Thursday, December 13, 2007

Ketika Belanda Bertemu Indonesia

Saya bukan mau ngomongin jaman penjajahan karena tentunya jaman penjajahan telah berlalu, atau ngomongin persepakbolaan karena masih jauh dari harapan kalau team Indonesia bisa sejajar dengan tim Belanda dalam sepakbolanya. Minggu lalu, saya, Mama, dan adik menjadi tuan rumah untuk Tante H alias sepupu mama saya yang datang dari Belanda. Tadinya memang tidak ada rencana kalau kita akan mengajak tante kita ini jalan-jalan, karena kakak beliau ternyata sudah mempunyai rencana untuk mengajak dia menginap di rumahnya. Tetapi saat sabtu pagi Mama menelepon si Tante, tiba-tiba keinginan tersebut muncul, apalagi saat Mama tau kalau si Tante ini rupanya belum kemana-mana karena kesibukan saudara-saudaranya yang lain. Terakhir si Tante datang ke Jakarta adalah 11 tahun yang lalu. Saat itu mereka datang satu keluarga. Si Oom, si Tante, dan dua anak mereka, satu perempuan dan satu lelaki. Jadi rencananya, kita mau ajak si Tante jalan-jalan, lalu sorenya, kakak si Tante tinggal jemput saja di rumah kita.

Sabtu siang, kita menjemput si Tante di rumah mamanya di bilangan Jatinegara. Tujuan pertama adalah Senayan City. Sepanjang jalan, si Tante bilang, inilah yang membuat anak-anaknya malas berkunjung ke Indonesia, yaitu panasnya, beceknya, macetnya, dan seluruh makanannya yang aneh-aneh. Loh, kok aneh2? Rupanya saat mereka satu keluarga berkunjung di tahun 1996, setiap hari anaknya cuma bisa makan McDonalds, KFC, dan itupun masih ditambah terheran-heran karena di McDonalds dan KFC menyediakan nasi yang dibentuk bulat-bulat. Sementara si Tante, namanya berkunjung ke Jakarta, pasti kepingin yang tradisional seperti Soto, Sate, dan berbagai jenis jajanan yang memang nggak jelas isinya (kata orang bule loh), pedes rasanya, dan terkadang memerlukan daya tahan perut yang ekstra tinggi.

Saat masuk ke Senayan City, si Tante terheran-heran, betapa tinggi dan indahnya bangunan mall di Jakarta. Pertanyaan pertama adalah, “Non, bangun mall ini berapa lama ya ?” Begitu saya jawab, “ Kayaknya cepet deh, nggak sampai 2 tahun”… si Tante langsung bengong lagi seperti anak desa masuk kota. Rupanya di Belanda, shopping mall itu tidak ada yang super besar dan super tinggi seperti di Jakarta. Semuanya umumnya 1 sampai 2 lantai saja, dan orang-orang biasanya santai-santai kalau belanja, nggak dandan habis seperti di Jakarta. Selanjutnya kita menuju ke Kafe Betawi. Langsung deh si Tante matanya menuju ke menu dan ngomong, “Soto betawi! Isinya campur. Minumnya Es Kelapa Muda!” Wah beneran deh, si Tante langsung sigap kalau memenuhi hasrat makan. Selain itu, kita juga pesen Nasi Rawon Komplit, Lontong Cap Gomeh, Sop Buntut Goreng, Sate Ayam, Karedok, dan juga beberapa minuman. Si Tante sampai nambah nasi ½ porsi lagi.

