Sunday, December 31, 2006

Lebih dari 24 Jam Dikelilingi Oleh Tangisan Bayi

Penerbangan saya dari San Francisco kali ini betul-betul unik. Apa saja uniknya ? Nih kita lihat satu2.

Seharusnya rute perjalanan kita adalah: San Francisco – Hong Kong – Singapore – Jakarta. Sepuluh menit sebelum pesawat boarding dari San Francisco, sang pilot membuat keputusan eksekutif kalau rutenya diubah menjadi: San Francisco – Taipei – Hong Kong – Singapore – Jakarta. Penyebabya adalah ada angin kencang yang membuat kapal bergoyang (turbulence) dengan kecepatan lebih dari 100 mph alias 160 kmh yang arahnya berlawanan dengan arah penerbangan kita. Hal tersebut mengakibatkan pesawat menggunakan lebih banyak bahan bakar dari biasanya. Jika penerbangan dipaksakan langsung dari San Francisco ke Hongkong, kemungkinan kita kehabisan bahan bakar di tengah jalan, dan pesawatnya bisa jatuh mendadak… syerem banget !! Terpaksalah pengisian bahan bakar harus dilakukan di Taipei. Padahal jarak Taipei ke Hong Kong itu kurang dari 1.5 jam penerbangan. Rupanya karena angin kencang itu, tangki avtur tidak mampu menambah 1.5 jam extra. Akibat lanjutannya adalah, penerbangan sisanya jadi terlambat semua. Untunglah pada saat sebelum boarding di San Francisco, saya sempat hubungi mama di rumah untuk cek ke kantor Singapore Airlines di Jakarta untuk memastikan waktu kepulangan saya, karena cellphone saya kan nggak bisa dipakai di Taipei, Hong Kong, maupun Singapore.

Saat saya mengantri untuk check in bagasi di SFO, saya cuma bisa bengong karena saya tidak berasa sedang di kota San Francisco, tapi di New Delhi atau Mumbai. 90 persen penumpang dari SFO adalah orang India. Saya sudah membayangkan, kalau pesawatnya bakalan bau bawang hiks hiks hiks… Syukurlah ternyata banyak di antara mereka adalah orang India modern yang bekerja di Silicon Valley jadi software engineers, jadi bau karinya sudah berkurang banyak. Tapi tetep saja, perhiasannya masih kayak orang lebaranan. Emas dimana2, sampe silau Bo!

Di dalam pesawat, penerbangan panjang tersebut jadi terasa makin panjang saja. Satu-satunya yang membuat saya lega adalah saya dapat tempat duduk di aisle dan paling depan, jadinya kaki saya bisa dilonjorkan. Tapi tidak enaknya, saya dikelilingi oleh bayi-bayi. Sebelah kanan saya ada satu keluarga orang Hong Kong dengan bayi laki-laki. Lalu di sebelah kiri saya ada satu keluarga India dengan bayi perempuan. Di sebelah kanan sananya lagi, ada satu keluarga India dengan bayi perempuan, dan dua baris di belakang saya ada keluarga orang Hong Kong dengan bayi laki-laki. Sepanjang perjalanan, saya seperti berada di tengah tempat penitipan bayi. Kalau satu nangis, yang lain seperti koor ikut nangis juga. Kalau nggak, habis yang satu nangis, yang satunya lagi melanjutkan seperti lagu kanon. TIDAKKKK !! Saya ini pencinta anak-anak. Tapi kalau sahut menyahut seperti itu bisa bikin saya jadi gilaaaa !! Selain itu, setiap kali ada turbulence, kan bayi harus dipegang oleh ayah atau ibunya dan dipindahkan dari basinet. Dan saat saya mulai tertidur sedikit, pramugarinya bangunin saya untuk pindahkan anak bayinya dari basinet. Padahal kan itu bukan bayi saya gitu loh ! Sampe beberapa kali pula. Pramugarinya apa nggak belajar ya ? Saya merasa diselamatkan dengan In-Demand Entertainment SQ yang menyediakan ratusan Film dan CD lagu terbaru yang bisa saya pilih, lalu saya naikan volume headphone saya sekencangnya.

Sampai di bandara Changi, saya request kartu telepon untuk menelepon mama di Jakarta supaya saya bisa memastikan kalau mama sudah tau perubahan jadual penerbangannya. Bukan hanya saya dapat kartu telepon, saya juga diantar ke Gatenya naik mobil yang biasa dipakai oleh lansia. Asyik deh, saya jadi nggak perlu kerek-kerek carry on. Saya juga merasa ini bandara bukan di Singapura, tapi di Jakarta. Cuma bedanya di sini bersih kinclong, nggak seperti di Sukarno Hatta yang mirip terminal Pulo Gadung. Isinya, orang Indo semua !! Sampai saya berasa sudah sampai kampung halaman sebelum saya menginjakan kaki di Jakarta. Sambil menunggu boarding, saya tulis entry ini di Microsoft Word. Nanti saya posting kalau sudah sampai di Jakarta. Entry ends at December 29, 2006, 3:06 PM Singapore Time.

Wednesday, December 27, 2006

Warning !!!

Kalau anda jalan jalan ke Disneyland selama dua hari nonstop, jangan lupa bawa sendal jepit selain sepatu anda, walaupun sekarang lagi musim dingin. Bahkan sepatu kets tidak mampu menyelamatkan anda...

Jika anda tidak membawa sendal jepit seperti saya, anda hanya bisa berpasrah untuk membeli sendal swallow di sana seharga $15 yang bersablon Mickey, Minnie, atau Tinkerbell, yang sablonannya mulai hilang2 setelah dipakai kurang dari sehari. (Padahal sendal yang mirip seperti itu biasanya cuma $1 di Target).

Jadi: Waspadalah !! Waspadalah !!

Selamat hari Natal bagi seluruh umat yang merayakannya (dan juga bagi yang ikut kecipratan hadiah Natal). Semoga damai kasih Kristus selalu meraja di hati kita, dan semoga kita semua bisa membawa terang di dunia ini.

Monday, December 18, 2006

Perjalanan ke San Francisco

Saya sudah pesan tiket jauh-jauh hari lewat agen perjalanan saya untuk tujuan San Francisco. Saat itu saya menetapkan untuk pergi ke sana tanggal 20 December. Tapi tante saya ternyata punya ide untuk pergi ke Disneyland di Anaheim sebagai hadiah ulang tahun ke-5 anaknya tanggal 21 December. Jadilah saya berniat untuk memajukan tanggal keberangkatan saya menjadi weekend ini supaya tidak terlalu melelahkan dan mepet.

Setelah Tante saya memastikan booking hotel di Disneyland, saya menelepon agen perjalanan saya untuk mengganti tanggal. Dia bilang, kalau mau confirm seatnya, harus membayar $100. Saya bilang kalau saya sedang berusaha save uang. Lalu agen itu bilang, datang saja pas hari yang saya inginkan, lalu tunggu karena ada 9 flight dari Chicago ke San Francisco. Kalau dapat, nggak usah bayar, stand by saja.

Jadilah kemarin, Sabtu tanggal 16 December, saya diantarkan oleh teman saya dari Milwaukee ke Chicago (1.5 jam perjalanan). Teman saya ini padahal repot sekali karena dia harus ke Minnesota esoknya, tapi dia masih kekeuh mau nganter saya. Saya berharap bisa naik pesawat yang pukul 5 sore. Kalau tidak, masih ada 2 penerbangan langsung lainnya ke San Francisco hari itu. Sampai di sana antrian cukup panjang. Saya akhirnya tiba juga di counter, lalu menjelaskan situasi saya. Ternyata, kata si penjaga counter, saya tetap harus bayar $100. Saya lalu kasih tau dia, kalau agen saya bilang, boleh tunggu untuk stand by dan tidak bayar. Tetapi, kata si penjaga counter, karena saya ganti hari, tidak ada pengecualian, tetap harus bayar $100. Setelah berkutat panjang, dan meyakinkan diri kalau saya siap mengeluarkan $100 dari balance kartu kredit saya, akhirnya saya merelakan $100 melayang. Saya menyimpulkan: Agen perjalanan saya itu TULALIT !! Seenaknya aja bilang boleh tunggu. Kalau tau begitu kan dari jauh2 hari saja saya confirm seatnya dan tidak perlu merepotkan teman saya untuk mengantarkan saya hari itu.

Sebelum mengeluarkan boarding pass, si penjaga counter bertanya, tempat duduk sebelah mana yang saya inginkan. Saya bilang kalau saya ingin di aisle. Begitu masuk pesawat, ternyata tempat duduk saya ada di center ! Posisi kelas ekonomi itu 2-3-2, dan saya duduk betul betul di tengah yang row berisi 3 orang. Saya menyimpulkan: Penjaga counternya juga TULALIT !!

Sebelah kanan saya adalah seorang ibu yang lagi berantem dengan anaknya, dan galaknya minta ampun. Saat saya ingin memasukkan carry on, dia tidak memberikan tempat untuk saya dengan alasan dia mau letakkan jaketnya di situ. Sampai seorang bapak yang duduk dibelakangnya kasihan sama saya, dan bantu saya angkat carry on itu sambil berkata kepada ibu itu, kalau masih ada tempat di sebelah jaketnya. Dan begitu kereta minuman lewat, dia langsung keluarkan uang 10 dolar, dan pesan 2 botol vodka kecil. Betul betul edan ibu itu, mana sepertinya dia kena insecurity problem dan bergerak terus selama perjalanan, geser kanan kiri, tukar posisi duduk, etc. Selain itu, masih tetap saja ngoceh memaki-maki anaknya.

Sebelah kiri saya ada seorang laki-laki Asia, sepertinya sih pelajar. Baru saya duduk, saya memindahkan bantal saya ke kursinya karena dia belum datang. Eh nggak lama dia datang, dan ngambil bantal saya. Sudahlah, saya pikir toh saya nggak bakalan tidur lama2 juga, karena perjalanan hanya 4 jam 45 menit saja. Selama perjalanan itu, dia tidur terus nggak bangun-bangun, dan posisi tidurnya itu loh.... miring ke saya terus ! Saya yang duduk di tengah cuma bisa diam, dan mengambil posisi tegak. Untung juga akhirnya saya kecapaian, dan sempat tertidur sebentar. Kalau nggak sih, saya sudah stress berat kali di pesawat.

Akhirnya, tiba juga pesawat saya di bandara SFO. Telat lebih dari setengah jam. Tetapi puji Tuhan, semua berjalan lancar, koper-koperpun tiba dengan selamat. Tau sendiri kan, penerbangan domestik yang namanya United Airlines itu langganan membuat orang stress lantaran koper suka tidak sampai. Saya bertemu dengan Oom, Tante, dan dua anaknya yang sudah tiga tahun tidak saya temui. Bahkan saya belum pernah bertemu sama sekali dengan anaknya yang kecil karena saat itu masih dalam kandungan ibunya. Kita berpelukan seperti Teletubbies, dan setelah itu, lenyaplah kekesalan perjalanan ke kota ini.

Saya liburan dulu yah. Nanti kalau ada cerita2 yang asyik, pasti saya tuliskan di sini.

Tuesday, December 12, 2006

Project Menulis yang Tertunda

Di postingan saya yang kedua sebelum postingan ini, saya menulis kalau ada teman saya yang meminta saya membuat artikel soal "Bagaimana Hidup di Amerika Mengubah Diri Saya". Inilah hasilnya yang di muat di Soekma, Koran Permias Madison. Kalau mau lihat bentuk korannya seperti apa, bisa klik di sini. Ini dia isi artikelnya.

Bagaimana Hidup di Amerika Mengubah Diri Saya

Merangkum hidup saya selama di Amerika menjadi satu karangan, rasanya saya bisa menerbitkan satu novel sendiri. Tapi berhubung saya bukanlah penulis novel, dan saya cukup yakin novel saya tidak bakal laku, saya tulis saja sedikit cerita menarik yang mudah-mudahan bisa diambil hikmahnya. Saat saya beres-beres untuk pindahan, saya membuka album foto kenangan. Di album itu, saya masih menyimpan lembaran tiket kedatangan saya kali pertama ke Amerika. Tanggal 10 Januari 2001, hari itu kedua kaki saya menyentuh tanah Madison. Dingin segera menyeruak, apalagi saat itu saya hanya bermodalkan dua lembar pakaian di badan, dan jaket kulit hadiah dari paman saya. Memori saya mundur enam tahun ke belakang, saat saya, si Leony berambut bondol dengan kacamata besarnya, dengan modal bahasa inggris pas-pasan dan ijazah SMU, mencoba menarik sebanyak mungkin ilmu di kota kecil ini. Saya juga masih menyimpan kartu pelajar saya (yang hebatnya tidak pernah hilang sampai sekarang), di mana foto wajah saya saat itu galak dan kesal sekali karena saya tidak kebagian kelas-kelas yang saya mau. Maklumlah, seperti anak Indonesia pada umumnya, saya sudah membayangkan untuk mengambil kelas matematika, fisika, komputer, dan kelas kelas ilmu pasti lainnya. Tapi karena saya masuk di Semester Spring, hampir semua kelas yang saya mau penuh semua. Saya dan teman saya, Mira, mulai memikirkan alternatif yang bisa diambil untuk memenuhi kredit. Jadilah kita mengambil kelas menyanyi, dan kelas ballroom dancing. Saat itu pikiran kita adalah, yang penting nggak rugi! Kan 12-18 kredit bayarnya sama toh?

