Friday, November 30, 2007

Setahun Yang Lalu

Tanpa terasa sudah mau December lagi. Kayaknya belum lama saya menginjakan kaki kembali ke kota kelahiran tercinta ini, eh tidak taunya sudah hampir setahun. Apa yang terjadi saat ini setahun yang lalu ? Setahun yang lalu, di tanggal 29 November ini, saya masih berada di client terakhir saya di Madison. Sore itu, ditutup dengan mengucapkan selamat tinggal kepada client yang sudah saya temani selama 2 tahun, client di mana saya paling banyak belajar. Untuk makan siang, atasan saya membolehkan saya memilih meal terakhir yang akan saya makan bersama team, dan sengaja saya memilih restaurant Jepang, supaya teman-teman saya jadi berani makan sushi. Makan siang berlangsung sangat menyenangkan, walaupun saya tahu di dalam hati, saya akan kehilangan mereka semua dalam waktu dekat.

Besoknya, tanggal 30 November 2006 saya mengambil 1 hari off untuk membereskan segala barang-barang saya yang berkaitan dengan client-client dan pekerjaan saya, dan tanggal 1 Desember 2006, semuanya itu saya serah terimakan ke kantor. Kartu kredit yang disponsori perusahaan dipotong belah dua, lalu ID tag yang saya pakai disobek (sedih banget), semua bahan-bahan training dan buku buku panduan saya serahkan (saya sampai membawa keranjang laundry saking banyaknya) dan di hari itu, saya mengirimkan email perpisahan ke teman-teman. Waktu menulis email itu, air mata saya sempat menetes, mengingat kembali memori-memori pada saat pertama kali menginjakan kaki untuk interview, hari pertama kerja, client pertama, dan membayangkan akan pergi jauh dari negara yang saya tinggali selama enam tahun. Di email terakhir itu saya tuliskan semua orang-orang dikantor yang berperan dalam pembentukan diri saya selama bekerja, dan saya banyak mendapat balasan yang betul-betul mensupport saya dengan keputusan saya untuk pulang.

Mulai besoknya, saya sudah sibuk dengan memilah-milah barang, yang mana yang akan di pack untuk dikirim dengan kargo, mana yang akan disumbangkan, mana yang akan dibawa pulang. Aduh, saat membereskan itu, ada juga perasaan sedih disamping perasaan excited karena akan pulang. Apalagi saat memilah-milah furniture dan melihat lagi buku-buku pelajaran, jadi ingat lagi, kelasnya kayak apa, gurunya kayak apa, teman-temannya kayak apa. Tapi mau gimana lagi, pelan-pelan semuanya musti ditinggal. Masih beruntung saya mendapatkan pengganti untuk melanjutkan sewa apartemen saya, dan kerennya lagi, furniture saya sebagian besar juga dibeli oleh si penyewa lanjutan ini. Tapi biar bagaimana, ditengah kebetuntungan itu, perasaan sedih juga masih tetap ada.

Tanggal 11 December 2006, semua barang-barang saya yang akan dikirimkan lewat kargo dibawa ke Chicago untuk diserahterimakan ke gudang si carrier. Rencananya baru akan tiba di Jakarta di bulan February 2007. Sementara itu, di apartemen saya, saya juga mengepak 1 box barang yang di ship ke California ke rumah Oom saya, karena sebelum pulang saya akan mampir ke sana dahulu. Kenapa saya ship sebagian barang? Karena batas bawaan barang pesawat domestik hanya 2 kali 50 lbs, sementara untuk penerbangan internasional bisa 2 kali 70 lbs. Lumayan bisa nambah 40 lbs jika barang dikirim terlebih dahulu. Jadi nanti pas di California, boxnya dibongkar dan barang-barangnya bisa dimasukkan ke dalam koper.

Tanggal 15 December 2006, malam terakhir saya di Milwaukee. Siangnya, saya makan siang di restaurant Perancis, Lake Park Bistro, tempat di mana saya merayakan ulang tahun saya ke 24, 4 bulan sebelumnya. Tanggal 15 itu juga ada Holiday Partynya perusahaan saya yang lama. Kebetulan mantan teman kantor boleh membawa tamu, jadilah saya ikutan dijemput dan diajak oleh dia. Malam itu acaranya selain makan-makan adalah karaoke. Karaoke di Amerika itu lain dengan di sini. Ada 1 panggung dengan televisi kecil yang hanya memperlihatkan teks lagunya saja. Malam itu saya membawakan lagu: “Total Eclipse of The Heart”, dan saat itu sambutannya meriah sekali. Saya juga mengatakan, kalau malam itu adalah malam terakhir saya. Saya memilih lagu Total Eclipse, karena hati saya seperti sedang mengalami gerhana oleh kesedihan yang mendalam meninggalkan kota tercinta ini. Malamnya, saya dijemput oleh teman saya Arum dan Nouldy. Kita makan di Bucca di Beppo saat waktu hampir tengah malam, dan di atas tengah malam, kita menuju ke taman Katedral yang diisi dengan lampu-lampu hias, menggambarkan keindahan Natal di saat itu. Foto-foto terakhir kami, menjadi saksi kegilaan kita yang saat itu tertawa-tawa, padahal sebetulnya hati sedang sedih karena akan berpisah.

