Sunday, December 31, 2006

Lebih dari 24 Jam Dikelilingi Oleh Tangisan Bayi

Penerbangan saya dari San Francisco kali ini betul-betul unik. Apa saja uniknya ? Nih kita lihat satu2.

Seharusnya rute perjalanan kita adalah: San Francisco – Hong Kong – Singapore – Jakarta. Sepuluh menit sebelum pesawat boarding dari San Francisco, sang pilot membuat keputusan eksekutif kalau rutenya diubah menjadi: San Francisco – Taipei – Hong Kong – Singapore – Jakarta. Penyebabya adalah ada angin kencang yang membuat kapal bergoyang (turbulence) dengan kecepatan lebih dari 100 mph alias 160 kmh yang arahnya berlawanan dengan arah penerbangan kita. Hal tersebut mengakibatkan pesawat menggunakan lebih banyak bahan bakar dari biasanya. Jika penerbangan dipaksakan langsung dari San Francisco ke Hongkong, kemungkinan kita kehabisan bahan bakar di tengah jalan, dan pesawatnya bisa jatuh mendadak… syerem banget !! Terpaksalah pengisian bahan bakar harus dilakukan di Taipei. Padahal jarak Taipei ke Hong Kong itu kurang dari 1.5 jam penerbangan. Rupanya karena angin kencang itu, tangki avtur tidak mampu menambah 1.5 jam extra. Akibat lanjutannya adalah, penerbangan sisanya jadi terlambat semua. Untunglah pada saat sebelum boarding di San Francisco, saya sempat hubungi mama di rumah untuk cek ke kantor Singapore Airlines di Jakarta untuk memastikan waktu kepulangan saya, karena cellphone saya kan nggak bisa dipakai di Taipei, Hong Kong, maupun Singapore.

Saat saya mengantri untuk check in bagasi di SFO, saya cuma bisa bengong karena saya tidak berasa sedang di kota San Francisco, tapi di New Delhi atau Mumbai. 90 persen penumpang dari SFO adalah orang India. Saya sudah membayangkan, kalau pesawatnya bakalan bau bawang hiks hiks hiks… Syukurlah ternyata banyak di antara mereka adalah orang India modern yang bekerja di Silicon Valley jadi software engineers, jadi bau karinya sudah berkurang banyak. Tapi tetep saja, perhiasannya masih kayak orang lebaranan. Emas dimana2, sampe silau Bo!

Di dalam pesawat, penerbangan panjang tersebut jadi terasa makin panjang saja. Satu-satunya yang membuat saya lega adalah saya dapat tempat duduk di aisle dan paling depan, jadinya kaki saya bisa dilonjorkan. Tapi tidak enaknya, saya dikelilingi oleh bayi-bayi. Sebelah kanan saya ada satu keluarga orang Hong Kong dengan bayi laki-laki. Lalu di sebelah kiri saya ada satu keluarga India dengan bayi perempuan. Di sebelah kanan sananya lagi, ada satu keluarga India dengan bayi perempuan, dan dua baris di belakang saya ada keluarga orang Hong Kong dengan bayi laki-laki. Sepanjang perjalanan, saya seperti berada di tengah tempat penitipan bayi. Kalau satu nangis, yang lain seperti koor ikut nangis juga. Kalau nggak, habis yang satu nangis, yang satunya lagi melanjutkan seperti lagu kanon. TIDAKKKK !! Saya ini pencinta anak-anak. Tapi kalau sahut menyahut seperti itu bisa bikin saya jadi gilaaaa !! Selain itu, setiap kali ada turbulence, kan bayi harus dipegang oleh ayah atau ibunya dan dipindahkan dari basinet. Dan saat saya mulai tertidur sedikit, pramugarinya bangunin saya untuk pindahkan anak bayinya dari basinet. Padahal kan itu bukan bayi saya gitu loh ! Sampe beberapa kali pula. Pramugarinya apa nggak belajar ya ? Saya merasa diselamatkan dengan In-Demand Entertainment SQ yang menyediakan ratusan Film dan CD lagu terbaru yang bisa saya pilih, lalu saya naikan volume headphone saya sekencangnya.

