Monday, April 21, 2008

No Talk During The Show, Please!

Entry saya kali ini sebetulnya hanya berpusat pada satu cerita mengenai pengalaman nonton bioskop kemarin ini. Tetapi gara-gara kejadian di bioskop itu, saya jadi teringat hal-hal menjengkelkan lainnya yang saya hadapi di Jakarta ini.

Sabtu kemarin, karena bingung mau ngapain di malam panjang, setelah dinner akhirnya saya memutuskan untuk nonton film yang sudah cukup lama tapi nggak sempat melulu untuk ditonton yaitu “Shoot ‘em Up” berduaan sama mama di Blitz Megaplex, Grand Indonesia. Berhubung film itu ibaratnya sudah hampir basi, jadilah kita kedapatan nonton di auditorium yang terkecil dengan penonton yang kira-kira hanya 20 orangan saja. Jarak antar penontonpun bisa dikatakan lengang. Dengan pasangan di sebelah saya saja, jaraknya ada dua kursi di sebelah kanan.

Begitu film dimulai, dimulai juga pembicaraan seru dari pasangan di samping saya itu. Pertama-tama sih saya tidak acuhkan, karena saya pikir, palingan mereka diskusi di depan-depannya saja mengenai cerita film tersebut. Tetapi tambah lama, bicaranya makin keras. Bukan hanya yang wanitanya saja yang bawel minta ampun, tetapi yang lelakinya juga seru menanggapi sehingga acara nonton saya itu betul-betul terganggu. Apalagi saat banyak adegan tembak-tembakan, di mana sang wanita mulai teriak-teriak sendiri dan ngoceh kalau dia nggak suka adegan tembak-tembakan dan nggak tahan melihat darah. Dalam hati saya, sudah tau judul filmnya “Shoot ‘em Up” ya sudah pasti lah banyak adegan tembak-tembakannya.

Film berlangsung terus, dan mereka berdua mengobrol dengan tambah seru saja. Konsentrasi saya dalam menonton film mulai buyar. Saat itu saya sudah tidak tahan dan akhirnya saya bilang ke Mama, kalau sepertinya kedua orang ini harus saya tegur. Tapi Mama melarang saya, dengan alasan, tidak mau cari ribut (dan takut anaknya ditonjok oleh yang laki-laki, karena umumnya di Indonesia, laki-laki itu selalu membela diri apalagi dihadapan ceweknya, dan maunya main kasar). Padahal saya tidak ingin mencari ribut karena hanya ingin menegur saja. Terang-terangan sebelum film sudah diberitahukan, “No Talk During The Show, No Cellphone During The Show”. Jadi seandainya saya menegur dan orang tersebut sampai marah, saya mempunyai alasan yang sangat kuat mengapa peneguran saya itu masuk di akal dan sangat manusiawi.

Karena larangan Mama itu, akhirnya saya mengurungkan niat saya untuk menegur mereka. Tetapi asli, saya kecewa berat. Acara nonton saya kemarin rasanya sama sekali tidak nikmat. Duh, saya kesalnya minta ampun. Dan ciri-ciri kalau saya kesal itu adalah, saya akan ngomong secara cepat sekali dalam bahasa Inggris. Jadi mulai dari keluar auditorium sampai turun di elevator, keluarlah semua pembicaraan dalam bahasa Inggris secara ngebrebet hehehe. Sepanjang perjalanan pulang, saya berdiskusi dengan Mama, betapa perlunya orang-orang seperti itu memperoleh teguran karena telah mengganggu kenyamanan bersama. Sebagai penonton yang telah membayar, saya merasa berhak untuk memperoleh suasana yang nyaman selama pertujukan berlangsung. Tetapi alasan apapun yang saya kemukakan dihadapan Mama, Mama tetap bersikeras kalau di Indonesia ini sebaiknya saya yang perempuan ini diam saja, karena umumnya orang-orang menganggap perempuan yang terlalu berani mengemukakan, apalagi di muka umum, adalah sesuatu yang tidak lazim dan tidak terlalu disukai di sini. Kalau sampai ribut-ribut, pasti yang malu itu adalah perempuan. Duh, memangnya benar ya seperti itu ? Sedih banget sih.

Ada tiga hal lagi yang akhir-akhir ini membuat saya suka kesal jika bertandang ke mal-mal di Jakarta (ini baru yang kepikiran saja). Pertama, masih menyangkut situasi di bioskop. Walaupun sudah diberitahu kalau cellphone sebaiknya di silent selama pertujukan berlangsung, tetap saja ada orang yang masih menyalakan deringnya. Yang lebih parah lagi adalah, ada yang menerima telepon dan mengobrol dengan santainya sambil tertawa-tawa di dalam bioskop yang sedang berlangsung pertunjukkan, seakan-akan sedang nongkrong di warteg atau di rumahnya sendiri.

