Tuesday, March 11, 2008

Perkawinan dan Lagu

Saya yakin kita semua pasti setuju kalau acara perkawinan baik ibadat maupun resepsi perkawinan itu selalu identik dengan hiburan, dan dalam hal ini sudah pasti musik merupakan bagian penting dari acara. Musik bisa membawa suasana pernikahan menjadi lebih ceria dengan lagu-lagu yang didominasi oleh kisah cinta bahagia antara dua manusia, ataupun oleh bagaimana sang mempelai saling mengagumi satu sama lain dan tak dapat terpisahkan. Musik juga bisa membawa rasa haru apalagi disaat pemberkatan ada acara sungkeman yang biasanya diiringi oleh lagu yang bertutur mengenai rasa terima kasih kita atas perjuangan kedua orangtua dalam membesarkan kita. Saya masih ingat dua tahun lalu saat saya masih bekerja di negeri seberang, ketika teman kantor saya akan menikah, dia sangat hati-hati sekali memilih lagu yang akan digunakan untuk momen bersejarahnya. Dia mengumpulkan lagu, mulai dari lagu yang romantis untuk first dance, sampai lagu yang berirama cepat untuk pesta dansanya. Dan yang penting, jangan sampai ada kata-kata yang membuat mood jadi turun atau kata-kata yang kurang baik di dalam lagu-lagunya.

Lain di negeri seberang, lain pula di Indonesia tercinta ini. Memang, untuk pasangan-pasangan yang sangat peduli dengan makna lagu, pasti mereka akan memilih dan menyusun lagu yang akan dimainkan atau dinyanyikan dengan sebaik-baiknya. Tetapi kadangkala ada juga yang tidak peduli dan menyerahkan semuanya kepada panitia, atau menganggap musik hanyalah pelengkap hura-hura saja sehingga tidak perlu dipilih lagu-lagu yang sesuai. Beberapa pengalaman lucu dan aneh mengenai musik ini akan saya bagikan di beberapa alinea di bawah.

1. Waktu itu saya masih SMU dan diminta bertugas main organ untuk misa perkawinan. Saat sungkeman, lagu yang dipilih adalah lagu oldies yang judulnya “Restumu Kunantikan”. Mungkin maksudnya baik karena menantikan restu dari orang tua. Tapi coba perhatikan lirik di refrennya yang berbunyi: “ Terkatung, gelisah, gelombang menderai, belai kasihmu tak kunjung kurasakan....” Nahloh... katanya mau minta restu dari orang tua, tapi kok jadi berat banget ya mintanya...sampai pakai gelombang menderai segala. Cuma gara-gara judulnya ”Restumu Kunantikan”, bukan berarti restu orang tua kan? Suka ngasal deh emang. Tapi namanya saya masih anak kecil yang dimintai tolong, ya sudah lah, tetep aja main organ tanpa protes. Mungkin kalau sekarang diminta main lagu itu lagi, saya mengacungkan tangan nomor satu untuk protes.

2. Tentu kita semua tau lagu ”I Will Always Love You” yang dipopulerkan kembali oleh Whitney Houston. Pasti tidak ada yang menyangkal juga kalau lagu ini lumayan sering didendangkan di pesta perkawinan, dengan penyanyinya yang bersuara besar dan bernyanyi penuh penghayatan lantaran berpikir kalau arti lagu ini adalah aku akan selalu mencintaimu. Lagi-lagi mirip dengan kisah “Restumu Kunantikan” yang hanya mematok pada judulnya saja, kalau diperhatikan lagu “I Will Always Love You” ini sebetulnya adalah lagu patah hati! Liriknya saja berbunyi “Bittersweet memories, that is all I'm taking with me. So, goodbye. Please, don't cry. We both know I'm not what you, you need.” Sebenernya ini adalah lagu cinta yang sangat-sangat menyedihkan alias si wanitanya terpaksa harus meninggalkan laki-lakinya walaupun si wanita ini cinta berat, tapi kok malah dipakai di perkawinan ya?