Sampai di bandara Changi, saya request kartu telepon untuk menelepon mama di Jakarta supaya saya bisa memastikan kalau mama sudah tau perubahan jadual penerbangannya. Bukan hanya saya dapat kartu telepon, saya juga diantar ke Gatenya naik mobil yang biasa dipakai oleh lansia. Asyik deh, saya jadi nggak perlu kerek-kerek carry on. Saya juga merasa ini bandara bukan di Singapura, tapi di Jakarta. Cuma bedanya di sini bersih kinclong, nggak seperti di Sukarno Hatta yang mirip terminal Pulo Gadung. Isinya, orang Indo semua !! Sampai saya berasa sudah sampai kampung halaman sebelum saya menginjakan kaki di Jakarta. Sambil menunggu boarding, saya tulis entry ini di Microsoft Word. Nanti saya posting kalau sudah sampai di Jakarta. Entry ends at December 29, 2006, 3:06 PM Singapore Time.

Wednesday, December 27, 2006

Warning !!!

Kalau anda jalan jalan ke Disneyland selama dua hari nonstop, jangan lupa bawa sendal jepit selain sepatu anda, walaupun sekarang lagi musim dingin. Bahkan sepatu kets tidak mampu menyelamatkan anda...

Jika anda tidak membawa sendal jepit seperti saya, anda hanya bisa berpasrah untuk membeli sendal swallow di sana seharga $15 yang bersablon Mickey, Minnie, atau Tinkerbell, yang sablonannya mulai hilang2 setelah dipakai kurang dari sehari. (Padahal sendal yang mirip seperti itu biasanya cuma $1 di Target).

Jadi: Waspadalah !! Waspadalah !!

Selamat hari Natal bagi seluruh umat yang merayakannya (dan juga bagi yang ikut kecipratan hadiah Natal). Semoga damai kasih Kristus selalu meraja di hati kita, dan semoga kita semua bisa membawa terang di dunia ini.

Monday, December 18, 2006

Perjalanan ke San Francisco

Saya sudah pesan tiket jauh-jauh hari lewat agen perjalanan saya untuk tujuan San Francisco. Saat itu saya menetapkan untuk pergi ke sana tanggal 20 December. Tapi tante saya ternyata punya ide untuk pergi ke Disneyland di Anaheim sebagai hadiah ulang tahun ke-5 anaknya tanggal 21 December. Jadilah saya berniat untuk memajukan tanggal keberangkatan saya menjadi weekend ini supaya tidak terlalu melelahkan dan mepet.

Setelah Tante saya memastikan booking hotel di Disneyland, saya menelepon agen perjalanan saya untuk mengganti tanggal. Dia bilang, kalau mau confirm seatnya, harus membayar $100. Saya bilang kalau saya sedang berusaha save uang. Lalu agen itu bilang, datang saja pas hari yang saya inginkan, lalu tunggu karena ada 9 flight dari Chicago ke San Francisco. Kalau dapat, nggak usah bayar, stand by saja.

Jadilah kemarin, Sabtu tanggal 16 December, saya diantarkan oleh teman saya dari Milwaukee ke Chicago (1.5 jam perjalanan). Teman saya ini padahal repot sekali karena dia harus ke Minnesota esoknya, tapi dia masih kekeuh mau nganter saya. Saya berharap bisa naik pesawat yang pukul 5 sore. Kalau tidak, masih ada 2 penerbangan langsung lainnya ke San Francisco hari itu. Sampai di sana antrian cukup panjang. Saya akhirnya tiba juga di counter, lalu menjelaskan situasi saya. Ternyata, kata si penjaga counter, saya tetap harus bayar $100. Saya lalu kasih tau dia, kalau agen saya bilang, boleh tunggu untuk stand by dan tidak bayar. Tetapi, kata si penjaga counter, karena saya ganti hari, tidak ada pengecualian, tetap harus bayar $100. Setelah berkutat panjang, dan meyakinkan diri kalau saya siap mengeluarkan $100 dari balance kartu kredit saya, akhirnya saya merelakan $100 melayang. Saya menyimpulkan: Agen perjalanan saya itu TULALIT !! Seenaknya aja bilang boleh tunggu. Kalau tau begitu kan dari jauh2 hari saja saya confirm seatnya dan tidak perlu merepotkan teman saya untuk mengantarkan saya hari itu.

