Friday, April 13, 2007

Pergi Untuk Kembali

Mungkin ada yang ingat, kalau akhir Desember tahun lalu, saya pernah menulis suatu karangan yang diterbitkan di koran Permias Madison, berjudul: “Bagaimana Tinggal di Amerika Mengubah Hidup Saya”. Saat saya menulis karangan itu, air mata saya sempat mengalir karena walaupun karangannya asal-asalan, bahkan terkesan seadanya, karangan itu adalah hadiah perpisahan saya setelah enam tahun menuntut ilmu dan juga bekerja di Amerika Serikat.

Saat saya memutuskan untuk kembali ke kampung halaman, tanggapan orang bermacam-macam. Teman-teman saya yang orang Indonesia umumnya menyayangkan keputusan saya itu. Pertama tentunya karena mencari kerja di Amerika Serikat (yang legal loh ya…) apalagi di perusahaan yang cukup prestisius susahnya setengah mati. Ditambah lagi, mendapatkan sponsor visa H1-B dari perusahaan itu, susahnya bahkan tiga perempat mati. Apalagi seperti semua orang tau, gaji di Amerika itu cukup besar, sehingga kalau diRupiahkan, saya bisa sering-sering liburan ke Bali dan nginap di hotel berbintang.

Ada anggota keluarga saya yang tidak percaya, mengapa saya rela menyia-nyiakan kesempatan emas yang orang bilang namanya American Dream. Ada yang mengira-ngira saya punya masalah dengan pekerjaan saya, sehingga saya harus angkat kaki dari Amerika. Padahal waktu saya mengumumkan di kantor saya kalau saya akan pulang ke Indonesia, tak sedikit dari co-worker saya yang menitikan air mata, bahkan manager-manager saya dengan sukarela menawarkan untuk menuliskan surat rekomendasi supaya membantu saat saya mencari kerja di Indonesia. Kata salah seorang manager saya, saya adalah salah satu auditor andalannya, bahkan sampai dijuluki “Walkthrough Machine” karena saya hoby sekali interview client untuk meneliti proses, suatu hal yang berusaha dihindari oleh co-worker saya. Setiap hari selama dua minggu terakhir bekerja, teman-teman kerja saya menunjukkan dukungan yang tak terhingga, yang makin membuat saya yakin bahwa saya tidak akan melupakan mereka semua walaupun saya sudah kembali ke Jakarta. Hari terakhir saya bekerja di bulan Desember itu, badai salju hari pertama menghantam kota Milwaukee, seakan-akan mengingatkan bahwa badai salju itu sebentar lagi bukan menjadi bagian dari hari-hari saya.

Saya kembali ke Indonesia secara sadar, dengan pertimbangan yang matang. Saya sadar kalau saya begitu sayang dengan keluarga saya, dengan Mama saya yang selama enam tahun terakhir menjadi orang tua tunggal setelah Papa dipanggil Tuhan, dengan adik yang membutuhkan seorang pembimbing, sehingga materi sudah bukan menjadi pertimbangan yang utama, dan American Dream adalah suatu cita-cita yang ternyata bukan milik saya. Sebagai anak tertua di dalam keluarga, saya merasa terpanggil, untuk mengayomi keluarga, memberikan support bukan hanya lewat doa, tapi juga lewat pelukan dan perhatian langsung. Dulu, setiap hari saya pasti menelpon mama 1-2 jam, tetapi beda sekali dengan pelukan selama 5 menit, pembicaraan-pembicaraan kecil di meja makan, atau joke-joke tidak jelas sebelum mata terpejam di waktu tidur.

Manusia hidup tidaklah panjang waktunya. Kematian Papa pada umur 48 tahun menyadarkan saya, bahwa Tuhan bisa memanggil kapanpun Dia mau. Saat Papa sudah tiada, impian saya bersamanya ikut terkubur bersama dengan raganya. Karena itu, waktu saya yang sempit di dunia ini, ingin saya habiskan dekat dengan orang-orang yang saya cintai, supaya saat saya berhasil, saya bisa membagi kebahagiaan saya dengan mereka, dan saat saya rapuh, ada orang-orang terkasih yang mendorong saya. Mungkin alasan saya klise, penuh dengan idealisme. Tetapi hal itulah, yang mendorong saya untuk kembali ke Jakarta. Semua orang pergi, pasti untuk kembali. Seperti kita dilahirkan lalu nanti kembali ke Sang Khalik, saya juga pergi 6 tahun lalu, dan kembali lagi.

Ada yang bilang, walaupun hujan emas di negeri orang, lebih enak hujan batu di negeri sendiri. Kalau buat saya sih, dua-duanya gak enak. Masak hujan emas atau batu ? Bisa-bisa kepala saya bocor hehehe… Lebih enak yang normal-normal… hujan air saja…Tapi, ternyata hujan air kebanyakan nggak enak juga. Hari pertama saya bekerja di Jakarta, saya disambut oleh banjir bandang lima tahunan… dan saat itu saya sadar…

Saya sudah di Jakarta, Bung!