Wednesday, March 22, 2006

Berkomunikasi Lewat Makanan


Dua minggu lalu saya berada di Madison untuk bekerja. Kebetulan anggota team saya terdiri dari orang orang yang cukup adventurous kalau soal makanan. Team kami terdiri dari tiga orang, ditambah satu orang teman dari team lain yang kebetulan juga sedang berada di Madison. Kombinasi empat orang ini cukup unik karena kami semua berasal dari negara dan wilayah dunia yang berbeda. Saya berasal dari Indonesia yang mewakili Asia, Laura berasal dari Amerika Serikat yang mewakili Amerika Utara, Iana berasal dari Bulgaria yang mewakili Eropa, dan Emir berasal dari Chile yang mewakili Amerika Selatan.

Betapa senangnya saya hari itu, saat teman teman saya mengusulkan kalau kita mencoba makanan Indonesia. Saya langsung bersemangat karena di Madison ada restaurant Indonesia autentik yaitu Restaurant Bandung. Teman teman sayapun sangat antusias, karena bagi mereka ini adalah hal yang seru dan menyenangkan. Saya bisa memaklumi kalau Emir dan Iana lidahnya sudah terbiasa dengan beragam bumbu. Emir yang berasal dari Chile, sudah biasa dengan yang pedas pedas. Makanan dari Bulgaria juga cukup berbumbu karena masih ada pengaruh Mediterania. Tapi saya salut pada Laura, karena umumnya teman teman saya yang dari Amerika terutama yang asalnya dari kota kecil di Wisconsin, paling anti makanan berbumbu. Tapi si Laura memang beda, dan dia sangat berbahagia saat kami memutuskan untuk mencoba makanan Indonesia. Percaya atau nggak, ada salah satu teman di tempat kerja saya yang setiap hari hanya makan submarine dan sandwich. Makan subs pun, pasti hanya ham and cheese. Teman saya itu pun mengaku kalau dia tidak pernah makan mie, dan tidak akan pernah mau mencoba makanan lain selain makanan Amerika. Sampai segitu antinya, sehingga saat saya satu team dengan dia, demi toleransi, saya terpaksa makan subs setiap hari.

Jadi malam itu spulang bekerja, kami berempat berkumpul di Restaurant Bandung di Williamson Street. Saya meminta teman teman untuk melihat dulu menunya dan menunjuk kira kira apa yang mereka suka. Saya juga terangkan kepada mereka, kalau di Indonesia, kami biasa berbagi makanan. Jadi menu kami taruh di tengah, dan masing masing orang mempunyai piringnya masing masing yang diisi dengan nasi putih. Orang Amerika biasanya lumayan egois kalau soal makan, dan jangan harap mereka mau berbagi bagi. Satu jenis menu hanya untuk diri sendiri, bahkan suami istri pun kalau makan ogah yang namanya berbagi. Setelah saya jelaskan, mereka semua mengerti, bahkan mereka sangat setuju dengan ide itu, karena dengan begitu, mereka bisa mencoba seluruh makanan yang dipesan. Emir nampak sangat ingin tahu dengan yang namanya Sate Ayam, dan Laura tergiur dengan Mie Goreng. Jadi kami masukan dua pilihan itu di dalam makan malam kami. Iana membebaskan saya untuk memilih yang kira kira enak dan pas untuk dimakan bersama.

Menu pertama kami adalah Appetizer Sampler. Di dalamnya ada dua tempe goreng, dua lumpia, dua otak otak, satu tahu isi, satu perkedel, dan satu martabak telur. Semua kami bagi rata, dan favorit mereka adalah perkedel. Menu utama yang kami pesan adalah Sate Ayam dengan lontong, Mie Goreng, Opor Ayam, Pepes Ikan, Gado Gado, dan satu keranjang kerupuk. Saya juga promosikan kalau Opor Ayam adalah pemenang Taste of Madison di tahun 2005 sebagai Best Ethnic Dish. Setiap orang punya favoritnya masing masing. Laura masih tetap jatuh cinta pada Mie Gorengnya yang dia bilang betul betul berbeda dengan Chow Mien di restaurant Chinese. Iana tidak bisa lepas dari Sate Ayam, dan dia menghabiskan tiga tusuk, yang berarti setengah porsi. Kalau Emir suka semuanya, sampai dia tidak bisa memilih yang mana yang paling enak.

Kebetulan juga, di restaurant Bandung ada seperangkat angklung. Saya meminta ijin kepada sang pemilik restaurant untuk iseng memainkan alat musik tersebut. Saya cuma menggetarkan angklung do re mi fa so la ti do, lalu teman teman bertepuk tangan karena mereka kagum dengan seperangkat alat musik bambu itu (bukan karena saya main angklungnya jagoan hehehe). Di akhir makan malam, Laura ditantang oleh Emir untuk makan satu butir cabe rawit. Laura yang memang petualang, menyanggupi ajakan Emir, dan yang terjadi adalah, dia kepedasan luar biasa, dan langsung menyantap sisa mie goreng dengan lahap.
Ditemani oleh sebotol anggur merah, makan malam kami hari itu merupakan perjalanan lintas budaya yang betul betul menggairahkan. Senyuman kami terus mengembang, dan saya tidak berhenti-henti untuk menjelaskan setiap makanan yang mereka lahap. Saya betul betul bangga akan kekayaan negeri kita tercinta. Teman teman saya yang latar belakangnya mirip gado gado tersebut tidak ada bosannya berkomentar tentang nikmatnya makanan Indonesia bahkan sampai keesokan harinya di kantor. Mereka juga berterima kasih telah diperkenalkan kepada sesuatu yang baru, yang telah membuka mata mereka soal Indonesia.

Banyak orang bilang, kalau musik bisa mempersatukan dunia. Bukan hanya musik, makanan juga bisa mempersatukan dunia. Ditengah pandangan dunia yang kurang baik tentang Indonesia, apresiasi bisa dibina lewat makanan. Banyak orang Indonesia sendiri yang mulai bergeser citarasanya jadi kebarat-baratan. Banyak yang mulai menghindari gado gado atau karedok karena dianggap makanan orang kampung. Padahal itulah kekayaan negeri kita, yang seharusnya kita lestarikan.

Orang Indonesia mungkin kalah bersaing dengan orang Amerika kalau soal senjata atau teknologi. Tapi kalau disuruh lawan orang Amerika makan tahu isi pake cabe rawit, SIAPA TAKUT ?!

PS: Terima kasih untuk Pak Roni sekeluarga dengan Restaurant Bandung-nya.

No comments:

Post a Comment