Wednesday, August 29, 2007

Arisan yuk Arisan

Sepeninggalnya Oma saya dari pihak Mama yang kebetulan semasa hidupnya tinggal di rumah kami, jarang sekali keluarga dari pihak mama bisa kumpul lengkap. Bahkan pada saat Tahun Baru Imlek yang biasanya diisi dengan kumpul bersama, sekarang ini sudah tidak ada lagi, mungkin karena tidak ada Oma yang menjadi pusat kunjungan rumah. Bisa dimaklumi juga, karena keluarga Mama terdiri dari 7 bersaudara dengan mama sebagai anak terkecil. Mengumpulkan 5 orang saja susah, apalagi mengumpulkan 7 keluarga. Terakhir seluruh keluarga kumpul sama-sama adalah pada saat ulang tahun Mama ke 50, September tahun lalu, itupun salah satu oom saya berhalangan hadir dan diwakili oleh anak-anaknya.

Sebetulnya arisan keluarga ini sudah dimulai sejak tahun lalu. Tapi entah kenapa, sejak Agustus tahun lalu, tiba-tiba arisannya berhenti, padahal baru 2 keluarga yang dapat giliran. Makanya, saya tidak pernah merasakan seperti apa arisan keluarga kita itu karena saya masih berada di negeri antah berantah sana. Jadi dengan semangat yang kembali membara, Mama saya berusaha menggalakan kembali arisan keluarga ini, dan tanggal 26 Agustus lalu, akhirnya arisan keluarga kita berjalan juga dengan keluarga kami sebagai tuan rumahnya.

Dari sejak beberapa hari sebelumnya, Mama yang memang jagoan kalau memasak dalam mass quantity sudah siap-siap membeli bahan-bahan, dan dengan kekuatan super, proses masak-masak itu sendiri baru dimulai Sabtu malam alias tanggal 25 Agustus. Ini menunya: Swekiaw kuah, terong balado, mie goreng, lumpia Vietnam, brokoli cah udang, dan bistik ayam. Masih juga ada buah-buahan dan es kelapa muda dengan selasih dan konyaku. Pagi-pagi tanggal 26-nya mama betul-betul kerja keras, sampai pas saudara-saudara mulai datang, mama baru saja selesai mandi.

Kesampaian juga, 7 keluarga berkumpul, paling tidak suami-istrinya. Ada juga sepupu-sepupu yang hadir, tapi tidak terlalu banyak karena sebagain besar sudah berkeluarga. Makanan juga laku keras dan semua bilang masakan mama enak, makanya mama senyum-senyum terus. Syukur-syukur ilmunya itu bisa diturunkan kepada anak perempuannya ini, yang dari pagi cuma kebagian bikin es kelapa muda dan potong-potong buah.

Selesai acara makan-makan, diadakan acara pengocokan arisan untuk menentukan siapa yang dapat giliran selanjutnya. Saat itu, nggak ada yang berani tarik nama karena berusaha menghindar dari dapet giliran hehehe. Akhirnya yang dapat adalah kakaknya mama yang tertua, dan dia langsung kena panic attack (becanda deeee....). Disepakatilah, arisan selanjutnya diadakan di bulan November ini.

Oh iya, sekilas tentang arisan keluarga ini, arisannya tuh murah banget, cuma Rp. 100 ribu saja per keluarga. Jadi setiap arisan, uangnya itu dikumpulkan, untuk mengganti biaya makan-makan yang dikeluarkan oleh tuan rumahnya, yang tentu saja sering kurang karena inflasi. Tapi yang pasti kumpul-kumpulnya lah yang dipentingkan. Jadi buat para keluarga yang mungkin sudah lama tidak bertemu untuk ngumpul, boleh-boleh saja mengadakan arisan seperti ini, dijamin, rasa persaudaraan akan terus terjaga, dan setiap keluarga bisa membagi cerita dari keluarga masing-masing, dengan update-update terbarunya. Namun sayang, masih ada 1 pertanyaan yang menghantui saya saat arisan seperti kemarin itu.... selalu ditanya: KAPAN KAWIN ? Huaaaa.....

PS: Ada acara bonus saat arisan kemarin. Sekali lagi ulang tahun saya yang ke 25 dirayakan. Kuenya kali ini lebih besar, karena juga akan dibagi-bagi sekeluarga besar. Kita nyanyi lagi, tiup lilin lagi, potong kue lagi, make a wish lagi deh. Kali ini terasa komplit karena adik saya juga ikutan, tidak seperti waktu di Hong Kong kemarin yang hanya dirayakan berdua dengan mama. Saat itu, untuk fotopun kami harus pakai timer yang diletakan di atas kursi. Kali ini ada sepupu yang jadi tukang fotonya. OK, selesai soal ulang tahun kali ini, mungkin orang-orang yang baca blog saya sudah bosen soal cerita ulang tahun saya lagi hihhihi.... maklum, sudah lama tidak dirayakan di Indonesia..jadi excitementnya berlebih nih.