3. Kalau ke perkawinan orang keturunan Tionghoa yang masih agak totok, pasti tidak pernah lepas dari yang namanya lagu-lagu Teresa Teng yang sangat ngetop. Terkadang malah biasanya anggota keluarga turut menyumbang salah satu lagu Teresa Teng untuk meramaikan acara. Saya berani jamin pasti ada lagu “Ni Zhe Me Suo”. Wuah, kalau ada lagu ini, terkadang yang ibu-ibu ikutan koor bersama karena lagu ini begitu terkenalnya. Kalau ditelaah, lagu “Ni Zhe Me Suo” itu menceritakan seseorang yang meninggalkan pasangannya dan berjanji untuk kembali, tetapi tidak kembali-kembali setelah ditunggu selama 365 hari…. Kacian banget kannnn…Padahal di dalam perkawinan, kita inginnya pasangan tuh setia dan mendampingi, bukannya kabur dan nggak balik-balik.

4. Hari Sabtu kemarin, dari jam 11 pagi daerah di depan rumah saya sudah penuh dengan mobil-mobil. Kebetulan Pak RT yang lokasi rumahnya di gang di samping rumah saya lagi mengadakan hajatan besar perkawinan anak lelakinya. Jalanan di depan rumahnya ditutup, lalu ada banyak kursi-kursi dan tenda, dan tentunya juga ada panggung gembira dengan organ tunggal dan penyanyi. Pertamanya sih saya nyaman-nyaman saja karena dimulai dengan lagu dangdut yang asik-asik seperti “Rindu”, “Memandangmu”, “Pandangan Pertama”… tapi sehabis gitu..tibalah saat-saat horor non-stop sampai jam 8.30 Malam! Lagunya mulai bergeser menjadi “Bang Toyib”, “Kucing Garong”, “SMS”, “Jablai” dan berbagai lagu-lagu baik dangdut maupun pop yang nggak ada hubungannya sama perkawinan sama sekali. Saya yang kelelahan setelah balik dari tugas kantor ke luar kota, sama sekali nggak bisa bobo siang. Dan saat saya mampir untuk memberi selamat kepada kedua mempelai, nampak banyak sekali pasangan bapak-bapak dan ibu-ibu yang kalau dilihat dari umurnya sih sudah bisa dikategorikan sebagai kakek nenek, tapi tetap saja berjoget dengan asyik seperti habis menenggak minuman berenergy. Yah, nampaknya di acara ini, yang penting ada hiburannya, tanpa peduli apakah mempelai sebetulnya berkenan atau tidak, yang penting hampir semua tamunya enjoy-enjoy aja coy!

5. Yang terakhir ini seharusnya tidak terjadi mengingat kedua mempelai seharusnya bisa lebih jeli dalam memilih pemusik dan lagu-lagu yang akan dibawakan. Setelah dihinggapi musik organ tunggal Sabtu kemarin, hari Minggunya saya berkesempatan untuk hadir di resepsi perkawinan putra dari tetangga saya yang dilaksanakan di sebuah hotel sangat prestisius di bilangan Jakarta Selatan. Pas masuk ke ballroom, saya melihat iringan musiknya lumayan seru dengan grand piano, biola, dan cello. Saat pembukaan alias pengantin memasuki ruangan juga oke, yaitu lagu “Come What May” yang merupakan soundtrack film Moulin Rouge. Musiknya juga grand banget deh pokoknya. Tapi setelah acara potong kue, acara musik dibuka dengan lagu yang aneh yaitu: “New York! New York!” Bukannya saya nggak suka lagu itu (suka banget malah), tetapi kok sangat tidak nyambung dengan suasana perkawinan. Kemudian dilanjutkan lagi dengan ketidakselarasan selanjutnya yaitu si penyanyi wanita dengan pedenya membuka dengan sepatah dua patah kata sebelum menyanyi “Ini adalah lagu favorit saya, dan saya persembahkan untuk kedua mempelai, Dance With My Father”. Ya ampunnn… “Dance With My Father” is such a great song, but it was so inappropriate alias tidak tepat sekali, karena lagu itu menceritakan betapa seorang anak perempuan merindukan untuk berdansa dengan ayahnya, tetapi ayahnya sudah dipanggil Tuhan. Sementara kedua mempelai orang tuanya masih lengkap dan sehat wal afiat! Bahkan di lagu itu liriknya menceritakan ibunya yang menangis di hadapan yang kuasa untuk mengembalikan ayahnya. Yang lebih tidak mengenakan untuk saya adalah betapa percaya dirinya si penyanyi perempuan, kesannya dia memberikan persembahan spesial untuk kedua mempelai dengan lagu yang ngaco total! Saya sih paham, mungkin karena video klip lagu itu adalah seorang mempelai wanita yang berdansa dengan ayahnya, si penyanyi menganggapnya itu adalah lagu perkawinan yang indah. Please lah…

