Saturday, July 12, 2008

Makan Lagi Makan Lagi Makan Lagi

Judul di atas itu adalah kata-kata yang saya tulis di sebelah nickname saya di Windows Live Messenger. Kenapa? Ya tentunya semua sudah tau jawabannya....karena saya memang kerjaannya selama seminggu terakhir adalah makan lagi makan lagi makan lagi. Seharusnya saya lumayan senang. Tetapi setelah kemarin berhasil menurunkan berat badan menjadi normal, sekarang sudah naik lagi 3 kg. Marilah kita review, sejak Kamis minggu lalu, sampai Minggu kemarin (saya hanya akan menulis yang saya makan di luar saja ya hehe. Yang di rumah soalnya jauh lebih sehat dan lebih beradab, jadi saya limpahkan kesalahan kepada makan-makan di luar.

Kamis siang minggu lalu, ada suatu kejadian yang sangat menarik, yaitu ada 3 pihak yang mengajak saya makan siang, GRATIS! Tawaran pertama, datang dari seorang GM Aquaculture baru di kantor, yang waktu itu saya sindir-sindir, kapan akan makan-makan perayaan gaji pertamanya. Ternyata, hari kemarin itu, beliau dengan serius, di YM mengundang conference anak-anak buahnya dan mengajak lunch bareng di Samudra (saya padahal bukan termasuk anak buahnya loh... tetapi berhubung katanya dia, saya ini jauh di mata dekat di hati, diajakin juga hihihi...). Tawaran kedua, berasal dari salah seorang atasan saya, lebih tepatnya Pak VP Treasury yang ternyata, baru berulang tahun beberapa minggu lalu. Beliau mengajak makan seafood di Bangkok 69 di bilangan Bendungan Hilir. Tawaran ketiga, berasal dari co-worker, yang entah mengapa (asli sampai sekarang masih ngga tau kenapa...), tiba-tiba ingin mentraktir makan di Coca Suki.

Berhubung saya sudah mengamalkan sila kedua dari pancasila, dan saya mencoba menjadi orang yang adil dan beradab, jadilah saya memilih berdasarkan siapa cepat dia dapat. (Cieh...sok populer banget seeehhh...). Jadilah hari Kamis kemarin, kami ber-6 makan di Samudra BRI II, dan saya yang paling cantik sendiri. Saya pikir, hari itu seperti biasa, cukup yamcha-an saja. Ternyata eh ternyata, kata si GM, karena yang makan semua adalah laki-laki yang cukup sangar, maka harus dipesankan makan tengah juga. Yamcha yang sudah dipesan, mungkin ada sekitar 10 kukusan, ditambah lagi dengan menu makan tengah yang saya pilih berdasarkan kenetralan antara lidah dan pengetahuan. Maklum, beberapa dari co-workers ada yang belum pernah makan yang aneh-aneh ditambah lagi saya harus pesan menu halal, jadi saya pesankan yang normal-normal saja, seperti Udang Mayonnaise, Sapi Lada Hitam, Tumis Taomiao dengan aneka telur (Phytan yang dipotong kecil2, telur bebek dan telur ayam yang diacak), dan terakhir Bebek Peking (tentulah di split menjadi dua yaitu bagian kulit yang digulung dengan pancake, daun bawang, dan saus hoisin, dan bagian dagingn yang saya pilih untuk dimasak tumis tauge). Menurut saya, bagian terenak dari bebek tersebut adalah kulitnya, tapi entah mengapa, sepertinya banyakan bingung kenapa bebek peking yang ditampilkan adalah bagian kulitnya saja, sehingga si lumpia2 mini berisi kulit bebek yang crispy itu masih bersisa. Dan sebagai pencinta lemak, saya jadi makan empat potong hahahah...

Hari Jumatnya, ada farewell partynya teman yang akan segera berangkat kerja di Singapore. Arena "pertempuran" yang dipilih adalah Blacksteer di Grand Indonesia. Hari itu saya memesan fillet tenderloin, dimasak medium well, dengan french fries (yang sangat seiprit jumlahnya, tetapi masih lebih baik daripada mashed potato tanpa rasa yang pernah saya pesan sebelumnya di restaurant ini). Specialty Blacksteer adalah baby back ribs yang cara penyajiannya adalah dipotong memanjang bersama tulang-tulangnya (bukan bentuk slab). Kekurangan dari baby back ribsnya itu adalah, walaupun rasanya lezat, tetapi dagingnya terlalu soft, sehingga saya lebih memilih pesan steaknya. Appetizer yang di share untuk kami ber-7 adalah fried calamari dan onion loaf. Dan sebagai hidangan penutupnya adalah sepotong strawberry shortcake yang juga merupakan sebuah kejutan untuk salah satu diantara kita malam itu yang sedang berulang tahun. Nyum!

