Saturday, December 24, 2005

Jadual Minggu Ini

Belajar...belajar.... belajar.... biar lulus ya Non, CPA nyaaaa...

Misa Natal, buka kado...belajar...belajar...belajar....

Plus, sisipkan, nonton pilem Korea di saat break hahahahahah....(jadi malu...)

PS: Maap, entry kali ini pendek aja. Maklumlah, lagi gregetan sama buku tebel di depan saya ini. Anyway, Selamat Hari Natal semuanya.. inget, makan jangan banyak-banyak, masih banyak yang kelaparan. Semoga damai kasih akan selalu terasa di dalam hati dan di seluruh dunia... AMIN !! Resolusi taon baru ini: Kurusin badan !!!

Saturday, December 17, 2005

Masakan Gue, Suka- Suka Gue Dong!



Buat anak anak yang pernah ke Purdue University, pasti jika mahasiswa Indonesia di sana ditanya restaurant apa yang mereka rekomendasikan, pasti jawabannya mirip-mirip semua. Tapi yang tidak pernah ketinggalan adalah: Kokoro. Dari namanya, orang pasti sudah menebak, kalau ini pasti restaurant yang menyediakan masakan Jepang. Kalau itu tebakan kalian,..maaf jawaban anda kurang tepat. Ini adalah restaurantnya si Tony, dan masakannya adalah Masakan si Tony (Tony’s Food).

Memang, si Tony adalah orang Jepang. Orangnya botak, tidak terlalu tinggi. Perawakannya agak keras dan kurang senyum. Umurnya kira kira 60-an. Lalu apa yang sebetulnya istimewa dari masakan si Tony ini, sampai begitu direkomendasikan oleh teman teman kita di West Lafayette sana?

Masakannya memang cukup istimewa. Tapi bukan itulah faktor utama yang membuat tempat ini berbeda dari tempat lainnya. Kokoro adalah satu paket keunikan, dan Tony adalah pusat keunikan itu. Restaurant ini adalah restaurant pertama yang saya temui yang memasang aturan lengkap soal tata cara (atau lebih tepatnya tata krama) pelayanan mereka di depan jendelanya. Ada beberapa belas aturan. Saya tidak ingat semuanya, tetapi beberapa di antaranya adalah: Anda tidak boleh memakai topi, anda tidak boleh pesan untuk dibawa pulang, dan si Tony berhak untuk tidak melayani anda kalau dia tidak suka sama anda. Ckckckck.. jadi sebaiknya, jangan macem-macem deh sama si Tony kalau kalian masih mau makan enak.

Masuk ke dalam, anda akan dibawa ke atmosfir rumah makan modern. Kelihatannya berbeda dengan kekakuan yang diciptakan dari aturan-aturan di atas: bar yang cukup lengkap dan bisa dibilang fancy, arsitektur bersih dan simple ala barat. Saat anda melihat menunya, pada halaman muka, Tony menjelaskan soal dirinya dan masakannya. Dia sudah memasak puluhan tahun, dan semua masakan di restaurant ini, dia siapkan dengan tangannya sendiri, dibantu oleh istri tercintanya. Jadi dia mohon maaf kalau pelayanannya agak lama, apalagi karena di usianya yang sudah tua, dia mulai mengidap arthritis. Dia menyebut masakannya Tony’s Food karena semua resep di menunya diciptakan dan dikreasikannya sendiri. Dia juga bilang, kalau dia meninggal, Tony’s Food tidak akan ada lagi. Semua resepnya akan terkubur bersama dengan hilangnya dia dari dunia ini. Wih… dalem banget…

Saya ingat, saat saya datang ke sana dua tahun lalu, dia tidak memakai pelayan sama sekali. Namun seiring dengan usia dan kekuatannya, saat saya datang empat hari lalu, ada tiga pelayan yang membantunya. Saya memesan Hawaiian Maui Roll seharga 18 dolar, semangkok miso soup seharga 2 dolar, dan satu cangkir green tea seharga 1.5 dolar. Dan memang benar, Tony sendirilah yang menggulung sushi saya. Rasanya masih tetap enak seperti dua tahun lalu saya makan di sini, kepitingnya betul betul terasa. Harganya bisa dibilang lumayan tinggi untuk kota kecil seperti Lafayette. Nasi gorengnya saja berkisar dari 17-19 dolar. Tetapi untuk keunikan dan pengalaman yang diberikan oleh Tony, harga adalah faktor kedua.

