Saturday, October 29, 2005

Tick and Tie





Bukan kutu ataupun dasi yang saya maksud dengan judul di atas. Tick and tie adalah istilah dalam dunia accounting yang artinya memberi tickmark/ tanda pada sumber dan menghubungkannya dengan tujuan. Misalnya menghubungkan dua laporan yang berbeda, menghubungkan hasil tahun lalu dengan tahun ini, dan sebagainya. Kalau perusahaannya besar, pekerjaan tick and tie ini adalah pekerjaan yang cukup memakan waktu. Mungkin agak sulit untuk menjelaskannya untuk pembaca yang bukan accountant atau financial officer. Pokoknya ini pekerjaan sebetulnya cukup simple, membosankan, menyebalkan, makan waktu, tapi kalau ketemu semua, bikin happy luar biasa deh !

Saat pertama ditugaskan, saya tidak tahu apa yang saya harapkan. Saya hanya diberi tahu kalau saya harus mentransfer laporan dari laporan ala Amerika ke laporan ala Jerman. Ditambah lagi, inilah kali pertama saya meratapi laporan ala Jerman yang lumayan ajaib. Urutannya bolak balik tak jelas, penyesuaian ada di mana mana. Jadilah pekerjaan extra berat untuk saya. Sebelum mulai, si manager sudah berpesan, kalau bagian ini adalah bagian yang lumayan berat, dan bisa memakan waktu beberapa hari untuk 1 anak perusahaan. Berdasarkan pengalaman tahun lalu, bagian inilah yang paling tidak disukai oleh satu team. Makanya saya dikasih 2 minggu total untuk membereskan semua laporan ini. Lah, memangnya perusahaannya ada berapa ? Ternyata ada empat sodara sodari. Huaa...mau nangis rasanya... gimana mata saya nggak mau tambah rusak... sebelumnya sudah jelek, ditambah lagi saya harus memandangi berjuta2 angka di ribuan baris. Nasiibbb....

Ternyata, laporan pertama bisa saya selesaikan dalam waktu kurang dari satu hari. Demikian juga laporan kedua, ketiga, dan keempat. Si manager sangat puas dengan hasil kerja saya, dan saya begitu bersyukur karena akhirnya semuanya selesai. Tiba saatnya mata saya untuk beristirahat...legaa.... Kebetulan, di divisi lain, ada juga orang yang ditugaskan seperti saya (si Jerman nomor 4 dari entry sebelumnya). Dia bertanggung jawab untuk 1 anak perusahaan. Sudah 1 hari penuh dia berusaha untuk melakukan ticking and tying, tapi baru selesai 1/4nya saja. Menyadari hal ini, si manager dengan sigap langsung memanggil saya. Setelah dia menumpahkan "pujian" tak berapa lama kemudian, datanglah "tanda mata" dari si manager, "Leony, kamu tolong gantikan si Jerman no 4 ya. Saya menyadari kamu jauh lebih efisien. Bla bla bla bla...." HIKSSS.. baru saja saya berlega hati, eehhh malah dikasih "hadiah" yang sama sekali tidak diharapkan. Dasar !

Syukurlah dalam waktu 7 jam, pekerjaan buangan dari si Jerman nomor 4 itu bisa saya selesaikan. Dan hari ini, selesailah sudah pekerjaan saya di client yang satu ini. Saya yang seharusnya bekerja selama empat minggu, ternyata bisa pulang setelah tiga minggu. Kebetulan jadual saya minggu depan (yang harusnya untuk client yang ini) jadi kosong.. HOREE...bisa istirahatttt !! Tapi.... TUNGGU DULU ! Sebelum saya pulang, si Manager kembali memanggil.

"Leony, saya kira saya akan mengambil jadual kamu untuk minggu depan."

Saya cuma cengo, "Oh ya ? Di mana ?"

"Oh, di downtown Chicago, di sebuah law firm di Prudential Plaza, depan Millenium Park", dia membalas.