Tidak disangka, ternyata kelas menyanyi dan kelas dansa itulah yang menjadi kelas-kelas favorit saya, sehingga saya selalu mencoba menyelipkan kelas berbau seni tersebut di dalam setiap semester yang saya jalani. Ditambah lagi, saya mengambil kelas tari Jawa yang seumur-umur tidak pernah terbersit di dalam otak saya, dan juga saya mengambil kelas menggambar. Baru saat itu saya menyadari, betapa pentingnya kelas-kelas seperti itu untuk menyeimbangkan otak kanan dan otak kiri saya. Percaya atau tidak, saya banyak membaur dengan teman sekelas saya, justru di kelas-kelas tersebut. Kemampuan komunikasi makin terasah, karena kita semua berusaha mengekspresikan diri melalui nyanyian, tarian, dan gambar, bukan hanya dari tulisan dan rumus-rumus. Kesempatan itu, mungkin tidak akan pernah saya dapatkan jika saya berada di Indonesia, di mana ilmu pasti adalah segala-galanya, dan anak anak dipaksa oleh orang tuanya untuk menjadi yang terbaik di bidang tersebut supaya bisa masuk kelas unggulan. Hikmah: Hidup di Amerika, membuat saya lebih bisa berekspresi.

Selama satu setengah tahun tinggal di asrama, hubungan saya dengan dua teman sekamar juga merupakan hal yang sangat menarik. Teman sekamar saya yang pertama, berasal dari keluarga yang rukun. Saat orang tuanya berkunjung, mereka berpelukan hangat, membuat saya jadi ikut rindu dengan keluarga di rumah. Orangnya sangat sederhana, walaupun saya tau kalau dia berasal dari keluarga yang cukup kaya. Berbeda sekali dengan teman sekamar saya di semester selanjutnya. Hobinya belanja dan minum, setiap akhir pekan tidak pernah pulang, sering sekali bergonta-ganti pasangan, dan secara tidak sopan membawa pasangannya itu pulang ke kamar kita, padahal saya besoknya akan ujian. Setiap bicara dengan ayahnya, isinya hanya minta uang. Dan jika tidak diberi, kata-kata kotor segera meluncur dari mulutnya, termasuk kata yang sering disensor. Yang terparah adalah, saat akhir semester, dia ingin saya keluar dan pindah dari kamar kami dengan alasan, temannya ada yang mau masuk. Padahal sayalah orang pertama yang tinggal di kamar itu. Saat itu, saya mulai memupuk keberanian, berusaha untuk putar otak dan melakukan perlawanan. Di Indonesia mungkin saya punya orang tua yang bisa saya jadikan tameng, tapi di sini, saya harus berusaha sendiri. Saya menghubungi housefellow alias ketua di lantai kami, dan saya jelaskan situasinya. Hasilnya? Teman sekamar saya itu dikeluarkan dari asrama. Sisa satu semester selanjutnya, saya jadi penguasa tunggal kamar itu, hehehe. Hikmah: Hidup di Amerika, membuat saya jadi lebih berani dalam mengambil keputusan sendiri.

Saat hidup kita jauh dari keluarga, kehangatan bisa diperoleh dari "keluarga" baru kita di Madison. Bertemu dengan sesama orang Indonesia, membuat kita merasa seperti mempunyai partner dalam berjuang. Kita pasti sering mendengar, bahwa teman-teman sejati adalah teman yang menemani saat suka maupun duka. Kalau saat suka, banyak sekali contohnya. Kalau saat duka ? Saya juga banyak contohnya. Saat saya sedang sakit panas di asrama, ada teman yang membawakan obat dan makanan. Saat ayah saya dipanggil Tuhan, ada teman yang mendoakan dan menghibur saya. Saat menjelang operasi, ada teman yang menunggu saya dari sebelum operasi sampai sadar kembali, dan menemani saya beberapa hari di apartemen. Saat saya sakit cacar air, ada teman yang ke supermarket, membelikan daftar belanjaan saya, dan meletakannya di depan pintu lantaran saya tidak boleh bertemu siapa-siapa. Saat saya putus cinta, ada hotline yang selalu bisa medengar keluh kesah saya. Hikmah: Hidup di Amerika, membuat saya lebih mengerti arti seorang teman.

Berada di salah satu kota dengan populasi Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender (LGBT) per kapita tertinggi di Amerika sempat membuat saya terbelalak. Kok bisa mereka dengan santainya meletakan iklan di mana-mana seandainya mereka ada pertemuan, atau bergandengan mesra di jalanan. Banyak teman-teman sekelas saya yang dengan gamblang mengakui kalau mereka adalah bagian dari kelompok LGBT. Perasaan kurang nyaman pernah juga hinggap di dalam diri saya jikalau saya bertemu dengan mereka, karena di Indonesia orang tidak pernah blak-blakan dalam hal pengakuan. Tapi ternyata, semakin saya mengenal mereka, semakin saya menghormati pilihan mereka. Bahkan beberapa di antara mereka adalah orang-orang dengan sifat terindah yang saya pernah temui. Saya banyak menarik pelajaran dari mereka tentang cara menghadapi hidup, mencoba menjadi kuat di bawah tekanan masyarakat. Hikmah: Hidup di Amerika, membuat saya makin menghargai perbedaan.

Terus terang, saya adalah orang yang sangat malas kalau diajak minum-minum. Padahal minum-minum itu adalah "budaya" orang Wisconsin. Buktinya University of Wisconsin -Madison itu adalah universitas pesta nomor satu dan Milwaukee adalah kota dengan tingkat pemabuk tertinggi se-Amerika. Alasan kemalasan saya adalah karena saya nggak tahan bau rokok, dan saya alergi dengan yang namanya alkohol. Setiap kali ada yang menawari saya minuman, saya selalu menolak dan memilih minum air atau soda. Pernah saat sedang training pekerjaan di Chicago, teman-teman saya tidak ada yang percaya kalau saya sungguh-sungguh alergi. Mereka memaksa saya untuk memesan cocktail ringan yang dicampur dengan jus buah-buahan. Akhirnya saya pesan juga minuman itu demi memenuhi keingintahuan teman-teman, dan akibatnya, baru sepertiga gelas, badan saya gatal-gatal dan bentol-bentol. Teman-teman semua akhirnya percaya, dan sejak saat itu, tidak ada lagi yang menawari saya minuman. Hikmah: Hidup di Amerika, membuat saya sadar, kalau saya SUNGGUH-SUNGGUH deh nggak bisa minum ! Hahahaha... Bercanda deh. Hikmahnya itu, hidup di Amerika membuat saya sadar, kalau saya harus jadi diri sendiri. Tidak boleh ikut-ikut arus.

Saat saya kerja sambilan di kampus, bos saya ada yang bertanya, "Hey Leony, apakah di depan rumah kamu masih suka lewat harimau?" Saya tertawa ngakak. Maklumlah, bagi orang Amerika yang tidak pernah kemana-mana sepanjang hidupnya, Indonesia itu terdengar seperti negara dunia ketiga, di mana semua masih diselimuti hutan, dan tidak ada peradaban. Begitu saya memperlihatkan gambar gedung-gedung pencakar langit di Jakarta, dia baru sadar, kalau masih ada "dunia lain" di luar Amerika. Salah satu cara untuk saya memperkenalkan Indonesia selain tentunya lewat cerita dan gambar-gambar adalah lewat makanan. Tiga kali saya membantu Permias mencari dana lewat memasak makanan Indonesia. Bagi saya, makanan adalah cara kita melatih bangsa asing menghargai budaya kita. Setiap kali ada masyarakat Amerika yang mengatakan kalau masakan Indonesia itu enak, hati saya langsung berbunga-bunga. Bukan karena saya yang memasak loh, tapi karena saya merasa nama Indonesia itu akan melekat di hati dan pikiran mereka. Begitu juga kalau ada yang bilang kalau alam Indonesia indah, tarian Indonesia cantik, dan manusia Indonesia ramah-ramah, saya merasa bangga tak terkira. Padahal dulu saya suka sok-sok milih makan burger ketimbang gado-gado. Sekarang, 100% gado-gado di atas burger. Hikmah: Hidup di Amerika, membuat saya makin cinta dan sayang kepada Indonesia.

Wah, kelihatannya kalau saya teruskan tulisan ini, jangan-jangan akan jadi sebuah cerita bersambung (tenang Saudara-Saudari, belum sampai taraf novel kok). Jadi kesimpulannya, apakah hikmah terbesar yang saya dapatkan selama saya hidup di Amerika ? Jawabannya: Saya belajar untuk lebih mengenal diri saya sendiri. Coba kalian tengok ke belakang, apa saja yang sudah berubah dari diri kalian selama ini. Saya yakin, pasti banyak hal yang membahagiakan dan mengharukan yang membuat kalian jadi selangkah lebih maju dari sebelumnya. Saat saya menengok ke belakang, saya banyak tersenyum, tapi juga sedikit kecut, karena ada satu yang belum berubah dari enam tahun lalu sampai sekarang yaitu, saya masih tetap embul..... *Gubrak....*

Selamat Natal dan Tahun Baru 2007. Semoga damai kasih Tuhan akan selalu beserta kita.

Friday, December 08, 2006

Nasib Cewek Bawel

Kemarin, saat saya ngobrol dengan Mama saya, Mama mengemukakan sifat saya sebetulnya sudah saya sadari sejak lama, tapi susah banget untuk mengubahnya. Mama bilang, saya itu selalu punya jawaban atas statement2nya dia. Saya itu SUPER NGEYEL! Alias kalo sudah jadi prinsip saya, saya ngga mau kompromi.

Misalnya mama saya bilang: "Non, kamu itu kalau pacaran, tutupi dong kelemahan kamu, supaya cowok tambah jatuh hati. Jangan bawel2 melulu."

Lalu saya nyaut: " Tapi Ma, buat aku, kalo itu cowok nggak bisa menerima aku apa adanya, ya sudah, berarti dia emang nggak cocok sama aku."

Lalu Mama bilang lagi: "Tapi Non, kalo kamu bawel2 begitu, cowok juga gak ada kali yang deketin."

Lalu saya nyaut lagi: "Ma, kalau cowok sudah suka sama kita, mau kita kayak gimana pun, dia bakalan tetep sayang. Tuh mantan-mantan aku juga asik2 aja."

Mama ngomong lagi: "Tuh, makanya kamu jomblo lagi kan ? Kalo pacaran, kamu harus kalem. Dicocok2in sama cowoknya. Nanti kalo sudah nikah, boleh lah kamu bawel2 dikit."

Yang ada, saya malah nambah gondok: "Ma, kalo ditutupin pas pacaran, lalu nikah, lalu baru nyadar nggak cocok, terus berantem melulu, akhirnya pisah, lebih sedih lagi ! Kalo masih pacaran bawel2 lalu cowoknya bete ya paling resikonya putus doang."

Mama masih lanjut: "Tapi cowok Indonesia itu nggak suka Non kalo ceweknya bawel kayak kamu. Cowok Indo itu sukanya cewek yang tenang. Mama liatin, cewek2 di Indonesia kalau pacaran manja2, jadi cowoknya sayang. Padahal belum tentu Non aslinya baik2 gitu, yang penting kan jadi dulu sampe pelaminan."

Dalam hati: Wah, ujung2nya ngomongin pelaminan nih. Kacau...."Makanya Ma, liat aja tuh, jaman sekarang, makin banyak cewek artificial, makin banyak juga perceraian. Soalnya ditutup2in pas pacaran, begitu abis kawin baru meledak."

Mama makin geregetan. Akhirnya, "Dasar kamu kagak bisa dibilangin ! Ubah itu sifat jelek kamu."

Pertanyaan saya, benernya itu sifat jelek atau bukan sih ? Apa mungkin karena saya enam tahun bersekolah di Mallory Towers (kata Mbak Maya), yang isinya kaum hawa semua dan kita dibiasakan mengemukakan pendapat secara gamblang, terutama posisi kita dihadapan kaum adam ?

Ah, puyeng ah....

Wednesday, December 06, 2006

Cita2 Karya Kolaborasi

Ada satu teman saya, adik kelas saya di bangku kuliah tertarik membaca tulisan saya di blog ini. Berhubung majornya dia adalah Jurnalistik, pekerjaan tulis menulis tentunya menjadi sesuatu yang tidak asing lagi buat dia. Suatu hari beberapa minggu lalu, saat saya sedang di kantor, dia meminta saya untuk menulis untuk koran Permias kita yang terbit bulanan. Karena saya pemalas sejati, saya bilang:

"Elu telusuri saja ya isi blog gue. Kalau ada yang menarik, silakan dicomot, tapi minta ijin gue dulu. Supaya gue bisa rapihin gitu loh.... maklum, kan bahasa gue sembarangan."

Akhirnya saya merekomendasikan dia tulisan soal TVRI yang saya tulis di blog ini Oktober tahun lalu. Lengkapnya, silakan klik di sini. Sampai saat ini sih belum keluar artikelnya. Mungkin saking basinya artikel tersebut karena anak anak sekarang yang baru masuk kuliah lahir di tahun 1988 alias tahun dimana setahun kemudian RCTI menghiasi layar kaca dengan Sesame Streetnya.

Lalu tiba-tiba, ide gila teman saya muncul.

"Non, bikin tulisan kolaborasi yuk. Elu nulis, gue nulis, lalu nanti kita gabungin hasilnya. Jadi bisa saling ngisi. Tiap kali kita tentuin topik, lalu kita kerjain spontan."

Saya terus terang bingung gimana cara kerjanya tulisan kolaborasi itu. Maklum deh, saya kan akuntan, bukan penulis. Teori menulis saja saya nggak ngerti kok !.