Hari Sabtu malam, saya diajak ketemuan oleh teman-teman dari Texas oleh si B di Senayan City. Salah satu teman kita, si G, sudah lama tidak balik ke Indonesia. Dan dia berjanji, kalau balik ke Indonesia, ingin melaksanakan wisata kuliner (secara berlebihan). Karena si G ditelepon oleh teman lainnya untuk kumpul makan di Poke Sushi, kita meluncur ke Crowne Plaza Hotel. Maklum, perut juga lagi lapar. Sampai di sana, langsung kita pesan all you can eat sushi and sashimi. Di Poke Sushi itu ada tiga strata pemesanan all you can eat. Yang termurah, pilihannya hanya sushi roll dan nigiri saja, yang tengah, pilihannya sushi roll, nigiri, dan goreng-gorengan, dan yang termahal adalah yang punya pilihan terlengkap, seperti sushi roll, nigiri, goreng-gorengan, chirasi, dan lain-lain. Dan kita pilih yang terakhir itu. Berhubung tidak mau rugi, langsung yang paling banyak kita pesan adalah sashiminya hihihihi. Jadilah saya makan sashimi sebanyak-banyaknya dengan sukses, dan masih tetap ditambah lagi dengan icip-icip sushi juga. Kacauuuu.... Dalam satu ruangan itu, ada kali 25 teman-teman kita semua yang menikmati makanan yang sama, dan makanan datang lagi-datang lagi, sampai akhirnya kita semua telentang kekenyangan. Setelah itu, beberapa dari teman kita ada yang ngajak clubbing di Blowfish. Lalu saya, dan dua teman yg anak Texas itu sih menyanggupi. Tetapi akhirnya dengan berbagai pertimbangan, setelah masuk ke dalam mobil, kita membatalkan rencana clubbing, dan memilih jalan sendiri ke Plaza EX. Sampai di sana, apakah yang kita cari ? Yes, Ice Cream... Haagen Dazs. Masing-masing orang melakukan pemesanannya. Bukan 1 scoop, bukan 2 scoop, tapi yang specialnya. Saya lupa nama pesanan saya apa tetapi terdiri dari 1 muffin hangat yang ternyata ukurannya besar, dilengkapi dengan 1 scoop belgian chocolate, dan 1 scoop creme de leche (alias caramel). Akibatnya, walaupun sudah dibantu makan muffinnya oleh teman saya, tetap saya, nyerah...

Minggu siang, sekitar pukul 11, sudah di telepon lagi oleh si G untuk kumpul makan di Keyaki, Sari Pan Pacific Hotel. Loh kok Japanese food lagi? Nah, tapi yang ini beda. Walaupun sama-sama buffet, tetapi keistimewaan Keyaki di Minggu siang adalah, adanya all you can eat grilled lobster...Cihuiii....kapan lagi coba, ada all you can eat lobster dengan harga terjangkau (nggak terjangkau-terjangkau banget, tetapi untuk lobster, cukup lah hehehehe). Dengan semangat 45, saya menemui si B dan G di sana. Tetapi sayang sungguh sayang. Setibanya kita di sana, lobsternya abis! Kita sampe ngiler-ngiler ngeliatin oom-oom di depan kita memesan 5 ekor lobster terakhir. Hiks hiks hiks.... Jadilah, kita mengurungkan niat untuk makan di sana, dan pindah ke Pacific Place. Setelah berputar-putar (dan teman kita si G mengambil banyak foto sambil terbengong-bengong melihat di Indonesia ada mall yang sekeren itu), pilihan jatuh kepada Y&Y (lagi). Di sana saya pesan Nasi Bebek Bumbu Kari Merah, dan makanan yang dibagi-bagi adalah Prawn & Shitake Pizza, dan tentunya Takoyaki. Sehabis perut kenyang, mulailah serangan ngantuk menjelang. Karena si G ini jarang-jarang pulang, saya memutuskan untuk mengajak dia ngopi di luar saja, yaitu di Bakoel Koffie, Cikini, karena suasananya yang kayak rumahan dan tentu saja, makin asyik lagi buat foto-foto karena suasananya yang jadoel abis. Karena saya nggak tahan kafein, saya memesan Strawberry ice tea saja (yang ternyata gelasnya segede bagong, dan membuat saya kembung). Habis ngopi, saya anter si G, dan weekendpun selesai.

