Posts

Showing posts from October, 2005

Tick and Tie

Image
Bukan kutu ataupun dasi yang saya maksud dengan judul di atas. Tick and tie adalah istilah dalam dunia accounting yang artinya memberi tickmark/ tanda pada sumber dan menghubungkannya dengan tujuan. Misalnya menghubungkan dua laporan yang berbeda, menghubungkan hasil tahun lalu dengan tahun ini, dan sebagainya. Kalau perusahaannya besar, pekerjaan tick and tie ini adalah pekerjaan yang cukup memakan waktu. Mungkin agak sulit untuk menjelaskannya untuk pembaca yang bukan accountant atau financial officer. Pokoknya ini pekerjaan sebetulnya cukup simple, membosankan, menyebalkan, makan waktu, tapi kalau ketemu semua, bikin happy luar biasa deh ! Saat pertama ditugaskan, saya tidak tahu apa yang saya harapkan. Saya hanya diberi tahu kalau saya harus mentransfer laporan dari laporan ala Amerika ke laporan ala Jerman. Ditambah lagi, inilah kali pertama saya meratapi laporan ala Jerman yang lumayan ajaib. Urutannya bolak balik tak jelas, penyesuaian ada di mana mana. Jadilah pekerjaan ex

Geng Jerman

Image
Selama saya bekerja untuk client saya yang sekarang ini, saya ditemani oleh empat orang Jerman. Berikut ini saya ceritakan pengalaman saya bersama empat orang Jerman tersebut. Si Jerman pertama adalah laki laki dengan perawakan tinggi. Dia adalah seorang staff. Rambutnya agak keriwil, cocok jadi model sih. Tapi sayang gara gara dia ikut serta program pertukaran karyawan di perusahaan kami, dia keseringan minum beer dan perutnya mulai menggelembung sedikit..walaupun menurut saya masih okeh okeh saja. Dia paling ngga suka kalau disuruh menghubungi client lewat telepon, karena bagi dia, ngomong bahasa Inggris di telepon itu sangatlah menyiksa. Yang paling seru kalau lagi ngeliatin dia makan. Dalam sekejab, habislah porsi yang dia makan sementara orang orang lain baru saja menyicipi barang dua tiga gigitan. Dia senang ketawa dan bisa diajak gila gilaan ala Amerika. Saat ini dia sudah kembali ke Jerman karena masa pertukaran karyawan sudah selesai. Sedikit story tentang pengalaman dia, k

It's Not Even the Busy Season Yet !!!

Image
Bagi seorang auditor seperti saya, bulan yang paling menyebalkan adalah Januari sampai April, di mana berjuta-juta client kami sepertinya menyusahkan kami pada saat bersamaan. Pergi pagi pulang malam adalah hal yang sangat biasa di bulan bulan itu. Makan siang dan malam di depan komputer sambil bekerja di kantor client juga merupakan santapan sehari-hari. Tapi ini baru bulan Oktober. Saya mengerti memang client saya yang satu ini tutup buku pada tanggal 30 September, tapi mereka tidak siap dengan segala dokumen yang kami butuhkan, sehingga kerja lapangan kami jadi mundur hingga kamis di Minggu kedua bulan Oktober. Parahnya, semua hasil kerja kami harus diserahkan hari ini, Senin, 24 Oktober. Oh tolonglahhhh... kami harus bekerja seperti orang gila... Setiap hari kami kerja mulai jam 8 pagi, dan paling awal, kami pulang jam 8 malam. Pernah satu kali kami pulang jam 10 malam, Di tengah minggu, senior manager kami memberi berita gembira, kalau kami juga harus bekerja pada hari Sabtu. Le

Menjalin Persatuan dan Kesatuan

Image
Tiba tiba saja, dalam perjalanan pulang dari restaurant beberapa minggu lalu, saya dan teman saya teringat masa masa jadul di mana kita masih kanak kanak dan stasiun televisi hanya ada satu saja yaitu TVRI. Ketika para televisi swasta menjamur dengan slogan slogannya seperti: RCTI oke, SCTV ngetop, TPI makin asik aja, INDOSIAR memang untuk anda dan sebagainya, TVRI juga tak mau kalah membuat slogan yang lumayan keren tapi sangat berbau kebaheulaan: Menjalin persatuan dan kesatuan. Dinyanyikannya dengan semangat, dengan kelompok paduan suara yang rasa rasanya mirip dengan paduan suara angkatan bersenjata. Dan sepanjang perjalanan itu, kita membicarakan acara acara yang dulu sempat menghiasi layar kaca dan bikin kita tertawa ngakak. Saat pembukaan jam 4 sore ada lagu Indonesia Raya. Biasanya sore sore ada Cerdas Cermat loh. "Kami dari EsDe Negri 123 Kampung Melayu, nama saya Tini, sebelah kanan saya Tono, dan di sebelah kiri saya Tuti." Lalu tak lupa si pembawa acara bilang:

Mataku oh Mataku...

