Wednesday, September 28, 2005

Berteriak


Bisa jadi tandanya kita sedang senang. Misalnya ketemu dengan teman lama yang sudah lama nggak bertemu. Kayak di film film India, si cowok dan cewek berlari lari di taman sambil berteriak memanggil nama masing2 di tengah hujan deras...

Bisa jadi tandanya kita sedang mendukung teman kita. Seperti saat kita menyoraki teman teman yang bermain sepakbola dalam pertandingan di Purdue kemarin supaya mereka bermain dengan semangat dan suka cita.

Bisa jadi tandanya kita sedang marah dan benci pada seseorang. Saat kita lagi kesal sama teman yang bikin kita kecewa, lalu kita jadi berteriak di depan wajahnya.

Bisa jadi tandanya kita lagi ngefans. Itulah yang kita lakukan saat kita melihat artist favorit kita sedang manggung, seperti pas konsernya Gigi kemarin itu loh, teriakan kita membahana memanggil si cungkring Armand Maulana yang suaranya memang aduhai.

Bisa jadi tandanya kita cari perhatian. Coba aja di tengah lapangan, pas semua orang diem, lalu kita teriak teriak sendiri... pasti semua mata nengok ke kita.

Bisa jadi tandanya ingin bebas, melepaskan semua penat yang ada di dalam jiwa...Supaya bisa Terbang, seperti lagunya Gigi... Coba terbangkan khayalku, dari sadarku, dari sadarku...

Sunday, September 25, 2005

Satu Minggu di Chicago

Saat yang lumayan ditunggu-tunggu oleh para staff di kantor saya bekerja adalah training. Kenapa? Karena pada saat training, kami bisa beristirahat sedikit dari kesibukan kami yang biasanya. Kami bisa enjoy travelling ke Chicago walaupun masih dalam rangka bekerja, dan kumpul2 dengan teman2 membicarakan hal hal yang nggak penting di luar kerjaan. Dan yang paling happy adalah, kami bisa menikmati yang namanya luxury dengan biaya perusahaan heheheh....

Dari Minggu sampai Jumat pagi, kami bisa menginap di hotel yang biaya permalamnya bisa buat makan seminggu, bahkan lebih. Kalau melihat bill hotelnya untuk lima malam, bisa nangis bombay kalau sampai keluar biaya sendiri. Sayangnya, hanya kami sendiri yang bisa menikmatinya. Kami nggak bisa mengajak significant others atau anak anak untuk ikutan.

Senin malam kami dinner di Sushi Samba, salah satu restaurant sushi yang “ngepop” banget di downtown Chicago dengan interiornya yang interesting. Makanan nggak henti hentinya keluar, dan teman teman yang nggak pernah makan sushi jadi berani nyoba. Kami hampir mencoba segala makanan yang ada di dalam menu. Rasanya piring kecil saya malam itu diganti lebih dari 10 kali oleh waiter. Kalau minuman jangan ditanya, semua pasti pesan minuman beralkohol (kecuali saya yang nggak bisa minum alcohol). Selasa malam kami makan di Harry Caray’s, dan yang kami pesan nggak jauh dari filet mignon dan prime rib steak. Rabu malam, dilanjutkan makan di Carmaine, restaurant Italia yang tertua di Chicago. Salah satu pengunjung tetapnya adalah si entertainer sejati Tony Bennett. Homemade pastanya betul2 bikin lidah bergoyang. Koleksi Italian winenya juga sangatlah beragam. Belum lagi dessertnya yang aduhai. Yang lucu adalah, saya pesan lemonade karena saya nggak bisa minum wine. Ternyata lemonadenya datang dalam botol kecil, dan diimpor dari Milano (jangan2 harganya sama dengan wine yang teman2 saya minum).

