Wednesday, March 29, 2006

Indomie Selerakuuuu...


Bukannya saya mau promosi mie instant yang diproduksi oleh Indofood itu. Hari ini saya lagi kepingin ngomongin makanan dan bumbu Indonesia yang kadang membuat kita mengelus dada untuk mencarinya di Milwaukee. Gara-garanya, beberapa minggu lalu saya memasak Mie Goreng ala Indonesia untuk dibawa ke pertemuan kelompok gereja. Lalu salah satu teman saya nanya resepnya, dan dia minta dijelaskan secara detail. Semua bumbu yang saya gunakan mudah ditemukan di sini, kecuali satu: Kecap Manis. Terakhir saya membeli kecap manis ABC dalam kunjungan saya ke Madison. Kecap ABC tidak sama rasanya dengan kecap Thailand yang banyak dijual di supermarket Asia di sini. Kecap Thailand itu nggak enak deh, dan nggak sekental kecap manis Indonesia. Makanya saya cukup bingung untuk mencari bahan pengganti yang bisa digunakan teman saya untuk menggantikan kecap ABC. Akhirnya saya menyerah, dan saya bilang, nanti kalau saya ke Madison lagi, saya beliin satu botol.

Begitu sulitnya mencari makanan kesukaan kita di sini. Dulu pas masih di Madison, kalau ketemu BengBeng atau Silver Queen, hati ini rasanya berbunga bunga. Tapi saya juga tidak bisa memborong banyak banyak dikarenakan harganya yang berlipat ganda. Contohnya misalnya dalam kurs 1 dolar = 10 ribu rupiah, sebatang BengBeng harganya jadi 7,000 rupiah, sebungkus Indomie harganya jadi 6,000 rupiah, dan sebotol Kecap Bango harganya jadi 39,000 rupiah. Namun demi kekangenan kepada rasa negeri tercinta, sayapun kadang memborong tanpa sengaja. Di Madison saja sudah susah untuk mendapatkan semua itu, di Milwaukee lebih tidak ada lagi. Boro boro ketemu Sambel Cap Jempol yang nikmat itu, nyari Sambel ABC aja belum tentu ketemu. Populasi manusia Indonesia di Milwaukee memang lebih sedikit daripada di Madison, jadinya jangan harap kami bisa mendapatkan bagian khusus di rak supermarket Asia.

Sebagai orang yang mempunyai hobi makan seperti saya, kelangkaan rasa Indonesia itu membuat saya kadang harus memutar otak untuk menemukan rasa yang sepadan. Untuk pempek, ikan tenggiri diganti dengan ikan pollock, tepung sagu diganti dengan tepung tapioka. Yang penting rasanya uenak dong... Modifikasi lain misalnya asam jawa diganti jadi asam Thailand, cuka Dixie diganti jadi cuka Thailand, tapi gula Jawa memang nggak ada penggantinya. Harga gula Jawa di sini: 1 blok = 1 dolar...hiks hiks...Di Indo bisa beli 1/2 kilo, kita bisa nyemilin gula Jawa di Indonesia dengan biaya yang dikeluarkan untuk satu masakan di sini. Kalo sudah mentok, bukan cuma bahan yang bisa dimodifikasi loh.. Buat bikin bumbu kacang rujak atau gado gado, ulekan juga diganti jadi blender hihiihi... cuman rasa cobek memang nggak ada bandingannya... apalagi keringetnya si abang rujak... no comparison lah yaow !

Makanya, buat teman teman yang ada di Indonesia, saya kadang suka heran kalo weekend hangoutnya malah di Starbucks atau di kafe kafe. Padahal di sini, semuanya pada kangen pecel.. HIDUP PECEL !

(PS: gambarnya boleh nyolong dari websitenya Mayora.. oh Bengbeng, emang asik berat...)

Wednesday, March 22, 2006

Berkomunikasi Lewat Makanan


Dua minggu lalu saya berada di Madison untuk bekerja. Kebetulan anggota team saya terdiri dari orang orang yang cukup adventurous kalau soal makanan. Team kami terdiri dari tiga orang, ditambah satu orang teman dari team lain yang kebetulan juga sedang berada di Madison. Kombinasi empat orang ini cukup unik karena kami semua berasal dari negara dan wilayah dunia yang berbeda. Saya berasal dari Indonesia yang mewakili Asia, Laura berasal dari Amerika Serikat yang mewakili Amerika Utara, Iana berasal dari Bulgaria yang mewakili Eropa, dan Emir berasal dari Chile yang mewakili Amerika Selatan.

