Sunday, November 27, 2005

Makannnnnn...


Sodara sodaraku sebangsa dan setanah air, hari Kamis kemarin adalah hari untuk bersyukur. Walaupun setiap hari adalah saat yang tepat untuk berterima kasih kepada Tuhan atas segala berkatnya selama ini, tapi Kamis kemarin terasa lebih special karena kita bisa berkumpul dengan seluruh "keluarga". Sebagai manusia di perantauan, rasanya sangat pas waktunya, di tengah cuaca yang dingin, untuk bersama sama mencari kehangatan ditambah lagi: Makan2 dong ! Jadilah, Kamis 24 November sore, rumah Pak Anton dan Bu Lengleng jadi aula sementara bagi kami anak anak di perantauan ini.

Saya nggak bisa terlalu banyak soal menu kemarin itu, saya cuma bisa nyebut: UENAK TENAN..... kita mulai dari ujung ke ujung yah (mudah2an inget semua, maaf kalo ada yang kelewatan): Tahu isi, pempek palembang, baso goreng, lontong sayur, rendang, ayam panggang, telor balado, sambel udang, sayur asem, kerupuk, bakmi ayam, kari, dan ngga lupa syaratnya, si kalkun panggang. Untuk hidangan penutupnya: Cendol, biji salak, kue sus, lapis surabaya, bika ambon, pumpkin pie, cheesecake, cream pie, pudding, dst, dsb... kenyangggg.... Dan ngga percuma mami mami kita ngajarin kita masak, karena semua masakannya delicioso (kata Mbak Dora the Explorer).

Sehabis makan, kita dihibur oleh group karawitan yang dengan pedenya menyanyikan segala tembang dengan modal Karaoke dari Playstation 2. Mulai dari Material Girl dan Like a Virgin-nya Madonna, sampe ke Endless Love-nya Lionel Richie kami nyanyikan dengan lantang tanpa basa basi. Dengan support membara dari para penonton dengan ikut menyanyi bersama, para penyanyi karawitan itu bener bener ngerasa kayak lagi show di Caesar Palace dah! Selain itu, masih ada lagi aksi beladiri dan penyundulan bola dari anak anak yang melakukan pelampiasan diri lewat eye-toy... ada yang nyampe keringetan loh..weleh weleh...

Pokoknya malam kemarin, bener bener terasa hangatnya. Ruangan penuh canda dan tawa ria (kayak lagunya Paramitha Rusady), dan cuaca dingin di luar ? Apaan tuh ? Anget gini kok...apalagi kalo duduknya rapet2an hihihi.. Happy Thanksgiving everyone ! Jangan sampe keinjek2 gara gara ngejar sale yah... Barang bagus kalo udah jodoh kaga lari kemane kok...

Sunday, November 20, 2005

Nekad


Cerita ini adalah kenangan saat saya masih duduk di kelas dua SMU. Hari itu adalah hari yang cukup spesial di sekolah, karena kami kedatangan beberapa orang tamu. Tamu-tamu tersebut adalah beberapa buruh Nike Indonesia, ditemani oleh pengacara mereka dari salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat di Jakarta. Maksud kedatangan buruh tersebut adalah mencoba untuk sharing dan menggerakan hati para murid murid supaya kita semua lebih peka terhadap keadaan di sekitar kita. Apalagi saat itu adalah saat dimana bangsa kita betul betul sedang terpuruk setelah peristiwa May 1998 dan krisis ekonomi.

Siang itu pada jam pelajaran terakhir, kami semua dikumpulkan di aula. Kamipun diajak untuk mendengarkan cerita kehidupan sehari-hari para buruh Nike yang digaji kurang dari sepuluh ribu rupiah per hari, dan hanya diberi makan nasi perah dan sepotong tempe. Kebetulan para buruh yang datang adalah wanita, dan sekolah kami adalah sekolah khusus wanita, sehingga momen ini sebetulnya cukup pas untuk berbagi. Mereka bekerja lebih dari 12 jam sehari dalam keadaan berdiri, termasuk beberapa ibu yang sedang hamil. Mereka tidak diberikan waktu untuk duduk pada saat kaki mereka lelah. Dan ketika para buruh wanita minta cuti sehari karena "tamu bulanan" datang, cuti itu tak pernah dikabulkan dengan alasan mengejar omset. Miris hati saya mendengar kisah itu, apalagi mengetahui seberapa mahalnya harga sepasang sepatu Nike. Dan saya juga mengetahui, cukup banyak anak di sekolah saya yang jika ingin sepasang sepatu merek itu, tinggal bilang saja pada orang tua. Tapi bagi parah buruh itu, untuk makan saja kok sulitnya bukan main.

