Thursday, December 13, 2007

Ketika Belanda Bertemu Indonesia

Saya bukan mau ngomongin jaman penjajahan karena tentunya jaman penjajahan telah berlalu, atau ngomongin persepakbolaan karena masih jauh dari harapan kalau team Indonesia bisa sejajar dengan tim Belanda dalam sepakbolanya. Minggu lalu, saya, Mama, dan adik menjadi tuan rumah untuk Tante H alias sepupu mama saya yang datang dari Belanda. Tadinya memang tidak ada rencana kalau kita akan mengajak tante kita ini jalan-jalan, karena kakak beliau ternyata sudah mempunyai rencana untuk mengajak dia menginap di rumahnya. Tetapi saat sabtu pagi Mama menelepon si Tante, tiba-tiba keinginan tersebut muncul, apalagi saat Mama tau kalau si Tante ini rupanya belum kemana-mana karena kesibukan saudara-saudaranya yang lain. Terakhir si Tante datang ke Jakarta adalah 11 tahun yang lalu. Saat itu mereka datang satu keluarga. Si Oom, si Tante, dan dua anak mereka, satu perempuan dan satu lelaki. Jadi rencananya, kita mau ajak si Tante jalan-jalan, lalu sorenya, kakak si Tante tinggal jemput saja di rumah kita.

Sabtu siang, kita menjemput si Tante di rumah mamanya di bilangan Jatinegara. Tujuan pertama adalah Senayan City. Sepanjang jalan, si Tante bilang, inilah yang membuat anak-anaknya malas berkunjung ke Indonesia, yaitu panasnya, beceknya, macetnya, dan seluruh makanannya yang aneh-aneh. Loh, kok aneh2? Rupanya saat mereka satu keluarga berkunjung di tahun 1996, setiap hari anaknya cuma bisa makan McDonalds, KFC, dan itupun masih ditambah terheran-heran karena di McDonalds dan KFC menyediakan nasi yang dibentuk bulat-bulat. Sementara si Tante, namanya berkunjung ke Jakarta, pasti kepingin yang tradisional seperti Soto, Sate, dan berbagai jenis jajanan yang memang nggak jelas isinya (kata orang bule loh), pedes rasanya, dan terkadang memerlukan daya tahan perut yang ekstra tinggi.

Saat masuk ke Senayan City, si Tante terheran-heran, betapa tinggi dan indahnya bangunan mall di Jakarta. Pertanyaan pertama adalah, “Non, bangun mall ini berapa lama ya ?” Begitu saya jawab, “ Kayaknya cepet deh, nggak sampai 2 tahun”… si Tante langsung bengong lagi seperti anak desa masuk kota. Rupanya di Belanda, shopping mall itu tidak ada yang super besar dan super tinggi seperti di Jakarta. Semuanya umumnya 1 sampai 2 lantai saja, dan orang-orang biasanya santai-santai kalau belanja, nggak dandan habis seperti di Jakarta. Selanjutnya kita menuju ke Kafe Betawi. Langsung deh si Tante matanya menuju ke menu dan ngomong, “Soto betawi! Isinya campur. Minumnya Es Kelapa Muda!” Wah beneran deh, si Tante langsung sigap kalau memenuhi hasrat makan. Selain itu, kita juga pesen Nasi Rawon Komplit, Lontong Cap Gomeh, Sop Buntut Goreng, Sate Ayam, Karedok, dan juga beberapa minuman. Si Tante sampai nambah nasi ½ porsi lagi.

Sepanjang makan, si Tante cerita kalau di Belanda itu jaminan kesehatan luar biasa baiknya, apalagi jaminan hari tua. Kalau sudah usia pensiun alias di atas 65 tahun (di sana tua juga ya pensiunnya), ke dokter itu gratis, lalu biaya obatnya juga jauh banget lebih murah. Biaya transportasi murah, malah ada tunjangan hari tua juga dari pemerintah. Kalau orang tua punya anak, maka akan ada tunjangan tambahan. Untuk anak-anaknya, sekolah gratis. Kalau rumahnya jauh dari sekolah dan terpaksa tinggal di asrama, ongkos asramanya juga gratis loh. Major sekolahnya juga macam-macam, bisa disalurkan sesuai aspirasi anak. Selain itu, kerja praktek alias magang untuk skripsinya boleh diambil di luar negeri. Lalu ada juga fact yang seru kenapa orang Belanda segan untuk nikah. Katanya sih, kalau cewek-cewek Belanda itu malas-malas, nggak bisa ngurusin suami. Selain itu, kalau sampai menikah lalu cerai, pihak laki-laki umumnya harus menyerahkan hartanya ke pihak perempuan. Serem kan ? Jadinya mereka lebih memilih tinggal bareng tanpa status, daripada nanti yang lelaki sengsara karena birokrasi. Menarik banget ya.

Sehabis makan, langsung deh kita menuju ke Debenhams. Si Tante sibuk milih oleh-oleh. Lucunya kalau seorang ibu itu, yang diinget itu pasti anak. Soalnya tiap kali ngeliat sesuatu, dia selalu ngomong, pas nggak ya buat si L (Si L ini anak perempuannya). Lalu kalau ngelihat T shirt yang keren, dia inget anak laki-lakinya si R. Tapi saya baru nyadar, kalau si Oom kadang terlupakan. Itulah hasrat seorang ibu yah…anaaakk melulu yang dipikirin. Yang lebih seru lagi, si Tante itu convert semuanya ke dalam Euro alias dibagi Rp. 13,400, dan langsung seneng karena ternyata nggak terlalu mahal (padahal buat saya sih mahal jugaaa….soalnya gaji saya rupiah sih). Oh iya, si Tante juga bilang, kalau di Belanda sana, orang lebih seneng pakai Kartu Debit daripada pakai Kartu Kredit karena mereka nggak terlalu seneng ngutang. Jadi lebih baik mereka tau pasti tabungan mereka di bank ada berapa, daripada gesek terus pakai Kartu Kredit, tapi nggak mampu bayar. Si Tante jadi lumayan borong deh di Debenhams (lah gimana nggak borong, orang semuanya diconvert ke Euro!).

Sore-sore kita baru inget, kalau kakaknya si Tante mau jemput pukul 5 sore di rumah. Pukul 5 kurang 10 kita panik, karena kita masih berada di Senayan City. Kita telepon kakaknya si Tante, dan menemukan fakta kalau jalanan di depan rumah kakaknya si Tante lagi digali, jadi mobil sama sekali nggak bisa lewat, jadi nggak bisa jemput. Wah, kebetulan banget, malah rencananya diubah lagi, si Tante jadi nginep di rumah kita. Sehabis pulang, langsung deh siap-siap mandi. Kita jadi lanjut lagi plan untuk makan malam. Nah, berhubung si Tante ngefans berat sama jerohan (yang di Belanda lebih illegal dan lebih susah nyarinya daripada marijuana), langsung deh kepikiran bawa dia ke tempat makan yang banyak jerohan, banyak sambel, lalapan, dan ngga akan ditemui di Belanda yaitu: Ampera. Kita ke Ampera di Jalan Sabang. Gara-gara macet, jadi baru sampai sana jam 9 malem. Waduh, si Tante seneng banget. Langsung nyomot Babat Goreng, Paru Goreng, Udang Goreng, Pepes Ikan, Sayur Asem ditambah lalaban dan sambel terasi. Dia langsung nyeletuk,”Ini tempat di jalan apa ya ?” Buat persiapan balik lagi rupanya sebelum bertolak ke Belanda.

Sehabis makan yang menimbulkan keringat itu, karena waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, kita terpaksa pergi ke satu-satunya mall yang buka sampai jam 3 pagi. Yak, kita pergi ke EX heheheh... EX anak muda, dan dua mami-mami ada di EX. Nyari parkir susah setengah mati, tapi herannya tetep aja anak-anak muda bermobil keren berjejer-jejer di sana. Si Tante yang ngelihat dandanan anak-anak muda di EX cuma bisa geleng-geleng dan terkagum-kagum. Ternyata anak-anak muda Jakarta pada berduit semua. Restaurant pada ramai sampai tengah malam, kafe-kafe juga hampir full house. Di sana kita nggak shopping kecuali masuk ke toko aksesoris. Si Tante ini emang masih tetep demen sama kupu-kupu dan akhirnya beli lagi anting-anting kupu-kupu. Dan saya ini, karena ikutan demen, jadi ikutan beli-beli juga. Bener-bener dah laper mata.

Malam itu sepulang dari EX, saya, Mama, dan si Tante nggak tidur. Kita ngobrol-ngobrol di kamar sambil nonton DVD ultah mama ke 50 tahun lalu, juga nonton DVD reuni keluarga kita. Yang ada tuh kita cekakak cekikik ngga jelas, tau-tau pas ngelihat jam, sudah jam 2 pagi. Padahal besoknya ada jadual lagi untuk jalan-jalan. Kalau diterusin ceritanya, bisa-bisa yang baca bingung, kok ada ya orang jalan-jalan melulu.

Yang pasti dari pertemuan Belanda dan Indonesia ini, kita saling belajar banyak hal. Ternyata, Belanda memang jauh lebih maju peradabannya dibandingkan dengan negara kita tercinta ini. Namun ada juga yang patut kita banggakan yaitu mall di Indonesia jauh lebih keren daripada mall di Belanda. Hehehe... (penting nggak sih yang itu untuk dibanggakan ?....auk ah glap).

Monday, December 03, 2007

KK ( Bukan Kartu Keluarga, Tetapi Kartu Kredit)

Selama proses pencarian pekerjaan di Jakarta, saya nggak pernah kepikiran untuk segera membuka account kartu kredit. Maklum deh, pengeluaran paling hanya ongkos bensin, itupun pinjam Mama dulu, karena kan masih belum tau nanti kerja di mana, sehingga kalo bisa sih, bank yang dicari kan sebaiknya lokasinya dekat dengan tempat kerja. Padahal orang-orang sudah bilang, kalau di Jakarta nggak punya kartu kredit tuh hampir nggak mungkin. Apalagi dengan banyaknya offer-offer menarik, seperti beli 1 gratis 1 untuk nonton di cineplex, discount-discount menarik… wah, ngiler juga sih.

Apakah yang membuat saya bengong saat saya kembali ke Jakarta? Ternyata orang-orang Jakarta itu hebat-hebat bo…koleksinya lumayan manteb, yaitu koleksi kartu kredit. Waktu awal tahun ini, saya lagi interview kerjaan, siang-siang saya kelaparan, dan akhirnya stop di restaurant cepat saji di bilangan Sudirman. Di depan saya ada 2 orang ibu mengantri untuk pesan paket ayam. Begitu giliran mau bayar, dia nengok ke temennya, rupanya dia nggak bawa uang cash, jadi mau pinjem temennya dulu. Orang nggak bawa cash sih memang sudah biasa, tapi ya, yang paling menakjubkan itu, kartu kreditnya lebih dari sepuluh!! Yang lebih menakjubkan lagi adalah, ternyata rata-rata para professional di Jakarta ini memang mempunyai beragam kartu kredit. Maklum, biasanya di tahun pertama, iurannya gratis.

Sampai pada akhirnya saya sudah mulai bekerja, dan merasakan juga kebutuhan untuk menggunakan kartu kredit. Kebetulan di kantor sedang ada perjanjian dengan salah satu bank di Jakarta, sehingga saya mendapatkan priviledge untuk mendapatkan penawaran langsung kartu kredit dari bank tersebut. Nah, di sini itu anehnya, kalau mau bikin kartu kredit pakai diwawancara segala, mesti pakai slip gaji segala, padahal saya baru saja masuk kerja. Lalu pakai periksa history pekerjaan segala, dan embel-embel lainnya. Akhirnya saya cukup bilang ke orangnya:”Begini ya Mas, saya baru kembali dari Amerika. Dulu kerja di Amerika. Dulu kartu kredit saya ada A, B, C, semuanya platinum. Tapi di sini baru masuk kerja. Jadi terserah Mas aja gimana…” Eh, ngga taunya nggak berapa lama kemudian kartunya dateng, di dalam box cantik berwarna hitam. Ternyata dapet oi platinum...lumayaaannnn….

Nggak beberapa bulan kemudian, datang lagi perwakilan dari bank lain yang kebetulan ada perjanjian juga dengan kantor. Nah, ditawarinlah lagi itu kartu kredit. Kali ini rupanya nggak semudah bank yang sebelumnya. Bank yang sebelumnya setelah saya jelaskan keadaan saya yang baru kembali dari luar langsung mengerti. Nah kalau bank yang ini, agak-agak rese. Pertama di depan saya, dia janji mau kasih kartu platinum ke saya dan salah satu atasan yang ikut mendaftar. Tetapi beberapa hari kemudian dia telepon lagi, nanya soal slip gaji dan lain-lain. Saat itu saya cuma bilang, “Kalau di tempat saya, nggak setiap saat slip gaji di print, dan dari bank lain yang namanya lumayan besar juga, saya sudah mendapat kartu platinum, karenanya nggak usah takut saya nggak kuat bayar.” Kalau atasan saya, saking kesalnya ditanya-tanya lagi di telepon, dia hanya bilang:”Ya udah, saya kan udah punya kartu kredit banyak. Jadi kalau dapet yang ini ya syukur, nggak juga nggak apa-apa.” Akibatnya adalah beberapa minggu kemudian kartunya datang, dan hasilnya: saya cuma dapet kartu gold, dan atasan saya nggak dapet apa-apa. Ampun dah itu salesman, tinggi hati banget sih! Padahal kan seharusnya salesman bank itu menjaga relation ya dengan perusahaan. Untunglah bos saya ini orangnya pengertian.

Pertamanya sih saya santai-santai aja. Udah bagus dapet gold lah, daripada nggak dapet apa-apa. Lagian, umumnya yang mendapatkan tawaran khusus itu umumnya gold dan platinum. Jadi punya gold aja sudah cukup. Tapi ternyata kekesalan terjadi pada saat saya berada di airport keberangkatan internasional. Ternyata khusus untuk bank tersebut, pemilik kartu platinum mempunyai lounge sendiri, dengan jendela besar dan pemandangan yang indah dari area bandara. Ditambah lagi, saya melihat makanannya berderet-deret dengan indahnya, menunya pun istimewa. Meja-mejanya cantik dan modern. Sementara untuk kartu gold hanya mendapatkan akses ke lounge biasa, seperti kartu kredit dari bank-bank lainnya. Hikssss… tau gitu, saya ngotot aja ke si salesman bank. Bingung aja, udah dijanjiin platinum kok, malah dapetnya gold.

Tapi kebingungan terbesar sebetulnya ada pada diri saya sendiri. Saya yang nggak sampai beberapa bulan lalu cuek soal kartu kredit, ternyata sekarang kok jadi mikirin keuntungan-keuntungannya. Cuma ada juga kelemahannya kartu kredit ini. Gara-gara kartu kredit pada menawarkan diskon di tempat-tempat makan, saya yang tadinya cuma mau makan gado-gado atau ketoprak, jadi malah makan steak lantaran tergiur diskon dari kartu kredit. Jadi sebenernya saya untung nggak sih? Nggak tau juga tuh… Yang pasti sih, yang untung ya perusahaan kartu kreditnya sama restaurantnya kalau punya customer suka makan kayak saya hehehe.