Tuesday, August 21, 2007

Bagi Cerita Pertama di Umur 25

Seperti yang saya janjikan sebelumnya, saya akan membagi sedikit pengalaman merayakan hari ulang tahun saya, yang sedikit gila, sedikit seru, dan sedikit unforgettable.

Kegilaan perdana saya adalah pada saat mendadak, saya memutuskan untuk mengambil cuti 1 hari di hari ulang tahun dan membeli dua tiket ke Hong Kong untuk saya dan Mama secara online. Inilah kali pertama saya berani melakukan transaksi secara online di Indonesia, dan dengan kelemotan internet di Indonesia, kartu kredit saya sempat di charge dua kali lipat, namun akhirnya dapat diselesaikan dengan baik oleh pihak bank dan pihak penerbangan.

Perjalanan ke Hong Kong diawali dengan banyaknya turbulence di dalam pesawat, dan cuaca yang kurang baik saat kita tiba alias hujan berkepanjangan. Begitu sampai di Conrad Hotel, kita langsung dibawa ke executive lounge di lantai 59, dan saya dikejutkan dengan lagu “Happy Birthday” yang dimainkan secara otomatis oleh system pada saat reservasi saya sedang diproses. Kita mendapatkan kamar di executive floor yaitu di lantai 58 dengan ocean view dan pemandangan Kowloon peninsula. Ada buah segar 1 piring besar dan 1 klakat (kukusan) yang berisi home made chocolate. Kamarnya betul-betul tertata apik dengan LCD TV 32 inci di kamar, dan satu buah lagi LCD TV di kamar mandi, jadi saat saya sedang nongkrong, saya bisa melakukannya sambil menonton pertandingan kejuaraan dunia bulu tangkis.

Karena cuaca kurang baik, saya dan mama memutuskan untuk menikmati cocktail di lounge saja sambil menikmati makanan kecil (yang ternyata tidak kecil-kecil amat) seperti beef pastry, samosa, spring roll, quiche, dan lain-lainnya (beserta 1 gelas screwdriver) yang membuat kami melupakan makan malam.

Kembali ke kamar, kami dikejutkan lagi dengan adanya 1 kue tart tiramisu dengan tulisan happy birthday, dilengkapi dengan lilin dan 1 buah kartu yang ditandatangani oleh hotel staffs. Oh gosh! I was really happy that I decided to have my birthday here! Habis acara tiup-tiup lilin dan saling berfoto-foto tidak jelas (maklum kita hanya berdua saja, jadi fotonya harus sendiri-sendiri, atau kalau misalnya mau berdua, ya harus pakai timer), kami makan kue yang rasanya memang uenak tenan.

Oh iya, saya menerima banyak sekali ucapan selamat melalui email, SMS, telepon, Friendster, messenger, dan lain-lain. Maaf kalau saya tidak bisa membalas SMS ataupun hanya bisa menerima telepon cepat-cepat karena roaming. Saya lupa mengisi pulsa sebelum berangkat sehingga saat pulang sisa pulsa tinggal Rp. 2,970 Rupiah saja. Mengenai hari-hari saya di Hong Kong selanjutnya, mungkin akan membosankan jika diceritakan secara detail, karena isinya hanya makan, tidur, jalan-jalan, dan berputar di situ-situ saja. Yang pasti, saya dan mama had a great time di sana.

Terkadang ada yang menganggap ulang tahun itu biasa, hanya seperti hari-hari lainnya, apalagi usia terus bertambah sehingga menyurutkan keinginan untuk merayakannya. Tetapi buat saya, hari ulang tahun itu adalah hari yang spesial. Hari dimana kita dituntut untuk bisa refleksi diri dan membuat resolusi, hari di mana kita bisa mencari alasan, untuk membahagiakan diri, untuk berbuat sesuatu yang sedikit nyeleneh, dengan alasan yang sangat simple: It’s my birthday!

Friday, August 17, 2007

Quarter Life !

I'm 25 today :)

Umur yang paling rentan untuk dikejar oleh pertanyaan soal masa depan.

Cerita ultah menyusul yaaaaa.....