Pernyataan yang disampaikan Tony mungkin bisa dianggap arogan oleh beberapa orang. Tapi ada banyak hal yang saya setuju dengan cara dia mengelola restaurantnya. “Orang masakan gue kok, kalo elu nggak suka ya jangan makan di sini. “ Padahal denger-denger bisnis restaurant adalah bisnis yang paling cepat tingkat kepunahannya. Kalau kita pikir, restaurant dengan pelayanan kelas atas saja banyak yang gulung tikar di tahun pertamanya, apalagi restaurant yang “usil” seperti punyanya si Tony ini. Tapi Tony sudah memasak selama lebih dari 40 tahun, dan restaurant kebanggaannya masih tetap dikunjungi pelanggan setia. Inilah bukti kalau Tony’s food memang berbeda, dan Tony memang betul betul dicintai, tak peduli berapa banyak aturan yang dia terapkan di jendela restaurantnya.

Wednesday, December 14, 2005

Naik Naik Ke Puncak Silos



Jumat sore kemarin, saya dongkol habis habisan. Pertama-tama, jadual saya minggu ini yang seharusnya di Appleton, tiba tiba kosong di hari Senin dan Selasa. Dan tak berapa lama kemudian, saya ditelepon oleh salah seorang scheduler (alias si pengatur jadual) dari Chicago. Dengan santainya dia ngomong: "Senin ini kamu ke Frankfort ya." Dalam bayangan saya, wah, Frankfurt kali yang di Jerman. Lumayan jalan jalan ke Jerman. Eh ngga taunya: "Frankfort, Indiana !" Hilanglah sudah bayangan ke Jerman berubah jadi gambaran perkebunan jagung in the middle of nowhere. Yang bikin kesal lagi, kenapa mereka harus mencari staff dari Milwaukee, padahal Frankfort hanyalah 45 menit dari Indianapolis. Bikin gondok aja.

Dan bener saja, kalau tugas saya adalah menghitung grains yang terdiri dari jagung dan kedelai. Saya diperintahkan untuk membeli steel toe boots (itu loh, sepatu bot depannya ada lapisan bajanya, biar kalo kejeduk kakinya kagak sakit...). Akhirnya ketemu juga itu barang di Target, tapi buat cowok. Ya dah, berhubung ukuran kaki saya 8.5, saya beli ukuran cowok yang nomor 7. Masih saja kegedean... tapi dibeli juga soalnya memang itu yang paling kecil.

Perjalanan ke Frankfort kira kira 4.5 jam lamanya. Berhubung saya lumayan melesat nyetirnya kayak the flash, saya masih sempet mampir di Steak and Shake Lafayette buat makan burger hihihi.. (dasar si rakus). Pertamanya saya merasa lumayan bersalah lantaran makan sebakul, tapi setelah sampai di perkebunan jagung itu, saya bersyukur karena saya telah menimbun lemak yang cukup. Maklum cuaca dingin menusuk tulang (sekitar 20 Farenheit), dan pekerjaan saya...eng ing eng... siap siap...YAK...

Silos adalah lumbung ala Amerika. Bentuknya seperti tabung, tingginya seperti gedung. Isinya, ya jagung dan kacang-kacangan. Dari kejauhan, saya melihat deretan silos di tengah tengah hamparan salju. Ketika saya sampai di tujuan, saya parkir dan masuk ke dalam kantor kecil.

Pertanyaan pertama dari client saya adalah: "Apakah kamu takut ketinggian ? Saya lupa kasih tau ke kantor pusat kalau kamu tidak boleh takut ketinggian."

Lalu saya menjawab: "Waktu kecil saya sempat takut ketinggian, apalagi kalau lewat jembatan penyeberangan. Saya suka takut lihat kebawah, soalnya kebayang ketabrak mobil. Tapi mudah-mudahan sekarang nggak lagi."

