Wednesday, August 13, 2008

Kalau Anak Muda Membuat Naskah Pidato Ibu-Ibu

Hari Senin yang lalu, tante saya tiba-tiba menelepon untuk meminta tolong sesuatu. Dari nada bicaranya, lumayan serius. Ternyata, dalam rangka menyambut HUT RI ke 63, Wanita Katolik Republik Indonesia Cabang Paroki St. Antonius menyelenggarakan lomba pidato, dan tante saya sebagai perwakilan dari Ranting Cawang, meminta tolong saya membuat naskah pidatonya! Nah loh! Jadi tante saya bercerita, kalau pidatonya ini akan dibacakan oleh Tante E yang berusia 40-an dan penonton serta juri lombanya semuanya adalah ibu-ibu. Oh nooooooooooooooooooo !!! Bagaimana mungkin saya bisa membuat pidato untuk ibu-ibu dan menempatkan diri saya sebagai ibu-ibu ? Terorejingg... jadi saya harus menuakan diri dulu nih....(bergerak memasuki mesin time travel.... eng ing eng...).

Hari Selasa pagi alias kemarin, tante saya mengirimkan tata cara lomba pidato tersebut, termasuk bagaimana cara menyusun naskahnya. Begitu dibaca, saya langsung stress. Kalau nggak percaya, lihat aja nih di bawah.

TUJUAN
Mendorong anggota untuk memahami dan mendapatkan wawasan kebangsaan dan nilai-nilai sejarah perjuangan bangsa

TEMA
Mengisi Kemerdekaan RI yang mampu membangun cinta tanah air dan bangsa

TATA CARA LOMBA

Tulisan diungkapkan dalam bentuk esai
Ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar (sesuai dengan EYD)
Esai ditulis dengan menggunakan huruf Arial 11 dan spasi 1,5
Jumlah halaman esai minimal 1,5 halaman kuarto/A4
Sertakan bio data penulis (CV), foto ukuran 3 x 4, belum pernah dipublikasikan.

KRITERIA PENILAIAN
Bobot isi sesuai dengan tema
Sistematika meliputi pendahuluan, isi, penutup dan kesimpulan.
Bahasa: struktur bahasa yang dipakai dan keindahan bahasa
Relevansi tema dengan permasalahan nyata
Terdapat ide-ide untuk pemecahan masalah
Tulisan mudah dimengerti oleh berbagai pihak

Bayangkan, bagaimana saya yang boro-boro pernah mengikuti lomba mengarang, harus menulis naskah dengan tema yang begitu saklek, kaku, dan bikin boooooosan (biasanya loh, saya bosan sama yg berbau-bau patriotisme). Akhirnya, demi menghindari kestressan lebih lanjut, saya memutuskan, untuk cepat-cepat saja membuat karangan naskah pidato tersebut, daripada saya harus berlenje-lenje lebih lama lagi. Jadi, dalam hitungan beberapa jam, inilah hasil karya saya, yang saya banggakan, karena saya telah melakukan time travel dengan menggunakan teknologi tercanggih.... WOOOOSSHHHHH !!

____________________

Peran Ibu Agar Merdeka dan Cinta Negara Bukan Hanya Kiasan Semata

Ketika melihat iklan-iklan di surat kabar kalau Indonesia tahun ini sudah 63 tahun merdeka, saya bertanya-tanya dalam hati, apakah arti kemerdekaan tersebut. Ada yang bilang, merdeka itu adalah lepas dari penjajahan. 63 tahun yang lalu, kita memang terlepas dari penjajahan bangsa Jepang. Di era peperangan saat itu, saya bisa membayangkan betapa bahagianya rakyat Indonesia yang mendengar dari radio-radio saat Soekarno membacakan naskah proklamasi. Rasa bangga dan rasa cinta terhadap tanah air, sudah pasti memuncak saat itu. Sambil merenung itu, tiba-tiba saya tersentak. Waduh! Sinetron kegemaran saya sudah mulai 10 menit yang lalu. Dan saya cepat-cepat memencet tombol remote control saya sambil kesal dalam hati, kenapa saya sampai ketinggalan nonton acara tersebut. Ah, untung baru mulai (sambil saya tersenyum simpul, membayangkan aktornya yang imut-imut dan ganteng akan menghiasi layar kaca).