Sebelum mengeluarkan boarding pass, si penjaga counter bertanya, tempat duduk sebelah mana yang saya inginkan. Saya bilang kalau saya ingin di aisle. Begitu masuk pesawat, ternyata tempat duduk saya ada di center ! Posisi kelas ekonomi itu 2-3-2, dan saya duduk betul betul di tengah yang row berisi 3 orang. Saya menyimpulkan: Penjaga counternya juga TULALIT !!

Sebelah kanan saya adalah seorang ibu yang lagi berantem dengan anaknya, dan galaknya minta ampun. Saat saya ingin memasukkan carry on, dia tidak memberikan tempat untuk saya dengan alasan dia mau letakkan jaketnya di situ. Sampai seorang bapak yang duduk dibelakangnya kasihan sama saya, dan bantu saya angkat carry on itu sambil berkata kepada ibu itu, kalau masih ada tempat di sebelah jaketnya. Dan begitu kereta minuman lewat, dia langsung keluarkan uang 10 dolar, dan pesan 2 botol vodka kecil. Betul betul edan ibu itu, mana sepertinya dia kena insecurity problem dan bergerak terus selama perjalanan, geser kanan kiri, tukar posisi duduk, etc. Selain itu, masih tetap saja ngoceh memaki-maki anaknya.

Sebelah kiri saya ada seorang laki-laki Asia, sepertinya sih pelajar. Baru saya duduk, saya memindahkan bantal saya ke kursinya karena dia belum datang. Eh nggak lama dia datang, dan ngambil bantal saya. Sudahlah, saya pikir toh saya nggak bakalan tidur lama2 juga, karena perjalanan hanya 4 jam 45 menit saja. Selama perjalanan itu, dia tidur terus nggak bangun-bangun, dan posisi tidurnya itu loh.... miring ke saya terus ! Saya yang duduk di tengah cuma bisa diam, dan mengambil posisi tegak. Untung juga akhirnya saya kecapaian, dan sempat tertidur sebentar. Kalau nggak sih, saya sudah stress berat kali di pesawat.

Akhirnya, tiba juga pesawat saya di bandara SFO. Telat lebih dari setengah jam. Tetapi puji Tuhan, semua berjalan lancar, koper-koperpun tiba dengan selamat. Tau sendiri kan, penerbangan domestik yang namanya United Airlines itu langganan membuat orang stress lantaran koper suka tidak sampai. Saya bertemu dengan Oom, Tante, dan dua anaknya yang sudah tiga tahun tidak saya temui. Bahkan saya belum pernah bertemu sama sekali dengan anaknya yang kecil karena saat itu masih dalam kandungan ibunya. Kita berpelukan seperti Teletubbies, dan setelah itu, lenyaplah kekesalan perjalanan ke kota ini.

Saya liburan dulu yah. Nanti kalau ada cerita2 yang asyik, pasti saya tuliskan di sini.

Tuesday, December 12, 2006

Project Menulis yang Tertunda

Di postingan saya yang kedua sebelum postingan ini, saya menulis kalau ada teman saya yang meminta saya membuat artikel soal "Bagaimana Hidup di Amerika Mengubah Diri Saya". Inilah hasilnya yang di muat di Soekma, Koran Permias Madison. Kalau mau lihat bentuk korannya seperti apa, bisa klik di sini. Ini dia isi artikelnya.