6. Sebenernya yang poin ini sih bukannya cerita mengenai ketidaknyambungan lagu dengan acara, melainkan betapa pentingnya untuk memilih team yang friendly dan professional untuk sebuah acara. Di perkawinan yang sama, orangtua mempelai pria sudah berpesan jauh-jauh hari (bahkan dari tahun lalu), kalau saya harus menyumbangkan lagu untuk kedua mempelai. Saat saya menghampiri MC-nya untuk menyatakan kalau saya minta waktu untuk menyumbangkan lagu, dengan pongahnya si MC yang sok artis itu bilang kalau mau sumbang lagu harus menghubungi ketua panitia. Lalu saya tanya ketua panitianya yang mana, dan dia hanya menunjuk dengan jarinya saja “Tuh yang di sana…yang pakai baju merah”, sementara si ketua panitia itu jaraknya ujung ke ujung ruangan dengan posisi panggung. Terus terang agak tidak sopan karena saya adalah tamu, sementara si MC adalah bagian dari panitia, tetapi menyuruh-nyuruh tamu. Tapi demi menghormati permintaan orang tua mempelai, saya jalan juga ke si ketua, dan si ketua mengiyakan. Lalu saya balik lagi ke si MC, dan si MC bilang, tapi nyanyinya entar ya, setelah programnya selesai. Dalam hati saya, program apaan sih? Kok pake program segala. Lalu saya bilang kalau ini permintaan khusus dari orangtua mempelai pria, tetapi tetap kata si MC-nya tunggu saja. Satu lagu telah lewat, dua lagu telah lewat, loh kok saya nggak dipanggil-panggil juga. Tamu-tamu kan kalau terlalu malam juga bisa pada pulang. Kebetulan saat itu ada acara mingle alias orang tua dan mempelai turun dari pelaminan. Nah, si maminya mempelai pria nanya, kenapa saya belum nyanyi. Ya saya bilang, kalau si MC bilang tunggu program selesai. Lalu si papanya langsung bingung dan nggak enak hati, dan dia langsung menghampiri si MC untuk memberi giliran kepada saya. Akhirnya saya dipanggil juga dengan wajah si MC yang rada berat hati (asli, baru kali ini saya mau nyumbang lagu, apalagi atas permintaan keluarga, tapi susah banget). Akhirnya saat saya naik panggung, saya menghampiri si pianisnya dan saya minta lagu ”The Power of Love”-nya Celine Dion. Dan parahnya, si pianis ternyata nggak tau itu lagu apa !! (Darn, that’s like the most popular Celine’s song). Akhirnya saya nyerah dan memilih menyanyikan lagu ”When You Tell Me That You Love Me” yang puji Tuhan berjalan dengan lancar walaupun hanya dengan iringan piano. Loh, kok hanya iringan piano? Bukannya tadi ada full band yang megah? Setelah diteliti, ternyata selain menggunakan instrument piano dan musik gesek seperti di atas, mereka menggunakan musik digital sehingga kesannya jauh lebih keren dari permainan aslinya. Malah, alat musik gesek yang di panggung itu kesannya hanya pajangan saja karena ternyata nggak gimana keluar suaranya. Pantas saja, mau nyumbang susahnya setengah mati, seperti dihalang-halangi pakai kata tunggu programnya selesai, karena kalau di luar “program” mereka ngga punya lagunya. Kenapa sih nggak bilang aja dari tadi... apa karena memang nggak ada waktu atau takut ketahuan pakai musik digital? Saya diiringi piano juga sudah senang banget. Saya justru malah ngga enak kalau tidak bisa memenuhi permintaan dari orang tua mempelai untuk nyanyi.

