Tuesday, October 30, 2007

Ongkos oh Ongkos

Gara-gara musim hujan badai yang mulai melanda Jakarta, bisa dipastikan jalanan makin macet, dan buat saya yang naik taksi setiap hari, dipastikan ongkos pasti berlipat ganda. Anehnya, hujan itu umumnya melanda saat hari menjelang sore, sehingga puncaknya terjadi pada saat jam pulang kantor, menyebabkan kita merana total pada saat mencari taksi.

Sebetulnya saya agak malas untuk menceritakan pengalaman hari Jumat kemarin karena saya cukup gondok dengan apa yang saya alami. Tetapi kok rasanya lebih plong kalau bisa ditulis di sini. Jumat kemarin itu, pas pulang kantor hujan sudah mengguyur cukup parah. Bukan rintik-rintik, tetapi byur-byur. Di depan gedung saya ini ada pool taksi BB, tetapi keadaannya saat itu kosong karena tingginya permintaan. Mau nunggu di lobby atas juga sulit karena sudah pasti taksi kosong yang lewat direbut duluan oleh orang yang nunggu di jalanan.

Kebetulan saya berdua dengan teman kantor, tetapi teman kantor saya nggak mau nunggu taksi di bawah hujan dan memilih stay di lobby. Jadilah saya, dengan bermodal payung kecil, nunggu di pinggir jalan di luar kompleks gedung, dan dipastikan karena angin, bagian bawah badan saya basah semuanya. Sudah lagi nunggu tenang-tenang, dan pas taksinya sudah didepan mata, tiba-tiba ojek payung menghadang taksi itu, dan mempersilakan ibu-ibu yang diojekin untuk masuk. Padahal, saya sudah ngantri loh! Betul-betul deh tidak berbudaya. Hal itu tidak terjadi sekali saja, tetapi berkali-kali. Akhirnya satpam gedung kasihan sama saya, jadinya dia bilang, kalau taksi selanjutnya datang, dia akan berusaha untuk mengambilkan untuk saya.

40 menitpun berlalu, taksi-taksi yang lewat sudah penuh semua, badan makin kedinginan dan kebasahan. Habis gitu cellphone saya berdering, ternyata teman kantor saya yang nelepon, dia bilang dia dapat taksi karena kebetulan ada yang turun di lobby. Jadilah saya naik lagi ke dalam gedung, lalu naik taksi pulang bareng. Padahal saya tuh agak-agak anti naik taksi di luar merek BB dan E, tetapi saat itu adanya cuma taksi itu aja…ya udah deh, masih mending berduaan, kalo sendirian sih, ngga berani. Hari itu mending, walaupun hujan jalanan masih lumayan lancar. Cuma tetep, saya masih menyimpan kegondokan, kenapa sih orang-orang ngga bisa ngantri dengan sopan ? Kenapa sih para ojek payung itu harus menghadang taksi seenaknya. Prinsip siapa cepat dia dapat itu kan harusnya siapa yang ngantri duluan, dialah yang akan dapat, tetapi kok di sini, siapa yang berani pasang badan dan malak duluan, dialah yang dapat. Ih syebel…

Jam 4 sore hari Senin alias kemarin, langit sudah mulai gelap gulita. Jadi daripada kejadian seperti waktu Jumat kemarin, saya berinisiatif untuk menelepon taksi BB, dan melakukan pemesanan untuk pukul 5.20 sore. Betul saja, pas sampai di bawah sekitar jam 5.17, hujan sudah mulai turun. Kemudian saya lihat di HP saya, ternyata ada miscall dari BB. Dalam hati saya, ini pasti untuk ngabarin kalau taksi saya sudah sampai, dan untuk memberi tau nomor armadanya. Karena saya lihat nggak ada taksi di lobby, jadi saya berinisiatif untuk menelepon ke BB. Pas ditelepon, adanya suara lagu, dan disuruh tunggu, tunggu, dan tunggu sampai bermenit-menit. Akhirnya diangkat juga tuh oleh operator, dan saya tanya nomor armadanya. Ternyata eh ternyata, tadi itu dia nelepon untuk ngabari, kalau taksinya nggak ada! Grrrr.... There goes my pulsa telepon untuk hasil nol. Jadilah saya pikir, ini harus nunggu taksi lagi di luar. Tapi temen saya ngotot, ngga mau nunggu taksi di luar, mau nunggu aja di lobby. Wah, dlm hati saya, kapan bakalan dapet taksinya kalo diem-diem aja.

Akhirnya saya memutuskan untuk keluar dr halaman gedung dan nunggu di jalan. Eh, ternyat usaha saya nggak sia-sia. Nggak usah nunggu lagi, langsung dapet taksinya, lalu saya masuk lagi deh ke gedung untuk jemput temen saya. Seneng deh kita semua langsung dapet taksi. Tapi ternyata, itu bukanlah awal kesenangan kita, tetapi awal dari kekesalan kita. Pertama-tama, taksi kita nggak bergerak di lobby. Begitu keluar dari lobby menuju ke pos pembayaran parkir, argo sudah menunjukkan 10 ribu rupiah, dan dari pos pembayaran parkir masuk ke jalan utama, argo sudah naik lagi sampai 15 ribu! Padahal biasanya, argo itu belum naik dari angka awal 5 ribu pas kita sampai ke jalan utama. Bisa dipastikan, bagaimana perjalanan selanjutnya... menyedihkan...

Males sih ngomongin angka argo akhirnya. Yang pasti sih, dua kali lipat dibandingkan dengan biasanya. Dan waktu tempuhnya: 1 jam 20 menit! Di saat-saat seperti ini, bersyukur aja deh: masih dapet taksi, masih bisa nyampe rumah dengan selamat, dan masih bisa punya duit untuk nutupin ongkos taksi...AMIN !

Monday, October 29, 2007

Wisata Kuliner Jadi-jadian

Nggak salah kalau berat badan saya sekembali dari liburan bukannya turun, malah naik dengan sukses. Weekend ini lumayan menjadi puncak kegilaan makan yang tak terkendali. Dimulai dari hari Sabtu pagi, kebetulan mama menerima pesanan Makaroni Panggang, dan bahan-bahannya ada lebih sedikit, sehingga dibuatlah loyang extra untuk dimakan sendiri. Dan pagi itu, saya jadi pemanasan dengan makan Makaroni Panggang. Lalu daya kreatifitas saya lagi agak naik kemarin itu, sehingga dengan kerajinan yang tidak jelas, mencoba membuat kue bolu kukus loyangan. Sebetulnya pingin sekali membuat dengan rasa vanilla dan coklat, tetapi rupanya saya tidak dapat menemukan bubuk Cocoa Van Houten yang biasa saya pakai, sehingga dengan segala kekreatifan yang tidak jelas, akhirnya saya memakai serbuk kopi sebagai pengganti rasa coklatnya. Ternyata, project coba-coba yang baru kali pertama ini saya lakukan berhasil juga untuk bikin Bolu Kukus loyangan motif loreng – loreng kayak Trio Macan hihihi….. Jadilah, ronde kedua diisi dengan makan potongan besar bolu kukus bikinan sendiri. Eh iya, pagi-pagi pas habis bangun tidur dan sikat gigi, sebelum Makaroni Panggang selesai dibuat, saya sudah nyomot dua Kue Sus (satu coklat dan satu vanilla), hasil jatah pertemuan lingkungan malam sebelumnya. Ya, itu baru pagi harinya saja !

