Tuesday, August 05, 2008

From Bandung with Love

Judulnya memang mirip dengan judul film yang baru naik beberapa hari di bioskop, tapi langsung turun lagi (ngeledek film Indo nih hahaha...sekali2 boleh dong). Tapi, setelah kepenatan berbagai acara minggu sebelumnya (bayangkan, ada empat acara wedding dalam satu weekend yang harus saya hadiri), minggu ini saya berkesempatan untuk santai sejenak di Bandung (setelah lebih dari satu tahun nggak pernah ke Bandung - resepsinya A&D kemarin kan cuma nemplok aja, jadi gak dihitung yah).

Sabtu kemarin, pukul 6.45 pagi, saya sudah bangun dan siap-siap untuk ke Bandung. Saya dijemput teman saya si L, yang baik banget deh pokoknya. Si L ini salah satu teman baru saya yang saya kenal dari teman lagi (friend of friend istilahnya). Tapi begitu kenal, rasanya cocok banget, dan saat beberapa saat lalu dia menawarkan untuk main-main ke Bandung (alias kampung halamannya), wah, senang banget rasanya, apalagi sudah lama banget kan nggak pernah kunjungan ke sana. Pukul 7.45, si L dengan mobilnya tiba, dan petualangan kita dimulai. Pemberhentian pertama adalah untuk beli kopi di Rest Area Km 57. Pas kita lagi santai minum kopi sambil makan kue di Excelso, tiba-tiba ada bapak-bapak edan berkacamata hitam yang mendadak ngomel-ngomel sambil ngomong ke barista, "Mbak! Ini lagu tolong diganti jadi smoky jazz! Lagu yang sekarang nggak cocok !" Waduh, saya dan si L yang lagi gigit Danish daging, langsung diam seribu bahasa. Padahal menurut saya, baik-baik saja kok musiknya yang smooth jazz itu. Silent moment berlangsung beberapa detik, sampai akhirnya musik smoky jazz mengalun (aduh, untungggg di Excelso sedia musik smoky jazz, kalau nggak sih, bisa-bisa si mbaknya tadi sudah dimutilasi dengan gergaji listrik kali...hahaha..sok ekstreme banget ya). Akhirnya acara makan pagi saya bisa berlanjut dengan tenang. Beberapa menit kemudian, ada istri dan dua anaknya yg masih kecil-kecil masuk, sambil bawa bungkusan KFC. Eh, bapaknya langsung bangun dan marah-marah ke anaknya, "Kok kamu beli KFC ? Papa udah beliin roti di sini buat kamu!" Duh, istrinya itu cuma dieeeemmmm aja sementara suaminya ngoceh. Untung saya dan si L sudah selesai makan roti, dan siap-siap kabur...

Sekitar pukul 10.30 pagi, sampailah di kita di rumah si L. Duhhhh..rumahnya adem banget... suasananya santai bangettt.... ada kolam ikan, terus belakangnya ada taman, sampai saya tuh rasanya cuma pengen leyeh-leyeh aja di sana. Ternyata juga, seluruh keluarganya si L ini senang musik. Jadi ada piano, keyboard, gitar, dan yang paling amazing itu adalah, adanya 1 ruangan home theater, lengkap dengan dinding akustik, kursi-kursi ala la-Z-boy, layar besar dengan projector, sound system lengkap, dengan wireless microphone, pokoknya heavenly banget buat karaoke lover! Apalagi, lagu-lagunya itu yang diinject di dalam system, jadi pakai program, betul-betul sudah kayak di ruang karaoke beneran, tapi jauh lebih nyaman lagi. Bawaannya jadi pengen bobo di kamar, tapi nyampe Bandung kalau gak kemana-mana kan aneh juga ya hehehe.