Tanggal 16 December 2006, siang itu kali terakhir saya menginjakan kaki di airport Chicago O’Hare. Saya diantar oleh Arum dan Nouldy untuk penerbangan menuju San Francisco. Segalanya terjadi begitu cepat. Saya masih ingat saat pertama kali mendaftar untuk masuk sekolah di Madison, saat rambut saya masih bondol dan super tomboy, sampai akhirnya segala transformasi itu terjadi selama saya menuntut ilmu dan bekerja di sana. Saya tidak pernah menceritakan hal ini di blog saat detik-detik itu terjadi. Baru kali ini saya menuliskannya. Walaupun sedikit saja saya berbagi, moga-moga yang membaca bisa membayangkan keadaan saat itu. Salju yang bertebaran, rasa dingin yang menusuk sampai ke tulang, namun tetap indah, seindah berjuta pengalaman saya di sana.

Wednesday, November 28, 2007

Pacar dan Calon Suami

Mengingat teman-teman saya sudah mulai banyak yang menikah, tentu saja pertanyaan soal menikah pernah juga terlintas di benak saya. Saat saya berumur di bawah 25 tahun, mungkin pertanyaan soal menikah itu bisa saya lewatkan saja dengan meyakinkan diri kalau usia saya masih terlalu muda untuk memikirkan hal itu. Tetapi begitu usia sudah menginjak 25 tahun dan mailing list mulai dibanjiri oleh undangan pernikahan teman seangkatan baik dari dalam maupun luar negeri, batin ini tergelitik juga. Saya jadi menyadari, kalau saya sebetulnya tidak terlalu muda lagi, malah mungkin kalau di tahun 1970-an usia saya ini sudah sangat matang untuk memulai kehidupan berumah tangga.

Yang paling lucu sih, kalau kebetulan saya ada di rumah dan mengangkat telepon, dan jika telepon itu berasal dari Oma, atau Oom dan Tante saya, pasti ditanya: “Gimana nih? Udah ada yang nyantol belum?” atau mirip seperti iklan rokok di televisi saya juga ditanya: “Kapan nih Non undangannya?”. Mungkin orang jaman dulu menganggap, kalau ketemu, lalu sama-sama sayang, lalu bisa langsung lanjut ke jenjang pernikahan. Tiba-tiba anaknya ngebrojol, lebih dari 5, dan tiap sore sang mami ngederetin anaknya di ruang makan, dan disuapin satu-satu. Tapi hari gini? Tentu banyak sekali pertimbangan dari A sampai Z, karena menikah itu bukan hanyalah pertautan dua jiwa yang saling menyukai. Saya sangat suka ungkapan menikah itu adalah: Menempuh Hidup Baru. Hidup yang disebut Baru itu tentunya bukan hanya diisi dengan keindahan, malah mungkin tantangannya lebih banyak daripada embel-embel indahnya. Nggak usah nunggu sampai berapa tahun perkawinan. Mungkin di malam pertama aja, yang biasa bobo sendirian, sekarang harus tidur seranjang berdua. Yang satu ngorok, satunya lagi nggak bisa tidur, lantas pagi-pagi moodnya jelek, berantemlah.

Bukannya saya nggak mau untuk segera menikah. Malah saya bisa bilang kalau saya ini ingin sekali menikah. Tetapi memutuskan untuk menikah itu kan nggak mudah. Dalam pencarian pasangan, saya sudah nggak mau cari sekedar pacar saja, tetapi saya sudah mau mulai mencari calon suami. Kategoripun berubah, dari sekedar yang klise-klise seperti penampilan fisik, plus nggak pelit saat mentraktir saya, dan hal-hal lainnya yang kelihatan dari luar, tetapi harus ditambah lagi yaitu mempunyai kesiapan untuk melangkah lebih jauh dalam lingkup yang lebih serius. Makanya, kalau cari pacar itu, jauh lebih gampang daripada mencari calon suami. Bersama dengan calon suami, tentunya kita bisa punya visi, membayangkan ke depannya akan dibawa kemana rumah tangga itu. Bersama dengan calon suami, tentunya kita merasa selalu aman terlindungi, baik fisik maupun mental. Bersama dengan calon suami, kita juga tahu bagaimana posisi kita di keluarganya, dan posisi dia di keluarga kita, dan membayangkan dua keluarga sebagai satu kesatuan. Makanya, percaya atau nggak, kalau saya bertemu dengan seseorang, lalu seseorang itu juga mencari seorang calon istri, dan kita bisa memperoleh bayangan soal masa depan (tentunya ditambah dengan embel-embel yang sebetulnya mayan penting juga sih…hehehe), bisa saja saya segera menikah.