Siang-siang, tiba-tiba terbersit keinginan untuk potong rambut. Rencananya, habis ke salon, mau langsung ke Gereja St. Theresia untuk Misa dalam bahasa Inggris (udah kangen banget). Apadaya, pas nyampe salon, gara-gara belum bikin appointment, penuhlah jadual dari stylist saya karena hari Sabtu kemarin itu rupanya banyak banget orang yang nikahan sehingga (katanya sih) dari jam 2 pagi dia sudah di booking full sampai pukul 5 sore. Hiks... jadilah hari itu batal dan berencana balik lagi hari Minggu aja. Karena sudah keburu tanggung (udah keluar dari rumah gitu loh), teteplah dibulatkan niat dan tekad untuk ke Gereja. Tapi masih ada waktu 1 jam, ngapain dulu dong? Berhubung Gereja St. Theresia berseberangan dengan Kafe Pisa, mampirlah saya di kafe Pisa dan mesen 2 scoop gelato (raspberry, dan black forest...nyam-nyam). Sambil nunggu di situ, maem eskrim, dan baca-baca majalah, wuih, udah ngga kerasa kayak lagi di Jakarta. Mana langitnya mendung-mendung.... romantis banget (seandainya sama pacar). Setelah Misa, ternyata perut si Mama udah berkeroncongan ria (padahal baru jam 5.30 sore), jadilah lanjut ke Food Lovernya Grand Indonesia, dan si Mama pesen Mie Tarik Tomyam. Saya jadi kebagian juga tuh, icip-icip dengan mangkok kecil, dari mangkok gedenya dia. Muter-muter di Grand Indonesia, bingung mau ngapain karena emang ngga ada apa-apa, akhirnya lanjutlah kita ke ronde kedua.

Sampailah kita di Senayan City. Beberapa waktu lalu, saya dan teman-teman sempat ngumpul di Pure Foodism tengah malam, hanya untuk menikmati cocktailnya. Kali ini saya kembali lagi ke situ, untuk menikmati makanannya karena waktu itu sempet terngiler-ngiler juga untuk coba, tapi karena waktu itu sudah selesai dinner, diurungkanlah niatan itu. Di situ, Mama nggak ikutan makan full karena tadi udah makan satu mangkok besar Mie Tarik, tetapi kita share-share juga pesanan saya. Saya pesan Beer Battered Seafood sebagai appetizer alias ikan, udang, dan cumi yang digoreng tepung tetapi menggunakan bir sebagai bahan cairnya (bukan air). Rasanya nyam-nyam banget, membangkitkan lagi memori lama waktu makan fish and chips di bar-bar di Milwaukee. Maincoursenya saya pesan Lasagna, wuih uenak, ricotta cheesenya berasa banget dan tebel, belum lagi saosnya tidak terlalu berlebihan. Tetapi mama saya yang memang nggak suka keju, dia bilang sih itu makanan bikin dia puyeng habis icip-icip satu sendok aja. Sebagai penutupnya, saya pesan Foodism Cake, yang kecilnya seiprit, tapi rasanya enak ! Bentuknya tuh kayak chocolate mousse biasa, tetapi dalamnya ada kacang dan blueberry. Rasanya ringan dan tidak terlalu manis. Kalau di total, kuantitasnya itu hanya 3 sendok kali ya saking kecilnya, cukup untuk membersihkan mulut dari rasa gorengan dan lemak di dua makanan pertama. Setelah selesai makan, shopping-shopping dulu di Debenhams, abis gitu, tuker voucher Breadtalk dengan 2 piece Chocolate Lava-nya (Kalau pake HSBC, tiap belanja 250,000 di Senci, bisa dituker voucher Breadtalk 12,000, sayangnya ngga berlaku kelipatan, pedahal kan kalau nggak bisa dapet lebih banyak..huh...)

Hari Sabtu usai, hari minggu tiba. Pagi-pagi, acara dibuka dengan pergi ke salon...heheheh...akhirnya ada kesempatan juga untuk potong rambut. Kali ini stylistnya lagi nggak ada antrian, dan saya udah telepon dulu dong! (Belajar dari kesalahan hari sebelumnya). Pas balik ke rumah, ternyata ada tamu yang datang bawain mangga harum manis dan dermayu (udah kebayang tuh, makan mangga seger-seger yang gede-gede). Siangnya, karena penasaran dengan review-review yang OK dari Q Smokehouse Factory, kita bertiga, saya, mama, dan adik, langsung menuju ke Panglima Polim dengan modal ngelihat peta Jakarta di computer (maklum, buta deh sama daerah Selatan). Eh syukurlah, langsung sampai dengan selamat di restaurantnya. Tadinya kita mau pesen 2 BBQ Ribs Jumbo, 1 Beef Brisket, 1 Asian Salad, dan 1 Q- Fries. Tetapi ternyata Ribsnya tinggal sisa 1 porsi aja, (kalau mau nunggu, kudu nunggu sampai malam, karena kudu di smoke 12 jam) jadinya dituker deh dengan 1 Reuben Sandwich (lagi-lagi membangkitkan memory Wisconsin dengan hidangan German). Ternyata, apa yang dibilang di review-review itu bener banget ! Uenak pol ! Ribsnya gede-gede, dagingnya juicy banget, rasanya ngga kepingin share 1 porsi untuk bertiga, tapi apadaya tinggal sisa 1. Udah gitu, menurut saya sih, harganya terjangkau banget, hanya 49,000++ untuk 1 porsinya. Beef Brisketnya pas dimasaknya, jadi ngga kering, Reuben Sandwich-nya juga enak, tapi sayang rotinya bukan pakai rye bread, jadi authenticitynya kurang (alias lebih disesuaikan dengan lidah Indonesia). Untuk minuman, kita bertiga, pesenannya lain-lain semua, tetapi semuanya strawberry based. Saya pesen Strawberry Juice, Mama saya Strawberry Squash, dan adik saya Strawberry Smoothies. Semuanya juga enak dan fresh!

Pulang dari makan siang, saya dan mama ketiduran dengan sukses. Malemnya, wisata kuliner ronde selanjutnya dilakukan. Malam-malam sekitar jam 8, kita baru berangkat dari rumah menuju ke (lagi-lagi) Senayan City. Malam itu kita mau nyobain It’s A Cafe gara-gara pas Sabtu kemarin kita ngelihat makanannya lumayan terjangkau dan kayaknya enak. Pas nyampe sana, langsung pesen Calamari Fritti (Cumi goreng tepung dengan tartar and ginger dipping sauce) untuk appetizer, Fettucini Carbonara (Pasta dengan saus blue cheese and beef bacon) buat saya, Snapper Steak (Kakap dengan ginger sauce dan fries) buat mama, dan Black Pepper Rice (Nasi dengan Sapi Lada Hitam) buat adik saya. Rasa makanannya boleh juga, walaupun bisa dibilang porsinya agak kecil terutama untuk Black Pepper Ricenya. Makanya, setelah selesai makan dari situ, kita langsung geser ke kiri beberapa meter, dan masuk ke Zhuma hihihi (perut kok kayak ngga ada batesnya). Di Zhuma, rencananya sih cuma kepingin icip-icip dikit untuk mengisi kehampaan yang masih tersisa di perut. Tetapi endupnya kita pesen 3 sushi roll untuk berdua (mama udah nyerah ngga ikutan makan). California Roll, Spider Roll, dan Spicy Salmon Roll keluar ke atas meja, dan ternyata, rollnya gede-gede juga! Walaupun begitu, tetep aja abis juga!

Pagi ini, bangun tidur, penimbangan berat badan menghasilkan pembelalakan mata yang sangat besaaaarrr.... Ya sudahlah.... Mumpung masih muda, marilah kita nikmati hiduppppp.... *padahal cuma nyari-nyari alasan aja, biar nggak stresss...*

Thursday, October 25, 2007

After Holiday Syndrome

Rasanya bener juga yang dibilang orang-orang mengenai after holiday syndrome. Bawaannya jadi nggak pingin ngapa-ngapain, di kantor jadi ngantuk terus, ngga kepingin kerja. Mana kondisi badan juga sepertinya belum pulih dari flu kemarin, sehingga mood semakin turun, ditambah lagi cuaca yang gloomy dan redup-redup gini, membuat hasrat menuju ke pulau kapuk semakin menggila.

Sudah beberapa hari terakhir ini, saya tidak mempunyai semangat untuk mengerjakan apapun di kantor. Saya merasa kok pekerjaan saya mulai membosankan. Mungkin pertama-tama disebabkan oleh data-data yang semuanya terlambat datang lantaran habis Lebaran. Setiap kali bertanya kepada orang di lapangan, selalu dijawab,”Masih cuti Bu, baru kembali minggu depan”. Padahal pas sehabis liburannya sendiri, saya masih lumayan semangat, tapi seminggu setelah liburan berakhir, semangat malah rontok. Minggu ini, yang saya rasakan di kantor hanya pegal-pegal, kedinginan, dan pikiran saya sepertinya sudah tidak mau diajak berkompromi walaupun pada akhirnya semua data-data selesai juga. Apakah ini betul-betul after holiday syndrome, ataukah saya betul-betul haus akan tantangan baru di dalam pekerjaan saya?

