Wednesday, May 10, 2006

Professor Yang Satu Ini


Lihatlah wajah guru saya yang satu ini. Mukanya agak keras, tapi juga nampak bijak. Pipinya agak bulat seperti tomat. Dialah Professor saya, Larry Rittenberg namanya. Dia adalah professor yang telah membuat saya menderita, tapi berangsur angsur membuat saya bahagia. Sejak kelulusan saya di tahun 2004, akhirnya di penghujung April lalu, saya kembali bertemu dengannya dalam acara lelang di sekolah. Perawakannya masih tetap sama, dengan tambahan beberapa pounds di daerah perutnya. Begitu kami bertatap wajah, tak ayal menjadi sebuah reuni pelepas rindu. Kabar saya mungkin sudah banyak berubah, tapi dia masih tetap mengajar kelas yang sama walaupun beberapa gelar kehormatan makin bertambah di pundaknya karena dedikasinya yang luar biasa terhadap dunia Accounting. Berikut, saya ceritakan kisah saya bersama Professor yang paling memberikan kesan mendalam bagi saya selama duduk di bangku kuliah.

"Professor Rittenberg's class is difficult!" Begitu kata teman-teman seperjuangan saya, saat saya mencoba mendaftar kelas yang dipimpin olehnya. "It's better to take this class with other professor." Tapi dasar kadar penasaran saya yang tinggi, ditambah lagi hanya jam kelasnya yang cocok dengan jadual saya saat itu, saya tetap mendaftar. Spring 2004 dimulai, dan seperti saya ceritakan sebelumnya, saya terserang cacar selama tiga minggu. Ujian pertama saya di kelasnya gagal total. Sayapun diminta untuk menghadap.

Lalu dia mulai komen: "You know what Leony, I don't think you're ready for this class. I believe it's better for you to wait and take this class with other professor."

"But, Sir, I really would like to try. This is only my first exam, and I was sick before".


Dia menjawab dengan ketus: " I forgave you for your three weeks absences. There is no reason for you to fail this exam if you want to be an auditor."

Bener juga yang teman-teman bilang, kalau guru ini memang sangat susah ditangani. Dia tidak menerima alasan kalau saya sakit selama tiga minggu. Ujian kedua dikembalikan, walaupun nilai saya mengalami perbaikan, tetapi masih jauh dari yang diharapkan untuk mengkompensasi nilai sebelumnya.

"Leony, I'll give you an offer. I know this time is already late for you to drop this class, but I'm going to talk to the administrator so you can drop this class even though it's after the due date."

TIDAKKK !!! Setelah berjuang susah payah untuk ujian kedua, saya dipaksa untuk meninggalkan kelas tersebut. Saya pun memohon-mohon padanya, saya berjanji untuk mendapatkan paling tidak B plus untuk ujian final supaya saya bisa melewati kelas ini. Setiap kali membuat peer, saya khusus datang ke kantornya untuk berkonsultasi, dan tidak habis habisnya dia menawarkan pilihan yang sama karena baginya saya hampir tak ada harapan.

Di bulan April 2004, organisasi accounting di kampus mengadakan lelang besar. Sebagai salah satu barang yang dilelang, saat itu saya menyumbang tenaga untuk membuatkan makan malam lengkap ala Indonesia untuk sang penawar tertinggi. Saya sampaikan hal itu kepada si professor karena dia bilang dia akan menghadiri lelang. Malam lelangpun tiba. Suasana sudah betul betul seperti di balai lelang. Dengan seorang auctioneer professional yang bicara lebih cepat dari kereta api, hampir tidak kelihatan siapa siapa saja yang sebetulnya menawar. Sampai akhirnya giliran masakan saya mulai ditawar. Harga dibuka dari $50, lalu naik dan naik dan naik terus dengan kelipatan $5, sampai akhirnya sang penawar tertinggi berhasil mendapatkannya seharga $175. Setelah lelang selesai, saya baru tau, ternyata, si Professor Rittenberg adalah pemenangnya.

