Saturday, December 17, 2005

Masakan Gue, Suka- Suka Gue Dong!



Buat anak anak yang pernah ke Purdue University, pasti jika mahasiswa Indonesia di sana ditanya restaurant apa yang mereka rekomendasikan, pasti jawabannya mirip-mirip semua. Tapi yang tidak pernah ketinggalan adalah: Kokoro. Dari namanya, orang pasti sudah menebak, kalau ini pasti restaurant yang menyediakan masakan Jepang. Kalau itu tebakan kalian,..maaf jawaban anda kurang tepat. Ini adalah restaurantnya si Tony, dan masakannya adalah Masakan si Tony (Tony’s Food).

Memang, si Tony adalah orang Jepang. Orangnya botak, tidak terlalu tinggi. Perawakannya agak keras dan kurang senyum. Umurnya kira kira 60-an. Lalu apa yang sebetulnya istimewa dari masakan si Tony ini, sampai begitu direkomendasikan oleh teman teman kita di West Lafayette sana?

Masakannya memang cukup istimewa. Tapi bukan itulah faktor utama yang membuat tempat ini berbeda dari tempat lainnya. Kokoro adalah satu paket keunikan, dan Tony adalah pusat keunikan itu. Restaurant ini adalah restaurant pertama yang saya temui yang memasang aturan lengkap soal tata cara (atau lebih tepatnya tata krama) pelayanan mereka di depan jendelanya. Ada beberapa belas aturan. Saya tidak ingat semuanya, tetapi beberapa di antaranya adalah: Anda tidak boleh memakai topi, anda tidak boleh pesan untuk dibawa pulang, dan si Tony berhak untuk tidak melayani anda kalau dia tidak suka sama anda. Ckckckck.. jadi sebaiknya, jangan macem-macem deh sama si Tony kalau kalian masih mau makan enak.

Masuk ke dalam, anda akan dibawa ke atmosfir rumah makan modern. Kelihatannya berbeda dengan kekakuan yang diciptakan dari aturan-aturan di atas: bar yang cukup lengkap dan bisa dibilang fancy, arsitektur bersih dan simple ala barat. Saat anda melihat menunya, pada halaman muka, Tony menjelaskan soal dirinya dan masakannya. Dia sudah memasak puluhan tahun, dan semua masakan di restaurant ini, dia siapkan dengan tangannya sendiri, dibantu oleh istri tercintanya. Jadi dia mohon maaf kalau pelayanannya agak lama, apalagi karena di usianya yang sudah tua, dia mulai mengidap arthritis. Dia menyebut masakannya Tony’s Food karena semua resep di menunya diciptakan dan dikreasikannya sendiri. Dia juga bilang, kalau dia meninggal, Tony’s Food tidak akan ada lagi. Semua resepnya akan terkubur bersama dengan hilangnya dia dari dunia ini. Wih… dalem banget…

Saya ingat, saat saya datang ke sana dua tahun lalu, dia tidak memakai pelayan sama sekali. Namun seiring dengan usia dan kekuatannya, saat saya datang empat hari lalu, ada tiga pelayan yang membantunya. Saya memesan Hawaiian Maui Roll seharga 18 dolar, semangkok miso soup seharga 2 dolar, dan satu cangkir green tea seharga 1.5 dolar. Dan memang benar, Tony sendirilah yang menggulung sushi saya. Rasanya masih tetap enak seperti dua tahun lalu saya makan di sini, kepitingnya betul betul terasa. Harganya bisa dibilang lumayan tinggi untuk kota kecil seperti Lafayette. Nasi gorengnya saja berkisar dari 17-19 dolar. Tetapi untuk keunikan dan pengalaman yang diberikan oleh Tony, harga adalah faktor kedua.

Pernyataan yang disampaikan Tony mungkin bisa dianggap arogan oleh beberapa orang. Tapi ada banyak hal yang saya setuju dengan cara dia mengelola restaurantnya. “Orang masakan gue kok, kalo elu nggak suka ya jangan makan di sini. “ Padahal denger-denger bisnis restaurant adalah bisnis yang paling cepat tingkat kepunahannya. Kalau kita pikir, restaurant dengan pelayanan kelas atas saja banyak yang gulung tikar di tahun pertamanya, apalagi restaurant yang “usil” seperti punyanya si Tony ini. Tapi Tony sudah memasak selama lebih dari 40 tahun, dan restaurant kebanggaannya masih tetap dikunjungi pelanggan setia. Inilah bukti kalau Tony’s food memang berbeda, dan Tony memang betul betul dicintai, tak peduli berapa banyak aturan yang dia terapkan di jendela restaurantnya.

No comments:

Post a Comment