Saat jeda iklan berlangsung, saya perhatikan keadaan seputar rumah. Anak saya yang besar, tadi menghubungi lewat telepon genggamnya, katanya dia masih ngumpul dengan teman-teman di mal terbaru di Jakarta. Lagi ingin mencoba terjun dari lantai tujuh pakai perosotan teknologi Jerman katanya. Anak saya yang kecil, sedang asyik dengan permainan konsol di depan televisi yang saya memang sediakan untuk dia (daripada saya terganggu saat nonton sinetron). Sementara suami saya, sedang duduk di meja kerjanya, memandangi layar notebook sambil berselancar di dunia maya. Saya tersentak lagi. Kali ini bukan karena tokoh utama di sinetron yang saya tonton tercebur jurang (lalu kena amnesia), tetapi karena saya sadar, kalau selama ini justru saya belum merdeka! Cukup dengan waktu lima menit kehidupan saya hari ini, saya sadar kalau saya telah dijajah oleh sinetron, anak-anak saya dijajah oleh mal dan permainan konsol, dan suami saya lebih memilih dunia maya dibandingkan dengan menghabiskan waktu bersama saya. Dan selama ini, kita telah menganggap kejadian-kejadian tersebut adalah hal biasa dalam kehidupan sehari-hari.

Tapi apa daya, pikir saya. Apa yang bisa saya lakukan? Saya hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa kan? Tapi setelah saya pikir-pikir lagi, saya ini bukan ibu rumah tangga biasa. Saya ini adalah Superheronya keluarga! Memang saya tidak bisa disamakan dengan Superman atau Batman yang membasmi penjahat dan menyelamatkan penduduk kota, tetapi setidaknya saya tahu, kalau “keselamatan” suami dan anak-anak saya juga merupakan tanggung jawab saya. Pernahkan kita terpikir, apa jadinya keadaan rumah tangga tanpa seorang ibu yang bijak? Mungkin setiap hari, keadaan rumah kita akan menjadi seperti hotel, dimana seluruh anggota hanya numpang tidur dan makan semata. Dan bukan tidak mungkin sinetron-sinetron yang berderet mulai dari pukul lima sore sampai pukul sebelas malam itu, cepat atau lambat mengikis kebersamaan di dalam keluarga. Memikirkan soal itu, membuat kepala saya mulai cenut-cenut.
Sepertinya, sang Superhero sudah harus kembali menegakkan kebenaran!

Apakah tujuan si Superhero ini? Dia ini mempunyai tugas khusus yaitu untuk membangkitkan rasa cinta di dalam keluarga, sehingga penjajahan “asing”, bisa dikikis sedikit demi sedikit. Ada pepatah bilang, “Home is Where Your Heart Is”. Rumah adalah tempat, dimana hati kita berada. Sebagai hasil akhir, rasa cinta yang dimulai dari lingkungan kecil itu, bisa menyebar ke lingkungan sekitarnya, sehingga pada akhirnya, bangsa ini menjadi bangsa yang penuh cinta dan menjadi bangsa yang besar, seperti yang dicita-citakan oleh para proklamator kita. Hmm, kok terdengar muluk sekali ya, dan bagaimana mungkin seorang ibu bisa membuat “keajaiban” itu? Tapi tunggu dulu, siapa bilang Superheronya hanya satu orang? Sesungguhnya, ada jutaan Superhero di Indonesia tercinta ini. Dan jika seluruhnya punya tujuan yang sama, bayangkan apa yang bisa para ibu lakukan.

Seperti Superhero yang mempunyai jurus-jurus unggulan, saya juga ingin mengemukakan jurus-jurus saya. Jurus perdana yang bisa diterapkan oleh kita sebagai ibu rumah tangga adalah, jurus “Meja Makan”. Kalau orang jaman dahulu bilang, jangan bicara di saat makan, rasanya pernyataan itu bisa diabaikan. Percaya atau tidak, meja makan adalah sarana komunikasi yang paling jitu untuk mempererat hubungan keluarga. Dengan suasana yang nyaman di meja makan, seluruh anggota keluarga bisa memanfaatkan waktu makan pagi maupun makan malam untuk menceritakan kejadian sehari-hari yang dihadapi. Kadang-kadang, kita bisa saling sumbang saran, sehingga seluruh anggota merasa dilibatkan. Kuncinya adalah, masakan seorang ibu yang ngangenin! Saya masih ingat, di saat-saat saya masih remaja dulu. Masakan ibu walaupun sederhana tetapi membuat saya ingin cepat-cepat pulang ke rumah. Kebahagiaan ibu adalah bukan saat tokoh utama di sinetron itu mendapatkan cinta, tapi saat ibu melihat ayah dan anak-anaknya tersenyum menikmati masakannya.

Jurus kedua yang bisa diterapkan adalah jurus “Apresiasi”. Di dalam keluarga, penghargaan bukan hanya selalu di dalam bentuk hadiah yang wah. Setiap hal-hal kecil yang diapresiasi, pasti akan menambah kebahagaiaan dan motivasi di dalam hati orang yang menerimanya. Misalnya, ketika suami kita pulang kantor dan lelah, kita bisa mengapresiasi hasil kerja kerasnya dengan menyiapkan secangkir teh. Ketika nilai anak-anak mendapat hasil ujian yang memuaskan, orang tua bisa melayangkan pujian atau hadiah kecil. Orangtua juga bisa mengapresiasi anak jika ia menjaga ketertiban, kebersihan, dan kerapihan. Kebiasaan di rumah, pasti akan berlanjut di luar, dan anak-anak kita juga pasti bisa mengapresiasi orang-orang di sekitarnya termasuk mengapresiasi lingkungannya. Kalau lingkungan bisa diapresiasi dengan tidak membuang sampah sembarangan, tidak mencoret-coret tembok dan merusak fasilitas umum, tentu saja yang mendapatkan keuntungan adalah seluruh masyarakat. Nah, makin nyata lagi peranan ibu di dalam keluarga dalam mendukung kecintaan kita pada negara.