Senin kira-kira pukul 11.30 siang, si G nelepon lagi. Ternyata tas dan blackberrynya kemarin ketinggalan di mobil saya. Dasar! Berhubung dia baru saja memperpanjang visa di Kedutaan Amerika dan perutnya lapar, langsung deh, tujuan selanjutnya untuk lunch = Samudra BRI II (lagi). Kali ini kita pesan yamcha saja (gak kayak Kamis kemarin) dengan menu-menu standar seperti Kaki Ayam, Paikut, Siomay, Hakau, CongFan Charsiu, Pangsit Kucai, Talas Goreng isi daging, dll, tetapi tetap saja kenyang. Dan enaknya lagi, kali ini: ditraktir hihihihi.... Senin sore, sudah beredar lagi sms-sms, dari crowd teman-teman Texas juga, untuk ke Plaza EX (lagi), dan dinner di sana. Setelah muter-muter, akhirnya pilihan jatuh kepada: En Dining (Hah? Japanese lagi ???). Ya maklum deh, bintang tamu kita si G ini memang Japanese Food Lover sih. Di sana saya pesan Crab Chahan. Jadi ceritanya ini tuh nasi goreng kepiting, yang dihiasi dengan kepiting soka goreng di atasnya, dan disiram dengan saus seperti kuah yang isinya juga daging kepiting. Sounds yummy banget kan... (Emang yummy sih). Makanan yang kita share adalah Salmon Salad dan Wakame Salad untuk starter, dan Honey Bread with Icecream untuk dessert. Seninpun berlalu....dan akhirnya di hari Selasa, saya bisa makan normal kembali.

Hari Rabu datang, dan kembali lagi jiwa petualang hadir. Si G kepingin banget makan di Dapur Babah Elite yang katanya lumayan creepy dan banyak hantunya. Setelah operasi SMS dari pagi, berhasil terkumpul 4 orang (saya cantik sendiri), yang ingin mencoba pengalaman makan di tempat luar biasa. Pas saya membaca reviewnya di internet, kok banyak yang bilang makanannya agak-agak kurang nendang untuk lidah orang Indonesia. Tetapi dengan mengesampingkan review-review tersebut, saya mencoba datang tanpa ekspetasi tinggi soal apapun. Setibanya di sana, kesan pertama adalah: "Man, jalan Veteran kok serem amat sih, masak tukang parkir aja rebutan lahan parkir!" Dan kenyataannya, memang jalanan di luar Dapur Babah itu suasananya lebih seram daripada di dalam. Begitu tiba di dalam, kita dikelilingi oleh barang-barang antik, suasana mistis, namun tetap menarik, dan somehow romantis. Cuma, kalau sampai saya disuruh sendirian di situ, hmmm.... nggak deh, makasih.... Masuk aja yang tercium itu bukannya bau masakan, tetapi bau hio. Di dalam itu ada seorang guide beraksen betawi, yang siap menerangkan ruangan-ruangan di dalam restaurant, baik dalam Bahasa Indonesia, maupun Bahasa Inggris. Kalau mau tau suasananya seperti apa, silakan lihat review-review di internet. Saya gak bisa deh mereview. Mendingan langsung ngomongin makanannya ya. Saya memesan Nasi Campur Babah yang katanya sih merupakan favorit di sana. Dan begitu makanan datang....JRENG! piringnya segede tampah, dan porsinya jugaaaa... oh noooo (berpikir dalam hati, apakah saya bisa menghabiskan... tapi..ah...masak sih saya gak bisa hahahah)...satu porsinya ditata sangat apik, dengan nasi hijau beraroma daun pandan yang dibungkus daun pisang, sepotong empal, sepotong ayam bumbu rujak, sambel udang (yang udangnya kecil2 dan garing banget), sambel kentang, dan perkedel yang bentuknya unik banget. Perkedelnya itu, dimasukkan kedalam udang pancet yang sudah dikosongkan dagingnya, kemudian dicelup putih telur dan digoreng sampai kering. Jadi pas dimakan garing-garing asik gitu deh. Kulitnya juga bisa dimakan. Dan menurut saya, rasa makanannya pas! Bukannya gak nendang sih, tapi memang tidak terlalu kuat dibandingkan Restaurant Indonesia pada umumnya yang kebanyakan MSG. Mungkin lidah teman-teman kita terbiasa dengan segala sesuatu yang gurih dan tebal bumbu (caelah..sok kayak Bondan Winarno aja cara saya ngomong). Makanan yang kita share adalah: Huzaren Sla (salad sayur dan buah dengan saus Huzaren ala Belanda) dan Loenpia (isi rebung kayak ala Semarang, tapi rasa rebungnya nggak nyengat) untuk starter, Bubur Sumsum (rasa pandan dan dihidangkan di dalam buah kelapa yang dibelah dua) dan Oenbiekoek (kue bolu rasa kayu manis). Habis makan, tentu foto-foto dulu dong. Teman saya nggak berani loh di foto sendirian hahahahah...