Bagaimana Hidup di Amerika Mengubah Diri Saya

Merangkum hidup saya selama di Amerika menjadi satu karangan, rasanya saya bisa menerbitkan satu novel sendiri. Tapi berhubung saya bukanlah penulis novel, dan saya cukup yakin novel saya tidak bakal laku, saya tulis saja sedikit cerita menarik yang mudah-mudahan bisa diambil hikmahnya. Saat saya beres-beres untuk pindahan, saya membuka album foto kenangan. Di album itu, saya masih menyimpan lembaran tiket kedatangan saya kali pertama ke Amerika. Tanggal 10 Januari 2001, hari itu kedua kaki saya menyentuh tanah Madison. Dingin segera menyeruak, apalagi saat itu saya hanya bermodalkan dua lembar pakaian di badan, dan jaket kulit hadiah dari paman saya. Memori saya mundur enam tahun ke belakang, saat saya, si Leony berambut bondol dengan kacamata besarnya, dengan modal bahasa inggris pas-pasan dan ijazah SMU, mencoba menarik sebanyak mungkin ilmu di kota kecil ini. Saya juga masih menyimpan kartu pelajar saya (yang hebatnya tidak pernah hilang sampai sekarang), di mana foto wajah saya saat itu galak dan kesal sekali karena saya tidak kebagian kelas-kelas yang saya mau. Maklumlah, seperti anak Indonesia pada umumnya, saya sudah membayangkan untuk mengambil kelas matematika, fisika, komputer, dan kelas kelas ilmu pasti lainnya. Tapi karena saya masuk di Semester Spring, hampir semua kelas yang saya mau penuh semua. Saya dan teman saya, Mira, mulai memikirkan alternatif yang bisa diambil untuk memenuhi kredit. Jadilah kita mengambil kelas menyanyi, dan kelas ballroom dancing. Saat itu pikiran kita adalah, yang penting nggak rugi! Kan 12-18 kredit bayarnya sama toh?

Tidak disangka, ternyata kelas menyanyi dan kelas dansa itulah yang menjadi kelas-kelas favorit saya, sehingga saya selalu mencoba menyelipkan kelas berbau seni tersebut di dalam setiap semester yang saya jalani. Ditambah lagi, saya mengambil kelas tari Jawa yang seumur-umur tidak pernah terbersit di dalam otak saya, dan juga saya mengambil kelas menggambar. Baru saat itu saya menyadari, betapa pentingnya kelas-kelas seperti itu untuk menyeimbangkan otak kanan dan otak kiri saya. Percaya atau tidak, saya banyak membaur dengan teman sekelas saya, justru di kelas-kelas tersebut. Kemampuan komunikasi makin terasah, karena kita semua berusaha mengekspresikan diri melalui nyanyian, tarian, dan gambar, bukan hanya dari tulisan dan rumus-rumus. Kesempatan itu, mungkin tidak akan pernah saya dapatkan jika saya berada di Indonesia, di mana ilmu pasti adalah segala-galanya, dan anak anak dipaksa oleh orang tuanya untuk menjadi yang terbaik di bidang tersebut supaya bisa masuk kelas unggulan. Hikmah: Hidup di Amerika, membuat saya lebih bisa berekspresi.