Yes, it’s simple but complicated at the same time. Mungkin yang membaca juga heran kenapa saya membuat tulisan seperti ini. Sedikit background, weekend kemarin, saat saya ada di mall, saya banyak melihat orang-orang terutama pasangan-pasangan muda yang sedang dimabuk cinta. Sementara, saat itu saya lagi makan es aja beduaan sama “pacar” saya yaitu si Mama tercinta. Si Mama sempet nyeletuk, kalau si anak perempuannya ini sebetulnya lebih qualified dibandingkan dengan cewek-cewek di mall yang kebetulan ternyata hari itu “beruntung” membawa gandengan. Dan saat itu saya mikir, saya juga bawa gandengan kok, alias si Mama hehehehe. Mungkin pada saat saya menikah nanti, waktu saya untuk gandengan dengan si Mama ini bakalan berkurang jauh. So I must say that I was really lucky that I got the chance to hang out with my Mom on the weekend, makan es bareng-bareng, sambil ngomentarin pasangan-pasangan yang lalu lalang, for I might not have that much time later in the future. Bener-bener beruntung kan? Dan sabar aja ya Ma, for I will bring to our family, your future son in law that you’ll be proud of. AMIN.

Friday, November 23, 2007

Winter Depression vs Rainy Season Depression

Waktu saya masih tinggal di negara dengan empat musim, setiap bulan-bulan segini ini, sudah tidak seimbang lagi pembagian antara siang dan malam. Di musim gugur yang mulai beranjak menjadi musim dingin, waktu gelap itu tentunya lebih panjang daripada waktu terang. Pukul 8 pagi, suasana masih seperti pukul 6 pagi pada waktu normal, dan pukul 4 sore, rasanya sudah seperti senja. Di musim seperti ini, ada suatu syndrome yang menyerang orang-orang yang tinggal di daerah empat musim, yang dinamai Winter Depression. Umumnya orang-orang menjadi lebih murung, dan lebih cepat bosan. Intinya, seperti tidak ada harapan akan kehidupan. Bawaannya pingin marah-marah dan nggak kepingin keluar dari rumah lantaran di luar dingin dan gelap.

Uh, ngebayanginnya aja udah ngga enak banget kan. Anehnya, saya ini nggak gimana merasakan apa yang disebut dengan Winter Depression itu selama tinggal di sana. Saya dulu malah nggak percaya kalau syndrome ini betul-betul ada sampai teman saya mengalaminya dan dia menyatakan kalau syndrome tersebut benar-benar nyata dan bisa di cek di internet. Saya dulu malah bilang ke teman saya kalau semuanya itu cuma perasaan diri sendiri saja, asal kita bisa positive thinking, pasti semuanya itu segera berlalu. Dalam kenyataannya bener juga, tahun depannya temen saya itu ibaratnya sudah “sembuh” dari syndrome itu dan dia merasa lebih happy. Sukseslah teori saya, kalau depresi seperti itu memang sebetulnya tidak ada, dan perasaan nggak enak itu mudah dikendalikan.

Tahun ini, di bulan November, musim hujan mulai menyerang Jakarta. Di sore hari, umumnya langit menjadi agak gelap, dan hujan turun hampir setiap hari. Saya tidak pernah mendengar soal Rainy Season Depression, tetapi saya merasa, saya sedang mengalami hal yang tersebut. Mungkin ini adalah Winter Depression versi Indonesia yang kebetulan hanya mempunyai dua musim saja. Semangat saya menjadi turun. Keinginan untuk mix and match pakaian juga drop. Pekerjaan sepertinya menjadi membosankan. Di taksi bawaannya tidur melulu. Pulang ke rumah juga nggak kepingin ngapa-ngapain. Nulis blog aja jadi males minta ampun. Anehnya, napsu makan agak-agak naik… hehehe... lagi-lagi lanjut ke cerita wisata kuliner.

Minggu kemarin, pas hari Jumat malam pulang ke rumah, ngelihat mama bikin ketupat komplit, yang isinya ada ketupat, sayur pepaya muda, semur tahu kentang telor daging, sambel goreng ati ampela, plus emping dan kerupuk. Langsung deh embat 1 mangkok ketupat. Belum lagi di rumah selalu ada buah mangga, jadi sehabis makan, break sejenak, lanjut lagi dengan makan mangga. Hari Sabtu, karena ada rencana nonton jam 11.30 pagi di Blitz, jadilah sarapan dulu di rumah. Lagi-lagi semangkok ketupat, tapi tanpa ketupatnya, tetep sih sayur-sayurnya komplit. Sehabis nonton, udah mulai lapar lagi, makan 1 piring Baso Tahu Campur-nya Saboga, ditambah 1 mangkok Es Kacang Merah Coklat-nya Satay House Senayan. Dari situ lanjut ke Gereja St. Theresia untuk Misa sore. Pulang ke rumah, malamnya sih ngga kemana-mana. Tapi ini mulut walaupun nggak makan besar, tetep comot sana comot sini. Ya buah lah, ya cake lah, ya keripik singkong lah, ya kue kering bikinan mama lah (oh iya, si Mama juga bikin kue kering dengan mentega special sampai 3 toples, uenak bangettt).