Sepanjang makan, si Tante cerita kalau di Belanda itu jaminan kesehatan luar biasa baiknya, apalagi jaminan hari tua. Kalau sudah usia pensiun alias di atas 65 tahun (di sana tua juga ya pensiunnya), ke dokter itu gratis, lalu biaya obatnya juga jauh banget lebih murah. Biaya transportasi murah, malah ada tunjangan hari tua juga dari pemerintah. Kalau orang tua punya anak, maka akan ada tunjangan tambahan. Untuk anak-anaknya, sekolah gratis. Kalau rumahnya jauh dari sekolah dan terpaksa tinggal di asrama, ongkos asramanya juga gratis loh. Major sekolahnya juga macam-macam, bisa disalurkan sesuai aspirasi anak. Selain itu, kerja praktek alias magang untuk skripsinya boleh diambil di luar negeri. Lalu ada juga fact yang seru kenapa orang Belanda segan untuk nikah. Katanya sih, kalau cewek-cewek Belanda itu malas-malas, nggak bisa ngurusin suami. Selain itu, kalau sampai menikah lalu cerai, pihak laki-laki umumnya harus menyerahkan hartanya ke pihak perempuan. Serem kan ? Jadinya mereka lebih memilih tinggal bareng tanpa status, daripada nanti yang lelaki sengsara karena birokrasi. Menarik banget ya.

Sehabis makan, langsung deh kita menuju ke Debenhams. Si Tante sibuk milih oleh-oleh. Lucunya kalau seorang ibu itu, yang diinget itu pasti anak. Soalnya tiap kali ngeliat sesuatu, dia selalu ngomong, pas nggak ya buat si L (Si L ini anak perempuannya). Lalu kalau ngelihat T shirt yang keren, dia inget anak laki-lakinya si R. Tapi saya baru nyadar, kalau si Oom kadang terlupakan. Itulah hasrat seorang ibu yah…anaaakk melulu yang dipikirin. Yang lebih seru lagi, si Tante itu convert semuanya ke dalam Euro alias dibagi Rp. 13,400, dan langsung seneng karena ternyata nggak terlalu mahal (padahal buat saya sih mahal jugaaa….soalnya gaji saya rupiah sih). Oh iya, si Tante juga bilang, kalau di Belanda sana, orang lebih seneng pakai Kartu Debit daripada pakai Kartu Kredit karena mereka nggak terlalu seneng ngutang. Jadi lebih baik mereka tau pasti tabungan mereka di bank ada berapa, daripada gesek terus pakai Kartu Kredit, tapi nggak mampu bayar. Si Tante jadi lumayan borong deh di Debenhams (lah gimana nggak borong, orang semuanya diconvert ke Euro!).

Sore-sore kita baru inget, kalau kakaknya si Tante mau jemput pukul 5 sore di rumah. Pukul 5 kurang 10 kita panik, karena kita masih berada di Senayan City. Kita telepon kakaknya si Tante, dan menemukan fakta kalau jalanan di depan rumah kakaknya si Tante lagi digali, jadi mobil sama sekali nggak bisa lewat, jadi nggak bisa jemput. Wah, kebetulan banget, malah rencananya diubah lagi, si Tante jadi nginep di rumah kita. Sehabis pulang, langsung deh siap-siap mandi. Kita jadi lanjut lagi plan untuk makan malam. Nah, berhubung si Tante ngefans berat sama jerohan (yang di Belanda lebih illegal dan lebih susah nyarinya daripada marijuana), langsung deh kepikiran bawa dia ke tempat makan yang banyak jerohan, banyak sambel, lalapan, dan ngga akan ditemui di Belanda yaitu: Ampera. Kita ke Ampera di Jalan Sabang. Gara-gara macet, jadi baru sampai sana jam 9 malem. Waduh, si Tante seneng banget. Langsung nyomot Babat Goreng, Paru Goreng, Udang Goreng, Pepes Ikan, Sayur Asem ditambah lalaban dan sambel terasi. Dia langsung nyeletuk,”Ini tempat di jalan apa ya ?” Buat persiapan balik lagi rupanya sebelum bertolak ke Belanda.