Selama satu setengah tahun tinggal di asrama, hubungan saya dengan dua teman sekamar juga merupakan hal yang sangat menarik. Teman sekamar saya yang pertama, berasal dari keluarga yang rukun. Saat orang tuanya berkunjung, mereka berpelukan hangat, membuat saya jadi ikut rindu dengan keluarga di rumah. Orangnya sangat sederhana, walaupun saya tau kalau dia berasal dari keluarga yang cukup kaya. Berbeda sekali dengan teman sekamar saya di semester selanjutnya. Hobinya belanja dan minum, setiap akhir pekan tidak pernah pulang, sering sekali bergonta-ganti pasangan, dan secara tidak sopan membawa pasangannya itu pulang ke kamar kita, padahal saya besoknya akan ujian. Setiap bicara dengan ayahnya, isinya hanya minta uang. Dan jika tidak diberi, kata-kata kotor segera meluncur dari mulutnya, termasuk kata yang sering disensor. Yang terparah adalah, saat akhir semester, dia ingin saya keluar dan pindah dari kamar kami dengan alasan, temannya ada yang mau masuk. Padahal sayalah orang pertama yang tinggal di kamar itu. Saat itu, saya mulai memupuk keberanian, berusaha untuk putar otak dan melakukan perlawanan. Di Indonesia mungkin saya punya orang tua yang bisa saya jadikan tameng, tapi di sini, saya harus berusaha sendiri. Saya menghubungi housefellow alias ketua di lantai kami, dan saya jelaskan situasinya. Hasilnya? Teman sekamar saya itu dikeluarkan dari asrama. Sisa satu semester selanjutnya, saya jadi penguasa tunggal kamar itu, hehehe. Hikmah: Hidup di Amerika, membuat saya jadi lebih berani dalam mengambil keputusan sendiri.

Saat hidup kita jauh dari keluarga, kehangatan bisa diperoleh dari "keluarga" baru kita di Madison. Bertemu dengan sesama orang Indonesia, membuat kita merasa seperti mempunyai partner dalam berjuang. Kita pasti sering mendengar, bahwa teman-teman sejati adalah teman yang menemani saat suka maupun duka. Kalau saat suka, banyak sekali contohnya. Kalau saat duka ? Saya juga banyak contohnya. Saat saya sedang sakit panas di asrama, ada teman yang membawakan obat dan makanan. Saat ayah saya dipanggil Tuhan, ada teman yang mendoakan dan menghibur saya. Saat menjelang operasi, ada teman yang menunggu saya dari sebelum operasi sampai sadar kembali, dan menemani saya beberapa hari di apartemen. Saat saya sakit cacar air, ada teman yang ke supermarket, membelikan daftar belanjaan saya, dan meletakannya di depan pintu lantaran saya tidak boleh bertemu siapa-siapa. Saat saya putus cinta, ada hotline yang selalu bisa medengar keluh kesah saya. Hikmah: Hidup di Amerika, membuat saya lebih mengerti arti seorang teman.

Berada di salah satu kota dengan populasi Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender (LGBT) per kapita tertinggi di Amerika sempat membuat saya terbelalak. Kok bisa mereka dengan santainya meletakan iklan di mana-mana seandainya mereka ada pertemuan, atau bergandengan mesra di jalanan. Banyak teman-teman sekelas saya yang dengan gamblang mengakui kalau mereka adalah bagian dari kelompok LGBT. Perasaan kurang nyaman pernah juga hinggap di dalam diri saya jikalau saya bertemu dengan mereka, karena di Indonesia orang tidak pernah blak-blakan dalam hal pengakuan. Tapi ternyata, semakin saya mengenal mereka, semakin saya menghormati pilihan mereka. Bahkan beberapa di antara mereka adalah orang-orang dengan sifat terindah yang saya pernah temui. Saya banyak menarik pelajaran dari mereka tentang cara menghadapi hidup, mencoba menjadi kuat di bawah tekanan masyarakat. Hikmah: Hidup di Amerika, membuat saya makin menghargai perbedaan.