Hari Minggunya, pagi-pagi memenuhi undangan pembubaran panitia acara kawinan temen saya kemarin di Golden Ming Restaurant, Acacia Hotel, yang berarti: Makan Dimsum all you can eat. Di meja saya, isinya hampir anak-anak muda semua dengan nafsu makan yang besar, dan gilanya, saya juga terpengaruh untuk makan banyak… nggak tau deh ada berapa puluh porsi yang dihabiskan di meja kita. Sampai-sampai, meja kita ini dapat operan dari meja tetangga karena kecepatan makan di meja kita paling tinggi dibandingkan meja-meja lainnya. Ditambah lagi, tuan rumah juga ada di meja saya, sehingga dia selalu saja nambah-nambah order sampai kita akhirnya nyerah juga (walaupun tetep aja abis). Pulang dari makan siang, saya leyeh-leyeh di rumah sambil nonton TV, dilanjutkan dengan nonton DVD pinjeman License to Wed. Minggu malam, lanjut lagi makan bertiga ke Mandarin Spice, Senci. Pesen menunya: Ubur-Ubur Polos, Kepiting Soka Goreng Lada Garam, Daging Sapi Cah Jahe dan Daun Bawang, Ayam Saus Bawang Merah, Gurame Saus Thailand, Tahu Hot Plate, plus saya masih pesan dessert Kuo Lin Kau. Bayangkan, betapa banyaknya makanan yang masuk ke badan saya.

Besok paginya nimbang, seperti biasa kan naik… tetapi saya nyantai aja, nggak bingung seperti biasanya, malah cenderung pasrah. Bener juga kalau ciri-cirinya syndrome ini tuh seperti orang yang nggak punya harapan. I don’t wanna eat my own words, but I guess, I’m really having the Rainy Season Depression..DAMN!

Wednesday, November 14, 2007

MC Gadungan

Akhir Januari tahun ini, kira-kira 1 bulan setelah saya berada di Indonesia, teman saya R menghubungi saya dan mengajak ngopi bareng di Coffee Bean Plaza Indonesia. Si R ini teman saya semasa SMP. Selama 3 tahun berturut-turut, walaupun kita nggak pernah sekelas sama sekali, tetapi kita menghabiskan waktu setiap hari saat pulang sekolah di mobil jemputan. Mobil jemputan kita itu Kijang Putih tahun 1982, dikendarai oleh sopir edan tenan yang bernama Pak Kusno, yang nyetirnya gaya campuran antara offroad dan rally F1. Nah, mobil jaman dulu ini, kursi depannya itu nyambung, bisa diduduki oleh 3 orang. Selama hampir 3 tahun bersama itu, posisi duduk kita hampir selalu sama yaitu, sopir di paling kanan, saya di tengah, dan teman saya si R ada di paling luar karena dia turun duluan. Selama itu juga, si R yang memang tidak terlalu banyak ngomong, selalu menjadi pendengar setia saya yang kebetulan memang kelebihan jatah ngomong alias bawel. Setelah 7 tahun kita lulus SMP, di tahun 2004 lalu, tiba-tiba saya berhubungan lagi dengan si R melalui Friendster, lalu dilanjutkan dengan chatting. Tak disangka, si R yang saat itu sedang menuntut ilmu di Toronto, Canada rupanya kangen juga sama saya, dan memutuskan untuk mengunjungi saya di Madison, Wisconsin. Jadilah si R terbang dari Canada, dan menghabiskan 1 minggu yang sangat mengesankan bersama saya.

Rupanya, kenangan manis itu masih tersimpan di benaknya. Dan saat kita sedang duduk ngopi di Coffee Bean bulan Januari itu, dia mengutarakan niatnya untuk meminta saya menjadi Master of Ceremony di acara pernikahannya…..WHAT ? Nggak salah denger tuh ? Saya diminta menjadi MC ? Seumur-umur saya nggak pernah jadi MC, apalagi untuk perkawinan. Dan begitu saya tau kalau resepsinya akan dihadiri lebih dari 1000 orang, saya tambah gemetar saja. Tetapi si R ini rupanya menaruh kepercayaan besar kepada saya, sehingga sayapun merasa mendapat kekuatan ekstra untuk mengiyakan keinginannya itu. Setelah beberapa kali pertemuan dengan panitia dan beberapa kali urun rembug dengan mempelai, akhirnya tugas saya berkembang: menjadi MC di Gereja, menyanyikan 1 lagu untuk sungkeman mempelai di Gereja, menjadi MC di resepsi, dan menyanyikan duet 1 lagu di resepsi (yang ini surprise dari Mama si R untuk dipersembahkan ke putrinya, jadi kita sempatin beberapa kali latihan diam-diam sabtu pagi dan jam pulang kantor).

Saat-saat menegangkan itu hampir tiba. Dari sejak Jumat, saya sudah tidak terlalu konsentrasi bekerja karena terlalu tegang. Kebetulan memang data-data untuk membuat laporan belum masuk, sehingga saya mempunyai kesempatan untuk mempersiapkan bahan-bahan yang akan digunakan untuk hari Minggu. Karena saya betul-betul takut salah ngomong, saya bikin 1 booklet kecil yang isinya apa saja yang harus saya ucapkan, paling tidak selama prosesi masuknya rombongan mempelai dan keluarga. Jadilah selama setengah hari di kantor, kerjaan saya ngutak ngutik word document, lalu ngeprint dan pakai pemotong kertas supaya bentuknya mirip kertas-kertas kecil yang dipegang oleh MC professional (serasa Becky Tumewu gitu loocchhhhh….).