Sehabis makan yang menimbulkan keringat itu, karena waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, kita terpaksa pergi ke satu-satunya mall yang buka sampai jam 3 pagi. Yak, kita pergi ke EX heheheh... EX anak muda, dan dua mami-mami ada di EX. Nyari parkir susah setengah mati, tapi herannya tetep aja anak-anak muda bermobil keren berjejer-jejer di sana. Si Tante yang ngelihat dandanan anak-anak muda di EX cuma bisa geleng-geleng dan terkagum-kagum. Ternyata anak-anak muda Jakarta pada berduit semua. Restaurant pada ramai sampai tengah malam, kafe-kafe juga hampir full house. Di sana kita nggak shopping kecuali masuk ke toko aksesoris. Si Tante ini emang masih tetep demen sama kupu-kupu dan akhirnya beli lagi anting-anting kupu-kupu. Dan saya ini, karena ikutan demen, jadi ikutan beli-beli juga. Bener-bener dah laper mata.

Malam itu sepulang dari EX, saya, Mama, dan si Tante nggak tidur. Kita ngobrol-ngobrol di kamar sambil nonton DVD ultah mama ke 50 tahun lalu, juga nonton DVD reuni keluarga kita. Yang ada tuh kita cekakak cekikik ngga jelas, tau-tau pas ngelihat jam, sudah jam 2 pagi. Padahal besoknya ada jadual lagi untuk jalan-jalan. Kalau diterusin ceritanya, bisa-bisa yang baca bingung, kok ada ya orang jalan-jalan melulu.

Yang pasti dari pertemuan Belanda dan Indonesia ini, kita saling belajar banyak hal. Ternyata, Belanda memang jauh lebih maju peradabannya dibandingkan dengan negara kita tercinta ini. Namun ada juga yang patut kita banggakan yaitu mall di Indonesia jauh lebih keren daripada mall di Belanda. Hehehe... (penting nggak sih yang itu untuk dibanggakan ?....auk ah glap).

Monday, December 03, 2007

KK ( Bukan Kartu Keluarga, Tetapi Kartu Kredit)

Selama proses pencarian pekerjaan di Jakarta, saya nggak pernah kepikiran untuk segera membuka account kartu kredit. Maklum deh, pengeluaran paling hanya ongkos bensin, itupun pinjam Mama dulu, karena kan masih belum tau nanti kerja di mana, sehingga kalo bisa sih, bank yang dicari kan sebaiknya lokasinya dekat dengan tempat kerja. Padahal orang-orang sudah bilang, kalau di Jakarta nggak punya kartu kredit tuh hampir nggak mungkin. Apalagi dengan banyaknya offer-offer menarik, seperti beli 1 gratis 1 untuk nonton di cineplex, discount-discount menarik… wah, ngiler juga sih.

Apakah yang membuat saya bengong saat saya kembali ke Jakarta? Ternyata orang-orang Jakarta itu hebat-hebat bo…koleksinya lumayan manteb, yaitu koleksi kartu kredit. Waktu awal tahun ini, saya lagi interview kerjaan, siang-siang saya kelaparan, dan akhirnya stop di restaurant cepat saji di bilangan Sudirman. Di depan saya ada 2 orang ibu mengantri untuk pesan paket ayam. Begitu giliran mau bayar, dia nengok ke temennya, rupanya dia nggak bawa uang cash, jadi mau pinjem temennya dulu. Orang nggak bawa cash sih memang sudah biasa, tapi ya, yang paling menakjubkan itu, kartu kreditnya lebih dari sepuluh!! Yang lebih menakjubkan lagi adalah, ternyata rata-rata para professional di Jakarta ini memang mempunyai beragam kartu kredit. Maklum, biasanya di tahun pertama, iurannya gratis.