"Nggak mau ah, gue nggak bisa nulis kayak gitu. Kalo mau, habis kita tentuin topiknya, kita tulis aja sendiri-sendiri. Nah, kan kita jadi bisa makin mengasah style menulis kita."

Gitu kata saya menanggapi idenya.

Setelah berkutat panjang lebar, lalu mengeluarkan ide2 lebih gila lagi misalnya:
1. Kolomnya ini bakalan jadi kolom tetap di koran Permias, bahkan sampai kita berdua nanti tidak di Amerika lagi.
2. Kegiatan tulis menulis ini akan dilaksanakan sesering mungkin pas ide keluar.
3. Penulisannya harus sesuai isi hati, nggak usah mikirin yang aneh- aneh.
4. Dan lain lainnya mulai dari yang penting sampai yang nggak penting...

Malam itu teman saya itu mengemukakan satu topik yang menurut saya menarik. Bagaimana hidup di Amerika mengubah diri saya. Keren kan idenya ? Kita berjanji kalau hari esoknya kita akan menulis sesuatu, dan akan mengecek tulisan masing2 di tengah malam.

Dan saudara-saudaraku sekalian, hasilnya adalah:

Ora ono alias nggak ada alias nol.

Kita sibuk terus, nunda-nunda, dan akhirnya lupa total.

Moral of the story adalah: Jangan terlalu banyak ide gila. Nulis itu butuh mood. Kalo moodnya nggak ada, akhirnya nggak bakalan keluar hasilnya. Maklum, saya bukan wartawan yang harus nyetor artikel tiap hari.

Duh, kapan ya ilham saya untuk menulis tentang topik itu bakalan hadir kembali ?

Tuesday, December 05, 2006

Putihhhhhh.....

Jumat kemarin, pas bangun tidur: Apa2an nih ? Salju tinggi banget. Buka kerai jendela yang ada 1 kota putih semua. Padahal hari itu harus ke kantor untuk ngebalikin my crappy office laptop. Perjalanan ke kantor yang harusnya 10 menit jadi 45 menit. Saljunya turun terus nonstop dari tengah malam hari sebelumnya.

Pas sampai di depan kantor, ada mobil Mercy E-class, stuck di salju, sampai petugas parkir tiga orang bantuin dorong dan kasih template di roda belakang. Makanya, udah tau salju begitu gede, jangan pakai mobil rear wheel drive dong ! Dasar oom2 tulalit, udah berapa lama sih emangnya tinggal di Wisconsin ?? Dijamin deh, nggak bakalan geser. Wong yang punya front wheel drive kayak saya aja modar kalau saljunya ketebelan.

Sampai di kantor, weits, ternyata petugas technology yang mustinya nemuin saya malah ngga dateng, karena di depan rumahnya sudah ketimbun salju! Ya sudah, dititipkan sama orang lain aja. Banyak banget yang hari itu datang terlambat. Bener2 deh kota hari itu seperti terperangkap di dalam salju. Teman kantor ada yang nunggu pesawat dari pukul 8 pagi, dan baru bisa take off pukul 7 malam. Lalu teman2 yang menyetir untuk tugas keluar kota, tertahan berjam2 di jalan. Di kota2 lain di Amerika, kalau cuaca sudah separah ini, biasanya aktivitas diliburkan total. Tapi ini Milwaukee, Wisconsin ! Dianggapnya sudah biasa, jadi kegiatan tetap berlangsung normal. Parah !

Dibawah ini ada dua gambar yang saya ambil dari gedung kantor saya. Cantik, putih, tapi menyebalkan !!

Thursday, November 30, 2006

Cerita Thanksgiving Minggu Lalu

Sebagai sebuah tradisi di Amerika, makan malam Thanksgiving adalah saat yang sangat special. Makan malamnya itu sendiri jauh lebih meriah dan heboh dibandingkan dengan makan malam di saat natal. Biasanya, satu keluarga berkumpul di di meja makan utama, dan makanan wajibnya adalah turkey with stuffing and cranberry sauce, mashed potato, corn bread, green bean casserole with fried onions, dan ditutup dengan pumpkin pie. Saya sebetulnya ingin menerjemahkan nama semua makanan itu ke dalam bahasa Indonesia, tapi mashed potato diganti jadi kentang hancur atau pumpkin pie diganti jadi pai labu kok tidak kedengeran nikmat.

Walaupun sebetulnya makan malam thanksgiving itu dilaksanakan pada hari Kamis malam, tetapi kita anak-anak Indonesia di sini merayakannya hari Jumat malam, karena sebagian orang juga merayakan thanksgiving tradisional pada hari Kamisnya. Menunya bukan kalkun, tapi kita mengadakan potluck masakan Indonesia dan sekitarnya. Kenapa saya bilang sekitarnya ? Karena ada yang bawa sushi dan kwetiau yang pasti bukan makanan Indonesia.

Rabu siang saya dan Romo Kun, salah satu pastor Indonesia yang bersekolah di sini pergi membeli ikan segar untuk bikin ikan saus asam pedas. Kami membeli 4 ekor ikan putih yang terlihat mirip bandeng. Lalu kejutannya, kamu menemukan frog leg alias kaki kodok, sebuah delicacy Perancis yang harganya di sini mahal ngajubile, padahal kalau di Indonesia tinggal tangkap di sawah. Setelah itu kami belanja ke toko makanan asia untuk beli perlengkapan lainnya. Mulai rabu malam itu saya nyicil untuk masak sedikit2.

Jumat itu, saya masih terus melanjutkan masak2 di tempat si Romo. Ternyata, bikin fillet ikan segar itu nggak gampang. Mana pisaunya nggak ada yang tajam. Tapi untung pada akhirnya berhasil juga. Jadi sore itu saya siap dengan: Ikan goreng saus asam pedas, kodok goreng saus mentega, lumpia goreng, kue sus, dan wedang ronde isi kacang. Gile, membuat ratusan onde yang diisi individually dengan ting2 kacang yang dihancurkan itu mengakibatkan saya jadi cukup telaten tapi pegalnya nggak ketulungan.

Makin sore, teman2 beserta makanannya mulai berdatangan. Selain lima macam masakan tadi, masih ada martabak telur, sushi, ayam begana, ayam panggang kecap, ayam pedas, nasi kuning, lemper, kwetiaw goreng lapciong, kwetiau goreng sapi, ribs, cah udang sayuran, empal, emping manis, bubur sum sum, ketan hitam, kue strawberry, dan lain2 yang saya lupa. Intinya, meja sampai nggak muat, sampai semua harus dipisah2.

Malam itu kita banyak sekali bersyukur, bukan hanya karena banyak makanan, tapi karena kami sekali lagi bisa merasakan kebersamaan. Bagi kami di Milwaukee, Thanksgiving adalah saat di mana kami sebagai sebuah komunitas bisa berbagi cerita, saat kami bisa bereuni dan relax dari kesibukan masing masing.

Buat yang sekarang lagi ngiler2, maaf, makanannya sudah habis...hiks hiks hiks...

Friday, November 24, 2006

Thursday, November 23, 2006

Minggu dan Senin Kemarin....

Hari Minggu itu, saya sudah janjian dengan teman saya untuk mencuci mobil di tempatnya. Maklum deh, tempat parkir saya itu tidak mempunyai area untuk mencuci mobil, sementara di tempat teman saya ada garasi dan selang air, jadi bisa untuk cuci mencuci. Sepulang gereja, saya cuci mobil ditempatnya, mulai dari bodi luar, sampai ke dalam semua kinclong dan wangi.

Setelah selesai cuci mobil, saya ditelepon teman saya untuk mengajak makan di tempat Romo (pastor) bersama teman2 yang lain. Jadi deh saya makan siang bareng. Lagi enak-enak makan, tiba-tiba saya seperti mengigit tulang kecil, padahal makanan saya hari itu nggak ada yang pakai tulang. Lalu setelah itu berasa seperti ada yang nyangkut di gigi. Tapi ternyata setelah pakai tusuk gigi, nggak ada sisa makanan.

Sampai di rumah, saya cek gigi saya, ternyata bagian belakang gigi depan saya itu bolong seperti ada huruf 0 ! Iya..beneran bolong. Ternyata yang saya gigit kayak tulang itu gigi saya sendiri. Saya langsung panik, lantaran saya cinta sekali dengan gigi saya. Saya mencoba telepon dokter gigi, semua tidak ada yang buka karena hari minggu. Akhirnya saya meninggalkan pesan untuk mencoba membuat appointment di dokter gigi yang direkomendasikan atasan saya.

Besoknya alias hari senin, saya ada jadual inventory pukul 6 pagi. Jadilah saya bangun pukul 5, lalu sekitar pukul 5:30 sudah ada di tempat parkir. Gelap sekali di luar, karena musim dingin sudah mulai, jadi matahari baru terang di atas pukul 7 pagi. Saya mencoba buka pintu mobil dengan menggunakan remote, loh kok nggak jalan remotenya. Akhirnya saya buka secara manual. Saya coba starter mobil saya... loh loh loh... kok mati ??? Saya baru ingat, ternyata kemarin saat cuci mobil, saya menyalakan lampu baca di dalam mobil untuk memastikan kalau leather conditioner di kursi belakang itu rata, dan saya lupa mematikan lampunya !! Bodoh ! Terang saja accu mobil jadi soak karena dinyalakan hampir 24 jam.

Paniknya luar biasa karena waktu sudah menunjukkan pukul 5.45 pagi sementara janji dengan client pukul 6. Akhirnya saya panggil taksi dan berangkat ke client. Lalu saya telepon client saya, bilang kalau saya bakalan telat. Selain itu saya juga telepon mantan pacar yang kebetulan rumahnya di dekat client, untuk bantuin saya jump start mobil. Jadi saya janjian dengan si mantan untuk kasih dia kunci mobil saya di depan client. Kesian juga sih dia, masih gelap banget tapi untung dia mau bangun heheheh (pengorbanan dong !!).

Saya tanya ke sopir taksi, apakah dia bisa menerima credit card. Biasanya sih bisa, tapi ternyata si sopir taksi rusak mesin credit cardnya. Sementara duit saya di kantong tinggal 20 dolar hua hua hua... Padahal ongkosnya 35 dolar. Si sopir taksi India itu ternyata baik banget. Kita menempuh cara unik untuk membayar ongkos taksi saya. Sebelum sampai di client, kita pergi ke pom bensin untuk mengisi bensin, dan bensinnya itu saya yang bayar dengan menggunakan credit card. Puji Tuhan akhirnya saya sampai di client dan bisa kasih kunci mobil saya ke si mantan. Duh... legaaa...walaupun telat 20 menit.

Inventory berjalan dengan lancar walaupun agak tersendat di depan karena: 1. Saya terlambat, 2. Komputer client hang berkali kali. Di tengah proses inventory, orang dari dokter gigi yang saya tinggalkan pesan kemarin telepon. Ternyata semua jadual si dokter penuh dan saya baru bisa masuk minggu depan. Aduh, gimana ini... akhirnya telepon ke dokter kedua, eh ternyata dokter kedua tidak dicover oleh asuransi saya. Telepon dokter ketiga, dia menyanggupi untuk appointment pukul 11.10 pagi, tapi hanya konsultasi saja. Padahal kan saya kepingin banget supaya gigi saya segera diperbaiki. Saya sampai nggak berani makan yang garing2 takut gigi saya patah. Si client janji sama saya kalau pukul 10 inventorynya sudah selesai. Tapi ternyata, baru selesai pukul 10.30. Duh, tinggal 40 menit lagi untuk ke dokter. Saya panggil taksi, lalu taksinya saya minta ngebut, akhirnya sampai di rumah pukul 11. Lalu saya ke kamar saya, ambil kunci serep, dan ke tempat parkir. Puji Tuhan lagi, mobilnya bisa di starter.

Tapi masalah kembali terjadi. Saya sudah tau alamat dokter ini, tapi saya tidak tau lokasi tepatnya. Saya biasa menggunakan GPS di dalam mobil untuk menunjukkan jalan. Eh tak disangka, GPSnya mati karena accunya sempat mati, dan saya harus memasukkan password supaya GPSnya jalan. Passwordnya saya tidak tahu, dan saya tidak tahu nomor telepon dealer saya. Aduhhhh..... Untung nomor telepon dokter giginya sudah saya save. Jadi dengan bantuan petunjuk dari asistennya, saya tiba juga di dokter gigi, telat 10 menit.

Pas sampai di sana, ternyata pasien sebelum saya lama treatmentnya. Saya harus menunggu lebih dari satu jam sampai giliran saya masuk. Selama menunggu itu, saya menelpon teman saya untuk mencarikan nomor telepon dealer, dan akhirnya saya berhasil memecahkan misteri password GPS itu. Pertama tiba di kursi dokter gigi, asistennya segera melakukan proses X-ray. Canggih betul, X-raynya sudah digital, jadi dalam hitungan detik, hasil X-ray gigi saya sudah bisa terlihat. Hebatnya lagi, janji yang tadinya hanya konsultasi akhirnya berubah menjadi treatment karena dokternya setuju untuk menangani gigi saya hari itu juga. Setelah kedut2an dibius di dua spot alias dua gigi depan, diutak atik oleh pak dokter dan asistennya, gigi saya jadi cantik kembali !! Horeeee..... Dokternya juga asyik banget orangnya. Dia orang kulit hitam, tapi wajahnya smart dan bersih sekali. Lalu di telinganya kanan kiri ada giwang berlian, dan sambil bekerja dia nyanyi2 mengikuti lagu di radio. Lucu banget.

