Friday, November 23, 2007

Winter Depression vs Rainy Season Depression

Waktu saya masih tinggal di negara dengan empat musim, setiap bulan-bulan segini ini, sudah tidak seimbang lagi pembagian antara siang dan malam. Di musim gugur yang mulai beranjak menjadi musim dingin, waktu gelap itu tentunya lebih panjang daripada waktu terang. Pukul 8 pagi, suasana masih seperti pukul 6 pagi pada waktu normal, dan pukul 4 sore, rasanya sudah seperti senja. Di musim seperti ini, ada suatu syndrome yang menyerang orang-orang yang tinggal di daerah empat musim, yang dinamai Winter Depression. Umumnya orang-orang menjadi lebih murung, dan lebih cepat bosan. Intinya, seperti tidak ada harapan akan kehidupan. Bawaannya pingin marah-marah dan nggak kepingin keluar dari rumah lantaran di luar dingin dan gelap.

Uh, ngebayanginnya aja udah ngga enak banget kan. Anehnya, saya ini nggak gimana merasakan apa yang disebut dengan Winter Depression itu selama tinggal di sana. Saya dulu malah nggak percaya kalau syndrome ini betul-betul ada sampai teman saya mengalaminya dan dia menyatakan kalau syndrome tersebut benar-benar nyata dan bisa di cek di internet. Saya dulu malah bilang ke teman saya kalau semuanya itu cuma perasaan diri sendiri saja, asal kita bisa positive thinking, pasti semuanya itu segera berlalu. Dalam kenyataannya bener juga, tahun depannya temen saya itu ibaratnya sudah “sembuh” dari syndrome itu dan dia merasa lebih happy. Sukseslah teori saya, kalau depresi seperti itu memang sebetulnya tidak ada, dan perasaan nggak enak itu mudah dikendalikan.

Tahun ini, di bulan November, musim hujan mulai menyerang Jakarta. Di sore hari, umumnya langit menjadi agak gelap, dan hujan turun hampir setiap hari. Saya tidak pernah mendengar soal Rainy Season Depression, tetapi saya merasa, saya sedang mengalami hal yang tersebut. Mungkin ini adalah Winter Depression versi Indonesia yang kebetulan hanya mempunyai dua musim saja. Semangat saya menjadi turun. Keinginan untuk mix and match pakaian juga drop. Pekerjaan sepertinya menjadi membosankan. Di taksi bawaannya tidur melulu. Pulang ke rumah juga nggak kepingin ngapa-ngapain. Nulis blog aja jadi males minta ampun. Anehnya, napsu makan agak-agak naik… hehehe... lagi-lagi lanjut ke cerita wisata kuliner.

Minggu kemarin, pas hari Jumat malam pulang ke rumah, ngelihat mama bikin ketupat komplit, yang isinya ada ketupat, sayur pepaya muda, semur tahu kentang telor daging, sambel goreng ati ampela, plus emping dan kerupuk. Langsung deh embat 1 mangkok ketupat. Belum lagi di rumah selalu ada buah mangga, jadi sehabis makan, break sejenak, lanjut lagi dengan makan mangga. Hari Sabtu, karena ada rencana nonton jam 11.30 pagi di Blitz, jadilah sarapan dulu di rumah. Lagi-lagi semangkok ketupat, tapi tanpa ketupatnya, tetep sih sayur-sayurnya komplit. Sehabis nonton, udah mulai lapar lagi, makan 1 piring Baso Tahu Campur-nya Saboga, ditambah 1 mangkok Es Kacang Merah Coklat-nya Satay House Senayan. Dari situ lanjut ke Gereja St. Theresia untuk Misa sore. Pulang ke rumah, malamnya sih ngga kemana-mana. Tapi ini mulut walaupun nggak makan besar, tetep comot sana comot sini. Ya buah lah, ya cake lah, ya keripik singkong lah, ya kue kering bikinan mama lah (oh iya, si Mama juga bikin kue kering dengan mentega special sampai 3 toples, uenak bangettt).

Hari Minggunya, pagi-pagi memenuhi undangan pembubaran panitia acara kawinan temen saya kemarin di Golden Ming Restaurant, Acacia Hotel, yang berarti: Makan Dimsum all you can eat. Di meja saya, isinya hampir anak-anak muda semua dengan nafsu makan yang besar, dan gilanya, saya juga terpengaruh untuk makan banyak… nggak tau deh ada berapa puluh porsi yang dihabiskan di meja kita. Sampai-sampai, meja kita ini dapat operan dari meja tetangga karena kecepatan makan di meja kita paling tinggi dibandingkan meja-meja lainnya. Ditambah lagi, tuan rumah juga ada di meja saya, sehingga dia selalu saja nambah-nambah order sampai kita akhirnya nyerah juga (walaupun tetep aja abis). Pulang dari makan siang, saya leyeh-leyeh di rumah sambil nonton TV, dilanjutkan dengan nonton DVD pinjeman License to Wed. Minggu malam, lanjut lagi makan bertiga ke Mandarin Spice, Senci. Pesen menunya: Ubur-Ubur Polos, Kepiting Soka Goreng Lada Garam, Daging Sapi Cah Jahe dan Daun Bawang, Ayam Saus Bawang Merah, Gurame Saus Thailand, Tahu Hot Plate, plus saya masih pesan dessert Kuo Lin Kau. Bayangkan, betapa banyaknya makanan yang masuk ke badan saya.

Besok paginya nimbang, seperti biasa kan naik… tetapi saya nyantai aja, nggak bingung seperti biasanya, malah cenderung pasrah. Bener juga kalau ciri-cirinya syndrome ini tuh seperti orang yang nggak punya harapan. I don’t wanna eat my own words, but I guess, I’m really having the Rainy Season Depression..DAMN!

1 comment:

  1. hahahhaha....pasrah. sama deeeeehhh kekkekek....bisa dibayangkan, mama masak makanan uenak gitu. aku aja bacanya ngiler

    waktu ke indo april lalu selama 2 minggu, timbanganku naek 2 kg. gimana kalo netap ya ? 20 kg kale

    ReplyDelete