Friday, November 30, 2007

Setahun Yang Lalu

Tanpa terasa sudah mau December lagi. Kayaknya belum lama saya menginjakan kaki kembali ke kota kelahiran tercinta ini, eh tidak taunya sudah hampir setahun. Apa yang terjadi saat ini setahun yang lalu ? Setahun yang lalu, di tanggal 29 November ini, saya masih berada di client terakhir saya di Madison. Sore itu, ditutup dengan mengucapkan selamat tinggal kepada client yang sudah saya temani selama 2 tahun, client di mana saya paling banyak belajar. Untuk makan siang, atasan saya membolehkan saya memilih meal terakhir yang akan saya makan bersama team, dan sengaja saya memilih restaurant Jepang, supaya teman-teman saya jadi berani makan sushi. Makan siang berlangsung sangat menyenangkan, walaupun saya tahu di dalam hati, saya akan kehilangan mereka semua dalam waktu dekat.

Besoknya, tanggal 30 November 2006 saya mengambil 1 hari off untuk membereskan segala barang-barang saya yang berkaitan dengan client-client dan pekerjaan saya, dan tanggal 1 Desember 2006, semuanya itu saya serah terimakan ke kantor. Kartu kredit yang disponsori perusahaan dipotong belah dua, lalu ID tag yang saya pakai disobek (sedih banget), semua bahan-bahan training dan buku buku panduan saya serahkan (saya sampai membawa keranjang laundry saking banyaknya) dan di hari itu, saya mengirimkan email perpisahan ke teman-teman. Waktu menulis email itu, air mata saya sempat menetes, mengingat kembali memori-memori pada saat pertama kali menginjakan kaki untuk interview, hari pertama kerja, client pertama, dan membayangkan akan pergi jauh dari negara yang saya tinggali selama enam tahun. Di email terakhir itu saya tuliskan semua orang-orang dikantor yang berperan dalam pembentukan diri saya selama bekerja, dan saya banyak mendapat balasan yang betul-betul mensupport saya dengan keputusan saya untuk pulang.

Mulai besoknya, saya sudah sibuk dengan memilah-milah barang, yang mana yang akan di pack untuk dikirim dengan kargo, mana yang akan disumbangkan, mana yang akan dibawa pulang. Aduh, saat membereskan itu, ada juga perasaan sedih disamping perasaan excited karena akan pulang. Apalagi saat memilah-milah furniture dan melihat lagi buku-buku pelajaran, jadi ingat lagi, kelasnya kayak apa, gurunya kayak apa, teman-temannya kayak apa. Tapi mau gimana lagi, pelan-pelan semuanya musti ditinggal. Masih beruntung saya mendapatkan pengganti untuk melanjutkan sewa apartemen saya, dan kerennya lagi, furniture saya sebagian besar juga dibeli oleh si penyewa lanjutan ini. Tapi biar bagaimana, ditengah kebetuntungan itu, perasaan sedih juga masih tetap ada.

Tanggal 11 December 2006, semua barang-barang saya yang akan dikirimkan lewat kargo dibawa ke Chicago untuk diserahterimakan ke gudang si carrier. Rencananya baru akan tiba di Jakarta di bulan February 2007. Sementara itu, di apartemen saya, saya juga mengepak 1 box barang yang di ship ke California ke rumah Oom saya, karena sebelum pulang saya akan mampir ke sana dahulu. Kenapa saya ship sebagian barang? Karena batas bawaan barang pesawat domestik hanya 2 kali 50 lbs, sementara untuk penerbangan internasional bisa 2 kali 70 lbs. Lumayan bisa nambah 40 lbs jika barang dikirim terlebih dahulu. Jadi nanti pas di California, boxnya dibongkar dan barang-barangnya bisa dimasukkan ke dalam koper.

Tanggal 15 December 2006, malam terakhir saya di Milwaukee. Siangnya, saya makan siang di restaurant Perancis, Lake Park Bistro, tempat di mana saya merayakan ulang tahun saya ke 24, 4 bulan sebelumnya. Tanggal 15 itu juga ada Holiday Partynya perusahaan saya yang lama. Kebetulan mantan teman kantor boleh membawa tamu, jadilah saya ikutan dijemput dan diajak oleh dia. Malam itu acaranya selain makan-makan adalah karaoke. Karaoke di Amerika itu lain dengan di sini. Ada 1 panggung dengan televisi kecil yang hanya memperlihatkan teks lagunya saja. Malam itu saya membawakan lagu: “Total Eclipse of The Heart”, dan saat itu sambutannya meriah sekali. Saya juga mengatakan, kalau malam itu adalah malam terakhir saya. Saya memilih lagu Total Eclipse, karena hati saya seperti sedang mengalami gerhana oleh kesedihan yang mendalam meninggalkan kota tercinta ini. Malamnya, saya dijemput oleh teman saya Arum dan Nouldy. Kita makan di Bucca di Beppo saat waktu hampir tengah malam, dan di atas tengah malam, kita menuju ke taman Katedral yang diisi dengan lampu-lampu hias, menggambarkan keindahan Natal di saat itu. Foto-foto terakhir kami, menjadi saksi kegilaan kita yang saat itu tertawa-tawa, padahal sebetulnya hati sedang sedih karena akan berpisah.

Tanggal 16 December 2006, siang itu kali terakhir saya menginjakan kaki di airport Chicago O’Hare. Saya diantar oleh Arum dan Nouldy untuk penerbangan menuju San Francisco. Segalanya terjadi begitu cepat. Saya masih ingat saat pertama kali mendaftar untuk masuk sekolah di Madison, saat rambut saya masih bondol dan super tomboy, sampai akhirnya segala transformasi itu terjadi selama saya menuntut ilmu dan bekerja di sana. Saya tidak pernah menceritakan hal ini di blog saat detik-detik itu terjadi. Baru kali ini saya menuliskannya. Walaupun sedikit saja saya berbagi, moga-moga yang membaca bisa membayangkan keadaan saat itu. Salju yang bertebaran, rasa dingin yang menusuk sampai ke tulang, namun tetap indah, seindah berjuta pengalaman saya di sana.

Wednesday, November 28, 2007

Pacar dan Calon Suami

Mengingat teman-teman saya sudah mulai banyak yang menikah, tentu saja pertanyaan soal menikah pernah juga terlintas di benak saya. Saat saya berumur di bawah 25 tahun, mungkin pertanyaan soal menikah itu bisa saya lewatkan saja dengan meyakinkan diri kalau usia saya masih terlalu muda untuk memikirkan hal itu. Tetapi begitu usia sudah menginjak 25 tahun dan mailing list mulai dibanjiri oleh undangan pernikahan teman seangkatan baik dari dalam maupun luar negeri, batin ini tergelitik juga. Saya jadi menyadari, kalau saya sebetulnya tidak terlalu muda lagi, malah mungkin kalau di tahun 1970-an usia saya ini sudah sangat matang untuk memulai kehidupan berumah tangga.

Yang paling lucu sih, kalau kebetulan saya ada di rumah dan mengangkat telepon, dan jika telepon itu berasal dari Oma, atau Oom dan Tante saya, pasti ditanya: “Gimana nih? Udah ada yang nyantol belum?” atau mirip seperti iklan rokok di televisi saya juga ditanya: “Kapan nih Non undangannya?”. Mungkin orang jaman dulu menganggap, kalau ketemu, lalu sama-sama sayang, lalu bisa langsung lanjut ke jenjang pernikahan. Tiba-tiba anaknya ngebrojol, lebih dari 5, dan tiap sore sang mami ngederetin anaknya di ruang makan, dan disuapin satu-satu. Tapi hari gini? Tentu banyak sekali pertimbangan dari A sampai Z, karena menikah itu bukan hanyalah pertautan dua jiwa yang saling menyukai. Saya sangat suka ungkapan menikah itu adalah: Menempuh Hidup Baru. Hidup yang disebut Baru itu tentunya bukan hanya diisi dengan keindahan, malah mungkin tantangannya lebih banyak daripada embel-embel indahnya. Nggak usah nunggu sampai berapa tahun perkawinan. Mungkin di malam pertama aja, yang biasa bobo sendirian, sekarang harus tidur seranjang berdua. Yang satu ngorok, satunya lagi nggak bisa tidur, lantas pagi-pagi moodnya jelek, berantemlah.

Bukannya saya nggak mau untuk segera menikah. Malah saya bisa bilang kalau saya ini ingin sekali menikah. Tetapi memutuskan untuk menikah itu kan nggak mudah. Dalam pencarian pasangan, saya sudah nggak mau cari sekedar pacar saja, tetapi saya sudah mau mulai mencari calon suami. Kategoripun berubah, dari sekedar yang klise-klise seperti penampilan fisik, plus nggak pelit saat mentraktir saya, dan hal-hal lainnya yang kelihatan dari luar, tetapi harus ditambah lagi yaitu mempunyai kesiapan untuk melangkah lebih jauh dalam lingkup yang lebih serius. Makanya, kalau cari pacar itu, jauh lebih gampang daripada mencari calon suami. Bersama dengan calon suami, tentunya kita bisa punya visi, membayangkan ke depannya akan dibawa kemana rumah tangga itu. Bersama dengan calon suami, tentunya kita merasa selalu aman terlindungi, baik fisik maupun mental. Bersama dengan calon suami, kita juga tahu bagaimana posisi kita di keluarganya, dan posisi dia di keluarga kita, dan membayangkan dua keluarga sebagai satu kesatuan. Makanya, percaya atau nggak, kalau saya bertemu dengan seseorang, lalu seseorang itu juga mencari seorang calon istri, dan kita bisa memperoleh bayangan soal masa depan (tentunya ditambah dengan embel-embel yang sebetulnya mayan penting juga sih…hehehe), bisa saja saya segera menikah.

Yes, it’s simple but complicated at the same time. Mungkin yang membaca juga heran kenapa saya membuat tulisan seperti ini. Sedikit background, weekend kemarin, saat saya ada di mall, saya banyak melihat orang-orang terutama pasangan-pasangan muda yang sedang dimabuk cinta. Sementara, saat itu saya lagi makan es aja beduaan sama “pacar” saya yaitu si Mama tercinta. Si Mama sempet nyeletuk, kalau si anak perempuannya ini sebetulnya lebih qualified dibandingkan dengan cewek-cewek di mall yang kebetulan ternyata hari itu “beruntung” membawa gandengan. Dan saat itu saya mikir, saya juga bawa gandengan kok, alias si Mama hehehehe. Mungkin pada saat saya menikah nanti, waktu saya untuk gandengan dengan si Mama ini bakalan berkurang jauh. So I must say that I was really lucky that I got the chance to hang out with my Mom on the weekend, makan es bareng-bareng, sambil ngomentarin pasangan-pasangan yang lalu lalang, for I might not have that much time later in the future. Bener-bener beruntung kan? Dan sabar aja ya Ma, for I will bring to our family, your future son in law that you’ll be proud of. AMIN.

Friday, November 23, 2007

Winter Depression vs Rainy Season Depression

Waktu saya masih tinggal di negara dengan empat musim, setiap bulan-bulan segini ini, sudah tidak seimbang lagi pembagian antara siang dan malam. Di musim gugur yang mulai beranjak menjadi musim dingin, waktu gelap itu tentunya lebih panjang daripada waktu terang. Pukul 8 pagi, suasana masih seperti pukul 6 pagi pada waktu normal, dan pukul 4 sore, rasanya sudah seperti senja. Di musim seperti ini, ada suatu syndrome yang menyerang orang-orang yang tinggal di daerah empat musim, yang dinamai Winter Depression. Umumnya orang-orang menjadi lebih murung, dan lebih cepat bosan. Intinya, seperti tidak ada harapan akan kehidupan. Bawaannya pingin marah-marah dan nggak kepingin keluar dari rumah lantaran di luar dingin dan gelap.

Uh, ngebayanginnya aja udah ngga enak banget kan. Anehnya, saya ini nggak gimana merasakan apa yang disebut dengan Winter Depression itu selama tinggal di sana. Saya dulu malah nggak percaya kalau syndrome ini betul-betul ada sampai teman saya mengalaminya dan dia menyatakan kalau syndrome tersebut benar-benar nyata dan bisa di cek di internet. Saya dulu malah bilang ke teman saya kalau semuanya itu cuma perasaan diri sendiri saja, asal kita bisa positive thinking, pasti semuanya itu segera berlalu. Dalam kenyataannya bener juga, tahun depannya temen saya itu ibaratnya sudah “sembuh” dari syndrome itu dan dia merasa lebih happy. Sukseslah teori saya, kalau depresi seperti itu memang sebetulnya tidak ada, dan perasaan nggak enak itu mudah dikendalikan.

Tahun ini, di bulan November, musim hujan mulai menyerang Jakarta. Di sore hari, umumnya langit menjadi agak gelap, dan hujan turun hampir setiap hari. Saya tidak pernah mendengar soal Rainy Season Depression, tetapi saya merasa, saya sedang mengalami hal yang tersebut. Mungkin ini adalah Winter Depression versi Indonesia yang kebetulan hanya mempunyai dua musim saja. Semangat saya menjadi turun. Keinginan untuk mix and match pakaian juga drop. Pekerjaan sepertinya menjadi membosankan. Di taksi bawaannya tidur melulu. Pulang ke rumah juga nggak kepingin ngapa-ngapain. Nulis blog aja jadi males minta ampun. Anehnya, napsu makan agak-agak naik… hehehe... lagi-lagi lanjut ke cerita wisata kuliner.

Minggu kemarin, pas hari Jumat malam pulang ke rumah, ngelihat mama bikin ketupat komplit, yang isinya ada ketupat, sayur pepaya muda, semur tahu kentang telor daging, sambel goreng ati ampela, plus emping dan kerupuk. Langsung deh embat 1 mangkok ketupat. Belum lagi di rumah selalu ada buah mangga, jadi sehabis makan, break sejenak, lanjut lagi dengan makan mangga. Hari Sabtu, karena ada rencana nonton jam 11.30 pagi di Blitz, jadilah sarapan dulu di rumah. Lagi-lagi semangkok ketupat, tapi tanpa ketupatnya, tetep sih sayur-sayurnya komplit. Sehabis nonton, udah mulai lapar lagi, makan 1 piring Baso Tahu Campur-nya Saboga, ditambah 1 mangkok Es Kacang Merah Coklat-nya Satay House Senayan. Dari situ lanjut ke Gereja St. Theresia untuk Misa sore. Pulang ke rumah, malamnya sih ngga kemana-mana. Tapi ini mulut walaupun nggak makan besar, tetep comot sana comot sini. Ya buah lah, ya cake lah, ya keripik singkong lah, ya kue kering bikinan mama lah (oh iya, si Mama juga bikin kue kering dengan mentega special sampai 3 toples, uenak bangettt).