Hari Minggu, 11 November, 2007, sampailah kita kepada hari istimewa itu. Siang hari, saya sudah tiba di gereja agak lebih awal karena saya sama sekali belum latihan untuk lagu sungkeman. Si organist hanya tau lagu saya berdasarkan CD berisi suara saya yang saya titipkan. Jadilah satu kali saja latihan, dianggap beres. Untunglah pas nyanyi, betul-betul beres. Yang seru itu, pas sehabis misa kan giliran foto-foto, terpaksa dipotong di tengah-tengah gara-gara petugas catatan sipil sudah marah-marah. Kasianlah teman saya itu karena tidak seluruh keluarga mendapatkan giliran foto bersama di Gereja. Saya sebagai pemandu, cuma bisa pasrah saja. Pegawai pemerintah, mana bisa dilawan? Setelah misa perkawinan, saya pulang ke rumah sebentar, jebar-jebur, sanggul rambut asal-asalan, ganti baju, tebalin make up sedikit, dan langsung berangkat lagi menuju ke tempat resepsi. Kebetulan acara teman saya ini tidak menggunakan jasa Wedding Organizer, melainkan memberdayakan seluruh anggota keluarga sebagai panitia. Jadilah saya juga ikut merangkap melakukan pelatihan untuk pagar ayu dan pagar bagus, orang tua, kemudian briefing juga untuk petugas confetti dan lain-lainnya, dan itu dilaksanakan pukul 5.30 sore sementara acara akan dimulai pukul 6.30.

Pukul 6.30 saya mengumpulkan seluruh petugas, kemudian kita doa bersama, dan pukul 6.45: It’s SHOWTIME! Orang tua mulai masuk, diikuti saudara kandung, lalu dimulailah 5 pasang pagar ayu dan bagus, menyalakan 8 pasang lilin menandakan perjalanan cinta kedua mempelai selama 8 tahun, lalu kedua mempelai memasuki ruangan. Lanjut lagi dengan penuangan champagne, lalu toast, lalu potong kue, bagi-bagi kue ke keluarga, pemberian kue antar mempelai, dan ditutup wedding kiss. Jangan lupa letupan confettinya harus kompak, jadi kasih kodenya juga musti pas. Belum lagi memberi pengantar untuk pengisi acara, ada yang mimpin doa, ada sumbangan permainan piano, sumbangan lagu, lalu saya juga nyanyi bersama maminya mempelai wanita, tentunya sambil diselingi oleh singer dan pianist yang memang sudah diorder untuk ngisi acara. Lanjut lagi dengan acara kuis serta lempar bunga. Memanggil para lajang untuk ngumpul di depan pelaminan itu ternyata nggak segampang yang diduga, karena banyak yang malu-malu. Tapi untunglah, begitu pelemparan sudah hanpir dimulai, mulailah pasangan berduyun-duyun ke depan dan siap-siap berebut buket bunga.

Terakhir, acara foto bersama. Ternyata para kubu yang dipanggil untuk foto, susah banget dikumpulinnya, terutama yang orang-orang tua. Kalau anak muda sih memang banci foto. Namanya rekan kerja, atau teman SMP SMU, wah siap banget deh. Kalau yang keluarga yang isinya bapak dan ibu, mau naik aja, tiap langkah pakai diselingi acara ngobrol dan cipika cipiki. Fotografernya saja sampai nggak sabaran, apalagi saya yang MCnya manggilin berkali-kali. Belum lagi pas di atas pelaminan, saking besarnya keluarga dan banyak anak-anak kecil, diaturnya lumayan lama. Saya sebagai MC juga mesti menjadi penghadang untuk orang-orang yang mau salaman, sementara pengantin sedang foto bersama. Sebetulnya saya sudah punya listing siapa saja yang akan diajak foto bersama, tetapi semuanya itu buyar karena kedua mempelai punya permintaan sendiri lantaran keluarganya pada nggak sabar pingin pulang.

Selesai acara, saya lemas ditambah pegal-pegal karena berdiri terus sejak sore sampai malam. Perut saya yang kosong akhirnya keisi juga sekitar jam 10 kurang. Keluar dari gedung resepsi, saat jalan menuju tempat parkir, tiba-tiba saya diguyur oleh hujan mendadak yang derasnya langsung BYUR….Sementara saya yang pakai gaun strapless, lari-lari ke mobil dalam keadaan basah kuyup. Sampai rumah ganti baju, bersihin make up, dan langsung tidur. Besok paginya hari Senin, nggak bisa bangun…. badan nggak bisa diangkat, kepala pusing keliyengan dan mulai anget-anget. Saya tidur sampai jam 10 pagi, bangun untuk makan sebentar, jam 2 siang tidur lagi sampai jam 5 sore, lalu malam tidur lagi seperti biasa. Inilah kombinasi hebat dari: Kecapekan, Telat Makan, dan Kehujanan.