Siang itu, kami dijemput oleh S (teman L juga), dan pergi ke Gang Mahmud. Di Gang Mahmud, ada 1 rumah yang halamannya dipakai untuk warung makan. Warung makan Mahmud ini terkenal dengan masakan yang sangat sederhana, yang menjadi comfort food untuk sebagian besar orang. Kami pesan nasi bakmoy, nasi lengko, kangkung petis, rujak surabaya (campuran buah dan sayur dengan bumbu petis), 2 gelas es cincau dan 3 gelas teh tawar. Di luaran juga ada penjual tahu gejrot khas cirebon, yang menggoda kami untuk memesan 1 porsi. Apakah keistimewaan kota Bandung ? Makanannya murah-murah! Kemarin itu, semua pesanan kami, termasuk 1 porsi lagi nasi bakmoy untuk dibungkus, hanya merusak 55 ribu rupiah dari kantong!!

Sama seperti di Jakarta, anak-anak Bandung juga punya kebiasaan untuk ke mall setiap akhir pekan. Dan si L mengatakan, anak muda Bandung dan mall Paris Van Java (PVJ) itu seperti absenan yang harus diisi. Jadi jangan bingung kalau untuk masuk dan cari parkir di PVJ, sudah sama susahnya seperti mencari parkir di mall besar di Jakarta. Berdasarkan informasi tersebut, saya, L, dan tiga teman lainnya menuju ke Bandung Super Mall (BSM) saja, supaya kami bisa lebih santai. Kebiasaan di Bandung juga, kalau ada tempat nongkrong baru, tempat nongkrong lama akan ditinggalkan dengan segera. Sama nasibnya dengan BSM saat PVJ dibuka. PVJ ramainya kayak pasar, sementara di BSM sangat mudah mencari parkiran. Sore itu, kita nongkrong di J-Co, sambil bergossip soal teman-teman (saya sih gak kenal, tapi berlagak sok tau saja, daripada gak ada bahan omongan).

Malam hari, saya, L, dan orang tua dari L bersiap-siap untuk makan malam. L menyarankan ayahnya untuk menyetir ke The Valley di Dago Atas. Dalam perjalanan, ternyata macet minta ampun, dan isinya mobil-mobil dengan plat nomer B. Cape deeee.... Bandung kok isinya orang Jakarta semua. Karena sudah pukul 8 malam, dan perut sudah mulai lapar, akhirnya ayahnya L memutuskan, kalau kita makan di Tizi saja. Tizi adalah salah satu dari steak house yang lumayan tua di Bandung dan menyediakan menu-menu ala Jerman. Menurut si oom, Tizi itu terkenal mahal di jaman dahulu, sehingga dulu itu, cuma event sangat-sangat special yang dirayakan di Tizi. Sampai sekarang pun, katanya tetap saja Tizi itu lumayan mahal bagi orang Bandung. Setelah saya lihat menunya, wah....ini mah gak ada apa-apanya dibandingkan dengan steak house di Jakarta. Kita bisa mendapatkan T-Bone Steak, hanya dengan 51 ribu rupiah !! (MAN, I LOVE BANDUNG !!). Malam itu, saya pesan 1 mangkok Goulash, dan 1 Weiner Schnitzel, yang ternyata porsinya mantab besarnya. Side dishnya adalah potato puree yang yummy banget. Benernya masih kepingin cemil blackforest cake, tapi sudah penuhhhhh....

Malam dilanjutkan dengan kumpul dengan teman-teman di The Cellar. The Cellar ini adalah wine bar yang konsepnya mirip Cork and Screw di Jakarta. Kita ke ruangan untuk pilih wine-nya, kemudian wine diantarkan ke meja. Malam itu sebetulnya ada hiburan live music yang lumayan asik. Saya dan L yang penggemar musik sebenarnya lebih memilih untuk menikmati musik tersebut, tetapi teman-teman yang lain nggak terlalu suka, sehingga memilih di sisi lain. Nah, itulah lagi bedanya orang Bandung dengan orang Jakarta. Kalau di Jakarta senangnya musik yang hingar bingar untuk teman minum wine, di Bandung, live music yang memainkan top 40 saja sudah dibilang "gandeng" (bahasa Sunda untuk berisik). Tapi gak tau kenapa, kayaknya kami memilih wine yang salah (setelah direkomendasikan oleh si mas-masnya), dan wine kita rasanya GAK ENAK BANGET hihihihi... Untung calamarinya lumayan... tapi beneran, wine kita masih sisa setengah botol saking gak enaknya....huh, mas-masnya tulalit ah...