Hari Minggunya, pagi-pagi memenuhi undangan pembubaran panitia acara kawinan temen saya kemarin di Golden Ming Restaurant, Acacia Hotel, yang berarti: Makan Dimsum all you can eat. Di meja saya, isinya hampir anak-anak muda semua dengan nafsu makan yang besar, dan gilanya, saya juga terpengaruh untuk makan banyak… nggak tau deh ada berapa puluh porsi yang dihabiskan di meja kita. Sampai-sampai, meja kita ini dapat operan dari meja tetangga karena kecepatan makan di meja kita paling tinggi dibandingkan meja-meja lainnya. Ditambah lagi, tuan rumah juga ada di meja saya, sehingga dia selalu saja nambah-nambah order sampai kita akhirnya nyerah juga (walaupun tetep aja abis). Pulang dari makan siang, saya leyeh-leyeh di rumah sambil nonton TV, dilanjutkan dengan nonton DVD pinjeman License to Wed. Minggu malam, lanjut lagi makan bertiga ke Mandarin Spice, Senci. Pesen menunya: Ubur-Ubur Polos, Kepiting Soka Goreng Lada Garam, Daging Sapi Cah Jahe dan Daun Bawang, Ayam Saus Bawang Merah, Gurame Saus Thailand, Tahu Hot Plate, plus saya masih pesan dessert Kuo Lin Kau. Bayangkan, betapa banyaknya makanan yang masuk ke badan saya.

Besok paginya nimbang, seperti biasa kan naik… tetapi saya nyantai aja, nggak bingung seperti biasanya, malah cenderung pasrah. Bener juga kalau ciri-cirinya syndrome ini tuh seperti orang yang nggak punya harapan. I don’t wanna eat my own words, but I guess, I’m really having the Rainy Season Depression..DAMN!

Wednesday, November 14, 2007

MC Gadungan

Akhir Januari tahun ini, kira-kira 1 bulan setelah saya berada di Indonesia, teman saya R menghubungi saya dan mengajak ngopi bareng di Coffee Bean Plaza Indonesia. Si R ini teman saya semasa SMP. Selama 3 tahun berturut-turut, walaupun kita nggak pernah sekelas sama sekali, tetapi kita menghabiskan waktu setiap hari saat pulang sekolah di mobil jemputan. Mobil jemputan kita itu Kijang Putih tahun 1982, dikendarai oleh sopir edan tenan yang bernama Pak Kusno, yang nyetirnya gaya campuran antara offroad dan rally F1. Nah, mobil jaman dulu ini, kursi depannya itu nyambung, bisa diduduki oleh 3 orang. Selama hampir 3 tahun bersama itu, posisi duduk kita hampir selalu sama yaitu, sopir di paling kanan, saya di tengah, dan teman saya si R ada di paling luar karena dia turun duluan. Selama itu juga, si R yang memang tidak terlalu banyak ngomong, selalu menjadi pendengar setia saya yang kebetulan memang kelebihan jatah ngomong alias bawel. Setelah 7 tahun kita lulus SMP, di tahun 2004 lalu, tiba-tiba saya berhubungan lagi dengan si R melalui Friendster, lalu dilanjutkan dengan chatting. Tak disangka, si R yang saat itu sedang menuntut ilmu di Toronto, Canada rupanya kangen juga sama saya, dan memutuskan untuk mengunjungi saya di Madison, Wisconsin. Jadilah si R terbang dari Canada, dan menghabiskan 1 minggu yang sangat mengesankan bersama saya.

Rupanya, kenangan manis itu masih tersimpan di benaknya. Dan saat kita sedang duduk ngopi di Coffee Bean bulan Januari itu, dia mengutarakan niatnya untuk meminta saya menjadi Master of Ceremony di acara pernikahannya…..WHAT ? Nggak salah denger tuh ? Saya diminta menjadi MC ? Seumur-umur saya nggak pernah jadi MC, apalagi untuk perkawinan. Dan begitu saya tau kalau resepsinya akan dihadiri lebih dari 1000 orang, saya tambah gemetar saja. Tetapi si R ini rupanya menaruh kepercayaan besar kepada saya, sehingga sayapun merasa mendapat kekuatan ekstra untuk mengiyakan keinginannya itu. Setelah beberapa kali pertemuan dengan panitia dan beberapa kali urun rembug dengan mempelai, akhirnya tugas saya berkembang: menjadi MC di Gereja, menyanyikan 1 lagu untuk sungkeman mempelai di Gereja, menjadi MC di resepsi, dan menyanyikan duet 1 lagu di resepsi (yang ini surprise dari Mama si R untuk dipersembahkan ke putrinya, jadi kita sempatin beberapa kali latihan diam-diam sabtu pagi dan jam pulang kantor).

Saat-saat menegangkan itu hampir tiba. Dari sejak Jumat, saya sudah tidak terlalu konsentrasi bekerja karena terlalu tegang. Kebetulan memang data-data untuk membuat laporan belum masuk, sehingga saya mempunyai kesempatan untuk mempersiapkan bahan-bahan yang akan digunakan untuk hari Minggu. Karena saya betul-betul takut salah ngomong, saya bikin 1 booklet kecil yang isinya apa saja yang harus saya ucapkan, paling tidak selama prosesi masuknya rombongan mempelai dan keluarga. Jadilah selama setengah hari di kantor, kerjaan saya ngutak ngutik word document, lalu ngeprint dan pakai pemotong kertas supaya bentuknya mirip kertas-kertas kecil yang dipegang oleh MC professional (serasa Becky Tumewu gitu loocchhhhh….).

Hari Minggu, 11 November, 2007, sampailah kita kepada hari istimewa itu. Siang hari, saya sudah tiba di gereja agak lebih awal karena saya sama sekali belum latihan untuk lagu sungkeman. Si organist hanya tau lagu saya berdasarkan CD berisi suara saya yang saya titipkan. Jadilah satu kali saja latihan, dianggap beres. Untunglah pas nyanyi, betul-betul beres. Yang seru itu, pas sehabis misa kan giliran foto-foto, terpaksa dipotong di tengah-tengah gara-gara petugas catatan sipil sudah marah-marah. Kasianlah teman saya itu karena tidak seluruh keluarga mendapatkan giliran foto bersama di Gereja. Saya sebagai pemandu, cuma bisa pasrah saja. Pegawai pemerintah, mana bisa dilawan? Setelah misa perkawinan, saya pulang ke rumah sebentar, jebar-jebur, sanggul rambut asal-asalan, ganti baju, tebalin make up sedikit, dan langsung berangkat lagi menuju ke tempat resepsi. Kebetulan acara teman saya ini tidak menggunakan jasa Wedding Organizer, melainkan memberdayakan seluruh anggota keluarga sebagai panitia. Jadilah saya juga ikut merangkap melakukan pelatihan untuk pagar ayu dan pagar bagus, orang tua, kemudian briefing juga untuk petugas confetti dan lain-lainnya, dan itu dilaksanakan pukul 5.30 sore sementara acara akan dimulai pukul 6.30.

Pukul 6.30 saya mengumpulkan seluruh petugas, kemudian kita doa bersama, dan pukul 6.45: It’s SHOWTIME! Orang tua mulai masuk, diikuti saudara kandung, lalu dimulailah 5 pasang pagar ayu dan bagus, menyalakan 8 pasang lilin menandakan perjalanan cinta kedua mempelai selama 8 tahun, lalu kedua mempelai memasuki ruangan. Lanjut lagi dengan penuangan champagne, lalu toast, lalu potong kue, bagi-bagi kue ke keluarga, pemberian kue antar mempelai, dan ditutup wedding kiss. Jangan lupa letupan confettinya harus kompak, jadi kasih kodenya juga musti pas. Belum lagi memberi pengantar untuk pengisi acara, ada yang mimpin doa, ada sumbangan permainan piano, sumbangan lagu, lalu saya juga nyanyi bersama maminya mempelai wanita, tentunya sambil diselingi oleh singer dan pianist yang memang sudah diorder untuk ngisi acara. Lanjut lagi dengan acara kuis serta lempar bunga. Memanggil para lajang untuk ngumpul di depan pelaminan itu ternyata nggak segampang yang diduga, karena banyak yang malu-malu. Tapi untunglah, begitu pelemparan sudah hanpir dimulai, mulailah pasangan berduyun-duyun ke depan dan siap-siap berebut buket bunga.

Terakhir, acara foto bersama. Ternyata para kubu yang dipanggil untuk foto, susah banget dikumpulinnya, terutama yang orang-orang tua. Kalau anak muda sih memang banci foto. Namanya rekan kerja, atau teman SMP SMU, wah siap banget deh. Kalau yang keluarga yang isinya bapak dan ibu, mau naik aja, tiap langkah pakai diselingi acara ngobrol dan cipika cipiki. Fotografernya saja sampai nggak sabaran, apalagi saya yang MCnya manggilin berkali-kali. Belum lagi pas di atas pelaminan, saking besarnya keluarga dan banyak anak-anak kecil, diaturnya lumayan lama. Saya sebagai MC juga mesti menjadi penghadang untuk orang-orang yang mau salaman, sementara pengantin sedang foto bersama. Sebetulnya saya sudah punya listing siapa saja yang akan diajak foto bersama, tetapi semuanya itu buyar karena kedua mempelai punya permintaan sendiri lantaran keluarganya pada nggak sabar pingin pulang.

Selesai acara, saya lemas ditambah pegal-pegal karena berdiri terus sejak sore sampai malam. Perut saya yang kosong akhirnya keisi juga sekitar jam 10 kurang. Keluar dari gedung resepsi, saat jalan menuju tempat parkir, tiba-tiba saya diguyur oleh hujan mendadak yang derasnya langsung BYUR….Sementara saya yang pakai gaun strapless, lari-lari ke mobil dalam keadaan basah kuyup. Sampai rumah ganti baju, bersihin make up, dan langsung tidur. Besok paginya hari Senin, nggak bisa bangun…. badan nggak bisa diangkat, kepala pusing keliyengan dan mulai anget-anget. Saya tidur sampai jam 10 pagi, bangun untuk makan sebentar, jam 2 siang tidur lagi sampai jam 5 sore, lalu malam tidur lagi seperti biasa. Inilah kombinasi hebat dari: Kecapekan, Telat Makan, dan Kehujanan.

Pelajaran untuk seluruh MC wanita gadungan:
1. Latihanlah untuk berdiri berjam-jam dengan hak tinggi dan gaun.
2. Makanlah dengan cukup sebelum acara dimulai
3. Latihlah tenggorokan anda untuk mengucapkan kata-kata yang sama berulang-ulang, apalagi kalau memanggil orang-orang tua untuk foto bersama.
4. Cobalah untuk memasukkan beberapa selipan humor agar kedua mempelai tidak terlalu tegang.
5. Berdoalah semoga acara berjalan dengan lancar.
6. Bawalah payung! --> yang ini optional, seandainya tempat parkirnya outdoor hehehe…

Monday, November 05, 2007

Bencana di Saat Bahagia

Bencana Pertama

Yang ini sebetulnya belum bisa dikategorikan bencana sih. Apalagi dibandingkan dengan bencana kedua yang akan saya ceritakan di bawah ini. Lebih tepatnya, ini adalah ungkapan kekecewaan yang mendalam terhadap service salah satu Japanese restaurant di Jakarta yang namanya F*raibo yang berlokasi di Senayan City (Mungkin semuanya udah pada tau kali ini restaurant apa, tetapi sebaiknya saya kasih tanda bintang aja deh di huruf kedua. Nanti bisa-bisa saya dikejar lagi sama pemiliknya kalau sampai dia search di Google dan masuk ke sini).

Siang-siang di hari minggu kemarin, kami bertiga, saya, adik, dan mama, sedang lapar-laparnya, dan akhirnya memutuskan untuk masuk ke restoran tersebut karena Mama pernah dengar review yang bagus-bagus dari televisi tentang tempat ini. Jadilah kita dengan ekspektasi yang lumayan tinggi, masuk ke tempat itu dan segera melihat menu-menu. Akhirnya daripada pusing-pusing dengan menu a la carte, kami memutuskan untuk membeli 3 paket lunch bento. Yang dipesan oleh adik saya adalah paket Salmon, saya memesan paket Seafood, dan mama saya memesan pake Hamburger Steak. Semua paket ini datang dengan nasi, miso soup, salad, dan buah, tetapi belum termasuk minum. Harga masing-masing paket @ Rp. 95,000++. Tidak mahal gila-gilaan, tetapi tidak murah juga. Untuk minum, kita pesan 2 Ocha @ Rp. 15,000++, dan 1 Pineapple Juice @ Rp. 18,000++.

Pertama yang keluar adalah minuman, kemudian Miso Soup, lalu dilanjutkan dengan nasi. Nah dari nasi ke bento kita ini, lumayan lama keluarnya. Walaupun akhirnya keluar juga paket bento adik saya. Isinya ada Salmon Panggang, Cumi Goreng, Salad, Crispy Chicken Skin (yang saking sedikitnya, 1 kali suap juga habis), Acar, dan Buah (semangka plus melon dua potong kecil). Wah, saya pikir, lumayan juga nih….. Ternyata titik tertinggi dari review restaurant ini hanya sampai di situ saja. Adik saya sudah habis makanannya lebih dari setengah, baru pesanan saya datang. Seafoodnya itu goreng tepung, isinya tuh hanya 1 pc ikan (kecil ukuran kira-kira 6 cm*6 cm), 1 pc scallop, dan 1 pc kerang. Ampun deh, kerang aja pelit banget. Chicken teriyakinya lumayan, tapi kecil dan agak kegosongan di satu sisi, jadi ada pahit-pahitnya. Lalu ada 3 pc udang goreng (tanpa tepung) yang kecil-kecil banget. Mustinya saya dapat Crispy Chicken Skin kalau menurut menunya, tetapi di box saya nggak ada. Saya lantas bicara pada pelayannya, kenapa nggak ada, lalu dia jawab, “Nanti akan saya tanyakan”. Tetapi pelayan itu tidak pernah kembali lagi untuk menjelaskan kemana Crispy Chicken Skin saya.

