Monday, December 03, 2007

KK ( Bukan Kartu Keluarga, Tetapi Kartu Kredit)

Selama proses pencarian pekerjaan di Jakarta, saya nggak pernah kepikiran untuk segera membuka account kartu kredit. Maklum deh, pengeluaran paling hanya ongkos bensin, itupun pinjam Mama dulu, karena kan masih belum tau nanti kerja di mana, sehingga kalo bisa sih, bank yang dicari kan sebaiknya lokasinya dekat dengan tempat kerja. Padahal orang-orang sudah bilang, kalau di Jakarta nggak punya kartu kredit tuh hampir nggak mungkin. Apalagi dengan banyaknya offer-offer menarik, seperti beli 1 gratis 1 untuk nonton di cineplex, discount-discount menarik… wah, ngiler juga sih.

Apakah yang membuat saya bengong saat saya kembali ke Jakarta? Ternyata orang-orang Jakarta itu hebat-hebat bo…koleksinya lumayan manteb, yaitu koleksi kartu kredit. Waktu awal tahun ini, saya lagi interview kerjaan, siang-siang saya kelaparan, dan akhirnya stop di restaurant cepat saji di bilangan Sudirman. Di depan saya ada 2 orang ibu mengantri untuk pesan paket ayam. Begitu giliran mau bayar, dia nengok ke temennya, rupanya dia nggak bawa uang cash, jadi mau pinjem temennya dulu. Orang nggak bawa cash sih memang sudah biasa, tapi ya, yang paling menakjubkan itu, kartu kreditnya lebih dari sepuluh!! Yang lebih menakjubkan lagi adalah, ternyata rata-rata para professional di Jakarta ini memang mempunyai beragam kartu kredit. Maklum, biasanya di tahun pertama, iurannya gratis.

Sampai pada akhirnya saya sudah mulai bekerja, dan merasakan juga kebutuhan untuk menggunakan kartu kredit. Kebetulan di kantor sedang ada perjanjian dengan salah satu bank di Jakarta, sehingga saya mendapatkan priviledge untuk mendapatkan penawaran langsung kartu kredit dari bank tersebut. Nah, di sini itu anehnya, kalau mau bikin kartu kredit pakai diwawancara segala, mesti pakai slip gaji segala, padahal saya baru saja masuk kerja. Lalu pakai periksa history pekerjaan segala, dan embel-embel lainnya. Akhirnya saya cukup bilang ke orangnya:”Begini ya Mas, saya baru kembali dari Amerika. Dulu kerja di Amerika. Dulu kartu kredit saya ada A, B, C, semuanya platinum. Tapi di sini baru masuk kerja. Jadi terserah Mas aja gimana…” Eh, ngga taunya nggak berapa lama kemudian kartunya dateng, di dalam box cantik berwarna hitam. Ternyata dapet oi platinum...lumayaaannnn….

Nggak beberapa bulan kemudian, datang lagi perwakilan dari bank lain yang kebetulan ada perjanjian juga dengan kantor. Nah, ditawarinlah lagi itu kartu kredit. Kali ini rupanya nggak semudah bank yang sebelumnya. Bank yang sebelumnya setelah saya jelaskan keadaan saya yang baru kembali dari luar langsung mengerti. Nah kalau bank yang ini, agak-agak rese. Pertama di depan saya, dia janji mau kasih kartu platinum ke saya dan salah satu atasan yang ikut mendaftar. Tetapi beberapa hari kemudian dia telepon lagi, nanya soal slip gaji dan lain-lain. Saat itu saya cuma bilang, “Kalau di tempat saya, nggak setiap saat slip gaji di print, dan dari bank lain yang namanya lumayan besar juga, saya sudah mendapat kartu platinum, karenanya nggak usah takut saya nggak kuat bayar.” Kalau atasan saya, saking kesalnya ditanya-tanya lagi di telepon, dia hanya bilang:”Ya udah, saya kan udah punya kartu kredit banyak. Jadi kalau dapet yang ini ya syukur, nggak juga nggak apa-apa.” Akibatnya adalah beberapa minggu kemudian kartunya datang, dan hasilnya: saya cuma dapet kartu gold, dan atasan saya nggak dapet apa-apa. Ampun dah itu salesman, tinggi hati banget sih! Padahal kan seharusnya salesman bank itu menjaga relation ya dengan perusahaan. Untunglah bos saya ini orangnya pengertian.

Pertamanya sih saya santai-santai aja. Udah bagus dapet gold lah, daripada nggak dapet apa-apa. Lagian, umumnya yang mendapatkan tawaran khusus itu umumnya gold dan platinum. Jadi punya gold aja sudah cukup. Tapi ternyata kekesalan terjadi pada saat saya berada di airport keberangkatan internasional. Ternyata khusus untuk bank tersebut, pemilik kartu platinum mempunyai lounge sendiri, dengan jendela besar dan pemandangan yang indah dari area bandara. Ditambah lagi, saya melihat makanannya berderet-deret dengan indahnya, menunya pun istimewa. Meja-mejanya cantik dan modern. Sementara untuk kartu gold hanya mendapatkan akses ke lounge biasa, seperti kartu kredit dari bank-bank lainnya. Hikssss… tau gitu, saya ngotot aja ke si salesman bank. Bingung aja, udah dijanjiin platinum kok, malah dapetnya gold.

Tapi kebingungan terbesar sebetulnya ada pada diri saya sendiri. Saya yang nggak sampai beberapa bulan lalu cuek soal kartu kredit, ternyata sekarang kok jadi mikirin keuntungan-keuntungannya. Cuma ada juga kelemahannya kartu kredit ini. Gara-gara kartu kredit pada menawarkan diskon di tempat-tempat makan, saya yang tadinya cuma mau makan gado-gado atau ketoprak, jadi malah makan steak lantaran tergiur diskon dari kartu kredit. Jadi sebenernya saya untung nggak sih? Nggak tau juga tuh… Yang pasti sih, yang untung ya perusahaan kartu kreditnya sama restaurantnya kalau punya customer suka makan kayak saya hehehe.

3 comments:

  1. hahhahaaaaaaaaa lama2x kamu punya 10 juga, jeng !

    ReplyDelete
  2. punya gold emang ga ada artinya niy skrg bu..

    bahkan d terminal 1 k lampung aja mandiri mesti platinum..sial...

    hehe2

    ReplyDelete
  3. Ooooei....udah mule tergiur ya ama CC...tapi hati2 deh ama yang namanya kredit. Tetep harus ngelunasin toh.
    Btw, ya aku masih inget toh ama kamu non...cuman gak nyangka ternyata udah balik Indo ya.

    ReplyDelete