Dia pun komentar: "Wah kamu nggak boleh takut, soalnya kita tidak akan masuk ke dalam silos. Kita akan mengukur dari atap silos."

Mulut saya berujar: "Saya pikir saya tidak takut, karena saya sudah sering naik rollercoaster". Padahal dalam hati: "Aduh Makkk..tolonglah sayaaaa..selamatkanlah saya dari derita ini...."
Kamipun mulai bertualang. Kami naik ke atas dengan tangga kecil. Tangganya ini berputar mengelilingi silos. Bentuknya seperti tangga rumahan yang muter, tapi step-stepnya kecil. Betul betul kecil dan licinnya bukan main karena salju masih menumpuk. Saya deg degan luar biasa.

Makin ke atas, anginnya makin lumayan. Tapi lama lama, kok saya merasa nyaman. Saya nggak gimana takut lagi. Sensasinya beda total, saya merasa pede saja berjalan. Tinggi silos pertama itu mirip dengan tinggi gedung 6-7 tingkat. Tapi kami nggak pakai pengaman, cuma mengandalkan pegangan besi saja. Total silos di kompleks ini ada sepuluh. Tujuh di dalam kompleks pertama, dan tiga lainnya terpisah. Dari satu silo ke silo yang lain, kami menyeberangi jembatan kurus kecil. Kalau saya berukuran jumbo, tentu saya tidak bakalan muat. Selain itu tinggi silos2 tersebut juga berbeda beda. Karena itu selain naik jembatan, kami juga harus memanjat tangga-tangga. Tangganya ini kayak tangga pemadam kebakaran. Lurus, titiannya kecil kayak pipa pipa pralon. Kalau kepeleset, amit amit deh...Akhirnya kompleks pertama selesai dan kami turun lewat tangga muter yang pertama tadi.

Saya masih ambil napas karena capeknya bukan main. Kita langsung jalan ke kompleks kedua. Kompleks kedua ini, ada tiga silos. Tingginya lebih dari 20 meter. Dan ternyata, di sini nggak ada lagi yang namanya tangga muter. Yang ada adalah tangga model kedua yaitu yang model pipa pralon. Kami harus naik ke atas, tegak lurus. Saya naik pelan pelan, tangan dan kaki saya mulai gemetar. Lutut dan kaki saya sakit bukan main karena selain harus menahan badan, beberapa kali kaki saya tidak sengaja terbentur tangga. Begitu saya sampai di atas, saya betul betul merasa jadi pemenang.

Setelah mengukur silo pertama, saya pikir ada jembatan yang menghubungi ketiga silos ini. Ternyata... pisah sodara-sodaraku sebangsa dan setanah air. Kita harus turun dulu ke bawah dengan tangga yang sama, lalu naik ke silo selanjutnya. Untunglah silos yang kedua dan ketiga dihubungkan dengan jembatan. Tapi tetap saja, masih perlu perjuangan saya sekali lagi untuk naik ke atas dengan tangga lurus itu. Begitu semua selesai dan saya kembali turun ke bawah, saya merasa jadi juara Fear Factor ! Yeah !

Sebelum pulang, saya sempat ngobrol dengan salah satu pekerja di sana. Umurnya sudah lumayan tua, badannya kurus dengan jenggot yang sudah memutih. Saya bilang, "Gile, saya ngerasa ini olahraga paling seru yang pernah saya lakukan. Capeknya bukan main, nafas saya kayak mau putus di cuaca seperti ini". Lalu dia bilang,"Bagi saya, ini membosankan. Saya melakukan ini sudah puluhan tahun, dan sudah menjadi rutin bagi saya." Lalu saya cuma bisa senyum. Saya membayangkan, saya yang muda ini saja sudah ngos-ngosan seperti ini. Si bapak ini sudah tua, dan dia melakukan ini setiap hari baik cuaca dingin, panas, dan hujan. Luar biasa....

Pengalaman kemarin di Indiana membuka cakrawala baru bagi saya. Saya makin menghargai usaha para petani dan usaha para orang yang bekerja untuk mendistribusikan makanan untuk kita di musim dingin seperti ini. Walaupun nggak jadi ke Frankfurt-Germany, Frankfort-Indiana tetaplah begitu berkesan buat saya.

