Friday, September 05, 2008

Ketika Yang Direncanakan Itu Berantakan Namun Berakhir Manis

Manusia boleh punya rencana, tapi Tuhanlah yang menentukan. Pepatah itu sungguh terjadi hari Minggu, 31 Agustus 2008.

Hari Minggu itu, adalah hari yang sangat dinantikan oleh teman-teman The Choir Immortal (bukan Immoral loh) alias TCI karena salah satu anggota kami akan melaksanakan Sakramen Pernikahan. Hari itu kami direkrut khusus untuk bernyanyi di acara pernikahan S&S, pasangan yang berbahagia. Sang mempelai pria adalah anggota TCI pemilik suara bass, dengan kelakuannya yang konyol selalu membuat kita tertawa nggak jelas di setiap saat kita bertugas maupun latihan. Walaupun suka becanda, tapi si S ini menggarap pernikahannya dengan sangat serius. Bahkan saat kita melihat undangannya, kita cukup tercengang karena ternyata idenya cukup kreatif, yaitu berupa sebuah album foto mini, yang di dalamnya bisa diganti-ganti kertas informasi undangannya dengan foto-foto kita. Belum lagi, acara pernikahannya itu, resepsinya akan diadakan di Zerah Golf Course Senayan, dengan konsep outdoor. Di undangannya pun dipesan, kalau sebaiknya yang perempuan tidak memakai sepatu ber-hak. Berarti acaranya akan menjadi pesta yang santai dan menyenangkan.

Paginya, sakramen pernikahan berjalan khidmat dan lancar, di gereja St. Ignatius, Menteng. S yang biasanya cekakak cekikik (bahkan saat dress rehearsal), hari itu bisa juga serius dalam mengucapkan janji setia. Suasana haru juga terjadi, di saat acara sungkeman, dimana kedua mempelai berpelukan lama dengan kedua orang tua. Hujan di luar menambah suasana romantis di dalam gereja, ditambah lagi bunga-bunga bernuansa putih yang begitu indah, membuat acara hari itu berlangsung syahdu. TCI juga bernyanyi dengan semangat, sampai mendapatkan round of applause dari umat. Bahkan romonya sampai bertanya via microphone: "Ini koornya dari mana ya ?" Lalu kita serentak jawab, "Dari Theresia, Romo..." Dan romonya tanpa basa basi langsung bilang,"Pantesan bagus.." Langsung deh kita tertawa...


Sejak siang itu, hujan tidak berhenti, walaupun hanya rintik-rintik saja. Makin sore, hujan semakin deras. Saat itu sudah ada perasaan ketar ketir dalam hati, apakah acara masih akan berlangsung. Sepanjang perjalanan menuju ke sana, saya sudah mulai merasa kurang enak. Ketika itu, syaa menelepon teman saya, dan dia berkata kalau pesta pindah indoor. Setelah mencari tempat parkir (yang susahnya setengah mati), akhirnya tiba juga di tempat pesta. Keadaan ternyata lumayan kacau balau. Suasana padat luar biasa. Orang mengantre makanan, sementara tempat makanan kosong, karena perpindahan dari tempat outdoor ke indoor agak terhambat. Orang-orang yang kelaparan panik semua. Piring dan sendok tidak tersedia, sehingga para undangan menjadi semakin resah. Intinya, begitu ada makanan masuk, langsung diserbu tanpa memikirkan kalau memakai sendok sendiri.

Cukup sudah cerita tentang keadaan yang lumayan parah. Yang paling menyedihkan adalah keadaan pasangan pengantin yang tidak punya pelaminan. Mereka beserta keluarga hanya ada di panggung kecil, tanpa hiasan bunga-bunga. Tidak ada musik mengalun, tidak ada sound system menyala sehingga MC pun tidak dapan melaksanakan tugasnya. Anggota TCI yang sudah berdandan cantik dan ganteng, tadinya ingin menyumbangkan suara, tapi hati kami semua menjadi agak down. Kami saja yang cuma jadi teman kedua mempelai sampai stress begitu apalagi perasaan kedua mempelai.

Akhirnya beberapa menit kemudian, mengalunlah lagu We Could Be in Love milik Lea Salonga dan Brad Kane. Rupanya sound system sedang di test, menggunakan dua speaker seadanya. Anehnya, lagu tersebut berulang lagi dan berulang lagi, sampai kita terbosan-bosan. Beberapa saat kemudian, dibukalah acara oleh MC yang dibuka dengan kata sambutan dari sang mempelai pria. Sang mempelai tidak bisa banyak berkata. Matanya mulai berkaca-kaca. "Kita mungkin tidak bisa memberikan yang terbaik untuk bapak ibu sekalian, tetapi kami berharap, anda bisa berbahagia bersama kami." Itulah kata-kata yang saya ingat... rasanya haru sekali saat itu.
Acara dilanjutkan dengan pemotongan kue yang dilakukan secara express. Asli express sekali, karena mungkin agak terburu-buru karena acara dimulai mundur sekitar 1 jam. Saya dan teman-teman TCI berusaha bertepuk tangan secara luar biasa meriah untuk memeriahkan suasana.