Teman baik saya waktu itu pernah bilang, kebosanan dalam pekerjaan akan terjadi pada saat 9-10 bulan bekerja. Waktu itu saya tidak terlalu percaya omongan dia, tapi kali ini sepertinya saya harus sedikit percaya. Di pekerjaan saya sebelumnya, saya juga mengalami kejenuhan pada saat-saat yang sama. Saya ingat waktu itu juga akhir Oktober 2005, bulan ke sembilan saya bekerja. Saya sudah berminggu-minggu bermalam di hotel yang sama di luar kota di sisi utara Wisconsin, mengerjakan pekerjaan di client yang sama, dengan team yang sama, dan permintaan yang begitu tinggi dari atasan karena beberapa staff lain yang ada di situ rada tidak becus bekerja. Saat itu saya survive mengatasi kejenuhan saya, karena pada akhirnya setelah perjuangan panjang, ada goal yang team kami capai yaitu untuk kali pertama kita berhasil filing laporan keuangan setelah sebelumnya diaudit oleh perusahaan yang tidak kompeten.

Tetapi di pekerjaan yang sekarang, saya justru merasa targetnya itu seperti melayang, dibalik rutinnya berbagai laporan yang diberikan bulanan dengan revisi di sana sini. Waktu perjuangan mencari kerja di kota Jakarta ini, saya sebetulnya sempat dihadapkan kepada dua pilihan besar, mau bertahan dengan kemampuan pengetahuan ekonomi dan akuntansi yang saya dapatkan semasa kuliah sebagai modal saya, atau mau mencoba sesuatu yang betul-betul baru di luar rasa kenyamanan saya. Makanya waktu itu saya sempat mencoba untuk interview untuk bekerja di beberapa bidang yang betul-betul berlawanan. Saya sempat interview untuk jadi news anchor di salah satu TV berita nasional, untuk jadi lecturer di salah satu universitas baru di Jakarta, untuk jadi marketing creative di sebuah institusi banking ternama, sampai akhirnya saya memilih, untuk tetap melekat pada background yang membesarkan saya, yaitu accounting.

Saya lagi-lagi masih bertanya mengenai apa yang sedang saya alami sekarang, apakah ini after holiday syndrome, seperti yang saya dapatkan di awal tahun 2000, saat saya memutuskan kalau saya tidak ingin jadi dokter lagi, atau seperti yang saya dapatkan setelah liburan Oktober tahun 2006 di Jakarta yang menyebabkan saya memutuskan untuk kembali ke Indonesia? Ah, pusing-pusing.... mendingan sekarang saya nunggu waktu pulang aja. 2 jam lagi, di luar hujan pula...

*kalo lagi ujan-ujan begini, suka ngebayangin, pas lagi nungguin taksi di bawah ujan gede, tiba-tiba dikejutkan sama kedatangan pujaan hati yang ngejemput naik mobil, bawain payung, lalu bukain pintu mobil...kayak di sinetron-sinetron.... wah, beneran, kacau nih otak...*

Tuesday, October 23, 2007

Sabtu Seru

Setelah sakit flu saya mereda dengan cukup tidur dan meminum berbagai obat warna-warni, akhirnya sampai juga pada saat yang dinanti-nantikan yaitu Sabtu! Tidak tahu kenapa saya begitu excited menghadapi weekend kali ini. Apa karena saya betul-betul sudah bosan kerja, atau karena kerinduan terhadap 1 hal yaitu: Nonton konser! Yes, saya sangat berbunga-bunga karena saya tahu, kalau Sabtu malam tanggal 20 Oktober kemarin, saya akan menonton konser Black Eyed Peas! Inilah kali pertama saya menonton konser musik di Jakarta, dimana saya betul-betul tertarik dengan penyanyinya.

Terakhir saya menonton konser di Jakarta adalah waktu F4 datang ke Indonesia, alias awal tahun 2004. Waktu itu, berhubung tiketnya dibelikan oleh ortunya teman saya, ya saya terima-terima saja, tanpa sadar resiko kalau akan digencet-gencet oleh anak ABG yang brutal walaupun sebetulnya kita berada di section VIP. Saat itu, saya hanya bisa bergelantungan di badan adik saya, tanpa sadar kalau konser sudah berjalan karena saya betul-betul sesak tak bisa nafas, dan pusing tujuh keliling. OK, kita lupakan saya pengalaman hampir tiga tahun lalu itu. Setidaknya ada konser lain yang pernah membuat saya lebih kecewa, yaitu konser Britney Spears! Selain tiketnya mahal, ternyata shownya sangat singkat, bahkan saya sendiri tidak merasa kalau dia betul-betul menyanyi alias saya percaya kalau dia hanya lipsync saja. Itung-itung, yang bikin saya happy hanyalah panggungnya yang keren, dengan air terjun, kembang api, dan lain, lain. Lumayan deh untuk hiburan.

Sabtu pagi kemarin, jam 9 teng, maminya teman saya sudah dateng ke rumah untuk latihan nyanyi. Jadi ceritanya, teman baik saya sebentar lagi mau menikah, dan mendaulat saya untuk menjadi MC. Kali pertama saya menjadi MC, dan kali ini harus menghadapi tamu-tamu ratusan orang (mungkin bahkan bisa mencapai di atas seribu orang à Doakan yah). Lalu, maminya ini ingin sekali kasih surprise ke anaknya dengan menyanyikan sebuah lagu, yang akan dinyanyikan secara duet. Good idea bukan? Tapi namanya nyanyi bareng ibu-ibu, kita betul-betul harus pelan-pelan, step by step. Untung maminya teman saya ini lumayan funky dan cepet nangkep. Setelah latihan berakhir, mood saya sudah pindah menjadi mood pergi ke konser.

Sorenya, setelah bertemu dengan dua teman saya di Plasa Senayan dan makan malam awal, kami sepakat untuk berjalan kaki saja dari Plasa Senayan ke Istora. Maklumlah, kendaraan semuanya menuju ke arah yang sama, jadi sangat beresiko mencari tempat parkir di dalam. Begitu sampai di sana, ternyata sudah rame banget, dan Adrie Subono, si pemilik Java Musikindo itu, lagi nongkrong aja di atas podium di lapangan sambil memantau para pengunjung. Pengamanan cukup baik, terutama dikarenakan penontonnya yang lebih berkelas dibandingkan dengan ABG-ABG di konser F4. Saya mendapatkan tempat duduk di tribune sebelah kanan belakang. Cukup baik viewnya karena bisa kelihatan seluruh panggung, dan yang pasti bisa duduk kalau lagi kecapekan. Maklum saya sudah bertobat dengan posisi festival, karena pas nonton Britney dulu, nggak kelihatan apa-apaan.

Penonton didominasi oleh anak-anak muda dan juga pasangan-pasangan muda yang membawa anak-anak. Iya, saya nggak bohong kalau ternyata banyak anak-anak juga yang datang. Dan juga banyak sekali expatriate yang datang, jadi konser ini seperti ajang pertemuan barat dan timur, karena rambut pirang ada di mana-mana. Konser dibuka pukul 8 malam dengan penampilan dari The Click Five yang terkenal dengan lagu Just The Girl dan Jenny. Wah, baru aja keluar, ABG-ABG sudah pada teriak-teriak ngga karuan. Yang lucunya, di Indonesia yang terkenal justru lagu Jenny, sementara di Amerika sana yang lebih ngetop adalah Just The Girl (yang menurut saya liriknya lebih catchy dan nadanya asik). Band ini lumayan interaktif untuk sebuah band baru, dan aksi pemainnya lumayan seru dan gokil. Tetapi sayang, penonton Indonesia umumnya hanya aktif kalau lagunya mereka kenal. Jadinya di sepanjang show, mereka hanya berjingkrakan hebat saat lagu yang mereka kenal dimainkan.

