Thursday, October 11, 2007

Sweet Seventeen Memories

Gara-gara Oom Arman menulis soal bagaimana menyenangkannya mempersiapkan acara ulang tahun anaknya yang pertama dan jadi EO dadakan, saya jadi tertarik juga untuk menulis mengenai ultah saya yang paling seru, paling berkesan sebagai anak perempuan yaitu my sweet seventeen birthday party yang terjadi di tahun 1999 (8 tahun laluuuuu….gila gila gila, kalo punya anak tahun segitu, sekarang udah kelas 3 SD!)

Buat sebagian besar gadis, sweet seventeen itu mungkin menjadi saat yang paling ditunggu-tunggu. Apalagi biasanya di usia tujuh belas itu, yang namanya remaja putri lagi genit-genitnya, lagi mekar-mekarnya dan umumnya di saat itulah remaja putri boleh dandan dan pakai high heels tanpa merasa canggung, dan yang pasti mulai mengenal yang namanya pacaran. Tapi tunggu dulu, itulah yang ideal di dalam dunia SINETRON.
Buat saya saat itu, saat-saat menginjak usia 17 bukanlah seperti di dalam gambaran gadis-gadis dengan rambut panjang, duduk manis, dan gossipin cowok di depan kantin sekolah seperti di sinetron itu.

Saat itu, saya baru menginjak kelas 3 SMU, jurusan IPA, dengan wali kelas guru paling killer satu sekolah. Sekolah pun isinya kaum hawa semua, sehingga dengan berat badan saya yang cukup fantastis dan rambut superbondol dan kacamata besarpun, tidak membuat orang mengomentari penampilan saya. Tas sekolah saya, besar dan beratnya mungkin bisa menyaingi gallon air mineral ukuran 19 liter. Maklumlah, kalau sampai lupa bawa salah satu buku, bisa habislah nasib kita hari itu. Botol air saya adalah botol piknik merek Coleman yang ukuran 2 liter. Jadi bisa dibayangkan, bagaimana setelah seluruh paket bentuk fisik saya dan perlengkapannya itu dijadikan satu. Yes, I’m proudly saying that I’m the Super Geek. Cuma satu yang bikin saya terlihat seperti anak perempuan, yaitu saya masih pakai rok. Saat itu yang ada dalam pikiran saya adalah: belajar, belajar, dan belajar. Cowok ? Wih, boro-boro, itu adalah mahluk yang bisa merusak konsentrasi belajar (Lagian siapa coba yang mau sama robocop betina kayak saya?).

Jadi, ketika 10 hari sebelum hari ulang tahun saya ke 17 mama menanyakan apakah ultah saya mau dirayakan, yang ada saya malah bengong. Ultah ke 17 itu kan ibaratnya untuk cewek-cewek yang girly gitu, pakai gaun-gaun. Tetapi saat itu saya berpikir, usia 17, seharusnya menjadi titik balik saya menuju kedewasaan. Mungkin ada bagusnya juga untuk dirayakan. Tetapi bagaimana cara merayakannya ? Tinggal 10 hari lagi gitu loh! Mau di mana ? Pake baju apa ? Terus mau dikasih makan apa itu tamu-tamu ? Lalu acaranya apaan ? Ampun, mikirin begituan aja saya stress. Belum lagi biayanya. Mama dan Papa saat itu hanya bilang,”Karena Papa Mama cuma punya 1 anak perempuan, Papa Mama berniat bikinin pesta buat kamu. Kalau punya lebih dari satu, mungkin kita nggak akan rayakan secara besar karena nanti ngga cukup uangnya.” Saat itu saya merasa, Papa Mama saya memang keren banget, anaknya yang tomboy ini dihadiahkan suatu hal yang didamba-dambakan anak perempuan seusia saya yaitu merayakan kedewasaannya bersama teman-teman tercinta.

Sekarang apa-apa sajakah yang harus disiapkan selama menjadi EO untuk diri sendiri ?