Hari Kamis, pagi-pagi SMS sudah beredar lagi. Ceritanya malam sepulang kerja mau nonton film Wanted di Blitz, Grand Indonesia. Kebetulan juga si G ini, selain wisata kuliner, juga kepingin wisata mall, supaya bisa kasih lihat ke teman-temannya di Amerika, kalau Indonesia adalah negara maju yang mall-mallnya lebih keren daripada di Amerika. (Bukannya nyombong, tetapi di Amerika memang jelek-jelek mallnya! Pacific Place itu bagusnya kayak 10 kali lipatnya Mall of America yang dibanggakan sebagai mall terbesar... Bangga dong dikit!). Jadilah kita bersembilan (yes, nonton apa layar tancap ya...bersembilan), menuju ke Blitz. Sebelum nonton, sudah ada yang nagih agak lapar, jadilah mampir ke Excelso. Di Excelso, saya pesan Jus Alpukat dicampur kopi, dengan 1 scoop vanilla icecream (duh, namanya apaan sih..., sebodo ah, yg pasti isinya kayak gitu). Namanya nonton film, pasti sesudah nonton, dibarengi dengan makan. Berhubung sudah hampir pukul 10, restaurant-restaurant di sana sudah mulai tutup pintu. Jadilah kita mengakhiri perjalanan kita dengan makan malam di Cafe 5th Avenue. Di situ saya memesan special of the day yaitu beef tenderloin yang disiram dengan mushroom sauce, dengan mashed potato (yang ternyata yummy banget tapi tidak saya habiskan karena mengingat kebulatan badan), lengkap jg dengan small side salad. Kamis pun berlalu.

Jumat, saya sudah berjanji..DIET NON...DIET... kamu sudah keterlaluan (berbicara pada diri sendiri mode on... psycho...). Tetapi siang-siang, ada tawaran dari co-worker untuk makan di Coca Suki. Oh noooo.... saya menolak dengan halus, dengan alasan sudah keburu diajak teman lain. Akhirnya saya memilih crowd teman-teman kantor yang ke Senayan City saja, dengan harapan, saya bisa memilih menu yang lebih sehat. Ternyata begitu sampai di Senayan City, kemanakah pilihan teman-teman ?? Burger King !! Mana di luarnya, ada poster besar, beli Whopper Junior Value Meal, dapet Sundae gratis. Oh nooo (lagi).... Mata tak bisa berbohong, sampai di depan counter, itulah yang saya pesan, dan seperti otomatis terlontar dari mulut saya "upsize please"! Jumat sore, saya di sms teman lagi, ngajakin nonton Meet Dave di Plaza Senayan. Tetapi berhubung badan sudah lelah, dan berusaha menghindari diri dari transformasi menjadi kerbau, saya menolak dan memilih pulang ke rumah. Amin....

