Friday, July 27, 2007

Kisah Singkat dari Hak (Bukan Kewajiban) Sepatu

Kemarin sehabis makan siang, hak sepatu saya nyangkut di antara conblock di trotoar depan kantor. Sepertinya itu conblock tidak saling disemen sehingga menimbulkan celah-celah kosong dengan lebaran hampir 1 cm. Hampir saja saya jatuh, tapi untung kaki saya masih nempel di dalam sepatu, jadi jatuhnya bisa ditahan. Padahal sol sepatu saya itu baru saja dibetulkan di Stop and Go. Tapi untunglah kali ini bukan solnya yang rusak tetapi sayangnya hak sepatu jadi lecet lecet semua. Untung saya pergi barengan dengan teman saya yang kebetulan bisa saya jadikan tiang penyangga pas saya mau narik kaki saya dari dalam selipan trotoar, sehingga saya bisa kembali dengan selamat dan sukses di kantor.

Ya begitulah keadaan trotoar dan jalan di Jakarta. Bukannya saya kesal gimana, tetapi sejak saya pulang kampung, saya sudah membetulkan lebih dari 5 pasang sepatu di Stop and Go. Saya tidak mengerti apakah saya yang memang jalannya serabutan seperti bebek habis minum tuak, atau memang kondisi jalannya tidak memungkinkan buat saya jalan-jalan santai tanpa merusak sepatu, atau kemungkinan ketiga, hak sepatu saya terlalu kecil-kecil jadi kesalahan ada di tangan saya yang memilih stiletto dengan hak imut-imut.

Asyik kali ya kalau bisa claim biaya perbaikan sepatu ke pembuat trotoar. *boleh dong ngimpi*

Friday, July 13, 2007

Back to The Past

Memang betul, saya merasa kembali ke masa lalu saat saya menonton film Transformers yang premier Kamis 2 minggu kemarin itu (Yes, I watched it on premier day !). Di bioskop penuh dengan anak-anak kecil yang mungkin tidak pernah tau kalau Transformers adalah bagian dari masa kecil kami-kami ini yang berusia 20-an. Dulu, dikala saya masih kanak-kanak, tokoh utama Transformers yang namanya Optimus Prime adalah salah satu robot favorit saya disamping Goggle V. Loh loh, kok cewek sukanya robot sih?

Jadi begini ceritanya. Di keluarga saya yang kecil ini, saya hanya mempunyai seorang adik laki-laki yang berbeda umur tidak sampai dua tahun dari saya. Jadilah walaupun satu perempuan dan yang satunya lagi laki-laki, kita merasa kalau kita adalah teman main yang asyik. Kalau saya lagi kepingin main boneka binatang, pasti kita bisa kumpulin itu semua binatang mulai dari teddy bear, koala, kangguru, guk-guk, mongki, walrus, dan lain-lain, lalu kita bikin cerita misalnya si koala naksir kangguru, lalu dinikahkan sama pastor yang diperankan teddy bear, lalu punya anak guk-guk, mongki, dan lain-lain. Adik saya bisa aja berperan juga di ceritanya itu dengan mewakili diri di beberapa binatang. Begitu juga dengan mainan Barbie, masak-masakan yang dari kayu, maupun mainan cewek lainnya.

Sebagai anak laki-laki, pasti adik saya paling demen main robot-robotan. Dulu saya ingat waktu kecil kita suka nonton Goggle V barengan, sampai hafal gerakan-gerakan noraknya (Btw, spandex saat itu jadi ngetop banget ya ? Ketat-ketat semua gitu loh). Jadi begitu kita tau ada robot-robotannya di toko mainan Hoya (ayooo inget nggak toko mainan ini ? Ngetop banget loh dulu), bukan hanya adik saya yang merengek-rengek minta dibelikan, saya juga ikut-ikutan mendukung. Begitu sampai di rumah, untuk yang satu ini kita sampai rebutan. Apalagi robot Goggle V itu bisa dicopot-copot bagian-bagiannya dan terbuat dari besi tulen. Jadi hati-hatilah kalau mainan sama ini, karena salah-salah bisa benjol. Kadang-kadang, kita adu cepat-cepatan memasang bagian-bagian badannya. Bagian kepala itu merah, bagian badan itu biru, dan kakinya kuning. Ampun deh… kok saya ingetin ginian ya? What’s wrong with me?

Era Goggle V hilang, era robot Amerika datang. Transformers! Tapi namanya robot Amerika, pasti sulit dicari mainannya yang kualitasnya baik. Segala yang dari Amerika, pasti akhirnya mainannya buatan China yang terbuat dari plastic yang sebentaran pasti hancur kalau dimainin sama anak-anak sesangar kita. Makanya begitu Papa ada tugas di Singapura, kita langsung tau apa yang kita mau… Transformers ! (dengan tambahan titipan anak cewek yang masih sama, Barbie dong!). Kita waktu itu lupa bilang ke Papa akan nitip yang mana. Tapi ternyata Papa tau kalau idola anak-anaknya adalah si truk merah alias Optimus Prime. Terus terang, begitu Papa pulang, Barbie saya terasa tidak terlalu menarik lagi dibandingkan si Optimus. Jadilah Optimus menjadi mainan idola kita bersama, sampai catnya ada yang mulai mengelupas, dan kadang menimbulkan kekhawatiran kalau-kalau mainan ini tidak akan bertahan beberapa tahun ke depan.

Namun beranjaknya usia membuat kami pelan – pelan melupakan mainan-mainan kami pada saat kecil. Saat kedewasaan menanjak, satu persatu mainan kami masukkan ke dalam box dan bertahun-tahun kami lupakan keberadaannya. Mereka hanya diam di dalam lemari, atau teronggok di gudang. Setelah menonton film kemarin, terbanglah saya ke masa lalu, dan mengingat segala hal-hal kecil yang menyenangkan di masa lalu.

Saya percaya, setiap orang mempunyai benda-benda kenangan. Mungkin tak ada salahnya kita luangkan waktu untuk membongkar mainan kita di masa kecil, dan kembali membayangkan betapa orang tua kita begitu mencintai kita dengan memberikan mainan-mainan yang menarik, dan membayangkan, dengan siapa dulu kita memainkannya. Dan buat pasangan suami istri yang masih menyimpan benda-benda masa pacaran dulu, mungkin juga bisa dibongkar dan dilihat kembali. Surat cinta pertama, atau tangkai bunga pertama dapat kembali mengingatkan betapa romantisnya masa pacaran dulu, dan hubungan yang sudah hambar, bisa dihangatkan lagi.