Betapa senangnya saya hari itu, saat teman teman saya mengusulkan kalau kita mencoba makanan Indonesia. Saya langsung bersemangat karena di Madison ada restaurant Indonesia autentik yaitu Restaurant Bandung. Teman teman sayapun sangat antusias, karena bagi mereka ini adalah hal yang seru dan menyenangkan. Saya bisa memaklumi kalau Emir dan Iana lidahnya sudah terbiasa dengan beragam bumbu. Emir yang berasal dari Chile, sudah biasa dengan yang pedas pedas. Makanan dari Bulgaria juga cukup berbumbu karena masih ada pengaruh Mediterania. Tapi saya salut pada Laura, karena umumnya teman teman saya yang dari Amerika terutama yang asalnya dari kota kecil di Wisconsin, paling anti makanan berbumbu. Tapi si Laura memang beda, dan dia sangat berbahagia saat kami memutuskan untuk mencoba makanan Indonesia. Percaya atau nggak, ada salah satu teman di tempat kerja saya yang setiap hari hanya makan submarine dan sandwich. Makan subs pun, pasti hanya ham and cheese. Teman saya itu pun mengaku kalau dia tidak pernah makan mie, dan tidak akan pernah mau mencoba makanan lain selain makanan Amerika. Sampai segitu antinya, sehingga saat saya satu team dengan dia, demi toleransi, saya terpaksa makan subs setiap hari.

Jadi malam itu spulang bekerja, kami berempat berkumpul di Restaurant Bandung di Williamson Street. Saya meminta teman teman untuk melihat dulu menunya dan menunjuk kira kira apa yang mereka suka. Saya juga terangkan kepada mereka, kalau di Indonesia, kami biasa berbagi makanan. Jadi menu kami taruh di tengah, dan masing masing orang mempunyai piringnya masing masing yang diisi dengan nasi putih. Orang Amerika biasanya lumayan egois kalau soal makan, dan jangan harap mereka mau berbagi bagi. Satu jenis menu hanya untuk diri sendiri, bahkan suami istri pun kalau makan ogah yang namanya berbagi. Setelah saya jelaskan, mereka semua mengerti, bahkan mereka sangat setuju dengan ide itu, karena dengan begitu, mereka bisa mencoba seluruh makanan yang dipesan. Emir nampak sangat ingin tahu dengan yang namanya Sate Ayam, dan Laura tergiur dengan Mie Goreng. Jadi kami masukan dua pilihan itu di dalam makan malam kami. Iana membebaskan saya untuk memilih yang kira kira enak dan pas untuk dimakan bersama.

Menu pertama kami adalah Appetizer Sampler. Di dalamnya ada dua tempe goreng, dua lumpia, dua otak otak, satu tahu isi, satu perkedel, dan satu martabak telur. Semua kami bagi rata, dan favorit mereka adalah perkedel. Menu utama yang kami pesan adalah Sate Ayam dengan lontong, Mie Goreng, Opor Ayam, Pepes Ikan, Gado Gado, dan satu keranjang kerupuk. Saya juga promosikan kalau Opor Ayam adalah pemenang Taste of Madison di tahun 2005 sebagai Best Ethnic Dish. Setiap orang punya favoritnya masing masing. Laura masih tetap jatuh cinta pada Mie Gorengnya yang dia bilang betul betul berbeda dengan Chow Mien di restaurant Chinese. Iana tidak bisa lepas dari Sate Ayam, dan dia menghabiskan tiga tusuk, yang berarti setengah porsi. Kalau Emir suka semuanya, sampai dia tidak bisa memilih yang mana yang paling enak.