"Lalu tugas saya di sana apa ya ?"

Dengan tersenyum dia menjawab, "Sesuai keahlian kamu, ticking and tying"

AAAAAAAAAARRRRGGGGGHHHH !!!

Wednesday, October 26, 2005

Geng Jerman



Selama saya bekerja untuk client saya yang sekarang ini, saya ditemani oleh empat orang Jerman. Berikut ini saya ceritakan pengalaman saya bersama empat orang Jerman tersebut.

Si Jerman pertama adalah laki laki dengan perawakan tinggi. Dia adalah seorang staff. Rambutnya agak keriwil, cocok jadi model sih. Tapi sayang gara gara dia ikut serta program pertukaran karyawan di perusahaan kami, dia keseringan minum beer dan perutnya mulai menggelembung sedikit..walaupun menurut saya masih okeh okeh saja. Dia paling ngga suka kalau disuruh menghubungi client lewat telepon, karena bagi dia, ngomong bahasa Inggris di telepon itu sangatlah menyiksa. Yang paling seru kalau lagi ngeliatin dia makan. Dalam sekejab, habislah porsi yang dia makan sementara orang orang lain baru saja menyicipi barang dua tiga gigitan. Dia senang ketawa dan bisa diajak gila gilaan ala Amerika. Saat ini dia sudah kembali ke Jerman karena masa pertukaran karyawan sudah selesai. Sedikit story tentang pengalaman dia, kalo di Jerman cellphone itu disebutnya handy. Pas dulu dia baru dateng, dia lapor ke bos. Dan dia ditanya, butuh apa apa lagi nggak ? Eh dia jawab, “ Can I get a handy, Sir ?” Hahahaha…. It’s so… gimanaahhh gitu…duh cowok tinggi gagah, kok minta handy…

Si Jerman kedua adalah laki laki berperawakan sedang, agak berumur dan berjenggot tipis. Dia adalah si senior manager, sudah 5 tahun menetap di Chicago. Bahasa Inggrisnya lancar, tapi orangnya sangat tidak terorganisir. Kertas berserakan dimana-mana sampai sempat kehilangan salah satu dokumen penting yang akhirnya saya temukan setelah saya bergumul dengan tumpukan kertas bekas yang dia buang di lantai. Bahkan saya yang berantakan ini dia bilang sangat rapih. Dia muji muji saya berkali kali, tapi belakangnya saya dikasih setumpuk kerjaan. Terkadang dia suka expect too much dari kita kita bawahannya. Bahkan senior saya sempat stress dibuatnya. Dia bisa lngomong loncat2 kesana kemari, nggak jelas lah pokoknya. Yang paling menyebalkan, dia tetap menyuruh kita bekerja rodi, padahal sudah jam 9 malam, dan kita belum dinner sama sekali. Anehnya, dia kok nggak lapar ya ? Dia bisa mengirim email berjuta2, terus akhirnya lupa... Sudahlah… saya lagi agak kesal sama dia.

Si Jerman ketiga adalah laki laki tinggi dengan potongan rambut belah tengah ala Eropa. Bahasa Inggrisnya lumayan kaku, dan kalau ngomong suka nggak jelas. Dia adalah seorang senior dan peminum expresso sejati. Setiap kali ngobrol dengan si Jerman kedua, dia selalu pakai bahasa Jerman. Dia nggak mikir kalau orang orang disekitarnya berbahasa Inggris. Kadang mereka berdua tertawa tawa sendiri sambil ngelirik lirik ke kita yang tidak mengerti apa yang mereka omongkan. Suatu hari saya tembak,”Hey it sounds funny. Do you mind sharing the joke ?” Terus dia bilang,” No, no, it’s internal joke.” Dasar..kurang ajar juga nih si Jerman. Gantian hari ini, saya dan salah satu teman saya yang orang Amerika lagi bercerita seru, dan kita ketawa tawa. Terkadang dia memang nggak ngerti apa yang kita omongin kalau kita ngomong bahasa Inggris dengan cepat. Apalagi teman ngobrolnya di Jerman nomor 2 tadi sudah balik ke Chicago. Pas lagi seru2nya ngobrol dengan teman Amerika saya, tiba tiba, dia ngomong dengan keras: “Hey, I’m trying to work here.” Dalam hati saya, “Rasain lo..emangnya kemaren pas elu ketawa2 sama si Jerman nomor 2, gue ngga bete ?” hahahah…