40 menit berlalu. Jeda 20 menit, dan pukul 9 lewat sedikit, musik mulai dimainkan, dan BLACK EYED PEAS langsung menghentak dengan lagu Hey Mama! Wah, penonton langsung berhamburan ke sisi panggung. Group beranggota 4 orang ini memang sangat energic. Si Fergie satu-satunya vokalis cewek itu, bisa nyanyi sambil salto. And all of them are great dancers! Musiknya juga live, bukan minus one. Jadi betul-betul deh, kerasa banget suasana konser yang asyik dan interaktif. Saking kerennya, walaupun ada beberapa lagu yang belum terlalu dikenal oleh khalayak Indonesia, tetap saja kita bisa mengikuti pada saat diajak nyanyi bareng. Di tengah panggung, setiap anggota mempunyai kesempatan untuk unjuk gigi dengan lagu andalan masing-masing. Fergie hadir dengan lagu-lagunya dari album The Dutchess yaitu: Big Girls Don’t Cry, Fergilicious, Glamorous, dan London Bridge. Tingkah lakunya yang genit dan dancenya yang lumayan provokatif itu, pasti bikin deg-degan yang menonton. Suguhan lagu demi lagu mereka mainkan tanpa terputus, dan suara mereka semua betul-betul wah! Sama, bahkan lebih baik dari rekamannya. Saya sendiri dibuat terlena sampai ikut berjingkrak-jingkrak, nyanyi, dan ngedance nggak karuan.

Setelah lagu Don’t Phunk With My Heart, tiba-tiba mereka mengucapkan salam pisah, dan berlalu dibalik panggung. Kami tau kalau ini hanya trick saja sebelum encore dilaksanakan. Lampu masih tetap gelap, pertanda ini bukan akhir dari acara.Tetapi jeda yang lumayan lama, membuat beberapa penonton, terutama yang membawa anak-anak kecil mulai meninggalkan gedung. Tiba-tiba, para anggota group itu keluar lagi dengan membawa pemain trumpetnya yang melakukan permainan solo dengan asik banget. Lampu mulai menyala lagi, dan encore dimulai dengan lagu Pump It! Wah, semuanya langsung histeris lagi, gila lagi, dan joget-joget lagi. Selanjutnya, Will.I.Am mulai menceritakan perjalanan mereka dalam tournya berkeliling dunia. Indonesia adalah termasuk bagian dari negara terakhir yang dikunjungi. Kemudian meluncurlah lagu favorit kita semua: Where is The Love, yang lagi-lagi membuat kita bernyanyi bersama. Sebagai lagu terakhir, untuk mengajak kita semua pesta sampai pagi, dipilihlah lagu Let’s Get It Started. Setelah lagu itu, mereka betul-betul mengundurkan diri. 2 jam tidak terasa sudah berlalu, dan sepertinya kami masih ingin lebih, dan lebih lagi.

Sabtu itu saya akhiri bersama teman-teman dengan duduk-duduk santai di Cascade Lounge, Hotel Mulia. Kami hanya minum teh dan soda, untuk melepas lelah setelah terkena euphoria pada saat konser tadi. Sampai di rumah sudah Minggu subuh, tetapi semangat masih menyala-nyala. Capeknya baru betul-betul terasa setelah sampai di kamar dan badan menyentuh ranjang.

Black Eyed Peas memang betul-betul hebat. Mereka tidak perlu kembang api, dry ice, air terjun, atau panggung super spektakuler untuk menyampaikan misinya. Latar belakang ras yang berbeda-beda, justru membuat group ini kaya warna dan rasa. Perpaduan dari Stacy Ferguson (Fergie) yang dari California, Allan Pineda (Apl.de. Aps) dari Filipina, Jaime Gomez (Taboo) yang keturunan Mexico, dan motor group ini William James Adams (Will.I.Am) satu-satunya yang keturunan kulit hitam, betul-betul memberikan suguhan musik yang unik, seru, dan apa adanya. Bisa dibilang, inilah salah satu konser paling mengesankan untuk saya sampai saat ini. Dan jangan takut kalau kita tidak hafal lagu-lagunya, karena siapapun bisa menikmati, termasuk anak-anak dan orang tua. Karena sungguh, musik memang bisa menyatukan dunia.

Friday, October 19, 2007

Fluuuuu....

Sakit flu ini saya dapatkan waktu lagi jalan-jalan pas liburan hari raya kemarin. Bener juga yang orang-orang bilang, kalau di Genting itu cuaca bisa berubah lima menit sekali. Berhubung saya orangnya cuek bebek, dan nyantai terus, yang ada saya hanya modal camisole dengan cardigan, celana jeans, dan topi biasa. Waktu awal-awal di outdoor amusement park, saya malah berani nantang,”Begini aja toh dinginnya.” Tapi nggak berapa lama, kabut mulai turun, lalu tiba-tiba mulai berangin, eh ngga lama panas lagi, lalu ngga lama, hujan deras turun mendadak. Dan hal itu terjadi setiap 5-10 menit sekali ! Saya nggak bohong!

Akibatnya, setelah dari amusement park itu, badan saya teler. Jam 2 siang, saya meringkuk di kamar hotel, dengan selimut menutupi satu badan. Jam 5 sore baru bangun, langsung ngidam makanan berkuah. Jadinya nyari-nyari deh, dan ketemu restoran yang menyediakan kwetiaw kuah dengan mangkok besar, kuahnya saya hirup semua sampe ludes. Besoknya, kerongkongan mulai gatal-gatal, lalu dimulailah batuk berdahak. Hiks....Di pesawat kembali ke Jakarta, saya hanya bisa pules, blek...

Besoknya udah masuk di kantor, pingin banget makan Pho... tapi apa daya nggak kesampean, di Plaza Semanggi food courtnya hanya ada restaurant Kuah aja. Jadi kita pilih tuh isinya bakso-baksoan, lalu dimasak deh pake kuah. Mayan bisa nyegerin tenggorokan. Tapi tetep aja, uhuk-uhuk terus. Padahal udah diembatin OBH, lalu udah ngemutin Strepsils terus (katanya Strepsils ada numbing effectnya, tapi kok ngga epek ya buat saya). Malemnya, saya nggak terlalu napsu makan, jadi makan pear aja dua potong. Kata Mama sih pear itu bagus karena punya efek adem buat tenggorokan. Malemnya ganti metode, minum Vicks Formula. Bobonya lumayan enak malem itu, walaupun sebelum tidur, masih aja emutin Strepsils.

Hari ini, masuk kantor, masih ok ok aja, tapi siangnya mulai hatchi-hatchi. Bersin saya ini suaranya ribuan desibel, bisa terdengar dari ujung ke ujung, pokoknya lumayan malu-maluin (Pas SMU bisa kedengeran sampai 4 kelas selanjutnya). Dan yang parahnya, bersinnya tuh terus-terusan. Pas jam makan siang, pingin banget makan nasi hainam. Kebetulan ada 2 group yang mau makan. Yang pertama sudah reserve di Platinum dan include nama saya, yang group kedua belum jelas. Jadilah saya ikut group pertama. Saya pesan Nasi Ayam Hainam. Pas dateng, nasinya nggak ada rasa, ayamnya bukannya direbus, tapi digoreng, lagi-lagi ngga ada rasa. Dan yang paling parah adalah kuahnya, isinya cuma air dan kol, plus kebanyakan lada, sampai nggak bisa diminum. Sedih banget, padahal udah ngebayangin mau makan Nasi Hainam yang wangi, dengan ayam rebus atau panggang yang empuk. Yang lebih menyedihkan lagi adalah, ternyata group kedua, makan Nasi Hainam di Chicken Rice ! Lengkap dengan Caipo, Tahu, Sayuran, Dan Ayam...HUAAAAA... bener-bener, dua hari pingin makan sesuatu, ngga pernah kesampean. Tega banget rasanya, ngga ada yang mihak pada diriku...

Sore ini abis nulis blog ini, udah mau pulang aja. Biarlah segala kekesalan itu berlalu, dan yang paling penting, flu ini segera berlalu.

Latest Update: Barusan pulang kantor, langsung ke dokter, langsung disuntik, dikasih obat dokter empat macem. HIKSSSSS.....