Kebetulan juga, di restaurant Bandung ada seperangkat angklung. Saya meminta ijin kepada sang pemilik restaurant untuk iseng memainkan alat musik tersebut. Saya cuma menggetarkan angklung do re mi fa so la ti do, lalu teman teman bertepuk tangan karena mereka kagum dengan seperangkat alat musik bambu itu (bukan karena saya main angklungnya jagoan hehehe). Di akhir makan malam, Laura ditantang oleh Emir untuk makan satu butir cabe rawit. Laura yang memang petualang, menyanggupi ajakan Emir, dan yang terjadi adalah, dia kepedasan luar biasa, dan langsung menyantap sisa mie goreng dengan lahap.
Ditemani oleh sebotol anggur merah, makan malam kami hari itu merupakan perjalanan lintas budaya yang betul betul menggairahkan. Senyuman kami terus mengembang, dan saya tidak berhenti-henti untuk menjelaskan setiap makanan yang mereka lahap. Saya betul betul bangga akan kekayaan negeri kita tercinta. Teman teman saya yang latar belakangnya mirip gado gado tersebut tidak ada bosannya berkomentar tentang nikmatnya makanan Indonesia bahkan sampai keesokan harinya di kantor. Mereka juga berterima kasih telah diperkenalkan kepada sesuatu yang baru, yang telah membuka mata mereka soal Indonesia.

Banyak orang bilang, kalau musik bisa mempersatukan dunia. Bukan hanya musik, makanan juga bisa mempersatukan dunia. Ditengah pandangan dunia yang kurang baik tentang Indonesia, apresiasi bisa dibina lewat makanan. Banyak orang Indonesia sendiri yang mulai bergeser citarasanya jadi kebarat-baratan. Banyak yang mulai menghindari gado gado atau karedok karena dianggap makanan orang kampung. Padahal itulah kekayaan negeri kita, yang seharusnya kita lestarikan.

Orang Indonesia mungkin kalah bersaing dengan orang Amerika kalau soal senjata atau teknologi. Tapi kalau disuruh lawan orang Amerika makan tahu isi pake cabe rawit, SIAPA TAKUT ?!

PS: Terima kasih untuk Pak Roni sekeluarga dengan Restaurant Bandung-nya.

Thursday, March 16, 2006

Sok Berkesenian

Seperti yang saya ceritakan di postingan saya sebelumnya, cita cita saya dari kecil sebenarnya adalah ingin menjadi tukang masak, atau bekerja di dalam bidang yang saya sukai seperti bidang kesenian dan sosial. Saya sangat suka menyanyi, menggambar, dan tentunya memasak dong (walaupun akhir akhir ini tangan saya agak malas untuk memasak karena sudah terlalu capai bekerja). Kesukaan saya menggambar dan berimajinasi telah membuahkan hasil yang lumayan. Beberapa gambar karya saya dulu sempat dipamerkan di art gallery UW Madison untuk percontohan karya murid, dan kesukaan saya berimajinasi sudah menghasilkan satu dapur rancangan sendiri di rumah mungil saya di Jakarta. Saya suka segala sesuatu yang berbau keindahan dan berharap kesukaan saya itu bisa saya gunakan di dalam pekerjaan saya.

Tapi yang terjadi adalah, saya bekerja sebagai auditor. Sebuah pekerjaan yang cukup kaku dan sama sekali tidak berbau kesenian. Di awal bekerja, saya merasa kurang nyaman karena saya tidak terbiasa dengan duduk di ruangan terpisah bersama dengan beberapa orang dengan berbagai dokumen menumpuk dan tersebar di atas meja. Maklumlah, saya sangat senang ngobrol dan bercanda dengan partner bicara saya. Sayangnya, beberapa co-worker memang kaku dan sulit diajak untuk santai sedikit. Semuanya menatap lurus ke dokumen, dan menganggap kalau kita mengobrol, artinya kita kurang efektif. Namun akhirnya perlahan semua mulai berubah seiring perjalanan waktu.