Si Jerman keempat, seorang cewek setinggi saya, rambut lurus coklat dan bahasa Inggrisnya sangat lancar karena dia lulusan graduate school di Lousiana. Sayang saya tidak lama bekerja dengan dia karena dia ditugaskan di divisi lain. Yang pasti sebelum saya bertemu dengan orang ini, saya diberitahu oleh si Jerman nomor 1 yang kebetulan roomatenya, kalau si cewek ini lumayan menyebalkan. Suatu hari, sempat juga saya bertemu dengan dia, dan kita ngobrol2 pas dinner di salah satu bar. Ternyata orangnya menyenangkan kok, tidak seperti yang si Jerman nomor 1 bilang. Sampai akhirnya Jumat malam kemarin, kita makan di Melting Pot, salah satu restaurant yang cukup romantis. Setelah 2 gelas Margarita, mulailah si cewek ini bertingkah laku aneh. Dan pada saat kita lagi asyik menyantap makanan utama, dia mulai bercerita soal kucing mati yang dia temukan di depan rumahnya pas dia masih SMA, dan dia berusaha untuk memotong ekor kucing itu dengan gunting kertas…. ALAMAKKKK…si Jerman nomor 3 sampai melotot dibuatnya…Kami hampir saja kehilangan napsu makan kalau saja kami tidak berpikir yang di depan mata kami adalah lobster dan steak, bukan kucing.

Begitulah sedikit cerita tentang Geng Jerman yang lucu, aneh, memusingkan, tapi kadang cukup menakjubkan...

Monday, October 24, 2005

It's Not Even the Busy Season Yet !!!


Bagi seorang auditor seperti saya, bulan yang paling menyebalkan adalah Januari sampai April, di mana berjuta-juta client kami sepertinya menyusahkan kami pada saat bersamaan. Pergi pagi pulang malam adalah hal yang sangat biasa di bulan bulan itu. Makan siang dan malam di depan komputer sambil bekerja di kantor client juga merupakan santapan sehari-hari.
Tapi ini baru bulan Oktober. Saya mengerti memang client saya yang satu ini tutup buku pada tanggal 30 September, tapi mereka tidak siap dengan segala dokumen yang kami butuhkan, sehingga kerja lapangan kami jadi mundur hingga kamis di Minggu kedua bulan Oktober.

Parahnya, semua hasil kerja kami harus diserahkan hari ini, Senin, 24 Oktober. Oh tolonglahhhh... kami harus bekerja seperti orang gila... Setiap hari kami kerja mulai jam 8 pagi, dan paling awal, kami pulang jam 8 malam. Pernah satu kali kami pulang jam 10 malam, Di tengah minggu, senior manager kami memberi berita gembira, kalau kami juga harus bekerja pada hari Sabtu. Lengkaplah sudah kemeriahan yang saya alami. Sabtu malam saya baru kembali dari Appleton, dan Minggu malam harus kembali lagi ke Appleton.

Sekarang Senin subuh di ruangan hotel tercinta. Saya baru saja selesai menyicil bahan ujian saya untuk bulan November. Duh, sepertinya piring saya penuh sekali dengan kerjaan dan belajar. Dan saya betul2 rindu ranjang saya di rumah...Tapi tenang saudara2ku sekalian, saya tidak separah si Oom di gambar itu kok hehehe...

