Friday, April 04, 2008

Uhuk - Uhuk Part 3 (The Completion of the Trilogy)

Benar juga prediksi beberapa orang pembaca blog ini, kalau akan ada kemungkinan trilogy dari kisah uhuk-uhuk saya ini. Dan mudah-mudahan dengan dilengkapinya trilogy kisah ini, sakit yang diderita ini juga tidak akan kembali lagi. Marilah kita kembali ke seminggu yang lalu, di mana saat itu saya berkeluh kesah sedikit karena rapat dengan Big Boss tidak kunjung berakhir.

Hari Jumat sekitar pukul 6 sore, selesai juga kira-kira 4/5 bagian dari rapat yang seharusnya dijadualkan hanya satu hari itu. Sisanya akan dilanjutkan senin pagi. (Bayangkan, rapatnya berubah dari satu menjadi tiga hari). Sepanjang rapat di hari Jumat itu, saya masih tetap berasa tidak enak. Beberapa saat sekali, saya ke wece untuk batuk-batuk dan buang air kecil lantaran demi menahan batuk-batuk ini saya jadi minum banyak sekali. Rapat seharian penuh memang cukup menyiksa untuk orang yang lehernya lagi gatal-gatal seperti saya ini. Apalagi, begitu sore tiba, menu snacknya ada mpek-mpek 123 langsung didatangkan dari Lampung (yang kuahnya sedapnya minta ampun itu)! Duh, saya udah ngiler-ngiler, tetapi berusaha menahan diri. Dan berhasil! Begitu rapat selesai, rasanya lega, bisa pulang dengan selamat.

Jumat malam, keadaan badan masih lumayan ok, walaupun masih uhuk-uhuk juga. Sabtu pagi kebetulan jadual potong rambut barengan mama (saya adalah tipe yang lumayan hemat kalau potong rambut, cukup 3 bulan sekali saja). Kebetulan juga, hari itu adik saya bisa ambil rehat dari kerjaannya di Bandung, jadi bisa pulang sebentar ke Jakarta untuk sekedar numpang tidur (gara-gara begitu singkatnya). Di salon, saya mulai berasa tidak enak badan dan kedinginan. Saya sempat mengemukakan ke mama kalau saya kedinginan. Saya pikir karena saya telat makan. Mana sepertinya hairstylist saya lagi agak-agak stress sehingga hasil potongan rambut saya dan mama hari itu berantakan total. Hasil potongan poni saya lebih parah daripada ”Dora the Explorer”, dan potongan rambut mama saya berubah menjadi potongan “Dora the Explorer” yang sesungguhnya. Setelah bertahun-tahun, kok kayaknya harus ganti hairstylist ya... (lihat nanti deh, soalnya hairstylist yang satunya yang kita incar ada di salon yang sama).

Pulang dari salon, dengan wajah-wajah kecewa, saya menjemput adik di rumah untuk lanjut makan siang. Saat itu sudah pukul 1.30-an. Setelah berbingung-bingung ria mau nentuin makan di mana, akhirnya kita menuju ke Q-Smokehouse di Panglima Polim. Jalanan macetnya nggak kira-kira, akhirnya pukul 2.20-an sampai juga kita. Pas lihat menu, baru ngeh kalau semua harganya melonjak drastis. Bahkan harga minumannya naik dua kali lipat. Ckckckck...Saya sih tidak bagaimana keberatan dengan kenaikannya, karena kan harga bahan-bahan juga sudah pada naik. Tetapi ada hal lain yang membuat saya agak-agak kesal. Setelah menunggu sekian lama karena kita maunya tempat yang non smoking, kitapun melakukan pemesanan. Nah, di sinilah proses naik darah dimulai. Yang namanya Q-Smokehouse, menu utamanya itu adalah smoked ribs. Eh, ternyata ribsnya SOLD OUT! Dan parahnya si waitress tidak memberi tahu dari awal kalau ribsnya habis. Padahal mustinya sebelum kita masuk, sebagai restaurant penjual ribs, si waitress sudah harus siaga kalau menu utamanya sudah tidak ada. Jadilah kita mengalihkan pesanan menjadi steak, kemudian kita juga pesan appetizer sampler. Setelah nunggu beberapa lama, si waitress itu balik lagi dan bilang kalau Chicken Quessadillanya juga SOLD OUT dan dia menganjurkan diganti dengan Fried Mushroom ! Grrrr... bener-bener deh susah sampai limit kesabaran. Saking kesalnya, kita bertiga langsung membatalkan seluruh pesanan dan berjalan keluar. Bayangkan, dalam keadaan lapar berat, setelah menunggu lama, waitress yang tidak siap siaga dengan keadaan dapur, dan makanan yang main diganti saja tanpa ada sinkronisasi antara Quessadilla dan Fried Mushroom (jauh banget kan), nggak salah lagi kalau kita angkat kaki! Sudah berkali-kali saya ke resto ini, baru kali ini saya kecewa berat. Mungkin saya masih mau balik lagi ke restaurant ini karena smoked ribsnya yang enak, tetapi lain kali saya harus memastikan kalau menu utamanya ada sebelum saya menggerutu untuk yang kedua kalinya.

