Posts

Showing posts from March, 2006

Indomie Selerakuuuu...

Image
Bukannya saya mau promosi mie instant yang diproduksi oleh Indofood itu. Hari ini saya lagi kepingin ngomongin makanan dan bumbu Indonesia yang kadang membuat kita mengelus dada untuk mencarinya di Milwaukee. Gara-garanya, beberapa minggu lalu saya memasak Mie Goreng ala Indonesia untuk dibawa ke pertemuan kelompok gereja. Lalu salah satu teman saya nanya resepnya, dan dia minta dijelaskan secara detail. Semua bumbu yang saya gunakan mudah ditemukan di sini, kecuali satu: Kecap Manis. Terakhir saya membeli kecap manis ABC dalam kunjungan saya ke Madison. Kecap ABC tidak sama rasanya dengan kecap Thailand yang banyak dijual di supermarket Asia di sini. Kecap Thailand itu nggak enak deh, dan nggak sekental kecap manis Indonesia. Makanya saya cukup bingung untuk mencari bahan pengganti yang bisa digunakan teman saya untuk menggantikan kecap ABC. Akhirnya saya menyerah, dan saya bilang, nanti kalau saya ke Madison lagi, saya beliin satu botol.

Begitu sulitnya mencari makanan kesukaan kita …

Berkomunikasi Lewat Makanan

Image
Dua minggu lalu saya berada di Madison untuk bekerja. Kebetulan anggota team saya terdiri dari orang orang yang cukup adventurous kalau soal makanan. Team kami terdiri dari tiga orang, ditambah satu orang teman dari team lain yang kebetulan juga sedang berada di Madison. Kombinasi empat orang ini cukup unik karena kami semua berasal dari negara dan wilayah dunia yang berbeda. Saya berasal dari Indonesia yang mewakili Asia, Laura berasal dari Amerika Serikat yang mewakili Amerika Utara, Iana berasal dari Bulgaria yang mewakili Eropa, dan Emir berasal dari Chile yang mewakili Amerika Selatan.

Betapa senangnya saya hari itu, saat teman teman saya mengusulkan kalau kita mencoba makanan Indonesia. Saya langsung bersemangat karena di Madison ada restaurant Indonesia autentik yaitu Restaurant Bandung. Teman teman sayapun sangat antusias, karena bagi mereka ini adalah hal yang seru dan menyenangkan. Saya bisa memaklumi kalau Emir dan Iana lidahnya sudah terbiasa dengan beragam bumbu. Emir yang…

Sok Berkesenian

Seperti yang saya ceritakan di postingan saya sebelumnya, cita cita saya dari kecil sebenarnya adalah ingin menjadi tukang masak, atau bekerja di dalam bidang yang saya sukai seperti bidang kesenian dan sosial. Saya sangat suka menyanyi, menggambar, dan tentunya memasak dong (walaupun akhir akhir ini tangan saya agak malas untuk memasak karena sudah terlalu capai bekerja). Kesukaan saya menggambar dan berimajinasi telah membuahkan hasil yang lumayan. Beberapa gambar karya saya dulu sempat dipamerkan di art gallery UW Madison untuk percontohan karya murid, dan kesukaan saya berimajinasi sudah menghasilkan satu dapur rancangan sendiri di rumah mungil saya di Jakarta. Saya suka segala sesuatu yang berbau keindahan dan berharap kesukaan saya itu bisa saya gunakan di dalam pekerjaan saya.

Tapi yang terjadi adalah, saya bekerja sebagai auditor. Sebuah pekerjaan yang cukup kaku dan sama sekali tidak berbau kesenian. Di awal bekerja, saya merasa kurang nyaman karena saya tidak terbiasa dengan …

My Almost First Speeding Ticket

Image
Selama 4 tahun saya menyetir di negara ini, tidak pernah sekalipun saya tertangkap dalam keadaan ngebut. Memang saya tidak selalu menyetir pada speed limit terutama kalau sedang di highway. Soalnya kalau pada speed limit, yang ada malah saya nggak nyampe nyampe dan bakalan bete disusul oleh seluruh mobil. Umumnya pada speed limit 65, saya bisa melaju sampai 85 mil per jam.

Pengalaman saya distop oleh polisi pertama kali adalah tahun 2003 di Madison. Saat itu sekitar pukul 1 pagi dan saya baru kembali dari berolahraga di fitness center. Waktu itu saya betul betul kaget karena kali pertama ada polisi menyalakan sirene dan mengejar saya. Dalam keadaan pasrah, saya minggir. Di Amerika sini, kalau sudah disetop oleh polisi, kita tidak boleh macam macam. Kita harus diam saja di dalam mobil. Kalau sampai kita berusaha membuka pintu atau melarikan diri, polisi bisa langsung mengejar dan menembak di tempat. Ihhh..serem buanget... jadilah saya berusaha menenangkan diri. Ternyata oh ternyata, say…

Pengen Maraaaaahhh !!

Baru kali ini saya bekerja dengan atasan yang ngajubileh nyebelinnya. Karena saya bingung harus mulai dari mana, saya urutin saja satu persatu kekesalan saya.

1. Sebetulnya minggu ini saya nggak dijadualkan bekerja di client yang ini. Tapi gara2 si atasan jelek itu mengingingkan seseorang yang ada extra pengalaman untuk membantu dia dan satu staff lainnya, maka ditariklah saya untuk mulai bekerja pada hari Selasa. Dia minta saya sampai di client pukul 8 pagi, jadi saya berangkat pukul 6.45 dari rumah. Saya pikir, karena dia sudah dari kemarin berada di client, saya sebaiknya memang berangkat pagi, karena dia pasti sudah sampai duluan. Ternyata, dia baru sampai pukul 8:35 !

2. Saat mulai bekerja, dia tidak memberikan instruksi apa apa. Dia malah menyombongkan diri kalau di negaranya dia sudah jadi seorang senior manager, jadi kerjanya hanya merintah-merintah saja. Sementara karena sekarang dia ikut global exchange program, dia sengaja minta "diturunin" pangkat jadi senior (2 st…

Sogok , Nyodok, dan Expedite Service

Image
Saat saya masih di Indonesah tercintah tanah tumpah darah yang indah mulia, yang namanya bikin Surat Ijin Mengemudi atau paspor adalah hal yang paling menyebalkan. Selain tentunya fasilitasnya kurang memadai, panas nggak kira kira, manusia berjubel kadang sodok sana sodok sini, yang paling membuat jengkel adalah manusia manusia di belakang loket yang kerjanya lele dumbo alias leletnya minta ampun.

Pertama dan terakhir saya bikin SIM di Indonesia which is when I was 17 yrs old (oh my God it's almost 7 yrs ago !!), saya dan teman teman dibantu oleh Ulisa, sekolah menyetir pada jaman itu. Bayarnya kalau nggak salah dua kali lipat dari biaya resmi, dan janjinya, bakalan lebih cepat selesai. Oh iya, begitu sampai di Komdak dan turun dari mobil, ada kali 5 orang calo nawarin saya untuk mengurus SIM: "Ayo Dek, sama saya aja, cepet Dek...bla bla bla bla.." Tapi karena saya sudah bayar ke Ulisa, saya melaju terus menghindari para calo yang mulutnya sampai berbusa membujuk saya. Wa…