Thursday, October 11, 2007

Sweet Seventeen Memories

Gara-gara Oom Arman menulis soal bagaimana menyenangkannya mempersiapkan acara ulang tahun anaknya yang pertama dan jadi EO dadakan, saya jadi tertarik juga untuk menulis mengenai ultah saya yang paling seru, paling berkesan sebagai anak perempuan yaitu my sweet seventeen birthday party yang terjadi di tahun 1999 (8 tahun laluuuuu….gila gila gila, kalo punya anak tahun segitu, sekarang udah kelas 3 SD!)

Buat sebagian besar gadis, sweet seventeen itu mungkin menjadi saat yang paling ditunggu-tunggu. Apalagi biasanya di usia tujuh belas itu, yang namanya remaja putri lagi genit-genitnya, lagi mekar-mekarnya dan umumnya di saat itulah remaja putri boleh dandan dan pakai high heels tanpa merasa canggung, dan yang pasti mulai mengenal yang namanya pacaran. Tapi tunggu dulu, itulah yang ideal di dalam dunia SINETRON.
Buat saya saat itu, saat-saat menginjak usia 17 bukanlah seperti di dalam gambaran gadis-gadis dengan rambut panjang, duduk manis, dan gossipin cowok di depan kantin sekolah seperti di sinetron itu.

Saat itu, saya baru menginjak kelas 3 SMU, jurusan IPA, dengan wali kelas guru paling killer satu sekolah. Sekolah pun isinya kaum hawa semua, sehingga dengan berat badan saya yang cukup fantastis dan rambut superbondol dan kacamata besarpun, tidak membuat orang mengomentari penampilan saya. Tas sekolah saya, besar dan beratnya mungkin bisa menyaingi gallon air mineral ukuran 19 liter. Maklumlah, kalau sampai lupa bawa salah satu buku, bisa habislah nasib kita hari itu. Botol air saya adalah botol piknik merek Coleman yang ukuran 2 liter. Jadi bisa dibayangkan, bagaimana setelah seluruh paket bentuk fisik saya dan perlengkapannya itu dijadikan satu. Yes, I’m proudly saying that I’m the Super Geek. Cuma satu yang bikin saya terlihat seperti anak perempuan, yaitu saya masih pakai rok. Saat itu yang ada dalam pikiran saya adalah: belajar, belajar, dan belajar. Cowok ? Wih, boro-boro, itu adalah mahluk yang bisa merusak konsentrasi belajar (Lagian siapa coba yang mau sama robocop betina kayak saya?).

Jadi, ketika 10 hari sebelum hari ulang tahun saya ke 17 mama menanyakan apakah ultah saya mau dirayakan, yang ada saya malah bengong. Ultah ke 17 itu kan ibaratnya untuk cewek-cewek yang girly gitu, pakai gaun-gaun. Tetapi saat itu saya berpikir, usia 17, seharusnya menjadi titik balik saya menuju kedewasaan. Mungkin ada bagusnya juga untuk dirayakan. Tetapi bagaimana cara merayakannya ? Tinggal 10 hari lagi gitu loh! Mau di mana ? Pake baju apa ? Terus mau dikasih makan apa itu tamu-tamu ? Lalu acaranya apaan ? Ampun, mikirin begituan aja saya stress. Belum lagi biayanya. Mama dan Papa saat itu hanya bilang,”Karena Papa Mama cuma punya 1 anak perempuan, Papa Mama berniat bikinin pesta buat kamu. Kalau punya lebih dari satu, mungkin kita nggak akan rayakan secara besar karena nanti ngga cukup uangnya.” Saat itu saya merasa, Papa Mama saya memang keren banget, anaknya yang tomboy ini dihadiahkan suatu hal yang didamba-dambakan anak perempuan seusia saya yaitu merayakan kedewasaannya bersama teman-teman tercinta.

Sekarang apa-apa sajakah yang harus disiapkan selama menjadi EO untuk diri sendiri ?

1. Tempat dan Makanan. Karena ulang tahun saya jatuh pada hari Senin dan besoknya adalah hari libur (17 Agustusan gitu loh), kita mendapatkan tempat yang cukup strategis lokasinya, yaitu ballroom hotel berinisial CP di bilangan Semanggi. Gara-gara lokasi itu pula tapinya, kita harus membayar extra uang keamanan ke Komdak yang lokasinya tepat di seberang hotel. Maklum saat itu peristiwa traumatik Tragedi May 1998 masih membekas, jadi yang namanya salam tempel anti huru hara itu penting juga. Nah, karena diadakannya di hotel, satu lagi beban yang harus dipikirkan berkurang yaitu konsumsi, karena pemesanan tempat termasuk pemesanan makanan. Yang menarik adalah, sebelumnya saya pernah ngomong sambil berandai-andai ke Mama pas datang ke situ di acara kawinan, kalau seru juga ngadain ulang tahun di situ. Tapi terus terang, kaget juga, saat hal yang diandai-andaikan itu menjadi kenyataan. Saya sangat tidak menyangka Papa Mama mau mensponsori anaknya di tempat ini karena pas jaman itu, sweet seventeen teman-teman saya umumnya dirayakan di kafe.

2. Undangan dan Kartu Undangan. Saat itu sebetulnya saya sudah tau, siapa siapa saja yang mau diundang. Yang pasti, teman-teman SMU saya, beberapa teman saya dari SD, dan SMP, dan juga keluarga besar. Tetapi namanya acara, harus ada undangan resminya. Saat itu undangan lewat email kan ngga ngetrend. Waktu itu kebetulan ada undangan perkawinan yang sangat menarik yang saya simpan di rumah, lalu ada nama card-makernya, yaitu Happy Cards di daerah Jakarta Barat sana yang memang specialist undangan perkawinan. Jadilah saya, Papa, dan Mama pergi ke sana, dan meminta undangan dibuat secara express! 3 hari harus selesai, plus ucapan terima kasihnya juga. Undangan itu warnanya offwhite dengan bunga bunga kecil berwarna keunguan. Yang lucu, pas saya membagikan undangan ini di sekolah, teman-teman menyangka ada temannya yang mau nikah. Walaaahhhhh..... Ditambah lagi, kata adik saya (yang kebetulan bersekolah di sekolah khusus laki-laki di daerah Menteng sana), katanya undangan saya sudah nempel di papan pengumuman sekolah itu, berarti saya harus siap-siap kalau ada tamu tak diundang (yang ternyata berjumlah lebih dari 30 orang).

3. Pakaian dan Penampilan. Dengan body saya yang saat itu lumayan montok dan berlemak seperti drum mintak tanah, sangat berat untuk mencari-cari baju pesta. Setelah sempat mampir di beberapa tempat dan mencoba baju sewaan (yang umumnya nggak muat), akhirnya sampailah kita di pelabuhan terakhir yang bersedia untuk membuatkan baju yaitu Chenny Han Bridal. Sekarang Chenny Han ngetop banget ya. Dulu saya datangnya ke rumahnya yang di Kramat Sentiong (kalau nggak salah sekarang sudah pindah ke daerah Kebon Kacang deket PI sana). Saat itu Tante Chenny yang emang baik banget dan ramah banget itu, bersedia mendesign baju untuk saya lalu meminta crewnya untuk menjahitkan dalam waktu 1 minggu saja. Bajunya kayak princess, warnanya ungu, ada bownya gede banget di belakang (gara-gara undangan ungu, semuanya jadi ngikut deh sok diungu-unguin, termasuk gaunnya Mama, lalu dasinya Papa dan Adik). Pas hari H, saya jadi putri deh. Pas hari H, rambut saya yang bondol ini oleh hairdressernya digulung-gulung, dibikin seakan-akan saya ini pake sanggul, lalu wajah saya full makeup gitu. Dan demi menjaga penampilan (asli deh...demi banget), hari itu saya nggak pakai kacamata! Jadilah perayaan 17 tahun saya, semuanya agak-agak burem. Yang penting sayanya cantik dong. Tapi yang kejadian sih, temen-temen saya pada ngakak-ngakak semua nggak karuan lantaran walaupun pakai gaun dan full makeup, saya tetep jalannya kayak King Kong.

