Friday, November 17, 2006

Menanggapi Tulisan Elka

Dari tulisan di bawah, Elka tulis komen yang menurut saya bagus. Jadi cocok buat dikembangan jadi topik hangat hehehe... Begini isinya.

"We're only 1 hour drive away and look how different things are. For your information, your city Non, is rated as one of the most segregated cities across the nation. In my town (and your town, just a few years ago), malah orang item yang bakal dikeroyok (coz they're quite a minority). I guess this also depends on the size of the city and the education level african americans have.

Anyways that goes back to the dark ages of American history and slavery; they were treat as non-humane, Non (jadi inget Soc 134). There are pretty many reasons why they are what they are now (bukan artinya gw memihak mereka), but just don't stereotype. There are outstanding african americans out there. Coz we're minorities too, and we know (by experience) that the majority also have all the power to act just the way they want. "

First, it's true that Milwaukee is the most segregated city in the whole United States ! Di bagian utara dan barat kota ini, isinya orang orang hitam. Di timur, isinya orang orang putih dan kaya, socialite lah istilahnya. Di selatan isinya orang orang latino dan asia.

Maaf Ka, saya nggak lagi stereotyping kok. Sama sekali nggak. Tetapi saya hanya menyampaikan uneg-uneg yang terjadi di depan mata. Makanya di tulisan kemarin, saya minta maaf dulu sebelum melanjutkan dengan isinya. Saya juga udah pernah ngerasain kok gimana rasanya pas saya di Greenbay yang isinya orang leher merah, saya dikatain "F" word dan mau dilemparin bungkus rokok. Mungkin kalau hidup di Madison, saya juga akan setuju 100% dengan apa yang kamu tulis, Ka. Mungkin kamu baca di buku, dengan lecture, nonton video. Apalagi Madison kotanya clean, kriminalitas rendah, jadi nggak kelihatan semuanya itu. Tapi kalau melihat kenyataannya di sini, saya juga punya beberapa alasan kenapa semua teori itu tidak bisa berlaku begitu saja.

Sudah dua tahun terakhir, saya datang ke conference tentang teen pregnancy di Milwaukee. Kota ini adalah kota dengan rate teen pregnancy paling tinggi di Amerika. 70% dari teen pregnancy itu adalah korban pelecehan seksual. Mayoritas dari mereka adalah African American, lalu kedua adalah Latino. Setiap datang ke conference itu, saya dijejali dengan angka2, dengan statistik, dengan lecture dari berbagai pakar, professor, tokoh masyarakat, gimana caranya untuk memberantas teen pregnancy. Hasilnya ? Tetep saja kota ini nggak maju maju. Hampir nggak bisa mengubah angka statistiknya itu selama bertahun tahun. Makin parah malah. Uang sumbangan, sepertinya malah dipakai untuk administrasi, untuk bikin research supaya bisa dapat angka2 statistik, instead of dipakai untuk terjun langsung ke masyarakat. Jadi kalau cuma melihat dari buku, dari lecture, susah banget Ka untuk mengungkapkannya. Yang ada kita jadi miris, bersimpati, tapi nggak tau mau ngapain juga.

Kenapa banyak minoritas yang maju ? Even orang kantor saya di sini mengakui kok, leader2 kita di corporate itu justru yang minoritas (African American, Asian, Native American, etc). Itu karena yang minoritas mau berusaha going over the board. Untuk mencapai ke sana, kita harus usaha lebih dan kita harus bisa membuktikan kalau kita mampu bersaing. Mungkin dibutuhkan usaha yang lebih giat daripada mayoritas, tapi kita bisa, kita mampu, dan sudah banyak buktinya. Di Indonesiapun juga sama. Yang keturunan juga harus berusaha lebih giat. Mau kuliah di universitas negeri saja pakai diseleksi kok sukunya. Makanya nilai harus diusahakan setinggi mungkin, akhirnya ujung2nya banyak yang hebat, begitu hebat dicemburuin. Susah kan ? Nggak di sini nggak di Indonesia sama saja.

Masalah yang terjadi di Milwaukee ini nggak bisa disamakan dengan kota lain di Amerika. Semua orang di sini menyadari hal itu. Struktur kota ini saja sudah beda (seperti yang Elka juga bilang kalau kita di sini itu dipetakan). Yang saya pertanyakan di sini adalah, mengapa anak anak generasi mudanya tidak bisa berusaha memperbaiki diri. Nggak usah sampai jadi bos, mannernya saja sudah nggak ada. Kalau dibilang mereka tidak dapat kesempatan yang sama, siapa bilang ? Mereka punya sekolah, tapi malah kabur dari sekolah dan bersenang2 nongkrong di pom bensin. Mereka punya uang, tapi uangnya dipakai untuk beli barang barang tak berguna seperti jam tangan dan tas bermerek instead of sekolah. Tuh kan, jadi kedengaran seperti stereotyping. Mereka punya tenaga, tapi nggak mau berusaha bekerja, malah malakin orang orang. Kenapa saya salut dengan Latino walaupun kadang norak juga (suka pakai mobil blink2 dan dandan nggak karuan), mereka itu jauh lebih rajin bekerja. Walaupun mereka nggak bisa simpan uang alias dibeliin mobil, tapi paling nggak itu uang mereka, bukan hasil malak.

Permasalahan seperti ini ibarat ayam dan telur. Tak ada yang tahu pasti mulainya dari mana. History memang ada pengaruh besar. Tetapi kita kan mau maju ke depan, dan susah kalo hanya berpatokan pada masa lalu. Kalau kita cuma berpatokan pada masa lalu, nggak baik juga. Kesannya seperti punya hutang kepada orang yang dulu kita tindas, endupnya terciptalah affirmative action yang sampai sekarang tetap saja menjadi perdebatan. Toh hidup itu jalannya maju, bukan mundur. Memang betul kalau mayoritas memegang peranan penting dalam mengatur kehidupan bermasyarakat, tapi justru sebagai minoritas kita bisa menjadi orang yang lebih outstanding jika kita berusaha dan berhasil.

Memang kedengaran asik kalau semua manusia di dunia ini sama. Tapi apa jadinya dunia tanpa perbedaan ras ? Membosankan bukan ?

Just my two cents.

2 comments:

  1. Well written, Non. Great points.
    Seems this problem won't end. But I do agree with you : if all the people are the same, world will be boring :)
    Anyways, gw setuju banget sama yang eloe bilang : minoritas harus bisa bersaing supaya dipandang. I think this is globally correct : all minorities should have thought about this, coz this is so possitive.

    ReplyDelete
  2. well aku gak ngerti artinya jadi numpang lewat aja deh

    ReplyDelete