Karena kesal dan ngga tau mau kemana, akhirnya mobil saya bawa putar-putar dan akhirnya sampai di Pasaraya Grande. Daripada nggak makan, mendingan ke foodcourt Pasaraya saja. Kebetulan saya butuh membeli bedak yang hanya dijual di Pasaraya Grande (lagi-lagi pingin protes sama importirnya, masak kosmetiknya hanya di jual di Pasaraya sementara parfumnya menyebar di mall-mall besar). Di Foodcourt itu akhirnya saya pesan Beef Gyros di Piccolinno’s, dan ngga tau apakah karena saya lapar ataukah karena Gyrosnya betul-betul enak, begitu makanan datang, langsung habis dengan sukses. Adik saya yang tadinya hanya pesan Tahu Pong Satay House Senayan pun dibuat ngiler-ngiler, dan akhirnya dia pesan juga. Setelah itu kita memutuskan, kalau enaknya bukan karena lapar, tetapi memang Gyrosnya beneran enak. Tetapi sepanjang makan itu, badan saya merinding tidak karuan. Keringat dingin mulai keluar bercucuran dan mama saya merasa melihat kejanggalan pada badan saya yang mulai hangat. Langsung setelah makan kita mampir ke Guardian dan membeli Panadol. Bahkan sebelum sempat dibayar, Panadolnya sudah saya makan dulu. Tapi dasar lapar mata, sehabis makan Panadol masih sempat minta mama beli Roti Boy, plus masih ke atas alias ke Department Store untuk memenuhi misi membeli bedak.

Saat menuju tempat parkir, badan ini mulai merasa tidak karuan. Akhirnya kunci mobil saya serahkan ke adik saya dan saya memilih untuk duduk saja di kursi belakang sambil kasih tau dia arah jalan. Diputuskanlah kalau tujuan kita selanjutnya bukan pulang, melainkan ke dokter. Yak, akhirnya pukul 16.45 sampailah saya di dokter, dan dokter baru praktek jam 5. Beruntunglah saya tiba lumayan on-time sehingga dapat giliran ke 3. Tapi ternyata dokternya baru keluar pukul 5.15, dan pasien kedua alias sebelum saya luamanya minta ampun...(entah apa yang diderita oleh sang kakek tersebut). Sekitar pukul 6 kurang sedikit, sampailah kepada giliran saya. Setelah diperiksa sana sini oleh sang dokter (dan juga anaknya yang kebetulan baru lulus kedokteran), disuruh menganga berkali-kali, diputuskanlah kalau saya menderita ISPA alias Infeksi Saluran Pernafasan Akut. Hua hua hua....denger namanya aja udah seram, belum lagi pantangannya. Nggak boleh ngomong terlalu banyak, nggak boleh nyanyi, musti makan bubur aja dan makan yang adem-adem, ditambah lagi musti makan obat yang dokternya saja nggak punya obatnya dan harus beli di apotek (biasa dokter ini kalau penyakitnya bisa dihandle, pasti langsung kasih obat dari kamar praktek). Dokterpun berpesan, kalau bisa saya istirahat dulu tidak bekerja selama beberapa hari. Sabtu malam itu, tidak ada jalan-jalan ke mall atau nonton di bioskop, tetapi tidur... dan makan bubur...dan makan obat...hiks hiks hiks...

