Thursday, January 03, 2008

Menginjakkan Kaki di Tanah Suci

Liburan Natal kali ini, saya mendapatkan kesempatan yang luar biasa untuk memiliki dua hal penting yaitu waktu dan kesehatan, untuk melakukan perjalanan ziarah wisata ke Tanah Suci. Buat orang Kristiani, perjalanan ke Tanah Suci ibarat melakukan naik haji bagi Muslim. Bedanya adalah tentu saja lokasinya dan kadar kewajibannya. Jika di agama Islam naik haji masuk ke dalam rukun islam ke lima, bagi umat Kristiani tidak ada kewajiban bagi kita untuk ke sana. Tetapi, tetap saja, yang namanya perjalanan napak tilas, pasti bisa ada penghalangnya kalau Tuhan tidak mengijinkan kita untuk melakukannya. Sebetulnya sudah lama tercetus ide untuk melakukan perjalanan ini, lebih tepatnya dari sejak saya masih bekerja di Amerika. Saat itu saya memang punya keinginan untuk mengajak Mama melakukan perjalanan ini di tahun 2007. Saya pikir perjalanan ini tidak akan terlaksana, karena di awal tahun 2007 lalu saya sudah pindah kerja di Jakarta, dan situasi berubah. Tetapi kesempatan itu memang ada kalau kita mencarinya. Dengan modal hutang cuti, jadilah pada tanggal 20 Desember 2007, saya dan mama memulai petualangan iman ini dengan berangkat dari Bandara Soekarno Hatta menuju Cairo.

Saya tidak akan menceritakan terlalu detail seperti apa perjalanan saya di sana, tetapi ada beberapa momen-momen menarik yang akan saya tuliskan di sini.

Kerusakan kamera. Saat transit di Dubai International Airport, saya masih sempat mengambil foto mama dengan patung Santa Claus. Setelah tiba di Cairo, kita juga masih sempat foto-foto di airportnya. Tapi begitu sampai di tujuan ziarah pertama yaitu Gereja Gantung, kamera saya mati total. Saya panik karena itulah satu-satunya kamera saku saya, dan tidak mungkin bisa mencari mall untuk membeli kamera digital baru. Tempat paling pas untuk membeli elektronik itu ada di Dubai Airport, tetapi tadi pas di Dubai, segalanya baik-baik saja. Saat di sana, saya jadi tidak bisa konsentrasi, karena terus mengutak atik kamera. Akibatnya sama saja, tetap rusak, layarnya tidak bisa menyala. Saya kesal luar biasa, dan mamapun kesal karena saya mengeluh terus mengenai kamera. Saya sebetulnya masih punya kamera cadangan yaitu kamera handycam, dan akhirnya saya menggunakan kamera dari handycam tersebut walaupun hasilnya tidak setajam kamera saku. Saya berusaha menenangkan diri. Kerusakan itu bukan merupakan akhir dunia, dan saya masih ada kamera cadangan. Hari selanjutnya, kamera saku itu saya masukkan ke dalam koper besar dan tidak saya utak utik lagi. Saya betul-betul sudah lupa soal kerusakan itu, dan malah saya lebih bisa konsentrasi dalam ibadah. Yang lebih aneh lagi, sepulangnya saya ke Jakarta, saya tes lagi kamera itu untuk dinyalakan, dan ajaibnya kamera menyala dengan sempurna. Saat itu saya merasa diingatkan Tuhan, untuk lebih sabar dan tidak kesal pada hal-hal sepele.