Thursday, August 02, 2007

Sedikit Kenangan Masa SMU

Saat saya membongkar laci untuk membereskan kertas-kertas, say a menemukan selembar kertas yang dulu isinya saya bacakan saat hari pesta perpisahan SMU Santa Ursula angkatan tahun 2000. Saya masih ingat, malam itu saya pakai kebaya yang saya pinjam dari Oma saya. Tak terasa lebih dari 7 tahun berlalu setelah peristiwa itu, dan tak disangka, lembaran itu masih ada, utuh, masih putih seperti dulu. Buat yang ingin mengetahui sedikit kenangan saya di kelas 3 SMU, atau alumni yang ingin mengingat masa lalu, inilah sedikit yang bisa saya bagi.

Selamat malam Bapak, Ibu Guru, Suster, dan teman-teman yang terkasih,

Betapa bingungnya saya waktu saya ditugaskan untuk membuat kesan-kesan selama menjadi murid kelas 3 IPA 2, karena sesungguhnya, apa yang akan saya sampaikan ini, tidak banyak artinya dibandingkan berjuta pengalaman yang terlah saya dapatkan di kelas ini.

Kesan pertama adalah faktor yang sangat penting. Ketika pertama kali bertemu teman sekelas, yang ada dalam pikiran saya hanyalah, yah, mudah-mudahan saya bisa berteman baik dengan mereka semua. Tapi beberapa saat kemudian, terdengar langkah-langkah kaki yang khas milik seseorang. Seperti biasa, bila langkah itu terdengar, anak-anak akan spontan berbisik-bisik. “Tenang hey, Bu Dewi dateng!” Dan ternyata, memang Bu Dewi-lah wali kelas kami.

Kelas 3 IPA 2 bukanlah kelas yang ramai. Bahkan menurut guru-guru kelas , kami ini pasif, kalau ulangan nilainya paling jelek, kerjasamanya kurang, dan nggak toleran. Tapi semuanya itu kami terima dengan lapang dada diselipi sedikit rasa dongkol. Yah walau bagaimanapun kan kami sudah berusaha.Kelas 3 IPA 2 juga kelas yang cukup menyedihkan, karena kami terus menerus dioper-oper seperti bola, dari lorong yang satu ke lorong yang lain. Kami tahu, karena kelas kami anaknya manis-manis, jadinya diletakkan di tempat paling terpojok sekalipun, kami tetap menjadi murid yang tenang.

Kami ingat ketika itu kami pulang lebih pagi, dan kelas kami bersepakat untuk memakai kantong kresek hitam sebagai tas sekolah kami. Kami dengan siaga menunggu respon dari setiap guru yang masuk ke kelas. Dan ketika kami mengambil buku dari tas itu, terdengarlah suara yang menyesakkan tellinga namun begitu lucu bagi kami.

Pengalaman yang berkesan adalah waktu menyiapkan misa. Dari berbagai pendapat yang bertentangan, akhirnya kami bisa mempersiapkan misa dengan cukup baik. Bahkan kami bangga bahwa kami bisa menyelenggarakan misa yang sederhana tetapi indah. Kami memegang pesan dari wali kelas kami bahwa yang baik itu tidak harus mewah dan ikut-ikutan gaya orang lain. Kebanggaan kami yang lain adalah kami salah satu kelas yang tidah pernah lupa untuk mengambil dan mengembalikan sapu.

Tentang Bu Dewi, wali kelas kami yag termasyur itu, kami banyak sekali mendapat bimbingan yang berharga darinya selama jam wali kelas maupun saat pelajaran Matematika. Walaupun kami kadang kesal atas segala kebijakannya, kami tahu, apa yang beliau usahakan adalah yang terbaik bagi kami. Kesukaannya terhadap warna merah membuat foto kelas kami bila dilihat dari jauh mirip kue tart dengan buah cherry segar ditengahnya. Dan hal itu tentunya menambah kesan tersendiri.

Buku harian, adalah sarana yang menghubungkan antara kami dengan Bu Dewi. Dalam buku harian itu kami bisa menulis apa saja, suka dan duka kami tanpa rasa takut dan rahasia tetap terjamin. Terus terang, terkadang buku haran itu baru kami tulis jika Bu Dewi memintanya. Bahkan di antara kami banyak yang tidak menyerahkan buku harian sampai beliau kesal.

Disebut galak, memang Bu Dewi galak, tapi gebrakan-gebrakannya membuat kami semangat untuk berpacu, dan tidak mengenal kata putus asa. Pertemuan ami dalam jam pelajaran matematika yang terakhir sebelum Ebtanas, membuat beberapa di antara kami sempat menitikkan air mata.

Untuk Ibu Dewi dan seluruh guru-guru yang kami cintai, terimalah permintaan maaf kami dari kelas 3 IPA 2, juga ucapan terima kasih setulus-tulusnya dari lubuk hati kami yang paling dalam, karena tanpa anda semua, kami tidak akan pernah bisa menyongsong hasil ujian kami esok hati. Sekali lagi terima kasih dan selamat malam.