Minggu pagi, berhubung sudah komitmen dengan choir, pagi itu dengan semangat berangkat ke gereja untuk misa jam 11 pagi. Tapi di sana saya sudah berjanji, nggak akan menyanyi, dan saya patuhi hari itu. Minggu siang, saya kembali makan bubur di rumah. Sorenya karena harus mengantar adik ke perusahaan travel ke Bandung di depan Hotel Kartika Chandra, sekalian kita keluar untuk dinner dan ke supermarket. Bingung-bingung akhirnya kita ke Plasa Semanggi, dan pilihan yang hangat dan berkuah adalah Ajisen Ramen (rasanya lebih menarik daripada Shabu Tei yang terletak di sebelahnya dan lebih ramai). Namanya sudah beberapa kali makan bubur melulu, begitu ketemu ramen panas dengan potongan-potongan daging sapi, nikmatnya minta ampun deh. Habis dari situ lanjut ke Hypermart JaCC (berhubung si mama punya voucher belanja gratis). Saat itu rasanya segar-segar saja, walaupun suara masih yah, serak-serak basah. Tapi hari itu saya lagi baik hati banget, sama sekali nggak membeli snack-snack asin yang menggiurkan, melainkan hanya membeli roti gandum saja.

Senin pagi, walaupun sudah diperingati dokter untuk beristirahat, saya masih tetap datang ke kantor. Toh rasanya kemarin baik-baik saja sampai malam, jadi apa salahnya ke kantor, apalagi masih ada sisa rapat dengan Big Boss dari minggu lalu yang belum terselesaikan. Sayapun membawa ransum dari rumah, bubur dan bihun ayam. Ceritanya saya nggak mau belanja-belanja di kantin belakang kantor demi kesehatan. Siang itu teman ngajak ke kantin belakang, saya tetap setia dengan bawaan saya walaupun itu berarti saya membawa lunch bento box berbentuk tabung ala Jepang lengkap dengan termos stainless steel yang membuat saya dilihatin orang-orang satu kantin yang lagi pada asoy menyantap nasi rames. Sepulang makan siang, kondisi badan mulai berasa aneh lagi. Saya batuk-batuk tidak berhenti. Saya minum terus air hangat, dan tetap batuknya nggak berhenti, sampai air mata ini mengalir. Beberapa kali saya bolak balik wece, mirip seperti ibu-ibu yang sedang ngidam, menghadap mangkuk toilet dan hoek-hoekan sambil berkeringat dingin. Sesak nafasnya juga tidak terkontrol, sampai mau mengambil nafas normal saja rasanya susah. Akhirnya begitu saya kembali ke meja kerja dengan keadaan muka memerah, dengan berurai air mata buaya (soalnya bukan karena sedih sih), saya menelepon kedua bos saya dan meminta ijin untuk pulang. Bos saya yang satu malah sampai sudah tidak kenalin lagi suara saya karena hilang. Jadilah siang itu, dengan menumpang si Burung Biru, saya pulang ke rumah, dan sampai rumah langsung terkapar dengan sukses.