Kedua, situasi di dalam elevator (atau orang sini bilangnya lift). Banyak sekali kejadian, penumpang yang akan masuk lift menyeruduk saja ke dalam, padahal penumpang yang akan keluar belum sempat keluar. Berapa susahnya sih menunggu sampai penumpang yang di dalam keluar, lalu kemudian baru masuk? Sepertinya semua orang di sini takut ketinggalan kereta. Belum lagi, terkadang ada orang yang berusaha keluar dari dalam lift di lantai tertentu, tetapi orang yang berdiri di depan pintu belum mau keluar di lantai tersebut. Seharusnya sebagai sesama pengguna lift yang baik, cobalah yang di depan pintu keluar dulu, mempersilakan yang di belakangnya untuk keluar, dan akhirnya balik lagi masuk. Tetapi di sini, susahnya minta ampun. Malah orang-orang memiring-miringkan diri, seakan-akan takut kehilangan spotnya di dalam lift, sampai akhirnya orang yang mau keluar dari lift seperti sedang main game ”Survivor” untuk menyelamatkan diri keluar. Yang menjengkelkan lagi adalah, susahnya orang untuk meminta tolong memencetkan tombol lift. Kemarin itu sepulang nonton, mama saya kebetulan posisi berdirinya ada di depan tombol lift. Kebetulan ada laki-laki di belakang Mama saya berdiri, butuh untuk memencet salah satu tombol lantai. Sebetulnya mudah sekali bagi dia untuk berkata, ”Bu, bisa minta tolong pencet lantai 1?”. Tetapi yang terjadi adalah, dia memaksa untuk memencet tombolnya sendiri, sehingga posisi mama saya sangat tergencet dan laki-laki itu posisinya seperti merangkul secara tidak hormat. Duh, rasanya pingin marah (sebagai akumulasi dari pengalaman di bioskop ditambah lagi dengan di lift), tetapi ditahan saja.

Ketiga, pengalaman di toilet. Kali ini saya tidak mau membahas mengenai wanita Indonesia yang lebih suka berjongkok di toilet padahal toiletnya itu adalah toilet duduk, sehingga menyebabkan dudukan toilet (alias toilet seat) menjadi kotor bukan main oleh cetakan sepatu dan akhirnya jadi cepat rusak karena sering diinjak-injak. Saya sudah anggap itu sebagai kebiasaan karena memang toilet di sini suka agak tidak higienis. Yang saya ingin bahas adalah cara mengantri di toilet. Cara mengantri yang terbaik itu sebetulnya adalah dengan berdiri di dalam satu garis. Kemudian jika ada toilet yang kosong, orang pertama di dalam antrian adalah yang berhak untuk memakai toilet itu terlebih dahulu. Tetapi di Jakarta ini lain lagi. Setiap pintu wece mempunyai satu antrian tersendiri! Waktu itu saya sudah dengan manisnya menunggu di bagian depan (bukan di depan pintu). Tiba-tiba saja serombongan gadis-gadis (yang lagaknya lebih heboh daripada artis), menyeruak masuk melewati saya dan nongkrong di depan masing-masing pintu toilet. Saat itu saking kesalnya, saya nyeletuk (tanpa memandang langsung), ”Wah, parah ya, orang-orang di sini pada nggak bisa antre.” Saat itu saya ingat kalau tangan saya dicubit oleh Mama (lantaran dia juga ngeri anaknya dikeroyok oleh serombongan remaja). Tetapi ternyata ada juga diantara mereka yang sadar, dan akhirnya malu hati, dan akhirnya mempersilakan saya untuk maju duluan. Nah, lumayan kan heheheh...

Selama ini, dalam pemantauan saya, setiap kali orang yang tidak disiplin itu ditegur, yang ada mereka malah nyolot dan menatap balik si penegur secara tajam. Jarang sekali yang mau menerima kalau mereka memang salah, dan meminta maaf atas kesalahan yang telah dibuatnya. Jika begini terus adanya, sampai kapan kita mau dilanda ketidaksiplinan itu? (Aduh, gaya ngomong udah kayak panitia P4... cape deh...)

9 comments:

  1. hal2x seperti inilah yg bikin gue males balek ke indonesia. tapi pengen banget dekat ama keluarga. jd kayak dilemma. rasanya muaaaak banget melihat pemandangan kayak gitu tiap hari. apalagi ngalaminnya.

    kenapa orang kita susah banget ya buat bertoleransi and disiplin ? belom lagi kalo ditegur bakal marah and melotot atau : suka suka gue donk !! beda ama di amerika atau singapore, yg ditegur akan malu and ngerti. negara yg katanya berbudaya tinggi, ramah tamah tapi kok.....

    belom lagi masuk ke restoran,salon dll pengunjungnya pd merokok. gak nyaman. harusnya kita malu kalo melanggar peraturan,tapi orang2x disana malah bangga.

    harus lebih banyak blogger yg nulis kayak gini kali ya, siapa tau bisa sedikit ngerti. dikit pun jadilah

    ReplyDelete
  2. aduhh betul sekali! yg kayak begitu itu lah yg suka bikin dongkol kalo pas di indo. Bukan mau membanding2kan apalagi menjelek2kan..cuma memang begitu ya keadaannya. Kesadaran masyarakat indo msh rendah..