Spring semester 2004 pun berlalu dengan melelahkan. Kelas sang professor berhasil saya lalui walaupun nilainya biasa saja. 13 Juni 2004, hari memasak itupun tiba. Tak disangka, dibalik kekejamannya di sekolah, sang Professor adalah orang yang sangat hangat di rumah. Istrinya yang juga seorang guru juga tak kalah ramahnya.

Sejak makan malam yang berkesan itu, setiap kali dia bertemu dengan saya, dia tidak pernah lupa menyebutkan pengalamannya mencoba makanan Indonesia. Bahkan dia membuka rahasia, kalau sebetulnya dulu istrinya sempat marah saat dia membayar $175 dolar untuk makan malam itu. Istrinya hanya memberi jatah $120 dolar. Tetapi si Professor betul betul ingin melihat sisi lain dari diri saya, dan dia terus menawar sampai dia jadi pemenang.

Fall semester 2004 adalah semester terakhir saya. Saat saya sudah menerima tawaran dari sebuah perusahaan, tawaran tersebut hampir dicabut karena kartu ijin kerja saya tak kunjung tiba. Saya hanya bisa menangis dan mengadu kepada sekolah karena saya sudah membatalkan interview2 saya di perusahaan lainnya. Ternyata, pihak sekolah meminta Professor Rittenberg untuk bicara dengan pihak perusahaan. Pembicaraan berhasil, dan akhirnya saya dipastikan bisa masuk kerja walaupun terlambat satu bulan. Tak disangka, dia jadi dewa penolong saya.

2 tahun berlalu, di lelang 27 April 2006 kemarin, rasanya semua kenangan saya bersama si Professor ini hadir kembali di kepala saya. Si Professor bercerita, kalau sebelum dia berangkat ke lelang, istrinya sudah berpesan untuk kembali membeli tawaran saya. Tapi si Professor bilang, kalau saya sudah lulus dan sudah bekerja, jadi tidak mungkin ada tawaran itu lagi. Kita berdua tertawa lepas.

Di ruang lelang itu, dia masih saja berpromosi kepada orang orang, kalau makanan yang saya masak dua tahun lalu itu is one of the best meal he's ever had. Ternyata, sang professor yang tadinya begitu kejam di mata saya, adalah orang yang begitu berjasa dalam hidup ini. Dan saya, muridnya yang tidak pintar dan dipaksa keluar dari kelasnya, ternyata sudah menjadi seorang akuntan. Dunia memang aneh tapi nyata.

7 comments:

  1. btw, dikau masak apa waktu itu say?

    ReplyDelete
  2. umm..mukanya mirip habibie dikit hehe

    ReplyDelete
  3. Bunda Inong >> Waktu itu aku masak apaan yah ? Tahu Isi, Pempek Kapal Selam, Sate Ayam, Sambel Goreng, Nasi Uduk, Empal Daging, Pisang Bakar Coklat Keju, sama Pudding Almond Tahu pake Buah. Banyak yak hahaha..(kalo inget, dulu kok tenaga banyak bener yah. Sekarang lemesh...)

    Dian >> Mukanya mirip, otaknya juga tokcer banget deh ! Tahun lalu dia dinobatkan jadi one of 100 most influential persons in the accounting profession di US. Ckckckck..

    ReplyDelete
  4. wah masaknya banyak banget leony... bisa bikin pempek juga yah ?? duh kayaknya enak2 tuh makanan nya...

    ReplyDelete
  5. Puding Almond?? nyam nyam :D pinter banget sih masaknya.. kursus dimana? xixixixi..

    ReplyDelete
  6. wow menu pas makan2 di rumah prof. nya bikin laper...

    senang membaca ada guru yang bisa akrab nian dengan muridnya

    ReplyDelete
  7. Ir >> Itu aku dulu pas awal awal nyoba sempet 3 kali gagal kok sebelum menemukan formula yang pas. Odol kali formula :P

    Diyan >> Belajarnya di dapur sambil experimen, untung nggak ada kompor meleduk.

    Yulie >> Duh kalo laper maem ya... Hooh, ngga ngerti, mungkin itu namanya benci tapi rindu kali yah.

    ReplyDelete