Terus terang, saya adalah orang yang sangat malas kalau diajak minum-minum. Padahal minum-minum itu adalah "budaya" orang Wisconsin. Buktinya University of Wisconsin -Madison itu adalah universitas pesta nomor satu dan Milwaukee adalah kota dengan tingkat pemabuk tertinggi se-Amerika. Alasan kemalasan saya adalah karena saya nggak tahan bau rokok, dan saya alergi dengan yang namanya alkohol. Setiap kali ada yang menawari saya minuman, saya selalu menolak dan memilih minum air atau soda. Pernah saat sedang training pekerjaan di Chicago, teman-teman saya tidak ada yang percaya kalau saya sungguh-sungguh alergi. Mereka memaksa saya untuk memesan cocktail ringan yang dicampur dengan jus buah-buahan. Akhirnya saya pesan juga minuman itu demi memenuhi keingintahuan teman-teman, dan akibatnya, baru sepertiga gelas, badan saya gatal-gatal dan bentol-bentol. Teman-teman semua akhirnya percaya, dan sejak saat itu, tidak ada lagi yang menawari saya minuman. Hikmah: Hidup di Amerika, membuat saya sadar, kalau saya SUNGGUH-SUNGGUH deh nggak bisa minum ! Hahahaha... Bercanda deh. Hikmahnya itu, hidup di Amerika membuat saya sadar, kalau saya harus jadi diri sendiri. Tidak boleh ikut-ikut arus.

Saat saya kerja sambilan di kampus, bos saya ada yang bertanya, "Hey Leony, apakah di depan rumah kamu masih suka lewat harimau?" Saya tertawa ngakak. Maklumlah, bagi orang Amerika yang tidak pernah kemana-mana sepanjang hidupnya, Indonesia itu terdengar seperti negara dunia ketiga, di mana semua masih diselimuti hutan, dan tidak ada peradaban. Begitu saya memperlihatkan gambar gedung-gedung pencakar langit di Jakarta, dia baru sadar, kalau masih ada "dunia lain" di luar Amerika. Salah satu cara untuk saya memperkenalkan Indonesia selain tentunya lewat cerita dan gambar-gambar adalah lewat makanan. Tiga kali saya membantu Permias mencari dana lewat memasak makanan Indonesia. Bagi saya, makanan adalah cara kita melatih bangsa asing menghargai budaya kita. Setiap kali ada masyarakat Amerika yang mengatakan kalau masakan Indonesia itu enak, hati saya langsung berbunga-bunga. Bukan karena saya yang memasak loh, tapi karena saya merasa nama Indonesia itu akan melekat di hati dan pikiran mereka. Begitu juga kalau ada yang bilang kalau alam Indonesia indah, tarian Indonesia cantik, dan manusia Indonesia ramah-ramah, saya merasa bangga tak terkira. Padahal dulu saya suka sok-sok milih makan burger ketimbang gado-gado. Sekarang, 100% gado-gado di atas burger. Hikmah: Hidup di Amerika, membuat saya makin cinta dan sayang kepada Indonesia.

Wah, kelihatannya kalau saya teruskan tulisan ini, jangan-jangan akan jadi sebuah cerita bersambung (tenang Saudara-Saudari, belum sampai taraf novel kok). Jadi kesimpulannya, apakah hikmah terbesar yang saya dapatkan selama saya hidup di Amerika ? Jawabannya: Saya belajar untuk lebih mengenal diri saya sendiri. Coba kalian tengok ke belakang, apa saja yang sudah berubah dari diri kalian selama ini. Saya yakin, pasti banyak hal yang membahagiakan dan mengharukan yang membuat kalian jadi selangkah lebih maju dari sebelumnya. Saat saya menengok ke belakang, saya banyak tersenyum, tapi juga sedikit kecut, karena ada satu yang belum berubah dari enam tahun lalu sampai sekarang yaitu, saya masih tetap embul..... *Gubrak....*

Selamat Natal dan Tahun Baru 2007. Semoga damai kasih Tuhan akan selalu beserta kita.

Friday, December 08, 2006

Nasib Cewek Bawel

Kemarin, saat saya ngobrol dengan Mama saya, Mama mengemukakan sifat saya sebetulnya sudah saya sadari sejak lama, tapi susah banget untuk mengubahnya. Mama bilang, saya itu selalu punya jawaban atas statement2nya dia. Saya itu SUPER NGEYEL! Alias kalo sudah jadi prinsip saya, saya ngga mau kompromi.