Untuk Kamis malam, nampaknya saya harus menyediakan satu paragraph khusus. Karena hari ini adalah jadual happy hour di mana kita bisa minum sepuasnya, saya dan teman2 memilih menghindari dinner dan icip2 appetizer saja di lokasi yang sudah ditentukan. Dalam cuaca hujan yang lumayan deras (yang membuat saya terpaksa membeli payung jelek seharga $13 di Walgreens), kami naik El ke Duffy’s bar. El yang mirip dengan subway adalah salah satu alat transportasi andalan di Chicago yang terkenal dengan kemacetannya. Setelah sekitar 3 jam puas minum dan ngobrol di bar, kami melanjutkan perjalanan ke Hog and Honey’s Bar. Yang bikin bar ini beda adalah di sana tersedia bull ride. Kalau anak Milwaukee kan ada tuh cabe di La Perla, cuma bull ride ini lebih menantang, kayak di film film koboy. Teman2 saya termasuk sang manager ikut menunggangi si mesin kerbau rodeo itu. Memang kalau sudah mabuk, orang orang makin susah diprediksi kelakuannya. Sayang saya pakai rok malam itu. Kalau nggak sih, saya juga mau ikutan! Setelah puas berjoget2 dan nonton orang2 melakukan hal hal aneh, jam 12:30 pagi, kamipun kembali ke hotel dalam keadaan pusing2 sedikit dan kuping agak agak budeg sedikit karena dijejali oleh musik metal dan hiphop. Saya terlelap kira2 pukul 1:30 pagi.

Ajaib, hari Jumat jam 8:30 pagi, kami sudah nongkrong lagi di dalam kelas. Ada 8 orang terlambat, bahkan ada yang 1 jam terlambat. Namun teman2 yang pulang bareng saya malam kemarin itu semuanya sudah siap di kelas pada jam 8 pagi. Anehnya, ada orang yang tidak ikutan ngumpul pas happy hour, tapi terlambat sampai setengah jam. Begitulah, training minggu ini sudah berakhir dengan berbagai kenangan gila tapi seru. Entry ini saya tulis di dalam Amtrak dalam perjalanan pulang ke Milwaukee (kena delay sedikit karena baru bisa diposting lewat tengah malam).

Sunday, September 18, 2005

Idola yang Belum Tentu Idola

Sebagai penggemar American Idol, begitu saya tahu kalau audisinya bakalan hadir di Chicago yang jaraknya hanya 1.5 jam dari Milwaukee, saya langsung tertarik untuk iseng coba coba. Maklum syaratnya selain ketentuan umur adalah para peserta harus U.S. citizen atau Permanent Resident. Saya bukanlah keduanya, jadi kesempatan ini saya pakai untuk melihat, seperti apa sih audisi acara super terkenal American Idol itu (yang untuk season ini bakal mematok harga $705,000 untuk 1 slot iklan selama 30 detik).

Hari Kamis sore sepulang kerja, saya dan yayang berangkat ke Soldier Field, Chicago, tempat di mana audisi akan diadakan. Kami ke sana malam ini hanya untuk mengambil wristband. Dengar2 dari orang, katanya untuk audisi babak awal, kami hanya perlu menunjukkan 1 identitas saja (yaitu driver license), jadi saya tidak khawatir kalau saya akan didepak karena status kewarganegaraan saya yang Indonesia merdeka ini. Perjalanan yang harusnya hanya 1.5 jam, kami tempuh selama 2.5 jam karena harus melawan arus lalu lintas yang luar biasa macetnya karena jam pulang kerja. Sekitar jam 8 malam, kami sampai di sana dan membayar parkir $13. Di dalam stadium tidak ada antrian. Hanya saja banyak orang bermalam di dalam stadium dengan bermodalkan selimut dan sleeping bag. Kamipun menuju petugas untuk dicek kartu identias kami, dan kamipun mendapat wristband. Merah untuk saya yang ikut audisi, dan hijau untuk yayang yang akan mendampingi saya. Setelah itu kami mengambil tiket untuk mendapatkan seat number. Saya ada di section 218, row 21, seat 1. Kurang dari 15 menit kemudian, kamipun melanjutkan perjalanan ke hotel. Untunglah hotel tempat kami menginap malam ini gratis karena selama bekerja saya mengumpulkan Hilton points.