Wah, what a crazy day... Untungnya, semua selesai dengan indah. Mobil saya jalan, inventory lancar, dan gigi saya bagus lagi deh ! Bener juga apa kata horoscope saya di tabloid Bintang untuk minggu ini, kalau hari keberuntungan saya adalah hari Senin :)

Friday, November 17, 2006

Menanggapi Tulisan Elka

Dari tulisan di bawah, Elka tulis komen yang menurut saya bagus. Jadi cocok buat dikembangan jadi topik hangat hehehe... Begini isinya.

"We're only 1 hour drive away and look how different things are. For your information, your city Non, is rated as one of the most segregated cities across the nation. In my town (and your town, just a few years ago), malah orang item yang bakal dikeroyok (coz they're quite a minority). I guess this also depends on the size of the city and the education level african americans have.

Anyways that goes back to the dark ages of American history and slavery; they were treat as non-humane, Non (jadi inget Soc 134). There are pretty many reasons why they are what they are now (bukan artinya gw memihak mereka), but just don't stereotype. There are outstanding african americans out there. Coz we're minorities too, and we know (by experience) that the majority also have all the power to act just the way they want. "

First, it's true that Milwaukee is the most segregated city in the whole United States ! Di bagian utara dan barat kota ini, isinya orang orang hitam. Di timur, isinya orang orang putih dan kaya, socialite lah istilahnya. Di selatan isinya orang orang latino dan asia.

Maaf Ka, saya nggak lagi stereotyping kok. Sama sekali nggak. Tetapi saya hanya menyampaikan uneg-uneg yang terjadi di depan mata. Makanya di tulisan kemarin, saya minta maaf dulu sebelum melanjutkan dengan isinya. Saya juga udah pernah ngerasain kok gimana rasanya pas saya di Greenbay yang isinya orang leher merah, saya dikatain "F" word dan mau dilemparin bungkus rokok. Mungkin kalau hidup di Madison, saya juga akan setuju 100% dengan apa yang kamu tulis, Ka. Mungkin kamu baca di buku, dengan lecture, nonton video. Apalagi Madison kotanya clean, kriminalitas rendah, jadi nggak kelihatan semuanya itu. Tapi kalau melihat kenyataannya di sini, saya juga punya beberapa alasan kenapa semua teori itu tidak bisa berlaku begitu saja.

Sudah dua tahun terakhir, saya datang ke conference tentang teen pregnancy di Milwaukee. Kota ini adalah kota dengan rate teen pregnancy paling tinggi di Amerika. 70% dari teen pregnancy itu adalah korban pelecehan seksual. Mayoritas dari mereka adalah African American, lalu kedua adalah Latino. Setiap datang ke conference itu, saya dijejali dengan angka2, dengan statistik, dengan lecture dari berbagai pakar, professor, tokoh masyarakat, gimana caranya untuk memberantas teen pregnancy. Hasilnya ? Tetep saja kota ini nggak maju maju. Hampir nggak bisa mengubah angka statistiknya itu selama bertahun tahun. Makin parah malah. Uang sumbangan, sepertinya malah dipakai untuk administrasi, untuk bikin research supaya bisa dapat angka2 statistik, instead of dipakai untuk terjun langsung ke masyarakat. Jadi kalau cuma melihat dari buku, dari lecture, susah banget Ka untuk mengungkapkannya. Yang ada kita jadi miris, bersimpati, tapi nggak tau mau ngapain juga.

Kenapa banyak minoritas yang maju ? Even orang kantor saya di sini mengakui kok, leader2 kita di corporate itu justru yang minoritas (African American, Asian, Native American, etc). Itu karena yang minoritas mau berusaha going over the board. Untuk mencapai ke sana, kita harus usaha lebih dan kita harus bisa membuktikan kalau kita mampu bersaing. Mungkin dibutuhkan usaha yang lebih giat daripada mayoritas, tapi kita bisa, kita mampu, dan sudah banyak buktinya. Di Indonesiapun juga sama. Yang keturunan juga harus berusaha lebih giat. Mau kuliah di universitas negeri saja pakai diseleksi kok sukunya. Makanya nilai harus diusahakan setinggi mungkin, akhirnya ujung2nya banyak yang hebat, begitu hebat dicemburuin. Susah kan ? Nggak di sini nggak di Indonesia sama saja.

Masalah yang terjadi di Milwaukee ini nggak bisa disamakan dengan kota lain di Amerika. Semua orang di sini menyadari hal itu. Struktur kota ini saja sudah beda (seperti yang Elka juga bilang kalau kita di sini itu dipetakan). Yang saya pertanyakan di sini adalah, mengapa anak anak generasi mudanya tidak bisa berusaha memperbaiki diri. Nggak usah sampai jadi bos, mannernya saja sudah nggak ada. Kalau dibilang mereka tidak dapat kesempatan yang sama, siapa bilang ? Mereka punya sekolah, tapi malah kabur dari sekolah dan bersenang2 nongkrong di pom bensin. Mereka punya uang, tapi uangnya dipakai untuk beli barang barang tak berguna seperti jam tangan dan tas bermerek instead of sekolah. Tuh kan, jadi kedengaran seperti stereotyping. Mereka punya tenaga, tapi nggak mau berusaha bekerja, malah malakin orang orang. Kenapa saya salut dengan Latino walaupun kadang norak juga (suka pakai mobil blink2 dan dandan nggak karuan), mereka itu jauh lebih rajin bekerja. Walaupun mereka nggak bisa simpan uang alias dibeliin mobil, tapi paling nggak itu uang mereka, bukan hasil malak.

Permasalahan seperti ini ibarat ayam dan telur. Tak ada yang tahu pasti mulainya dari mana. History memang ada pengaruh besar. Tetapi kita kan mau maju ke depan, dan susah kalo hanya berpatokan pada masa lalu. Kalau kita cuma berpatokan pada masa lalu, nggak baik juga. Kesannya seperti punya hutang kepada orang yang dulu kita tindas, endupnya terciptalah affirmative action yang sampai sekarang tetap saja menjadi perdebatan. Toh hidup itu jalannya maju, bukan mundur. Memang betul kalau mayoritas memegang peranan penting dalam mengatur kehidupan bermasyarakat, tapi justru sebagai minoritas kita bisa menjadi orang yang lebih outstanding jika kita berusaha dan berhasil.

Memang kedengaran asik kalau semua manusia di dunia ini sama. Tapi apa jadinya dunia tanpa perbedaan ras ? Membosankan bukan ?

Just my two cents.

Wednesday, November 15, 2006

Nggak Berperasaan

Maaf kalau misalnya dengan tulisan ini ada yang menganggap saya rasis. Saya hanya mau cerita pengalaman saya kemarin yang betul betul membuat hati saya miris dan dongkol.

Kemarin pagi, karena saya tidak bertugas di client, saya memilih untuk naik bus kota. Pas saya masuk, semua kursi yang bagian depan alias untuk orang tua dan orang cacat sudah diduduki oleh anak anak muda kulit hitam yang bergaya hip hop. Di kota saya ini, populasi orang berkulit hitam memang banyak sekali, dan mereka itu gayanya minta ampun. Pakai bling2 banyak banget, lalu pasti di telinganya ada headphone untuk walkman atau ipod. Yang cewek2, pasti lengkap dengan cellphonenya dan berbicara dengan keras. Saat itu bus betul betul penuh, jadi saya hanya berdiri saja sambil pegangan tiang.

Di stop-an selanjutnya, masuklah seorang nenek nenek tua renta. Tubuhnya bungkuk, berjalan saja susah. Dia membawa dua kantong belanjaan. Tak ada satupun dari anak anak itu yang memberikan kursinya kepada si nenek. Si nenek sampai badannya oleng oleng sambil berpegangan tiang. Anak-anak muda yang berbadan sehat itu, berlagak nggak melihat, malah membuang muka mereka. Sampai akhirnya, si nenek itu ngomong dengan salah satu dari mereka, seorang anak muda laki laki, umurnya mungkin sekitar 17 tahun. Si nenek memohon supaya dia bisa duduk di kursi itu. Si anak lelaki itu langsung melengoskan wajahnya dan berlagak tidak mendengar. Padahal di atas kepalanya ada tulisan besar besar "Adalah hukum federal bahwa kursi di bagian depan ini dikosongkan untuk orang tua dan orang cacat".

Saat itu saya sedihnya bukan main. Saya rasanya kepingin sekali marah. Tapi kalau saya menegur mereka, saya pasti bakalan dikeroyok karena jumlah mereka jauh lebih banyak, dan badan mereka besar2. Akhirnya ada satu orang yang duduk di kursi belakang yang akan turun. Begitu kursinya kosong, langsung saya pegangi kursinya, dan saya panggil si nenek tadi untuk duduk di kursi itu. Pelan pelan dia jalan ke belakang sambil saya pegangi. Begitu duduk, dia berucap terima kasih tak henti henti. Rasanya air mata ini sudah mau turun. Betapa kejamnya anak anak muda tersebut.

Yang saya heran adalah, kelompok orang hitam di sini betul betul parah sekali. Setiap hari ada saja peristiwa penembakan. Beberapa bulan lalu, terjadi penembakan di dalam bus yang menyebabkan tiga orang meninggal di daerah orang hitam. Waktu itu seorang bayi meninggal terkena peluru nyasar yang ditembakkan oleh anak remaja. Sebulan yang lalu, seorang petugas delivery sandwich ditembak mati oleh sang pembeli yang kebetulan orang hitam, hanya karena si pembeli itu tak punya uang untuk bayar sandwichnya.

Kacaunya, setiap kali mereka protes kepada negara, katanya mereka miskin karena pemerintah tidak adil, tidak memberikan pendidikan yang cukup dan lain lainnya. Padahal kalau saya lihat, merekanya sendiri juga tidak mau berusaha untuk jadi lebih baik. Masih muda2 sudah pada hamil di luar nikah dan punya anak. Anak anaknya tidak diurus sampai jadi berandalan dan maling. Siapa yang bisa disalahkan ya ? Komunitasnya yang menelantarkan mereka ? Ataukah mereka memang yang memisahkan diri ?

Wednesday, November 08, 2006

Kehilangan

Hari ini teman baik saya di kota ini kehilangan ayahnya tercinta. Peristiwanya mirip sekali dengan saat saya ditinggalkan oleh papa hampir 5.5 tahun yang lalu. Ayahnya terkena stroke mendadak, dan setengah jam kemudian meninggalkan dunia ini untuk selamanya.

Walaupun saya pernah merasakan hal yang sama, saya tetap merasa miris dan sedih. Apalagi teman saya ini sudah membayangkan kalau menikah nanti ingin diwalikan oleh ayahnya.

Saya bangun jam 3.30 pagi oleh dering telepon dan mendengar isak tangisnya. Saya tak bisa melakukan apa apa, hanya bisa berdoa dan membantu dia untuk mencari tiket darurat untuk dia, kakak, dan adiknya. Puji Tuhan, setelah berjuang selama 9 jam dengan berbagai penolakan dari beberapa travel agents, tiga tiket pulang akhirnya ditangan.

Hari ini, saya menjumpai teman saya yang rapuh, berusaha untuk terus tegar dan tidak menangis. Tapi saya tak tau apa yang akan terjadi saat dia bertemu dengan jenasah ayahnya Kamis sore nanti.

Kita tidak akan pernah tau, kapan Tuhan akan mengambil jiwa dari raga kita. Harta jadi tak berarti, popularitas menjadi barang semu.

Agak ironis kalau saya berkata mungkin ini adalah jalan yang terbaik. Tuhan tidak membuat dia menderita berkepanjangan, dan langsung menjemput dia dan merangkulnya dengan cinta.

Selamat jalan, Pak ! Saya tau, istri, anak-anak, keluarga, dan teman2 Bapak begitu mencintai bapak, dan tak akan putus mendoakan Bapak.

Saturday, November 04, 2006

Keputusan Besar

"Ah, yang bener ?" Kata co worker saya saat saya memberitahukan keputusan besar itu.

"I'm very happy for you...." Katanya lagi.

Saya cuma tersenyum, dan memikirkan, betapa banyakanya persiapan yang harus saya lakukan. Saya pun mulai pusing tujuh keliling.

Sunday, October 29, 2006

Homesick Itu Paling Nggak Enak

Aneh binti ajaib, pas saya kembali lagi ke sini, rasanya saya kok jadi depresi berat. Gimana nggak stress ? Suhu yang tadinya 85 F di Indonesia berubah menjadi 35 F alias sekitar 1C. Langit yang tadinya cerah ceria, berubah menjadi gelap kelabu. 2 jam setelah saya sampai di kota ini (Senin), saya sudah berada di kantor untuk nyari nyari workpaper. Besoknya (Selasa) langsung nyetir keluar kota untuk kerja. Besoknya lagi (Rabu), sempat bersitegang dengan manager saya, sehingga begitu keluar dari client dan masuk mobil saya langsung berlinang air mata selama 1 jam dalam perjalanan pulang (nggak bawa tissue lagi...).

Jumatnya, saya hampir dipaksa bos untuk bekerja pada hari Minggu. Untung akhirnya bisa negosiasi. Sayang Sabtunya saya harus mengerjakan inventory... di dalem kulkas !! Yak, di dalam kulkas ! Saya menghitung mulai dari daging olahan sampai juice beku, es krim, dan lain2nya. Suhunya berangsur2 turun dari sekitar 38F ke -17F. Begitu masuk ke situ, badan saya mati rasa. -17 C aja pasti sudah mati rasa kan ? Ini -17 F, hitung saja sendiri. Otak saya sampai beku, tangan nggak bisa nulis. Untunglah Minggu saya bisa istirahat.

