Wednesday, September 26, 2007

Ngantuk di Kantor

Apakah yang akan anda lakukan pada saat anda di kantor, pekerjaan lagi agak-agak slow, dan rasa kantuk menyerang? Ada beberapa hal yang saya lakukan sejak pagi tadi, yaitu:

1. Menulis entry blog. Karena saya tidak mendapatkan inspirasi apa-apa lagi untuk menulis blog, saya pikir mengapa saya tidak menulis saja soal hal-hal yang membuat saya tetap terjaga selama ada di kantor, walaupun ngantuknya setengah mati.

2. Menyapa teman-teman melalui chat room, dan curhat mengenai betapa ngantuknya saya. Rupanya hal ini tidak terlalu banyak membantu, karena ternyata teman-teman saya juga mengeluhkan hal yang sama yaitu mereka juga ngantuk karena banyak kegiatan pas weekend kemarin.

3. Mendengarkan pembicaraan orang-orang di sekitar saya, kali-kali ada yang menarik. Ternyata hari Senin ini tidak terlalu membawa gejolak yang berarti, karena orang-orang masih terlalu serius membicarakan pekerjaan, sehingga rasanya tetap cukup membosankan. Bahkan orang yang biasanya menjadi petasan, hari ini duduk tenang seperti petasan yang sumbunya kerendam air banjiran.

4. Ikut-ikutan nyanyi dan kasih selamat kepada Bapak CFO yang lagi ulang tahun. Lumayanlah, hal ini bisa membuat saya sedikit beranjak dari kursi dan sedikit melakukan gerak badan. Apalagi dapet hadiah kue coklat 1 potong. Yummy! Cuma sehabis lunch dan makan kue coklatnya, tetep aja ngantuk, sampai tadi saya sempat seperti terlelap selama sekitar 1 menit, dan begitu terjaga, ternyata saya masih berada di kantor (padahal lagi bayanginnya ada di rumah, di atas ranjang di bawah selimut).

5. Mendengarkan pembicaraan orang mengenai saham, bursa, dan teman-temannya. Nah, karena index harga saham lagi lumayan bergairah, kita-kita yang ngga punya saham pun, jadi sok-sokan nyamar jadi analis. Mayan lah buat ngerame-ramein dan sekaligus mengurangi jatah ngantuk.

Loh...loh....kok saya dipanggil meeting? Be right back!

(Dua hari kemudian)

Ternyata, hari Senin kemarin itu, saya diajak meeting sampai jam 7 malam, sehingga akhirnya entry ini tidak bisa dilanjutkan di hari yang sama. Dan hari selasa saya full of meeting. Jadi deh hari Rabu ini baru bisa di posting. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya. (Padahal tadinya mau bikin entry yang real time hihihi….*gaya bener….*)

Friday, September 21, 2007

Reuni Kecil-Kecilan

Saya cukup surprised ketika akhir Agustus lalu saya mendapatkan undangan perkawinan warna shock pink (atau mungkin orang sekarang bilangnya pink gonjes) yang dihantarkan lewat kurir ke rumah. Dan lebih surprising lagi, undangan itu bukan ditujukan untuk keluarga saya, tetapi ke Sdri. Noni. Jadi sudah pasti orang ini bukan dari instansi kantor, melainkan pasti dari seorang teman, karena yang memanggil saya dengan sebutan Noni hanyalah keluarga dan teman-teman (plus sekarang ditambah dengan beberapa bapak-bapak bos di kantor yang suka memanggil saya Noni karena katanya mengingatkan kepada anak perempuan mereka).

Ternyata memang benar, undangan tersebut adalah undangan pernikahan dari teman saya Edit, yang surprisingly enough, sudah tidak bertemu dengan saya sejak lulus SMU alias sudah lebih dari 7 tahun yang lalu. Dulu teman-teman kita sering memanggil dia si Bodi, yang sampai saat ini sayapun tidak paham kenapa dia dipanggil dengan nickname itu. Pada masa SMU dulu, segala yang aneh-aneh itu rasanya sah-sah saja. Selama 7 tahun terakhir ini, media yang paling aktif menghubungkan kita semua hanyalah email dan Friendster, jadi yang namanya ceriwis-ceriwisan, ketawa-ketiwi nggak jelas seperti dulu, sudah lama benar tidak saya lakukan.

