Posts

Showing posts from November, 2006

Cerita Thanksgiving Minggu Lalu

Sebagai sebuah tradisi di Amerika, makan malam Thanksgiving adalah saat yang sangat special. Makan malamnya itu sendiri jauh lebih meriah dan heboh dibandingkan dengan makan malam di saat natal. Biasanya, satu keluarga berkumpul di di meja makan utama, dan makanan wajibnya adalah turkey with stuffing and cranberry sauce, mashed potato, corn bread, green bean casserole with fried onions, dan ditutup dengan pumpkin pie. Saya sebetulnya ingin menerjemahkan nama semua makanan itu ke dalam bahasa Indonesia, tapi mashed potato diganti jadi kentang hancur atau pumpkin pie diganti jadi pai labu kok tidak kedengeran nikmat. Walaupun sebetulnya makan malam thanksgiving itu dilaksanakan pada hari Kamis malam, tetapi kita anak-anak Indonesia di sini merayakannya hari Jumat malam, karena sebagian orang juga merayakan thanksgiving tradisional pada hari Kamisnya. Menunya bukan kalkun, tapi kita mengadakan potluck masakan Indonesia dan sekitarnya. Kenapa saya bilang sekitarnya ? Karena ada yang bawa

Indian Thriller

Komen saya cuma satu: HAHAHAHAHAHA.....

Minggu dan Senin Kemarin....

Hari Minggu itu, saya sudah janjian dengan teman saya untuk mencuci mobil di tempatnya. Maklum deh, tempat parkir saya itu tidak mempunyai area untuk mencuci mobil, sementara di tempat teman saya ada garasi dan selang air, jadi bisa untuk cuci mencuci. Sepulang gereja, saya cuci mobil ditempatnya, mulai dari bodi luar, sampai ke dalam semua kinclong dan wangi. Setelah selesai cuci mobil, saya ditelepon teman saya untuk mengajak makan di tempat Romo (pastor) bersama teman2 yang lain. Jadi deh saya makan siang bareng. Lagi enak-enak makan, tiba-tiba saya seperti mengigit tulang kecil, padahal makanan saya hari itu nggak ada yang pakai tulang. Lalu setelah itu berasa seperti ada yang nyangkut di gigi. Tapi ternyata setelah pakai tusuk gigi, nggak ada sisa makanan. Sampai di rumah, saya cek gigi saya, ternyata bagian belakang gigi depan saya itu bolong seperti ada huruf 0 ! Iya..beneran bolong. Ternyata yang saya gigit kayak tulang itu gigi saya sendiri. Saya langsung panik, lantaran say

Menanggapi Tulisan Elka

Dari tulisan di bawah, Elka tulis komen yang menurut saya bagus. Jadi cocok buat dikembangan jadi topik hangat hehehe... Begini isinya. "We're only 1 hour drive away and look how different things are. For your information, your city Non, is rated as one of the most segregated cities across the nation. In my town (and your town, just a few years ago), malah orang item yang bakal dikeroyok (coz they're quite a minority). I guess this also depends on the size of the city and the education level african americans have. Anyways that goes back to the dark ages of American history and slavery; they were treat as non-humane, Non (jadi inget Soc 134). There are pretty many reasons why they are what they are now (bukan artinya gw memihak mereka), but just don't stereotype. There are outstanding african americans out there. Coz we're minorities too, and we know (by experience) that the majority also have all the power to act just the way they want. " First, it's

Nggak Berperasaan

Maaf kalau misalnya dengan tulisan ini ada yang menganggap saya rasis. Saya hanya mau cerita pengalaman saya kemarin yang betul betul membuat hati saya miris dan dongkol. Kemarin pagi, karena saya tidak bertugas di client, saya memilih untuk naik bus kota. Pas saya masuk, semua kursi yang bagian depan alias untuk orang tua dan orang cacat sudah diduduki oleh anak anak muda kulit hitam yang bergaya hip hop. Di kota saya ini, populasi orang berkulit hitam memang banyak sekali, dan mereka itu gayanya minta ampun. Pakai bling2 banyak banget, lalu pasti di telinganya ada headphone untuk walkman atau ipod. Yang cewek2, pasti lengkap dengan cellphonenya dan berbicara dengan keras. Saat itu bus betul betul penuh, jadi saya hanya berdiri saja sambil pegangan tiang. Di stop-an selanjutnya, masuklah seorang nenek nenek tua renta. Tubuhnya bungkuk, berjalan saja susah. Dia membawa dua kantong belanjaan. Tak ada satupun dari anak anak itu yang memberikan kursinya kepada si nenek. Si nenek sampai

Kehilangan

Hari ini teman baik saya di kota ini kehilangan ayahnya tercinta. Peristiwanya mirip sekali dengan saat saya ditinggalkan oleh papa hampir 5.5 tahun yang lalu. Ayahnya terkena stroke mendadak, dan setengah jam kemudian meninggalkan dunia ini untuk selamanya. Walaupun saya pernah merasakan hal yang sama, saya tetap merasa miris dan sedih. Apalagi teman saya ini sudah membayangkan kalau menikah nanti ingin diwalikan oleh ayahnya. Saya bangun jam 3.30 pagi oleh dering telepon dan mendengar isak tangisnya. Saya tak bisa melakukan apa apa, hanya bisa berdoa dan membantu dia untuk mencari tiket darurat untuk dia, kakak, dan adiknya. Puji Tuhan, setelah berjuang selama 9 jam dengan berbagai penolakan dari beberapa travel agents, tiga tiket pulang akhirnya ditangan. Hari ini, saya menjumpai teman saya yang rapuh, berusaha untuk terus tegar dan tidak menangis. Tapi saya tak tau apa yang akan terjadi saat dia bertemu dengan jenasah ayahnya Kamis sore nanti. Kita tidak akan pernah tau, kapan

Keputusan Besar

"Ah, yang bener ?" Kata co worker saya saat saya memberitahukan keputusan besar itu. "I'm very happy for you...." Katanya lagi. Saya cuma tersenyum, dan memikirkan, betapa banyakanya persiapan yang harus saya lakukan. Saya pun mulai pusing tujuh keliling.