Besok paginya kami bangun jam 5, siap siap, sarapan, dan kembali ke Soldier Field. Jam 7.30 pagi antrian begitu panjang, cuaca dingin menusuk, hujanpun turun tak henti. Tapi karena excited, rasanya jadi biasa saja walaupun saya bergidik kedinginan. Kamipun masuk ke stadium secara teratur dan menunggu di lobby. Jadual pertama kami adalah shooting bersama si rambut jangkrik Ryan Seacrest. Adegannya adalah, dia masuk membawa payung ke dalam lobby stadium, lalu kamu bersorak kegirangan. Adegan sederhanya itu diulang sampai 6 kali. Walah2. Nggak tau deh apa wajah saya masuk ke dalam kamera, karena banyaknya orang yang membawa poster besar. Setelah itu kami bergiliran masuk ke dalam stadium, dan saya ada di level kedua. Sekitar jam 9.45, announcerpun mengumumkan cara audisinya. Ada 14 booths untuk audisi di ronde pertama. Kita harus menyanyi di depan para produser junior dan kalau kita lolos, kita akan mendapatkan "golden ticket" alias kertas kuning, dan kita akan masuk ke ronde kedua yang lokasinya indoor dan menyanyi di depan executive produser. Setelah lolos ronde kedua itu, kita baru akan menyanyi di depan Randy, Simon, dan Paula dan waktunya belum ditentukan. Oh, begitu toh, dalam hati saya...Kemudian mereka mengumumkan, kalau audisi akan dimulali dari section 104. Karena posisi saya di level atas, kira2 berarti section saya akan menjadi section ke 18 yang akan di audisi. Proses audisipun dimulai sekitar jam 10 pagi.
Karena saya tau kalau giliran saya tidak akan dekat2 ini, saya dan yayangpun menunggu dan terus menunggu. Kami mengantre makan siang yang harganya sangat berlebihan (bayangkan 1 botol air mineral kecil $4) dan antriannya sangat luar biasa panjang. Kami putar sana sini untuk mencari tempat yang hangat, karena kami betul2 tidak siap untuk mendapat cuaca yang luar biasa dinginnya ini. Sayapun bolak balik kamar mandi berkali kali, dan saya lihat begitu banyak peserta yang "camping" di dalam kamar mandi karena lebih hangat daripada di luar. Sepanjang perjalanan saya mendengar banyak talenta2 bagus walaupun ada juga yang berantakan. Dandanan yang super anehpun banyak sekali ditemukan.