Yang paling menyedihkan adalah, sampai makanan saya dan adik saya habis, pesanan mama belum datang-datang juga. Padahal saya tahu banget, kalau mama adalah yang paling lapar karena mama memang sengaja tidak sarapan terlalu banyak. Kita sampai bertanya 2 kali ke pelayannya, dengan jarak tanya lebih dari 10 menit, kenapa nggak datang-datang juga, tetapi selalu dijawab tunggu sebentar. Akhirnya pesanan itu datang juga. Dari penampilan, memang yang ini yang paling lumayan. Setidaknya daging burgernya besar, rasanya juga lumayan. Tempuranya standar aja, tapi keterlaluan juga karena isinya hanya 1 pc udang, 1 pc ikan, 1 pc terong, 1 pc ubi, dan yang terakhir ini nih…. 1 pc bawang bombay. Mungkin perlu diterangkan, bawang bombaynya itu kayak apa. Bawang bombaynya cuma diiris 1 lempeng besar itu, dan digoreng sekaligus, tidak dipilah-pilah dalam bentuk ring. Jadilah mama saya (yang sudah berharap kalau itu adalah 1 pc ikan tambahan) kaget berat, karena bisa-bisanya bawang tanpa dipotong-potong langsung disajikan dalam bentuk gelondongan. Cuma ada satu di restaurant ini yang lumayan cepat pada saat kami meminta, yaitu: meminta bon untuk membayar. Huh…

Setelah pulang, Mama bersungut-sungut, dengan total bill Rp. 400 ribu untuk bertiga, kita bisa makan di Hoka-Hoka Bento sampai kolaps. Terus terang, saya ini termasuk orang yang berani keluar uang untuk makan. Tetapi dengan pengalaman seperti kemarin itu, bisa-bisa saya yang darah rendah ini bisa jadi darah tinggi. Saya mungkin masih akan kembali lagi ke restaurant ini dengan 2 alasan:

1. Masih penasaran apakah kualitasnya masih seperti itu.
2. Gratis.

Bencana Kedua

Sore harinya sepulang dari gereja, saya, mama, adik, oom, dan tante berangkat ke Pantai Mutiara Sports Club untuk menghadiri resepsi perkawinan seorang kerabat. Berhubung saya belum pernah ke sana sama sekali, ketika menyetir, modal saya hanyalah selembar peta hitam putih yang diselipkan di undangan. Ketika kita sampai di sana, ternyata partnya outdoor di atas deck dengan latar belakang lautan. Saat kita masih melewati dari dalam mobil sambil buka kaca, rupanya sedang acara pemotongan kue karena suara MC terdengar juga dari luar. Jadi sampailah kita di tempat parkir. Dari kejauhan, kita masih melihat, bahwa pada saat wedding kiss, ada kembang api kayak tahun baruan meledak indah di udara. Pokoknya acaranya kelihatan romantis banget.

Saat kita masih di dalam mobil dan siap-siap mau turun, tiba-tiba… BYUR!!! Hujan deras menyerang secara mendadak. Tapi karena sudah sampai di lokasi, mau gimana lagi? Untunglah ada total 4 payung di dalam mobil, 2 kecil dan 2 besar. Yang besar dipakai adik saya, dan oom tante, lalu saya dan mama masing-masing memakai payung yang kecil lalu berjalan menuju ke tempat resepsi. Karena hujan, saya masuk dari arah belakang, bukan dari lobby utama. Saat itu saya lihat, pengantin sudah dilarikan ke dalam, kemudian orang-orang berdesak-desakan di bawah tenda yang jumlahnya terbatas, dan sebagian orang juga berlarian ke dalam.

Nah, di dalam itu ruangannya tidak besar, dan sebetulnya hanya untuk makan keluarga. Di situ saya menemui pasangan pengantin yang duduk di kursi yang disediakan sementara. Yang wanita terlihat pucat walaupun masih berusaha senyum, dan yang laki-laki rambutnya sudah kuyup dan turun semua. Orang tua mempelai terlihat panik karena makanan di ruangan itu terbatas. Akhirnya sebagian makanan prasmanan dari luar dipindahkan ke dalam. Saat itu saya bersalaman dengan pengantin, dan cuma bilang,”Selamat ya, mudah-mudahan hujan ini artinya makin banyak rejeki yang mengalir”. Ya paling tidak bisa menghibur pengantin di saat-saat yang penuh tekanan.

Setengah jam berlalu, dan hujan masih tetap deras. Semua peralatan sound system sudah dibereskan, yang berarti tidak akan ada lagi musik indah yang mengiringi. AC-AC tambahan yang diletakan di luar ruangan sudah ditutupi dengan plastik. Pelaminan sudah kosong, padahal sudah didekor indah dengan banyak bunga-bunga. Ditengah suasana bencana ini, masih ada saja orang yang tidak tahu aturan. Saya mendengar beberapa orang berteriak-teriak, “Kalau tau begini, gue ngga bakalan dateng. Makanan ngga ada. Yok, kita pulang, cari makan di luar!” sambil marah dengan muka masam. Duh, bayangin deh, kalau saya yang jadi pengantinnya, saya mungkin sudah nangis sesengukkan karena impian hari yang indah buyar oleh hujan, tetapi ini tamunya yang cuma datang saja pada marah-marah. Sebetulnya apa sih tujuannya datang ke resepsi? Jangan-jangan cuma numpang makan aja lagi. Sama sekali nggak punya perasaan ke tuan rumah.

Ditunggu seperempat jam lagi, akhirnya hujan reda juga. Semasa menunggu hujan, saya sudah sempat makan menu prasmanannya, dan saya makan agak banyakan karena saya pikir sudah tidak mungkin juga makan di makanan di stall-stall yang di bawah. Tapi ternyata setelah hujan reda, aktifitas makan naik kembali, walaupun pengantin tetap berada di dalam ruangan supaya situasi tetap terkendali. Jadilah, dengan perut saya yang sudah penuh, kembali ngambil sate ayam 5 tusuk, pudding 5 potong (1 lengkeng, 2 coklat, 2 lapis), dan sepiring kecil asinan mangga.

Buat pengantinnya, mudah-mudahan nggak kepikiran mengenai beberapa orang yang memang tidak mengerti makna kebahagiaan dan segala tantangan yang terjadi di hari itu. Toh hujan ini kan karena kehendak Tuhan, sama halnya seperti ketika Tuhan menghendaki pernikahan itu terjadi di hari kemarin dan bukan hari lainnya, walaupun hari kemarin itu dipenuhi hujan. Semoga pasangan yang berbahagia mendapatkan hujan berkat, langgeng sampai kakek nenek, dan cepet-cepet dapet momongan, AMIN.

Bencana Ketiga

Yang ini, tidak disebabkan oleh orang lain, dan tidak juga disebabkan oleh alam, melainkan karena ketidakmampuan diri sendiri dalam mengendalikan diri saat ke resepsi perkawinan kemarin. Silakan lihat kalimat terakhir entry saya sebelum entry ini untuk mengetahui bencana ketiga.

Friday, November 02, 2007

Akibat Kurang Pengendalian Diri

Weits, jangan mikir yang aneh-aneh karena judulnya. Saya cuma mau cerita sedikit, soal brutalitas saya dua hari terakhir ini. Hari Rabu dan Kamis kemarin ini, saya ada meeting seharian penuh. Dulu saya pernah bercerita mengenai betapa mengalirnya makanan di saat meeting dan kali ini hal itu terbukti lagi. Sebetulnya, saya bisa memilih untuk tidak memakan yang tersedia di atas meja. Tetapi di Board Room yang dingin itu, rasa lapar dan kantuk selalu saja menyerang, jadi obatnya adalah: makanan…

Hari Rabu jam 9 pagi, pas masuk ke ruang meeting, sudah disediakan 3 potong kue, yaitu Perkedel Tahu Kotak, Lapis Surabaya, dan Getuk Coklat. Sebelum jam 10.30 pagi, semua kue itu sudah saya habiskan. Jam makan siang datang. Menunya hari itu dari Riung Tenda. Isinya: Nasi Putih, Ayam Goreng, Lalaban dan Sambal, Cah Pucuk Labu, dan semangkok Sayur Asem. Yang bersisa cuma nasi putihnya doang tuh. Sore-sore kue ronde kedua datang, ada Pastel Makcik, Kue Bolu, dan Kue Pepe. Yang bersisa, hanya Kue Bolunya saja tuh…

Pas jam pulang kantor, sudah bertekad, rencana nggak mau makan malam. Tapi rencana memang tinggal rencana. Pulang ke rumah, Mama sudah membawakan Pangsit Kuah Dunia Baru dari Pasar Jatinegara. Pangsitnya sih ngga banyak, hanya lima potong saja, tetapi itu pangsit isinya ayam dan udang kering, kuahnya banyak, anget-anget, enak bangettttt…. Jadilah makan lagi. Eh, udah makan pangsit, inget ada mangga dermayu gede-gede yang dibawain pas hari minggu lalu, lanjut makan mangga setengah. Udah gitu masih nyemil lagi, keripik pisang dan keripik singkong. Alamakjan!

Besoknya pas lihat timbangan, eh kok turun. Seneng juga…apa timbangannya yang error ya? Pagi-pagi masuk lagi ke ruang meeting, ada 1 kotakan dari Makcik, isinya Pastel, Kue Gemblong, dan Lemper. Lagi-lagi saya habiskan semuanya, sebelum waktu menunjukkan pukul 10 pagi. Jam makan siang datang, menunya kali ini dari Restoran Padang Sederhana. Isinya ada Nasi Putih, Ayam Pop (plus Daun Singkong), Gulai Kikil, Gulai Nangka, Kerupuk, dan Pisang. Yang sisa tuh hanya Nasi Putih dan Kerupuk aja. Kalau Gulai Kikil, itu sih favorit saya, jadi kemarin sempet ngubek-ngubek dulu milih box yang ada Gulai Kikilnya heheheh (gimana mau kurus ??). Sorenya, Pak Bos udah mulai lapar dan nyari-nyari makanan, karena ternyata nggak dipesankan kue untuk sore. Jadilah dipesankan gorengan ke office boy. Pas datang tuh gorengan di piring, saya langsung ngembat nggak tanggung-tanggung. 5 potong! 2 tahu, 1 pisang, 1 bakwan, dan 1 singkong. Bener-bener parah.

Malamnya, sebetulnya saya ingin pulang. Tapi berhubung tamunya dari luar kota, dan para bos lagi tidak bisa menemani, jadilah saya yang penjamu teman-teman, yang berarti, makan malam sudah dipastikan tidak di rumah. Kita semua bersebelas menuju ke Senayan City. Tadinya sih kepingin makan di Duck King, tetapi ternyata ngantreeee… Jadilah mengalihkan badan menuju ke Mandarin Spice di lantai paling bawah. Malam itu saya nggak makan nasi sih, tetapi menunya: Sup Kepiting Asparagus, Cah Pocai Bawang Putih, Ayam Goreng Renyah, Gurame Goreng Saus Thai, Mapo Tofu, dan Lobster Panggang Lapis Keju. Sebagai penutup, untuk meredakan perut yang kebakaran, saya makan 1 mangkok Kwe Lin Kao. Makan sampai pukul 10 kurang, sampai rumah pukul 10.20, dan pukul 11.30 langsung bobo sehabis nonton Kick Andy. Dimulailah penambahan timbunan-timbunan lemak.

Pagi ini, seperti biasa, nimbang lagi. Naik 1 kg…. *pasrah mode on*

Tuesday, October 30, 2007

Ongkos oh Ongkos

Gara-gara musim hujan badai yang mulai melanda Jakarta, bisa dipastikan jalanan makin macet, dan buat saya yang naik taksi setiap hari, dipastikan ongkos pasti berlipat ganda. Anehnya, hujan itu umumnya melanda saat hari menjelang sore, sehingga puncaknya terjadi pada saat jam pulang kantor, menyebabkan kita merana total pada saat mencari taksi.

Sebetulnya saya agak malas untuk menceritakan pengalaman hari Jumat kemarin karena saya cukup gondok dengan apa yang saya alami. Tetapi kok rasanya lebih plong kalau bisa ditulis di sini. Jumat kemarin itu, pas pulang kantor hujan sudah mengguyur cukup parah. Bukan rintik-rintik, tetapi byur-byur. Di depan gedung saya ini ada pool taksi BB, tetapi keadaannya saat itu kosong karena tingginya permintaan. Mau nunggu di lobby atas juga sulit karena sudah pasti taksi kosong yang lewat direbut duluan oleh orang yang nunggu di jalanan.

Kebetulan saya berdua dengan teman kantor, tetapi teman kantor saya nggak mau nunggu taksi di bawah hujan dan memilih stay di lobby. Jadilah saya, dengan bermodal payung kecil, nunggu di pinggir jalan di luar kompleks gedung, dan dipastikan karena angin, bagian bawah badan saya basah semuanya. Sudah lagi nunggu tenang-tenang, dan pas taksinya sudah didepan mata, tiba-tiba ojek payung menghadang taksi itu, dan mempersilakan ibu-ibu yang diojekin untuk masuk. Padahal, saya sudah ngantri loh! Betul-betul deh tidak berbudaya. Hal itu tidak terjadi sekali saja, tetapi berkali-kali. Akhirnya satpam gedung kasihan sama saya, jadinya dia bilang, kalau taksi selanjutnya datang, dia akan berusaha untuk mengambilkan untuk saya.

40 menitpun berlalu, taksi-taksi yang lewat sudah penuh semua, badan makin kedinginan dan kebasahan. Habis gitu cellphone saya berdering, ternyata teman kantor saya yang nelepon, dia bilang dia dapat taksi karena kebetulan ada yang turun di lobby. Jadilah saya naik lagi ke dalam gedung, lalu naik taksi pulang bareng. Padahal saya tuh agak-agak anti naik taksi di luar merek BB dan E, tetapi saat itu adanya cuma taksi itu aja…ya udah deh, masih mending berduaan, kalo sendirian sih, ngga berani. Hari itu mending, walaupun hujan jalanan masih lumayan lancar. Cuma tetep, saya masih menyimpan kegondokan, kenapa sih orang-orang ngga bisa ngantri dengan sopan ? Kenapa sih para ojek payung itu harus menghadang taksi seenaknya. Prinsip siapa cepat dia dapat itu kan harusnya siapa yang ngantri duluan, dialah yang akan dapat, tetapi kok di sini, siapa yang berani pasang badan dan malak duluan, dialah yang dapat. Ih syebel…

Jam 4 sore hari Senin alias kemarin, langit sudah mulai gelap gulita. Jadi daripada kejadian seperti waktu Jumat kemarin, saya berinisiatif untuk menelepon taksi BB, dan melakukan pemesanan untuk pukul 5.20 sore. Betul saja, pas sampai di bawah sekitar jam 5.17, hujan sudah mulai turun. Kemudian saya lihat di HP saya, ternyata ada miscall dari BB. Dalam hati saya, ini pasti untuk ngabarin kalau taksi saya sudah sampai, dan untuk memberi tau nomor armadanya. Karena saya lihat nggak ada taksi di lobby, jadi saya berinisiatif untuk menelepon ke BB. Pas ditelepon, adanya suara lagu, dan disuruh tunggu, tunggu, dan tunggu sampai bermenit-menit. Akhirnya diangkat juga tuh oleh operator, dan saya tanya nomor armadanya. Ternyata eh ternyata, tadi itu dia nelepon untuk ngabari, kalau taksinya nggak ada! Grrrr.... There goes my pulsa telepon untuk hasil nol. Jadilah saya pikir, ini harus nunggu taksi lagi di luar. Tapi temen saya ngotot, ngga mau nunggu taksi di luar, mau nunggu aja di lobby. Wah, dlm hati saya, kapan bakalan dapet taksinya kalo diem-diem aja.