Misalnya mama saya bilang: "Non, kamu itu kalau pacaran, tutupi dong kelemahan kamu, supaya cowok tambah jatuh hati. Jangan bawel2 melulu."

Lalu saya nyaut: " Tapi Ma, buat aku, kalo itu cowok nggak bisa menerima aku apa adanya, ya sudah, berarti dia emang nggak cocok sama aku."

Lalu Mama bilang lagi: "Tapi Non, kalo kamu bawel2 begitu, cowok juga gak ada kali yang deketin."

Lalu saya nyaut lagi: "Ma, kalau cowok sudah suka sama kita, mau kita kayak gimana pun, dia bakalan tetep sayang. Tuh mantan-mantan aku juga asik2 aja."

Mama ngomong lagi: "Tuh, makanya kamu jomblo lagi kan ? Kalo pacaran, kamu harus kalem. Dicocok2in sama cowoknya. Nanti kalo sudah nikah, boleh lah kamu bawel2 dikit."

Yang ada, saya malah nambah gondok: "Ma, kalo ditutupin pas pacaran, lalu nikah, lalu baru nyadar nggak cocok, terus berantem melulu, akhirnya pisah, lebih sedih lagi ! Kalo masih pacaran bawel2 lalu cowoknya bete ya paling resikonya putus doang."

Mama masih lanjut: "Tapi cowok Indonesia itu nggak suka Non kalo ceweknya bawel kayak kamu. Cowok Indo itu sukanya cewek yang tenang. Mama liatin, cewek2 di Indonesia kalau pacaran manja2, jadi cowoknya sayang. Padahal belum tentu Non aslinya baik2 gitu, yang penting kan jadi dulu sampe pelaminan."

Dalam hati: Wah, ujung2nya ngomongin pelaminan nih. Kacau...."Makanya Ma, liat aja tuh, jaman sekarang, makin banyak cewek artificial, makin banyak juga perceraian. Soalnya ditutup2in pas pacaran, begitu abis kawin baru meledak."

Mama makin geregetan. Akhirnya, "Dasar kamu kagak bisa dibilangin ! Ubah itu sifat jelek kamu."

Pertanyaan saya, benernya itu sifat jelek atau bukan sih ? Apa mungkin karena saya enam tahun bersekolah di Mallory Towers (kata Mbak Maya), yang isinya kaum hawa semua dan kita dibiasakan mengemukakan pendapat secara gamblang, terutama posisi kita dihadapan kaum adam ?

Ah, puyeng ah....

Wednesday, December 06, 2006

Cita2 Karya Kolaborasi

Ada satu teman saya, adik kelas saya di bangku kuliah tertarik membaca tulisan saya di blog ini. Berhubung majornya dia adalah Jurnalistik, pekerjaan tulis menulis tentunya menjadi sesuatu yang tidak asing lagi buat dia. Suatu hari beberapa minggu lalu, saat saya sedang di kantor, dia meminta saya untuk menulis untuk koran Permias kita yang terbit bulanan. Karena saya pemalas sejati, saya bilang:

"Elu telusuri saja ya isi blog gue. Kalau ada yang menarik, silakan dicomot, tapi minta ijin gue dulu. Supaya gue bisa rapihin gitu loh.... maklum, kan bahasa gue sembarangan."

Akhirnya saya merekomendasikan dia tulisan soal TVRI yang saya tulis di blog ini Oktober tahun lalu. Lengkapnya, silakan klik di sini. Sampai saat ini sih belum keluar artikelnya. Mungkin saking basinya artikel tersebut karena anak anak sekarang yang baru masuk kuliah lahir di tahun 1988 alias tahun dimana setahun kemudian RCTI menghiasi layar kaca dengan Sesame Streetnya.

Lalu tiba-tiba, ide gila teman saya muncul.