Saya menyadari, setiap pekerjaan, pasti ada unsur keseniannya. Seni yang saya sering terapkan adalah seni menghadapi client yang kaku dan menyeramkan. Tidak semua client senang jika ada auditor datang ke tempat mereka. Bagi mereka, kami ini adalah nyamuk pengganggu yang menyebalkan. Apalagi biasanya auditor sering meminta dokumen lah, penjelasan lah, betul betul mirip polisi. Sekaku kakunya client, pasti ada celah di mana akhirnya kita bisa menjadi teman yang akrab. Seringkali hal yang membuat kekakuan itu cair adalah senyuman kita yang selalu mengembang. Walaupun sudah dijudesin oleh client, kita harus tetap tersenyum. Kalau suasana sudah agak mencair, kita bisa ngobrol2 soal interest orang itu. Interest orang bisa dilihat dari barang barang yang ada di mejanya. Kita bisa mulai dari menanyakan kabarnya. Lalu kalau ada foto anak kecil yang lucu, kita bisa mulai dari memuji kelucuan anaknya. Nggak ada orang tua yang nggak senang kalau anaknya dipuji. Kadang kita juga bisa ngobrol soal hobinya dia seperti golf atau baseball. Walaupun begitu, kita nggak boleh lupa soal tujuan utama kita menemui dia. Tapi beneran loh, metode sok akrab itu membantu sekali untuk kita mendapatkan kemudahan hihihi..lagian, kadang kalau saya sudah lama nggak dateng ke client, mereka tiba tiba bisa kangen juga huahahhaha..

Seni selanjutnya adalah, seni menyiasati keterbatasan waktu. Dulu, saya sangat terobsesi dengan jalan jalan setiap weekend. Rasanya kalau weekend nggak kemana mana, hidup jadi nggak lengkap. Tapi sekarang semuanya itu sudah berbeda. Weekend sekarang adalah saatnya bagi saya untuk berbenah rumah, bersantai sejenak, sambil menikmati suasana tenang setelah dealing with so many people for the whole week. Karena waktu yang sempit, saya sekarang sering melakukan dual job at the same time. Misalnya, menelepon mama sambil jalan di treadmill, menyetrika sambil menonton TV, bahkan menonton DVD sambil menunggu cucian di laundry. Banyak hal bisa dijalankan secara simultaneous. Makanya, saya merasa mengatur waktupun ada seninya tersendiri di antara waktu yang sempit. Hiburan dan pekerjaan bisa diselipkan satu sama lain. Contoh nyata: Saya sekarang lagi menulis postingan ini sambil menonton Conan O Brien yang lucu dan menggemaskan itu huahahahah....

Seni satu lagi yang lumayan penting adalah seni mengatasi kantuk. Bekerja 60 jam seminggu bukanlah hal yang paling menyenangkan. Bahkan menonton acara favorit saya saja, tidak bisa saya lakukan setiap minggu. Yang paling parah adalah kalau saya sedang di dalam perjalanan dan mengantuk. Akhir-akhir ini saya menemukan cara yang sangat efektif untuk mengurangi kantuk. Caranya adalah dengan menyanyi di dalam mobil keras keras, seakan akan kita mau audisi American Idol. Bayangkan diri kita adalah seorang penyanyi kelas atas yang ditunggu tunggu penonton. Kita dituntut untuk selalu prima supaya penonton nggak kecewa. Lalu menyanyilah sekerasnya di dalam mobil. Saat di dalam mobil sendirian sebetulnya cukup menyenangkan, karena kita bisa bernyanyi sekerasnya tanpa ada yang merasa terganggu. Kadang orang bilang, mendengarkan radio adalah cara yang efektif. Tapi nggak semuanya betul loh, karena kalau siaran radio lagi monoton, kita malah jadi tambah ngantuk. Kalau kita menyanyi, kita bisa latihan nafas juga, dan membangkitkan semangat.

Sekarang saya juga ngantuk nih. Tapi bukan karena saya kebosanan di mobil, tapi karena sudah pukul 12:30 subuh. Kalau yang ini, seni mengurangi kantuknya satu saja. Tidur yukkkkk !

Tuesday, March 14, 2006

My Almost First Speeding Ticket


Selama 4 tahun saya menyetir di negara ini, tidak pernah sekalipun saya tertangkap dalam keadaan ngebut. Memang saya tidak selalu menyetir pada speed limit terutama kalau sedang di highway. Soalnya kalau pada speed limit, yang ada malah saya nggak nyampe nyampe dan bakalan bete disusul oleh seluruh mobil. Umumnya pada speed limit 65, saya bisa melaju sampai 85 mil per jam.