Akhirnya saya memutuskan untuk keluar dr halaman gedung dan nunggu di jalan. Eh, ternyat usaha saya nggak sia-sia. Nggak usah nunggu lagi, langsung dapet taksinya, lalu saya masuk lagi deh ke gedung untuk jemput temen saya. Seneng deh kita semua langsung dapet taksi. Tapi ternyata, itu bukanlah awal kesenangan kita, tetapi awal dari kekesalan kita. Pertama-tama, taksi kita nggak bergerak di lobby. Begitu keluar dari lobby menuju ke pos pembayaran parkir, argo sudah menunjukkan 10 ribu rupiah, dan dari pos pembayaran parkir masuk ke jalan utama, argo sudah naik lagi sampai 15 ribu! Padahal biasanya, argo itu belum naik dari angka awal 5 ribu pas kita sampai ke jalan utama. Bisa dipastikan, bagaimana perjalanan selanjutnya... menyedihkan...

Males sih ngomongin angka argo akhirnya. Yang pasti sih, dua kali lipat dibandingkan dengan biasanya. Dan waktu tempuhnya: 1 jam 20 menit! Di saat-saat seperti ini, bersyukur aja deh: masih dapet taksi, masih bisa nyampe rumah dengan selamat, dan masih bisa punya duit untuk nutupin ongkos taksi...AMIN !

Monday, October 29, 2007

Wisata Kuliner Jadi-jadian

Nggak salah kalau berat badan saya sekembali dari liburan bukannya turun, malah naik dengan sukses. Weekend ini lumayan menjadi puncak kegilaan makan yang tak terkendali. Dimulai dari hari Sabtu pagi, kebetulan mama menerima pesanan Makaroni Panggang, dan bahan-bahannya ada lebih sedikit, sehingga dibuatlah loyang extra untuk dimakan sendiri. Dan pagi itu, saya jadi pemanasan dengan makan Makaroni Panggang. Lalu daya kreatifitas saya lagi agak naik kemarin itu, sehingga dengan kerajinan yang tidak jelas, mencoba membuat kue bolu kukus loyangan. Sebetulnya pingin sekali membuat dengan rasa vanilla dan coklat, tetapi rupanya saya tidak dapat menemukan bubuk Cocoa Van Houten yang biasa saya pakai, sehingga dengan segala kekreatifan yang tidak jelas, akhirnya saya memakai serbuk kopi sebagai pengganti rasa coklatnya. Ternyata, project coba-coba yang baru kali pertama ini saya lakukan berhasil juga untuk bikin Bolu Kukus loyangan motif loreng – loreng kayak Trio Macan hihihi….. Jadilah, ronde kedua diisi dengan makan potongan besar bolu kukus bikinan sendiri. Eh iya, pagi-pagi pas habis bangun tidur dan sikat gigi, sebelum Makaroni Panggang selesai dibuat, saya sudah nyomot dua Kue Sus (satu coklat dan satu vanilla), hasil jatah pertemuan lingkungan malam sebelumnya. Ya, itu baru pagi harinya saja !

Siang-siang, tiba-tiba terbersit keinginan untuk potong rambut. Rencananya, habis ke salon, mau langsung ke Gereja St. Theresia untuk Misa dalam bahasa Inggris (udah kangen banget). Apadaya, pas nyampe salon, gara-gara belum bikin appointment, penuhlah jadual dari stylist saya karena hari Sabtu kemarin itu rupanya banyak banget orang yang nikahan sehingga (katanya sih) dari jam 2 pagi dia sudah di booking full sampai pukul 5 sore. Hiks... jadilah hari itu batal dan berencana balik lagi hari Minggu aja. Karena sudah keburu tanggung (udah keluar dari rumah gitu loh), teteplah dibulatkan niat dan tekad untuk ke Gereja. Tapi masih ada waktu 1 jam, ngapain dulu dong? Berhubung Gereja St. Theresia berseberangan dengan Kafe Pisa, mampirlah saya di kafe Pisa dan mesen 2 scoop gelato (raspberry, dan black forest...nyam-nyam). Sambil nunggu di situ, maem eskrim, dan baca-baca majalah, wuih, udah ngga kerasa kayak lagi di Jakarta. Mana langitnya mendung-mendung.... romantis banget (seandainya sama pacar). Setelah Misa, ternyata perut si Mama udah berkeroncongan ria (padahal baru jam 5.30 sore), jadilah lanjut ke Food Lovernya Grand Indonesia, dan si Mama pesen Mie Tarik Tomyam. Saya jadi kebagian juga tuh, icip-icip dengan mangkok kecil, dari mangkok gedenya dia. Muter-muter di Grand Indonesia, bingung mau ngapain karena emang ngga ada apa-apa, akhirnya lanjutlah kita ke ronde kedua.

Sampailah kita di Senayan City. Beberapa waktu lalu, saya dan teman-teman sempat ngumpul di Pure Foodism tengah malam, hanya untuk menikmati cocktailnya. Kali ini saya kembali lagi ke situ, untuk menikmati makanannya karena waktu itu sempet terngiler-ngiler juga untuk coba, tapi karena waktu itu sudah selesai dinner, diurungkanlah niatan itu. Di situ, Mama nggak ikutan makan full karena tadi udah makan satu mangkok besar Mie Tarik, tetapi kita share-share juga pesanan saya. Saya pesan Beer Battered Seafood sebagai appetizer alias ikan, udang, dan cumi yang digoreng tepung tetapi menggunakan bir sebagai bahan cairnya (bukan air). Rasanya nyam-nyam banget, membangkitkan lagi memori lama waktu makan fish and chips di bar-bar di Milwaukee. Maincoursenya saya pesan Lasagna, wuih uenak, ricotta cheesenya berasa banget dan tebel, belum lagi saosnya tidak terlalu berlebihan. Tetapi mama saya yang memang nggak suka keju, dia bilang sih itu makanan bikin dia puyeng habis icip-icip satu sendok aja. Sebagai penutupnya, saya pesan Foodism Cake, yang kecilnya seiprit, tapi rasanya enak ! Bentuknya tuh kayak chocolate mousse biasa, tetapi dalamnya ada kacang dan blueberry. Rasanya ringan dan tidak terlalu manis. Kalau di total, kuantitasnya itu hanya 3 sendok kali ya saking kecilnya, cukup untuk membersihkan mulut dari rasa gorengan dan lemak di dua makanan pertama. Setelah selesai makan, shopping-shopping dulu di Debenhams, abis gitu, tuker voucher Breadtalk dengan 2 piece Chocolate Lava-nya (Kalau pake HSBC, tiap belanja 250,000 di Senci, bisa dituker voucher Breadtalk 12,000, sayangnya ngga berlaku kelipatan, pedahal kan kalau nggak bisa dapet lebih banyak..huh...)

Hari Sabtu usai, hari minggu tiba. Pagi-pagi, acara dibuka dengan pergi ke salon...heheheh...akhirnya ada kesempatan juga untuk potong rambut. Kali ini stylistnya lagi nggak ada antrian, dan saya udah telepon dulu dong! (Belajar dari kesalahan hari sebelumnya). Pas balik ke rumah, ternyata ada tamu yang datang bawain mangga harum manis dan dermayu (udah kebayang tuh, makan mangga seger-seger yang gede-gede). Siangnya, karena penasaran dengan review-review yang OK dari Q Smokehouse Factory, kita bertiga, saya, mama, dan adik, langsung menuju ke Panglima Polim dengan modal ngelihat peta Jakarta di computer (maklum, buta deh sama daerah Selatan). Eh syukurlah, langsung sampai dengan selamat di restaurantnya. Tadinya kita mau pesen 2 BBQ Ribs Jumbo, 1 Beef Brisket, 1 Asian Salad, dan 1 Q- Fries. Tetapi ternyata Ribsnya tinggal sisa 1 porsi aja, (kalau mau nunggu, kudu nunggu sampai malam, karena kudu di smoke 12 jam) jadinya dituker deh dengan 1 Reuben Sandwich (lagi-lagi membangkitkan memory Wisconsin dengan hidangan German). Ternyata, apa yang dibilang di review-review itu bener banget ! Uenak pol ! Ribsnya gede-gede, dagingnya juicy banget, rasanya ngga kepingin share 1 porsi untuk bertiga, tapi apadaya tinggal sisa 1. Udah gitu, menurut saya sih, harganya terjangkau banget, hanya 49,000++ untuk 1 porsinya. Beef Brisketnya pas dimasaknya, jadi ngga kering, Reuben Sandwich-nya juga enak, tapi sayang rotinya bukan pakai rye bread, jadi authenticitynya kurang (alias lebih disesuaikan dengan lidah Indonesia). Untuk minuman, kita bertiga, pesenannya lain-lain semua, tetapi semuanya strawberry based. Saya pesen Strawberry Juice, Mama saya Strawberry Squash, dan adik saya Strawberry Smoothies. Semuanya juga enak dan fresh!

Pulang dari makan siang, saya dan mama ketiduran dengan sukses. Malemnya, wisata kuliner ronde selanjutnya dilakukan. Malam-malam sekitar jam 8, kita baru berangkat dari rumah menuju ke (lagi-lagi) Senayan City. Malam itu kita mau nyobain It’s A Cafe gara-gara pas Sabtu kemarin kita ngelihat makanannya lumayan terjangkau dan kayaknya enak. Pas nyampe sana, langsung pesen Calamari Fritti (Cumi goreng tepung dengan tartar and ginger dipping sauce) untuk appetizer, Fettucini Carbonara (Pasta dengan saus blue cheese and beef bacon) buat saya, Snapper Steak (Kakap dengan ginger sauce dan fries) buat mama, dan Black Pepper Rice (Nasi dengan Sapi Lada Hitam) buat adik saya. Rasa makanannya boleh juga, walaupun bisa dibilang porsinya agak kecil terutama untuk Black Pepper Ricenya. Makanya, setelah selesai makan dari situ, kita langsung geser ke kiri beberapa meter, dan masuk ke Zhuma hihihi (perut kok kayak ngga ada batesnya). Di Zhuma, rencananya sih cuma kepingin icip-icip dikit untuk mengisi kehampaan yang masih tersisa di perut. Tetapi endupnya kita pesen 3 sushi roll untuk berdua (mama udah nyerah ngga ikutan makan). California Roll, Spider Roll, dan Spicy Salmon Roll keluar ke atas meja, dan ternyata, rollnya gede-gede juga! Walaupun begitu, tetep aja abis juga!

Pagi ini, bangun tidur, penimbangan berat badan menghasilkan pembelalakan mata yang sangat besaaaarrr.... Ya sudahlah.... Mumpung masih muda, marilah kita nikmati hiduppppp.... *padahal cuma nyari-nyari alasan aja, biar nggak stresss...*

Thursday, October 25, 2007

After Holiday Syndrome

Rasanya bener juga yang dibilang orang-orang mengenai after holiday syndrome. Bawaannya jadi nggak pingin ngapa-ngapain, di kantor jadi ngantuk terus, ngga kepingin kerja. Mana kondisi badan juga sepertinya belum pulih dari flu kemarin, sehingga mood semakin turun, ditambah lagi cuaca yang gloomy dan redup-redup gini, membuat hasrat menuju ke pulau kapuk semakin menggila.

Sudah beberapa hari terakhir ini, saya tidak mempunyai semangat untuk mengerjakan apapun di kantor. Saya merasa kok pekerjaan saya mulai membosankan. Mungkin pertama-tama disebabkan oleh data-data yang semuanya terlambat datang lantaran habis Lebaran. Setiap kali bertanya kepada orang di lapangan, selalu dijawab,”Masih cuti Bu, baru kembali minggu depan”. Padahal pas sehabis liburannya sendiri, saya masih lumayan semangat, tapi seminggu setelah liburan berakhir, semangat malah rontok. Minggu ini, yang saya rasakan di kantor hanya pegal-pegal, kedinginan, dan pikiran saya sepertinya sudah tidak mau diajak berkompromi walaupun pada akhirnya semua data-data selesai juga. Apakah ini betul-betul after holiday syndrome, ataukah saya betul-betul haus akan tantangan baru di dalam pekerjaan saya?

Teman baik saya waktu itu pernah bilang, kebosanan dalam pekerjaan akan terjadi pada saat 9-10 bulan bekerja. Waktu itu saya tidak terlalu percaya omongan dia, tapi kali ini sepertinya saya harus sedikit percaya. Di pekerjaan saya sebelumnya, saya juga mengalami kejenuhan pada saat-saat yang sama. Saya ingat waktu itu juga akhir Oktober 2005, bulan ke sembilan saya bekerja. Saya sudah berminggu-minggu bermalam di hotel yang sama di luar kota di sisi utara Wisconsin, mengerjakan pekerjaan di client yang sama, dengan team yang sama, dan permintaan yang begitu tinggi dari atasan karena beberapa staff lain yang ada di situ rada tidak becus bekerja. Saat itu saya survive mengatasi kejenuhan saya, karena pada akhirnya setelah perjuangan panjang, ada goal yang team kami capai yaitu untuk kali pertama kita berhasil filing laporan keuangan setelah sebelumnya diaudit oleh perusahaan yang tidak kompeten.

Tetapi di pekerjaan yang sekarang, saya justru merasa targetnya itu seperti melayang, dibalik rutinnya berbagai laporan yang diberikan bulanan dengan revisi di sana sini. Waktu perjuangan mencari kerja di kota Jakarta ini, saya sebetulnya sempat dihadapkan kepada dua pilihan besar, mau bertahan dengan kemampuan pengetahuan ekonomi dan akuntansi yang saya dapatkan semasa kuliah sebagai modal saya, atau mau mencoba sesuatu yang betul-betul baru di luar rasa kenyamanan saya. Makanya waktu itu saya sempat mencoba untuk interview untuk bekerja di beberapa bidang yang betul-betul berlawanan. Saya sempat interview untuk jadi news anchor di salah satu TV berita nasional, untuk jadi lecturer di salah satu universitas baru di Jakarta, untuk jadi marketing creative di sebuah institusi banking ternama, sampai akhirnya saya memilih, untuk tetap melekat pada background yang membesarkan saya, yaitu accounting.

Saya lagi-lagi masih bertanya mengenai apa yang sedang saya alami sekarang, apakah ini after holiday syndrome, seperti yang saya dapatkan di awal tahun 2000, saat saya memutuskan kalau saya tidak ingin jadi dokter lagi, atau seperti yang saya dapatkan setelah liburan Oktober tahun 2006 di Jakarta yang menyebabkan saya memutuskan untuk kembali ke Indonesia? Ah, pusing-pusing.... mendingan sekarang saya nunggu waktu pulang aja. 2 jam lagi, di luar hujan pula...

*kalo lagi ujan-ujan begini, suka ngebayangin, pas lagi nungguin taksi di bawah ujan gede, tiba-tiba dikejutkan sama kedatangan pujaan hati yang ngejemput naik mobil, bawain payung, lalu bukain pintu mobil...kayak di sinetron-sinetron.... wah, beneran, kacau nih otak...*

Tuesday, October 23, 2007

Sabtu Seru

Setelah sakit flu saya mereda dengan cukup tidur dan meminum berbagai obat warna-warni, akhirnya sampai juga pada saat yang dinanti-nantikan yaitu Sabtu! Tidak tahu kenapa saya begitu excited menghadapi weekend kali ini. Apa karena saya betul-betul sudah bosan kerja, atau karena kerinduan terhadap 1 hal yaitu: Nonton konser! Yes, saya sangat berbunga-bunga karena saya tahu, kalau Sabtu malam tanggal 20 Oktober kemarin, saya akan menonton konser Black Eyed Peas! Inilah kali pertama saya menonton konser musik di Jakarta, dimana saya betul-betul tertarik dengan penyanyinya.