Pelajaran untuk seluruh MC wanita gadungan:
1. Latihanlah untuk berdiri berjam-jam dengan hak tinggi dan gaun.
2. Makanlah dengan cukup sebelum acara dimulai
3. Latihlah tenggorokan anda untuk mengucapkan kata-kata yang sama berulang-ulang, apalagi kalau memanggil orang-orang tua untuk foto bersama.
4. Cobalah untuk memasukkan beberapa selipan humor agar kedua mempelai tidak terlalu tegang.
5. Berdoalah semoga acara berjalan dengan lancar.
6. Bawalah payung! --> yang ini optional, seandainya tempat parkirnya outdoor hehehe…

Monday, November 05, 2007

Bencana di Saat Bahagia

Bencana Pertama

Yang ini sebetulnya belum bisa dikategorikan bencana sih. Apalagi dibandingkan dengan bencana kedua yang akan saya ceritakan di bawah ini. Lebih tepatnya, ini adalah ungkapan kekecewaan yang mendalam terhadap service salah satu Japanese restaurant di Jakarta yang namanya F*raibo yang berlokasi di Senayan City (Mungkin semuanya udah pada tau kali ini restaurant apa, tetapi sebaiknya saya kasih tanda bintang aja deh di huruf kedua. Nanti bisa-bisa saya dikejar lagi sama pemiliknya kalau sampai dia search di Google dan masuk ke sini).

Siang-siang di hari minggu kemarin, kami bertiga, saya, adik, dan mama, sedang lapar-laparnya, dan akhirnya memutuskan untuk masuk ke restoran tersebut karena Mama pernah dengar review yang bagus-bagus dari televisi tentang tempat ini. Jadilah kita dengan ekspektasi yang lumayan tinggi, masuk ke tempat itu dan segera melihat menu-menu. Akhirnya daripada pusing-pusing dengan menu a la carte, kami memutuskan untuk membeli 3 paket lunch bento. Yang dipesan oleh adik saya adalah paket Salmon, saya memesan paket Seafood, dan mama saya memesan pake Hamburger Steak. Semua paket ini datang dengan nasi, miso soup, salad, dan buah, tetapi belum termasuk minum. Harga masing-masing paket @ Rp. 95,000++. Tidak mahal gila-gilaan, tetapi tidak murah juga. Untuk minum, kita pesan 2 Ocha @ Rp. 15,000++, dan 1 Pineapple Juice @ Rp. 18,000++.

Pertama yang keluar adalah minuman, kemudian Miso Soup, lalu dilanjutkan dengan nasi. Nah dari nasi ke bento kita ini, lumayan lama keluarnya. Walaupun akhirnya keluar juga paket bento adik saya. Isinya ada Salmon Panggang, Cumi Goreng, Salad, Crispy Chicken Skin (yang saking sedikitnya, 1 kali suap juga habis), Acar, dan Buah (semangka plus melon dua potong kecil). Wah, saya pikir, lumayan juga nih….. Ternyata titik tertinggi dari review restaurant ini hanya sampai di situ saja. Adik saya sudah habis makanannya lebih dari setengah, baru pesanan saya datang. Seafoodnya itu goreng tepung, isinya tuh hanya 1 pc ikan (kecil ukuran kira-kira 6 cm*6 cm), 1 pc scallop, dan 1 pc kerang. Ampun deh, kerang aja pelit banget. Chicken teriyakinya lumayan, tapi kecil dan agak kegosongan di satu sisi, jadi ada pahit-pahitnya. Lalu ada 3 pc udang goreng (tanpa tepung) yang kecil-kecil banget. Mustinya saya dapat Crispy Chicken Skin kalau menurut menunya, tetapi di box saya nggak ada. Saya lantas bicara pada pelayannya, kenapa nggak ada, lalu dia jawab, “Nanti akan saya tanyakan”. Tetapi pelayan itu tidak pernah kembali lagi untuk menjelaskan kemana Crispy Chicken Skin saya.

Yang paling menyedihkan adalah, sampai makanan saya dan adik saya habis, pesanan mama belum datang-datang juga. Padahal saya tahu banget, kalau mama adalah yang paling lapar karena mama memang sengaja tidak sarapan terlalu banyak. Kita sampai bertanya 2 kali ke pelayannya, dengan jarak tanya lebih dari 10 menit, kenapa nggak datang-datang juga, tetapi selalu dijawab tunggu sebentar. Akhirnya pesanan itu datang juga. Dari penampilan, memang yang ini yang paling lumayan. Setidaknya daging burgernya besar, rasanya juga lumayan. Tempuranya standar aja, tapi keterlaluan juga karena isinya hanya 1 pc udang, 1 pc ikan, 1 pc terong, 1 pc ubi, dan yang terakhir ini nih…. 1 pc bawang bombay. Mungkin perlu diterangkan, bawang bombaynya itu kayak apa. Bawang bombaynya cuma diiris 1 lempeng besar itu, dan digoreng sekaligus, tidak dipilah-pilah dalam bentuk ring. Jadilah mama saya (yang sudah berharap kalau itu adalah 1 pc ikan tambahan) kaget berat, karena bisa-bisanya bawang tanpa dipotong-potong langsung disajikan dalam bentuk gelondongan. Cuma ada satu di restaurant ini yang lumayan cepat pada saat kami meminta, yaitu: meminta bon untuk membayar. Huh…

