Wednesday, December 14, 2005

Naik Naik Ke Puncak Silos



Jumat sore kemarin, saya dongkol habis habisan. Pertama-tama, jadual saya minggu ini yang seharusnya di Appleton, tiba tiba kosong di hari Senin dan Selasa. Dan tak berapa lama kemudian, saya ditelepon oleh salah seorang scheduler (alias si pengatur jadual) dari Chicago. Dengan santainya dia ngomong: "Senin ini kamu ke Frankfort ya." Dalam bayangan saya, wah, Frankfurt kali yang di Jerman. Lumayan jalan jalan ke Jerman. Eh ngga taunya: "Frankfort, Indiana !" Hilanglah sudah bayangan ke Jerman berubah jadi gambaran perkebunan jagung in the middle of nowhere. Yang bikin kesal lagi, kenapa mereka harus mencari staff dari Milwaukee, padahal Frankfort hanyalah 45 menit dari Indianapolis. Bikin gondok aja.

Dan bener saja, kalau tugas saya adalah menghitung grains yang terdiri dari jagung dan kedelai. Saya diperintahkan untuk membeli steel toe boots (itu loh, sepatu bot depannya ada lapisan bajanya, biar kalo kejeduk kakinya kagak sakit...). Akhirnya ketemu juga itu barang di Target, tapi buat cowok. Ya dah, berhubung ukuran kaki saya 8.5, saya beli ukuran cowok yang nomor 7. Masih saja kegedean... tapi dibeli juga soalnya memang itu yang paling kecil.

Perjalanan ke Frankfort kira kira 4.5 jam lamanya. Berhubung saya lumayan melesat nyetirnya kayak the flash, saya masih sempet mampir di Steak and Shake Lafayette buat makan burger hihihi.. (dasar si rakus). Pertamanya saya merasa lumayan bersalah lantaran makan sebakul, tapi setelah sampai di perkebunan jagung itu, saya bersyukur karena saya telah menimbun lemak yang cukup. Maklum cuaca dingin menusuk tulang (sekitar 20 Farenheit), dan pekerjaan saya...eng ing eng... siap siap...YAK...

Silos adalah lumbung ala Amerika. Bentuknya seperti tabung, tingginya seperti gedung. Isinya, ya jagung dan kacang-kacangan. Dari kejauhan, saya melihat deretan silos di tengah tengah hamparan salju. Ketika saya sampai di tujuan, saya parkir dan masuk ke dalam kantor kecil.

Pertanyaan pertama dari client saya adalah: "Apakah kamu takut ketinggian ? Saya lupa kasih tau ke kantor pusat kalau kamu tidak boleh takut ketinggian."

Lalu saya menjawab: "Waktu kecil saya sempat takut ketinggian, apalagi kalau lewat jembatan penyeberangan. Saya suka takut lihat kebawah, soalnya kebayang ketabrak mobil. Tapi mudah-mudahan sekarang nggak lagi."

Dia pun komentar: "Wah kamu nggak boleh takut, soalnya kita tidak akan masuk ke dalam silos. Kita akan mengukur dari atap silos."

Mulut saya berujar: "Saya pikir saya tidak takut, karena saya sudah sering naik rollercoaster". Padahal dalam hati: "Aduh Makkk..tolonglah sayaaaa..selamatkanlah saya dari derita ini...."
Kamipun mulai bertualang. Kami naik ke atas dengan tangga kecil. Tangganya ini berputar mengelilingi silos. Bentuknya seperti tangga rumahan yang muter, tapi step-stepnya kecil. Betul betul kecil dan licinnya bukan main karena salju masih menumpuk. Saya deg degan luar biasa.

Makin ke atas, anginnya makin lumayan. Tapi lama lama, kok saya merasa nyaman. Saya nggak gimana takut lagi. Sensasinya beda total, saya merasa pede saja berjalan. Tinggi silos pertama itu mirip dengan tinggi gedung 6-7 tingkat. Tapi kami nggak pakai pengaman, cuma mengandalkan pegangan besi saja. Total silos di kompleks ini ada sepuluh. Tujuh di dalam kompleks pertama, dan tiga lainnya terpisah. Dari satu silo ke silo yang lain, kami menyeberangi jembatan kurus kecil. Kalau saya berukuran jumbo, tentu saya tidak bakalan muat. Selain itu tinggi silos2 tersebut juga berbeda beda. Karena itu selain naik jembatan, kami juga harus memanjat tangga-tangga. Tangganya ini kayak tangga pemadam kebakaran. Lurus, titiannya kecil kayak pipa pipa pralon. Kalau kepeleset, amit amit deh...Akhirnya kompleks pertama selesai dan kami turun lewat tangga muter yang pertama tadi.

Saya masih ambil napas karena capeknya bukan main. Kita langsung jalan ke kompleks kedua. Kompleks kedua ini, ada tiga silos. Tingginya lebih dari 20 meter. Dan ternyata, di sini nggak ada lagi yang namanya tangga muter. Yang ada adalah tangga model kedua yaitu yang model pipa pralon. Kami harus naik ke atas, tegak lurus. Saya naik pelan pelan, tangan dan kaki saya mulai gemetar. Lutut dan kaki saya sakit bukan main karena selain harus menahan badan, beberapa kali kaki saya tidak sengaja terbentur tangga. Begitu saya sampai di atas, saya betul betul merasa jadi pemenang.

Setelah mengukur silo pertama, saya pikir ada jembatan yang menghubungi ketiga silos ini. Ternyata... pisah sodara-sodaraku sebangsa dan setanah air. Kita harus turun dulu ke bawah dengan tangga yang sama, lalu naik ke silo selanjutnya. Untunglah silos yang kedua dan ketiga dihubungkan dengan jembatan. Tapi tetap saja, masih perlu perjuangan saya sekali lagi untuk naik ke atas dengan tangga lurus itu. Begitu semua selesai dan saya kembali turun ke bawah, saya merasa jadi juara Fear Factor ! Yeah !

Sebelum pulang, saya sempat ngobrol dengan salah satu pekerja di sana. Umurnya sudah lumayan tua, badannya kurus dengan jenggot yang sudah memutih. Saya bilang, "Gile, saya ngerasa ini olahraga paling seru yang pernah saya lakukan. Capeknya bukan main, nafas saya kayak mau putus di cuaca seperti ini". Lalu dia bilang,"Bagi saya, ini membosankan. Saya melakukan ini sudah puluhan tahun, dan sudah menjadi rutin bagi saya." Lalu saya cuma bisa senyum. Saya membayangkan, saya yang muda ini saja sudah ngos-ngosan seperti ini. Si bapak ini sudah tua, dan dia melakukan ini setiap hari baik cuaca dingin, panas, dan hujan. Luar biasa....

Pengalaman kemarin di Indiana membuka cakrawala baru bagi saya. Saya makin menghargai usaha para petani dan usaha para orang yang bekerja untuk mendistribusikan makanan untuk kita di musim dingin seperti ini. Walaupun nggak jadi ke Frankfurt-Germany, Frankfort-Indiana tetaplah begitu berkesan buat saya.

No comments:

Post a Comment