1. Tempat dan Makanan. Karena ulang tahun saya jatuh pada hari Senin dan besoknya adalah hari libur (17 Agustusan gitu loh), kita mendapatkan tempat yang cukup strategis lokasinya, yaitu ballroom hotel berinisial CP di bilangan Semanggi. Gara-gara lokasi itu pula tapinya, kita harus membayar extra uang keamanan ke Komdak yang lokasinya tepat di seberang hotel. Maklum saat itu peristiwa traumatik Tragedi May 1998 masih membekas, jadi yang namanya salam tempel anti huru hara itu penting juga. Nah, karena diadakannya di hotel, satu lagi beban yang harus dipikirkan berkurang yaitu konsumsi, karena pemesanan tempat termasuk pemesanan makanan. Yang menarik adalah, sebelumnya saya pernah ngomong sambil berandai-andai ke Mama pas datang ke situ di acara kawinan, kalau seru juga ngadain ulang tahun di situ. Tapi terus terang, kaget juga, saat hal yang diandai-andaikan itu menjadi kenyataan. Saya sangat tidak menyangka Papa Mama mau mensponsori anaknya di tempat ini karena pas jaman itu, sweet seventeen teman-teman saya umumnya dirayakan di kafe.

2. Undangan dan Kartu Undangan. Saat itu sebetulnya saya sudah tau, siapa siapa saja yang mau diundang. Yang pasti, teman-teman SMU saya, beberapa teman saya dari SD, dan SMP, dan juga keluarga besar. Tetapi namanya acara, harus ada undangan resminya. Saat itu undangan lewat email kan ngga ngetrend. Waktu itu kebetulan ada undangan perkawinan yang sangat menarik yang saya simpan di rumah, lalu ada nama card-makernya, yaitu Happy Cards di daerah Jakarta Barat sana yang memang specialist undangan perkawinan. Jadilah saya, Papa, dan Mama pergi ke sana, dan meminta undangan dibuat secara express! 3 hari harus selesai, plus ucapan terima kasihnya juga. Undangan itu warnanya offwhite dengan bunga bunga kecil berwarna keunguan. Yang lucu, pas saya membagikan undangan ini di sekolah, teman-teman menyangka ada temannya yang mau nikah. Walaaahhhhh..... Ditambah lagi, kata adik saya (yang kebetulan bersekolah di sekolah khusus laki-laki di daerah Menteng sana), katanya undangan saya sudah nempel di papan pengumuman sekolah itu, berarti saya harus siap-siap kalau ada tamu tak diundang (yang ternyata berjumlah lebih dari 30 orang).

3. Pakaian dan Penampilan. Dengan body saya yang saat itu lumayan montok dan berlemak seperti drum mintak tanah, sangat berat untuk mencari-cari baju pesta. Setelah sempat mampir di beberapa tempat dan mencoba baju sewaan (yang umumnya nggak muat), akhirnya sampailah kita di pelabuhan terakhir yang bersedia untuk membuatkan baju yaitu Chenny Han Bridal. Sekarang Chenny Han ngetop banget ya. Dulu saya datangnya ke rumahnya yang di Kramat Sentiong (kalau nggak salah sekarang sudah pindah ke daerah Kebon Kacang deket PI sana). Saat itu Tante Chenny yang emang baik banget dan ramah banget itu, bersedia mendesign baju untuk saya lalu meminta crewnya untuk menjahitkan dalam waktu 1 minggu saja. Bajunya kayak princess, warnanya ungu, ada bownya gede banget di belakang (gara-gara undangan ungu, semuanya jadi ngikut deh sok diungu-unguin, termasuk gaunnya Mama, lalu dasinya Papa dan Adik). Pas hari H, saya jadi putri deh. Pas hari H, rambut saya yang bondol ini oleh hairdressernya digulung-gulung, dibikin seakan-akan saya ini pake sanggul, lalu wajah saya full makeup gitu. Dan demi menjaga penampilan (asli deh...demi banget), hari itu saya nggak pakai kacamata! Jadilah perayaan 17 tahun saya, semuanya agak-agak burem. Yang penting sayanya cantik dong. Tapi yang kejadian sih, temen-temen saya pada ngakak-ngakak semua nggak karuan lantaran walaupun pakai gaun dan full makeup, saya tetep jalannya kayak King Kong.