Sampai pada akhirnya saya sudah mulai bekerja, dan merasakan juga kebutuhan untuk menggunakan kartu kredit. Kebetulan di kantor sedang ada perjanjian dengan salah satu bank di Jakarta, sehingga saya mendapatkan priviledge untuk mendapatkan penawaran langsung kartu kredit dari bank tersebut. Nah, di sini itu anehnya, kalau mau bikin kartu kredit pakai diwawancara segala, mesti pakai slip gaji segala, padahal saya baru saja masuk kerja. Lalu pakai periksa history pekerjaan segala, dan embel-embel lainnya. Akhirnya saya cukup bilang ke orangnya:”Begini ya Mas, saya baru kembali dari Amerika. Dulu kerja di Amerika. Dulu kartu kredit saya ada A, B, C, semuanya platinum. Tapi di sini baru masuk kerja. Jadi terserah Mas aja gimana…” Eh, ngga taunya nggak berapa lama kemudian kartunya dateng, di dalam box cantik berwarna hitam. Ternyata dapet oi platinum...lumayaaannnn….

Nggak beberapa bulan kemudian, datang lagi perwakilan dari bank lain yang kebetulan ada perjanjian juga dengan kantor. Nah, ditawarinlah lagi itu kartu kredit. Kali ini rupanya nggak semudah bank yang sebelumnya. Bank yang sebelumnya setelah saya jelaskan keadaan saya yang baru kembali dari luar langsung mengerti. Nah kalau bank yang ini, agak-agak rese. Pertama di depan saya, dia janji mau kasih kartu platinum ke saya dan salah satu atasan yang ikut mendaftar. Tetapi beberapa hari kemudian dia telepon lagi, nanya soal slip gaji dan lain-lain. Saat itu saya cuma bilang, “Kalau di tempat saya, nggak setiap saat slip gaji di print, dan dari bank lain yang namanya lumayan besar juga, saya sudah mendapat kartu platinum, karenanya nggak usah takut saya nggak kuat bayar.” Kalau atasan saya, saking kesalnya ditanya-tanya lagi di telepon, dia hanya bilang:”Ya udah, saya kan udah punya kartu kredit banyak. Jadi kalau dapet yang ini ya syukur, nggak juga nggak apa-apa.” Akibatnya adalah beberapa minggu kemudian kartunya datang, dan hasilnya: saya cuma dapet kartu gold, dan atasan saya nggak dapet apa-apa. Ampun dah itu salesman, tinggi hati banget sih! Padahal kan seharusnya salesman bank itu menjaga relation ya dengan perusahaan. Untunglah bos saya ini orangnya pengertian.

Pertamanya sih saya santai-santai aja. Udah bagus dapet gold lah, daripada nggak dapet apa-apa. Lagian, umumnya yang mendapatkan tawaran khusus itu umumnya gold dan platinum. Jadi punya gold aja sudah cukup. Tapi ternyata kekesalan terjadi pada saat saya berada di airport keberangkatan internasional. Ternyata khusus untuk bank tersebut, pemilik kartu platinum mempunyai lounge sendiri, dengan jendela besar dan pemandangan yang indah dari area bandara. Ditambah lagi, saya melihat makanannya berderet-deret dengan indahnya, menunya pun istimewa. Meja-mejanya cantik dan modern. Sementara untuk kartu gold hanya mendapatkan akses ke lounge biasa, seperti kartu kredit dari bank-bank lainnya. Hikssss… tau gitu, saya ngotot aja ke si salesman bank. Bingung aja, udah dijanjiin platinum kok, malah dapetnya gold.

Tapi kebingungan terbesar sebetulnya ada pada diri saya sendiri. Saya yang nggak sampai beberapa bulan lalu cuek soal kartu kredit, ternyata sekarang kok jadi mikirin keuntungan-keuntungannya. Cuma ada juga kelemahannya kartu kredit ini. Gara-gara kartu kredit pada menawarkan diskon di tempat-tempat makan, saya yang tadinya cuma mau makan gado-gado atau ketoprak, jadi malah makan steak lantaran tergiur diskon dari kartu kredit. Jadi sebenernya saya untung nggak sih? Nggak tau juga tuh… Yang pasti sih, yang untung ya perusahaan kartu kreditnya sama restaurantnya kalau punya customer suka makan kayak saya hehehe.