Wednesday, May 02, 2007

OB oh OB

Yup, I’m back ! Setelah saya menulis dengan lancar untuk beberapa postingan sebelumnya, akhir-akhir ini otak saya lagi agak-agak mandek. Saya tidak mengerti apakah hal itu disebabkan oleh pekerjaan saya yang semakin bertumpuk, ataukah memang udara Jakarta yang akhir-akhir ini sering mendung membuat daya tulis saya juga ikut tertutup awan.

Banyak orang yang meminta saya untuk menuliskan pengalaman sehari-hari saya di Jakarta . Tentu pasti akan saya kabulkan, sampai pada batas tingkah laku manusia sehari-hari secara umum. Saya bisa saja bercerita soal teman-teman saya di kantor saya sekarang yang lumayan lucu-lucu, tetapi karena saya tau kalau beberapa di antara mereka adalah pembaca blog ini, maka niat tersebut saya urungkan saja daripada nanti saya salah menulis dan didemo ramai-ramai gara-gara menyebarkan gosip sepihak.

Kali ini saya mau bercerita mengenai teman kantor saya juga, bukan satu, tapi beberapa sekaligus. Beberapa orang ini tidak pernah saya temukan waktu saya bekerja di Amerika, namun di Indonesia saya menemukan senyum mereka setiap hari. Mereka adalah orang-orang berdedikasi tinggi yang kadang suka dipandang sebelah mata dan dianggap warga kelas dua. Mereka adalah para Office Boy alias OB. Spesial di kantor saya, mereka adalah para OB dan OG alias Office Girl.

Betapa kagoknya saya saat hari pertama saya bekerja, segelas air putih sudah tersedia di meja. Bukan hanya di meja saya, tetapi di meja seluruh karyawan. Buat saya yang dulunya harus bolak balik ke dapur untuk mengambil air minum, adanya segelas air putih di gelas bening itu sudah merupakan satu surprise pertama. Ternyata, setiap pagi, para OB sudah berkeliling untuk menyediakan minuman. Bahkan untuk orang-orang yang membawa gelas dan tempat minum sendiri, para OB sudah hafal harus diletakkan di meja yang mana.

Sebelum jam makan siang, rekan kerja saya bertanya, apakah mau makan di bawah atau titip beli makan siang. Titip ke mana? Kok enak banget beli makan siang bisa titip ? Ternyata, lagi-lagi titip ke OB. Sebelum jam makan siang tiba, sebungkus makanan yang saya titip sudah siap di atas meja. Dulu, saat jam makan siang, biasanya saya membawa container sendiri kemudian setelah makan saya cuci di dapur, atau menggunakan piring kertas yang disediakan kantor. Tetapi di sini, piring, mangkok, dan gelas sudah disediakan. Saya tinggal tuang makanan saya, lalu piring kotornya tinggal ditumpuk dan OB yang akan mencucinya.

Dulu, untuk memperbanyak laporan, saya harus ke ruang fotokopi sendiri, mencabut staples2nya, lalu menyusunnya kembali. Di sini, saat saya mau fotokopi, bos saya bilang kalau kita bisa meminta OB untuk fotokopi. Nahloh, bahkan fotokopi saja bisa minta tolong OB. Hebatnya, saat saya minta OB untuk fotokopi, bukan hanya difotokopikan saja, dokumen sayapun dirapikan dan dijilid !! Gile benerrr…. Kalau dulu, untuk mengambil surat saya harus ke mailbox saya pribadi dan ambil sendiri. Kalau di sini, siang-siang para OB berkeliling untuk mengantarkan surat ke meja masing-masing penerima. Hebring euy!

Kalau di Amerika, saat bos butuh minuman seperti kopi atau soft drink, biasanya mereka ambil sendiri atau paling parah minta tolong sekretarisnya. Kalau di sini, bosnya minta tolong sekretarisnya, lalu sekretarisnya minta tolong lagi ke OB. Lah, kalo karyawan biasa yang nggak punya sekretaris gimana dong ? Tinggal telepon aja ke pantry, dan kopipun siap di atas meja ! Kalau lagu dangdut istilahnya mabuk Lagi ahhh mabuk lagi…, kalau di kantor istilahnya OB lagi ahhh OB lagi…

Sayang sekali, gara-gara hal-hal yang biasa dikerjakan sendiri jadi dikerjakan oleh OB , lama-lama para karyawan jadi mengalami yang namanya ketergantungan (tenang-tenang, ini bukan ketergantungan rokok atau narkoba). Akibatnya, jika kebetulan di hari tertentu banyak OB yang tidak masuk, pontang pantinglah kita semua. Keluhan-keluhan kecil mulai terdengar: “Waduh, ni hari OB kagak masuk, pedahal gue lagi pengen nitip nasi padang ...”, “Yah, mane lagi tu orang, pedahal kan gue banyak yg mesti difotokopi…”. Padahal, warung nasi tinggal di bawah, mesin fotokopi tinggal jalan dikit ke pojok ruangan… Saat itulah, kita semua menyadari, kalau kita rindu kepada para OB.

Karenanya, tepat di International Labor Day yang jatuh pada tanggal 1 May 2007 ini, saya ingin sekali mengungkapkan apresiasi saya, kepada para OB di luar sana, yang dengan semangat dan dedikasi melayani kita semua setiap hari. Kalian selalu tersenyum walaupun badan sudah letih melayani segala permintaan kita yang kadang sebetulnya bisa kita lakukan sendiri. Buat saya, pekerjaan kalian bukanlah pekerjaan kecil, karena tanpa kalian, kantor ini tidak akan sama rasanya. Terima kasih sungguh dari lubuk hati saya yang paling dalam.

1 comment:

  1. Di kantor lama saya,
    OB cuman masuk buat bersihin kantor + cuci2 piring. Terus pulang.

    ReplyDelete