Tuesday, May 08, 2007

Masa Kecilku dan Politik

Beberapa hari terakhir ini, koran dan televisi lagi hot-hotnya membicarakan soal reshuffle Kabinet Indonesia Bersatu. Mulai dari siaran pagi, sampai tengah malam, rasanya reshuffle ini jadi issue yang super penting, sampai-sampai wartawan rela nongkrong berjam-jam di kediaman presiden kita di Puri Cikeas, hanya untuk melihat, siapa yang keluar cembetut dan siapa yang keluar senyum. Saya jadi membayangkan, betapa sedihnya menjadi anak SD sekarang ini, karena harus menghafalkan nama-nama menteri yang selalu berganti tak tentu arah. Dan lebih kasihan lagi, adalah para pengusaha percetakan, yang biasanya menjual listing nama-nama menteri di asongan. Belum habis stocknya yang lama, sudah harus mencetak lagi yang baru hanya karena ada 5 nama yang diganti. Kalo istilah lama: “Kesian deh looo….” Atau istilah barunya: “ Cape deeee ….”

Berbelas tahun lalu, saya adalah siswa SD kelas 3 yang montok dan lucu dengan model rambut bob. Pelajaran yang lumayan mengerikan bagi saya yang tidak suka menghafal ini adalah PMP alias Pendidikan Moral Pancasila (Terakhir ganti nama jadi PPKn alias Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan). Sesudah dihujam oleh penambahan, pengurangan, dan perkalian, saya ingat guru saya berpesan untuk menghafalkan butir butir Pancasila. Menghafal butir-butir Pancasila yang 36 butir itu, membuat saya juga mengeluarkan butir-butir keringat. Bukan hanya karena bahasa di butir-butir itu yang berbunga-bunga merekah indah mewangi, tapi juga karena membayangkan bakalan didamprat oleh guru saya yang gualaknya minta ampun kalau saya sampai tidak hafal. (Kalo Ibu baca, maaf Bu, tapi beneran ibu memang galak banget…, tapi tanpa ibu, saya pasti gak bisa seperti sekarang ini, jadi perkasa...). Jadilah Mama saya dengan rajin dan sabarnya membuat jembatan keledai, supaya saya bisa menghafalkan isinya, dan melatih saya setiap pulang sekolah (Thanks, Mom! You’re the best!). Setelah semua anak dipaksa menghafal butir-butir itu, apakah kita menjadi bermoral ? Hmm nggak tau juga tuh. Yang pasti saat itu tetap saja ada tawuran berkepanjangan (persatuan gitu ?), agama tertentu tetap ditindas kalau mau beribadah (toleransi gitu?), dan rampok serta tukang palak tetap merajalela (menghargai gitu ?).

Saya ingat, di kelas 3 SD juga, mata pelajaran IPS alias Ilmu Pengetahuan Sosial (atau Sok Sial..bagi saya sama saja) mulai diperkenalkan di bangku sekolah. Apakah yang terkandung dalam IPS? Marilah kita menghafalkan nama-nama seluruh Menteri Kabinet Pembangunan! Beruntunglah saya pada zaman itu, menteri-menteri tidak terlalu sering diganti seperti sekarang ini. Biasanya saya minta ke Papa untuk dibelikan daftar nama menteri diasongan, dan Mama saya melatih saya menghafalkan seperti sedang main kuis Siapa Dia atau Jeopardy. “Ayo, ini gambar siapa, lalu jabatannya apa ?”, begitu kata Mama. Dan enaknya lagi, sesudah pemilu pun masih ada nama-nama menteri yang tetap bertahan. Asyik kan ? (Hallo Pak Moerdiono dan Pak Harmoko, apa kabar ?). Tapi terus terang, saya sih kurang tau apakah anak-anak sekarang masih tetep menghafal nama-nama menteri. Kalau masih, statement saya sama kayak yang di atas: “ Cape deeeeee ….”

Ada juga pertanyaan-pertanyaan yang cukup sering ditanyakan di dalam pelajaran PMP atau IPS, dan jawabannya berkisar antara: Musyawarah mufakat, hati nurani yang luhur, menjunjung tinggi asas persatuan dan kesatuan, demi keadilan bersama di dalam masyarakat, dan lain-lainnya yang tetep saja bertele-tele. Bayangin, saya dulu bisa sampai ikut lomba P4 yang disponsori Depdikbud (sekarang Depdiknas ya ?), padahal moral saya biasa-biasa aja. Masih suka berantem, sirik-sirikan, dan ledek-ledekan à Namanya juga anak-anak, ya gak ? Kalau saya ditanya sekarang, pasti saya juga nggak bisa menjawab. Jadi kesimpulannya, kalau dalam soal cap cip cup politik, kok kayaknya lebih pinter waktu saya kecil dibandingkan dengan sekarang. Jawaban saya di lomba P4 agak-agak mirip kok dengan para politikus. Paling beda-beda tipis lah.