Hari Sabtu, jadual saya hari itu lumayan padat. Pagi-pagi, ke apotik, kemudian mau melayat ke Rumah Duka Carolus. Tetapi, berhubung ke rumah duka arahnya sama dengan ke arah Kedai Bakmi Babat Senen (Atau orang kenal dengan Bakmi dan Nasi Campur Gang Kenanga), jadilah jam makan siang, saya dan mama mampir ke sana. Baru masuk pintu, langsung: "Nasi Campur satu ya, Ko!" Di luar kedai yang panasnya ngajubileh itu, ada tukang asinan yang sedap benerrr... jadi tambah lagi satu porsi asinan buat di share sama mama yang lagi asik nyeruput kuah Mie Babat. Namanya makan di warung (yang omsetnya mungkin lebih tinggi dari restaurant fine dining itu), kita diajarkan untuk bersosialisasi. Satu meja rame-rame. Di depan saya, ada satu keluarga yang montok semua, dan bapaknya itu makan 1 porsi Nasi Campur sambil nyeruput semangkok Mie Babat (asli, ngeliatnya aja udah kenyang). Sebelah saya ada 1 engkoh-engkoh turunan preman, pake baju u can see dan banyak tatonya, tapi ngomongnya alus kayak salesman lagi nawarin bolpen. Habis gitu lanjut lagi ke Rumah Duka, ke toko furniture buat beli kasur, dan ke car wash. Pulang ke rumah sebentar, eh di depan rumah ada tukang rujak yang ulekannya paling mantab se-Cawang. Jadilah pesan satu porsi lagi.

Sore itu, saya dan mama ke Gereja di Theresia, lalu setelah misa kita berencana cari-cari makan di Grand Indonesia aja. Perhentian pertama, beli Krispy Kreme dulu buat dimasukkin di mobil jadi nggak repot nenteng. Pas di GI, mampir ke Takigawa, antrian dapat nomor 16. What ?? Ternyata banyak banget orang yang taruh nama dan nomor telepon! dan restaurantnya kan cuma seiprit gedenya. Terlalu! Geser ke Y&Y, di depannya sudah ada barisan mirip keong racun alias melingker. Mau ke restaurant lain, sudah malas duluan, akhirnya milih ke food court aja deh. Di Food Court, kita bengong sebengong2nya. Di pukul 8.30 malam itu, suasana sudah kayak pasar inpres. Orang-orang berseliweran tanpa tempat duduk karena penuh semua. Antrian di counter2 yang populer sudah kayak antri Bantuan Langsung Tunai, dan bahkan sampai ada orang yang makan sambil berdiri! Migrain saya mulai kumat... saya langsung bilang ke Mama.."Ma, selamatkanlah aku dari derita ini!! Marilah kita keluar dari mall ini..." Setelah berhasil masuk ke dalam mobil dan mengambil napas panjang (walaupun perut keroncongan), dan melarikan mobil ke gedung Sarinah Thamrin untuk makan di Chilis. Asli, mama saya sampai heran, kok bisa2an ngidam makan di Chilis. Begitu sampai di Chilis (ini kali pertama saya makan di Chilis setelah bersekolah dan bekerja di negeri Paman Sam), saya seperti menemukan kedamaian yang luar biasa.... (sampai rasanya air mata ini hampir menetes hiks hiks...lantaran terharu). Suasananya sama persis seperti di Madison, termasuk lampunya yang terbuat dari panci tembaga yang dibalik, dan mejanya yang dihiasi keramik ala mexico bentuk bunga-bunga... Begitu melihat menu, keluarlah lagi menu-menu favorit...dan pesanan saya, Southwestern Eggroll dan Chicken Crispers. Mama saya yang tau saya tidak terlalu suka ayam, sampai terheran-heran dengan sukses, kenapa saya memesan ayam goreng tepung. Tetapi saya bersikeras, tetap memesan si gorengan itu. Mama saya sih tipe yang harus pesan seafood, jadilah dia pesan Firecracker Dory. Yang paling bikin heran sih, kok harga makanannya sama kayak di Amerika ya, bahkan lebih mahal lagi! Begitu pesanan keluar, bengonglah si mama dengan porsi Chicken Crispers yang gedenya kayak buat kasih makan 3 orang. Lengkap dengan fries dan sebonggol jagung rebus, dan saus honey mustardnya yang o la la sedapnya (asli, belum habispun, saya sudah minta lagi itu saus karena uenak). Berhubung lagi diet mode on, saya langsung sisihkan 8 potong ayam (yes, ada 10 potong chicken tender di 1 porsinya), dan hanya makan 2 potong saja. Ditambah lagi, mama memberi setengah ikannya untuk saya. Aduh, itu ayam, pas dicocol....trus digigit...arrghhh..heavenly! Migrainpun hilang.... hatipun senang.... Si Mama yang pertama kali nyobain Chicken Crispers, langsung tau, kenapa saya kekeuh dengan pesanan saya. Dan dia bilang, "Non, kalau ke Chilis lagi, mama juga makan ini aja ah..." Hihihi... Tadinya sih saya mau pesan Molten Chocolate Cakenya. Tetapi hati kecil masih mengatakan: DIET NON...DIET....