Seninnya, saya sudah harus berangkat lagi ke client di Appleton, dan menghabiskan 1 minggu di sana. Untunglah senior dan manager saya minggu kemarin itu adalah salah dua favorit saya, jadinya paling tidak mereka cukup kooperatif.

Sejak saya kembali dari Jakarta 2 minggu lalu, perasaan rindu rumah itu sulit hilang dan betul betul menyiksa. Sibuknya pekerjaan membuat saya lupa sedikit, tapi begitu sampai di rumah atau di hotel, wuih, rasanya betul betul nggak enak. Mau telepon mama, eh minggu ini mama dan adikku lagi liburan (bikin iri)... jadi susah untuk ditelepon. Sebelumnya, saya tidak pernah punya perasaan sekuat ini soal rumah. Apakah karena saya merasa mama saya sudah semakin lanjut usianya sehingga hati ini semakin berat untuk meninggalkannya ? Sulit untuk menjawabnya, tapi yang pasti, saya nggak sabar untuk telepon mama satu jam lagi karena dia akan segera tiba di rumah.

Monday, October 23, 2006

Several Pics from Home

Foto di bawah ini adalah foto keluarga "maksa"...ceritanya sih adek saya jadi pangeran, mama saya jadi ibu suri, dan saya jadi putri... alamak. Dan temanya adalah: From Bali with Love... mwah mwah mwah !
Adekku tersayang makin kayak oom oom aja hihihihi.... Foto ini diambil iseng iseng pake tripod di rumah pas setelah pulang dari perayaan ultah mama ke-50.

Saturday, October 21, 2006

Bali Trip October 4-8, 2006

Akhirnya, setelah 10 tahun kita sekeluarga nggak pergi ke Bali, kesampaian juga keinginan yang terpendam ini. Sebetulnya Mama dan Adik baru tahun lalu pergi ke Bali, tapi kali ini suasananya beda karena ditemani oleh : Saya dong !! (kegeeran....). Sebenernya saya sih yang sudah hampir 10 tahun nggak pergi ke Bali, jadi keinginan ini terpendam sampai jadi jerawat batu.

Hari Rabu pagi, kita berangkat ke Bandara Soekarno Hatta. Tiket sudah saya beli online beberapa bulan lalu di AirAsia (walaupun pas mau beli sempet kesel sampai saya telepon ke Malaysia karena credit card saya sempat nggak jalan). .Asik banget ya, harganya terjangkau dibandingkan dengan airline company lain, walaupun katanya rebutan duduknya -> Padahal nggak loh... ngapain pula rebutan, toh pesawat cuma seutek2.

Sampai di sana, kita langsung naik taksi menuju hotel kita Conrad Resort and Spa, Tanjung Benoa. Begitu nyampe lobby, langsung berasa kayak lagi nggak di Indonesia. Maklumlah, 99% penghuni hotel itu adalah orang bule atau Jepang. Langsung disambut pula dengan welcome drink, dan kita nggak perlu ngantri di lobby. Receptionist-nya datang sendiri ke kita... udah kaya raja banget. Mana di balkon, lagi ada model Jepang seksi lagi ambil photoshoot.... mayan tontonan gratis. Kamar kita menghadap kolam besar dan laut. Wah, udaranya enak banget... Kamarnya besar dan bagus, semuanya marmer. Lalu fixturesnya modern. Semua ruangan terpisah. Shower, closet, dan bathub... lalu bathubnya bisa buat nyemplung 2 orang sekaligus. TVnya besar, lengkap dengan DVD player, lalu ada balkon untuk kita duduk2 menghadap pantai. Betul-betul kamar hotel yang pas buat orang honeymoon. Sayangnya kita honey-nya ora ono, apalagi moon-nya. Malam itu kita nggak kemana2. Hanya ke mini market, dan makan di Warung Boga punyanya Bu Putu. Masakannya enak banget...sampe akhirnya beli lagi buat bawa pulang.. (ini mah rakus).

Oh iya, karena saya member diamondnya Hilton, saya jadi dapat courtesy untuk masuk ke lounge executivenya. Internet gratis, breakfast gratis, afternoon tea gratis, cocktail gratis. Tapi berhubung kita jalan2 melulu, hanya internet dan breakfastnya saja yang bisa kita gunakan. Masuk ke situ lebih berasa minoritas lagi, lantaran isinya cuma orang Jepang dan Amerika. Menu sarapan paginya beda dengan yang biasa. Biasa kan kita makannya tuh ham, sausage, telur gitu gitu deh pas di hotel... kalau yang ini menu makan paginya ada miso soup, sushi, smoked salmon, smoked turkey, bubur ayam, soto ayam, salad, buah2an, pastrami, salami, cheese, selain itu kita juga bisa pesan made to order egg benedict, salmon benedict, omelette, pancake, dll. Uenak tenan. Mana pelayanannya luar biasa... minum saja kita ada air, pilihan juice yang diantarkan langsung, dan kopi atau teh. Pilihan tehnya banyak sekali dan berkualitas. Jangan ngiler ya !

Hari kedua, kita dijemput oleh Bli Komang. Kita sewa mobil dan sopir (alias Bli Komang), sampai kita diantar pulang ke airport nanti pada hari kelima. Tujuan pertama kita adalah ke Taman Ayun. Ampun panasnya, sampai mama kerebongan pake sarung kayak orang lagi naik haji. Kata adek saya, pantesan aja namanya Taman Ayun, soalnya kita cuma muter doang sampe pala kita pusing berayun2. Maksa banget nggak sih ? Tujuan selanjutnya kita ke Bedugul. Di sini udaranya enak sekali karena Danau Bratan betul2 memberi kesejukan. Kita sampai betah berlama-lama di sana. Habis gitu baru brasa kalau perut lapar. Karena pilihan di daerah sana tidak terlalu banyak, kita makan di restoran buffet yang menyediakan makanan Bali. Makanannya biasa, pelayanannya kurang, dan harganya nggak sesuai banget. Yang paling parah, itu wece kok kotor banget ya... ngga malu apa sama turis2 ? Habis makan kita menuju Tanah Lot. Baru sampai langsung nafsu lihat kelapa muda. Langsung deh sruput2 nyam nyam. Sore itu kita puas banget nongkrong di Tanah Lot sambil nunggu matahari terbenam. Indahnya bukan main deh, sampai dishooting sama adek saya dari matahari masih di atas sampai turun. Yang kerennya lagi, pas matahari turun, ribuan burung2 keluar dari sarangnya, langsung memberikan kesan mistis. Karena kita keluarga iseng, pas jalan balik ke mobil, kita sempet2nya bikin tatoo temporary. Saya dan mama yang kupu2, dan adik yang naga. Keren deh, sampe adik saya pamerin terus loh. Malamnya kita makan di Warung Made, Seminyak. Harganya nggak murah, tapi makanannya enak ! Saya dan mama share nasi campur Bali, dan adik saya makan ribs. Semuanya top, nasinya pedes tapi asoy. Sayang malam itu saya mulai terserang flu.

Hari ketiga, tujuan kita adalah ke Kintamani. Walaupun pemandangannya indah banget yaitu Gunung Batur dan Danau Batur, kita tidak bisa enjoy karena dikejar-kejar sama penjual souvenir. Ampun deh... mulai dari nawarin pakai bahasa Inggris, lalu ganti bahasa Jepang, lalu ganti bahasa China, lalu terakhir bahasa Indonesia. Parahnya, mau pipis aja tukangnya minta uang 2000 rupiah per orang ! Gila gila gila. Siangnya kita menuju ke Ubud yang terkenal dengan terasering alias sengkedan, alias sawah yang susun2 indah banget. Bli Komang bawa mobilnya lewat jalan jalan kecil di tengah sawah...cantik deh pokoknya. Siang itu kita makan di Bebek Bengil yang uenak tenan. Bebeknya garing kriuk kriuk, sambelnya top banget. Kita duduk lesehan di deket kolam teratai. Padahal flu saya tambah berat, tapi saya enjoy banget makan di situ. Recommended! Setelah dari Ubud, kita mampir ke Pasar Gowang yang terkenal menjual kerajinan bali dengan skala besar. Di situ, saya sempat jadi pelawak pas mau beli sendal. Kata tukang sendalnya,"Dek, adek tinggal di sini saja deh. Adek lucu, lumayan buat hiburan !" Darn it... emangnya saya Warkop apa ? Sorenya kita mampir di kompleks Garuda Wisnu Kencana. Wah itu juga indah banget. Kita naik ke patung Garuda, lalu ke patung Wisnu. Kita sampai bengong, gimana caranya itu tebing dibelah belah... ckckckck... Malam itu sebetulnya kita kepingin banget nonton konser Ari Lasso di Kamasutra di daerah Kuta. Tapi karena kondisi badan saya yang terus turun, akhirnya rencana dibatalkan. Padahal Mama adalah fans beratnya ALass.... kecewa banget deh... cuma kan namanya ortu pasti sayang anak. Malam itu, kita balik ke warung Bu Putu. Hari ini pesen makanannya makin gelo, karena semuanya enak, jadi kita cobain macem2, dan tetep aja, semuanya UENAK ! Maklum suami bu Putu adalah mantan koki chinese food di hotel bintang lima. Sekarang, walaupun anaknya yang masak, tetep saja manteb masakannya.

Hari keempat, pagi itu kita pergi ke Kuta. Kalo cowok cowok sih berharap di Kuta bakalan ketemu cewek-cewek topless. Boro boro deh... yang banyak tuh abang abang nawarin surfing sama kakek nenek lagi leyeh2. Pantainya juga sudah kotor, nggak seindah dulu. Jadi nggak betah deh kita lama lama di sini. Habis gitu kita ke pabrik kata kata Joger... lumayan, masuk situ betah deh lama lama, baca2in kata kata hancur yang diciptakan pak Joseph Theodorus dan timnya yang sama2 gelo. Sayang ya di sana kita nggak bisa foto2. Selepas itu, kita menuju ke Denpasar untuk makan siang. Bli Komang menyarankan kita makan di Pecel Bu Tinuk. Wadoh itu pecel puedesnya minta ampun, padahal saya minta yang sedeng saja. Jadilah hidung saya tambah meleleh2. Sebagai snack, saya beli ongol2. Baru makan satu piece, langsung saya minta mama beli sekotak lagi. Enak banget empuk klenyer2 gitu. Habis makan, kita lanjut ke tempat foto dengan pakaian adat Bali. Tempatnya masuk ke gang kecil banget. Di situ kita bertiga didandanin layaknya pangeran dan putri bali. Badan saya dibebet2 sampe kayak kue lepet. Muka kita dimakeup kayak ondel ondel deh... Habis difoto yang resmi oleh si Mas-nya (asli namanya Mas Joko orang Banyuwangi, bukan orang Bali), kita mulai berfoto gaya bebas yang kacau balau. Habis difoto itu, brasa banget kalo susah aje jadi orang bali yang pake baju tradisional. Kita kepanasan luar biasa sampe teler. Begitu stagennya dilepas, leganya bukan main. Sorenya kita mampir di Titiles untuk beli abon, krupuk kulit, dan dendeng. Maaf semuanya nggak ada yang halal. Di halaman Titiles sudah kayak kebun binatang aja. Ada macan, singa, ular, dan binatang2 aneh termasuk ikan2nya yang oversized. Lumayan, menghemat biaya daripada harus ngunjungi kebun binatang. Malamnya kita makan di Restoran Rumours di Jalan Oberoi daerah Seminyak. Ini adalah restaurant Steak yang suasananya enak, dagingnya dari Australia, dan harganya terjangkau. Saya pesan tenderloin medalion, adik saya pesan lambshank, dan mama pesan tuna steak. Semuanya empuk dan enak. Malam itu kali pertama kita kehujanan di Bali. Bli Komang sampai ketiduran nunggu kita di mobil. Pokoknya malam terakhir kita di Bali indah banget deh.

Hari terakhir, pagi itu kita pergi ke gereja Maria Bunda Segala Bangsa di daerah Nusa Dua. Uniknya, gereja ini terletak di satu kompleks dimana ada 5 tempat ibadah menjadi satu. Kebersamaan memang indah ya. Mulai dari Masjid, Pura, Wihara, Gereja Kristen, dan Gereja Katolik semuanya bersebelahan. Kembali dari Gereja, kami langsung packing dan sarapan. Saya dan adik sempat turun ke pantai untuk terakhir kalinya dan berfoto-foto ria. Setelah check out, kami diantar Bli Komang ke airport. Terima kasih Bli Komang !! Bye bye Baliiii !!! Seperti pak Joger bilang: JOGER JELEK, BALI BAGUS !

Wednesday, October 18, 2006

Kejadian Unik Perjalanan ke Jakarta

1. Pas sampai di bandara O’Hare Chicago dan mengantri untuk check in, saya kebagian penjaga counter yang mukanya judes minta ampun. Sebelum giliran saya, dua orang sebelum saya dijudesin sama dia. Yang pertama disuruh buka kopernya karena keberatan 1 kg, dan yang kedua disuruh buka gembok kopernya. Waduh, gawat kata saya karena koper saya kan penuh banget. Habis gitu tiba giliran saya. Eh ternyata dia ramah banget sama saya. Pas nimbang koper ternyata beratnya 31 kg, which is 1 kilo dibawah limit. Dia malah ketawa-tawa, apalagi pas saya bilang, kalau semalem kopernya saya timbang dulu. Koper saya dua duanya juga dikunci, eh nggak disuruh buka kuncinya. Dia langsung suruh saya proceed ke bagian pengecekan bagasi tanpa embel. Cepet banget !!