Sunday, October 16, 2005

Menjalin Persatuan dan Kesatuan


Tiba tiba saja, dalam perjalanan pulang dari restaurant beberapa minggu lalu, saya dan teman saya teringat masa masa jadul di mana kita masih kanak kanak dan stasiun televisi hanya ada satu saja yaitu TVRI. Ketika para televisi swasta menjamur dengan slogan slogannya seperti: RCTI oke, SCTV ngetop, TPI makin asik aja, INDOSIAR memang untuk anda dan sebagainya, TVRI juga tak mau kalah membuat slogan yang lumayan keren tapi sangat berbau kebaheulaan: Menjalin persatuan dan kesatuan. Dinyanyikannya dengan semangat, dengan kelompok paduan suara yang rasa rasanya mirip dengan paduan suara angkatan bersenjata. Dan sepanjang perjalanan itu, kita membicarakan acara acara yang dulu sempat menghiasi layar kaca dan bikin kita tertawa ngakak.

Saat pembukaan jam 4 sore ada lagu Indonesia Raya. Biasanya sore sore ada Cerdas Cermat loh. "Kami dari EsDe Negri 123 Kampung Melayu, nama saya Tini, sebelah kanan saya Tono, dan di sebelah kiri saya Tuti." Lalu tak lupa si pembawa acara bilang: "Tepuk tangan untuk SD Negri 123", diikuti oleh tepuk tangan malu malu dari para penonton yang notabene adalah teman2 dan guru guru sekampung. Jangan lupa acara kartunnya yang nggak kalah menarik, seperti Ghostbuster dan Teenage Mutant Ninja Turtles ! Saat itu saya dan adik sampai mengkoleksi ke-4 tokoh kura kura hasil radiasi tersebut. Si Merah Raphael, Biru Leonardo, Ungu Donatello, dan tentunya si Kuning Michael Angelo. Kesukaannya ? Pizza dong... sesuai dengan namanya yang sok Italia.

Kadar acara pendidikan di TVRI boleh dibilang lumayan walau settingnya agak memprihatinkan. Selain Cerdas Cermat yang sudah disebutkan di atas, ada lagi acara pelajaran bahasa Inggris bersama Anton Hilman yang kumis tipisnya menghibur kita. Untuk penduduk yang tinggal di desa, nggak mau kalah juga dong acara pendidikannya. Ada acara pembudidayaan ternak dan tanaman, dan yang paling beken sih: Klompencapir dong ! Singkatan dari apa ya itu ? Kadang saya suka nunggu2 acara ini untuk melihat bagaimana kompaknya orang dari Desa A melawan Desa B. Lalu jurinya yang kadang2 suka subjektif, pokoknya cukup menghibur lah. Pertanyaannya juga menantang loh. Gimana cara memasak sayuran ? Saya ingat, yang motong dulu baru dicuci, dikurangi nilainya... nasib nasib..

Jangan lupa acara beritanya: Berita Nusantara pada jam 5 sore, dilanjutkan English News Service pada jam 6:30 sore, Berita Nasional jam 7:00, Dunia Dalam Berita jam 9 malam, dan Berita Terakhir. Nah, yang terakhir disebut ini, jamnya tidak pernah sama. Suka suka dong, pas selesai acara terakhir ya berarti berita terakhir. Kadang si pembawa acara berita sampai terkantuk kantuk dibuatnya.

Masih ingat acara musiknya ? Ada Aneka Ria Safari, Selekta Pop, Kamera Ria, dan Album Minggu Kitaaaaaaa (harus panjang aaaa nya, soalnya memang begitu cara menyanyinya). Aneka Ria Safari pada awalnya disiarkan dari Studio TVRI, dan akhirnya pindah shooting ke klub Dynasty di Gajah Mada Plaza. Video klip ? Nggak ada tuh, yang ada cuma penyanyi di panggung dengan beberapa penari latar, dan biasanya si pencipta nongkrong di depan piano. Jaman dulu pencipta yang terkenal ya si Rinto Harahap, Pance Pondaag, dan Pompi. Kalau lagunya sedih, siap siap deh, soalnya penyanyinya biasanya nyanyi sambil berurai urai air mata. Makin berurai air mata, makin menjiwai lah yaow... Rasanya awal mula video klip itu di acara Kamera Ria. Jangan bayangkan Rizal Mantovani punya karya. Yang ada adalah si artis menyanyi dengan latar belakang TNI lagi latihan baris berbaris. Paling mentok lokasi shootingnya di Taman Mini. Hiksss.... Video klip yang lumayan rasanya ada di acara Selekta Pop. Lokasinya mulai bergeser ke plaza2, lobby hotel, jalan raya, dunia fantasi, walaupun tetep aja Taman Mini masih jadi favorit.