Setelah saya memperhatikan dari jauh, sedikit sekali orang yang mendapatkan golden ticket. Mereka sangat generous di awal2 audisi, namun mulai ditengah, nampaknya makin sedikit yang mendapatkan "golden ticket". Anehnya sebagian besar yang mendapatkan golden ticket itu adalah orang yang berpakaian sangat aneh. Misalnya: Laki2 dengan baju pink dan sepatu hak tinggi, laki2 gemuk dengan hula2 ala hawaii, seorang gadis yang memakai kostum Jinny dari I Dream of Jinny, seorang laki2 super gendut dengan celana pendek ketat, dan ada juga laki2 tinggi dengan memakai kostum mini dari Alice in Wonderland. Banyak sekali talenta2 bagus yang ditolak oleh produser. Sayapun jadi bertanya2, apa sih sebenarnya tujuan dari kontes ini ?
Jam 6 sore, lebih dari 10 jam saya menunggu, akhirnya sampailah kepada giliran section saya. Sayapun maju bersama teman2 yang lain, sementara si yayang menunggu di atas. Kami harus menyerahkan tiket dan release form ke petugas yang isinya kira: segala tingkah laku kami yang terekam di kamera adalah milik produser, dan kami berhak menghumiliate segala tindakan kamu. Makin jelas lagi kan maksud acara ini ? Setelah mengantri dan diambil gambar oleh juru kamera, kamipun dibagi menjadi group 4 orang. Saya mendapat booth nomor 7 dari 14 yang tersedia. Sayapun melihat dengan mata kepala sendiri, bagaimana orang yang menyanyi berantakan dan aneh mendapatkan golden ticket, dan orang yang menanyi dengan bagus ditolak mentah2, walaupun ada juga yang betul2 bagus dan mendapatkan ticket. Saya maju ke depan bersama orang segroup saya. Alamak, produsernya ternyata: dua anak muda yang masih culun, satu laki2 botak bertampang garang, dan satu wanita hippies dengan rambut panjang belah tengah dan berkacamata. Kamipun bernyanyi satu2. Pertama teman sebelah saya menanyi lagu yang saya sendiri nggak pernah dengar dan langsung di stop setelah 10 detik. Kedua giliran saya, saya menyanyikan lagu "Angels Brought Me Here" dari Guy Sebastian. Saat itu si produser cewek sudah kasih clue dengan melirik si produser cowok botak. Tapi si cowok botak diem saja. Sebelum sampai refrain pun lagu saya sudah di stop. Ketiga giliran orang sebelah saya yang ternyata maju berdua dan berusaha menghumiliate diri mereka sendiri dengan bernyanyi asal2an lagu "Don't Cha" dari Pussycat Dolls dengan gaya sensual. Alamak... Kemudian kami semua maju kedepan dan si produser cewek cuma bilang: "berdasarkan standard tahun lalu, kalian semua belum cukup bagus", dan kamipun dibubarkan. Wristband kami langsung digunting, dan begitulah, audisipun selesai bagi saya. Dalam hati saya berpikir, apa sih itu standard tahun lalu ? Lindsay Cardinale yang walaupun sudah masuk 12 besar nyanyinya suka fals ? William Hung ? Mary Roach ? Atau laki2 yang cuma bisa ngomong "Can You Dig It ?"

Di luar yayangpun sudah menunggu. Dia nanya apakah saya bete. Soalnya dia bilang: "wih, kalau aku jadi kamu sih aku udah bete. Soalnya yang jelek2 pada masuk." Saya cuma bisa bilang, kalau saya justru nggak bete dan kecewa. Saya justru jadi ngeh, sebenernya apa yang dicari produser. Yang dicari semuanya adalah uang. Kalau nggak ada William Hung atau cerita2 aneh dibalik audisi ini, American Idol mungkin nggak sengetop sekarang. Saya juga baca banyak review dari beberapa pemerhati hiburan di koran2 sini, kalau Idol itu semuanya dibentuk, bukanlah idol sesungguhnya. Kita disuguhi tontonan, kalau Carrie Underwood adalah gadis di desa yang punya impian besar, Scott Savol yang selalu direndahkan martabatnya oleh ayahnya sendiri, Clay Aiken yang dulunya kutu buku, dan masih banyak lagi cerita2 lainnya.

Begitulah pengalaman saya selama mengikuti audisi American Idol. Nothing to lose anyway, karena saya toh memang nggak eligible hehehhehe... Cuma pengalaman kemarin betul2 membuka cakrawala saya soal bisnis pertelevisian. Intinya cuma: DUIT.. Tul nggak ?

Thursday, September 15, 2005

Tornado oh Tornado

Kemarin sore, saya baru balik dari Green Bay. Sepanjang jalan cuaca gelap, tapi hujan nggak juga turun. Denger2 dari radio, bakalan ada storm warning hampir di seluruh Wisconsin area. Jadilah saya agak agak ngebut pas pulang, soalnya it is not my favorite time driving during a heavy rain.

Pas sampai di tempat parkir, saya keluar dari mobil dan jalan terhuyung2 gara2 anginnya luar biasa kenceng. Jam 6 sore langitnya gelap dan saya bisa melihat petir nyamber dari udara...ih serem banget. Cepetan deh saya masuk ke dalem apartemen. Gilanya pas saya baru masuk lobby, ada seorang student dengan santainya pake kaos dan celana pendek mau mulai bersepeda. Kayaknya dia nggak buka jendela kali dari pagi, makanya nggak keliatan tuh kejadian di luar. Nekad amat ya, Mas.