2. Di bagian pengecekan bagasi, pertama yang terima saya cewek orang hitam tinggi besar dan berwajah seram. Saya disuruh buka gembok koper saya sama dia. Saya sebenernya sebel juga dengan peraturan ini. Maklum lah, di Jakarta terkenal banyak maling isi koper, jadi kalau sampai nggak dikunci bahaya banget. Pas saya mau buka gemboknya, petugas satu lagi yang cowok Latino deketin saya. Dia bilang, nggak usah dibuka dulu. Dia cuma ambil wipe, gosok gosok di kopernya, lalu dicek ke mesin, dan dia kasih saya lewat gitu saja tanpa buka koper ! Lancar !!

3. Penerbangan hari itu ternyata full house. Saya dapat tempat duduk kedua terakhir dari belakang. Untung masih dapat di aisle, kalau nggak bete kali ya tiap kali ke wece harus ngusir orang. Oh iya, ternyata saya duduk berdekatan dengan rombongan dari Canada berjumlah 30-an orang yang sedang melakukan perjalanan menuju ke Beijing, China. Semuanya orang tua tua, dan semuanya berbahasa Perancis! Ampun ributnya luar biasa… “franc te comfranc comfranc..” Nggak jelas ngomong apaan. Sampai pada saat saya mau tidur saja susahnya bukan main. Tapi lumayan saya jadi kenalan dengan satu pasanngan orang Canada yang tinggal di Ottawa, sampai akhirnya kita jadi ikut ngobrol2 sampai dimarahin sama pramugarinya. Payah tu pramugari ! Pas kakek nenek yang ngobrol2 didiemin. Pas giliran saya yang anak muda, dimarahin!

4. Walaupun dikelilingi orang Canada, ternyata di sebelah saya yang duduk adalah seorang kakek kakek orang Vietnam yang resenya minta ampun. Pertama sih masih simple2, dia ngga bisa buka bungkus kacang, jadi saya bantu bukain. Kedua, dia pesen minum. Pesennya pasti alkohol. Pertama kali bir, tapi dia ngga tau mau minum bir apa, lalu dia tunjuk bir Asahi. Selanjutnya pesen wine, white, lalu red. Lalu dia mau pesen bir lagi. Tapi kali ini pramugarinya beda dan si Vietnam nggak ditunjukkin birnya sehingga dia ngga bisa asal tunjuk. Lalu saya tanyain, mau bir yang sama? Lalu dia bilang, “Yes”. Saya bilang sama pramugarinya, bir Asahi. Eh si kakek ini ngoceh sama saya..dia bilang:” I wanna try different !” Untung masih sempet birnya diganti dengan bir Kirin. Ampun! Udah mana sering batuk batuk, lalu pas dia tidur, space saya ikut diambilnya, dan dia mulai menggeleyot2 di pundak saya. Sampe saya goncang, akhirnya dia balik tegak lagi. Duh, kalau saya punya uang banyak, saya pindah deh ke first class!

5. Di bandara Narita, saya masuk bagian orang orang yang transit tapi stay overnight di hotel Nikko. Eh tak disangka ketemu dengan manusia Indonesia lainnya. Namanya Mas Agus, orang Jawa (medok banget), rumahnya di Cibubur. Ngakunya beranak dua tapi cincin kawinnya nggak dipake hihihih… lumayan jadinya pas nunggu shuttle ke hotel ada temen ngobrol. Dia kemaren dari Chicago untuk conference supplier barang2 chemical gitu. Besoknya kita sama sama naik pesawat lagi barengan untuk ke Jakarta. Cuma tempat duduknya beda. Pesawatnya nggak sepenuh kemarin.

6. Bener juga apa yang orang orang bilang tentang betapa kecilnya kamar2 hotel di Jepang. Ampun, kamar saya begitu kompaknya, sampai nggak bisa gerak! Ranjangnya ukuran full, nempel di tembok. Boro boro ada setrika, lemari aja imut banget. Kamar mandi betul betul pas pasan dan functional. Tivinya LCD untuk menghemat space, siarannya bahasa Jepang semua, termasuk CNN di dubbing ke dalam bahasa Jepang. Yang paling parah sih acara anak anak di Jepang, aneh binti ajaib!! Anak2 kecil didandanin aneh aneh, lalu orang gedenya juga sama errornya pakai kostum. Belum lagi boneka2nya kayak model sesame street, tapi tampangnya kayak alien semua. Ranjangnya keras kayak papan penggilesan. Badan sakit sakit semua habis bangun tidur.... udah gitu bikin bobonya ngga bisa lama, hanya 4 jam saja, padahal capek. Yang hiks juga, nggak ada internettttt !! Udah janji mau telepon mama via internet... jadi nggak bisa deh. Nggak nyangka, Jepang yang teknologinya bagus, ternyata pelit banget soal urusan tempat tinggal.

7. Untungnya, walaupun kamarnya kurang memadai, sarapannya memuaskan. Perpaduan antara American breakfast yang sausage, telor, ham, dll, sampai ada makanan Jepangnya yang model shiumai, bubur, dan condiment lainnya. Saya makan nggak gitu banyak, dan minum miso sup. Pas lagi sarapan itu, ketemu dua ibu ibu kembar berumur 60 tahun dari Australia. Namanya Pili dan Marilyn. Mereka sedang dalam perjalanan menuju ke Spanyol. Wah seneng banget ngobrol sama mereka... apalagi mereka di Australia juga punya teman orang Indonesia. Tapi menurut mereka saya beda dengan orang Indonesia yang biasa mereka temui... Mungkin bedanya cerewetnya kali ya hehehehe. Kita ngobrol mulai dari politik, agama, sampai fengshui ! Sampai dicatet loh sama mereka yang saya bilang soal posisi posisi dan shio shio. Seru banget. Sayangnya terpaksa harus udahan ngobrolnya karena saya harus berangkat ke bandara. Sebelumnya kita sempet foto foto dulu dan tukeran alamat.

8. Asyik....pesawat dari Jepang ke Jakarta kosong melompong. Jadilah saya pindah duduk di belakang dan bisa bobo-boboan. Tadinya sih saya duduk dengan seorang ibu dan anaknya yang berasal dari Indonesia juga. Katanya sih, salah satu anaknya ibu ini sedang bekerja di Jepang. Jadi dia dan anaknya yang satunya ngunjungi kakaknya gitu. Pas sampai di Jakarta, saya kaget berat, ternyata si Ibu ini pejabat... ngga pake lewat imigrasi lagi, langsung tuh yang jemput para ajudan ajudan gitu. Ampun deh, di Indonesia kalau jadi pejabat enak ya, semua serba mudah.

9. Sampai di airport Cengkareng, ternyata pesawat saya tiba jauh lebih awal dari perkiraan. Parah ya, airport Cengkareng sudah kayak terminal. Ada yang nawarin saya kartu telepon siap pakai, parfum, sampai jam rolex tembakan. Belum lagi para karyawan yang memaksa untuk mendorongkan koper saya. Sempet takut juga, mana saya sendirian. Untung ada Mas Agus (yang diceritakan di atas itu) lagi nunggu istrinya, dan dia dengan baik hatinya menawarkan handphone, bahkan beliin saya Teh Botol karena saya nggak punya uang rupiah di tangan. Setelah nunggu sekitar setengah jam, bertemulah saya dengan Mama dan Adik tercinta...Langsung deh berpelukan kayak teletubbies... BERPELUKAN !!

Tuesday, October 17, 2006

I'm Back

Saya kembali lagi...

Dengan perasaan sedih...

Pulang kali ini kok rasanya sebentar sekali...

Baru kemarin bobo rame rame bertiga dengan mama dan adik...

Hari ini harus bobo sendirian lagi...

Mana cuaca tiba tiba dingin, langit mendung, hujan juga turun...

Bikin hati jadi tambah meringis...

Mama...pingin peluk lagi...

Tuesday, September 26, 2006

Pulkam !!

Mak, aye udah nyampe, Mak !

Maap sodare2, ini internetnye bikin kaga kepengen ngapa2in. Maklum de, lambretta ngajubile... Jadi maap, kagak sempet mampir ke kedieman temen2 semuenye..

Benernye mao banget bagi bagi cerite, tapi nanti aje ye kalo aye udah balik ke negeri bule...

Sampe ketemu sodare2, sekarang aye mao makan tempeeeee...

Thursday, September 21, 2006

Joey Lawrence...my new Idol

Adoh... Si Mario Lopez this week... kacau banget. Disuruh dance quickstep malah ngedance latin nggak jelas.. parah parah... Nggak mau taro videonya deh...

Mending nonton ini, Joey Lawrence !!! Dia dapet nilai sempurna dari 2 juri dengan total 29. Ini baru quickstep !!




Video: Courtesy of rickey.org

Monday, September 18, 2006

Transformasi

Habis ngubek ngubek foto di computer, ketemu dua foto lucu yang posisinya mirip padahal nggak direncanakan. Yang pertama, saat saya dan adik masih kecil, dan foto terakhir dengan dia saat liburan dua tahun lalu di Indonesia.


Dua anak montok duduk di kursi Opa.


Gantian, sekarang dede lebih gede daripada saya.

Kok Jadi Gini ?

Judul di atas bukannya lagu Hetty Koes Endang yang menang HDX award di tahun 80-an. Tapi weekend ini kok jadi gini yah ?

Pertama, Jumat sore sepulang kerja, saya tidur dari pukul 7 malam, bangun bangun hari Sabtu pukul 7 pagi. Habis gitu, chatting sama mama selama 3 jam. Yak betul 3 jam nonstop !!

Kedua, Sabtu siang, saya rencana kepingin beli baju renang. Mau ke Bali, malah lupa beli baju renang. Mana musim panas sudah selesai, susah banget cari baju renang. Sampai di Mall, yang kejadian adalah saya malah blanja blanji nggak jelas, endupnya malah bawa 5 kantongan. Apa karena saya terlalu stress sama kerjaan ya ? Baju renangnya sih dapet, tapi bonusnya juga nambah.

Ketiga, Minggu pagi saya ke gereja. Pulang gereja saya bengong2 sambil browsing browsing. Pukul 2 siang saya bobo lagi !! Bangun bangun pukul 6 sore, mulai mulai packing. Alamakkkk...koper saya penuhnya bukan main. Pas nimbang ternyata beratnya sudah hampir mencapai limit 70 pound EACH !! Padahal masih ada lagi yang kepingin dibawa. TIDAAAKKKK !! Beginilah, setiap kali saya ke mall, selalu keingetan mama dan adik... duh ini lucu ya buat adek, duh ini bagus ya buat mama... ya begini deh jadinya..

Ngga sabar pingin pulang kampung... padahal masih beberapa hari lagi...


Thursday, September 14, 2006

Dancing With The Stars is Back !!

Akhirnya, setelah hari hari kelabu, inilah hiburan di Selasa malam kemarin. Season Premiere of Dancing with The Stars. Bikin kangen lagi sama ballroom dancing.

Masih inget sama Mario Lopez nggak ? Yang dulu main Saved by The Bells yang rambutnya kriting-kriting dan suka ngerasa sok keren itu ? Dia adalah salah satu kompetitornya. He's my favorite to win this competition based on last night show. Keren banget !! Oh iya, dia punya ADHD loh alias hyperactive (Note buat Dian: Di, si Iki dimasukin les dance aja...kali bisa disalurkan tuh bandelnya). Dibawah ini saya selipkan video penampilan dia kemarin. Awesome performance... ngga sabar untuk nunggu minggu depan. Waduh, tapi saya bakalan ketinggalan 3 minggu nih karena pulang kampung...



Bonus:
Di bawah ini adalah flyer dari tahun 2002 yang saya buat untuk final performance ballroom dancing class. Ternyata masih saya simpen filenya di dalam komputer. Saya pikir udah hilang loh... Kalau lupa cerita terjerumusnya saya di dunia dance, bisa klik di sini.


Romusha....

Pertama-tama, maaf kalau ceritanya panjang banget... kalau mau baca silakan, kalau nggak mau, ya dilewatkan saya... mungkin isinya kurang menarik, apalagi kalau anda lagi stress, nanti bisa tambah stress. Selamat menikmati hihihihi...

Sepertinya bos bos dan scheduler tau saja kalau saya mau liburan sebentar lagi. Minggu lalu hari kamis, tiba tiba saya dapat email kalau saya harus melakukan inventory di salah satu toko pakaian di Brookfield Mall pada hari Minggu. Padahal saya juga masih ada kerjaan lain yang saya harus kerjakan weekend itu juga supaya saya tidak membawa beban gila gilaan sebelum pulang kampung. Rencananya sih saya akan kerja di kantor hari Sabtu dan minggunya santai santai, tetapi ternyata minggu juga harus kerja. Manager saya sudah bilang, inventorynya ini adalah inventory kejutan, jadi karyawan tokonya tidak ada yang tau kalau saya akan datang tiba tiba dan melakukan audit terhadap inventory mereka.

Sabtu kemarin, saya malas luar biasa. Teman saya chatting pagi pagi dan kita sepakat mau shopping dan nonton bareng aja. Saya pikir, boleh juga daripada stress mikirin kerjaan terus. Toh kerjaan yang hari Sabtu saya hanya butuh waktu kira kira 3 jam, jadi saya bisa jadikan satu di hari Minggu sebelum inventory toko baju. Sabtu itu kita gila gilaan. Dimulai dari makan siang bareng, lalu nonton "Little Miss Sunshine" (highly recommended !!), lalu jalan-jalan di dalam mall, lalu cari sepatu di toko lain di luar mall, lalu ke mall lainnya, dan diakhiri dengan makan malam di kedai frozen custard.

