Friday, January 26, 2007

SERU, TEGANG, MENGERIKAN, ANEH….. (Menyetir di Jakarta)

Beberapa tahun terakhir saat saya pulang ke Jakarta, Mama saya selalu melarang saya menyetir. Bukan kenapa-napa, Mama takut saya tidak terbiasa dengan keadaan lalu lintas Jakarta yang cukup memprihatinkan. Kalau tidak salah, terakhir saya menyetir sebelum pulang yang kali ini adalah liburan Natal dan Tahun Baru 2002. Hasilnya saat itu adalah pintu mobil saya bonyok total tertabrak taksi di Bunderan HI. Dan sopir taksinya ? Kabur ! Tentu saja, itulah Jakarta. Terang-terangan yang ngaco total itu adalah sopir taksinya. Saat itu dia nyetir di bagian paling dalam Bunderan HI,padahal dia mau ambil lurus ke depan. Sementara saya berada di lajur kedua dari dalam dan mau belok. Terang-terangan jalur paling dalam itu hanya untuk memutari Bunderan HI. Tapi saya mau bilang apaaaaa ??? Mau lapor polisi, bisa-bisa saya “dikerjain” sama polisinya…. Serba susah !

Soal setir menyetir, sebetulnya saya adalah penyetir yang lumayan ulung ( kata temen-temen saya loh….). Maklum, saya mendapatkan SIM pertama dengan jalur normal, lewat latihan intensif, dan berjam-jam nongkrong di SAMSAT Daan Mogot sana. Makanya, hasil menyetir saya bisalah dipertanggungjawabkan. Selama menyetir di Amerika pun, tidak pernah saya mendapatkan tiket pelanggaran yang selalu ditakuti oleh para pengemudi. Intinya saya adalah pengemudi yang baik dan benar (walaupun saya suka nyolong2 ngebut juga…. à abis gak ada yang jaga (kata iklan rokok itu)).

Setelah Mama saya menyerah dengan hanya memiliki mobil manual dan memutuskan membeli mobil automatic, saya kembali mencoba peruntungan saya menyetir di Jakarta. Walaupun dulu saya menyetir mobil manual, tetapi selama di Amerika saya menyetir mobil automatic. Dengan keberadaan mobil automatic, Mama saya berkurang khawatirnya saat saya meminta untuk kembali menyetir di Betawi. Sampai sejauh ini, mulus dan baik baik saja. Saya seringkali dimarahi Mama saya karena nggak mau pencet klakson. Maklum, klakson di Amerika sana itu hanya digunakan dalam keadaan kepepet saja. Akhirnya saya menyadari, kalau di Jakarta, keadaan kita itu selaluuuu kepepet. Intinya: untuk menjadi raja jalanan, kita harus juga menjadi raja klakson!

Sekarang, saatnya saya bertanya pada Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Raya alias DLLAJ DKI Jakarta.

1. What’s the point of having “Three in One” ? Asli deh! Jalur 3 in 1 itu ada di mana-mana, tapi joki juga ada di mana-mana. Yang ada, joki yang berseliweran itu juga bikin macet, bikin pusing, bikin takut! Gak mutu banget ! Yang ada, saya malah susah kemana-mana. Masak sih kita dipaksa harus masuk jalan tol terus ? Lalu ditongkrongin pula di depan pintu keluar jalan tol.

2. Beberapa kali saya lewat jalan Gatot Subroto (GS) dan menghadapi persimpangan GS dan Tebet, juga GS dan Kuningan. Dan setiap kali saya dibuat terbengong-bengong. Ada kira-kira enam polisi di persimpangan tersebut, dan anehnya, saat lampu merah, kita malah disuruh jalan, dan saat lampu hijau kita disuruh berhenti. Aneh tapi nyata kan ? Itulah Jakarta! Kalau sekali terjadi sih nggak apa-apa. Tapi kalau ini, seperti lagunya Betharia Sonata: Berulang kaliii…aku mencobaaa…. Apa maksudnya pak Polisi ? Apa maksudnyaaaa ?

3. Sepeda motor di lajur kiri. Kalau memang mau dilaksanakan dengan baik, kenapa Polisi yang ngawasin adanya pagi-pagi sama sore-sore saja, Pak? Apakah motor-motor cuma nongkrong di jalan pagi sama sore aja ? Siang-siang juga banyak Pak! Belum lagi banyak polisi “jebakan”. Kayaknya para pemakai jalan suka “dipaksa” untuk melakukan kesalahan, lalu sampe depannya: PRITTTT….. terjadilah peristiwa negosiasi tingkat tinggi… Buat yang tinggal di Jakarta, you know what I’m talking about.

Sudahlah…. Sepertinya sebagai warga Betawi yang baik dan benar, saya akan “berusaha” semaksimal mungkin untuk mematuhi peraturan yang ada, selalu tersenyum bahagia walaupun sebetulnya getir di dalam hati, dan pada waktu yang bersamaaan tetap menjadi raja…eh ratu klakson. TOET TOET….

Wednesday, January 17, 2007

Hiatus or Not ?

Koneksi internet di Jakarta yang lambatnya nggak kira-kira ini, kadang membuat saya desperado. Mau nulis entry di blog, prosesnya kok sepertinya panjang sekali. Panjang nunggunya maksudnya.

Jadi kalau saya jarang nulis akhir2 ini, mohon dimaklumi lah yehhh.... Mau hiatus, tapi nggak tega loh.... Tapi mau pakai cable, lebih ngga tega lagi saking mahalnya di Jakarta...

Moga-moga, nanti di Jakarta cable jadi murah, dan nggak pake limit2 segala. Sehingga kita semua yang betul-betul memakai internet dengan tujuan yang baik, bisa browsing dengan nyaman dan tenteram.

Ah sudah ah.... daripada nungguin internet, mendingan makan kue putu....

Monday, January 08, 2007

Tahun Baru, Semangat Baru

8 hari setelah tahun baru ini, saya masih garuk-garuk. Bukan karena bingung, tapi karena di Jakarta nyamuknya ganas2 !! Lagi baca koran pagi2, tau-tau bentol di kaki nambah. Beda dengan nyamuk Amerika yang gendut2 dan lambat, nyamuk sini singset2 dan cepat banget bergeraknya.

Modal saya di sini adalah raket listrik yang sempat membuat saya gemetaran gara2 kepegang kawatnya pada saat kali pertama saya coba. Habisnya saya heran, kok nggak kena2 nyamuknya. Saya pikir raketnya rusak, jadi deh saya toel2 dikit. Tahun baru malah jadi korban korsleting !

Tapi di tahun baru ini saya belajar, kita nggak boleh putus asa, nggak boleh menyerah dalam meraih impian kita. Usaha penuh, semangat penuh. Saya suka sekali dengan iklan Coca Cola yang baru yang intinya hidup itu indah. Betul2 sesuai untuk memberi kita inspirasi.

Semoga di Tahun yang baru, hidup kita semua bisa semakin indah. Bukan hanya karena keberhasilan diri kita, tapi juga karena kita bisa berbagi terhadap sesama... (mungkin berbagi makanan terhadap nyamuk2 juga hehehe).