Pas akhir 80-an, muncullah acara TVRI yang cukup populer dan masih diingat sampai saat ini. Di bidang musik, ada Berpacu dalam Melodi bersama Mas Koes Hendratmo dan Ireng Maulana, dan Gita Remaja yang mempopulerkan Bang Tantowi Yahya. Ada juga Kuis Siapa Dia bersama Kang Aom Kusman. Masih banyak lagi kuis2 lainnya yang masanya tidak terlalu panjang. Kreatornya ? Siapa lagi kalau bukan Ani Sumadi. Walaupun ada beberapa yang asli ngejiplak Game Show Amrik, tapi teteplah Bu Ani patut diacungi jempol buat usahanya.

Aneka Ria Safari, selalu saya menjadi bagian favorit yang saya tunggu tunggu. Biasanya di akhir pekan sepulang dari belanja di Golden Truly, saya merengek2 minta pulang cepet2 supaya bisa nonton Aneka Ria Safari yang dimulai tepat sehabis Dunia Dalam Berita. Begitu sampai dirumah dan siap didepan Tivi, ternyata ada LAPORAN KHUSUS ! Isinya ? Pak Harmoko, Pak Moerdiono, atau kunjungan Pak Presiden Soeharto ke kampung2.... Oh Orde Baru...
Biar bagaimanapun, TVRI tetap ada dihati....

Sunday, October 09, 2005

Mataku oh Mataku...


Persediaan lensa kontak saya sudah mulai menipis. Lebih tepatnya, saya tinggal punya satu pasang lensa kotak yang nempel di mata saya. Maklumlah, biasa setiap kali pulang ke Indonesia, saya selalu menyempatkan diri mampir ke optik Melawai dan membeli persediaan untuk satu tahun ke depan. Berhubung terakhir saya pulang ke Indonesia Agustus tahun lalu, berakhir sudahlah persediaan saya untuk tahun ini. Di Amerika sini, dilarang membeli lensa kontak tanpa menggunakan resep dokter. Alamak...

Sepanjang usia saya, saya tidak pernah memeriksakan mata saya di Amerika. Apalagi dengar dengar harganya mahal, tidak seperti di Indonesia dimana kita tinggal nongkrong, lalu dapat periksa gratis. Bahkan kita tidak perlu membeli barang di optik tersebut untuk mendapatkan periksa mata gratisan. Duh, seandainya di sini juga begitu, saya kan jadi tidak perlu repot- repot periksa segala.

Pertama sekali saya menggunakan kacamata adalah pada saat saya duduk di kelas 1 SMP. Kenapa saya sampai menggunakan kacamata ? Pertama kali saya ulangan fisika, saya mendapatkan nilai 3.5 ! Tau penyebabnya ? Karena saya tidak bisa membaca tulisan guru di papan tulis... duh sedihnya. Maklum, dengan badan saya yang besar, saya jadi ditempatkan di sisi belakang, dan sangat sulit dan mengganggu kalau saya bolak balik ruangan. Akhirnya saya menyadari, kalau mata saya sudah tidak sempurna. Pertama kali memakai kacamata, ukurannya: minus 1.25 dan minus 0.75. Dan ulangan fisika selanjutnya ? 9 dong !

