Saturday, March 24, 2007

Hidup Mahal di Jakarta

Dua bulan lebih saya menginjakkan kaki di Jakarta, banyak sekali hal-hal baru dan menarik yang saya temui. Tentu saja pengalaman menarik yang sangat mencolok adalah menyetir di Jakarta yang pernah saya kemukakan pada postingan saya bulan lalu. Tetapi, ada lagi yang jauh lebih mencolok, yaitu harga-harga barang di Jakarta! Gila gila gila!

Sebagai contoh paling singkat adalah harga mobil. Mobil dengan merek yang sama seperti yang saya setir di Amerika, berharga dua kali lipat! Padahal yang di sini itu, tidak ada navigation system, tidak ada sunroof, tidak ada seat temperature control, pokoknya yang di sini itu minimalis. Saya membayangkan, berapa harganya seandainya featurenya lengkap seperti yang saya miliki di sana, mungkin harganya menjadi tiga kali lipat! Intinya, saya tidak mampu untuk beli mobil itu di Jakarta. Lagian, di Jakarta kalau naik mobil itu jadi kayak tante-tante kali (tapi kalau dikasih sih saya maoooo….). Tapi anehnya, banyak sekali yang naik mobil super mewah di Jakarta. Jangan kaget kalau Porsche, Ferrari, atau mobil built up milyaran rupiah suka lewat. Kalo Mercedes sih, seri S aja ngebadek di jalanan.

Kedua, harga pakaian jadi. Minta ampun!! Di sana, kalau sale ya betul2 sale. Di sini kalau sale malu-malu. Mana ada discount yang betul-betul rela 70-90%? Pasti yang sudah di sale di atas 50% itu tinggal barang2 yang betul2 sisa. Dan kalau tidak sale, saya bisa berurai air mata untuk membelinya. Tiada lagi saya bisa membeli celana di departemen store dengan harga kurang dari seratus ribu. Padahal di sana, saya pernah beli celana keren seharga kurang dari lima dolar! Tapi anehnya, para eksekutif di Jakarta berlomba-lomba pakai baju bermerek. Pakai sepatu Manolo Blahnik, tas Hermes, atau gaun Givenchy yang harganya ratusan juta, itu mah sudah biasa di acara para sosialita.

Ketiga, harga makanan. Di kantin pinggir jalan, gado-gado harganya 12 ribu rupiah! Kantin loh! Bukan restaurant. Di tempat ayam goreng yang lumayan punya nama, satu ekor harganya sudah sekitar 80 ribu rupiah. Ada restaurant biasa menghargai es cendolnya lebih dari 20 ribu rupiah per gelas. Di sana, saya pesan chinese food seharga 10 dolar, kadang saya bisa makan dua kali. Memang kalau restaurant fine dining lebih mahal, ya bisa habis lebih dari 50 dolar per orang. Jarang sekali saya makan di restaurant seperti itu (nunggu kantor saja yg bayar).

Restaurant fine dining di Indonesia, satu potong steak ada yang harganya di atas satu juta. Jadi apa bedanya ?? Anehnya, kafe-kafe baru dan restaurant kelas atas menjamur, dan selalu ramai! Mobil-mobil mewah berderet di depannya, bahkan orang rela mengantri untuk makan di restaurant berkelas.

Nah, sekarang… back to “reality”. Brapa sih gaji orang Jakarta ? Average untuk orang orang yang baru lulus sarjana itu, kurang dari dua juta rupiah! Tetapi mengapa mall selalu ramai ? Mengapa jalanan setiap weekend selalu macet oleh orang-orang yang harus hiburan ? Makin banyak saja perusahaan kartu kredit, makin banyak saja bank menawarkan pinjaman, makin banyak saja orang yang terlilit hutang akibat tuntutan gaya hidup.

Di balik gedung bertingkat, di balik kemewahan pesta-pesta, Jakarta menyimpan banyak cerita pahit kehidupan. Tidak salah kalau tingkat kriminalitas semakin tinggi, karena kesenjangan sosial yang luar biasa, dan harga-harga barang yang semakin mencekik leher. Jakarta oh Jakarta…

8 comments:

  1. aku suka tulisan ini,, menyingkap kehidupan jakarta secara gamblang! makasih leony, selalu khas pandangan kamu tentang masyarakat kita. realitas jakarta laksana mimpi penuh fantasi yang sangat dahsyat memang. gambaran kesenjangan ekonomi dan hipokrisi yang subur di sebuah negeri miskin yang dihajar bencana sambung-menyambung....

    ReplyDelete
  2. Always there...
    Padahal Jakarta ini jugalah yang tingkat kemiskinannya tinggi, Jakarta yang tingkat buta hurufnya wow, Jakarta yang tukang banjir (kemewahan itu perginya kemana semua saat banjir?), Jakarta yang berapa banyak orangnya meminta2 di perempatan lampu merah.

    We're lookin at the very same city.

    ReplyDelete
  3. Postingan yg menarik :)

    ReplyDelete
  4. gaya hidup org indo emang aneh, yg miskin makan "tanah", yg kaya makan emas :O

    ReplyDelete
  5. Hi Non, dah lama gak baca blog loe. I really like this posting, and I believe that most US (or abroad) graduate experienced the same thing the time they got back to Indonesia. It's really sad. I was also shocked looking at the prices here (last time I went back was more than 3 years ago), I couldnt think how most people with low average salary could afford all these things in Indonesia or Jakarta in particular. And I feel the gap between the rich and the poor is getting wider and wider, Indonesia is like a ticking bomb. It's so scary...

    ReplyDelete
  6. Singkatnya Jakarta itu mengerikan, mahalnya,macetnya,debunya dll.
    Apakah disana ada tempat penampungan orang-orang gelandangan? dan mereka dapat makanan gratis?

    ReplyDelete
  7. hari ini spesial mampir sini balik ke 2003 Bu Le..suka banget sama tulisan2nya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahahaa. Tapi yg 2003 mah isinya soal kampussss.. ga asikkkk.. thanks ya udah baca2 dr blakang.

      Delete