Friday, July 04, 2008

Memorable Wedding Reception of My Good Friend A& His Beautiful Wife D

Sebelumnya saat saya ingin menulis judul entry kali ini, tadinya saya mau menulis dalam bahasa Indonesia. Tetapi setelah saya tulis: “Resepsi Perkawinan Berkesan Teman Baik Saya A dan Istrinya yang Cantik D” kok jadi kepanjangan dan terdengar agak aneh. Hahaha.... bukannya mendiskreditkan bahasa Indonesia, tetapi rasanya memang benar, kalau bahasa Indonesia suka lebih bertele-tele. Mungkin boleh diceritakan sedikit, bagaimana saya mengenal si mempelai laki-laki, A. Suatu hari di musim panas, saat saya baru kembali ke Madison dari summer pertama saya di Seattle di tahun 2001, saya dihampiri oleh seorang laki-laki berperawakan agak lucu berkacamata, yang ternyata bernama A. Dia menanyakan apakah saya bersedia untuk iseng-iseng menyanyi di acara welcoming partynya Permias (Persatuan Mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat) Madison. Kebetulan si A juga ingin coba-coba tampil dengan permainan pianonya yang ternyata sangat menawan hati. Jadilah, penampilan perdana saya di acara Permias dengan lagu When You Tell Me That You Love Me-nya Diana Ross, diiringi permainan piano solo si A. Dari penampilan itu, berlanjutlah lantunan suara saya ke penampilan-penampilan di acara Permias selanjutnya baik dengan si A maupun tidak, dan thanks to A, rasa percaya diri saya jadi tumbuh untuk tampil di depan umum. Si A ini juga mempunyai talenta luar biasa di bidang musik. Selain pernah diiringi piano, saya juga pernah diiringi oleh petikan gitarnya dalam lagu Bimbang dari Melly Goeslaw yang saat itu lagi ngetrend berat di soundtrack film Ada Apa Dengan Cinta. Kalau latihan dengan A, cukup satu dua jam saja, biasanya langsung jalan dengan sukses.

Jadi, saat si A mengabarkan kalau dia akan menikah, saya sangat berbahagia sekali, apalagi mengetahui kalau pujaan hatinya jatuh kepada seorang gadis cantik bernama D, yang ternyata sejiwa dengan si A, mengalir di bidang musik. D adalah master di bidang piano performance. Kurang jodoh apalagi coba. Sebagai tambahan hadiah perkawinan, saya ingin sekali sumbang suara, sebagai tanda terima kasih juga, karena si A adalah salah satu orang yang membuat saya makin jatuh cinta pada dunia nyanyi. Si A pun setuju, dan saat itu yang ada di dalam pikiran saya adalah menyanyikan lagu yang pertama kali saya tampilkan bersamanya tujuh tahun silam. Undangan pun tiba, dan baiknya si A ini, karena lokasi resepsi terletak di Bandung, dia menyediakan transportasi untuk menjemput dan mengantarkan teman-teman dari Jakarta-Bandung-Jakarta. What a friend! Jadilah tanggal 15 Juni 2008 yang lalu, petualang dari Jakarta, brangkat ke Bandung dengan sukacita.

Pertama kali sampai di lokasi di Ballroom Mason Pine Hotel, yang saya rasakan adalah, ini adalah dunia A&D. Di kanan kiri terdapat puluhan meja-meja untuk tamu (kebetulan resepsinya menggunakan table setting, bukan prasmanan), dan di tengahnya ada satu stage yang bersinar dengan grand piano di atasnya. Dominasi warnanya adalah putih dan hijau tosca dengan sentuhan mawar merah. Pelaminan cukup simple dengan panggung musik kecil di sisi kiri panggung. Saat itu ruangan masih kosong melompong, dan kedua mempelai sedang berlatih untuk mempersiapkan grand entrance mereka. Meja-meja ditata apik dengan penamaan yang unik, seperti Sweet (that’s my table), Estatic, Happy, dan lain-lain. Menurut saya, kalau dari segi dekorasi, banyak sekali pengantin yang jauh lebih jor-joran. Tetapi keistimewaan dari acara perkawinan ini adalah acaranya itu sendiri yang sangat personal.

Setelah tamu-tamu berkumpul, dibukalah acara tersebut. Setelah orangtua naik ke pelaminan, datanglah mempelai wanita, ditemani bride’s maids, naik ke atas panggung di tengah, kemudian dibukalah untaian satu lagu klasik oleh D. Di tengah lagu, tiba-tiba musik melemah dan melambat. Masuklah A dari sisi belakang, memainkan saxophone (geez, I just found out that he also plays saxophone !), kemudian bertemu di panggung dan memainkan secara duet, lagu yang mereka ciptakan sendiri. What a romantic moment, and what a grand-and-not-even-a-bit-corny entrance (unlike some couples that I saw on some previous weddings, who created not-so-interesting-yet-weird “Cinderella met the prince” moment). Acara potong kue berlangsung singkat dan padat, kemudian dilanjutkan oleh makan malam. Selama makan malam, kita dihibur oleh Beben Quartet yang memainkan musik-musik jazz standard dengan high level of capability (not jazz-wannabe off course), dan kita dihibur juga oleh, kedua mempelai! Haha... it’s true. Ada 1 moment, di mana A dan kedua temannya menjadi trio guitarist dan A menyanyikan lagu ciptaannya yang dirangkai khusus untuk D. Kemudian ada moment lain, persembahan untuk kedua orang tua, di mana A&D menyanyikan sebuah lagu dan D juga memainkan biola (damn, if I see more of their talents, I’m gonna be crazy).