Sampai di dalem kamar, saya telepon si Yayang. Dia kedengeran panik banget. Ternyata, di depan Wells Fargo building saat dia nunggu lampu merah, ada pelat metal rambu "road closed" terbang dan menghantam mobilnya dia. Bisa bayangin kan seremnya, angin kenceng, tiba2 ada object begitu gede melayang2 di udara. Lantas dia telepon polisi dan bikin police report. Cuma sampe sekarang, blom tau gimana nasib mobil "project"-nya itu. Mudah2an Milwaukee Public Transportation bisa ngegantiin kerusakan yang dialami.

Saya cuma bisa bengong, baru storm aja seperti ini, gimana pas Hurricane Kartina mampir di New Orleans yah. Duh, nggak bisa ngomong deh...

Tuesday, September 06, 2005

Bangga Deh Jadi Orang Indonesia !

Kemarin, aku dan si yayang berkunjung ke Madison. Maklum lagi labor day weekend, ceritanya kita mau ke Taste of Madison untuk icip2 berbagai makanan enak di Capitol Square. Event ini adalah event tahunan di Madison yang selalu saja menyedot ratusan ribu pengunjung. Quality makanannya asik punya, dan harganya sangat pantas dibandingkan Taste of Chicago. Tak ada harga makanan yang lebih dari $4. Jadi dengan modal 2 lembar $20-an, kita berpuas2 ria icip2 sana sini sampai perut jadi bengkak.

Inilah daftar makanan dan minuman yang kita coba dimulai dari awal: Jambalaya with Shrimp (Club Tavern), Padthai (Rising Sons Deli), Lobster Roll (Red Lobster), Prairie Fume Wine (Florsheim Winery), yang ini lupa namanya, pokoknya makanan afrika:Chicken and Carrot with Lentil (Buraka), Opor Ayam (Bandung Restaurant), Pina Colada Smoothie (Maui Wowi), Crab Rangoon (Ruby's), and Sweet Potato Fries (Daddy Rocks).

Habis kenyang2 gitu, kita mampir ke Pe-We-Q alias Permias Welcoming BBQ untuk menyambut anak2 baru dan kembalinya teman2 lama. Acaranya di Sheboygan Park. Di sini sih udah nggak makan deh.. nggak kuat lagi...Tapi aku bisa melepas kangen dengan temen2 lama dan ngobrol2 ngalor ngidul walaupun nggak lama. Eh, sehabis dari sana, aku dan temen2 balik lagi ke Taste of Madison...nahloh..makan2 lagi deh..

Lanjut listnya: Bumbleberry Pie with Vanilla Ice Cream (Elegant Foods), Rujak Cuka (Bandung Restaurant), and Passion Papaya Smoothie (Maui Wowi). Nah, bayangin deh... makan sebanyak gitu dari jam 1 siang sampai jam 5 sore. Mungkin masih ada kali makanan yang lupa dilist di atas...

Tapi ada satu hal yang membuat aku bangga. Di Taste of Madison itu semua makanan diperlombakan. Ternyata Opor Ayam Indonesia menang First Place di dua kategori: Best Asian Dish dan Best Ethnic Dish. Padahal saingannya buanyak banget...kayaknya ada lebih dari 50 restaurants yang ambil bagian di acara ini dan masing2 restaurant membawa lebih dari 2 menu.

"I'm so proud to be an Indonesian ! Now, may I have one Opor Ayam please ?" Dan si cashier bule itupun tersenyum...

Sunday, September 04, 2005

Buat Pengunjung Weblog Yang Budiman

Salam jumpa buat anda semua yang lagi kebetulan mampir ke weblog saya ini. Saya tau kalau ada beberapa teman teman yang kerap mengunjungi weblog ini. Baik yang lagi iseng lewat maupun pengunjung setia, ayo ayo, silakan bagi bagi komen, pengalaman, ataupun kritik dan saran...Caranya, tinggal klik aja kok di bawah, "add comment".

