Saturday, November 05, 2005

Mudik Nyok !


Selamat hari raya Idul Fitri untuk semua teman yang merayakan. Mohon maaf jika ada salah kata ataupun perbuatan. Di hari yang penuh rahmat ini, marilah kita bersatu hati dan bergandeng tangan untuk menyambut datangnya perdamaian di bumi dan di dalam diri.

Walaupun saya bukanlah penganut agama Islam, Idul Fitri adalah hari yang selalu saya nantikan. Sejak saya kecil, saya merasa bukan hanya Natal dan Paskah yang menjadi hari menyenangkan, melainkan juga Lebaran. Liburan panjang selalu jadi hal yang diidamkan selama masih jadi pelajar. Dan saat lebaran, biasanya paling tidak 10 hari sudah ditangan. Memang, kadang capek juga kalau asisten lagi pada mudik. Sedangkan saya yang asli Jakarta dengan kedua orang tua yang asli Jakarta juga, kami nggak punya kampung, otomatis nggak kenal yang namanya mudik. Kampung kami ya di Jakarta ini, yang kalau lebaran jadi asoy seperti di luar negeri karena macetnya berkurang 90%.

Lebaran di keluarga saya, mungkin hampir nggak beda repotnya dengan lebaran di keluarga Muslim. Bedanya, kami mungkin nggak pakai baju baru dan menjalankan sholat Ied. Tapi yang namanya masak masak heboh dan lengkap, kumpul2 keluarga, pasti nggak ketinggalan. Mama yang memang hobi memasak, selalu siap siaga dengan perlengkapan perangnya : Ketupat, semur daging tahu, telur balado, opor ayam, sambal goreng ati, dan tentunya sayur pepaya muda. Krupuk dan bawang goreng juga nggak ketinggalan dong. Duh, sedapnya bikin saya ngiler sekarang.. bagi tissue dong ! Sebelum libur lebaran, biasanya kami juga sudah menyiapkan bingkisan untuk sahabat2 kami yang setiap hari selalu setia dengan pekerjaannya. Para asisten kami, pak pos, pak hansip, mas loper koran, pak pos, abang tukang sampah, dan mbak tukang kue ikutan kebagian rejeki.

Pas saya kecil dulu, liburan lebaran biasanya kami sekeluarga pergi ke villa kami di Puncak. Malam takbiran tak pernah kami lewatkan. Jalan Raya Cipanas begitu meriah. Suara bedug bertalu talu di atas mobil bak terbuka, dan rasanya kemacetan saat itu justru menjadi begitu nikmat. Semua orang tersenyum, dan saya tidak takut membuka jendela untuk ikut berteriak teriak gembira. Biasanya juga, malam itu Mama sudah hampir melakukan "finishing touch" menu ketupat lengkapnya...nyammm..

Ngomong2 soal mudik, saya baru merasakan mudik pertama saat saya mulai bersekolah di sini. Saya jadi tau, gimana rasanya rindu pada kampung halaman, rindu pada sanak saudara, rindu pada kehidupan saya yang lama. Walaupun di sini udara bersih dan hidup teratur, saya kangen berat dengan Jakarta tercinta. Biasanya paling tidak saya pulang setahun sekali. Tapi tahun ini, nampaknya saya tidak bisa melepas rindu karena tuntutan pekerjaan saya. Mamaaaa..pengen mudikkkk..pengen minta dikelonin... huaaaa....

No comments:

Post a Comment