapun kesal karena saya mengeluh terus mengenai kamera. Saya sebetulnya masih punya kamera cadangan yaitu kamera handycam, dan akhirnya saya menggunakan kamera dari handycam tersebut walaupun hasilnya tidak setajam kamera saku. Saya berusaha menenangkan diri. Kerusakan itu bukan merupakan akhir dunia, dan saya masih ada kamera cadangan. Hari selanjutnya, kamera saku itu saya masukkan ke dalam koper besar dan tidak saya utak utik lagi. Saya betul-betul sudah lupa soal kerusakan itu, dan malah saya lebih bisa konsentrasi dalam ibadah. Yang lebih aneh lagi, sepulangnya saya ke Jakarta, saya tes lagi kamera itu untuk dinyalakan, dan ajaibnya kamera menyala dengan sempurna. Saat itu saya merasa diingatkan Tuhan, untuk lebih sabar dan tidak kesal pada hal-hal sepele.

Merinding di Gunung Sinai. Saat guide kita menanyakan siapa saja yang mau mendaki Gunung Sinai, saya dan mama langsung mengiyakan. Dari 26 orang anggota rombongan, hanya 7 orang saja yang akhirnya memutuskan untuk melakukan pendakian karena cuaca dingin luar biasa dan medannya memang berat. Mama sebagai peserta tertua dari rombongan, sempat ditanya berkali-kali apakah masih yakin atas keputusannya. Pukul 12 malam kita dibangunkan, dan pukul 1 pagi kita sudah tiba di kaki gunung. Sebagian perjalanan menuju puncak dilakukan dengan menaiki unta. Naik unta ternyata pegal juga karena posisi kaki yang menggantung dan punggung yang tertekan oleh pelana. Perjalanan begitu luar biasa indah karena cahaya bulan purnama dan bintang menerangi bukit2 di sekitar kita. Kami juga sempat melihat bintang jatuh sebanyak 2 kali. 2 jam kemudian, kita sampai di pemberhentian unta, cuaca dingin mulai menusuk. Namun perjalanan belum selesai, kita masih harus mendaki lagi lebih dari 700 anak tangga yang terbuat dari batu-batu terjal. Napas Mama mulai tersengal. Untunglah ada seorang guide lokal bernama Abdu yang membantu untuk Mama naik ke atas. Mama terus menyebut nama Tuhan, dan akhirnya tibalah kita di pemberhentian terakhir sebelum menuju puncak. Saat itu suhu sudah mencapai angka minus, tetapi group kita yang 7 orang tadi tetap semangat. Malah kita mulai mendendangkan lagu-lagu aneh, seperti Kopi Dangdut, I’m Sorry Goodbye, 11 Januari, dan lain-lain, yang membuat group lain dari Indonesia yang kebetulan ada di situ terbengong-bengong dengan sukses. Perjalanan kembali dilanjutkan, dan saat tiba di puncak itu, cuaca dingin menusuk tulang. Hidung kita seperti mau copot dan berair tiada henti. Kita duduk menunggu, sampai akhirnya matahari mulai menampakkan sinarnya secara perlahan. Orang-orang dari berbagai bangsa dan agama mulai berdatangan, dan menyanyikan puji-pujian. Mama saya yang tadinya sudah kehabisan napas, ternyata bisa tersenyum dan kondisinya baik. Saat itu suhu yang tercatat sekitar -6 Celcius, tapi yang kami rasakan adalah kehangatan dari dalam hati. Perjalanan turun ke bawah dilakukan dengan berjalan kaki (sambil menghindari kotoran unta) selama 2.5 jam. Saat melihat Mama, saya sadar, kalau kita berniat penuh dan percaya akan kehendak Tuhan, kita pasti bisa melakukan apapun.

Menangis di Taman Getshemane dan Bukit Golgota. Saat mau melakukan perjalanan ke Tanah Suci, saya tidak mempunyai ekspektasi apapun mengenai pengalaman iman seperti apa yang akan saya peroleh di sana. Dalam pikiran saya hanya ada terpikir kalau saya akan senang karena menemukan tempat-tempat baru. Tapi ternyata yang saya dapatkan jauh dari itu. Ketika berada di Taman Getshemane, tempat dimana Yesus berdoa ke Bapa untuk yang terakhir kalinya sebelum ditangkap, saya tersentak mengingat Yesus begitu bersedih, karena dia harus menanggung dosa-dosa saya. Dan ketika saatnya tiba untuk saya menyentuh batu tempat dimana Yesus merintih pada Bapa, tiba-tiba air mata ini bercucuran, menyadari betapa rendahnya saya, dan betapa banyak sekali kesalahan-kesalahan yang saya lakukan selama ini terutama kepada orang-orang yang saya klaim kalau saya mencintai mereka. Tidak ada yang memaksa saya untuk menangis, dan tidak ada yang berusaha menciptakan suasana sedih, tetapi hati ini begitu rontok dengan sendirinya. Saat tiba di gereja Bukit Golgota dan mengantre di depan makam Yesus yang kosong, perasaan rendah itu kembali muncul. Kita hanya diberi kesempatan 1 menit saya untuk berdoa. Saya yang tadinya sudah berpikiran meminta macam-macam dari Tuhan, akhirnya hanya bisa nangis dan hanya bisa mohon ampun. Saya seperti dibawa ke peristiwa ribuan Tahun lalu, di mana Yesus mengalami penderitaan fisik dan mental karena kecintaannya kepada Bapanya, dan karena kecintaannya terhadap manusia. Saat misa di Gereja Golgota, pastor pun tidak kuasa membendung airmatanya, karena dia mengingat, kalau kasih itu mengalahkan segalanya, bahkan karena kasih itu, Yesus rela memberikan nyawanya.

Momen-momen indah lainnya akan saya ceritakan di entry berikutnya, karena entry yang ini sudah panjang minta ampun. Jadi sabar-sabar dulu ya. I’ll be back.