Saya memang bukan penulis sejati. Bahasa Indonesia maupun Inggris dua duanya sama sama belepotan. Yang saya tulis memang cuma pengalaman sehari hari kehidupan di negeri orang, dan juga curahan hati. Namun bila ada tulisan saya yang kira2 bisa menyentuh hidup anda baik secara positif maupun negatif, saya kepingin sekali dapet masukan yang berharga.
Kali kali aja, tulisan saya bisa bikin anda tersenyum, atau bikin anda marah dan bete hahahha...(duh jadi inget bulan May lalu hehhehe...)

Sok atuh, monggo, silakan.... Oom, tante, bapak, ibu, saudara, saudari....

PS: Turut berduka cita untuk para korban Hurricane Katrina. Duh, padahal gue dan yayang baru ke sana 4 bulan yang lalu. Untuk mengenang kembali keindahan New Orleans, kalian bisa liat entry bulan Juli.

Thursday, September 01, 2005

Tabungan Berharga

Minggu lalu saat acara pemberkatan rumah dan syukuran Marco dan Ira, aku ketemu dengan Romo Yohanes dari Flores. Pada saat dia memperkenalkan diri, dia menyebutkan kalau dia dulu berasal dari Paroki Bidaracina. Itulah Paroki tempat aku menghabiskan 18 tahun pertama hidupku. Dan ingatanku langsung melayang ke sosok Papaku yang begitu aktif menjalankan hari2nya di gereja sebelum akhirnya Tuhan menjemput. Tak disangka, ternyata Romo Yohanes juga kenal dengan sosok ayahku. "Wow, Pak Yusuf Halim... tentu saja aku kenal. Dia aktif sekali di gereja..", begitu kalimat pertama yang dia ucapkan saat kusebut nama Papaku.

Tak terasa sudah lebih dari empat tahun lalu Papa meninggalkan orang orang yang dicintai dan mencintainya. Namun masih banyak yang mengingat betapa besar kasih yang dia berikan untuk orang orang disekitarnya. Kadang saat aku kecil, aku merasa Papa memberikan waktunya sangat banyak untuk gereja. Aku ingat Mama dulu sempat cemburu dengan pembagian waktu yang Papa tentukan antara gereja, lingkungan, dan keluarga yang menurut Mama kurang adil. Setiap kali Mama dan anak anak mengeluh kenapa hampir setiap malam Papa selalu sibuk dengan kegiatan rohani, Papa menjawab dengan tenang, "Aku sedang menabung untuk di surga."

Siapa sangka Papa dipanggil begitu cepat di usia ke empat puluh delapan. Saat itu aku tersentak, karena ternyata saat itu dia betul betul sedang menabung. Mungkin dia merasa kalau dia tidak menabung dari awal, tabungannya tak akan cukup. Setiap hari sebelum pemakamannya, rumah duka begitu penuh oleh orang orang yang bahkan sudah puluhan tahun tidak pernah bertemu dengan Papa. Rupanya di masa lampau, mereka semua sempat merasakan sentuhan kasih Tuhan melalui Papaku, dan mereka tidak pernah melupakannya walaupun waktu telah berlalu. Keluarga kami bukanlah keluarga kaya raya yang punya rumah gedung mewah dengan mobil mobil berkelas. Kami tidak bisa memberikan materi berlebihan kepada orang orang. Tapi cinta kasih dan perhatian yang diberikan oleh Papa tak lekang dimakan waktu. Satu menit yang lalu ataupun empat puluh tahun yang lalu, masih tetap terkenang di dalam hati orang yang merasakannya.

Kadang aku masih sedih, masih kangen, masih butuh kasih sayang dari Papa. Dulu aku mengharapkan kalau kedua orang tuaku bisa hadir di wisudaku tahun lalu dan turut bangga menyaksikan anaknya memakai toga dan menerima diploma. Kenyataan mengatakan, kalau hanya Mamaku saja yang bisa menghadirinya. Tapi aku yakin Papa pasti turut tersenyum dari atas sana. Usia tak ada yang tahu, yang bisa kita lakukan hanyalah menabung dan terus menabung...