Setiap tahun ukuran kejelekan penglihatan saya selalu mengalami kenaikan, sampai saya di kelas 2 SMA, dengan ukuran minus 2.75 dan minus 2.25. Anehnya, sejak saat itu sampai 6 tahun ke depan, mata saya oke oke saja, dan saya setia dengan ukuran yang sama.
Sampai pagi ini, setelah saya periksa mata... ukurannya sekarang menjadi : JRENG : minus 3.5 dan minus 3 !!!!... (kagetnya saya mirip dengan tampang bayi di atas itu...) pengen nangisss... memang sejak saya kerja, saya mulai merasa mata saya berkurang ketajamannya..tapi mengapa oh mengapa bisa naik sampai tiga per empat begituuuu... Setelah 6 tahun dengan ukuran yang sama, akhirnya mata saya tidak mampu bertahan lagi...Mataku oh matakuuu....

Thursday, October 06, 2005

Naik Kelas


Sebelas tahun lalu, pertama kalinya saya menginjakkan kaki di sekolah khusus putri itu. Lokasinya tepat ditengah hiruk pikuk kota, tidak terlalu besar, dan terdiri dari dua tingkat. Siswa SMP ada di tingkat pertama, dan siswa SMA ada di tingkat kedua, yang memisahkan kami adalah sebuah tangga. Saat saya SMP dulu, saya membayangkan senangnya kalau nanti pada akhirnya saya bisa naik ke atas. Itu berarti saya diterima di SMA. Namanya juga anak kecil, tentulah berpikir, kalau saya sudah ada di atas situ, saya lebih top daripada kamu yang di lantai bawah. Di atas pakai rok abu abu, di bawah pakai rok biru, jagoan yang abu abu dong !

Namun ternyata pas pada akhirnya saya mengalami pencapaian di lantai atas, yang ada bukannya perasaan jadi jagoan, melainkan tugas yang semakin menumpuk, buku buku yang semakin tebal, dan ulangan ulangan yang semakin menyiksa. Aturannya, sehari boleh ulangan "dipersiapkan" dua kali, dan ulangan "mendadak" satu kali. Kadang guru guru kami dengan kejamnya mengetes kami dengan ulangan tipe kedua tepat setelah ulangan tipe pertama selesai. Banyaknya "kejutan" mengerikan itu membuat saya semakin rindu akan masa masa sekolah dulu.

Di awal bulan ini, saya kembali mengalami naik kelas. Sama seperti waktu sekolah dulu, saya senang sekaligus cemas. Dan hari ini, kali pertama pak guru dan adik kelas saya berada di ruangan yang sama. Pak guru bilang kalau saya harus mengajari adik kelas saya seperti saya dulu diajarkan oleh kakak kelas saya, dan pak guru juga bilang, kalau saya harus memeriksa pekerjaan adik kelas saya dan menilai, apakah pekerjaannya layak untuk diserahkan ke pak guru. Saya takut...Gimana kalau saya salah, gimana kalau saya nggak ngerti, gimana kalau penjelasan saya nggak lengkap, kan bisa disetrap pak guru... Segala tetek bengek itu kembali berputar putar di otak saya sejak pagi hari...

Hari ini lewat. Saya sudah menapaki tangga saya satu pijak...dan saya bisa sedikit bernafas lega. Masih ada sekitar 524,500 menit lagi sampai saya naik kelas ke lantai berikutnya. Duh, bakal banyak ulangan mendadak nggak ya ?

Tuesday, October 04, 2005

Ulang Tahun Rame Rame

Tanggal 28 September itu selalu jadi tanggal yang special setiap tahun. Tiga teman saya kebetulan berulang tahun. Semuanya lahir tanggal 28 September 1982. Alex, Lina, Mike baru saja merayakan ulang tahun mereka ke 23. Again, what a coincidence !