4. Kue Ulang Tahun. Namanya ulang tahun, belum klop kalau ngga ada kuenya. Saat itu kita kepikiran satu aja, toko kuenya ini harus bisa bikin kue yang bagus, rasanya enak, dan sudah berpengalaman. Jadi pilihan jatuh kepada Libra Cake yang kebetulan punya design kue yang cute banget. Saya masih inget, pulang sekolah langsung ke Kelapa Gading untuk pesan kuenya. Kuenya tuh kira kira tingginya 1 meter lebih, dengan standnya angka 17. Cake-cake yang di tier-tiernya itu bentuk hati-hati gitu, cewek banget lah pokoknya. Udah gitu yang serunya, kita bisa minta hiasan cream dan bunga-bunganya bernuansa ungu juga. Kalau orang nikah pesen kue itu berbulan-bulan di muka, kalau kita sih, 5 hari aja bo! Bener-bener express order, tapi yang penting hasilnya ok banget. Kuenya nggak dari gabus atau plastik kayak kawinan jaman sekarang, jadi pas selesai acara, kuenya bisa dibagi-bagi untuk keluarga.

5. Acara. Karena di tahun saya merayakan sweet seventeen, bangsa ini baru saja mengalami recovery dari keterpurukan di tahun 1998, saya jadi tidak terlalu mempunyai banyak referensi untuk acuan acara. Yang ada dalam pikiran saya itu saat itu adalah yang penting semua orang bisa kumpul dan menikmati acaranya. Karena saya lebih menyukai acara yang interaktif daripada hanya sekedar goyang-goyang di lantai dansa dengan memanggil seorang DJ, saya berkeinginan untuk menggunakan live band. Waktu mencari live band ini, Papa dan Mama berkeliling ke kafe-kafe. Papa Mama sampai jadi seperti wisata kuliner gara-gara setiap kali ke suatu tempat, mereka sambil pesan makanan dan mendengarkan musik. Sampai akhirnya bertemulah mereka dengan seorang manager yang membawahi beberapa band dia menyarankan kami untuk memanggil Excite Band yaitu band utama yang tampil setiap hari Sabtu di Fashion Cafe. Gara-gara memanggil band ini, kita jadi harus menambah sound system lagi karena mereka full band yang anggotanya 9 orang. Tapi keuntungan yang didapat adalah, mereka bersedia juga menjadi MC gadungan, jadi nggak perlu manggil MC lagi hehehe... (ngga rugi kan ??...). Di hotel juga kita minta disediakan dance floor, jadi semua orang bisa joget-joget dengan nyaman, tanpa merusak karpet di ballroom.

6. Dokumentasi. Beruntunglah punya seorang Papa yang punya banyak teman. Salah satu teman papa yang namanya Oom Wadi adalah pemilik studio foto dan video. Kalau nggak salah namanya Star Video deh (bukan Star Vision yang punyanya si Chand Parwez hehehe). Begitu di telepon, langsung si Oom Wadi mengiyakan untuk mengirim krunya untuk foto-foto dan video shooting. Dikasih discount pula loh! Di hari H, krunya Oom Wadi ternyata sudah nunggu saya dari jam 5 sore karena dipikir biasa kan kalo pengantin gitu datangnya pagian, buat foto-foto dulu di taman atau di tepi kolam renang. Tapi yang ada, saya datang jam 7 lewat hihihi...tamunya aja udah duluan nyampe. Maklum, pulang sekolah langsung mandi, lalu lari-lari ke salon, pulang, ganti baju, jalanan macet, dst dst dst, ditamah lagi, si cuek ini bukan penganten sih... jadinya ngga kepikiran buat foto session. Di era di mana kamera digital belumlah marak seperti sekarang, kalau foto itu kudu hati hati dan nggak bisa main jepret aja. Gara-gara saya datang terlambat itu, foto session saya jadi ditontonin temen-temen, sambil diketawain juga...hikss..

Wah, baru ngomongin persiapan dan beberapa hal lucu di hari H saja udah panjang banget. Apalagi kalo ngomongin seluruh acara pas di hari H-nya, bisa-bisa nggak selesai-selesai. Acaranya sendiri berjalan sangat lancar, seru, dan asyik. Yang datang kira-kira ada 200-an orang, walaupun ada insiden kecil, gara-garanya gerombolan anak-anak yang tak diundang dari sekolah khusus laki-laki itu datang pakai baju terbelel dan menggunakan sendal jepit, jadi saya sempat dipanggil oleh security untuk memastikan kalau mereka tidak menimbulkan bahaya, lalu baru dipersilakan masuk hehehe (saking wajahnya pada kayak garong semua sihhhh...). Makanannya juga lebih dari cukup, jadi ngga ada yang pulang kelaparan. Bandnya seru dan interaktif banget, jadi kita nggak berhenti joget-joget dengan gembira, apalagi lagunya variatif banget, mulai dari Have Fun Go Mad, Every Morning, Bagaikan Langit, sampai ke Kopi Dangdut. Oom-oom dan Tante-tante aja, walaupun duduk, tapi tetep kepalanya ikut manggut-manggut ikut irama. Chef-chef yang di dapur plus manager hotelnya juga pada keluar dan dengerin musik, karena kata mereka, baru pertama kali acara sweet seventeen dirayain di ballroom hotel itu.Acaranya baru selesai pukul 11.30 Malam, semua senang, semua bahagiaaaaa....

Tapi besoknya, 17 Agustus... harus upacara bendera... Datang ke sekolah pagi-pagi, badan lemes, mata ngantuk, kepanasan di bawah terik matahari, mana harus niup Euphonium pula untuk lagu Indonesia Raya. Temen-temen yang semalamnya datang ke party juga lemes banget. Pulang dari sekolah, langsung deh tujuan utama adalah pulau kapuk.

Satu hal yang tidak pernah bisa saya lupa dari acara ini adalah, how cool my parents are. Mereka mau muter-muter ikut keliling untuk mempersiapkan acara, masuk keluar toko baju, buat undangan, pergi ke toko kue, survey band di kafe-kafe, demi membahagiakan anaknya tercinta ini. Saya tidak mungkin bisa merealisasikan semuanya tanpa bantuan mereka, dan yang paling istimewa adalah mereka melakukan semuanya ini dengan tulus. Dalam waktu 10 hari saja, sebuah pertanyaan kecil yang dilontarkan Mama saya, tentang apakah saya akan merayakan ulang tahun ke 17, telah menjadi sebuah realisasi yang indah, asik, seru, dan tak terlupakan. Thank you so much Papa Mama, I don’t know what to do without you!

Monday, October 08, 2007

Kenangan Masa Lalu Bersama Oma

Hari Minggu, alias kemarin, tiba-tiba terbersit rasa rindu untuk datang berkunjung ke rumah Oma. Mama juga mencetuskan, mungkin Oma kangen sudah lumayan lama tidak dikunjungi cucunya. Jadilah, kita sekeluarga, Mama, saya, dan adik saya pergi mengunjungi Oma di daerah Jelambar sana. Oma Maria adalah Mama dari pihak Papa. Dari 4 Opa Oma yang saya punya, tinggal Oma Maria yang masih hidup. Usianya tidak terlalu tua, baru 73 tahun. Maklum, Papa adalah anak pertama dari 7 bersaudara. Tetapi, karena ada beberapa penyakit yang dideritanya, kondisinya lumayan menurun walaupun mungkin bisa dibilang masih cukup sehat untuk orang seusianya.

Oma sekarang sudah tidak segesit dulu lagi. Saat kita mengajak dia jalan-jalan dan makan siang di Plasa Senayan, jalannya sudah sangat lambat. Kalau tidak dipegangi oleh cucu atau oleh Mama saya, rasanya agak sulit buat Oma untuk berjalan-jalan ke Mall sendirian. Oma yang dulu selalu gaya, sekarang rambutnya tipis dan hanya diikat satu ke belakang. Untuk menaiki beberapa anak tangga di dekat parkiran, dilakukannya dengan sangat pelan, sambil bertumpu pada pegangan tangga. Setelah makan siang, kita mengajaknya berbelanja di Carrefour Ratu Plaza. Untuk membantunya berjalan selama di supermarket, Oma berpegangan pada kereta belanjaan. Biasanya Oma paling happy kalau diajak ke supermarket, karena dia bisa ambil apa saja yang dia mau. Tapi kali ini, dia hanya tertarik pada buah-buahan saja. Pas ditawari beli barang-barang lain, beliau selalu menolak, tetapi kita tetap menyelipkan beberapa barang yang sekiranya dibutuhkan.