Yang lebih parah lagi sih, di SD itu kita juga diperkenalkan dengan pelajaran PSPB alias: Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa. Oke oke, saya bisa terima kalau perjuangan bangsa ini memang dipengaruhi oleh semangat Pangeran Diponegoro, Sultan Imam Bonjol, Sultan Agung, dan para Proklamator. Tetapi kalau sudah sampai harus menghafalkan nama Mami Papinya Presiden (saat itu), dan dicap tulalit saat ulangan cuma gara-gara nggak hafal nama ortunya, bener-bener deh, keterlaluan. Saat itu, saya yang masih polos dan otaknya masih menyerap seperti spons, juga dijejali oleh peristiwa kehebatan sang Presiden (saat itu) yang membuat saya (dan saya percaya anak-anak lainnya juga) mengidolakan dia. Mengingat-ingat itu, aduh, kok saya naif (bukan yang nyanyi Mobil Balap) banget gitu.

Saya ingin punya usul, daripada anak-anak SD diminta untuk menghafal segala macam undang-undang, peraturan, dan butir-butir lainnya sampai ke titik komanya, apa tidak lebih baik, kalau anak-anak diajarkan untuk bersikap sopan santun kepada orang tua dan teman-teman, diajarkan untuk merawat dan menjaga kebersihan lingkungan, dan diajarkan untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Sekarang ini, banyak sekali saya melihat anak-anak kecil sangat kurang ajar terhadap orang tuanya, padahal di sekolah mendapatkan pendidikan moral dari gurunya. Terus terang, saya tidak mengerti, jika memang pendidikan moral dan politik di usia SD betul-betul diterapkan, mengapa Edo , siswa SD itu dibunuh secara kejam oleh teman-temannya sendiri? Apakah mungkin justru karena anak-anak tersiksa diminta menghafalkan segala macam informasi yang belum waktunya dijejalkan kepada anak seusia mereka, membuat mereka menganggap pendidikan di sekolah sebagai beban, lalu karena stress menjadikan temannya sebagai bulan-bulanan ? Ah, pusing saya…

Balik lagi ke soal Naif tadi. Ada satu lagu karya mereka yang saya suka, yang menggambarkan kebertele-telean yang sangat tidak perlu, tapi yang ini asyik banget untuk didengarkan, nggak kayak butir butir Pancasila… Ayo nyanyi bareng!

“Diaaaaa…. adalah pusaka sejuta umat manusia yang ada di seluruh dunia…”

Udah ah…

3 comments:

  1. Lho? Aku nggak pernah disuruh ngafal butir2 Pancasila atau nama-nama pejabat di kabinet.. atau undang-undang kok waktu di SD.. Pelajaran PPKn (terakhir wkt aku di smp jadi PKn - Pancasilanya hilang.. entah kenapa) wkt itu cuma mengenai ciri-ciri topiknya (misalnya topiknya Tenggang Rasa.. yaa ciri2 tenggang rasa apa.. contoh2 sikap, keuntungan bertenggang rasa, dll.) gitu doang kok!.. hehehe.. yah githu sajha.. yg PKn malah satu tahun cuma 2 bab.. diskusi melulu ^^.. yaa pokoknya begitu lah.. hahaha... ternyata kamu harus ngafal gt2an yah ^^ hahaha "cape deh.."

    ReplyDelete
  2. heiheihei baca tulisannya jadi ikutan bernostalgia jaman SD dulu :D aku juga ngelewatin tuh yang namanya ngapalin mentri2. Sekarang mentri ada berapa juga ga tau :P mudah2an anak2 sekarang ga perlu ngapal nama2 mentri.. ga ada gunanya, soalnya bentar2 berubah :P bener banget tuh... capee deeeh...

    ReplyDelete
  3. Leonyyyyyyyyyy setujuuuuuuuuuuuuuu banget, teringat aku dulu masa SD, SMP waktu SMU mata pelajaran udah banyak yg diganti namanya. Boro-boro anak sekarang punya moral, belum jadi brandal aja udah boleh syukur deh heheheehe

    ReplyDelete