Monday, December 18, 2006

Perjalanan ke San Francisco

Saya sudah pesan tiket jauh-jauh hari lewat agen perjalanan saya untuk tujuan San Francisco. Saat itu saya menetapkan untuk pergi ke sana tanggal 20 December. Tapi tante saya ternyata punya ide untuk pergi ke Disneyland di Anaheim sebagai hadiah ulang tahun ke-5 anaknya tanggal 21 December. Jadilah saya berniat untuk memajukan tanggal keberangkatan saya menjadi weekend ini supaya tidak terlalu melelahkan dan mepet.

Setelah Tante saya memastikan booking hotel di Disneyland, saya menelepon agen perjalanan saya untuk mengganti tanggal. Dia bilang, kalau mau confirm seatnya, harus membayar $100. Saya bilang kalau saya sedang berusaha save uang. Lalu agen itu bilang, datang saja pas hari yang saya inginkan, lalu tunggu karena ada 9 flight dari Chicago ke San Francisco. Kalau dapat, nggak usah bayar, stand by saja.

Jadilah kemarin, Sabtu tanggal 16 December, saya diantarkan oleh teman saya dari Milwaukee ke Chicago (1.5 jam perjalanan). Teman saya ini padahal repot sekali karena dia harus ke Minnesota esoknya, tapi dia masih kekeuh mau nganter saya. Saya berharap bisa naik pesawat yang pukul 5 sore. Kalau tidak, masih ada 2 penerbangan langsung lainnya ke San Francisco hari itu. Sampai di sana antrian cukup panjang. Saya akhirnya tiba juga di counter, lalu menjelaskan situasi saya. Ternyata, kata si penjaga counter, saya tetap harus bayar $100. Saya lalu kasih tau dia, kalau agen saya bilang, boleh tunggu untuk stand by dan tidak bayar. Tetapi, kata si penjaga counter, karena saya ganti hari, tidak ada pengecualian, tetap harus bayar $100. Setelah berkutat panjang, dan meyakinkan diri kalau saya siap mengeluarkan $100 dari balance kartu kredit saya, akhirnya saya merelakan $100 melayang. Saya menyimpulkan: Agen perjalanan saya itu TULALIT !! Seenaknya aja bilang boleh tunggu. Kalau tau begitu kan dari jauh2 hari saja saya confirm seatnya dan tidak perlu merepotkan teman saya untuk mengantarkan saya hari itu.

Sebelum mengeluarkan boarding pass, si penjaga counter bertanya, tempat duduk sebelah mana yang saya inginkan. Saya bilang kalau saya ingin di aisle. Begitu masuk pesawat, ternyata tempat duduk saya ada di center ! Posisi kelas ekonomi itu 2-3-2, dan saya duduk betul betul di tengah yang row berisi 3 orang. Saya menyimpulkan: Penjaga counternya juga TULALIT !!

Sebelah kanan saya adalah seorang ibu yang lagi berantem dengan anaknya, dan galaknya minta ampun. Saat saya ingin memasukkan carry on, dia tidak memberikan tempat untuk saya dengan alasan dia mau letakkan jaketnya di situ. Sampai seorang bapak yang duduk dibelakangnya kasihan sama saya, dan bantu saya angkat carry on itu sambil berkata kepada ibu itu, kalau masih ada tempat di sebelah jaketnya. Dan begitu kereta minuman lewat, dia langsung keluarkan uang 10 dolar, dan pesan 2 botol vodka kecil. Betul betul edan ibu itu, mana sepertinya dia kena insecurity problem dan bergerak terus selama perjalanan, geser kanan kiri, tukar posisi duduk, etc. Selain itu, masih tetap saja ngoceh memaki-maki anaknya.

Sebelah kiri saya ada seorang laki-laki Asia, sepertinya sih pelajar. Baru saya duduk, saya memindahkan bantal saya ke kursinya karena dia belum datang. Eh nggak lama dia datang, dan ngambil bantal saya. Sudahlah, saya pikir toh saya nggak bakalan tidur lama2 juga, karena perjalanan hanya 4 jam 45 menit saja. Selama perjalanan itu, dia tidur terus nggak bangun-bangun, dan posisi tidurnya itu loh.... miring ke saya terus ! Saya yang duduk di tengah cuma bisa diam, dan mengambil posisi tegak. Untung juga akhirnya saya kecapaian, dan sempat tertidur sebentar. Kalau nggak sih, saya sudah stress berat kali di pesawat.

Akhirnya, tiba juga pesawat saya di bandara SFO. Telat lebih dari setengah jam. Tetapi puji Tuhan, semua berjalan lancar, koper-koperpun tiba dengan selamat. Tau sendiri kan, penerbangan domestik yang namanya United Airlines itu langganan membuat orang stress lantaran koper suka tidak sampai. Saya bertemu dengan Oom, Tante, dan dua anaknya yang sudah tiga tahun tidak saya temui. Bahkan saya belum pernah bertemu sama sekali dengan anaknya yang kecil karena saat itu masih dalam kandungan ibunya. Kita berpelukan seperti Teletubbies, dan setelah itu, lenyaplah kekesalan perjalanan ke kota ini.

Saya liburan dulu yah. Nanti kalau ada cerita2 yang asyik, pasti saya tuliskan di sini.

4 comments:

  1. Happy Holiday yah dear... have fun :D

    ReplyDelete
  2. oooh berat juga perjalanannya..tapi syukurlah sampe dg selamat tanpa tertunda kopernya. aku ngalamin sekali. dari newark ke seat-tac. duuuhhh...ngantuk, lapar, tengah malam buta...

    met liburan yaaa

    ReplyDelete
  3. So, Non...
    You leave WI for good already eh?

    ReplyDelete