Dalam perjalanan kembali menuju rumahnya, Oma bilang di mobil:”Makasih ya Mantu, Cucu-Cucu udah ajak jalan-jalan. Nanti takutnya kalau keburu sampe rumah Oma lupa.” Hati saya langsung nyesss banget. Sesuatu yang kecil seperti itu, bisa bikin dia senang minta ampun. Rupanya betul yang orang-orang bilang, di masa tua itu yang paling dibutuhkan orang-orang tua, adalah perhatian dari anak cucu. Saat itu, saya kepikiran, untuk menulis mengenai hal-hal indah yang pernah saya lewati bersama Oma, di masa kecil dulu. Saya tidak pernah tinggal serumah dalam jangka panjang bersama beliau, tetapi banyak sekali hal-hal indah terselip di sana-sini, yang bila dirangkai, bisa menjadi suatu cerita yang manis.

Main ke rumah oma pada saat kecil merupakan sesuatu yang sangat seru. Karena Tante saya yang paling kecil adalah seorang penyanyi, jadi Oma sering membuatkan baju-baju show untuk Tante. Dan yang namanya baju-baju show di tahun 80-an, sudah bisa ketebak, apakah bahan yang paling banyak digunakan. Yes, manik-manik. Wih...mau manik-manik dan benang warna apapun, pasti oma punya. Komplit deh. Kalau dulu dari rumahnya, saya suka bawa pulang manik-manik, suka saya pakai untuk bikin gelang, kalung, atau untuk bikin prakarya di sekolah. Soal menjahit, Oma tidak perlu dipertanyakan lagi kemampuannya. Rok pertama saya diwaktu SD, Oma-lah yang menjahitkan. Anak-anak lain memakai rok dengan banyak rempel, rok buatan oma tidak terlalu banyak rempelnya, tetapi paling rapih jahitannya. Barang favorit saya yang dijahitkan oleh Oma adalah sarung bantal dan seprai bergambar Garfield. Saya pakai sarung bantal itu dari saya SD sampai saya SMU, sampai akhirnya betul-betul tipis dan bolong sehingga terpaksa harus dipensiunkan. Kalau lagi giliran cuci seprai, saya dan adik saya paling nggak sabar supaya seprai Garfield cepat-cepat kering, sehingga kita bisa pakai lagi.

Salah satu hal yang paling saya nanti kalau liburan panjang di masa SD dulu adalah bisa menginap di rumah Oma. Paling tidak, saya bisa menghabiskan seminggu di rumahnya, dan setiap hari umumnya selalu ada jadual-jadual seru. Biasanya, saya di drop oleh Papa Mama di hari Minggu, lalu dijemput lagi Minggu depannya. Sehabis sarapan, kita suka pergi ke daerah Petak Sembilan. Kalau ke sana, kita bukannya naik taksi, tetapi naik omprengan, atau kadang naik bemo. Pokoknya seru lah jadi petualang sejati. Biasanya kita suka makan Nasi Tim atau Mie, lalu nemenin Oma beli obat-obatan Chinese. Kalau ke toko obat gitu, kadang suka serem liat serangga-serangga yang dikeringin....ihhh...tapi namanya anak-anak, tetep aja penasaran suka pegang-pegang deh.

Kadang juga suka pergi ke Glodok, belanja di Gloria, makan Pempek di bawah, terus mengisi waktu siangnya suka dihabiskan ke bioskop Chandra, nonton film-film silat atau komedi yang dibintangi sama Jacky Chan, JetLee, atau Stephen Chow. Pulang-pulang suka dibekali Oma sama baju-baju setelan piyama, gambarnya sama semua, tapi warnanya beda-beda. Saya betah banget pakai baju itu, sampai akhirnya udah ngga muat lagi. Kalau belanja sama Oma, Oma itu gerakannya paling sigap. Bayangin aja, dia bisa lari-larian dan lompat-lompat mengejar kendaraan umum.

Karena Oma bukanlah tukang masak yang ahli, kalau liburan di rumah oma, justru sayalah yang suka masak di rumahnya. Saya ingat pernah membuat martabak telur, cah-cah sayur, dan yang paling saya ingat adalah membuat bakso Lohwa alias bakso cemplung yang dibuat dari daging giling, campur jamur, soun, wortel, dll. Saya suka ikut Oma ke pasar inpres dan membeli seluruh bahan-bahannya. Pulangnya kita naik becak sampai di depan rumah oma. Pas membuat bakso Lohwa itu, saya baru sadar kalau di rumah Oma tidak ada meat processor. Jadilah saya seperti tukang masak di masa lampau, dengan modal 2 golok, menyincang daging sampai halus, dan syukurlah berhasil. Pas jam makan siang, Oma yang jadi tester, untuk menentukan, apakah makanan saya layak makan atau tidak, dan untungnya, masih layak makan, malah dibagi-bagi ke saudara-saudara sepupu yang kebetulan suka mampir ke rumah Oma. Tetapi ada satu resep diwariskan Oma dan cukup sukses dipraktekan di berbagai tempat termasuk saat saya bersekolah di negeri antah berantah sana yaitu: Biji Salak.

Pas saya kecil, Oma juga suka menginap di rumah saya. Kalau Oma menginap di rumah, rumah pasti jadi tambah ramai saja. Pagi-pagi, Oma pasti sudah nongkrong di depan rumah, lalu melakukan ritual senamnya. Lalu siang sedikit, Oma suka pergi ke pasar barengan sama Mama, lalu membeli kue-kue kampung. Oma orangnya memang nggak bisa diam. Jadi kalau ada tembok yang kotor, atau gompal, atau pagar rumah yang catnya mengelupas, pasti dia langsung bergerak. Bisa-bisanya, siang-siang bolong dia minta ijin keluar rumah, dan ternyata pergi ke toko bangunan. Pulang dia membawa kape, cat, semen, dll. Jadilah, Omaku = tukang reparasi bangunan. Pernah dulu pas saya SMU, kami sekeluarga main ke rumahnya, dan apa yang sedang Oma lakukan? Beliau lagi berdiri di atas tangga (tangga yang untuk tukang), sambil memegang kuas, dan mengecat eternit! Ya saudara-saudara, beliau lagi mengecat langit-langit rumah di usianya yang saat itu mungkin sekitar 65 tahun!

Ada beberapa kesamaan antara saya dan Oma. Kesamaan yang paling mencolok dari kita adalah, kita sama-sama shio anjing (yang berakibat pada kebawelan yang selevel), suka menyanyi, dan bisa bersiul dengan merdu. Dulu saya suka dimarahi oleh Papa dan Mama kalau bersiul keras-keras dengan melodi lagu karena dianggap tidak terlalu sopan terutama untuk anak perempuan. Tetapi kemampuan itu sekarang saya anggap sebagai hadiah special dari Oma, walaupun memang sekarang saya tidak terlalu sering bersiul. Begitu banyak yang saya kagumi dari beliau, terutama dalam keteguhannya berdoa dan memasrahkan diri kepada Tuhan. Banyak sekali berbagai tantangan yang Oma hadapi dalam hidupnya, tetapi semuanya beliau lalui dalam kekuatan doa dan support dari keluarga. Kemudian ada lagi yang saya kagumi yaitu suaranya yang super merdu. Banyak orang yang bilang suara Oma mirip sekali dengan Teresa Teng alias betul-betul tinggi dan halus. Sayangnya sang cucu nggak nurunin soal kualitas suaranya ini.

Banyak sekali memory indah yang saya miliki bersamanya, yang saya tidak bisa tuliskan di dalam satu entry blog, tetapi akan selalu saya ingat di dalam hati. Kemarin saat akan pulang dari rumahnya, Oma memeluk saya erat-erat, mencium pipi kanan dan kiri saya. Pelukan itu makin terasa hangat, karena saya merasakan cinta yang luar biasa. Tulisan ini saya dedikasikan untuk Oma tersayang, ”I love You, Oma!”

