Tuesday, February 28, 2006

Dancing With The Stars Sensation


Waktu Kamis siang yang lalu, manager saya nanya: "Leony, kamu ada rencana apa malam ini ?" Biasa lah, bagi orang Amerika, Kamis itu hampir bisa dilegitimasi sebagai akhir pekan. Lalu saya dengan santainya menjawab: "Wah, malam ini saya mau nonton finalnya Dancing With The Stars !" Mananger saya melotot, dilanjutkan dengan tertawa ngakak.... Dia bilang, itu acara terlalu "tua" buat saya. Maklumlah, jaman jaman sekarang umumnya anak muda ngomonginnya The OC, Laguna Beach, The Bachelor, One Tree Hill, Smallville, paling mentok juga Gilmore Girls. Tapi gimana dong... saya nggak demen itu semua...saya demen Dancing With The Stars...nggak boleh ya ?

Waktu season satu, saya nggak terlalu ngikutin acara itu. Mungkin karena saat itu saya juga nggak terlalu banyak nonton ABC kali ya. Maklum, saya masih jadi penikmat cable sejati yang melototin HGTV dan TLC dengan acara home improvementnya setiap hari. Tapi sejak saya mulai bekerja, hampir nggak ada waktu untuk nonton tivi. Untuk menjaga kestabilan tontonan, saya memilih nonton acara yang ada di National Television macam NBC, ABC, FOX dan CBS supaya di hotel manapun saya berada, saya masih tetep bisa nongkrongin acaranya. Begitu season kedua Dancing with The Stars, saya baru mulai mantengin televisi setiap kamis malam. Bahkan saya bela belain rekam acara result show setiap jumat malam.

Kecintaan saya terhadap acara ini membawa kembali kenangan lama saat saya masih menjalankan semester pertama di Madison. Karena kehabisan kelas, saya memilih kelas Ballroom Dancing untuk memenuhi kredit. What can I say... I fell in love with it. Saya sampai ikutan jadi anggota club University of Wisconsin Madison Ballroom Dancing Association (UWMBDA) dan datang setiap weekend untuk mempelajari basic2 dance jenis terbaru. Padahal saat itu saya nggak punya mobil, tapi saya jabanin naik kendaraan umum atau jalan kaki. Saya yang embul ini ternyata masih bisa dansa loh. Beberapa gerakan dasar dance cukup saya kuasai, macamnya Swing, Waltz, Bolero, Rhumba, Chacha, Samba, dan beberapa dance lainnya.
Saat itu saya dan Mira (temen saya yang jangkung dan penari sejati) sama-sama mengambil kelas Ballroom Dancing itu. Karena banyaknya anak perempuan dibandingkan anak laki laki, saya dan Mira jadi selalu berpasangan kalau akan ambil nilai. Saat final, kami mengkreasikan Waltz dengan iringan lagu Seal: Kiss From A Rose. Hasilnya ? Kami berdua dapat nilai A ! Kalau nggak salah, nilai kami dalam teknik dan performance termasuk yang tertinggi di kelas. Padahal kami berdua sama sama perempuan loh. Ternyata Mira nggak kalah bagusnya dengan cowok cowok sebagai leader.

Dua semester kemudian, saya kembali mengambil kelas Advance Ballroom Dancing. Kali ini Mira sudah tidak bersama saya lagi. Spesialisasinya Mira bergeser ke Javanese Dance walaupun dia masih tetap aktif di dalam dance apapun (tahun 2005, dia lulus dengan minor dalam bidang Dance). Saat itu variasi gerakannya makin beragam. Saya ingat ada teman sekelas saya, sepasang, yang jagonya minta ampun dan jadi presidennya UWMBDA. Mereka ambil kelas itu cuma buat menuh menuhi kredit dan show-off di depan yang lain. Kalau ingat-ingat lagi suka kesal sendiri, karena mereka berdua tidak pernah mau berpasangan dengan yang lain, dan juga tidak membagi ilmunya dengan yang lain.