Minggu pagi, rekor saudara-saudaraku ! Saya dan L bangun pukul 10 pagi, tanpa merasa bersalah. Padahal malamnya, kami sudah bobo pukul 00.00, yang berarti kami tidur nonstop 10 jam. Kalau tidak malu dengan ayahnya si L, mungkin saya sudah bobo lagi extra 2 jam. Habisnya udaranya enak banget, nyaman banget, pokoknya top banget lah. Acara hari itu adalah family gatheringnya keluarga L, jadi sok pasti isinya adalah makan-makan keluarga. Saya dan L hari itu sudah seperti pianist beken dan penyanyi lounge beneran, dengan kursi tinggi, microphone, dan amplifier. Kita menghibur keluarga dengan nyanyi lagu-lagu mulai dari yang jadul sampai yang wahid, mulai dari When You Tell Me that You Love Me-nya Diana Ross, sampai Cinta diujung Jalan-nya Agnes Monica.

Sore-sore gitu, karena bosan, kita nggak tau mau kemana lagi, si L mengajak ke Belgian Spring, yaitu tempat nongkrong yang menyediakan Belgium Waffle dan Ice Cream. Lagi-lagi saudara saudari sekalian, gara-gara banyaknya mobil berplat nomer B yang membuat jalanan macet, kita terpaksa membatalkan niat, dan berbelok ke Kafe Halaman. Kafe Halaman itu lokasinya beneran ada di halaman rumah tua yang disulap menjadi restauran dengan konsep taman. Menunya sih campur-campur tak jelas, mulai dari Chinese dim sum, sampai Spaghetti. Sore itu, kita bertiga memesan sekoteng, bitterballen, cheese fritters, dan udang rambutan. Minumnya lemon ice tea, mango ice tea, dan peach ice tea. Mayan, sore-sore yang adem itu, kita cemil-cemil, sambil ngobrol-ngobrol ngalor ngidul. Kelemahannya kafe halaman itu adalah: LAMANYA AMIT2.... dan lamanya itu bukan karena mesin gak jalan atau apa, tetapi pelayannya yang banyak itu, malah pada ngobrol sendiri2 sambil becanda...huh...

Sore-sore, langit sudah hampir gelap. Sudah sekitar jam 6 sore, akhirnya saya dan L memutuskan untuk nonton DVD chickflick saja di rumah L sambil bergelimpangan di atas La-Z-Boy. Tau-tau, waktu sudah menunjukkan pukul 7.30 malam. Sehabis dinner masakan mamanya L, tibalah waktu kita untuk pulang ke Jakarta. Huuuuu...rasanya nggak kepingin deh balik lagi ke Jakarta. Tapi sudah minggu malam, apadaya Senin harus kerja lagi. Perjalanan pulang, saya menyetir ke Jakarta ditemani L. Goodbye Bandung ! For sure I'll be back...!!

5 comments:

  1. wahh asiknya k bandung liburann..

    wisata kuliner lagi :D

    neng, si L itu cewe yah? gw pikir cowo :D

    ReplyDelete
  2. t-bone steaknya enak, gak len ? di batam gak bakalan pernah nemu steak ok...keras !

    eh perasaan aku temanmu kok banyak yg nikah ya ? hampir tiap bulan eh. bulan ini yg paling banyak. apa lg musim kawin ? lol

    ReplyDelete
  3. huhuhu.. dari waktu itu gua pengen banget nyobain tizi tapi gak kesampe2an....

    ReplyDelete
  4. Anton >> Yoi dong, cewe hihihi... Malu ah, masak bobo sekamar sama temen cowok.. :P

    Dian >> Aku gak pesen T-Bonenya. Tapi kalo liat masakan yg lainnya sih, OK Banget, soalnya memang classic steak house sih. Iya, temen2ku banyak yg nikah... kapan ya giliran aku huaaaa :(

    Arman >> Tunggu balik Indo ya Man..sabarrrr....

    ReplyDelete
  5. wah kalo aku yang ke Bandung, pasti deh cari kaset PS....soalnya di sana luengkap buanget....

    ReplyDelete