Thursday, March 16, 2006

Sok Berkesenian

Seperti yang saya ceritakan di postingan saya sebelumnya, cita cita saya dari kecil sebenarnya adalah ingin menjadi tukang masak, atau bekerja di dalam bidang yang saya sukai seperti bidang kesenian dan sosial. Saya sangat suka menyanyi, menggambar, dan tentunya memasak dong (walaupun akhir akhir ini tangan saya agak malas untuk memasak karena sudah terlalu capai bekerja). Kesukaan saya menggambar dan berimajinasi telah membuahkan hasil yang lumayan. Beberapa gambar karya saya dulu sempat dipamerkan di art gallery UW Madison untuk percontohan karya murid, dan kesukaan saya berimajinasi sudah menghasilkan satu dapur rancangan sendiri di rumah mungil saya di Jakarta. Saya suka segala sesuatu yang berbau keindahan dan berharap kesukaan saya itu bisa saya gunakan di dalam pekerjaan saya.

Tapi yang terjadi adalah, saya bekerja sebagai auditor. Sebuah pekerjaan yang cukup kaku dan sama sekali tidak berbau kesenian. Di awal bekerja, saya merasa kurang nyaman karena saya tidak terbiasa dengan duduk di ruangan terpisah bersama dengan beberapa orang dengan berbagai dokumen menumpuk dan tersebar di atas meja. Maklumlah, saya sangat senang ngobrol dan bercanda dengan partner bicara saya. Sayangnya, beberapa co-worker memang kaku dan sulit diajak untuk santai sedikit. Semuanya menatap lurus ke dokumen, dan menganggap kalau kita mengobrol, artinya kita kurang efektif. Namun akhirnya perlahan semua mulai berubah seiring perjalanan waktu.

Saya menyadari, setiap pekerjaan, pasti ada unsur keseniannya. Seni yang saya sering terapkan adalah seni menghadapi client yang kaku dan menyeramkan. Tidak semua client senang jika ada auditor datang ke tempat mereka. Bagi mereka, kami ini adalah nyamuk pengganggu yang menyebalkan. Apalagi biasanya auditor sering meminta dokumen lah, penjelasan lah, betul betul mirip polisi. Sekaku kakunya client, pasti ada celah di mana akhirnya kita bisa menjadi teman yang akrab. Seringkali hal yang membuat kekakuan itu cair adalah senyuman kita yang selalu mengembang. Walaupun sudah dijudesin oleh client, kita harus tetap tersenyum. Kalau suasana sudah agak mencair, kita bisa ngobrol2 soal interest orang itu. Interest orang bisa dilihat dari barang barang yang ada di mejanya. Kita bisa mulai dari menanyakan kabarnya. Lalu kalau ada foto anak kecil yang lucu, kita bisa mulai dari memuji kelucuan anaknya. Nggak ada orang tua yang nggak senang kalau anaknya dipuji. Kadang kita juga bisa ngobrol soal hobinya dia seperti golf atau baseball. Walaupun begitu, kita nggak boleh lupa soal tujuan utama kita menemui dia. Tapi beneran loh, metode sok akrab itu membantu sekali untuk kita mendapatkan kemudahan hihihi..lagian, kadang kalau saya sudah lama nggak dateng ke client, mereka tiba tiba bisa kangen juga huahahhaha..

Seni selanjutnya adalah, seni menyiasati keterbatasan waktu. Dulu, saya sangat terobsesi dengan jalan jalan setiap weekend. Rasanya kalau weekend nggak kemana mana, hidup jadi nggak lengkap. Tapi sekarang semuanya itu sudah berbeda. Weekend sekarang adalah saatnya bagi saya untuk berbenah rumah, bersantai sejenak, sambil menikmati suasana tenang setelah dealing with so many people for the whole week. Karena waktu yang sempit, saya sekarang sering melakukan dual job at the same time. Misalnya, menelepon mama sambil jalan di treadmill, menyetrika sambil menonton TV, bahkan menonton DVD sambil menunggu cucian di laundry. Banyak hal bisa dijalankan secara simultaneous. Makanya, saya merasa mengatur waktupun ada seninya tersendiri di antara waktu yang sempit. Hiburan dan pekerjaan bisa diselipkan satu sama lain. Contoh nyata: Saya sekarang lagi menulis postingan ini sambil menonton Conan O Brien yang lucu dan menggemaskan itu huahahahah....

Seni satu lagi yang lumayan penting adalah seni mengatasi kantuk. Bekerja 60 jam seminggu bukanlah hal yang paling menyenangkan. Bahkan menonton acara favorit saya saja, tidak bisa saya lakukan setiap minggu. Yang paling parah adalah kalau saya sedang di dalam perjalanan dan mengantuk. Akhir-akhir ini saya menemukan cara yang sangat efektif untuk mengurangi kantuk. Caranya adalah dengan menyanyi di dalam mobil keras keras, seakan akan kita mau audisi American Idol. Bayangkan diri kita adalah seorang penyanyi kelas atas yang ditunggu tunggu penonton. Kita dituntut untuk selalu prima supaya penonton nggak kecewa. Lalu menyanyilah sekerasnya di dalam mobil. Saat di dalam mobil sendirian sebetulnya cukup menyenangkan, karena kita bisa bernyanyi sekerasnya tanpa ada yang merasa terganggu. Kadang orang bilang, mendengarkan radio adalah cara yang efektif. Tapi nggak semuanya betul loh, karena kalau siaran radio lagi monoton, kita malah jadi tambah ngantuk. Kalau kita menyanyi, kita bisa latihan nafas juga, dan membangkitkan semangat.

Sekarang saya juga ngantuk nih. Tapi bukan karena saya kebosanan di mobil, tapi karena sudah pukul 12:30 subuh. Kalau yang ini, seni mengurangi kantuknya satu saja. Tidur yukkkkk !

No comments:

Post a Comment