Saat paling berkesan adalah pengambilan nilai final untuk kelas advance ini. Kami boleh berpasangan dengan siapa saja, dan boleh memakai teman dari luar (kebetulan lagi lagi kelas kami kekurangan laki laki). Penampilan final kami dilaksanakan di Lathrop theater, dan ditonton siswa2 yang mengambil kelas balldance dari gelombang lainnya. Saya dan teman saya Liz bersepakat untuk mengundang Tood: Teman Liz yang pemain trombone dan jago Swing, dan Steven: Teman saya si programmer yang nggak pernah dance sama sekali tapi bersemangat mencoba. Musik dan gerakan pun disusun. Setelah latihan beberapa kali, tampillah kami di hadapan para pemirsa budiman dengan sambutan yang sangat meriah! Kami memilih lagu We Go Together dari film Grease dan jenis Dance yang kami pilih adalah Swing dengan perpaduan Jive. Betul betul pengalaman yang tidak terlupakan deh. Dan hasilnya ? A lagi dong !! Thanks Todd and Steven ! We owe you !

Hampir 4 tahun berlalu sejak kelas Ballroom Dancing terakhir saya. Rasa kangen terhadap ballroom dancing cukup terobati dengan hadirnya Dancing with The Stars. Maklum pasangan saya nggak tertarik dengan yang namanya dance... Kadang kalau ngajak si Yayank dance pas ada acara party kantor, dia kok jadi tersiksaaaa banget. Yah paling nggak, walaupun saya nggak punya partner, saya masih bisa menikmati dance berkualitas di televisi, dan yang bikin saya tambah happy, Drew Lachey kemarin menang ! Dia emang jagoan saya dari awal dengan footworknya yang keren abis.

Buat yang belum pernah nyoba ballroom dancing, coba deh ! Buat yang suka dugem, mendingan coba balldance. Dijamin, areanya lebih lega, nggak perlu mabok, dan bebas rokok !

Tuesday, February 14, 2006

Kunyatakan Cinta Lewat Friendster

Tidak tau kenapa, karena saya merasa bosan, hari ini saya iseng memelototi Friendster account dari beberapa teman saya. Bagi saya yang menarik di Friendster, selain foto foto adalah testimonial. Bagi yang punya account sejak beberapa tahun lalu, tentulah banyak memiliki testimonial dari sejak awal dibukanya account Friendster tersebut. Dan tentunya, di dalam hidup anak muda, pasti banyak kejadian yang berhubungan dengan kisah cinta, sahabat, putus-sambung dan lain lainnya.

Yang paling menarik untuk saya adalah pernyataan rasa sayang lewat Friendster dari sang kekasih. Mungkin ini adalah hal yang biasa untuk orang yang dilanda asmara. Banyak sekali yang disampaikan lewat Friendster, mulai dari pesan pesan singkat yang sifatnya trivial seperti "Lagi ngapain Say", "Sudah makan belum?", sampai pernyataan serius seperti "I love you", "I miss you" , bahkan "I want to share my life with you forever".

Pada akhirnya, hubungan bisa putus di tengah jalan, dan testimonial itu masih tetap terpajang di account si pemilik. Pernyataan untuk membagi hidup bersama selamanya tidak lagi berlaku. Pernyataan cinta di testimonial adalah kenangan lama, yang bisa membuat kita tersenyum dan tertawa tawa sendiri, mengingat masa yang telah lalu, bahwa kita pernah dicintai dan disayangi olehnya.

Akhirnya testimonial di Friendster menjadi seperti sebuah catatan perjalanan kisah cinta, karena kadang, kata "I Love You" tertanggal tahun lalu, dengan kata "I Love You" tertanggal tahun ini datang dari dua orang yang berbeda. Interesting...

Tuesday, February 07, 2006

Postponed New Year's Resolution


Menjelang tahun baru ini, saya membuat resolusi yang rasanya sangat umum bagi wanita pada umumnya. Menurunkan berat badan ! Maklumlah, seperti semua orang yang sudah bertemu dengan saya, pasti tau kalau saya ini nggak pernah kurus. Teman-teman SD sampai SMA pun pasti kalau mendengar nama saya, yang terlintas di pikiran adalah Noni yang bulet kayak bakpau.

Resolusi tahun baru yang satu ini memang baik adanya. Hanya saja, kadang saya suka kesal melihat resolusi yang keterlaluan. Misalkan, ada yang badannya sudah kurus, bagus, proporsional, tapi masih ingin menurunkan berat badan supaya jadi kayak model. Wuah, kadang bikin saya yang embul ini lumayan jengkel. Kalau lagi jalan di Mall terutama di Jakarta, ada cewek yang pesan makanan satu porsi, tapi cuma dihabiskan nggak sampai setengahnya, padahal badannya sudah kayak selembar karpet yang siap digulung. Hayo lah Nak... makanlah..kasihan Emak Bapakmu sudah membayar makanan itu...