Pengalaman saya distop oleh polisi pertama kali adalah tahun 2003 di Madison. Saat itu sekitar pukul 1 pagi dan saya baru kembali dari berolahraga di fitness center. Waktu itu saya betul betul kaget karena kali pertama ada polisi menyalakan sirene dan mengejar saya. Dalam keadaan pasrah, saya minggir. Di Amerika sini, kalau sudah disetop oleh polisi, kita tidak boleh macam macam. Kita harus diam saja di dalam mobil. Kalau sampai kita berusaha membuka pintu atau melarikan diri, polisi bisa langsung mengejar dan menembak di tempat. Ihhh..serem buanget... jadilah saya berusaha menenangkan diri. Ternyata oh ternyata, saya bukan distop karena speeding, tapi karena saya lupa menyalakan lampu mobil. Maklumlah di University Avenue lampunya terang sekali, sampai saya tidak merasa kalau lampu mobil saya padam. Ahhh...leganya. Mana Polisinya masih muda belia dan ramah banget lagi...hihihi..

Pagi ini saat saya bersiap untuk berangkat kerja ke Madison, cuaca tidak terlalu baik. Kabut tebal menyelimuti Milwaukee dan langit cukup gelap. Jadilah saya harus berusaha berangkat lebih awal, karena bisa saja orang orang jadi lebih lambat dalam menyetir dan saya bisa jadi terlambat juga sampai di tujuan. Saat saya ingin keluar dari tempat parkir, ternyata gatenya tidak bisa terbuka. Saya sudah klik klik berkali kali remote untuk palangnya, dan palang itu diam saya tidak bergerak. Untunglah sang Manager apartemen tinggal di gedung yang sama dengan saya, jadilah saya langsung berlari lari ke apartemennya dia. Dia bilang, pasti batere remote saya habis. Tapi saya bersikeras kalau kemarin masih nyala. Dia ngotot, katanya pasti remotenya. Jadilah saya harus kembali ke mobil untuk mengambil remotenya. Dia lalu ikut dengan saya karena ternyata persediaan batere dia habis, dan dia bilang untuk hari ini, dia yang akan bukakan gatenya dengan remote dia. Ternyata pas pakai remotenya dia, tetep saja nggak bisa. Akhirnya dia pakai tenaga manusia, alias dia pegangin palangnya supaya mobil saya bisa lewat dibawahnya heheheheh... Lewat juga saya dan melaju menuju highway.

Perjalanan di highway berhasil saya lewati dengan sukses. Pas saya masuk ke Madison dan ada di jalan raya biasa, tiba tiba polisi mengikuti saya lalu mulai menyalakan sirene. Saya bingung, ada apakah ini ? Saya tidak merasa ngebut kok. Lalu pak polisi bertampang gahar itu menghampiri saya dan menanyakan apakah saya tahu kenapa saya distop olehnya. Saya dengan melongo bilang kalau saya nggak tau. Lalu dia bilang, saya sudah ngebut dengan kecepatan 50 mil per jam, padahal batas kecepatannya adalah 35 mil per jam. Saya cuma bisa pasrah... (lagi lagi..). Mana saat itu saya sudah betul betul hampir telat ke client. Saya betul betul tidak tahu mau ngomong apa. Rasanya hari ini betul betul hari yang kurang baik. Saya hanya bisa melihat bayangan pak polisi di kaca spion sedang menulis nulis sesuatu. Biasanya tiket ngebut itu paling nggak dendanya 100 dolar, bahkan sampai 300 dolar. Belum lagi di dalam SIM saya, akan ada pengurangan nilai. Kalau sampai dikurangi 12 nilai, SIM saya akan dicabut dan saya tidak bisa menyetir sendiri lagi. Selain itu asuransi untuk mobil saya juga akan naik...hiks hiks hiks...

Setelah menunggu di dalam mobil lebih kurang 10 menit, pak polisi kembali menghampiri mobil saya. Dia membawa kertas berwarna kuning. Aduh...dalam hati saya, inilah tiket pertama saya. Si polisi bertampang gahar itu lalu mulai bicara. Dia bilang, saya nggak dapet speeding tiket ! Saya nggak usah bayar ! Dan point saya nggak dikurangi ! HOREEEE.... lalu dia menjelaskan pada saya berapa seharusnya denda yang saya bayar jika saya betul betul ditilang dan berapa point SIM saya akan dikurangi. Tapi karena dia melihat sejarah menyetir saya yang baik, jadinya saya hanya diberi peringatan saja. SYUKURLAHHH... !! Jadilah record menyetir saya masih mulus hihihi... Today is not a bad day after all.. I can say it's a great experience.

