Thursday, November 30, 2006

Cerita Thanksgiving Minggu Lalu

Sebagai sebuah tradisi di Amerika, makan malam Thanksgiving adalah saat yang sangat special. Makan malamnya itu sendiri jauh lebih meriah dan heboh dibandingkan dengan makan malam di saat natal. Biasanya, satu keluarga berkumpul di di meja makan utama, dan makanan wajibnya adalah turkey with stuffing and cranberry sauce, mashed potato, corn bread, green bean casserole with fried onions, dan ditutup dengan pumpkin pie. Saya sebetulnya ingin menerjemahkan nama semua makanan itu ke dalam bahasa Indonesia, tapi mashed potato diganti jadi kentang hancur atau pumpkin pie diganti jadi pai labu kok tidak kedengeran nikmat.

Walaupun sebetulnya makan malam thanksgiving itu dilaksanakan pada hari Kamis malam, tetapi kita anak-anak Indonesia di sini merayakannya hari Jumat malam, karena sebagian orang juga merayakan thanksgiving tradisional pada hari Kamisnya. Menunya bukan kalkun, tapi kita mengadakan potluck masakan Indonesia dan sekitarnya. Kenapa saya bilang sekitarnya ? Karena ada yang bawa sushi dan kwetiau yang pasti bukan makanan Indonesia.

Rabu siang saya dan Romo Kun, salah satu pastor Indonesia yang bersekolah di sini pergi membeli ikan segar untuk bikin ikan saus asam pedas. Kami membeli 4 ekor ikan putih yang terlihat mirip bandeng. Lalu kejutannya, kamu menemukan frog leg alias kaki kodok, sebuah delicacy Perancis yang harganya di sini mahal ngajubile, padahal kalau di Indonesia tinggal tangkap di sawah. Setelah itu kami belanja ke toko makanan asia untuk beli perlengkapan lainnya. Mulai rabu malam itu saya nyicil untuk masak sedikit2.

Jumat itu, saya masih terus melanjutkan masak2 di tempat si Romo. Ternyata, bikin fillet ikan segar itu nggak gampang. Mana pisaunya nggak ada yang tajam. Tapi untung pada akhirnya berhasil juga. Jadi sore itu saya siap dengan: Ikan goreng saus asam pedas, kodok goreng saus mentega, lumpia goreng, kue sus, dan wedang ronde isi kacang. Gile, membuat ratusan onde yang diisi individually dengan ting2 kacang yang dihancurkan itu mengakibatkan saya jadi cukup telaten tapi pegalnya nggak ketulungan.

Makin sore, teman2 beserta makanannya mulai berdatangan. Selain lima macam masakan tadi, masih ada martabak telur, sushi, ayam begana, ayam panggang kecap, ayam pedas, nasi kuning, lemper, kwetiaw goreng lapciong, kwetiau goreng sapi, ribs, cah udang sayuran, empal, emping manis, bubur sum sum, ketan hitam, kue strawberry, dan lain2 yang saya lupa. Intinya, meja sampai nggak muat, sampai semua harus dipisah2.

Malam itu kita banyak sekali bersyukur, bukan hanya karena banyak makanan, tapi karena kami sekali lagi bisa merasakan kebersamaan. Bagi kami di Milwaukee, Thanksgiving adalah saat di mana kami sebagai sebuah komunitas bisa berbagi cerita, saat kami bisa bereuni dan relax dari kesibukan masing masing.

Buat yang sekarang lagi ngiler2, maaf, makanannya sudah habis...hiks hiks hiks...

2 comments:

  1. "Malam itu kita banyak sekali bersyukur, bukan hanya karena banyak makanan, tapi karena kami sekali lagi bisa merasakan kebersamaan."

    Hehehe... lucu.
    Happy Thxgivin juga Non.

    ReplyDelete
  2. waaaaaaaa makanan indoneya lebih nafsuin neh drpd turkey dkk

    ReplyDelete