4. Kue Ulang Tahun. Namanya ulang tahun, belum klop kalau ngga ada kuenya. Saat itu kita kepikiran satu aja, toko kuenya ini harus bisa bikin kue yang bagus, rasanya enak, dan sudah berpengalaman. Jadi pilihan jatuh kepada Libra Cake yang kebetulan punya design kue yang cute banget. Saya masih inget, pulang sekolah langsung ke Kelapa Gading untuk pesan kuenya. Kuenya tuh kira kira tingginya 1 meter lebih, dengan standnya angka 17. Cake-cake yang di tier-tiernya itu bentuk hati-hati gitu, cewek banget lah pokoknya. Udah gitu yang serunya, kita bisa minta hiasan cream dan bunga-bunganya bernuansa ungu juga. Kalau orang nikah pesen kue itu berbulan-bulan di muka, kalau kita sih, 5 hari aja bo! Bener-bener express order, tapi yang penting hasilnya ok banget. Kuenya nggak dari gabus atau plastik kayak kawinan jaman sekarang, jadi pas selesai acara, kuenya bisa dibagi-bagi untuk keluarga.

5. Acara. Karena di tahun saya merayakan sweet seventeen, bangsa ini baru saja mengalami recovery dari keterpurukan di tahun 1998, saya jadi tidak terlalu mempunyai banyak referensi untuk acuan acara. Yang ada dalam pikiran saya itu saat itu adalah yang penting semua orang bisa kumpul dan menikmati acaranya. Karena saya lebih menyukai acara yang interaktif daripada hanya sekedar goyang-goyang di lantai dansa dengan memanggil seorang DJ, saya berkeinginan untuk menggunakan live band. Waktu mencari live band ini, Papa dan Mama berkeliling ke kafe-kafe. Papa Mama sampai jadi seperti wisata kuliner gara-gara setiap kali ke suatu tempat, mereka sambil pesan makanan dan mendengarkan musik. Sampai akhirnya bertemulah mereka dengan seorang manager yang membawahi beberapa band dia menyarankan kami untuk memanggil Excite Band yaitu band utama yang tampil setiap hari Sabtu di Fashion Cafe. Gara-gara memanggil band ini, kita jadi harus menambah sound system lagi karena mereka full band yang anggotanya 9 orang. Tapi keuntungan yang didapat adalah, mereka bersedia juga menjadi MC gadungan, jadi nggak perlu manggil MC lagi hehehe... (ngga rugi kan ??...). Di hotel juga kita minta disediakan dance floor, jadi semua orang bisa joget-joget dengan nyaman, tanpa merusak karpet di ballroom.

6. Dokumentasi. Beruntunglah punya seorang Papa yang punya banyak teman. Salah satu teman papa yang namanya Oom Wadi adalah pemilik studio foto dan video. Kalau nggak salah namanya Star Video deh (bukan Star Vision yang punyanya si Chand Parwez hehehe). Begitu di telepon, langsung si Oom Wadi mengiyakan untuk mengirim krunya untuk foto-foto dan video shooting. Dikasih discount pula loh! Di hari H, krunya Oom Wadi ternyata sudah nunggu saya dari jam 5 sore karena dipikir biasa kan kalo pengantin gitu datangnya pagian, buat foto-foto dulu di taman atau di tepi kolam renang. Tapi yang ada, saya datang jam 7 lewat hihihi...tamunya aja udah duluan nyampe. Maklum, pulang sekolah langsung mandi, lalu lari-lari ke salon, pulang, ganti baju, jalanan macet, dst dst dst, ditamah lagi, si cuek ini bukan penganten sih... jadinya ngga kepikiran buat foto session. Di era di mana kamera digital belumlah marak seperti sekarang, kalau foto itu kudu hati hati dan nggak bisa main jepret aja. Gara-gara saya datang terlambat itu, foto session saya jadi ditontonin temen-temen, sambil diketawain juga...hikss..

Wah, baru ngomongin persiapan dan beberapa hal lucu di hari H saja udah panjang banget. Apalagi kalo ngomongin seluruh acara pas di hari H-nya, bisa-bisa nggak selesai-selesai. Acaranya sendiri berjalan sangat lancar, seru, dan asyik. Yang datang kira-kira ada 200-an orang, walaupun ada insiden kecil, gara-garanya gerombolan anak-anak yang tak diundang dari sekolah khusus laki-laki itu datang pakai baju terbelel dan menggunakan sendal jepit, jadi saya sempat dipanggil oleh security untuk memastikan kalau mereka tidak menimbulkan bahaya, lalu baru dipersilakan masuk hehehe (saking wajahnya pada kayak garong semua sihhhh...). Makanannya juga lebih dari cukup, jadi ngga ada yang pulang kelaparan. Bandnya seru dan interaktif banget, jadi kita nggak berhenti joget-joget dengan gembira, apalagi lagunya variatif banget, mulai dari Have Fun Go Mad, Every Morning, Bagaikan Langit, sampai ke Kopi Dangdut. Oom-oom dan Tante-tante aja, walaupun duduk, tapi tetep kepalanya ikut manggut-manggut ikut irama. Chef-chef yang di dapur plus manager hotelnya juga pada keluar dan dengerin musik, karena kata mereka, baru pertama kali acara sweet seventeen dirayain di ballroom hotel itu.Acaranya baru selesai pukul 11.30 Malam, semua senang, semua bahagiaaaaa....