Wednesday, October 03, 2007

Surprise untuk Oom Tercinta

Beberapa waktu lalu, saya menulis mengenai acara arisan keluarga di rumah yang dilaksanakan akhir bulan Agustus lalu. Mungkin masih pada ingat, kalau saat itu, acara arisan juga digabung dengan acara tiup-tiup lilin plus potong kue bersama untuk merayakan ulang tahun saya ke 25. Saat itu, Oom saya nyeletuk,”Duh, kok saya nggak pernah ya dirayain ulang tahunnya.” Rupanya, ucapan dari Oom saya itu tertangkap oleh Mama. Kebetulan Oom dan Mama Ulang Tahunnya hanya berbeda 1 hari. Mama di tanggal 28 September dan Oom di tanggal 29 September.

Berhubung Mama adalah batere Energizer di keluarga, Mama langsung terpacu untuk mempersiapkan acara surprise birthday party untuk si Oom tercinta. Berhubung Oom kita ini tinggal di Purwakarta, jadi tidak mungkin kita menunggu beliau untuk hadir ke Jakarta dan kita berteriak ”Surprise!!” seperti penyambutan pesta kejutan biasanya. Jadilah semua persiapan dilakukan di Jakarta, dan kira-kira kalau di ringkas, inilah urut-urutan kita mempersiapkan acara:

1. Hal yang pertama dilakukan adalah menentukan waktu kunjungan ke Purwakarta. Karena Oom biasa praktek dari Senin sampai Sabtu, jadilah hari Minggu, 30 September 2007 kita pilih sebagai hari H, dan waktu makan siang dipilih sebagai momen yang tepat.

2. Supaya hari itu Oom tidak pergi kemana-mana, jadilah kita kongkalikong alias kerjasama dengan istrinya alias si Tante supaya menjaga keberadaan si Oom agar siap di tempat pada jam yang ditentukan, dan sama sekali tidak membocorkan mengenai acara yang kita rencanakan.

3. Menghubungi saudara-saudara yang lain, supaya mereka menyediakan waktu luang untuk bersama-sama berangkat ke Purwakarta dan kompak untuk tiba pada waktu yang bersamaan. Merupakan suatu keberuntungan juga karena ternyata semua saudara Mama menyanggupi hal ini bahkan beberapa ada yang excited sendiri karena inilah kali pertama keluarga besar kompak mengadakan kejutan.

4. Mempersiapkan makan siang untuk dibawa ke Purwakarta. Dalam hal ini, si Mama sebagai seksi konsumsi sekaligus perlengkapan dengan energynya yang memang berlebih itu sudah mempersiapkan makan siang berupa Nasi Uduk (lengkap dengan Telur Dadar dan Bawang Goreng), Ayam Goreng Kuning, Sambel Goreng Ati, Perkedel Kentang, Lumpia Vietnam, Bakmi Goreng, Kering Teri Tempe Kacang, Lalaban dan Sambal Ulek yang beliau persiapkan SENDIRIAN dibantu dikit-dikit oleh si Mbak (Mama emang hebat pisaaannnn). Sekali lagi, saya kebagian bantu bikin Es Campur yang isinya kelapa muda, blewah, dan selasih. Selain itu kita juga masih membawa buah-buahan (Semangka, Melon, Pepaya, Nenas), dan juga 6 Loyang Brownies Coklat dan Keju (Yang ini hadiah yang dikirim oleh temen baik Mama untuk ultah Mama, dikasih 10 loyang, Bo!). Belum lagi, supaya surprisenya ini menjadi sempurna, Tante saya yang di Purwakarta betul-betul tidak menyiapkan apapun termasuk perlengkapan makan. Jadilah kita dari Jakarta membawa serta gelas, piring, dan sendok garpu sekali pakai.

5. Mempersiapkan kue ulang tahun. Kalau ini tugas saya nih. Karena yang ulang tahun ada dua orang, ukuran dan bentuk kue juga harus diperhatikan. Dan terima kasih kepada Dapur Cokelat, karena dengan kreatifitas para cakemakernya, saya bisa melakukan pemesanan photo cake, dan kebetulan sekali, di rumah ada foto ulang tahun Mama ke 17 (di tahun 1973) dan kebetulan di dalam foto itu ada Mama dan Oom yang sedang potong kue sama-sama karena kebetulan perayaan ultah Mama saat itu dirayakan 1 hari setelahnya alias bertepatan dengan ultah Oom saya ke 31. Jadilah, di atas Triple Decker Cake nanti ada foto mereka berdua tercetak di atas lempengan white chocolate (yang dengan bantuan teknologi, bisa di scan, dibersihkan, dan dikirim lewat email ke Dapur Cokelat). Karena lokasi Dapur Coklat tidak ada yang dekat rumah, pengambilan kue menjadi tugas Tante yang tinggal di Kelapa Gading.

Begitu hari H tiba, kira-kira pukul 10.30 pagi, dengan mobil yang sudah penuh orang dan perlengkapan, kita semua berangkat dari Jakarta. Pukul 12.20-an, kita sudah sampai di rumah Oom, tetapi kita tidak langsung masuk, melainkan menunggu keluarga lain, supaya ”penyerangan” bisa dilakukan bersama-sama. Begitu anggota team sudah komplit, kita sama-sama menyerbu dengan teriak:”Halo-halo...Assalamualaikum... Ada pasieeennnn!!”

Tidak berapa lama kemudian, si Oom yang memang hari Minggu tidak praktek, keluar ke ruang tamu memakai kemeja dan celana pendek. Dengan wajah tersenyum dan terharu beliau langsung menyambut kita semua, yang dengan gembira menghujaninya dengan ucapan selamat dan ciuman mesra. Kemudian dia menunjuk ke istrinya yang lagi ketawa cekikikan sambil geleng-geleng kepala karena ternyata bisa-bisanya bohongin dia di hari ulang tahunnya.

Acara dilanjutkan dengan makan siang yang nyam-nyam banget, sambil ngobrol-ngobrol ngalor ngidul, mulai dari soal pekerjaan, soal cucu-cucu (alias keponakan-keponakan saya) yang mulai bisa ngoceh dan jalan. Tante saya (istri dari Oom dokter) cerita, pas tanggal 29-nya, si Oom bilang,”Duh, sepi banget ya ulang tahun kok gini-gini aja”. Lalu Tante jawab,”Tenang aja, nanti juga rame kok.” Tapi si Oom ngga nyadar kalau bakal disurprisein. Lalu tanggal 30 pagi, si Tante udah sempet kasih hint-hint, ”Mau makan enak nggak ? Nanti siang kita makan enak yah.” Tetep aja si Oom masih ngga nyadar. Makanya begitu pas kita semua udah ngumpul, si Oom mencoba menghubungkan clue-clue tersebut dan akhirnya sadar kalau hint-hintnya sebetulnya sudah ada, tetapi dia betul-betul tidak menyangka.

Pas acara potong kue, bukan hanya Oom saja yang surprise, tetapi Mama juga ikutan surprise. Maklum, photonya itu betul-betul dicetak di atas lempengan coklat dan hasilnya bagus banget (promosi gratis untuk Dapur Cokelat nih...). Oom saya sampai penasaran, lantas digesek-gesek photonya pakai jari, sambil berkomentar, ”Tuh liat, ganteng nggak gue pas masih muda?” Lilin ulang tahunnya ada 2 set, umur 65 untuk Oom dan umur 51 untuk Mama. Pas potong kue, diulangi lagi posisi seperti 34 tahun lalu, mereka potong kue bersama-sama, hanya saja kali ini, dua-duanya sudah mulai keriput dan badannya sudah tidak selangsing dulu lagi, namun rasa persaudaraan tidak pernah lekang, walaupun dibatasi oleh jarak dan waktu. (Oom, you’re still handsome, and Mom, you’re still pretty as always!)

Sekitar pukul 4 sore, kita semua siap-siap untuk pulang. Seperti biasa, semua orang mendapatkan “Jatah Preman”(istilah di kantor saya untuk makanan sisa acara). Setiap orang pasti bawa kantongan yang isinya sayur, satu loyang brownies, dan kue ulang tahun. Semua pulang dengan senyuman, dengan hati senang karena kejutan yang direncanakan berhasil dengan manis. Pukul 4.30 sore, Selamat Tinggal, Purwakarta!

Momen-momen selama kumpul kita abadikan, dengan foto, dan juga dengan video, untuk dijadikan kenangan, dan memberikan harapan, supaya seluruh anak cucu di masa yang akan datang, bisa tetap akrab seperti saat ini, AMIN!