Terakhir saya menonton konser di Jakarta adalah waktu F4 datang ke Indonesia, alias awal tahun 2004. Waktu itu, berhubung tiketnya dibelikan oleh ortunya teman saya, ya saya terima-terima saja, tanpa sadar resiko kalau akan digencet-gencet oleh anak ABG yang brutal walaupun sebetulnya kita berada di section VIP. Saat itu, saya hanya bisa bergelantungan di badan adik saya, tanpa sadar kalau konser sudah berjalan karena saya betul-betul sesak tak bisa nafas, dan pusing tujuh keliling. OK, kita lupakan saya pengalaman hampir tiga tahun lalu itu. Setidaknya ada konser lain yang pernah membuat saya lebih kecewa, yaitu konser Britney Spears! Selain tiketnya mahal, ternyata shownya sangat singkat, bahkan saya sendiri tidak merasa kalau dia betul-betul menyanyi alias saya percaya kalau dia hanya lipsync saja. Itung-itung, yang bikin saya happy hanyalah panggungnya yang keren, dengan air terjun, kembang api, dan lain, lain. Lumayan deh untuk hiburan.

Sabtu pagi kemarin, jam 9 teng, maminya teman saya sudah dateng ke rumah untuk latihan nyanyi. Jadi ceritanya, teman baik saya sebentar lagi mau menikah, dan mendaulat saya untuk menjadi MC. Kali pertama saya menjadi MC, dan kali ini harus menghadapi tamu-tamu ratusan orang (mungkin bahkan bisa mencapai di atas seribu orang à Doakan yah). Lalu, maminya ini ingin sekali kasih surprise ke anaknya dengan menyanyikan sebuah lagu, yang akan dinyanyikan secara duet. Good idea bukan? Tapi namanya nyanyi bareng ibu-ibu, kita betul-betul harus pelan-pelan, step by step. Untung maminya teman saya ini lumayan funky dan cepet nangkep. Setelah latihan berakhir, mood saya sudah pindah menjadi mood pergi ke konser.

Sorenya, setelah bertemu dengan dua teman saya di Plasa Senayan dan makan malam awal, kami sepakat untuk berjalan kaki saja dari Plasa Senayan ke Istora. Maklumlah, kendaraan semuanya menuju ke arah yang sama, jadi sangat beresiko mencari tempat parkir di dalam. Begitu sampai di sana, ternyata sudah rame banget, dan Adrie Subono, si pemilik Java Musikindo itu, lagi nongkrong aja di atas podium di lapangan sambil memantau para pengunjung. Pengamanan cukup baik, terutama dikarenakan penontonnya yang lebih berkelas dibandingkan dengan ABG-ABG di konser F4. Saya mendapatkan tempat duduk di tribune sebelah kanan belakang. Cukup baik viewnya karena bisa kelihatan seluruh panggung, dan yang pasti bisa duduk kalau lagi kecapekan. Maklum saya sudah bertobat dengan posisi festival, karena pas nonton Britney dulu, nggak kelihatan apa-apaan.

Penonton didominasi oleh anak-anak muda dan juga pasangan-pasangan muda yang membawa anak-anak. Iya, saya nggak bohong kalau ternyata banyak anak-anak juga yang datang. Dan juga banyak sekali expatriate yang datang, jadi konser ini seperti ajang pertemuan barat dan timur, karena rambut pirang ada di mana-mana. Konser dibuka pukul 8 malam dengan penampilan dari The Click Five yang terkenal dengan lagu Just The Girl dan Jenny. Wah, baru aja keluar, ABG-ABG sudah pada teriak-teriak ngga karuan. Yang lucunya, di Indonesia yang terkenal justru lagu Jenny, sementara di Amerika sana yang lebih ngetop adalah Just The Girl (yang menurut saya liriknya lebih catchy dan nadanya asik). Band ini lumayan interaktif untuk sebuah band baru, dan aksi pemainnya lumayan seru dan gokil. Tetapi sayang, penonton Indonesia umumnya hanya aktif kalau lagunya mereka kenal. Jadinya di sepanjang show, mereka hanya berjingkrakan hebat saat lagu yang mereka kenal dimainkan.

40 menit berlalu. Jeda 20 menit, dan pukul 9 lewat sedikit, musik mulai dimainkan, dan BLACK EYED PEAS langsung menghentak dengan lagu Hey Mama! Wah, penonton langsung berhamburan ke sisi panggung. Group beranggota 4 orang ini memang sangat energic. Si Fergie satu-satunya vokalis cewek itu, bisa nyanyi sambil salto. And all of them are great dancers! Musiknya juga live, bukan minus one. Jadi betul-betul deh, kerasa banget suasana konser yang asyik dan interaktif. Saking kerennya, walaupun ada beberapa lagu yang belum terlalu dikenal oleh khalayak Indonesia, tetap saja kita bisa mengikuti pada saat diajak nyanyi bareng. Di tengah panggung, setiap anggota mempunyai kesempatan untuk unjuk gigi dengan lagu andalan masing-masing. Fergie hadir dengan lagu-lagunya dari album The Dutchess yaitu: Big Girls Don’t Cry, Fergilicious, Glamorous, dan London Bridge. Tingkah lakunya yang genit dan dancenya yang lumayan provokatif itu, pasti bikin deg-degan yang menonton. Suguhan lagu demi lagu mereka mainkan tanpa terputus, dan suara mereka semua betul-betul wah! Sama, bahkan lebih baik dari rekamannya. Saya sendiri dibuat terlena sampai ikut berjingkrak-jingkrak, nyanyi, dan ngedance nggak karuan.

Setelah lagu Don’t Phunk With My Heart, tiba-tiba mereka mengucapkan salam pisah, dan berlalu dibalik panggung. Kami tau kalau ini hanya trick saja sebelum encore dilaksanakan. Lampu masih tetap gelap, pertanda ini bukan akhir dari acara.Tetapi jeda yang lumayan lama, membuat beberapa penonton, terutama yang membawa anak-anak kecil mulai meninggalkan gedung. Tiba-tiba, para anggota group itu keluar lagi dengan membawa pemain trumpetnya yang melakukan permainan solo dengan asik banget. Lampu mulai menyala lagi, dan encore dimulai dengan lagu Pump It! Wah, semuanya langsung histeris lagi, gila lagi, dan joget-joget lagi. Selanjutnya, Will.I.Am mulai menceritakan perjalanan mereka dalam tournya berkeliling dunia. Indonesia adalah termasuk bagian dari negara terakhir yang dikunjungi. Kemudian meluncurlah lagu favorit kita semua: Where is The Love, yang lagi-lagi membuat kita bernyanyi bersama. Sebagai lagu terakhir, untuk mengajak kita semua pesta sampai pagi, dipilihlah lagu Let’s Get It Started. Setelah lagu itu, mereka betul-betul mengundurkan diri. 2 jam tidak terasa sudah berlalu, dan sepertinya kami masih ingin lebih, dan lebih lagi.

Sabtu itu saya akhiri bersama teman-teman dengan duduk-duduk santai di Cascade Lounge, Hotel Mulia. Kami hanya minum teh dan soda, untuk melepas lelah setelah terkena euphoria pada saat konser tadi. Sampai di rumah sudah Minggu subuh, tetapi semangat masih menyala-nyala. Capeknya baru betul-betul terasa setelah sampai di kamar dan badan menyentuh ranjang.

Black Eyed Peas memang betul-betul hebat. Mereka tidak perlu kembang api, dry ice, air terjun, atau panggung super spektakuler untuk menyampaikan misinya. Latar belakang ras yang berbeda-beda, justru membuat group ini kaya warna dan rasa. Perpaduan dari Stacy Ferguson (Fergie) yang dari California, Allan Pineda (Apl.de. Aps) dari Filipina, Jaime Gomez (Taboo) yang keturunan Mexico, dan motor group ini William James Adams (Will.I.Am) satu-satunya yang keturunan kulit hitam, betul-betul memberikan suguhan musik yang unik, seru, dan apa adanya. Bisa dibilang, inilah salah satu konser paling mengesankan untuk saya sampai saat ini. Dan jangan takut kalau kita tidak hafal lagu-lagunya, karena siapapun bisa menikmati, termasuk anak-anak dan orang tua. Karena sungguh, musik memang bisa menyatukan dunia.

Friday, October 19, 2007

Fluuuuu....

Sakit flu ini saya dapatkan waktu lagi jalan-jalan pas liburan hari raya kemarin. Bener juga yang orang-orang bilang, kalau di Genting itu cuaca bisa berubah lima menit sekali. Berhubung saya orangnya cuek bebek, dan nyantai terus, yang ada saya hanya modal camisole dengan cardigan, celana jeans, dan topi biasa. Waktu awal-awal di outdoor amusement park, saya malah berani nantang,”Begini aja toh dinginnya.” Tapi nggak berapa lama, kabut mulai turun, lalu tiba-tiba mulai berangin, eh ngga lama panas lagi, lalu ngga lama, hujan deras turun mendadak. Dan hal itu terjadi setiap 5-10 menit sekali ! Saya nggak bohong!

Akibatnya, setelah dari amusement park itu, badan saya teler. Jam 2 siang, saya meringkuk di kamar hotel, dengan selimut menutupi satu badan. Jam 5 sore baru bangun, langsung ngidam makanan berkuah. Jadinya nyari-nyari deh, dan ketemu restoran yang menyediakan kwetiaw kuah dengan mangkok besar, kuahnya saya hirup semua sampe ludes. Besoknya, kerongkongan mulai gatal-gatal, lalu dimulailah batuk berdahak. Hiks....Di pesawat kembali ke Jakarta, saya hanya bisa pules, blek...

Besoknya udah masuk di kantor, pingin banget makan Pho... tapi apa daya nggak kesampean, di Plaza Semanggi food courtnya hanya ada restaurant Kuah aja. Jadi kita pilih tuh isinya bakso-baksoan, lalu dimasak deh pake kuah. Mayan bisa nyegerin tenggorokan. Tapi tetep aja, uhuk-uhuk terus. Padahal udah diembatin OBH, lalu udah ngemutin Strepsils terus (katanya Strepsils ada numbing effectnya, tapi kok ngga epek ya buat saya). Malemnya, saya nggak terlalu napsu makan, jadi makan pear aja dua potong. Kata Mama sih pear itu bagus karena punya efek adem buat tenggorokan. Malemnya ganti metode, minum Vicks Formula. Bobonya lumayan enak malem itu, walaupun sebelum tidur, masih aja emutin Strepsils.

Hari ini, masuk kantor, masih ok ok aja, tapi siangnya mulai hatchi-hatchi. Bersin saya ini suaranya ribuan desibel, bisa terdengar dari ujung ke ujung, pokoknya lumayan malu-maluin (Pas SMU bisa kedengeran sampai 4 kelas selanjutnya). Dan yang parahnya, bersinnya tuh terus-terusan. Pas jam makan siang, pingin banget makan nasi hainam. Kebetulan ada 2 group yang mau makan. Yang pertama sudah reserve di Platinum dan include nama saya, yang group kedua belum jelas. Jadilah saya ikut group pertama. Saya pesan Nasi Ayam Hainam. Pas dateng, nasinya nggak ada rasa, ayamnya bukannya direbus, tapi digoreng, lagi-lagi ngga ada rasa. Dan yang paling parah adalah kuahnya, isinya cuma air dan kol, plus kebanyakan lada, sampai nggak bisa diminum. Sedih banget, padahal udah ngebayangin mau makan Nasi Hainam yang wangi, dengan ayam rebus atau panggang yang empuk. Yang lebih menyedihkan lagi adalah, ternyata group kedua, makan Nasi Hainam di Chicken Rice ! Lengkap dengan Caipo, Tahu, Sayuran, Dan Ayam...HUAAAAA... bener-bener, dua hari pingin makan sesuatu, ngga pernah kesampean. Tega banget rasanya, ngga ada yang mihak pada diriku...

Sore ini abis nulis blog ini, udah mau pulang aja. Biarlah segala kekesalan itu berlalu, dan yang paling penting, flu ini segera berlalu.

Latest Update: Barusan pulang kantor, langsung ke dokter, langsung disuntik, dikasih obat dokter empat macem. HIKSSSSS.....

Thursday, October 11, 2007

Sweet Seventeen Memories

Gara-gara Oom Arman menulis soal bagaimana menyenangkannya mempersiapkan acara ulang tahun anaknya yang pertama dan jadi EO dadakan, saya jadi tertarik juga untuk menulis mengenai ultah saya yang paling seru, paling berkesan sebagai anak perempuan yaitu my sweet seventeen birthday party yang terjadi di tahun 1999 (8 tahun laluuuuu….gila gila gila, kalo punya anak tahun segitu, sekarang udah kelas 3 SD!)

Buat sebagian besar gadis, sweet seventeen itu mungkin menjadi saat yang paling ditunggu-tunggu. Apalagi biasanya di usia tujuh belas itu, yang namanya remaja putri lagi genit-genitnya, lagi mekar-mekarnya dan umumnya di saat itulah remaja putri boleh dandan dan pakai high heels tanpa merasa canggung, dan yang pasti mulai mengenal yang namanya pacaran. Tapi tunggu dulu, itulah yang ideal di dalam dunia SINETRON.
Buat saya saat itu, saat-saat menginjak usia 17 bukanlah seperti di dalam gambaran gadis-gadis dengan rambut panjang, duduk manis, dan gossipin cowok di depan kantin sekolah seperti di sinetron itu.

Saat itu, saya baru menginjak kelas 3 SMU, jurusan IPA, dengan wali kelas guru paling killer satu sekolah. Sekolah pun isinya kaum hawa semua, sehingga dengan berat badan saya yang cukup fantastis dan rambut superbondol dan kacamata besarpun, tidak membuat orang mengomentari penampilan saya. Tas sekolah saya, besar dan beratnya mungkin bisa menyaingi gallon air mineral ukuran 19 liter. Maklumlah, kalau sampai lupa bawa salah satu buku, bisa habislah nasib kita hari itu. Botol air saya adalah botol piknik merek Coleman yang ukuran 2 liter. Jadi bisa dibayangkan, bagaimana setelah seluruh paket bentuk fisik saya dan perlengkapannya itu dijadikan satu. Yes, I’m proudly saying that I’m the Super Geek. Cuma satu yang bikin saya terlihat seperti anak perempuan, yaitu saya masih pakai rok. Saat itu yang ada dalam pikiran saya adalah: belajar, belajar, dan belajar. Cowok ? Wih, boro-boro, itu adalah mahluk yang bisa merusak konsentrasi belajar (Lagian siapa coba yang mau sama robocop betina kayak saya?).