Tapi besoknya, 17 Agustus... harus upacara bendera... Datang ke sekolah pagi-pagi, badan lemes, mata ngantuk, kepanasan di bawah terik matahari, mana harus niup Euphonium pula untuk lagu Indonesia Raya. Temen-temen yang semalamnya datang ke party juga lemes banget. Pulang dari sekolah, langsung deh tujuan utama adalah pulau kapuk.

Satu hal yang tidak pernah bisa saya lupa dari acara ini adalah, how cool my parents are. Mereka mau muter-muter ikut keliling untuk mempersiapkan acara, masuk keluar toko baju, buat undangan, pergi ke toko kue, survey band di kafe-kafe, demi membahagiakan anaknya tercinta ini. Saya tidak mungkin bisa merealisasikan semuanya tanpa bantuan mereka, dan yang paling istimewa adalah mereka melakukan semuanya ini dengan tulus. Dalam waktu 10 hari saja, sebuah pertanyaan kecil yang dilontarkan Mama saya, tentang apakah saya akan merayakan ulang tahun ke 17, telah menjadi sebuah realisasi yang indah, asik, seru, dan tak terlupakan. Thank you so much Papa Mama, I don’t know what to do without you!

10 comments:

  1. wow.. what a sweet memory ya!!!
    gile juga dalam 10 hari persiapannya... dan sukses berat!!
    hebat euuuyyy!!!

    kebayang banget gimana serunya pesta lu ny... :)

    ReplyDelete
  2. Hihihihi lucu banget bacanya... seruuu gua baca blog entry yang ini... bikin pesta sweet seventeen an kayak bikin pesta kawinan huehuehuehe. Tapi seru sih jaman dulu kelas 2 SMA biasanya... gua dulu ampir tiap minggu ke sweet seventeenan. Sooo nostalgic...

    ReplyDelete
  3. wah leony kalo lu dulu sma nya robocop betina, inget g pas sma? tengkorak betina. boro2 ada cowok yg ngelirik hihihi
    tapi g ga pesta tuh soalnya pas jaman riot
    dan g sampe skrg masi anti pake gaun...

    ReplyDelete
  4. i was the guitarist of excte band. i still dont remember your seventeen moent:P emang waktuitu di hotel mana yah? gw asli gak inget he2. btw excite band sendiri masih eksis n jadi reguler band hard rock hotel. tentu dg formasi g udah berbeda. walau masih ada bbrp member lama

    ReplyDelete
  5. Hi Mr. guitarist...

    sayang sekali nggak leave nama, email atau web address, jadi saya gak bisa kontak deh. Masih ada foto2nya loh... loh, di hard rock hotel berarti di bali dong ? Apa sama dengan excite yg di Jakarta ? udah 10 tahun lalu loh...

    ReplyDelete
  6. beruntung kali kau mbak. swit sepentinku 4 tahun lalu gk dirayain sama skali. cuma psen pizza kumakan sendiri. hahahaaa

    ReplyDelete
  7. @Anonymous: Iya, saya merasa cukup beruntung, punya orang tua yang baik juga. Perayaan itu kan bentuk rasa syukur ya, jadi misalnya makan pizza pun, itu merupakan bentuk rasa syukur juga :)

    ReplyDelete
  8. BuLeee. Akhirnya maen ke sini. Iah kayak main naik mesin waktu baca postingan tahun 2007 ini. Keren. Kagum juga bisa beres persiapan dalam 10 hari. Salut!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, 8 tahun lalu ternyata gaya nulis saya masih sama aja ya. Sama parahnya maksudnya.

      Delete