Di moment-moment lain, tampilah beberapa anak didik D memainkan komposisi lagu di piano, kemudian seorang teman baik A lagi menyanyikan lagu Terdiam milik Maliq d’essential dan kemudian di penghujung acara, giliran siapakah itu ? Yes, it was my turn! Berhubung suara saya lagi hancur akibat radang tenggorokan, terpaksa lagu When You Tell Me That You Love Me yang tadinya saya rencanakan untuk dinyanyikan diubah haluannya menjadi lagu It Had to Be You yang bernada di range lebih bawah, demi menyelamatkan pita suara ini. Kebetulan, teman A satu lagi yang bernama B ternyata jago juga main saxophone, dan beliau spontan juga maju ke depan untuk ngejam bareng. Meluncurlah lagu It Had to Be You dari mulut saya, dengan suara serak-serak banjir. Di tengah-tengah pada saat interlude, saya minta B untuk improvisasi permainan saxophonenya, dan siapa sangka, ternyata duet saya dan B serta permainan musik apik dari Beben Quartet mendapat sambutan yang meriah dari para tamu di akhir lagu. Yang lebih mengejutkan lagi, kedua mempelai meminta tambahan 1 buah lagu lagi. Terus terang saya tidak pernah mempersiapkan lagu kedua, jadinya dengan persiapan seadanya, keluarlah lagu Fallen, dan kemudian acara berakhir dengan manis.... (aaahhh, saya merasa menjadi seperti artis yang diminta menyanyikan encore hihihih... sok ah...)

Tibalah giliran foto-foto... dan inilah, foto anak-anak manis, yang ngakunya lulusan Amerika, tetapi tingkah lakunya seperti anak TK.

Dengan demikian, berakhirlah acara resepsi berkesan dari A&D yang personal, menyenangkan, dan hangat. Malam itu juga, kembalilah kami ke Jakarta, dengan perut kenyang, dan hati yang gembira.

8 comments:

  1. wah cocok banget tuh. suami istri very very talented. gak kebayang ntar anaknya gimana... hehehe. jadi inget film august rush. ntar anaknya kayak gitu kali ya... :)

    ReplyDelete
  2. iya juga ya, kalo di indonesiakan jadi formal gitu rasanya.

    mereka memang pasangan yg cocok ya. eh bininya cuantik euy. tapi itu si D rambutnya apa gak bisa diminyakin ya, biar baring kekkekkek

    pengarah gaya yg pic miring, siapa ? hehe

    ReplyDelete
  3. foto terakhir karena kena angin topan dari kanan yah??
    wah kapan nyusulnya nih??

    ReplyDelete
  4. The wedding looks lovely!

    In fact, I can relate a lot to this type of wedding (somewhat piano-oriented! LOL) because I'm a piano enthusiast myself.

    Ah Leony...we've never met in person, but I really want you to sing a song at my wedding (a food-related song, perhaps? HAHAHAHA)...
    I bet you sound marvelous!!

    Speaking of weddings, boro2 wedding, pacar aja ga adaaaaaaa!!! Help!! LOL

    If I may, I hereby request the honor of your presence on the stage, before the microphone, to sing a song on my wedding in the year 20XX!! (and I'll try my best to give a Piano accompaniment!) Hahaha...

    Mimpi, mimpi...

    ReplyDelete
  5. pertanyaan yg pasti bakal bikin elo bete:

    "Kapan neng leony nyusul???"

    hehe peace jeung :p

    btw its soooo romantic wedding...kapan ya gw bisa bgini :D

    ReplyDelete
  6. Romantis sekali ya acara weddingnya..Dekorasinya menurutku baguuuss sekali..tidak berlebihan tapi malah kerenan gitu kan

    Nanti kalo giliran Leony yg naik pelaminan, ciehhh.. bakal gimana ya acaranya? :))

    ReplyDelete
  7. Arman >> Heheheh... ntar anaknya bisa diajak main gitar bareng I Wayan Balawan dalam pilem Terburu-buru di Bulan Januari. (Kayak si Freddy Highmore dan Jonathan Rhys Meyers di August Rush).

    Dian >> Yg pic miring itu benernya usulan dari aku, tapi yang ngarahin ya photographernya (karena kan dia yg count 1, 2, 3..MIRING!!)

    Proletarman >> Itu kena angin taufan dari Laut China Selatan... Wah, doain aja biar cepet nyusul deh ya.

    Erik >> Read my comment on your weblog deh ya...

    Anton >> Gue udah biasa... udah kebal... menjurus ke eneg.

    Marlina >> Waduh, masih blum kepikiran... harus dibicarakan dengan calon suami (yg sekarang posisinya masih entah di mana).

    Koko >> Yes, happy for everyone there.

    ReplyDelete