Hari ini, saya melihat chart body mass index untuk berat normal. Berat normal loh ya, bukan berat proporsional model. Ternyata berat badan saya sudah di sisi atas BMI (Body Mass Index), hampir menuju obesitas. Serem nggak sih ? Yang saya heran, temen temen saya yang orang Amerika, menganggap saya normal (karena saya memakai ukuran Medium di US). Ckckck.. orang orang sini memang sudah terbiasa dengan yang besar: super size, biggie size, extra large, extra topping, unlimited refill, et cetera, yang intinya makin besar = good value.
Mumpung masih di awal tahun, saya ingin memulai program penurunan berat badan ini. Tujuan saya bukan ingin jadi langsing seperti Kate Moss. Saya ingin lebih sehat, dan kalau pulang ke Indonesia, Mama saya nggak teriak : "Non, kok kamu masih tetep gemuk sih ????"

Doakan saya yah...

Wednesday, February 01, 2006

Selamat Ngiler Ngiler


Bertepatan dengan Malam Tahun Baru Imlek kemarin, beberapa teman baik saya berbaik hati mengunjungi saya. Satu dari Minnesota, dan empat lainnya dari Madison. Setelah menikmati makan malam di Red Pagoda bersama dengan teman teman dari Milwaukee, saya, si Yayank, dan lima teman saya (walaupun perut kenyang), segera melanjutkan ke petualangan kedua yaitu makan dessert dong hehehe. Nggak lengkap rasanya kalau teman teman saya datang dari luar kota tapi belum makan dessert.

Dengan rekomendasi dari teman kantor saya, kami bertujuh segera menuju ke Hotel Metro. Ditengah hujan deras, rasanya suasana kemarin betul betul cozy di sana. Ambiencenya pas, nggak terlalu gelap, dan nggak terang juga. Selain itu, environmentnya casual banget, jadi kita nggak perlu jaim untuk cekakak cekikik, dan sekedar berfoto foto ria ala orang Jepang yang nggak bisa lepas dari kamera. Kami bersepakat bahwa tiap orang harus memesan jenis dessert yang berbeda, jadi kami bisa icip icip kueh milik orang lain.

Begitu pesanan kami datang, kami bengong sesaat, lalu dengan sigap, segera memotret karya cipta manusia yang selain enak dipandang, juga enak di lidah... Piring piringpun berputar di atas meja kami, karena setiap orang ingin merasakan tujuh hidangan berbeda. Sayang, foto-fotonya belum sempat dikirim dari Madison, jadinya saya hanya akan menuliskan yang kita pesan dan deskripsinya.

Apple Walnut Upside Down Pie, served warm with cinnamon ice cream, caramel sauce and Chantilly crème

Chocolate Velvet Cake, a silky smooth flourless chocolate hazelnut cake, topped with chocolate Ganache, and white and dark chocolate sauces - Ini pesanan saya.

Crème Brulee, with fresh berry garnish, and Crummini cookies

Chocolate Strawberry Sponge Cake, with fresh strawberries and topped with Chocolate Ganache, raspberry sauce and fresh berries

Chocolate Raspberry Mousse, layered sponge cake, creamy mousse, white and dark chocolate sauces and fresh raspberries and chantilly cream

Lemon Tart, fresh lemon custard in a hazelnut pastry shell, topped with Chantilly crème, kiwi sauce and pistachios

Sophia Loren Almond Cake, Italian style toasted almond sponge cake served with fresh strawberries, chantilly cream, raspberry sauce and vanilla ice cream

Memang betul betul nggak nyambung sama makanan Chinese New Year. Walaupun kue-kue kemarin itu enak semuanya, tapi saya kangen dengan pindang bandeng, kue keranjang, kaki babi (maaf, kalau yang nganggep ini haram), nasi hainam, ayam rebus, dan lain lain lainnyaa..... Ahhh..manusia memang nggak ada puasnya hehehe.. Selamat Tahun Baru Imlek. Tahun ini tahun saya loh.... (woof woof..). Semoga semua diberi berkat oleh Tuhan, sehat, dan dunia semakin damai.