Hari Minggu, saya ke gereja pukul 9 pagi. Pukul 2 siang, saya sudah ada di kantor, sendirian !! Setelah kerja selama 3 jam pukul 5 sore, saya berangkat dari kantor ke mall. Pukul 5.30 sampai di mall, cari tokonya, lalu 5 menit sebelum jam 6, tadaaa....SURPRISE !! Sang auditor nongkrong di depan tokonya. Jadilah manager tokonya sumpah serapah dan stress berat. Dari 300 cabang toko yang dimiliki oleh perusahaan pakaian ini, hanya 25 yang dipilih, dan tokonya dia termasuk di dalamnya.

Saya mulai interview managernya dikit2, lalu melakukan beberapa tes juga. Kata manager tokonya sih, paling malam pukul 10 juga sudah kelar. Baguslah, dalam hati saya karena saya malam itu memang belum sempat makan. Nah, toko ini tuh mempekerjakan specialist inventoris untuk melakukan penghitungan pada hari itu. Saat team specialistnya datang, saya kaget juga sih. Semuanya orang item, mukanya pada kayak nggak niat bekerja. Betul aja, banyak banget kesalahan penghitungan yang mereka buat.

Pukul 11, boro boro kelar, makin banyak kesalahan yang ditemukan. Jadilah mereka harus hitung ulang berkali kali. Bayangkan deh, toko baju begitu besar, barangnya ada ribuan, mulai dari pakaian dalam, aksesoris, jeans, shirt, sampai parfum. Dan yang paling tidak menyenangkan adalah, tingkah laku para anggota inventoris itu. Bukannya saya rasis, tapi tingkah laku mereka sudah kayak slacker, nggak ramah sama sekali, dan marah2 pas kita suruh hitung ulang, padahal itu kesalahan mereka. Seandainya mereka hitung dengan benar kan kita nggak perlu sampai malam begini. Pukul 12.15 subuh, saya sudah nggak tahan. Mata sudah berkunang2, akhirnya saya pulang dengan beberapa test yang belum selesai. Saya bertekad untuk kontak mereka saya besok pagi untuk follow up. Malam itu juga saya sms teammate saya untuk client yang hari Senin (I'm gonna call it client blower kompor) kalau saya bakalan terlambat, karena badan saya betul2 rontok. Saya janji sampai di sana pukul 9 pagi.

Senin pagi, saya bangun pukul 7.45. Perjalanan ke client blower kompor memakan waktu 50 menitan (sekitar 70km). Ternyata oh ternyata, saya lupa kalau saya ada janji dengan client blower kompor untuk melakukan another inventory pada pukul 8 pagi !!! Jadilah saya kalang kabut dan langsung telepon ke client saya, bilang kalau saya tidak akan bisa make it karena saya kecapekan malamnya. Untung clientnya ternyata bisa reschedule jadi hari Selasa. Hari Senin itu saya juga harus follow up dengan client yang toko baju itu untuk testing yang kemarin belum selesai. Ternyata oh ternyata, workpapernya ketinggalan di rumah !! Ampun deh, not my day banget hari itu. Udah gitu, harga barang di toko itu bakalan berubah pas hari selasa, jadi saya harus follow up dengan testingnya senin malam itu juga. Siang itu saya nggak bisa ngontrol diri. Saya makan cheeseburger, french fries, minum diet coke, dan makan es krim !!!

Senin malam pas sampai rumah, saya masih berkutat di depan komputer untuk follow up dengan si client toko baju. Selasa pagi, saya akhirnya kesampaian untuk bisa melakukan inventory di client blower kompor. Pukul 8 pagi ketemu dengan contact personnya. Tau nggak pas ketemu dia bilang apa ?? "Waduh, kalau kamu jadi bawahan saya, udah janji lalu batal kayak gitu, kamu sih bakalan saya pecat !!" Ngomongnya sih sambil kedipin mata, tapi tetep aja !! He didn't know what I've been through...

KURANG AJAR... DARN IT DARN IT DARN IT !!

Sunday, September 10, 2006

American Idol Audition (Lagi...)

Summer hampir berakhir, itu tandanya, musim gugur akan segera tiba dan: Audisi American Idol digelar kembali wahahahaha (ketawa ala nenek lampir). Tahun lalu, salah satu kota yang disinggahi oleh panitianya adalah Chicago. Berhubung lokasi saya yang dekat dengan Chicago (hanya 1.5 jam), saya nekad untuk ikut audisi dengan kondisi tidak eligible (karena saya kan orang Indonesia gitu loh, mustinya ikut Indonesian Idol ya ?....) dan berngantri2 ria selama 12 jam. Untuk cerita lengkapnya, silakan baca di sini.

Tahun ini, saya tidak niat sama sekali untuk ikut audisi. Pertama, karena saya tau saya memang tidak eligible, kedua lokasi audisinya jauhhhh... di Minneapolis alias 6 jam menyetir. Tapi tiba tiba dua minggu lalu ada berita menarik. Salah satu stasiun radio di kota saya mengadakan audisi di mall untuk 200 orang, dan pemenangnya akan langsung dikirim ke Minneapolis dengan tiket pesawat dan akomodasi gratis untuk audisi langsung dengan produser. Wah, lumayan juga nih, pikir saya, karena saya ingat tahun lalu ada orang Ukraina yang bisa sampai ketemu Simon, Randy, dan Paula. Tapi berita jeleknya adalah, untuk menjadi 200 orang yang ikut audisi itu, saya harus mengantri untuk ambil wristband pukul 7 pagi di sebuah mall, dan hari pengambilan wristbandnya itu adalah hari ujian sayaaaaa...HUAAAAAA !! Ngga adil ngga adil !!

Sehari sebelumnya, saya masih timbang2, ambil ngga ya, ambil ngga ya ? Saya nelepon mama, mama bilang, terserah kamu deh... asal ujian jangan terbengkalai. Akhirnya dengan kenekadan dan semangat bangun pagi, pukul 6.30 saya sudah mengantri di mall dan pukul 7.15, saya sudah menjadi bagian dari 200 orang yang akan di audisi sore nanti. Itung-itung, audisi ini adalah ajang melepas stress setelah ujian jahanam itu. Siang itu, saya menjalani ujian 4 jam lamanya. Dan sorenya, langsung ke mall !!!

Sampai di mall, ternyata antrian manusia yang menunggu giliran sudah puanjanggg... saya dapat nomor 118 (ayo yang mau pasang lotere). Biasanya kan kalau audisi Idol itu kita nyanyi di depan juri aja, eh audisi yang ini, selain nyanyi di depan juri, kita harus nyanyi pakai microphone di depan orang orang yang lagi makan di food court...TIDAKKK !!! Setelah menunggu sekian lama dan mendengar berbagai suara kicauan manusia ( mulai dari yang jelek buanget, bagus banget, sampai yang ngga niat ), sampailah kepada giliran saya... saya menyanyikan lagu It Had To Be You-nya Frank Sinatra. Betul2 cuma dikasih waktu 30 detik, diukur pakai stop watch ! Aneh benerrrr.... Habis saya nyanyi, si pembawa acara radionya sih bilang kalo aku bagus (mungkin cuma penghibur hati aja kali yaaa). Pengumumannya akan dikasih tau di stasiun radio besoknya jam 8 pagi.

Besoknya saya sih males bangun pagi pagi. Saya cek aja pemenangnya di website radio tersebut. Saya nggak menang... Begitu tau nama pemenangnya, saya Google namanya. Ternyata ada beberapa interesting fact dari orang ini:
1. Dia adalah penyanyi Broadway professional -> Terang aja nyanyinya bagus !!
2. Dia sudah punya website pribadi dengan www . namanya dia . com -> Anjir, artis sejati !
3. Dia gay -> Yang unik unik begini memang yang biasa dicari produser.

Kesimpulannya: Ngapain ini orang ikutan audisi Idol lagi ? Profesinya memang penyanyi kok. Padahal pas saya audisi itu, banyak banget orang orang potensial yang memang betul betul raw talent. Sekali lagi: NGGA SERU AH !!

Wednesday, September 06, 2006

Bonus Foto Ulang Tahun


Buat yang dulu sudah nunggu foto ulang Tahun, akhirnya bisa lihat sekarang. Sebetulnya beberapa hari lalu sudah bisa diupload, tapi nggak enak karena suasana masih berduka sepeninggal Teh Inong. Jadinya sekarang baru foto2nya saya upload...

Enjoy the pictures :)

Lagi Seru Ngobrol

The Other Table, Enjoying The Dessert

Tiup Lilinnya Sekarang Juga :)

All The Girls

All The Boys (Minus one, gara2 musti kerja)


The Whole Gank (Minus yang lagi kerja dan yang motoin :))

Yah begitulah acaranya, yang lumayan sudah basiiiii hihihhii.... Tapi beneran, foto2nya baru seminggu yang lalu kok dapetnya dari yang punya kamera.. jadi kita sama sama menikmati kebasiannya !!

Tuesday, September 05, 2006

Dapet Peer Padahal Udah Ngga Sekolah

Dipaksa Jeng Tiwi untuk ngerjain peer. Padahal aku kan udah nggak sekolah Jeng. Tapi terus terang, aku lebih seneng bikin peer daripada kerja lembur....

Favourites

Favourite Colour: All kinds of color. For house interior (kalo sudah beli) earth tone, for clothes, segala aya !
Favourite Food: Masakan Mama, soalnya enak semua (makanya anaknya gendut)
Favourite Song: Susah amat ini pertanyaan ! Aku suka semua lagu, dari model I Started A Joke-nya BeeGees, sampai Gereja Tua-nya Panbers, sampai Kopi Dangdut-nya Fahmi Shahab, sampai Judul-Judulan-nya PMR... terorejing torejing torejing.... TARIKKKKK !!
Favourite Movie: Shrek 1-2 (Love the Donkey !!)
Favourite Sport: Sepedaan...sampe betis kayak tales Bogor.
Favourite Day of the Week: Saturday, karena bisa bangun siang, ngulet2, masak, makan, lalu bobo lagi... (kebo sejati!)
Favourite Ice Cream: Banana Foster

Currents

Current Mood: Teler, kebanyakan ketawa pas labor day weekend.
Current Taste: Manis manis (kebanyakan makan kueh sus)
Current Clothes: Celana bobo bunga bunga dan T-Shirt Benhur (dari Santa Ursula pas tampil tahun 2000)
Current Desktop: My company's slogan "Quality in Everything We Do" Weekkkk....
Current Toenail Colour: Warna kuku pada umumnya (nggak pernah kesentuh nail polish nih..)
Current Time: 10.40 PM CST
Current Annoyance: Why am I supposed to go to work tomorrow ?? And I hate business professional clients ! I don't like wearing suits.
Current Thoughts: Kenapa saya nggak kurus2 ya ?

First

First Best Friend: Ika Kurnia Shinta (Temen nongkrong deket selokan, sambil nunggu gerbang sekolah dibuka)
First Crush: Anehnya, saya tuh ngga bisa crush2an. Kalau cowoknya deketin, baru bisa nyambung. Eh kalau sama Bon Jovi itu termasuk crush ngga ? Namanya juga anak SD hihihi...
First Movie: Sleeping Beauty (Seyem ratu jahatnya... kalo sekarang ketemu mau aku tonjok !)
First Lie: Nggak tau ini category lie atau bukan.. pas aku kelas 3 SD, aku bilang sama guruku kalau aku mau pulang karena ngga enak badan. Padahal aku ketakutan kalau hari itu periksa kuku dan kuku-ku lagi panjang. Soalnya gurunya galak, kalau panjang dipukul pakai penggaris kayu, lalu dipotong pakai gunting kertas... (sadismeeeee)
First Music: Tak Ingin Sendiri-nya Dian Pisesha by JK Record (bayangin, anak 2 tahun, nyanyi lagu ini komplit dengan gayanya.

Last

Last Cigarette: Gak pernah dan ngga mau nyoba.
Last Drink: Air putih dong !
Last Crush: Lately, nggak pernah tergila2 seseorang. Mungkin karena udah tua kali ya.
Last Car Ride: Barusan, nganterin Sudha, si India ke rumahnya.
Last Phone Call: Mamaaaaaa...
Last CD played: The Power Of Movie, terutama lagu That Thing You Do, lalu sama si Yuyun buka kaca sambil nyanyi teriak2 ngga tau malu.

Have you ever

Have you ever dated one of your best friends: Belum pernah... lucu kali ya, jelek2nya ketauan semua.
Have you ever broken the law: Ngebut tanpa nyadar, lalu disetop pak polisi ganteng, eh malah ngobrol2 wakakaakak... Nggak kena tiket loh !
Have you ever been arrested: Nope!
Have you ever skinny dipped: Kagak euy... nanti kalo yang liat malah muntah2 liat kantong lemak berjalan.
Have you ever kissed someone you don't know: Belom pernah euy... saya kan anaknya pemaluuuu... HOEK...

Nah, udah kelar peernya. Saya kayaknya termasuk yang telat ngisi deh. Jadinya ngga tau mau kirim ke siapa. Tiwi, makasih ya, saya jadi nyadar beberapa hal kecil yang sudah lama tidak kesentuh dalam pikiran saya.

Saya mau cerita banyak di postingn selanjutnya soal apa yang terjadi sejak Kamis lalu. Tapi dicicil duu yah. Banyak banget soalnya.... oh iya, nanti ada bonus foto2 kemarin yang belum sempet diupload (kalau blogger nggak nakal).

Friday, September 01, 2006

Dapur Kehilangan Kokinya

Hari ini, begitu saya browsing2 blog, ujungnya saya menitikan air mata.