Tuesday, December 06, 2005

Ada Apa Denganmu Sih Non (Seri Kedua)....


Buat orang orang yang tinggal di Amerika, pasti tau yang namanya DV-Lottery. Bahkan yang di Indonesia juga pasti sudah tau karena DV-Lottery ini adalah kesempatan emas untuk mendapatkan green card alias kartu permanent resident. Sekarang ini status visa saya adalah H1-B alias Visa kerja yang berlaku sampai 3 tahun ke depan. Kalau kumpeni saya ini masih menghendaki saya melayani, akan diperpanjang lagi 3 tahun extra, jadi totalnya 6 tahun. Saya sudah membayangkan, walaupun kemungkinan dapetnya kecil sekali, tapi paling nggak ada dong kesempatan untuk dapet. Namanya juga lotere. Tahun lalu aja ada 263 orang Indonesia yang beruntung. Enaknya kalo sudah ada green card, nggak perlu was2 nggak dapet visa, tinggal bolak balik aja kalau waktu dan tempat mengijinkan, dan nggak ada batas waktu buat saya untuk kerja di sini. Seandainya loh yah...

Begitu DV-Lottery tahun ini di umumkan, langsung saya kasih tau sodara2 saya di Indonesia, dan mereka kirim foto digital kemari sehingga bisa saya daftarkan. Jauh-jauh hari, aplikasi mereka sudah saya kirimkan. Tapi saya sendiri foto aja belum. Saya taruh reminder di komputer saya kalau pendaftaran loterenya akan ditutup tanggal 5 Desember. Nggak tau kenapa, tiap kali saya mo foto buat lottery itu, selalu ada aja. Misalnya kamera saya ketinggalan lah, baterenya abis lah, dan seterusnya, sehingga saya nggak sempat untuk foto.

Akhirnya kemarin malam tanggal 4 Desember jam 9, saya ingat kalau pendaftarannya sebentar lagi ditutup alias jam 12 malam. Lagi lagi kamera saya ada di mobil. Dengan pakai baju tidur, sendal jepit dan jaket, saya turun ke tempat parkir untuk mengambil kamera saya. Sayapun foto2 sendiri pakai timer. 15 menit kemudian, foto saya sudah siap, dan saya tinggal mengirimkan foto itu online dan mengisi data data saya.

Namun pas begitu saya buka websitenya: PENDAFTARAN SUDAH DITUTUP !!! HUAAAA.... rasanya saya kepingin menangis sejadi jadinya. Ternyata ditutupnya jam 12 siang sodara2, bukan jam 12 malaaaammmm..... Memang, kemungkinan saya dapet kecil banget, cuma kan kali aja nama saya mustinya nyangkut di situ....Huaaa..saya beneran nangis akhirnya kayak anak kecil nggak dikasih permen...

Ini pelajaran buat saya. Nggak boleh nunda nunda. Nggak boleh jadi procrastinator sampe the last minute. Pasang alarm yang banyak, biar nggak lupa, yang bunyinya kenceng... Ya dah, taon depan saya ikut lagi... Nasib....

Friday, December 02, 2005

Ada Apa Denganmu sih Nonnnn....


Singkat saja... Tepat 2 tahun lalu, 1 Desember 2003 terjadi peristiwa tak terlupakan, berlokasi di University Avenue, Madison, WI, saya menabrak sebuah mobil di tengah badai salju sepulang sekolah. Bagian depan mobil saya hancur di sisi kiri, bagian belakang mobil di depan saja juga hancur di sisi kanan.

Hari ini, 1 Desember 2005, berlokasi di Whitney Way, Madison, WI, saya menabrak sebuah mobil di tengah badai salju, saat akan berangkat ke client dan kurang dari 1 mil kemudian, mobil saya berputar 180 derajat di perempatan Whitney Way dan University Avenue.
AAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHH !!!

Saat makan siang di Chin's State Street, fortune cookie saya berbunyi: "Happier days are coming your way !"

Mudah-mudahan...Habisnya hari ini..alamak... jantung saya serasa copot berkali kali...
PS: Puji Tuhan, hari ini tabrakannya nggak kenceng, ngga ada kerusakan fatal, semua selamat. AMIN !