Setelah pulang, Mama bersungut-sungut, dengan total bill Rp. 400 ribu untuk bertiga, kita bisa makan di Hoka-Hoka Bento sampai kolaps. Terus terang, saya ini termasuk orang yang berani keluar uang untuk makan. Tetapi dengan pengalaman seperti kemarin itu, bisa-bisa saya yang darah rendah ini bisa jadi darah tinggi. Saya mungkin masih akan kembali lagi ke restaurant ini dengan 2 alasan:

1. Masih penasaran apakah kualitasnya masih seperti itu.
2. Gratis.

Bencana Kedua

Sore harinya sepulang dari gereja, saya, mama, adik, oom, dan tante berangkat ke Pantai Mutiara Sports Club untuk menghadiri resepsi perkawinan seorang kerabat. Berhubung saya belum pernah ke sana sama sekali, ketika menyetir, modal saya hanyalah selembar peta hitam putih yang diselipkan di undangan. Ketika kita sampai di sana, ternyata partnya outdoor di atas deck dengan latar belakang lautan. Saat kita masih melewati dari dalam mobil sambil buka kaca, rupanya sedang acara pemotongan kue karena suara MC terdengar juga dari luar. Jadi sampailah kita di tempat parkir. Dari kejauhan, kita masih melihat, bahwa pada saat wedding kiss, ada kembang api kayak tahun baruan meledak indah di udara. Pokoknya acaranya kelihatan romantis banget.

Saat kita masih di dalam mobil dan siap-siap mau turun, tiba-tiba… BYUR!!! Hujan deras menyerang secara mendadak. Tapi karena sudah sampai di lokasi, mau gimana lagi? Untunglah ada total 4 payung di dalam mobil, 2 kecil dan 2 besar. Yang besar dipakai adik saya, dan oom tante, lalu saya dan mama masing-masing memakai payung yang kecil lalu berjalan menuju ke tempat resepsi. Karena hujan, saya masuk dari arah belakang, bukan dari lobby utama. Saat itu saya lihat, pengantin sudah dilarikan ke dalam, kemudian orang-orang berdesak-desakan di bawah tenda yang jumlahnya terbatas, dan sebagian orang juga berlarian ke dalam.

Nah, di dalam itu ruangannya tidak besar, dan sebetulnya hanya untuk makan keluarga. Di situ saya menemui pasangan pengantin yang duduk di kursi yang disediakan sementara. Yang wanita terlihat pucat walaupun masih berusaha senyum, dan yang laki-laki rambutnya sudah kuyup dan turun semua. Orang tua mempelai terlihat panik karena makanan di ruangan itu terbatas. Akhirnya sebagian makanan prasmanan dari luar dipindahkan ke dalam. Saat itu saya bersalaman dengan pengantin, dan cuma bilang,”Selamat ya, mudah-mudahan hujan ini artinya makin banyak rejeki yang mengalir”. Ya paling tidak bisa menghibur pengantin di saat-saat yang penuh tekanan.

Setengah jam berlalu, dan hujan masih tetap deras. Semua peralatan sound system sudah dibereskan, yang berarti tidak akan ada lagi musik indah yang mengiringi. AC-AC tambahan yang diletakan di luar ruangan sudah ditutupi dengan plastik. Pelaminan sudah kosong, padahal sudah didekor indah dengan banyak bunga-bunga. Ditengah suasana bencana ini, masih ada saja orang yang tidak tahu aturan. Saya mendengar beberapa orang berteriak-teriak, “Kalau tau begini, gue ngga bakalan dateng. Makanan ngga ada. Yok, kita pulang, cari makan di luar!” sambil marah dengan muka masam. Duh, bayangin deh, kalau saya yang jadi pengantinnya, saya mungkin sudah nangis sesengukkan karena impian hari yang indah buyar oleh hujan, tetapi ini tamunya yang cuma datang saja pada marah-marah. Sebetulnya apa sih tujuannya datang ke resepsi? Jangan-jangan cuma numpang makan aja lagi. Sama sekali nggak punya perasaan ke tuan rumah.

Ditunggu seperempat jam lagi, akhirnya hujan reda juga. Semasa menunggu hujan, saya sudah sempat makan menu prasmanannya, dan saya makan agak banyakan karena saya pikir sudah tidak mungkin juga makan di makanan di stall-stall yang di bawah. Tapi ternyata setelah hujan reda, aktifitas makan naik kembali, walaupun pengantin tetap berada di dalam ruangan supaya situasi tetap terkendali. Jadilah, dengan perut saya yang sudah penuh, kembali ngambil sate ayam 5 tusuk, pudding 5 potong (1 lengkeng, 2 coklat, 2 lapis), dan sepiring kecil asinan mangga.

Buat pengantinnya, mudah-mudahan nggak kepikiran mengenai beberapa orang yang memang tidak mengerti makna kebahagiaan dan segala tantangan yang terjadi di hari itu. Toh hujan ini kan karena kehendak Tuhan, sama halnya seperti ketika Tuhan menghendaki pernikahan itu terjadi di hari kemarin dan bukan hari lainnya, walaupun hari kemarin itu dipenuhi hujan. Semoga pasangan yang berbahagia mendapatkan hujan berkat, langgeng sampai kakek nenek, dan cepet-cepet dapet momongan, AMIN.