Merinding di Gunung Sinai. Saat guide kita menanyakan siapa saja yang mau mendaki Gunung Sinai, saya dan mama langsung mengiyakan. Dari 26 orang anggota rombongan, hanya 7 orang saja yang akhirnya memutuskan untuk melakukan pendakian karena cuaca dingin luar biasa dan medannya memang berat. Mama sebagai peserta tertua dari rombongan, sempat ditanya berkali-kali apakah masih yakin atas keputusannya. Pukul 12 malam kita dibangunkan, dan pukul 1 pagi kita sudah tiba di kaki gunung. Sebagian perjalanan menuju puncak dilakukan dengan menaiki unta. Naik unta ternyata pegal juga karena posisi kaki yang menggantung dan punggung yang tertekan oleh pelana. Perjalanan begitu luar biasa indah karena cahaya bulan purnama dan bintang menerangi bukit2 di sekitar kita. Kami juga sempat melihat bintang jatuh sebanyak 2 kali. 2 jam kemudian, kita sampai di pemberhentian unta, cuaca dingin mulai menusuk. Namun perjalanan belum selesai, kita masih harus mendaki lagi lebih dari 700 anak tangga yang terbuat dari batu-batu terjal. Napas Mama mulai tersengal. Untunglah ada seorang guide lokal bernama Abdu yang membantu untuk Mama naik ke atas. Mama terus menyebut nama Tuhan, dan akhirnya tibalah kita di pemberhentian terakhir sebelum menuju puncak. Saat itu suhu sudah mencapai angka minus, tetapi group kita yang 7 orang tadi tetap semangat. Malah kita mulai mendendangkan lagu-lagu aneh, seperti Kopi Dangdut, I’m Sorry Goodbye, 11 Januari, dan lain-lain, yang membuat group lain dari Indonesia yang kebetulan ada di situ terbengong-bengong dengan sukses. Perjalanan kembali dilanjutkan, dan saat tiba di puncak itu, cuaca dingin menusuk tulang. Hidung kita seperti mau copot dan berair tiada henti. Kita duduk menunggu, sampai akhirnya matahari mulai menampakkan sinarnya secara perlahan. Orang-orang dari berbagai bangsa dan agama mulai berdatangan, dan menyanyikan puji-pujian. Mama saya yang tadinya sudah kehabisan napas, ternyata bisa tersenyum dan kondisinya baik. Saat itu suhu yang tercatat sekitar -6 Celcius, tapi yang kami rasakan adalah kehangatan dari dalam hati. Perjalanan turun ke bawah dilakukan dengan berjalan kaki (sambil menghindari kotoran unta) selama 2.5 jam. Saat melihat Mama, saya sadar, kalau kita berniat penuh dan percaya akan kehendak Tuhan, kita pasti bisa melakukan apapun.

Menangis di Taman Getshemane dan Bukit Golgota. Saat mau melakukan perjalanan ke Tanah Suci, saya tidak mempunyai ekspektasi apapun mengenai pengalaman iman seperti apa yang akan saya peroleh di sana. Dalam pikiran saya hanya ada terpikir kalau saya akan senang karena menemukan tempat-tempat baru. Tapi ternyata yang saya dapatkan jauh dari itu. Ketika berada di Taman Getshemane, tempat dimana Yesus berdoa ke Bapa untuk yang terakhir kalinya sebelum ditangkap, saya tersentak mengingat Yesus begitu bersedih, karena dia harus menanggung dosa-dosa saya. Dan ketika saatnya tiba untuk saya menyentuh batu tempat dimana Yesus merintih pada Bapa, tiba-tiba air mata ini bercucuran, menyadari betapa rendahnya saya, dan betapa banyak sekali kesalahan-kesalahan yang saya lakukan selama ini terutama kepada orang-orang yang saya klaim kalau saya mencintai mereka. Tidak ada yang memaksa saya untuk menangis, dan tidak ada yang berusaha menciptakan suasana sedih, tetapi hati ini begitu rontok dengan sendirinya. Saat tiba di gereja Bukit Golgota dan mengantre di depan makam Yesus yang kosong, perasaan rendah itu kembali muncul. Kita hanya diberi kesempatan 1 menit saya untuk berdoa. Saya yang tadinya sudah berpikiran meminta macam-macam dari Tuhan, akhirnya hanya bisa nangis dan hanya bisa mohon ampun. Saya seperti dibawa ke peristiwa ribuan Tahun lalu, di mana Yesus mengalami penderitaan fisik dan mental karena kecintaannya kepada Bapanya, dan karena kecintaannya terhadap manusia. Saat misa di Gereja Golgota, pastor pun tidak kuasa membendung airmatanya, karena dia mengingat, kalau kasih itu mengalahkan segalanya, bahkan karena kasih itu, Yesus rela memberikan nyawanya.

Momen-momen indah lainnya akan saya ceritakan di entry berikutnya, karena entry yang ini sudah panjang minta ampun. Jadi sabar-sabar dulu ya. I’ll be back.

3 comments:

  1. wah wah kameranya ngambek disana...gak jadi deh kita kita liat pics indah2xnya.

    teman2x kristiani gue pada pengen banget kesana. gue juga pengen heheheh

    tulisan berikutnya, bakal ada pic gak ? *maksa

    ReplyDelete
  2. wah wah wah.... pasti ok banget ya... jadi pengen deh...

    btw lagu 11 januari itu apaan ya?

    ReplyDelete
  3. Hai, Shalom... Slam Knal.. Waah, JC Believer jg y...? Same like me nh... hwkwhw... Btw, seru sekali perjalanan k Yerusalem... Boleh minta FesBuk ny gk...???

    ReplyDelete