Thursday, March 09, 2006

Pengen Maraaaaahhh !!

Baru kali ini saya bekerja dengan atasan yang ngajubileh nyebelinnya. Karena saya bingung harus mulai dari mana, saya urutin saja satu persatu kekesalan saya.

1. Sebetulnya minggu ini saya nggak dijadualkan bekerja di client yang ini. Tapi gara2 si atasan jelek itu mengingingkan seseorang yang ada extra pengalaman untuk membantu dia dan satu staff lainnya, maka ditariklah saya untuk mulai bekerja pada hari Selasa. Dia minta saya sampai di client pukul 8 pagi, jadi saya berangkat pukul 6.45 dari rumah. Saya pikir, karena dia sudah dari kemarin berada di client, saya sebaiknya memang berangkat pagi, karena dia pasti sudah sampai duluan. Ternyata, dia baru sampai pukul 8:35 !

2. Saat mulai bekerja, dia tidak memberikan instruksi apa apa. Dia malah menyombongkan diri kalau di negaranya dia sudah jadi seorang senior manager, jadi kerjanya hanya merintah-merintah saja. Sementara karena sekarang dia ikut global exchange program, dia sengaja minta "diturunin" pangkat jadi senior (2 step dibawah senior manager) supaya dia bisa belajar lebih banyak. Padahal di kantor Amerika sini, senior manager itu justru kerjaannya banyak, dan harus bisa take control. Tapi dia, boro boro take control. Kerja aja ogah2an. Hari pertama kemarin, saya dan salah seorang staff lain dibiarkan bekerja sendirian. Kerjaannya dia ? Chatting dan browsing sambil dengerin musik. AMPUN !!!

3. Akhir hari pertama, saya melihat ada sesuatu yang nggak beres di dalam program kita. Pemilihan sample yang harusnya dibagi tiga (karena client ini ada 3 anak perusahaan) numplek jadi satu. Lalu saya kemukakan masalah itu ke dia, dan dia langsung panik berat ! Rupanya, pada awal memilih sample, bukannya dia yang melakukan, dia nyuruh orang lain yang baru mulai kerja untuk milihin buat dia. Saya sampe nggak tau mo ngomong apa lagi. Untuk menutupi kesalahan dia, dia minta saya pilih sample ulang, tapi saya bersikeras kalau itu nggak bisa dilakukan karena sample yang lama sudah keburu diproses. Akhirnya setelah perdebatan panjang, dia tetep aja keukeuh kalau misalnya dia minta saya nutupin kesalahannya dia, soalnya dia takut ketahuan sama manager. Lalu dengan berbagai triknya dia, akhirnya kami menambah sample baru dan yang jadi tumbal akhirnya saya. Staff yang lain juga kesal karena terpaksa kerjaan mereka harus diubah. Lalu apa yang si jelek itu lakukan ? Tetep aja chatting sambil ketawa tawa, tidak bekerja sama sekali !

4. Malamnya kami bersepakat untuk makan malam bersama. Baru sampai, yang langsung dilihat adalah menu minuman. Belum sampai 2 menit, dia sudah pesan satu botol red wine ! Boro boro nanyain yang lain mau minum wine apa, dia lagaknya kayak bos, langsung tunjuk aja.

5. Hari kedua, kerjaan saya masih bertumpuk. Karena tahun ini programnya sedikit berbeda, saya harus membuat laporan yang menghubungkan tahun lalu dengan tahun ini secara berbeda juga. Setelah saya hampir selesai, tiba tiba dia ngoceh sendiri: "Eh Leony, itu laporan yang tahun lalunya banyak yang di adjust loh, jadi jangan pakai laporan yang lama yah !" Saya betul-betul pingin marah saat itu. Saya langsung bilang ke dia: "Kenapa kamu nggak bilang dari kemarin ? Kamu harusnya take control dong terhadap semuanya ! Kamu sudah bikin pekerjaan kita sangat tidak efisien !" Dia lalu berusaha baik baikin saya. Dan pada jam makan siang tadi, dia minta maaf. Dalam hati saya, kalau memang kamu mau minta maaf, bantuin kita dong kerja. Jangan cuma chatting dan ngerokok doang !