Teh Inong, pengasuh Dapur Bunda, dan juga sang ratu di keluarga, meninggalkan kita selama-lamanya. Setelah 2 hari berjuang dalam keadaan koma, Tuhan memanggil dia.

Umurnya, 32 tahun. Memang, banyak yang bilang, orang baik dan berhati mulia, tidak akan sulit meninggal. Segalanya begitu cepat, tanpa rasa sakit. Yang sakit adalah hati orang orang yang ditinggalkan. Kedua anak yang masih butuh kasih sayang ibunda: Zidan, si pangeran kecil yang penuh empati, dan Syifa, sang putri yang ditinggal ibunya sehari setelah ulang tahunnya yang ke-3. Belum lagi Haris, sang suami yang tidak akan pernah lagi merasakan belaian sang istri tercinta, dan sang Ibunda yang baru tiba di Singapura sejenak sebelum Inong kehilangan kesadarannya.

Apa tanda2 Inong akan meninggal ? Hampir ngga ada. Dia masih rajin update isi blognya, masih rajin kasih kita semua resep-resep masakan enak buatannya. Cuma satu yang saya perhatikan, akhir2 ini Inong senang menaruh video kecil soal tingkah laku Syifa yang sedang lucu2nya.

Waktu saya kehilangan Papa, tak banyak kenangan fisik yang tertinggal. Hanya baju-bajunya masih tergantung di lemari, sepatunya yang berjejer rapi di rak. Beberapa foto kenangan sejak papa masih muda sampai saat terakhir sebelum saya meninggalkan Indonesia masih saya simpan. Tapi yang selalu membuat saya selalu menangis luar biasa adalah setiap saya melihat video kenangan pas saya masih kecil bersama papa. Kita karaoke bersama, lalu mama yang mengambil gambar dengan handycam. Waktu itu, Noni kecil baru berumur 9 tahun, dan saya berjoget berdua dengan papa sambil menyanyikan lagu Paul Anka, Diana. Setiap melihat itu, air mata saya nggak bisa berhenti mengalir.

Tapi apa yang bisa saya bawa dari Papa ? Bukan kenangan fisik, tapi segala kasih sayang dan perbuatan yang dia lakukan dalam hidup, menjadi inspirasi saya, untuk menjadi orang yang lebih baik. Papa selalu berpesan, untuk jadi orang yang sabar, dan selalu sayang kepada keluarga karena keluarga adalah tempat kita pulang saat badai hidup menerpa, untuk jadi orang yang rendah hati, karena kita bukan siapa siapa dihadapan Tuhan.

Saya yakin, mungkin tidak banyak yang pernah bertemu dengan Teh Inong, atau punya fotonya. Tapi saya yakin, apa yang dia tulis, apa yang dia ungkapkan, telah menjadi inspirasi untuk banyak orang, dan hal itulah yang akan kita bawa dalam hidup kita.

Selamat jalan Teh Inong. Saya yakin, Teh Inong pasti sudah lega... sudah nggak sesak lagi... sudah tersenyum bersama Tuhan, dan siap membimbing anak anak dari jauh.

Monday, August 28, 2006

Perfect Inside

Masih ingat postingan beberapa hari yang lalu kan ? Saat final project ballroom dancing, saya dibantu oleh teman baik saya Steven. Nah pas giliran projectnya dia, gantian saya bantu dia. Apakah projectnya itu ? Nonton aja di bawah ya. Sabar untuk yang pakai dial up, tunggu saja sampai downloadnya selesai, baru klik play. Lalu speakernya dikencengin dikit, soalnya lagunya enak hehehe.

Saya bantu dia mulai dari nyusun cerita, sampai kerja di lapangan. Saat itu Spring Break 2003. Biasanya kalau Spring Break itu anak anak pada jalan jalan ke luar kota, atau paling nggak santai santai menikmati liburan 1 minggu. Tapi saya malah bantuin dia sampai akhirnya sempet down dan frustasi. Maklum temen saya yang satu ini, sangat perfeksionis sekali orangnya. Satu adegan diulang berpuluh kali. Mana saya kan jadi juru make up, jadi kalau makeupnya melting karena kena lampu yang panasnya ngajubileh, saya harus re-apply makeupnya termasuk ke pemeran yang cowok. Belum lagi stressnya memilih kostum, properti (beli bahan buat gorden, lilin, bunga, lampu, lukisan, dkk), dan berbagai masalah internal lainnya. Waktu itu, kita kerja sampai malam, sampai kru semua kelaparan (kru yang dimaksud adalah temen-temen sendiri). Lalu mobil kita pada kena tiket semuanya karena parkir kelamaan. Akhirnya digantiin sih sama si Steven, tapi keselnya masih kerasa, sampai saya tuh nangis loh, kenapa kok liburan saya seminggu hilang begitu saja.

Begitu lihat hasilnya, saya seneng banget. Segala capeknya rasanya terbayarkan. Film ini dibuat secara professional, di atas pita 16mm. Lalu semua sound effect itu ditambahkan belakangan, termasuk suara nyengir, langkah sepatu, suara ketikan dan lain lain. Musiknya diarrange dan dinyanyikan oleh teman kita juga Ivonne yang saat itu sedang melanjutkan pendidikan di San Francisco. Bayangkan, semua file lagu dikirim secara elektronik, sampai akhirnya jadilah suatu film yang utuh. Ivonne sekarang adalah pelatih vokal dan pianist juga. Kemarin dia baru menang juara 1 kompetisi piano di Italia dan bakalan tampil di Carnegie Hall, NY. Hanya orang-orang yang keren banget yang bisa tampil di situ. Lalu murid vokalnya Ivonne di Jakarta tuh si Angga-nya Maliq and D'essential lalu si Imel putri Indonesia 2003.

Yang lebih menggembirakan lagi, film ini masuk nominasi Short Film-nya Wisconsin Film Festival 2004. Walaupun nggak menang, tapi banyak banget apresiasi yang berdatangan terutama banyak yang bilang filmnya sangat beautiful. Dan film ini juga yang membuat teman saya Steven yang majornya Computer Science, makin mantap untuk mengubah haluan menjadi sutradara. Steven sekarang menempuh pendidikan masternya di USC, sekolah sutradara yang sangat prestigious di Amerika. Sekolah ini juga yang menelurkan Steven Spielberg si sutradara legendaris itu. Bayangkan, setiap tahun ada ribuan orang yang mendaftar, dan hanya sekitar 50-75 orang yang keterima di fakultas penyutradaraan USC. Saya sendiri berharap, di masa yang akan datang, Steven yang satu ini juga bisa berprestasi seperti Steven Spielberg dan membawa nama Indonesia ke pentas dunia... Cieh cieh !

Enjoy the short movie !

Wednesday, August 23, 2006

Tiup Lilin Part II

Sudah tiga tahun terakhir saya tidak merayakan hari ulang tahun saya bersama dengan teman-teman. Ulang tahun terakhir yang saya rayakan dengan kumpul2 rame-rame adalah saat saya berusia 21 tahun. Saat itu saya masih bersekolah di Fall 2003 dan perayaan ulang tahun saya dirayakan sebulan kemudian karena menunggu teman2 yang balik dari luar kota untuk summer school. Acaranya kumpul2 barbeque dan diakhiri dengan lempar2an balon air hahhaha… Inget deh saat itu kita semua janjian untuk nimpuk teman kita Lesdi dengan balon air secara bersamaan tanpa sepengetahuan dia. Malam harinya sebelum acara, saya dikejutkan dengan kedatangan lebih dari 20 teman2, dan Oh iya, kalo yang kenal sama saya, barbeque ala Leony itu bukannya hotdog dan burger. Waktu itu menunya: Rib Eye Steak, Honey Teriyaki Chicken Breast, Bratwurst, Sate Ayam Bumbu Kacang, Ribs, Potato Salad, Spring Salad with Shrimp and balsamic vinegar dressing, ditutup dengan buah2an dan es pudding tahu. Wahahahahaha….. Maaf kalau saya ngomongin makanan, kayaknya nggak habis-habis. Saya demen banget kalo organizing acara yang ada hubungannya dengan makanan. Makanya saya ngga bisa kurus sampai sekarang, tetep montok selalu (percaya nggak tangan saya masih ada bolong2nya kayak bayi ??).

Tahun 2004, adalah saat saya terakhir pulang ke Indonesia untuk liburan. Itulah ulang tahun terakhir yang saya rayakan bersama dengan keluarga. Saat mama saya nanya mau makan apa yang special untuk ulang tahun saya, saya minta bakmi Gang Kelinci. Nggak usah yang special, cukup mi baksonya saja. Saya sekeluarga ditambah oom, tante, dan sepupu saya menikmati bakmi Gang Kelinci yang sampai sekarang rasanya masih keinget2 di pikiran (di pikiran aja loh…hiks sedih ya). Tahun 2005, saya masih adaptasi dengan kehidupan di kota yang baru, termasuk dengan kerjaan saya. Saya inget banget waktu itu dirayainnya dengan mantan pacar. Sebelnya, dia itu janji mau dinner bareng saya. Ternyata dia baru datang jam 9 malam di saat saya mulai kelaparan sampai mau pingsan. Alasannya: nunggu teman2 lain ngumpul untuk surprise-in saya. Padahal saya nggak minta juga disurprise-in. Yang ada saya kesel minta ampun karena menahan lapar (karena saya pikir mau makan besar malamnya, jadi saya nggak makan siang yang cukup). Akhirnya dia masakin saya filet mignon. Bayangin deh udah kelaperan banget, masih harus nunggu dia masak dulu. Jam 10 kali kita baru makan... basi banget hahahahaha…

Tahun ini, saya ingin membuat sesuatu yang lebih special. Banyak sekali hal hal yang harus saya syukuri. Kerjaan saya baik dan lancar (walaupun masih kayak romusha), keluarga saya sehat dan happy, dan masih banyak lagi yang Tuhan kasih buat saya yang nggak bisa saya sebutkan satu persatu. Makanya, jauh jauh hari, saya sudah merencanakan syukuran kecil kecilan ini. Saya mengundang beberapa teman, mulai yang dari Milwaukee, Madison, sampai Minnesota. Acaranya adalah brunch di Lake Park Bistro yang terkenal dengan French Country cookingnya hari Minggu, 20 Agustus lalu. Menunya saya sudah pilih2 dari beberapa waktu lalu. Tiap orang dapat 1 first course, 1 second course, dan 1 dessert. Pilihan minumannya ada orange juice, champagne, atau mimosa.

L'APPETIZERS

SAUMON FUMÉ DE L'ATLANTIQUE
Cold-smoked Atlantic salmon marinated in extra virgin olive oil and lemon with a tomato-cucumber salad and toasted brioche.

CREVETTES GRILLEES A LA SAUCE DE CRUSTACES
Gulf shrimp marinated in olive oil, garlic, and black pepper with sautéed spinach and roasted tomato with sweet herbs over toasted baguette in a shellfish sauce.

HUITRES POCHEES AU CHAMPAGNE
Champagne poached west coast oysters with wilted spinach, Champagne cream, and American caviar.

LES ENTREES

OEUF POCHES AU JAMBON ET SAUCE HOLLANDAISE
Traditional eggs Benedict with cured ham, toasted crumpets, and Hollandaise sauce.

PAIN PERDUE AU GAUFRES AVEC FRUITYS EN COMPOTEA
Belgian Waffle or Brioche French toast with an assortment of fruit compotes, maple-rum syrup, and vanilla cream, and bacon

MILLEFUEILLE D'OEUFS SUR LE PLAT
Flaky pastry filled with scrambled eggs, spinach, and Basque-style stewed peppers.

SALADE DE POULET GRILLE
Marinated and grilled chicken breast with a salad of romaine lettuce, bacon croutons and Meaux mustard dressing.

LES DESSERTS

CREPES SUZETTE
Sweet crepes filled with orange custard and finished with Grand Marnier and navel oranges.

PRALINE CROQUANT ET MOUSSE AU CHOCOLAT GUANAJA
Crunchy praline and Valhrona chocolate mousse with saffron anglaise and mint ice cream.
ASSORTIMANT DE SORBETS DE FRUITS
An assortment of housemade fruit sorbets with a tuille cookie.

Hari itu, ada 23 orang yang hadir dari 24 yang sudah reservasi. Temen saya ada yang ketiduran karena jaga malam di rumah sakit. Jadi deh ketinggalan makan enak hihihi. Pas mereka datang, di depan kursi masing-masing sudah tertulis menunya dan dikasih bonus tulisan "Happy Birthday, Leony" oleh sang manager restaurant. Sayangnya menu oyster terpaksa harus dihapus karena kata managernya, pagi itu oyster yang tiba kurang baik kualitasnya. Acara berjalan dengan menyenangkan dan lancar, apalagi kedatangan teman2 dari luar kota yang sudah lama tidak ketemu, membuat semuanya menjadi lebih indah.

Pas dessert dikeluarkan, di atas chocolate mousse saya sudah ada lilin menyala. Kontan semua orang menyanyi, termasuk ada meja lain yang ikutan nimbrung. Yang ada, pas mau tiup lilin, saya jadi ketawa tawa.

Betul-betul acara ultah saya kali ini rasanya sangat berkesan. Kudos untuk teman2 saya dari Minnesota yang menyetir 6 jam dan teman2 dari Madison yang menyetir 1.5 jam untuk hadir ke acara ini. Belum lagi kado2nya yang sangat menarik dari teman-teman (anehnya semuanya kok bisa berhubungan sama dapur ya ? Tapi saya seneng banget pas bukain kado2nya).

PS: Saya tadi coba upload foto nggak bisa bisa... kenapa ya blogger ?