    Kalo di neg.barat, hal2 sepele kayak di bioskop, di WC umum, atau di lift gitu udh berjalan sendirinya ya..orang udah tau sendiri aturan mainnya gimana.

    Leony, makasih ya atas ucapannya :)

    ReplyDelete
  3. yup yup betul sekali tuh semuanya itu. hahaha.

    btw gua pernah lho pas lagi nonton lion king, sebelah gua tuh anaknya belum bisa baca text, jadilah sepanjang film mamanya nyeritain ke anaknya. bete banget kan... :P

    ReplyDelete
  4. Hi Leony, met kenal yah. Saya mampir dari enzcorner.

    Dulu wkt saya masih di Jkt, saya juga suka diingetin Papa dan Mama untuk gak negur kalo ada masalah2 seperti yg kamu sebut tapi saya gak bisa. Gak peduli, saya tetap aja tegur. Argument saya adalah, we're doing our bits to 'improve' the situation. Seperti kasus kamu di toilet, mungkin aja ada yg gak sadar sehingga dengan ditegur akan jadi sadar.

    Salah satu yg membuat saya pergi dari Jakarta (selain adanya kesempatan tentunya), adalah masalah2 yg kamu sebut PLUS ketidakberdayaan kita untuk merubah keadaan: mo protes, takut ribut.

    Jadi kalo menurut saya, tegurlah dengan bebas :D. Kalo negurnya baik2, semoga yg ditegur malu. Semangat yah!

    ReplyDelete
  5. Hi Leony!

    Haduh bener banget postingnya, bener2 mewakili perasaan gw banget selama ini! Menurut gw yah, Indonesia itu sebenernya negara yang paling enak buat ditinggali, tapi orang2 begini ini nih yg bikin runyam.

    Apalagi buat kita yang udah lama tinggal di luar, kan - yang terbiasa disiplin (kalo naik escalator mau diem aja, rapat ke kiri biar yang mau mendaki escalator bisa nyelonong di jalur kanan, trus kalo di lift / kereta biar orang keluar semua dulu sebelum kita masuk, dsb).

    Dan seperti kata Mercuryfalling, emang bener banget kalo di luar negri tuh, emang sih banyak juga yang HP nya bunyi di bioskop, tapi kalo ditegor, mereka malu dan ngerti. Ga kayak orang Jakarta yang kesannya kalo kita tegur mereka malah mikir / bilang, "biasa aja dong lo! baru aja gw berisik dikit aja...bawel"

    Pengen sih rasanya bisa mengubah sikap orang2 Jakarta, tapi gw sih nyerah deh...lebih baik tabah2in hati dan maklum aja, yg penting kita jangan kayak gitu.

    Misalnya lagi, pernah ada orang di pinggir jalan lagi nyuci motor, trus waktu dia jeda dari bersih2 motornya, ee...selang airnya tuh dibiarin ngucurrr terus ga dimati2in. Lama banget, ada kali 5 menitan. Terus gw tegor, "mas, matiin dulu tuh selangnya, tau ga sih banyak negara yang kering air! Mubazir banget"

    Tapi si mas ini malah kayak...bingung...kesannya "ngomong apa sih lo? kering air apaan???"

    Padahal di luar negri, bisa2 lo digamparin orang kalo buang2 air bersih gitu...wong kalo kita mandi aja dianjurkan 5 menit aja buat ngirit air disini...eee dia yang di Jakarta malah mubazir. Kurang berpengetahuan dan kurang sadar lingkungan bgt sih.

    ReplyDelete
  6. wah..yg tentang wc cewe bener bgt tuh neng...

    cewe gw pernah nyerocos sepanjang perjalanan gara2 bete kelakuan anak2 abg dan tante2 yg ga ada mannernya waktu doi lg ngantre di wc cewe...

    ReplyDelete
  7. Hii.. salam kenal..
    hehehehhehe, kl uda tinggal lama di negara barat, emang tiba2 masuk toilet umum di mal2 jkt , otommatis antrinya dlm segaris, hehe.. gw jg gitu, tpi krn sering kepotong, ya sudah lah.. gw ikutin style indo jg .. kl ngga, kebelet pipis jg ngga tertahan :D ..
    gw jg sangat amat mendukung utk antri toilet 1 line, tpi di indo rasanya sulitnyaa 1/2 mati..

    ReplyDelete
  8. ngomongin masalah antre, gue juga mempermasalahkan antre di bioskop. karena dulu di jakarta hampir ga pernah beli tiket antre, di sini (jogja) hampir selalu antre kalo mau beli tiket bioskop. dan yang paling gue malesain adalah saat orang mau beli tiket buat rame-rame, tapi seat yang dia mau abis, jadi mesti nelpon dulu ke temen/keluarganya itu jadinya mau ambil seat dimana. grrrr sumpah deh bt bgt. apalagi kalo tau filmnya banyak peminat, pasti tau lah bakal cepet abis hot seat nya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahahah... kalo nggak salah, di Jogja juga terbatas banget kan bioskopnya. Minta ampun deh kalo sampai di depan masih telepon2an dulu. Mendingan dibatesin ya, cuma boleh di counter paling lama 1 menit! hihihi...

      Delete