Wednesday, October 26, 2005

Geng Jerman



Selama saya bekerja untuk client saya yang sekarang ini, saya ditemani oleh empat orang Jerman. Berikut ini saya ceritakan pengalaman saya bersama empat orang Jerman tersebut.

Si Jerman pertama adalah laki laki dengan perawakan tinggi. Dia adalah seorang staff. Rambutnya agak keriwil, cocok jadi model sih. Tapi sayang gara gara dia ikut serta program pertukaran karyawan di perusahaan kami, dia keseringan minum beer dan perutnya mulai menggelembung sedikit..walaupun menurut saya masih okeh okeh saja. Dia paling ngga suka kalau disuruh menghubungi client lewat telepon, karena bagi dia, ngomong bahasa Inggris di telepon itu sangatlah menyiksa. Yang paling seru kalau lagi ngeliatin dia makan. Dalam sekejab, habislah porsi yang dia makan sementara orang orang lain baru saja menyicipi barang dua tiga gigitan. Dia senang ketawa dan bisa diajak gila gilaan ala Amerika. Saat ini dia sudah kembali ke Jerman karena masa pertukaran karyawan sudah selesai. Sedikit story tentang pengalaman dia, kalo di Jerman cellphone itu disebutnya handy. Pas dulu dia baru dateng, dia lapor ke bos. Dan dia ditanya, butuh apa apa lagi nggak ? Eh dia jawab, “ Can I get a handy, Sir ?” Hahahaha…. It’s so… gimanaahhh gitu…duh cowok tinggi gagah, kok minta handy…

Si Jerman kedua adalah laki laki berperawakan sedang, agak berumur dan berjenggot tipis. Dia adalah si senior manager, sudah 5 tahun menetap di Chicago. Bahasa Inggrisnya lancar, tapi orangnya sangat tidak terorganisir. Kertas berserakan dimana-mana sampai sempat kehilangan salah satu dokumen penting yang akhirnya saya temukan setelah saya bergumul dengan tumpukan kertas bekas yang dia buang di lantai. Bahkan saya yang berantakan ini dia bilang sangat rapih. Dia muji muji saya berkali kali, tapi belakangnya saya dikasih setumpuk kerjaan. Terkadang dia suka expect too much dari kita kita bawahannya. Bahkan senior saya sempat stress dibuatnya. Dia bisa lngomong loncat2 kesana kemari, nggak jelas lah pokoknya. Yang paling menyebalkan, dia tetap menyuruh kita bekerja rodi, padahal sudah jam 9 malam, dan kita belum dinner sama sekali. Anehnya, dia kok nggak lapar ya ? Dia bisa mengirim email berjuta2, terus akhirnya lupa... Sudahlah… saya lagi agak kesal sama dia.

Si Jerman ketiga adalah laki laki tinggi dengan potongan rambut belah tengah ala Eropa. Bahasa Inggrisnya lumayan kaku, dan kalau ngomong suka nggak jelas. Dia adalah seorang senior dan peminum expresso sejati. Setiap kali ngobrol dengan si Jerman kedua, dia selalu pakai bahasa Jerman. Dia nggak mikir kalau orang orang disekitarnya berbahasa Inggris. Kadang mereka berdua tertawa tawa sendiri sambil ngelirik lirik ke kita yang tidak mengerti apa yang mereka omongkan. Suatu hari saya tembak,”Hey it sounds funny. Do you mind sharing the joke ?” Terus dia bilang,” No, no, it’s internal joke.” Dasar..kurang ajar juga nih si Jerman. Gantian hari ini, saya dan salah satu teman saya yang orang Amerika lagi bercerita seru, dan kita ketawa tawa. Terkadang dia memang nggak ngerti apa yang kita omongin kalau kita ngomong bahasa Inggris dengan cepat. Apalagi teman ngobrolnya di Jerman nomor 2 tadi sudah balik ke Chicago. Pas lagi seru2nya ngobrol dengan teman Amerika saya, tiba tiba, dia ngomong dengan keras: “Hey, I’m trying to work here.” Dalam hati saya, “Rasain lo..emangnya kemaren pas elu ketawa2 sama si Jerman nomor 2, gue ngga bete ?” hahahah…

Si Jerman keempat, seorang cewek setinggi saya, rambut lurus coklat dan bahasa Inggrisnya sangat lancar karena dia lulusan graduate school di Lousiana. Sayang saya tidak lama bekerja dengan dia karena dia ditugaskan di divisi lain. Yang pasti sebelum saya bertemu dengan orang ini, saya diberitahu oleh si Jerman nomor 1 yang kebetulan roomatenya, kalau si cewek ini lumayan menyebalkan. Suatu hari, sempat juga saya bertemu dengan dia, dan kita ngobrol2 pas dinner di salah satu bar. Ternyata orangnya menyenangkan kok, tidak seperti yang si Jerman nomor 1 bilang. Sampai akhirnya Jumat malam kemarin, kita makan di Melting Pot, salah satu restaurant yang cukup romantis. Setelah 2 gelas Margarita, mulailah si cewek ini bertingkah laku aneh. Dan pada saat kita lagi asyik menyantap makanan utama, dia mulai bercerita soal kucing mati yang dia temukan di depan rumahnya pas dia masih SMA, dan dia berusaha untuk memotong ekor kucing itu dengan gunting kertas…. ALAMAKKKK…si Jerman nomor 3 sampai melotot dibuatnya…Kami hampir saja kehilangan napsu makan kalau saja kami tidak berpikir yang di depan mata kami adalah lobster dan steak, bukan kucing.

Begitulah sedikit cerita tentang Geng Jerman yang lucu, aneh, memusingkan, tapi kadang cukup menakjubkan...

No comments:

Post a Comment