Image
Persediaan lensa kontak saya sudah mulai menipis. Lebih tepatnya, saya tinggal punya satu pasang lensa kotak yang nempel di mata saya. Maklumlah, biasa setiap kali pulang ke Indonesia, saya selalu menyempatkan diri mampir ke optik Melawai dan membeli persediaan untuk satu tahun ke depan. Berhubung terakhir saya pulang ke Indonesia Agustus tahun lalu, berakhir sudahlah persediaan saya untuk tahun ini. Di Amerika sini, dilarang membeli lensa kontak tanpa menggunakan resep dokter. Alamak... Sepanjang usia saya, saya tidak pernah memeriksakan mata saya di Amerika. Apalagi dengar dengar harganya mahal, tidak seperti di Indonesia dimana kita tinggal nongkrong, lalu dapat periksa gratis. Bahkan kita tidak perlu membeli barang di optik tersebut untuk mendapatkan periksa mata gratisan. Duh, seandainya di sini juga begitu, saya kan jadi tidak perlu repot- repot periksa segala. Pertama sekali saya menggunakan kacamata adalah pada saat saya duduk di kelas 1 SMP. Kenapa saya sampai menggunakan k

Naik Kelas

Image
Sebelas tahun lalu, pertama kalinya saya menginjakkan kaki di sekolah khusus putri itu. Lokasinya tepat ditengah hiruk pikuk kota, tidak terlalu besar, dan terdiri dari dua tingkat. Siswa SMP ada di tingkat pertama, dan siswa SMA ada di tingkat kedua, yang memisahkan kami adalah sebuah tangga. Saat saya SMP dulu, saya membayangkan senangnya kalau nanti pada akhirnya saya bisa naik ke atas. Itu berarti saya diterima di SMA. Namanya juga anak kecil, tentulah berpikir, kalau saya sudah ada di atas situ, saya lebih top daripada kamu yang di lantai bawah. Di atas pakai rok abu abu, di bawah pakai rok biru, jagoan yang abu abu dong ! Namun ternyata pas pada akhirnya saya mengalami pencapaian di lantai atas, yang ada bukannya perasaan jadi jagoan, melainkan tugas yang semakin menumpuk, buku buku yang semakin tebal, dan ulangan ulangan yang semakin menyiksa. Aturannya, sehari boleh ulangan "dipersiapkan" dua kali, dan ulangan "mendadak" satu kali. Kadang guru guru kami de

Ulang Tahun Rame Rame

Tanggal 28 September itu selalu jadi tanggal yang special setiap tahun. Tiga teman saya kebetulan berulang tahun. Semuanya lahir tanggal 28 September 1982. Alex, Lina, Mike baru saja merayakan ulang tahun mereka ke 23. Again, what a coincidence ! Namun yang lebih special lagi, tanggal 28 September adalah ulang tahun Mama saya tercinta. Dulu pada saat saya masih di Indonesia, kami selalu merayakan dua hal sekaligus pada tanggal itu. Tanggal 27 September adalah tanggal perkawinan kedua orang tua saya, dan tanggal 28 September adalah ulang tahun Mama. Karena jaraknya begitu berdekatan, kami biasanya bikin paket hemat alias sekali acara, dua perayaan terlampaui. Tapi setelah Papa dijemput oleh Tuhan di tahun 2001, perayaan di tanggal 27 September itu rasanya jadi kurang relevan lagi. Sedikit yang berbeda dari perayaan tahun ini adalah status saya yang bukan lagi sebagai pelajar, melainkan sebagai pekerja. Adik sayapun sudah bekerja paruh waktu sebagai asisten laboratorium di kampusnya. J

Eh, Ketemu Lagi....

Karena lokasi hotel saya yang lumayan jauh dari Sears Tower, saya terpaksa menggunakan jasa taksi. Kenapa saya bilang terpaksa ? Soalnya menyetop taksi di Chicago pada jam jam sibuk di pagi hari itu susahnya minta ampun, dan alasan kedua, saya sebetulnya lebih suka jalan kalau saja jaraknya memungkinkan, karena cuaca memang sedang lumayan walaupun angin dingin mulai berkeliaran. Padahal, di Chicago itu taksi banyaknya luaaarrr biasa, bahkan sampai ribuan. Cuma saja penduduknya jauh lebih banyak, sehingga supply tidak dapat memenuhi demand. Saking sulitnya mendapatkan taksi, kadang si petugas penyetop taksi di depan hotel sampai harus berjalan dan menunggu di ujung blok lalu menyetop taksinya dengan paksa dan naik ke dalam taksi. Kemudian si penyetop taksi itu berhenti di depan lobby hotel, dan menukar dirinya dengan penumpang yang sudah menunggu dari tadi. Bravo untuk si penyetop taksi, dan tentunya saya tidak ragu untuk menyelipkan tip di tangannya pada saat dia membukakan pintu. Ta