Setelah mereka bercerita, murid murid dipersilakan untuk bertanya atau mengemukakan pendapatnya. Satu persatu murid mulai mengemukakan pendapatnya. Betapa mengejutkan, ternyata pendapat murid murid umumnya adalah: "Kenapa sih kalian para buruh kerjaannya bikin susah ? Papa saya sampe kerepotan menangani kalian. Sudah bagus punya kerjaan, tapi masih minta ini dan itu." Murid lainnya lagi menyambung:" Iya betul. Gara gara kalian demo minta kenaikan gaji, kantor Papa saya jadi berhenti aktivitasnya. Memangnya kalian saja yang butuh makan ? Kami juga keluarganya butuh makan." Suasana saat itu hening. Tapi saya bisa melihat kalau para buruh yang duduk di depan itu mulai meneteskan air mata. Maksud kedatangan mereka kemari untuk berbagi, kok malah berbalik jadi ajang penghinaan ?

Saat itu, saya adalah siswi kelas dua. Dan kebetulan yang menyampaikan pendapat2 di atas tadi adalah siswi kelas tiga. Memang banyak rumor, kalau sampai kita yang junior berbuat macam macam dan menentang anak kelas tiga, bisa bisa kita dibenci oleh seluruh anak kelas tiga. Tapi hati saya berkata lain. Saya tidak bisa membiarkan orang tertindas semakin ditindas. Saya sudah tidak peduli lagi dengan "status" saya yang sebagai anak kelas dua, rasanya saya harus bangkit dan membuka mata mereka. Tanganpun saya angkat, dan saya berdiri. Saya memandang dengan tegas kepada teman teman di satu aula, dan tanpa saya sadari, mulut ini seperti ada yang menggerakan. " Teman-teman, saya tidak tau apa yang kalian pikirkan. Tapi seharusnya kalian tidak menjelek-jelekan mereka dan mementingkan keluarga kalian sendiri. Kalian seharusnya berterima kasih kepada mereka. BAHKAN PAKAIAN DALAM KALIAN SEMUA, DIJAHIT OLEH MEREKA MEREKA INI !"

Saat itu seisi aula diam dan tegang, tapi kemudian saya mendengar tepukan tangan dan sorakan meriah di telinga saya. Ternyata ada juga teman teman yang setuju dengan pendapat saya. Cuma mereka malu dan takut, karena bisa bisa dibenci oleh kakak kelas. Memang, hari itu sepulang sekolah, kakak-kakak kelas saya banyak yang memandang saya dengan pandangan kekesalan. Mungkin mereka pikir, ini anak kecil kok kurang ajar berani ngelawan kakak kelas. Tapi ada juga yang memandang saya dengan ramah. Bahkan kepala sekolah mengundang saya ke kantornya karena kenekadan saya itu dan beberapa minggu kemudian, saya dikirim mewakili sekolah untuk pelatihan leadership bersama perwakilan sekolah lain di Jakarta.

Kalau kita ada di pihak yang benar, kita tidak boleh takut untuk bicara. Mungkin hari itu saya jadi orang paling dibenci oleh seisi kelas tiga. Biarin orang mau bilang apa, tapi pulang sekolah hari itu, hati rasanya puas dan legaaa...hehehehhe...

Wednesday, November 16, 2005

CRASH !


Sekitar 3 minggu lalu. saya baru saya kembali dari Appleton. Jumat sore itu, saya kembali menyalakan komputer saya yang sudah diistrirahatkan selama seminggu. Berhubung lagi capek, saya pikir Jumat sore, mendingan saya nonton film saja di komputer. Kebetulan ada satu film yang sudah nongkrong di komputer saya, tapi belum sempat saya lihat. Mulailah saya membuka media player. Tiba-tiba komputer saya diam, tidak bergerak sama sekali. Saya klik sana, klik sini, pencet tombol ampuh "Control Alt Del", tapi tetap saya komputer saya tidak bergeming. Lalu dengan hopeless, saya pencet tombol restart. Dan apa yang terjadi ? Komputer saya tidak mau di reboot. Cuma gelap saja yang keluar. Dalam keadaan panik, saya telepon si yayang yang mampir langsung dari kantor untuk melihat komputer saya. Dia coba kutak katik, tapi tidak berhasil. Adohhhh... gimana dong ? Apa yang rusak ?