Selasa dan Rabu, saya leyeh-leyeh di rumah selama dua hari. Kerjaannya hanya tidur, makan, batuk, tidur lagi, makan lagi, batuk lagi, tidur lagi, dan seterusnya. Menu makanannya kuah-kuahan terus (tapi ditengah-tengah saya mohon untuk dibelikan martabak manis, dan dikabulkan, mungkin si mama kasihan juga kali liat anaknya yang manis ini). Asli, bosan juga di rumah. Karena efek obat, pagi bangun Pukul 10-11an. Kemudian lihat acara tivi yang isinya infotainment lagi, infotainment lagi. Lanjut berita siang yang biasa dibelakangnya ada info kuliner. Lalu lanjut ada Ceriwis yang diisi dua orang yang centilnya ngga beda jauh alias si Indy Barends dan Indra Bekti (baru nyadar kalau nama mereka inisialnya sama yaitu IB, ati ati punya anak yang inisial ini, kemungkinan bawelnya dobel). Pukul 2 lanjut lagi acaranya pak Bondan Winarno yang lagi-lagi menggugah selera orang yang lagi pantang. Dengan santainya Pak Bondan ngeganyem nasi liwet dengan sambel goreng ati, ditambah lagi menyeruput soda susu. Huaaa...lengkaplah sudah beban derita visual. Pukul 3-an mata sudah capek lagi, dan bobo lagi, pukul 6-an ngelihat acaranya lomba nyanyi super-superan yang intinya cuma buat mantengin si Ivan Gunawan dan Ruben Onsu yang kadang garing tapi dinanti. Kadang dengan rasa penasaran juga tuker-tukeran nonton Dangdut Mania yang kata mama saya lebih menghibur (ngga jelas sejak kapan beliau jadi suka acara ini). Tengah malam sudah ngantuk lagi...begitulah... Life oh life...

Kamis ini, dengan semangat baru, kembalilah saya ke kantor tercinta. Suara ini masih tetap seksi sekali, walaupun mungkin sudah pulih sekitar 50%. Ternyata selama dua hari saya tinggal, di kantor ini saya melewatkan satu potong kue coklat Harvest yang dibagikan oleh teman saya yang ulang tahun. Tetapi saya senang, semua orang menanyakan kabar saya, bahkan Pak Bos malah bilang, kalau butuh istirahat lagi, silakan saja, karena kalau bolong-bolong, kerja juga nggak bisa konsen. Beliau juga berpesan, kalau nggak sembuh juga, harus pergi ke internist (memang itu sih rencana saya). Hari ini obat saya habis, tadi pagi makan dosis terakhir. Moga-moga penyakitnya nggak kembali lagi. Walaupun suara masih belum 100%, dan leher juga masih mengganjal, dengan doa restu dan usaha, marilah kita tekadkan, kalau saya harus SEMBUH BUH BUH !!!

6 comments:

  1. wah kalo gini mah gak sembuhnya jelas karena elunya yang bandel... :P lagiannn udah sakit gitu masih kesana kemari... :P

    masih ada ya acara nyanyi super2an yang ada ivan gunawan ama ruben onshu itu ya. dulu gua juga suka nonton soalnya lucu. hahaha.

    ceriwis juga gua suka banget tuh... duh jadi kangen nonton acara2 tipi indo. hehehe

    moga2 cepet sembuh yeee.. tapi ya kudu beneran dijaga kali ye.. kalo gak ntar malah ada seri ke 4 nih... (amit2 dah jangan sampe yaaa)

    ReplyDelete
  2. wah, lagi penuh derita sengsara merana kayak gini masih juga bisa nulis blog panjang kayak gini??? hebaattttt.... kayaknya sih bener, yang kudu direm "kebandelan" makan selaen bubur (hehehe), masuk kantor sebelom sembuh beneran, nonton tayangan2 kuliner di tipi... semoga cepet sembuh ya!

    ReplyDelete
  3. ya ampunnn..situ nakal jg yah dsuruh istirahat malah jlan2..hehe...cepet sembuh ya neng...

    btw mgg ini uda ngantor dgn baek2 kah?

    btw YM ga nyala neng?

    ReplyDelete
  4. Hello I just entered before I have to leave to the airport, it's been very nice to meet you, if you want here is the site I told you about where I type some stuff and make good money (I work from home): here it is

    ReplyDelete
  5. Hihihi, Leony diocehin Arman. Hehehehe. Makanya jangan bandel, bu!

    ReplyDelete
  6. sekarang pasti udah sembuh ya, jeng...kalo belom juga, harus mintak disuntik tuh hehee sama diikat. biar beneran istirahat

    ReplyDelete