Yak, kok jadi curhat sih. Panjang bener ya. Tapi kan sekarang-sekarang ini saya makin jarang mengisi blog saya, jadi ngga ada salahnya yah nulis agak panjang-panjang hehehe (maksa). Mungkin sehabis baca poin-poin di atas, jadi agak sadar ya mengenai fenomena musik perkawinan di Indonesia ini. Dan buat yang masih single dan masih merencanakan perkawinan, atau punya teman yang akan nikah, mungkin bisa membantu untuk tidak terjebak pada situasi di atas. Sekali lagi, musik itu bukan sekedar hiburan, musik adalah pembawa suasana, musik adalah ungkapan hati. Jadi jangan sampai kejadian, hanya gara-gara lagu terdengar enak, lantas dimainkan begitu saja di acara pernikahan. Kayak lagunya Yovie Nuno yang ”Menjaga Hati” kan asyik banget tuh... tapi sebaiknya jangan dinyanyiin pas kawinan yah... Please dong ah...

6 comments:

  1. gue waktu dance ama suami di kawinan, lagu endless love. cucok gak ya ? hihihi gak pernah merhatiin lirik.

    itu lagu kucing garong ngetop amat yak hahahaha

    ReplyDelete
  2. neng...

    klo gitu ntar gw merit elo yg pilihin lagu nya yak...

    tp rikues dr gw mesti ada:
    1. Bang Toyib
    2. Terlena

    hihi...

    ReplyDelete
  3. hehe bener banget tuh...
    waktu itu ada yang pernah bilang ama gua katanya mau pake lagu nya josh groban (yang dulunya lagunya michael jackson) untuk lagu pengiring dia masuk ke gereja. judulnya: she's love of my life.

    gua jadi bingung kan.... trus gua baru ngeh dah maksud dia. ternyata dia salah denger. itu lagu kan judulnya harusnya: she's out of my life! hihihihihi. jauh banget bedanya ya. :P akhirnya setelah gua kasih tau, dia gak jadi pake dah. :P

    gua juga termasuk yang sangat merasa terganggu kalo ada lagu2 aneh di perkawinan.
    dan gua juga milih2 banget pas lagu2 di kawinan gua. termasuk akhirnya gua gak memperbolehkan ada tamu yang menyumbang nyanyi! hihihihi demi menjaga kualitas musik dong... ntar kalo ada yang nyumbang nyanyi tapi bawain lagu aneh2 kayak cerita lu kan mengganggu banget.

    jadi cuma ada 3 orang yang menyumbang nyanyi, itu pun gua yang minta dan gua tentuin lagunya. hahahaha.

    tapi sebenernya ada 1 lagu yang kurang cocok tapi gua pake juga di gereja. all i ask of you. gua tau sih kata2nya kurang pas ya karena itu menggambarkan si cewek yang tadinya dalam kehidupan yang gelap karena dikekang phantom trus diselametin ama si cowok. tapi abis lagunya enak, dan rasanya orang2 gak ngeh kata2nya ya.. jadi gua tetep pake. hihihhihihi. maksa ya... :P

    ReplyDelete
  4. Hahahaha...ini postingan panjang banget, bales dendam ya secara jarang2 ngeblog.

    Wah, kalo aku dulu apa aja tak nyanyiin sesuai request, Thien mi mi...My heart will go on...dangdutan, yang penting bayaran hehehehe....

    ReplyDelete
  5. Jadi inget2 dulu kalo ke kawinan and denger pilihan lagu yang 'meleset' gitu, arman and gua cuma cengar cengir deh. Pernah ada yang lagunya sedih banget lagi. Waduh2.

    ReplyDelete
  6. hehe bener sekali. Orang suka gak peduli (atau gak ngerti arti liriknya) yg penting lagu barat yg keren..pdhl liriknya sedih atau gak nyambung samsek sama acaranya :)

    ReplyDelete