Setelah itu acara garing lagi deh. We Could Be in Love-nya diulang lagi diulang lagi... sampai akhirnya anggota-anggota TCI saling berbisik untuk maju ke depan dan mencoba untuk menyanyi. Nggak tau kenapa, secara spontan akhirnya kita maju ke depan, dan mulai menyanyi mengikuti lagu..." Anyone who's seen us, knows what's going on between us... it doesn't take a genius, to read between the lineee...." Dan mengalirlah lagu tersebut, dengan iringan musik latar lagu asli, kami berteriak-teriak penuh irama tanpa ragu dan malu. Di akhir lagu, si MC mengatakan: "Demikianlah persembahan dari teman-teman the Choir Immortal !" Loh loh mas.... ini belum Mas... ini baru pemanasan aja Mas.... lagunya belum mulaiiii....

Beberapa detik kemudian, keluarlah senjata kami, partitur-partitur lengkap dikeluarkan. Dan mulailah kita ambil suara.. la la la... dengan modal dua microphone, mengalirlah lagu yang memang sudah kita persiapkan: Seasons of Love dari broadway show Rent. "Five hundred twenty five thousand three hundred minutes...." Kami, para anggota The Choir Immortal, dengan semangat luar biasa, dengan semangat untuk membahagiakan kawan seperjuangan kami yang sedang di pelaminan. Tidak tahu kenapa, karena perasaan haru ataukah perasaan gembira, kami bernyanyi begitu lepas, seperti tidak ada beban sama sekali. Padahal tamu-tamu begitu padat, hampir tidak ada ruang gerak untuk kami bernyanyi. Setelah nyanyi selesai, terdengar tepuk tangan bergemuruh dari para undangan. Kamipun berteriak gembira.... sudah kayak abis konser tunggal saja rasanya.

Berita gembira lainnya malam itu adalah, I was the one who got the bouquet ! Ya, benernya bukan bouquet tossing sih, tetapi tempat CD. Jadi ada puluhan tempat CD berbentuk boneka yang dilemparkan oleh kedua mempelai. Yang di dalamnya terdapat 1 keping CD, adalah yang beruntung, dan yang beruntung itu adalah saya. Saya mendapatkan 1 set CD player dari kedua mempelai... senang sekali! Moga-moga, beneran segera dapat jodoh juga ya...

Walaupun sempat kacau balau, walaupun sempat membuat stress, walaupun banyak rintangan, hari itu adalah one of the most memorable wedding days that I've ever experienced. I said to the groom: just like a marriage itself, we might never know what is the meaning of the huge storm, but what we know for sure is, after the storm, there will always be a beautiful rainbow. Saaah.....

Congratulations, Buddy!

5 comments:

  1. choir immortal ini kan yang biasa nyanyi di misa jam 11 di theresia kan? ya gak sih? soalnya namanya familiar bener.

    gua gak tau kalo lu anggota juga. hehe. padahal waktu di jkt kan gua biasa selalu misa nya yang minggu jam 11 itu (kalo yang sabtu jam 4 gak keburu, dan banyakan gak keburunya. haha).

    yah emang ya manusia berencana, Tuhan menentukan. tapi emang mau pesta outdoor di jakarta itu gak cocok banget kok ya. gua juga udah sering denger cerita yang begini. kasian pengantinnya....

    yang penting moga2 marriage life nya lancar2 aja... :)

    eh iya dan moga2 lu juga cepet ketularan ya.. hehee

    ReplyDelete
  2. tuh khan..ada yg kawin lagi hehehheh

    laen kali kalo pesta outdoor, pake pawang hujan, jeng hihihihi

    ReplyDelete
  3. ampe merinding bacanya...jadi kebayang gimana perasaan mempelai yang tentu aja mengharapkan hari mereka yang terindah, tapi koq ya ada cobaan...
    Siiip, lagu2nya spontan n keluar dari hati...keep a good work!

    Undangannya ya Non..;) hehehehe...

    ReplyDelete
  4. wah bener2 inspiring experience yah neng...

    jadi makin sadar skrg klo cuaca di jakarta bener2 ga bs ditebak...apalagi bikin outdoor party di bulan musim ujan kayak gini..

    asik dapet bunga, eh CD :p kapan nyusul?

    btw boleh jg niy klo merit nanti minta tolong leony nyanyi :D

    ReplyDelete