Bencana Ketiga

Yang ini, tidak disebabkan oleh orang lain, dan tidak juga disebabkan oleh alam, melainkan karena ketidakmampuan diri sendiri dalam mengendalikan diri saat ke resepsi perkawinan kemarin. Silakan lihat kalimat terakhir entry saya sebelum entry ini untuk mengetahui bencana ketiga.

Friday, November 02, 2007

Akibat Kurang Pengendalian Diri

Weits, jangan mikir yang aneh-aneh karena judulnya. Saya cuma mau cerita sedikit, soal brutalitas saya dua hari terakhir ini. Hari Rabu dan Kamis kemarin ini, saya ada meeting seharian penuh. Dulu saya pernah bercerita mengenai betapa mengalirnya makanan di saat meeting dan kali ini hal itu terbukti lagi. Sebetulnya, saya bisa memilih untuk tidak memakan yang tersedia di atas meja. Tetapi di Board Room yang dingin itu, rasa lapar dan kantuk selalu saja menyerang, jadi obatnya adalah: makanan…

Hari Rabu jam 9 pagi, pas masuk ke ruang meeting, sudah disediakan 3 potong kue, yaitu Perkedel Tahu Kotak, Lapis Surabaya, dan Getuk Coklat. Sebelum jam 10.30 pagi, semua kue itu sudah saya habiskan. Jam makan siang datang. Menunya hari itu dari Riung Tenda. Isinya: Nasi Putih, Ayam Goreng, Lalaban dan Sambal, Cah Pucuk Labu, dan semangkok Sayur Asem. Yang bersisa cuma nasi putihnya doang tuh. Sore-sore kue ronde kedua datang, ada Pastel Makcik, Kue Bolu, dan Kue Pepe. Yang bersisa, hanya Kue Bolunya saja tuh…

Pas jam pulang kantor, sudah bertekad, rencana nggak mau makan malam. Tapi rencana memang tinggal rencana. Pulang ke rumah, Mama sudah membawakan Pangsit Kuah Dunia Baru dari Pasar Jatinegara. Pangsitnya sih ngga banyak, hanya lima potong saja, tetapi itu pangsit isinya ayam dan udang kering, kuahnya banyak, anget-anget, enak bangettttt…. Jadilah makan lagi. Eh, udah makan pangsit, inget ada mangga dermayu gede-gede yang dibawain pas hari minggu lalu, lanjut makan mangga setengah. Udah gitu masih nyemil lagi, keripik pisang dan keripik singkong. Alamakjan!

Besoknya pas lihat timbangan, eh kok turun. Seneng juga…apa timbangannya yang error ya? Pagi-pagi masuk lagi ke ruang meeting, ada 1 kotakan dari Makcik, isinya Pastel, Kue Gemblong, dan Lemper. Lagi-lagi saya habiskan semuanya, sebelum waktu menunjukkan pukul 10 pagi. Jam makan siang datang, menunya kali ini dari Restoran Padang Sederhana. Isinya ada Nasi Putih, Ayam Pop (plus Daun Singkong), Gulai Kikil, Gulai Nangka, Kerupuk, dan Pisang. Yang sisa tuh hanya Nasi Putih dan Kerupuk aja. Kalau Gulai Kikil, itu sih favorit saya, jadi kemarin sempet ngubek-ngubek dulu milih box yang ada Gulai Kikilnya heheheh (gimana mau kurus ??). Sorenya, Pak Bos udah mulai lapar dan nyari-nyari makanan, karena ternyata nggak dipesankan kue untuk sore. Jadilah dipesankan gorengan ke office boy. Pas datang tuh gorengan di piring, saya langsung ngembat nggak tanggung-tanggung. 5 potong! 2 tahu, 1 pisang, 1 bakwan, dan 1 singkong. Bener-bener parah.

Malamnya, sebetulnya saya ingin pulang. Tapi berhubung tamunya dari luar kota, dan para bos lagi tidak bisa menemani, jadilah saya yang penjamu teman-teman, yang berarti, makan malam sudah dipastikan tidak di rumah. Kita semua bersebelas menuju ke Senayan City. Tadinya sih kepingin makan di Duck King, tetapi ternyata ngantreeee… Jadilah mengalihkan badan menuju ke Mandarin Spice di lantai paling bawah. Malam itu saya nggak makan nasi sih, tetapi menunya: Sup Kepiting Asparagus, Cah Pocai Bawang Putih, Ayam Goreng Renyah, Gurame Goreng Saus Thai, Mapo Tofu, dan Lobster Panggang Lapis Keju. Sebagai penutup, untuk meredakan perut yang kebakaran, saya makan 1 mangkok Kwe Lin Kao. Makan sampai pukul 10 kurang, sampai rumah pukul 10.20, dan pukul 11.30 langsung bobo sehabis nonton Kick Andy. Dimulailah penambahan timbunan-timbunan lemak.

Pagi ini, seperti biasa, nimbang lagi. Naik 1 kg…. *pasrah mode on*