Jurus yang ketiga adalah jurus “Doa Bersama”. Nah, jurus ketiga inilah yang seringkali dilupakan oleh keluarga jaman sekarang. Jangankan doa bersama, doa sendiri-sendiri saja sudah terhitung jarang. Padahal ibu-ibu bisa mengajak suami dan anak-anak untuk doa bersama. Hal ini sangat penting untuk menyatukan keluarga, dan untuk mengingatkan ketergantungan kita pada sang Pencipta. Dalam doa, kita bersyukur, dan dalam doa juga kita memohon, kita saling mendoakan satu sama lain, dan mendukung anggota keluarga secara spiritual. Kedekatan kita kepada Tuhan membuat kita juga makin menghargai orang-orang di sekitar kita dan juga menghargai ciptaan Tuhan yang lainnya. Kedekatan kita kepada Tuhan juga menjauhkan kita dari perbuatan-perbuatan yang kurang berkenan. Kalau anak-anak kita dekat dengan Tuhan, niscaya mereka juga pasti menjadi anak-anak yang bertanggung jawab menjalankan tugasnya dan tidak akan merugikan orang lain. Siapa tau, jika nanti anak-anak saya bisa menjadi pejabat, negara Indonesia akan menjadi negara yang tambah maju karena pemimpin yang beriman dan anti korupsi (boleh dong saya berangan-angan).

Sebenarnya masih banyak lagi jurus-jurus unggulan yang bisa dipraktekkan. Saya yakin, setiap ibu pasti punya jurus unggulan yang bisa diaplikasikan dalam tugasnya sebagai Superhero keluarga. Contoh yang dikemukakan tadi hanya merupakan sebagian kecil dari peran seorang ibu yang kelihatannya sepele, tetapi jika bisa dilaksanakan, akan sangat berarti dalam memerdekakan diri dari penjajahan konsumerisme dan individualisme yang menimbulkan suasana kurang hangat dalam keluarga. Sedikit trivia, mengapa seorang ibu rumah tangga di dalam Bahasa Inggris sering disebut sebagai “homemaker”? “Home” yang berarti rumah dan “maker” yang berarti pembuat, kata “homemaker” menyimpulkan kalau yang membuat sebuah rumah tangga berjalan adalah seorang ibu. Dan menyambung dengan pepatah “Home is Where Your Heart is” yang saya kemukakan sebelumnya,dengan Ibu sebagai “Homemaker”, berarti seorang Ibu adalah tempat di mana hati kita berada.

Ujung-ujungnya, ibu adalah seorang dengan pengaruh terkuat di dalam pembentukan sebuah keluarga. Tidak salah kalau kita semua yang mengaku sebagai seorang Ibu yang berhasil membina keluarga dengan baik, bisa mematenkan diri sebagai Superhero. Tokoh Batman atau Superman memang bisa membasmi penjahat, tetapi para Ibu (walaupun secara tidak langsung) bisa menentukan nasib bangsa. Ya, kita semua berpotensi menjadi Superhero, bagi keluarga, dan bagi bangsa ini.

____________________

Kira-kira menang gak ya ? Ayo dukung saya... ketik LP spasi L E O N Y, kirim ke 1234. Kirim yang banyak yaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa......!! (Meniru acara Idola Cilik dongggg hihihi)

5 comments:

  1. lha bukannya harus pake bahasa indonesia sesuai EYD? kok ada bahasa inggrisnya.... :P

    ReplyDelete
  2. Arman>> Hahahah... Makanya dikasih tanda quote, dan dianggap sebagai kutipan/ pepatah aje gitu loh masss... PROTES AJA !!

    ReplyDelete
  3. Bagus...bagusss...*ala pak tino sidin*
    Beneran dulu gak pernah menang lomba mengarang?? :)

    Ada kata yg mungkin kurang sesuai EYD: ngumpul (di alinea ke-2). hehe..
    Selebihnya udah sippp *sok menilai*...bahasamu bagus Non, bhs indo yg baik tapi nggak berat.

    ReplyDelete
  4. huahahaha... kan udah merdeka, jadi boleh protes donggg... :P

    btw.. happy birthday yaaaa!!!
    wish you all the best!!! :)

    ReplyDelete
  5. jeng, ultah ya ? happy birthday yaaaaa all the best.

    merdeka !!

    ReplyDelete