Sunday, November 20, 2005

Nekad


Cerita ini adalah kenangan saat saya masih duduk di kelas dua SMU. Hari itu adalah hari yang cukup spesial di sekolah, karena kami kedatangan beberapa orang tamu. Tamu-tamu tersebut adalah beberapa buruh Nike Indonesia, ditemani oleh pengacara mereka dari salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat di Jakarta. Maksud kedatangan buruh tersebut adalah mencoba untuk sharing dan menggerakan hati para murid murid supaya kita semua lebih peka terhadap keadaan di sekitar kita. Apalagi saat itu adalah saat dimana bangsa kita betul betul sedang terpuruk setelah peristiwa May 1998 dan krisis ekonomi.

Siang itu pada jam pelajaran terakhir, kami semua dikumpulkan di aula. Kamipun diajak untuk mendengarkan cerita kehidupan sehari-hari para buruh Nike yang digaji kurang dari sepuluh ribu rupiah per hari, dan hanya diberi makan nasi perah dan sepotong tempe. Kebetulan para buruh yang datang adalah wanita, dan sekolah kami adalah sekolah khusus wanita, sehingga momen ini sebetulnya cukup pas untuk berbagi. Mereka bekerja lebih dari 12 jam sehari dalam keadaan berdiri, termasuk beberapa ibu yang sedang hamil. Mereka tidak diberikan waktu untuk duduk pada saat kaki mereka lelah. Dan ketika para buruh wanita minta cuti sehari karena "tamu bulanan" datang, cuti itu tak pernah dikabulkan dengan alasan mengejar omset. Miris hati saya mendengar kisah itu, apalagi mengetahui seberapa mahalnya harga sepasang sepatu Nike. Dan saya juga mengetahui, cukup banyak anak di sekolah saya yang jika ingin sepasang sepatu merek itu, tinggal bilang saja pada orang tua. Tapi bagi parah buruh itu, untuk makan saja kok sulitnya bukan main.

Setelah mereka bercerita, murid murid dipersilakan untuk bertanya atau mengemukakan pendapatnya. Satu persatu murid mulai mengemukakan pendapatnya. Betapa mengejutkan, ternyata pendapat murid murid umumnya adalah: "Kenapa sih kalian para buruh kerjaannya bikin susah ? Papa saya sampe kerepotan menangani kalian. Sudah bagus punya kerjaan, tapi masih minta ini dan itu." Murid lainnya lagi menyambung:" Iya betul. Gara gara kalian demo minta kenaikan gaji, kantor Papa saya jadi berhenti aktivitasnya. Memangnya kalian saja yang butuh makan ? Kami juga keluarganya butuh makan." Suasana saat itu hening. Tapi saya bisa melihat kalau para buruh yang duduk di depan itu mulai meneteskan air mata. Maksud kedatangan mereka kemari untuk berbagi, kok malah berbalik jadi ajang penghinaan ?

Saat itu, saya adalah siswi kelas dua. Dan kebetulan yang menyampaikan pendapat2 di atas tadi adalah siswi kelas tiga. Memang banyak rumor, kalau sampai kita yang junior berbuat macam macam dan menentang anak kelas tiga, bisa bisa kita dibenci oleh seluruh anak kelas tiga. Tapi hati saya berkata lain. Saya tidak bisa membiarkan orang tertindas semakin ditindas. Saya sudah tidak peduli lagi dengan "status" saya yang sebagai anak kelas dua, rasanya saya harus bangkit dan membuka mata mereka. Tanganpun saya angkat, dan saya berdiri. Saya memandang dengan tegas kepada teman teman di satu aula, dan tanpa saya sadari, mulut ini seperti ada yang menggerakan. " Teman-teman, saya tidak tau apa yang kalian pikirkan. Tapi seharusnya kalian tidak menjelek-jelekan mereka dan mementingkan keluarga kalian sendiri. Kalian seharusnya berterima kasih kepada mereka. BAHKAN PAKAIAN DALAM KALIAN SEMUA, DIJAHIT OLEH MEREKA MEREKA INI !"

Saat itu seisi aula diam dan tegang, tapi kemudian saya mendengar tepukan tangan dan sorakan meriah di telinga saya. Ternyata ada juga teman teman yang setuju dengan pendapat saya. Cuma mereka malu dan takut, karena bisa bisa dibenci oleh kakak kelas. Memang, hari itu sepulang sekolah, kakak-kakak kelas saya banyak yang memandang saya dengan pandangan kekesalan. Mungkin mereka pikir, ini anak kecil kok kurang ajar berani ngelawan kakak kelas. Tapi ada juga yang memandang saya dengan ramah. Bahkan kepala sekolah mengundang saya ke kantornya karena kenekadan saya itu dan beberapa minggu kemudian, saya dikirim mewakili sekolah untuk pelatihan leadership bersama perwakilan sekolah lain di Jakarta.

Kalau kita ada di pihak yang benar, kita tidak boleh takut untuk bicara. Mungkin hari itu saya jadi orang paling dibenci oleh seisi kelas tiga. Biarin orang mau bilang apa, tapi pulang sekolah hari itu, hati rasanya puas dan legaaa...hehehehhe...

3 comments:

  1. Bravo! saya juga pernah merasakan hal seperti itu...sangat deg2an tapi begitu sudah dilakukan terasa plong sekali.

    ReplyDelete
  2. Non pas elo kelas dua, brati pas gue kelas 3 yah, ga inget loh gue kejadian ini, apa pas gue ga masuk yah. Parah bgt itu pertanyaan or comment anak kelas 3nya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini beneran kisah nyata loh hahaha. Gara2 gue nekad bales itu, gue besoknya dipanggil suster, terus dikirim ngewakilin sekolah buat ikut leadership traning semacem retret gitu di Samadi kl ga salah haha. Ada anak CC, PL, Tarki n bbrp sekolah katolik lain.

      Delete