Kebetulan saya ingat, ada teman saya si Ardian yang kebetulan jagoan komputer wahid di seantero gedung apartemen tercinta yang sudah termashur. Saya titipkan hard drive saya supaya dia bisa memeriksa apa masalahnya. Setelah 2 minggu, dia memberi kabar, kalau hard disk saya nampaknya sudah tidak bisa terselamatkan lagi. Dia bilang nasibnya sudah FUBR (F***ed Up Beyond Repair) (Thanks berat Ardian, udah bantuin diagnosa). Saya cuma bisa bengong, OH NO ! Gimana nasib foto2 saya dari freshman ? Memori2 saya, lagu lagu yang sudah menemani saya bertahun tahun. Kenangan2 indah dan keculunan saya, metamorfosa kehidupan... saya sampai stress berat dan kepingin nangis....HUAAA..

Ardian menyarankan saya untuk pergi ke Geek Squad di Best Buy. Biaya perbaikannya minimal $279 dolar. Saya pikir, daripada saya kehilangan kenangan indah, lebih baik saya bayar saja. Tapi yang terjadi, setelah Geek Squad personnel mengecek hard drive saya, mereka menyerah, data saya sudah tidak bisa terdeteksi sama sekali. Bahkan personel Geek Squad menganjurkan saya untuk ke Circuit City Computer Aid. Dengan perasaan bete, saya dan yayang mampir ke Circuit City, dan setelah "membuang waktu" selama 45 menit, mereka juga menyerah. Padahal orang Circuit City ini usahanya lumayan berat loh. Dia merasa bersalah dengan ketidakmampuannya mendeteksi masalah, dan ngomong "I'm Sorry" ibaratnya sampe berbusa. Saya cuma bilang "It's okay, it's not your fault. I think my hard drive is too old already."

Dalam perjalanan pulang, saya sampai nangis di mobil karena ingat betapa banyak kenangan yang harus saya korbankan. Si Yayang sampe nggak habis pikir kenapa saya bisa nangis kayak begitu. Mungkin memang perpaduan dari kebetean dan kestressan di kantor jadi lepas dalam tangisan. Saya mampir di tempat yayang dalam keadaan capek dan ngantuk. Akhirnya saya bobo sore. Pas saya bangun, si yayang ngomong:"Eh, hard disk kamu udah beres tuh. Semua data sudah aku pindahin ke komputer aku." HAH ?

Lalu si Yayank menjelaskan dengan santai. Dia bilang, kalau data di harddisk saya tidak bisa terdeteksi sama sekali oleh 3 jagoan di bidangnya, itu berarti bukan masalah software atau virus. Itu pasti masalah hardware. Jadi dengan modal solder, dia menyambung salah satu komponen yang kelihatannya lepas. Dan begitulah sodara sodari, hard drive saya diselamatkan oleh solder. Kenangan saya nggak hilang, dan saya nggak perlu mengeluarkan sepeser uang sama sekali. Nggak salah punya yayang insinyur elektro. HOREEEE....!! (akhirnya tetep sih saya beli hard drive baru dan battery cadangan untuk komputer, tapi nggak sampe $279 hehehhe).

Saturday, November 12, 2005

Home Sweet-and-Sour Home


Setelah kemarin saya membahas soal mudik, saya jadi mikir, kalau sesungguhnya sekarang rumah saya yang di Milwaukee juga seperti jadi kampung saya alias home sweet home. Sudah lebih dari sebulan terakhir ini, saya selalu berada di luar kota, paling nggak dari Senin sampai Jumat, bahkan kadang Sabtu saya tidak bisa merasakan keempukan ranjang saya sendiri. Walaupun tidur enak di bermacam hotel, tapi kan saya tetep harus bayar sewa untuk kebutuhan apartemen saya dan iuran cable. Padahal saya cuma menikmatinya selama kurang dari seminggu dalam sebulan.

Alhasil, setiap kali saya pulang, yang saya lakukan hanyalah laundry. Isi kulkas tidak banyak berubah. Bahkan kemarin pas saya buka kulkas, saya bingung, itu es krim bekas siapa yah di freezer ? Tinggal yayang saya bilang: ih, itu kan punya kamu. Duh beneran deh saya jadi pikun. Sudah 2 bulan lamanya saya tidak pergi grocery, karena memang tidak ada waktu masak kecuali weekend. Dan weekend rasanya kok sudah lemes duluan, jadi kehilangan semangat memasak. Apartemen saya keadaannya cukup berantakan, walaupun masih bisa dibilang cukup rapih dibandingkan dengan kapal pecah heheheheh..