Jadi, ketika 10 hari sebelum hari ulang tahun saya ke 17 mama menanyakan apakah ultah saya mau dirayakan, yang ada saya malah bengong. Ultah ke 17 itu kan ibaratnya untuk cewek-cewek yang girly gitu, pakai gaun-gaun. Tetapi saat itu saya berpikir, usia 17, seharusnya menjadi titik balik saya menuju kedewasaan. Mungkin ada bagusnya juga untuk dirayakan. Tetapi bagaimana cara merayakannya ? Tinggal 10 hari lagi gitu loh! Mau di mana ? Pake baju apa ? Terus mau dikasih makan apa itu tamu-tamu ? Lalu acaranya apaan ? Ampun, mikirin begituan aja saya stress. Belum lagi biayanya. Mama dan Papa saat itu hanya bilang,”Karena Papa Mama cuma punya 1 anak perempuan, Papa Mama berniat bikinin pesta buat kamu. Kalau punya lebih dari satu, mungkin kita nggak akan rayakan secara besar karena nanti ngga cukup uangnya.” Saat itu saya merasa, Papa Mama saya memang keren banget, anaknya yang tomboy ini dihadiahkan suatu hal yang didamba-dambakan anak perempuan seusia saya yaitu merayakan kedewasaannya bersama teman-teman tercinta.

Sekarang apa-apa sajakah yang harus disiapkan selama menjadi EO untuk diri sendiri ?

1. Tempat dan Makanan. Karena ulang tahun saya jatuh pada hari Senin dan besoknya adalah hari libur (17 Agustusan gitu loh), kita mendapatkan tempat yang cukup strategis lokasinya, yaitu ballroom hotel berinisial CP di bilangan Semanggi. Gara-gara lokasi itu pula tapinya, kita harus membayar extra uang keamanan ke Komdak yang lokasinya tepat di seberang hotel. Maklum saat itu peristiwa traumatik Tragedi May 1998 masih membekas, jadi yang namanya salam tempel anti huru hara itu penting juga. Nah, karena diadakannya di hotel, satu lagi beban yang harus dipikirkan berkurang yaitu konsumsi, karena pemesanan tempat termasuk pemesanan makanan. Yang menarik adalah, sebelumnya saya pernah ngomong sambil berandai-andai ke Mama pas datang ke situ di acara kawinan, kalau seru juga ngadain ulang tahun di situ. Tapi terus terang, kaget juga, saat hal yang diandai-andaikan itu menjadi kenyataan. Saya sangat tidak menyangka Papa Mama mau mensponsori anaknya di tempat ini karena pas jaman itu, sweet seventeen teman-teman saya umumnya dirayakan di kafe.

2. Undangan dan Kartu Undangan. Saat itu sebetulnya saya sudah tau, siapa siapa saja yang mau diundang. Yang pasti, teman-teman SMU saya, beberapa teman saya dari SD, dan SMP, dan juga keluarga besar. Tetapi namanya acara, harus ada undangan resminya. Saat itu undangan lewat email kan ngga ngetrend. Waktu itu kebetulan ada undangan perkawinan yang sangat menarik yang saya simpan di rumah, lalu ada nama card-makernya, yaitu Happy Cards di daerah Jakarta Barat sana yang memang specialist undangan perkawinan. Jadilah saya, Papa, dan Mama pergi ke sana, dan meminta undangan dibuat secara express! 3 hari harus selesai, plus ucapan terima kasihnya juga. Undangan itu warnanya offwhite dengan bunga bunga kecil berwarna keunguan. Yang lucu, pas saya membagikan undangan ini di sekolah, teman-teman menyangka ada temannya yang mau nikah. Walaaahhhhh..... Ditambah lagi, kata adik saya (yang kebetulan bersekolah di sekolah khusus laki-laki di daerah Menteng sana), katanya undangan saya sudah nempel di papan pengumuman sekolah itu, berarti saya harus siap-siap kalau ada tamu tak diundang (yang ternyata berjumlah lebih dari 30 orang).

3. Pakaian dan Penampilan. Dengan body saya yang saat itu lumayan montok dan berlemak seperti drum mintak tanah, sangat berat untuk mencari-cari baju pesta. Setelah sempat mampir di beberapa tempat dan mencoba baju sewaan (yang umumnya nggak muat), akhirnya sampailah kita di pelabuhan terakhir yang bersedia untuk membuatkan baju yaitu Chenny Han Bridal. Sekarang Chenny Han ngetop banget ya. Dulu saya datangnya ke rumahnya yang di Kramat Sentiong (kalau nggak salah sekarang sudah pindah ke daerah Kebon Kacang deket PI sana). Saat itu Tante Chenny yang emang baik banget dan ramah banget itu, bersedia mendesign baju untuk saya lalu meminta crewnya untuk menjahitkan dalam waktu 1 minggu saja. Bajunya kayak princess, warnanya ungu, ada bownya gede banget di belakang (gara-gara undangan ungu, semuanya jadi ngikut deh sok diungu-unguin, termasuk gaunnya Mama, lalu dasinya Papa dan Adik). Pas hari H, saya jadi putri deh. Pas hari H, rambut saya yang bondol ini oleh hairdressernya digulung-gulung, dibikin seakan-akan saya ini pake sanggul, lalu wajah saya full makeup gitu. Dan demi menjaga penampilan (asli deh...demi banget), hari itu saya nggak pakai kacamata! Jadilah perayaan 17 tahun saya, semuanya agak-agak burem. Yang penting sayanya cantik dong. Tapi yang kejadian sih, temen-temen saya pada ngakak-ngakak semua nggak karuan lantaran walaupun pakai gaun dan full makeup, saya tetep jalannya kayak King Kong.

4. Kue Ulang Tahun. Namanya ulang tahun, belum klop kalau ngga ada kuenya. Saat itu kita kepikiran satu aja, toko kuenya ini harus bisa bikin kue yang bagus, rasanya enak, dan sudah berpengalaman. Jadi pilihan jatuh kepada Libra Cake yang kebetulan punya design kue yang cute banget. Saya masih inget, pulang sekolah langsung ke Kelapa Gading untuk pesan kuenya. Kuenya tuh kira kira tingginya 1 meter lebih, dengan standnya angka 17. Cake-cake yang di tier-tiernya itu bentuk hati-hati gitu, cewek banget lah pokoknya. Udah gitu yang serunya, kita bisa minta hiasan cream dan bunga-bunganya bernuansa ungu juga. Kalau orang nikah pesen kue itu berbulan-bulan di muka, kalau kita sih, 5 hari aja bo! Bener-bener express order, tapi yang penting hasilnya ok banget. Kuenya nggak dari gabus atau plastik kayak kawinan jaman sekarang, jadi pas selesai acara, kuenya bisa dibagi-bagi untuk keluarga.

5. Acara. Karena di tahun saya merayakan sweet seventeen, bangsa ini baru saja mengalami recovery dari keterpurukan di tahun 1998, saya jadi tidak terlalu mempunyai banyak referensi untuk acuan acara. Yang ada dalam pikiran saya itu saat itu adalah yang penting semua orang bisa kumpul dan menikmati acaranya. Karena saya lebih menyukai acara yang interaktif daripada hanya sekedar goyang-goyang di lantai dansa dengan memanggil seorang DJ, saya berkeinginan untuk menggunakan live band. Waktu mencari live band ini, Papa dan Mama berkeliling ke kafe-kafe. Papa Mama sampai jadi seperti wisata kuliner gara-gara setiap kali ke suatu tempat, mereka sambil pesan makanan dan mendengarkan musik. Sampai akhirnya bertemulah mereka dengan seorang manager yang membawahi beberapa band dia menyarankan kami untuk memanggil Excite Band yaitu band utama yang tampil setiap hari Sabtu di Fashion Cafe. Gara-gara memanggil band ini, kita jadi harus menambah sound system lagi karena mereka full band yang anggotanya 9 orang. Tapi keuntungan yang didapat adalah, mereka bersedia juga menjadi MC gadungan, jadi nggak perlu manggil MC lagi hehehe... (ngga rugi kan ??...). Di hotel juga kita minta disediakan dance floor, jadi semua orang bisa joget-joget dengan nyaman, tanpa merusak karpet di ballroom.

6. Dokumentasi. Beruntunglah punya seorang Papa yang punya banyak teman. Salah satu teman papa yang namanya Oom Wadi adalah pemilik studio foto dan video. Kalau nggak salah namanya Star Video deh (bukan Star Vision yang punyanya si Chand Parwez hehehe). Begitu di telepon, langsung si Oom Wadi mengiyakan untuk mengirim krunya untuk foto-foto dan video shooting. Dikasih discount pula loh! Di hari H, krunya Oom Wadi ternyata sudah nunggu saya dari jam 5 sore karena dipikir biasa kan kalo pengantin gitu datangnya pagian, buat foto-foto dulu di taman atau di tepi kolam renang. Tapi yang ada, saya datang jam 7 lewat hihihi...tamunya aja udah duluan nyampe. Maklum, pulang sekolah langsung mandi, lalu lari-lari ke salon, pulang, ganti baju, jalanan macet, dst dst dst, ditamah lagi, si cuek ini bukan penganten sih... jadinya ngga kepikiran buat foto session. Di era di mana kamera digital belumlah marak seperti sekarang, kalau foto itu kudu hati hati dan nggak bisa main jepret aja. Gara-gara saya datang terlambat itu, foto session saya jadi ditontonin temen-temen, sambil diketawain juga...hikss..

Wah, baru ngomongin persiapan dan beberapa hal lucu di hari H saja udah panjang banget. Apalagi kalo ngomongin seluruh acara pas di hari H-nya, bisa-bisa nggak selesai-selesai. Acaranya sendiri berjalan sangat lancar, seru, dan asyik. Yang datang kira-kira ada 200-an orang, walaupun ada insiden kecil, gara-garanya gerombolan anak-anak yang tak diundang dari sekolah khusus laki-laki itu datang pakai baju terbelel dan menggunakan sendal jepit, jadi saya sempat dipanggil oleh security untuk memastikan kalau mereka tidak menimbulkan bahaya, lalu baru dipersilakan masuk hehehe (saking wajahnya pada kayak garong semua sihhhh...). Makanannya juga lebih dari cukup, jadi ngga ada yang pulang kelaparan. Bandnya seru dan interaktif banget, jadi kita nggak berhenti joget-joget dengan gembira, apalagi lagunya variatif banget, mulai dari Have Fun Go Mad, Every Morning, Bagaikan Langit, sampai ke Kopi Dangdut. Oom-oom dan Tante-tante aja, walaupun duduk, tapi tetep kepalanya ikut manggut-manggut ikut irama. Chef-chef yang di dapur plus manager hotelnya juga pada keluar dan dengerin musik, karena kata mereka, baru pertama kali acara sweet seventeen dirayain di ballroom hotel itu.Acaranya baru selesai pukul 11.30 Malam, semua senang, semua bahagiaaaaa....

Tapi besoknya, 17 Agustus... harus upacara bendera... Datang ke sekolah pagi-pagi, badan lemes, mata ngantuk, kepanasan di bawah terik matahari, mana harus niup Euphonium pula untuk lagu Indonesia Raya. Temen-temen yang semalamnya datang ke party juga lemes banget. Pulang dari sekolah, langsung deh tujuan utama adalah pulau kapuk.

Satu hal yang tidak pernah bisa saya lupa dari acara ini adalah, how cool my parents are. Mereka mau muter-muter ikut keliling untuk mempersiapkan acara, masuk keluar toko baju, buat undangan, pergi ke toko kue, survey band di kafe-kafe, demi membahagiakan anaknya tercinta ini. Saya tidak mungkin bisa merealisasikan semuanya tanpa bantuan mereka, dan yang paling istimewa adalah mereka melakukan semuanya ini dengan tulus. Dalam waktu 10 hari saja, sebuah pertanyaan kecil yang dilontarkan Mama saya, tentang apakah saya akan merayakan ulang tahun ke 17, telah menjadi sebuah realisasi yang indah, asik, seru, dan tak terlupakan. Thank you so much Papa Mama, I don’t know what to do without you!

Monday, October 08, 2007

Kenangan Masa Lalu Bersama Oma

Hari Minggu, alias kemarin, tiba-tiba terbersit rasa rindu untuk datang berkunjung ke rumah Oma. Mama juga mencetuskan, mungkin Oma kangen sudah lumayan lama tidak dikunjungi cucunya. Jadilah, kita sekeluarga, Mama, saya, dan adik saya pergi mengunjungi Oma di daerah Jelambar sana. Oma Maria adalah Mama dari pihak Papa. Dari 4 Opa Oma yang saya punya, tinggal Oma Maria yang masih hidup. Usianya tidak terlalu tua, baru 73 tahun. Maklum, Papa adalah anak pertama dari 7 bersaudara. Tetapi, karena ada beberapa penyakit yang dideritanya, kondisinya lumayan menurun walaupun mungkin bisa dibilang masih cukup sehat untuk orang seusianya.

Oma sekarang sudah tidak segesit dulu lagi. Saat kita mengajak dia jalan-jalan dan makan siang di Plasa Senayan, jalannya sudah sangat lambat. Kalau tidak dipegangi oleh cucu atau oleh Mama saya, rasanya agak sulit buat Oma untuk berjalan-jalan ke Mall sendirian. Oma yang dulu selalu gaya, sekarang rambutnya tipis dan hanya diikat satu ke belakang. Untuk menaiki beberapa anak tangga di dekat parkiran, dilakukannya dengan sangat pelan, sambil bertumpu pada pegangan tangga. Setelah makan siang, kita mengajaknya berbelanja di Carrefour Ratu Plaza. Untuk membantunya berjalan selama di supermarket, Oma berpegangan pada kereta belanjaan. Biasanya Oma paling happy kalau diajak ke supermarket, karena dia bisa ambil apa saja yang dia mau. Tapi kali ini, dia hanya tertarik pada buah-buahan saja. Pas ditawari beli barang-barang lain, beliau selalu menolak, tetapi kita tetap menyelipkan beberapa barang yang sekiranya dibutuhkan.

Dalam perjalanan kembali menuju rumahnya, Oma bilang di mobil:”Makasih ya Mantu, Cucu-Cucu udah ajak jalan-jalan. Nanti takutnya kalau keburu sampe rumah Oma lupa.” Hati saya langsung nyesss banget. Sesuatu yang kecil seperti itu, bisa bikin dia senang minta ampun. Rupanya betul yang orang-orang bilang, di masa tua itu yang paling dibutuhkan orang-orang tua, adalah perhatian dari anak cucu. Saat itu, saya kepikiran, untuk menulis mengenai hal-hal indah yang pernah saya lewati bersama Oma, di masa kecil dulu. Saya tidak pernah tinggal serumah dalam jangka panjang bersama beliau, tetapi banyak sekali hal-hal indah terselip di sana-sini, yang bila dirangkai, bisa menjadi suatu cerita yang manis.