6. Ini orang memang suka dengar musik. Saya masih nggak apa apa kalau dia dengerinnya pakai headphone. Tapi yang ini, walaupun dengerinnya pakai headphone, tapi kaki dan tangannya goyang sambil mengetuk ngetuk di meja. Meja jadi bergerak-gerak dan betul betul mengganggu konsentrasi. Eh, gilenya, tadi sore, dia cabut headphonenya, lalu dia betul betul menyalakan musiknya keras keras. Mending kalau musiknya bahasa Inggris. Tapi ini bahasa Spanyol ! Kok kesannya nggak menghormati orang lain yang ada di ruangan yang sama dengan dia. Kalau kami nggak bekerja seperti dia sih ngga apa apa. Tapi kami di sini meras otak. Betul betul luar biasa menyebalkan !

7. Dia nggak pernah meriksa pekerjaan saya sampai saat ini. Akhirnya tadi dia nengok ke monitor saya, lalu mengkritik pekerjaan saya. Padahal kerjaan saya itu sudah betul, hanya saja belum kelar sepenuhnya. Lalu dia mulai sok sok menunjukkan kebesarannya di hadapan co-worker yang satunya dengan ngasih tau kalau sebaiknya harus begini lah, begitu lah... kita sih iya iya saja. Tapi habis ngoceh ngoceh begitu, balik lagi dia ke depan komputer, dan browsing (or main game) !

8. Sekitar pukul 7.45 malam, saya bertanya kepada dia, apakah kami boleh pulang karena sudah capek. Lalu dia bilang: "Kalau kamu mau pulang silakan, tapi saya masih banyak kerjaan, dan saya bakalan pulang nanti maleman sedikit." Dia mau bikin skenario seakan akan kami itu pemalas, dan dia bekerja sampai malam. Padahal sodara sodari, boro boro dia kerja. Dia sebetulnya lagi chatting dengan temennya sambil cengengesan, dan pakai bilang lagi kerja. Lalu dia pake bilang gini lagi, "Kok kalian baru jam 8 kurang aja sudah minta pulang. Gimana kalau kerja sampai malem ? Bisa bisa kalian tewas semuanya!" Keterlaluan nggak sih ? Tinggal co-worker saya akhirnya nggak tahan dan bentak dia: "Eh, stop chatting ! Kita sudah capek!"

9. Akhirnya sesudah dia mematikan komputernya, dia nanya kepada kami mau dinner di mana. Lalu karena saya betul betul capek, saya bilang kalau saya mau beli to go saja dan makan di hotel. Eh komennya: "Ih, kamu payah banget sih, nggak ada semangat kebersamaan." Dalam hati saya: BODO AMAT !

Co-worker saya sebetulnya lebih kasihan lagi daripada saya. Dia sudah bekerja dengan si jelek ini selama 3 minggu. Saya saja yang dua hari sudah pengen nonjok. Si Co-worker tiap hari hanya bisa berkeluh kesah kepada saya soal kekesalannya. Untung tinggal sisa dua hari lagi... Duh, sabarlah Non.... Orang sabar disayang Tuhan.

Friday, March 03, 2006

Sogok , Nyodok, dan Expedite Service


Saat saya masih di Indonesah tercintah tanah tumpah darah yang indah mulia, yang namanya bikin Surat Ijin Mengemudi atau paspor adalah hal yang paling menyebalkan. Selain tentunya fasilitasnya kurang memadai, panas nggak kira kira, manusia berjubel kadang sodok sana sodok sini, yang paling membuat jengkel adalah manusia manusia di belakang loket yang kerjanya lele dumbo alias leletnya minta ampun.