"Non, bikin tulisan kolaborasi yuk. Elu nulis, gue nulis, lalu nanti kita gabungin hasilnya. Jadi bisa saling ngisi. Tiap kali kita tentuin topik, lalu kita kerjain spontan."

Saya terus terang bingung gimana cara kerjanya tulisan kolaborasi itu. Maklum deh, saya kan akuntan, bukan penulis. Teori menulis saja saya nggak ngerti kok !.

"Nggak mau ah, gue nggak bisa nulis kayak gitu. Kalo mau, habis kita tentuin topiknya, kita tulis aja sendiri-sendiri. Nah, kan kita jadi bisa makin mengasah style menulis kita."

Gitu kata saya menanggapi idenya.

Setelah berkutat panjang lebar, lalu mengeluarkan ide2 lebih gila lagi misalnya:
1. Kolomnya ini bakalan jadi kolom tetap di koran Permias, bahkan sampai kita berdua nanti tidak di Amerika lagi.
2. Kegiatan tulis menulis ini akan dilaksanakan sesering mungkin pas ide keluar.
3. Penulisannya harus sesuai isi hati, nggak usah mikirin yang aneh- aneh.
4. Dan lain lainnya mulai dari yang penting sampai yang nggak penting...

Malam itu teman saya itu mengemukakan satu topik yang menurut saya menarik. Bagaimana hidup di Amerika mengubah diri saya. Keren kan idenya ? Kita berjanji kalau hari esoknya kita akan menulis sesuatu, dan akan mengecek tulisan masing2 di tengah malam.

Dan saudara-saudaraku sekalian, hasilnya adalah:

Ora ono alias nggak ada alias nol.

Kita sibuk terus, nunda-nunda, dan akhirnya lupa total.

Moral of the story adalah: Jangan terlalu banyak ide gila. Nulis itu butuh mood. Kalo moodnya nggak ada, akhirnya nggak bakalan keluar hasilnya. Maklum, saya bukan wartawan yang harus nyetor artikel tiap hari.

Duh, kapan ya ilham saya untuk menulis tentang topik itu bakalan hadir kembali ?

Tuesday, December 05, 2006

Putihhhhhh.....

Jumat kemarin, pas bangun tidur: Apa2an nih ? Salju tinggi banget. Buka kerai jendela yang ada 1 kota putih semua. Padahal hari itu harus ke kantor untuk ngebalikin my crappy office laptop. Perjalanan ke kantor yang harusnya 10 menit jadi 45 menit. Saljunya turun terus nonstop dari tengah malam hari sebelumnya.

Pas sampai di depan kantor, ada mobil Mercy E-class, stuck di salju, sampai petugas parkir tiga orang bantuin dorong dan kasih template di roda belakang. Makanya, udah tau salju begitu gede, jangan pakai mobil rear wheel drive dong ! Dasar oom2 tulalit, udah berapa lama sih emangnya tinggal di Wisconsin ?? Dijamin deh, nggak bakalan geser. Wong yang punya front wheel drive kayak saya aja modar kalau saljunya ketebelan.

Sampai di kantor, weits, ternyata petugas technology yang mustinya nemuin saya malah ngga dateng, karena di depan rumahnya sudah ketimbun salju! Ya sudah, dititipkan sama orang lain aja. Banyak banget yang hari itu datang terlambat. Bener2 deh kota hari itu seperti terperangkap di dalam salju. Teman kantor ada yang nunggu pesawat dari pukul 8 pagi, dan baru bisa take off pukul 7 malam. Lalu teman2 yang menyetir untuk tugas keluar kota, tertahan berjam2 di jalan. Di kota2 lain di Amerika, kalau cuaca sudah separah ini, biasanya aktivitas diliburkan total. Tapi ini Milwaukee, Wisconsin ! Dianggapnya sudah biasa, jadi kegiatan tetap berlangsung normal. Parah !

Dibawah ini ada dua gambar yang saya ambil dari gedung kantor saya. Cantik, putih, tapi menyebalkan !!