Main ke rumah oma pada saat kecil merupakan sesuatu yang sangat seru. Karena Tante saya yang paling kecil adalah seorang penyanyi, jadi Oma sering membuatkan baju-baju show untuk Tante. Dan yang namanya baju-baju show di tahun 80-an, sudah bisa ketebak, apakah bahan yang paling banyak digunakan. Yes, manik-manik. Wih...mau manik-manik dan benang warna apapun, pasti oma punya. Komplit deh. Kalau dulu dari rumahnya, saya suka bawa pulang manik-manik, suka saya pakai untuk bikin gelang, kalung, atau untuk bikin prakarya di sekolah. Soal menjahit, Oma tidak perlu dipertanyakan lagi kemampuannya. Rok pertama saya diwaktu SD, Oma-lah yang menjahitkan. Anak-anak lain memakai rok dengan banyak rempel, rok buatan oma tidak terlalu banyak rempelnya, tetapi paling rapih jahitannya. Barang favorit saya yang dijahitkan oleh Oma adalah sarung bantal dan seprai bergambar Garfield. Saya pakai sarung bantal itu dari saya SD sampai saya SMU, sampai akhirnya betul-betul tipis dan bolong sehingga terpaksa harus dipensiunkan. Kalau lagi giliran cuci seprai, saya dan adik saya paling nggak sabar supaya seprai Garfield cepat-cepat kering, sehingga kita bisa pakai lagi.

Salah satu hal yang paling saya nanti kalau liburan panjang di masa SD dulu adalah bisa menginap di rumah Oma. Paling tidak, saya bisa menghabiskan seminggu di rumahnya, dan setiap hari umumnya selalu ada jadual-jadual seru. Biasanya, saya di drop oleh Papa Mama di hari Minggu, lalu dijemput lagi Minggu depannya. Sehabis sarapan, kita suka pergi ke daerah Petak Sembilan. Kalau ke sana, kita bukannya naik taksi, tetapi naik omprengan, atau kadang naik bemo. Pokoknya seru lah jadi petualang sejati. Biasanya kita suka makan Nasi Tim atau Mie, lalu nemenin Oma beli obat-obatan Chinese. Kalau ke toko obat gitu, kadang suka serem liat serangga-serangga yang dikeringin....ihhh...tapi namanya anak-anak, tetep aja penasaran suka pegang-pegang deh.

Kadang juga suka pergi ke Glodok, belanja di Gloria, makan Pempek di bawah, terus mengisi waktu siangnya suka dihabiskan ke bioskop Chandra, nonton film-film silat atau komedi yang dibintangi sama Jacky Chan, JetLee, atau Stephen Chow. Pulang-pulang suka dibekali Oma sama baju-baju setelan piyama, gambarnya sama semua, tapi warnanya beda-beda. Saya betah banget pakai baju itu, sampai akhirnya udah ngga muat lagi. Kalau belanja sama Oma, Oma itu gerakannya paling sigap. Bayangin aja, dia bisa lari-larian dan lompat-lompat mengejar kendaraan umum.

Karena Oma bukanlah tukang masak yang ahli, kalau liburan di rumah oma, justru sayalah yang suka masak di rumahnya. Saya ingat pernah membuat martabak telur, cah-cah sayur, dan yang paling saya ingat adalah membuat bakso Lohwa alias bakso cemplung yang dibuat dari daging giling, campur jamur, soun, wortel, dll. Saya suka ikut Oma ke pasar inpres dan membeli seluruh bahan-bahannya. Pulangnya kita naik becak sampai di depan rumah oma. Pas membuat bakso Lohwa itu, saya baru sadar kalau di rumah Oma tidak ada meat processor. Jadilah saya seperti tukang masak di masa lampau, dengan modal 2 golok, menyincang daging sampai halus, dan syukurlah berhasil. Pas jam makan siang, Oma yang jadi tester, untuk menentukan, apakah makanan saya layak makan atau tidak, dan untungnya, masih layak makan, malah dibagi-bagi ke saudara-saudara sepupu yang kebetulan suka mampir ke rumah Oma. Tetapi ada satu resep diwariskan Oma dan cukup sukses dipraktekan di berbagai tempat termasuk saat saya bersekolah di negeri antah berantah sana yaitu: Biji Salak.

Pas saya kecil, Oma juga suka menginap di rumah saya. Kalau Oma menginap di rumah, rumah pasti jadi tambah ramai saja. Pagi-pagi, Oma pasti sudah nongkrong di depan rumah, lalu melakukan ritual senamnya. Lalu siang sedikit, Oma suka pergi ke pasar barengan sama Mama, lalu membeli kue-kue kampung. Oma orangnya memang nggak bisa diam. Jadi kalau ada tembok yang kotor, atau gompal, atau pagar rumah yang catnya mengelupas, pasti dia langsung bergerak. Bisa-bisanya, siang-siang bolong dia minta ijin keluar rumah, dan ternyata pergi ke toko bangunan. Pulang dia membawa kape, cat, semen, dll. Jadilah, Omaku = tukang reparasi bangunan. Pernah dulu pas saya SMU, kami sekeluarga main ke rumahnya, dan apa yang sedang Oma lakukan? Beliau lagi berdiri di atas tangga (tangga yang untuk tukang), sambil memegang kuas, dan mengecat eternit! Ya saudara-saudara, beliau lagi mengecat langit-langit rumah di usianya yang saat itu mungkin sekitar 65 tahun!

Ada beberapa kesamaan antara saya dan Oma. Kesamaan yang paling mencolok dari kita adalah, kita sama-sama shio anjing (yang berakibat pada kebawelan yang selevel), suka menyanyi, dan bisa bersiul dengan merdu. Dulu saya suka dimarahi oleh Papa dan Mama kalau bersiul keras-keras dengan melodi lagu karena dianggap tidak terlalu sopan terutama untuk anak perempuan. Tetapi kemampuan itu sekarang saya anggap sebagai hadiah special dari Oma, walaupun memang sekarang saya tidak terlalu sering bersiul. Begitu banyak yang saya kagumi dari beliau, terutama dalam keteguhannya berdoa dan memasrahkan diri kepada Tuhan. Banyak sekali berbagai tantangan yang Oma hadapi dalam hidupnya, tetapi semuanya beliau lalui dalam kekuatan doa dan support dari keluarga. Kemudian ada lagi yang saya kagumi yaitu suaranya yang super merdu. Banyak orang yang bilang suara Oma mirip sekali dengan Teresa Teng alias betul-betul tinggi dan halus. Sayangnya sang cucu nggak nurunin soal kualitas suaranya ini.

Banyak sekali memory indah yang saya miliki bersamanya, yang saya tidak bisa tuliskan di dalam satu entry blog, tetapi akan selalu saya ingat di dalam hati. Kemarin saat akan pulang dari rumahnya, Oma memeluk saya erat-erat, mencium pipi kanan dan kiri saya. Pelukan itu makin terasa hangat, karena saya merasakan cinta yang luar biasa. Tulisan ini saya dedikasikan untuk Oma tersayang, ”I love You, Oma!”

Wednesday, October 03, 2007

Surprise untuk Oom Tercinta

Beberapa waktu lalu, saya menulis mengenai acara arisan keluarga di rumah yang dilaksanakan akhir bulan Agustus lalu. Mungkin masih pada ingat, kalau saat itu, acara arisan juga digabung dengan acara tiup-tiup lilin plus potong kue bersama untuk merayakan ulang tahun saya ke 25. Saat itu, Oom saya nyeletuk,”Duh, kok saya nggak pernah ya dirayain ulang tahunnya.” Rupanya, ucapan dari Oom saya itu tertangkap oleh Mama. Kebetulan Oom dan Mama Ulang Tahunnya hanya berbeda 1 hari. Mama di tanggal 28 September dan Oom di tanggal 29 September.

Berhubung Mama adalah batere Energizer di keluarga, Mama langsung terpacu untuk mempersiapkan acara surprise birthday party untuk si Oom tercinta. Berhubung Oom kita ini tinggal di Purwakarta, jadi tidak mungkin kita menunggu beliau untuk hadir ke Jakarta dan kita berteriak ”Surprise!!” seperti penyambutan pesta kejutan biasanya. Jadilah semua persiapan dilakukan di Jakarta, dan kira-kira kalau di ringkas, inilah urut-urutan kita mempersiapkan acara:

1. Hal yang pertama dilakukan adalah menentukan waktu kunjungan ke Purwakarta. Karena Oom biasa praktek dari Senin sampai Sabtu, jadilah hari Minggu, 30 September 2007 kita pilih sebagai hari H, dan waktu makan siang dipilih sebagai momen yang tepat.

2. Supaya hari itu Oom tidak pergi kemana-mana, jadilah kita kongkalikong alias kerjasama dengan istrinya alias si Tante supaya menjaga keberadaan si Oom agar siap di tempat pada jam yang ditentukan, dan sama sekali tidak membocorkan mengenai acara yang kita rencanakan.

3. Menghubungi saudara-saudara yang lain, supaya mereka menyediakan waktu luang untuk bersama-sama berangkat ke Purwakarta dan kompak untuk tiba pada waktu yang bersamaan. Merupakan suatu keberuntungan juga karena ternyata semua saudara Mama menyanggupi hal ini bahkan beberapa ada yang excited sendiri karena inilah kali pertama keluarga besar kompak mengadakan kejutan.

4. Mempersiapkan makan siang untuk dibawa ke Purwakarta. Dalam hal ini, si Mama sebagai seksi konsumsi sekaligus perlengkapan dengan energynya yang memang berlebih itu sudah mempersiapkan makan siang berupa Nasi Uduk (lengkap dengan Telur Dadar dan Bawang Goreng), Ayam Goreng Kuning, Sambel Goreng Ati, Perkedel Kentang, Lumpia Vietnam, Bakmi Goreng, Kering Teri Tempe Kacang, Lalaban dan Sambal Ulek yang beliau persiapkan SENDIRIAN dibantu dikit-dikit oleh si Mbak (Mama emang hebat pisaaannnn). Sekali lagi, saya kebagian bantu bikin Es Campur yang isinya kelapa muda, blewah, dan selasih. Selain itu kita juga masih membawa buah-buahan (Semangka, Melon, Pepaya, Nenas), dan juga 6 Loyang Brownies Coklat dan Keju (Yang ini hadiah yang dikirim oleh temen baik Mama untuk ultah Mama, dikasih 10 loyang, Bo!). Belum lagi, supaya surprisenya ini menjadi sempurna, Tante saya yang di Purwakarta betul-betul tidak menyiapkan apapun termasuk perlengkapan makan. Jadilah kita dari Jakarta membawa serta gelas, piring, dan sendok garpu sekali pakai.

5. Mempersiapkan kue ulang tahun. Kalau ini tugas saya nih. Karena yang ulang tahun ada dua orang, ukuran dan bentuk kue juga harus diperhatikan. Dan terima kasih kepada Dapur Cokelat, karena dengan kreatifitas para cakemakernya, saya bisa melakukan pemesanan photo cake, dan kebetulan sekali, di rumah ada foto ulang tahun Mama ke 17 (di tahun 1973) dan kebetulan di dalam foto itu ada Mama dan Oom yang sedang potong kue sama-sama karena kebetulan perayaan ultah Mama saat itu dirayakan 1 hari setelahnya alias bertepatan dengan ultah Oom saya ke 31. Jadilah, di atas Triple Decker Cake nanti ada foto mereka berdua tercetak di atas lempengan white chocolate (yang dengan bantuan teknologi, bisa di scan, dibersihkan, dan dikirim lewat email ke Dapur Cokelat). Karena lokasi Dapur Coklat tidak ada yang dekat rumah, pengambilan kue menjadi tugas Tante yang tinggal di Kelapa Gading.

Begitu hari H tiba, kira-kira pukul 10.30 pagi, dengan mobil yang sudah penuh orang dan perlengkapan, kita semua berangkat dari Jakarta. Pukul 12.20-an, kita sudah sampai di rumah Oom, tetapi kita tidak langsung masuk, melainkan menunggu keluarga lain, supaya ”penyerangan” bisa dilakukan bersama-sama. Begitu anggota team sudah komplit, kita sama-sama menyerbu dengan teriak:”Halo-halo...Assalamualaikum... Ada pasieeennnn!!”

Tidak berapa lama kemudian, si Oom yang memang hari Minggu tidak praktek, keluar ke ruang tamu memakai kemeja dan celana pendek. Dengan wajah tersenyum dan terharu beliau langsung menyambut kita semua, yang dengan gembira menghujaninya dengan ucapan selamat dan ciuman mesra. Kemudian dia menunjuk ke istrinya yang lagi ketawa cekikikan sambil geleng-geleng kepala karena ternyata bisa-bisanya bohongin dia di hari ulang tahunnya.

Acara dilanjutkan dengan makan siang yang nyam-nyam banget, sambil ngobrol-ngobrol ngalor ngidul, mulai dari soal pekerjaan, soal cucu-cucu (alias keponakan-keponakan saya) yang mulai bisa ngoceh dan jalan. Tante saya (istri dari Oom dokter) cerita, pas tanggal 29-nya, si Oom bilang,”Duh, sepi banget ya ulang tahun kok gini-gini aja”. Lalu Tante jawab,”Tenang aja, nanti juga rame kok.” Tapi si Oom ngga nyadar kalau bakal disurprisein. Lalu tanggal 30 pagi, si Tante udah sempet kasih hint-hint, ”Mau makan enak nggak ? Nanti siang kita makan enak yah.” Tetep aja si Oom masih ngga nyadar. Makanya begitu pas kita semua udah ngumpul, si Oom mencoba menghubungkan clue-clue tersebut dan akhirnya sadar kalau hint-hintnya sebetulnya sudah ada, tetapi dia betul-betul tidak menyangka.

Pas acara potong kue, bukan hanya Oom saja yang surprise, tetapi Mama juga ikutan surprise. Maklum, photonya itu betul-betul dicetak di atas lempengan coklat dan hasilnya bagus banget (promosi gratis untuk Dapur Cokelat nih...). Oom saya sampai penasaran, lantas digesek-gesek photonya pakai jari, sambil berkomentar, ”Tuh liat, ganteng nggak gue pas masih muda?” Lilin ulang tahunnya ada 2 set, umur 65 untuk Oom dan umur 51 untuk Mama. Pas potong kue, diulangi lagi posisi seperti 34 tahun lalu, mereka potong kue bersama-sama, hanya saja kali ini, dua-duanya sudah mulai keriput dan badannya sudah tidak selangsing dulu lagi, namun rasa persaudaraan tidak pernah lekang, walaupun dibatasi oleh jarak dan waktu. (Oom, you’re still handsome, and Mom, you’re still pretty as always!)

Sekitar pukul 4 sore, kita semua siap-siap untuk pulang. Seperti biasa, semua orang mendapatkan “Jatah Preman”(istilah di kantor saya untuk makanan sisa acara). Setiap orang pasti bawa kantongan yang isinya sayur, satu loyang brownies, dan kue ulang tahun. Semua pulang dengan senyuman, dengan hati senang karena kejutan yang direncanakan berhasil dengan manis. Pukul 4.30 sore, Selamat Tinggal, Purwakarta!

Momen-momen selama kumpul kita abadikan, dengan foto, dan juga dengan video, untuk dijadikan kenangan, dan memberikan harapan, supaya seluruh anak cucu di masa yang akan datang, bisa tetap akrab seperti saat ini, AMIN!