Sebetulnya, banyak dari teman-teman seangkatan saya yang sudah menikah, bahkan sudah beranak pinak. Tapi baru kali inilah saya berkesempatan untuk hadir di pesta pernikahan teman SMU seangkatan karena sebelumnya saya masih berada di negeri antah berantah. Jadi undangan ini saya anggap sebagai kesempatan untuk temu kangen dengan teman-teman lama.

Akhirnya saat yang dinantikan tiba (loh, kok kayak mau say I do aja....), begitu tiba di tempat pesta, saya hanya celingak celinguk saja, karena betul-betul bingung mau mulai dari mana. Tiba-tiba saya melihat sekelompok cewek-cewek sedang asyik ngobrol, dan dengan ciri khas ketawa yang nggak karuan, saya sudah duga, itu pasti sekelompok teman-teman SMU saya (beginilah typical anak-anak sekolah kami, baik di sekolah, di pasar, maupun di tempat pesta, gaya ngobrolnya tetap saja sama).

Kebanyakan dari teman-teman saya, masih saya kenal baik rupa dan namanya. Yang paling membuat grogi adalah saat saya lupa, sebetulnya siapa nama teman yang berdiri di depan saya. Tapi kemudian ingatan SMU menyeruak dan tiba-tiba sederet nama dan wajah-wajah remaja itu muncul kembali. Ternyata teman-teman saya sekarang sudah menjadi wanita yang sesungguhnya, dibalik gaun-gaun cantik dan penampilan dewasa, bukan lagi anak-anak edan dengan seragam rok panjang putih hijau kotak-kotak yang terkadang suka lupa kalau duduk di lantai pahanya beredar kemana-mana. Beberapa teman mengalami perubahan drastis. Yang dulu berkacamata dan terlihat seperti kutu buku, sudah menjelma menjadi seorang yang modis, ada yang dahulu jalannya sradak-sruduk seperti banteng mau menerjang matador, sekarang menjelma menjadi Putri Solo.

Banyak juga dari teman-teman saya yang sudah lupa sama saya. Begitu mereka mengingat kembali, kita semua langsung teriak-teriak kegirangan seperti anak kecil yang mendapatkan kado impian. Kebanyakan pembicaraan kita bukan lagi siapa cowok keren yang digossipin sama-sama, dan bukan juga guru-guru killer dan ulangan mendadak yang menyebalkan, melainkan, sudah kerja di mana, atau sedang sibuk apa sekarang ini. Walaupun topiknya sudah lebih sesuai dengan umur, tetapi tetap kehebohannnya masih mirip dengan masa SMU, ketawa ngakak nggak karuan, sampai lupa kalau sebenarnya masih banyak orang-orang lain di sana. Saking serunya, sampai jam 9 malam, beberapa dari kita sampai lupa makan. Padahal jam 9, makanan mulai diangkat. Jadi deh sebagian perutnya masih kosong, tapi pikirannya tetep happy.

Karena susahnya mencari waktu untuk ketemuan dan ngerumpi bareng, jadilah acara pesta perkawinan seperti ini cukup dinanti-nanti sebagai saat untuk berkumpul. Kitapun sudah mereka-reka, siapa yang akan menikah selanjutnya, bahkan sudah ada juga yang punya plan yang hampir pasti alias sudah book sana sini. Setiap kali teman ada yang menikah, saya suka jadi bertanya-tanya sendiri, kapan ya giliran saya? Yah, mungkin belum sekarang,tapi mudah-mudahan bisa dapat yang terbaik yang dikasih Tuhan, AMIN (Loh, kok malah jadi ngomongin diri sendiri sih ?...maklum, udah mulai quarter life crisis.. hehehe, tapi doakan loh....)