Pertama dan terakhir saya bikin SIM di Indonesia which is when I was 17 yrs old (oh my God it's almost 7 yrs ago !!), saya dan teman teman dibantu oleh Ulisa, sekolah menyetir pada jaman itu. Bayarnya kalau nggak salah dua kali lipat dari biaya resmi, dan janjinya, bakalan lebih cepat selesai. Oh iya, begitu sampai di Komdak dan turun dari mobil, ada kali 5 orang calo nawarin saya untuk mengurus SIM: "Ayo Dek, sama saya aja, cepet Dek...bla bla bla bla.." Tapi karena saya sudah bayar ke Ulisa, saya melaju terus menghindari para calo yang mulutnya sampai berbusa membujuk saya. Walaupun ada karyawan Ulisa yang membantu kami, tetep aja deh, ngantri dari pagi, ngikutin prosedur tes tertulis, tes nyetir dan lain lainnya setelah ditotal, nunggunya lebih dari 6 jam. AMPUNNN... Padahal ini tuh udah yang pake sogokan loh..soalnya saya sih nggak percaya kalau itu kerjaan kami diperiksa. Yakin banget deh nggak diperiksa. Toh sebelah saya dalam 10 menit selesai tes tertulis, lalu tes nyetir mogok mogok 3 kali tetep lulus dan pulang dengan SIMnya. Lalu apa yang terjadi dong kalau kita nggak nyogok ?

Inilah yang terjadi ! Saat saya kelas dua SMA, guru Kimia saya, Pak Agus, cerita kalau nekad datang ke Komdak untuk mendapatkan SIM motor tanpa bantuan calo dan metode nyogok lainnya. Dia menjalani semua tahap, dari awal sampai akhir, mengerjakan soal-soal dengan seksama, dan bersusah payah dari pagi sampai sore. Begitu sore hari, hasil test tertulis resminya keluar, dan dia kurang 1 point untuk lulus. SIMpun melayang, dan dia pulang dengan perasaan dongkol. Diapun bersungut sungut di kelas, karena saat itu kali pertama dia lewat jalur resmi dan gagal. Padahal biasanya dia asal asalan dalam mengerjakan test dan bisa lulus. Rupanya di Indonesia budayanya memang nyogok !!

Waktu saya membuat paspor terakhir di Indonesia tahun 1998 juga sama saja. Saya lihat barisan manusia yang menungu dari pagi hingga siang hari. Waktu itu saya bersama mama dan oom datang ke Imigrasi. Karena hari biasa, Papa lagi di kantor dan nggak bisa temenin kami. Jadilah Oom saya sebagai tameng hihihi. Begitu sampai, Oom saya langsung ke belakang, ngobrol ngobrol sama salah satu ibu petugas imigrasi, selipkan sedikit, 1 jam kemudian, saya sudah ada di barisan paling depan untuk di foto dan 1 jam lagi selesai sudah segala processnya. Kalau lewat jalur resmi, saya harus nunggu giliran berjam jam untuk difoto, kadang bisa besoknya baru bisa selesai. Yang saya bingung, sebetulnya apakah mereka kekurangan pekerja sehingga administrasi menjadi terlambat, ataukah mereka sengaja ber lele lele dumbo ria supaya kita kesal dan lebih memilih untuk menyogok ?

Sekarang setelah saya tinggal di Amerika lebih dari lima tahun, saya juga merasa kalau di Amerika juga sama. Kita juga punya yang namanya nyogok, tapi bedanya sogokannya resmi, tertulis dengan lengkap dengan istilah: EXPEDITE SERVICE alias pelayanan cepat. Teman saya yang orang Amerika kadang kesal dengan hal ini karena menurut dia semua penduduk harus mendapatkan pelayanan yang sama. Lalu saya ceritakan kepada dia soal sogok menyogok di Indonesia, dan dia langsung bengong seribu bahasa...

Paling nggak di Amerika sini, walaupun mirip dengan nyogok, tapi nggak ada tuh yang lari ke kantong karyawan. Semuanya ke kantong pemerintah. Dan memang betul, kalau janjinya expedite service ya betul betul cepat. Pembuatan paspor Amerika, kalau lewat jalur umur $67, tapi jika mau dipercepat, bisa tambah $60. Menunggu hasil ujian misalnya, kalau mau dipercepat pengiriman hasilnya juga bisa, tinggal kirim cek atau di charge ke kartu kredit. Kalau mau ambil SIM di sini, ya betul betul test tertulis dan test menyetir. Jangan bingung kalau banyak orang Indonesia yang gagal saat test menyetir walaupun pas di Jakarta punya SIM sudah lama dan nyetirnya kayak preman. Terang aja, SIM Indonesianya modal sogokan sih hahahah... umur aja bisa nyatut (manusia ngalahin Tuhan ckckckck!)...

Oh Indonesiakuuu..biarpun begitu, aku tetap cinta padamuuuu !