Namun yang lebih special lagi, tanggal 28 September adalah ulang tahun Mama saya tercinta. Dulu pada saat saya masih di Indonesia, kami selalu merayakan dua hal sekaligus pada tanggal itu. Tanggal 27 September adalah tanggal perkawinan kedua orang tua saya, dan tanggal 28 September adalah ulang tahun Mama. Karena jaraknya begitu berdekatan, kami biasanya bikin paket hemat alias sekali acara, dua perayaan terlampaui. Tapi setelah Papa dijemput oleh Tuhan di tahun 2001, perayaan di tanggal 27 September itu rasanya jadi kurang relevan lagi.

Sedikit yang berbeda dari perayaan tahun ini adalah status saya yang bukan lagi sebagai pelajar, melainkan sebagai pekerja. Adik sayapun sudah bekerja paruh waktu sebagai asisten laboratorium di kampusnya. Jadi kami sudah bisa menghasilkan sesuatu untuk diberikan untuk Mama, setidaknya sebagai tanda balasan kami atas kasih sayang yang telah dia berikan sepanjang hidupnya.

Saya dan adik sayapun merencanakan acara kecil2an untuk ultah mama kali ini. Adik saya sudah memesan kue beberapa hari sebelum acara tanpa sepengetahuan mama. Pada hari H, mama diajak untuk berkunjung ke rumah Oom, dan disana kue ulang tahun sudah disiapkan. Rupanya acaranya lumayan sukses. Menurut laporan pandangan mata dari adik saya, mama begitu senang, bahkan sempat berkaca2 saat membaca kartu ucapan yang saya kirimkan. Saya cuma bisa menyampaikan doa dan cinta dari negeri seberang, supaya Mama panjang umur, sehat, dan diberikan kemurahan oleh Tuhan. Selamat ulang tahun ke 49, Mamaku yang cantik. I love you !

Monday, October 03, 2005

Eh, Ketemu Lagi....

Karena lokasi hotel saya yang lumayan jauh dari Sears Tower, saya terpaksa menggunakan jasa taksi. Kenapa saya bilang terpaksa ? Soalnya menyetop taksi di Chicago pada jam jam sibuk di pagi hari itu susahnya minta ampun, dan alasan kedua, saya sebetulnya lebih suka jalan kalau saja jaraknya memungkinkan, karena cuaca memang sedang lumayan walaupun angin dingin mulai berkeliaran. Padahal, di Chicago itu taksi banyaknya luaaarrr biasa, bahkan sampai ribuan. Cuma saja penduduknya jauh lebih banyak, sehingga supply tidak dapat memenuhi demand.

Saking sulitnya mendapatkan taksi, kadang si petugas penyetop taksi di depan hotel sampai harus berjalan dan menunggu di ujung blok lalu menyetop taksinya dengan paksa dan naik ke dalam taksi. Kemudian si penyetop taksi itu berhenti di depan lobby hotel, dan menukar dirinya dengan penumpang yang sudah menunggu dari tadi. Bravo untuk si penyetop taksi, dan tentunya saya tidak ragu untuk menyelipkan tip di tangannya pada saat dia membukakan pintu.
Tapi kejadian unik berlangsung saat saya keluar dari Sears Tower. Seperti biasa saya menyetop taksi untuk kembali ke hotel. Kali ini taksinya merah, dengan sopirnya yang orang Afrika dengan nama yang super panjang (kedengerannya seperti Olamadehemadehi Olalalalaledungledung, agak maksa sih.. pokoknya panjang lah). Karena namanya itu, memori saya langsung bekerja. Dia sopir yang paling cekatan menurut saya selama saya naik taksi di Chicago dan paling jago mencari jalan pintas.

Rabu sore, saya keluar dari Sears Tower, dan saya kembali menyetop taksi. Tanpa sadar, saya masuk ke dalam, dan kembali terlihat kartu namanya: Olalalala.... Eh ketemu lagi ! Bayangkan, ada ribuan taksi di kota sebesar Chicago, dan saya bisa naik taksi yang sama dari asal dan tujuan yang sama selama dua hari berturut turut. Dan rupanya dia masih ingat dengan saya. Tanpa banyak tanya, kembali dia mengantar saya sampai tujuan. What a coincidence !