Minggu yang cerah. Hari itu saya hanya ingin beristirahat saja di rumah. Pagi-pagi, sudah dua Krispy Kreme melayang ke mulut saya, plus dua keripik tempe. Siang-siang, saya makan masakan mama, sayur-sayuran cah yang sangat sehat (dibanding Chicken Crispers). Sekitar pukul 3 sore, 1 donat lagi melayang ke mulut. Pukul 6-an, saya melaju ke bilangan Kebon Jeruk, untuk reuni kecil teman-teman Madison di rumah salah satu teman. Begitu sampai rumahnya, di meja sudah siap bahan-bahan untuk membuat Sukiyaki. Jadilah, teman-teman berkumpul, mengelilingi meja. Maminya teman kita ini, sudah komplit banget menyiapkan daging sukiyaki yang dipesan khusus dengan irisan tipis-tipis dan empuk. Belum lagi sayur-sayuran, bakso, tahu jepang, dan soun. Masih ada juga telur ayam kampung mentah, yang kuningnya dipakai untuk dipping sauce, lengkap dengan condiment seperti bawang putih cincang, lobak cincang, dan cabe iris. Setelah itu, dibukalah sebotol red wine jenis Merlot untuk teman makan kita. Setelah acara makan selesai, kita pindah ke meja sebelahnya, untuk ngobrol dan makan es buah. Gilanya, setelah makan itu, kita ke lantai 2 untuk main pingpong hahahahah.... Maklum, yang punya rumah lagi excited berat gara-gara baru beli meja pingpong. Berhubung saya nggak bisa main pingpong, cukuplah saya menjadi wasit dan penggembira. Acara malam itu, ditutup dengan permainan grand piano dari yang punya rumah, dan saya yang menyanyikan lagu Norah Jones - Don't Know Why...

But I Know Why I gained 3 kgs. Darn !

7 comments:

  1. bujubuneeeeng...semua masup gitu aja di perut, Merlot nya kali yang bikin endut hahahaha....

    ReplyDelete
  2. gileee lu.. bikin laper aja... :P

    gua gak mau komentarin makanan2nya. mau komentarin tentang yang ngomong 'jauh di mata tapi deket di hati' tuh.. siapa tuhh.. cieeee.. :P

    ReplyDelete
  3. gak pa pa naik 3kg, makanannya enak2 gitu sih? ngiler euy..

    memang betul kok kayak pak bondan, hehe..
    kayaknya Leony mesti buka blog khusus nih utk review masakan2 resto

    ReplyDelete
  4. masih muda dia...makan sebegitu banyak cuma naek 3 kg hikhik

    perasaan sejak balek ke indo, makan mulu lu, neng

    ReplyDelete
  5. ya ampunnn :p

    klo gw yg makan segitu banyak bisa naek 5 kilo kayaknya wekekeke...

    tapi asli bikin ngiler lo neng, pengen nyobain juga tuh resto2 Jepang nya...

    nyum nyumm

    ReplyDelete
  6. Ampunnn deh non...lo harusnya udah aja bikin food blog sekalian, asli SERU banget sihh!!! Ya ampyun deh.

    di Coca makan bebeknya ga non? Ih asik bgt tuh bebek Coca. Gw udah keliling2 Bangkok kayaknya ga ada yang seenak bebek Coca deh. ada siii yang lumayan enak (di MK suki, but I think cuma ada di Thailand?)

    Kebanyakan makan diluar nggak sehat lho...(yeah, I know. I know. Look who's talking yehh. Hahahahah!)

    Dapur Babah Elite bau hio? Yikes!! Serasa makan di kelenteng??? LOL

    NB: I've also replied your comment on my blog, non...

    ReplyDelete