Hari ini akhirnya saya kembali ke kantor, hanya untuk satu hari saja. Kebetulan kemarin team kami bisa menyelesaikan tugas satu hari lebih awal, sehingga kami bisa pulang pada kamis malam. Pas masuk ke kantor, si resepsionis langsung komen: "Where have you been ?" Sang sekretaris juga nampaknya menyadari hal itu. Masuk ke kantor hari ini rasanya mirip seperti pulang ke asal, seperti waktu awal2 saya masuk kerja dan belum ditugaskan kemana mana. Cubicle kecil yang biasanya kelihatan menyebalkan, berubah jadi my lil comfort zone dibandingkan dengan conference room di client. Keberadaan saya yang selalu mobile, membuat segala sesuatu yang static seperti cubicle ini menjadi sesuatu yang dirindukan (walaupun nggak rindu2 amat..., siapa sih yang kangen kerjaan bertumpuk ??).

Akhirnya lagi, hari ini saya bisa sampai ke rumah di Jumat sore pada jam yang normal, bukan pada saat jam makan malam. Hari ini, saya bisa berkumpul kembali dengan si Letoy, si Nupnup, dan ribuan tungau2 di ranjang saya yang besok seprainya harus dicuci.

Saturday, November 05, 2005

Mudik Nyok !


Selamat hari raya Idul Fitri untuk semua teman yang merayakan. Mohon maaf jika ada salah kata ataupun perbuatan. Di hari yang penuh rahmat ini, marilah kita bersatu hati dan bergandeng tangan untuk menyambut datangnya perdamaian di bumi dan di dalam diri.

Walaupun saya bukanlah penganut agama Islam, Idul Fitri adalah hari yang selalu saya nantikan. Sejak saya kecil, saya merasa bukan hanya Natal dan Paskah yang menjadi hari menyenangkan, melainkan juga Lebaran. Liburan panjang selalu jadi hal yang diidamkan selama masih jadi pelajar. Dan saat lebaran, biasanya paling tidak 10 hari sudah ditangan. Memang, kadang capek juga kalau asisten lagi pada mudik. Sedangkan saya yang asli Jakarta dengan kedua orang tua yang asli Jakarta juga, kami nggak punya kampung, otomatis nggak kenal yang namanya mudik. Kampung kami ya di Jakarta ini, yang kalau lebaran jadi asoy seperti di luar negeri karena macetnya berkurang 90%.

Lebaran di keluarga saya, mungkin hampir nggak beda repotnya dengan lebaran di keluarga Muslim. Bedanya, kami mungkin nggak pakai baju baru dan menjalankan sholat Ied. Tapi yang namanya masak masak heboh dan lengkap, kumpul2 keluarga, pasti nggak ketinggalan. Mama yang memang hobi memasak, selalu siap siaga dengan perlengkapan perangnya : Ketupat, semur daging tahu, telur balado, opor ayam, sambal goreng ati, dan tentunya sayur pepaya muda. Krupuk dan bawang goreng juga nggak ketinggalan dong. Duh, sedapnya bikin saya ngiler sekarang.. bagi tissue dong ! Sebelum libur lebaran, biasanya kami juga sudah menyiapkan bingkisan untuk sahabat2 kami yang setiap hari selalu setia dengan pekerjaannya. Para asisten kami, pak pos, pak hansip, mas loper koran, pak pos, abang tukang sampah, dan mbak tukang kue ikutan kebagian rejeki.

Pas saya kecil dulu, liburan lebaran biasanya kami sekeluarga pergi ke villa kami di Puncak. Malam takbiran tak pernah kami lewatkan. Jalan Raya Cipanas begitu meriah. Suara bedug bertalu talu di atas mobil bak terbuka, dan rasanya kemacetan saat itu justru menjadi begitu nikmat. Semua orang tersenyum, dan saya tidak takut membuka jendela untuk ikut berteriak teriak gembira. Biasanya juga, malam itu Mama sudah hampir melakukan "finishing touch" menu ketupat lengkapnya...nyammm..

Ngomong2 soal mudik, saya baru merasakan mudik pertama saat saya mulai bersekolah di sini. Saya jadi tau, gimana rasanya rindu pada kampung halaman, rindu pada sanak saudara, rindu pada kehidupan saya yang lama. Walaupun di sini udara bersih dan hidup teratur, saya kangen berat dengan Jakarta tercinta. Biasanya paling tidak saya pulang setahun sekali. Tapi tahun ini, nampaknya saya tidak bisa melepas rindu karena tuntutan pekerjaan saya. Mamaaaa..pengen mudikkkk..pengen minta dikelonin... huaaaa....